
Di dalam rekaman memori
" Tuanku "
Seorang wanita muda datang ke dalam pelukan raja Tian
" Hati-hati sayang jangan lari-lari "
Raja Tian mengusap lembut kepala wanita muda itu
" AYAAAAH adek lapeeeeel "
Seorang gadis kecil yang cantik terlihat dari kejauhan
" Hm... Kita makan sama kakak ya "
Raja Tian menyambut gadis kecil itu dengan senyuman lebar
" Ayah "
Terlihat semua putra raja Tian datang dengan makhluk kecil di gendongan putra pertama raja Tian
" Kemarikan adikmu "
Raja Tian menyerahkan gadis kecil itu kepada putra keduanya
" Dia sudah makan "
Wanita cantik itu bertanya
" Belum ibu , ibunya tidak mau menyusuinya"
Putra pertama raja Tian menundukkan kepalanya
" Tak apa , seperti biasa , ayah akan menyuapinya air gula yang manis "
Raja Tian mencium pipi gembul putra terakhirnya
" Tuanku aku mau juga "
Wanita muda itu menarik lengan raja Tian
" Ini "
Raja Tian memberikan putranya yang paling kecil kepada wanita muda itu
Rekaman terus berlanjut dan menunjukkan hari-hari bahagia yang di Ingat Sean saat masih menjadi raja Tian
*Tes
Air mata Sean mengalir
" Bahkan Sean tidak tau bagaimana keadaan mereka pasca perang "
Sean tanpa berkedip memperhatikan satu persatu wajah putranya
" Sean "
Sbastian memegang pundak Sean
" Apa mereka makan dengan benar , apa mereka tidur dengan layak , Sean mau tau semuanya "
Air mata Sean makin deras mengalir
" Nak "
Sbastian menarik Sean dan memasukan Sean ke dalam pelukan seorang ayah
" Pa.... Terkadang Sean menyesal dan terkadang Sean bahagia , Sean tidak tau harus apa "
Sean memeluk erat Sbastian dan mengeluarkan semua rasa penyesalan yang dia punya
" Bahagiakan orang orang yang ada di sini untuk saat ini , kita tidak tau masa depan yang datang nanti "
Sbastian mengusap punggung Sean dengan hangat
" Makasih udah jadi papanya Sean "
Sean menelusupkan wajahnya di atas pundak Sbastian
" Iya , terimakasih sudah hadir di hidup papa"
Sbastian mendudukkan Sean di sudut ranjang
" Hehe "
Sean mengusap air matanya dan tersenyum
" Akan Sean tunjukkan sesuatu "
Sean menggenggam tangan Fleur
" Papa merestui kami kan "
Sean bertanya
*Plak
Sbastian memukul kepala Sean
" Kalian sudah menikah , bagaimana papa tidak merestui kalian heh "
Sbastian menjewer telinga Sean
" Hehe makasih pa "
Sean tersenyum senang
" Apa yang ingin kau tunjukkan untuk papa "
Sbastian menagih
" Lihat ini "
Sean menunjukkan cincin di jari manis Fleur
" Cincin... Terus "
Sbastian menaikkan alisnya
" Cincin yang Sean hadiahkan beberapa bulan yang lalu untuk Fleur , cincin yang terbuat dari tanduk rusa "
Sean menaik turunkan alisnya
" Benarkah "
Sbastian terkejut
" Papa iri kan "
Sean mengejek
" Papa pernah janji sama bundamu bakal kasih sesuatu yang ngak pernah ada "
Sbastian memonyongkan bibirnya
" Papa mau "
Sean menaik turunkan alisnya
" Boleh "
Sbastian mengedipkan matanya dengan lucu
" Boleh , tapi aset perusahaan jadi milik Sean "
Sean mengalihkan pandangannya
*Plak
" Enak aja "
Sbastian berkacak pinggang
" Hahaha "
Dan tawa akhirnya pecah di antara mereka berdua
" Bakso nyam nyam... "
Fleur berbalik membelakangi Sean dan mengigau
" Aaa.... Ahahaha "
Sean tertawa melihat istri kecil kesayangannya
" Emang pulau ini dulu gimana "
Sbastian penasaran
" Ya bisa di bilang pulau Tiger yang dulu adalah pulau yang normal "
Sean keluar kamar di ikuti Sbastian
" Kapan "
Sbastian mengikuti Sean
" Sekitar.... "
Sean berpikir
" Hm... "
Sbastian keluar dari kamar
*Griet
Sean menutup pintu kamar Fleur
" Eum.... Berapa ya "
Sean duduk di kursi ruang tamu dan masih berpikir
" Kamu ini masih muda , ya masa kamu ini jadi pelupa "
Sbastian duduk berseberangan dengan Sean
" Sean ini lebih tua dari papa lho "
Sean menatap Sbastian sinis
" Emang berapa umurmu "
Sbastian bertanya dengan sedikit bercanda
" Sekitar seratus lima puluh satu tahun "
Sean menjawab
" Bwahahahaha kamu ini hahahaha "
Sbastian terbahak-bahak mendengar umur yang Sean sebutkan
" Serius lho pa , selama seratus lima puluh satu tahun itu Sean udah menantang maut hampir setiap bulan "
Sean menganggukkan kepalanya
" Serius "
Sbastian mengerenyitkan keningnya
" Iya , dan umur Fleur genap seratus tahun beberapa bulan lagi , kami berbeda lima puluh tahun "
Sean merebahkan diri di atas kursi
" Serius "
Sbastian memelototi Sean
" Serius pa "
Sean membalas pelototan Sbastian
" Papa ngak percaya "
Sbastian melipat tangannya di atas dada
" Tanya Fleur aja besok "
Sean mendudukkan dirinya
" Udah deh papa ngak percaya , terus gimana kisahnya pulau Tiger"
Sbastian melambaikan tangannya
" Di ingatan Sean sekitar seratus sembilan belas tahun yang lalu pulau Tiger ini pulau yang biasa saja...
Flashback on
Seratus dua puluh tahun silam di buku sejarah kita
Pukul 10.00 malam
" Selamat datang nona Alula "
Semua penduduk pulau Tiger menyambut Alula yang datang dengan Sean
" Anda basah kuyup tuan "
Tetua menyambut kedatangan Sean dengan selimut tebal
" Alula ini membuatku mandi tengah malam"
Sean menerima selimut dari tetua
" Ya saya kan tidak tau kalau malam ini ada badai "
Alula mengikuti Sean yang melangkah masuk ke dalam pulau Tiger
" Sudahlah , dimana wanita itu "
Sean berdiri di sini sedangkan di sana di gantikan menggunakan boneka dengan sedikit polesan sihir
" Ada di dalam rumahnya "
Tetua memberitahu
" Ayo kesana "
Sean berjalan di pimpin oleh tetua
" Hm... Pohon di sini makin tinggi ya "
Sean memperhatikan pepohonan yang ada di sana
" Tanah di sini cukup subur tuan , jadi alam sangat bersahabat dengan kami "
Tetua menjawab
Di rumah sederhana yang di letakkan di dekat rumah tetua
" Tuan "
Seorang wanita muda dengan perut buncit dengan wajah pucat menyambut Sean
" Anda yakin mau mengandung kuncup bunga saya "
Sean duduk di samping wanita itu yang berbaring di atas tempat tidur
" Asalkan anak saya bisa selamat , saya mau melakukan itu "
Wanita itu mengangguk
" Nyonya , anda benar-benar mau "
Sean bertanya
" Saya mohon tuan , apapun akan saya lakukan asalkan anak saya selamat "
Wanita itu menyatukan kedua tangannya di hadapan Sean
" Baiklah , akan saya berikan "
Sean mengangguk
" Terimakasih "
Wanita itu tersenyum senang
__ADS_1
" Tapi anda harus mengandung beberapa saat lagi , butuh waktu untuk tunas berkembang "
Sean memberitahu
" Iya iya saya mau "
Wanita itu mengangguk tanpa berpikir
" Baiklah nyonya sebentar ya "
Sean berdiri dan duduk bersila di atas lantai
Wanita itu membaringkan tubuhnya dan memperhatikan Sean yang duduk diam di lantai
Setelah beberapa saat Sean membuka matanya
" Nyonya telanlah ini "
Sean memberikan sebuah kuncup teratai kecil yang ada di atas air di dalam sebuah wadah dari kaca
" Jangan di kunyah , langsung di telan "
Sean memberitahu
" Iya "
Wanita itu mengambil kuncup teratai yang di bawa Sean dan langsung memasukannya ke dalam mulutnya
" Minumlah nyonya "
Sean memberikan segelas air yang sudah di siapkan oleh tetua
*Glup... Glup... Glup...
Nyonya itu langsung menelan kuncup kecil yang ada di dalam mulutnya
" Sudah , anda istirahatlah "
Sean mengambil kembali gelas yang di bawa nyonya itu dan menyelimuti nyonya itu
" Terimakasih banyak tuan "
Wanita itu tersenyum manis dan memejamkan matanya
" Ayo keluar "
Sean menggiring tetua dan Alula keluar dari rumah agar nyonya bisa istirahat tanpa gangguan
" Aku akan tinggal di sini , nyonya akan aku jaga hingga anaknya lahir "
Sean memberitahu
" Baik , saya akan siapkan semua keperluan anda "
Tetua beranjak pergi
" Tapi jika yang lahir laki-laki "
Alula bertanya
" Akan ku jadikan dia adikku "
Sean menjawab
" Saya mengerti "
Alula mengangguk
Enam bulan sudah Sean tinggal di sana , dan hari ini terasa sebuah guncangan hebat yang ntah dari mana
" Ada apa "
Sean keluar dari rumah di ikuti nyonya vie
Nyonya vie adalah calon ibu dari kuncup teratai Sean
" Gunung pulau bergetar tuan "
Tetua menghampiri Sean
" Tuan "
Alula datang menghampiri Sean
" Ada apa ini Alula "
Sean langsung bertanya
" Kita harus segera pergi dari sini "
Alula memperingatkan
" Kita rapat sekarang "
Sean memutuskan
" Ibu istirahat saja , jangan ngapa ngapain ya "
Sean membawa nyonya Vie masuk ke dalam
" Iya "
Nyonya Vie masuk dan beristirahat di dalam rumah
Setelah itu Sean memimpin rapat yang di adakan di rumah tetua
Hasil rapat menyatakan bahwa seluruh penduduk desa Tiger harus pergi
Banyak pendapat menentang keras keputusan Sean , karena desa Tiger adalah desa yang sudah di tempati selama ribuan tahun lamanya dan tanah kelahiran mereka
" Maaf , saya tidak ingin nyawa kalian terancam , saya minta kita harus segera pergi"
Sean berkata dengan tegas
" Tidak , kami akan tetap di sini , kami percaya arwah leluhur kami akan melindungi kami di sini "
Mereka Keukeh akan keputusannya
" Ya , arwah raja Rudeus pasti akan melindungi kami di sini "
Beberapa orang yang lain menambahkan kalimatnya
" Baik , aku akan membawa orang yang ingin pergi dari pulau ini dan kalian yang tidak mau pergi tetaplah di sini "
Sean berdiri dari tempat duduknya
" Memang apa yang bisa di lakukan anak kecil sepertimu "
Salah satu dari perangkat desa menunjuk wajah Sean dengan sedikit teriakan
" Oh... Aku Hantian Rudeus.. tidak.. aku Sean Ken Sora tidak akan menolong kalian yang mau keras kepala "
Sean meninggalkan tempat rapat
" Tuan "
Tetua desa dan beberapa perangkat lainnya mengejar Sean
" Tuan pemilik tunggu "
Para tetua berjalan cepat di belakang Sean
" Ada apa "
Sean berhenti
" Saya mohon maafkan dia "
Ayah Mao berdiri di samping Sean
" Umumkan kepada penduduk sekarang , siapa yang mau ikut pergi silahkan berkumpul di tepi pantai hari ini untuk persiapan "
Setelah itu Sean langsung melenggang pergi
" Baik "
Tetua mengangguk
Setelah sampai di rumah
" Bagaimana "
" Ibu , kita harus segera pergi dari pulau "
Sean duduk di sofa bersama nyonya Vie
" Kenapa "
Nyonya Vie bertanya
" Pulau ini sudah tua , dan lagi ada masa dimana pulau ini akan musnah , jadi Sean memutuskan untuk membawa penduduk pergi dari sini "
Sean memberitahu
" Ibu mengerti , tapi bagaimana dengan mereka yang tidak mau pergi "
Nyonya Vie bertanya
" Sean akan memikirkannya , dan ibu tidak perlu memikirkannya "
Sean tersenyum
" Iya , ibu mengerti "
Nyonya Vie mengangguk
Dua bulan berlalu , keputusan untuk membangun daratan dari papan kayu sudah di tetapkan
Sebagai penduduk yang mengikuti keputusan Sean ikut membangun daratan dan sebagain lagi yang tidak setuju dengan Sean melakukan aktivitas seperti biasa
" Ini sungguh besar , apa ini bisa menampung banyak orang "
Sean memandangi lautan yang luas
" Tuan , ini bisa menampung seluruh penduduk , tapi bagaimana jika di atas laut akan datang hujan dan badai "
Tetua bertanya
" Aku sudah memikirkannya jauh jauh hari "
Sean berbalik dan membawa tetua menuju tempat pembangunan pulau apung
" PERHATIAN "
Sean menarik perhatian penduduk
Sean memiliki ide dengan membangun bagian kapal di bawah pulau dan membangun sedikit tumpuan agar pulau bisa berlayar di atas laut
Setelah banyak ide terkumpul , akhirnya terbentuklah sebuah kelompok yang akan memikirkan apa yang akan di tambahkan ke dalam kapal
Dan satu kelompok lagi untuk menuntun sukarelawan membuat kapal dengan sempurna
Satu tahun berlalu dan gejala kerusakan pulau semakin parah dan membuat tumbuhan di sana mulai kering
" Ini mirip gejala gunung meletus , tetapi tanah di sini juga mulai runtuh sedikit demi sedikit "
Sean menggumam dan melihat pohon besar yang ada di depan rumah
" Nak "
Nyonya Vie menghampiri Sean
" Iya Bu "
Sean menoleh
" Boleh ibu tanya sesuatu "
Nyonya Vie mengusap perutnya
" Iya , tapi kita duduk dulu "
Sean membawa nyonya Vie duduk di atas batu besar di dekat pohon
" Ibu mau tanya apa "
Sean bertanya setelah nyonya Vie duduk dengan nyaman
" Nak , butuh berapa lama hingga dia lahir , ibu ingin cepat cepat ketemu anak ibu "
Nyonya Vie mengusap perutnya
" Hm... Sean tidak tau Bu , tapi yang Sean tau adik bayinya sehat-sehat saja "
Sean tersenyum
" Iya , ibu mengerti "
Nyonya Vie tersenyum
" Hanya saja saat ibu melihat beberapa wanita yang melahirkan tahun ini , ibu ingin menggendong bayi seperti mereka "
Nyonya Vie mengatakan isi hatinya
" Sean tau rasanya Bu , tapi Sean sudah tidak bisa membantu apa apa lagi , maafkan Sean "
Sean
" Iya , kamu sudah bantu ibu banyak sekali , sampai-sampai ibu ngak bisa balas "
Nyonya Vie mengusap kepala Sean
" Hehe "
Sean cengengesan
" Tuan "
Beberapa perangkat desa datang kepada Sean
" Kenapa "
Sean berdiri
" Kita siap membangun rumah di atas pulau"
Mereka memberitahu
" Apa kayu sudah di kumpulkan "
Sean bertanya
" Sudah tuan "
Mereka mengangguk
" Ibu , Sean pergi dulu ya "
Sean berpamitan
*Cup
Nyonya Vie mengecup kening Sean
Enam bulan berlalu , akhirnya rumah untuk semua kepala keluarga siap di gunakan dan pulau siap di layarkan
" Untuk mengatasi air yang masuk , kita akan menggunakan batu sihir di pulau ini "
Sean meletakkan banyak batu sihir di sudut-sudut pulau
*Gluduk....gluduk
Suara Guntur terdengar sangat keras dari arah lautan
" Tepat sekali , malam ini badai akan datang , kita bisa menguji pulau buatan kita dan kita akan tau harus menambahkan apa saja "
Sean tersenyum
" Bagaimana untuk makanan "
Tetua bertanya
" Kita akan makan lewat tangkapan laut untuk sementara , untuk hasil tanah kita akan pikirkan nanti , yang penting sekarang kita memiliki orang tepat di atas pulau "
Sean
" Maksudnya tuan "
Tetua tidak paham
__ADS_1
" Kita perlu petani , nelayan , pedagang , tabib , pandai besi , dan lainnya yang di perlukan "
Sean menjelaskan
" Saya mengerti , saya akan mengelompokkan suku macan dengan keahlian mereka "
Kepala suku mengangguk
Malam harinya di desa Tiger terdengar suara gemuruh laut yang sangat dahsyat , bahkan pohon dan gunung ikut menari bersama badai di laut
" Malam ini sangat dingin "
Sean menggosok lengannya yang terasa beku
*Tok...tok...tok...
Sean mengetuk pintu kamar nyonya Vie
" Iya "
Nyonya Vie menyahuti dari dalam
" Ibu baik baik saja "
Sean bertanya
*Griet
Pintu terbuka
" Ibu sedikit kedinginan "
Nyonya Vie menjawab
" Pakai selimut Sean "
Sean kembali ke kamarnya dan mengambil selimut miliknya untuk nyonya Vie
" Lalu kamu "
Nyonya Vie menerima selimut dari Sean
" Malam ini Sean mau keluar memantau situasi , ibu istirahat saja "
Sean menggiring nyonya Vie untuk berbaring di atas peraduan
" Ibu istirahatlah , Sean akan menemui tetua untuk rapat "
Sean memakaikan empat selimut tebal untuk nyonya Vie
" Hati hati ya "
Ibu Vie mengusap kepala Sean
" Iya "
Sean tersenyum
Malam itu air benar-benar mengguncang pulau kayu yang di apungkan di tepi laut hingga beberapa batu sihir terlepas dari tempatnya
" Kita tau permasalahannya "
Sean menggumam dan tersenyum
Akhirnya di putuskan desain baru buatan Sean yang akan di gunakan untuk membangun Beberapa bangunan khusus di atas pulau buatan mereka
Empat tahun setelahnya
" Selesai "
Sean tersenyum melihat hasil kerja keras semua penduduk desa
Gemuruh pulau semakin terasa , di beberapa sisi sudah terkikis habis tanah pulau , dan terasa pulau yang mereka pijaki semakin masuk ke dalam air
" Esok kita harus bersiap , jangan membuang waktu "
Sean memerintahkan
" Baik "
Tetua membungkuk dan berlalu pergi
" Hampir lima tahun aku di sini , bahkan keadaan papa , aku tidak tau , dan... Fleur ku pun belum di lahirkan "
Sean memandangi langit yang terlihat mulai meredupkan cahayanya
" Papa... Maafkan Sean , sebentar lagi Sean akan pulang "
Sean menggumam
Esok hari
" Kalian semua ambil kayu yang aku siapkan , cari rumah yang memiliki tanda yang sama dengan yang di kayu , itu akan menjadi rumah kalian "
Sean memberikan banyak kayu untuk seluruh penduduk
" Kalian boleh bertukar tempat jika di antara kalian sepakat "
Tetua memberitahu
" Baik tuan "
Setiap perwakilan dari satu keluarga mengambil satu kayu
" Ibu , silahkan ambil "
Sean memberikan satu genggam kayu
" Em.... Ibu ini saja "
Nyonya Vie mengambil satu kayu
" Tanda apa , ayo Sean antar "
Sean menyerahkan kayu kecil itu kepada yang lain dan mengantar nyonya Vie menuju tempat yang dia pilih
" Ini , bunga mawar "
Nyonya Vie melihat tanda bunga mawar di atas kayu yang dia pegang
" Kalau begitu rumahnya ada di ujung pulau"
Sean perlahan membawa nyonya Vie menuju ujung pulau
Setelah sampai di sana
" Hm... Ini indah sekali "
Nyonya Vie tersenyum
Bertahun-tahun berlalu , Sean menantang maut dan selalu bepergian kemana mana hingga tiba saatnya nyonya Vie melahirkan
Dan kini bayi perempuan mungil sudah ada di dalam gendongan nyonya Vie
" Ibu , namanya siapa "
Sean duduk di samping nyonya Vie yang mengusap lembut wajah si mungil kecil
" Kalau menurutmu nama yang cantik apa "
Nyonya Fleur balik bertanya
" Em.... Bagaimana kalau Molle "
Sean mengusulkan
" Namanya cantik , tapi apa dia akan terus di panggil Molle hingga dewasa , mungkin nanti dia akan malu saat di panggil Molle "
Nyonya Vie bertanya
" Kalau begitu Fleur , artinya bunga "
Sean menjawab
" Itu bagus , lalu nama belakangnya apa "
Nyonya Vie bertanya kembali
" Oh iya... Apa ya "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Bagaimana kalau Lumineux "
Nyonya Vie mengusulkan
" Bunga cahaya "
Sean mengangguk
" Boleh , itu nama yang cantik "
Sean setuju
" Kalau begitu Molle kecil , namamu adalah Fleur Lumineux "
Nyonya Vie menyatukan keningnya dengan kening bayi kecilnya
" Ibu , Sean mau coba gendong "
Sean meminta
" Ini "
Nyonya Vie memberikan Fleur kecil
" Tapi nanti kalau dia hancur bagaimana , dia sangat kecil "
Sean menarik kembali tangannya
" Hahaha ngak akan hancur "
Nyonya Vie tertawa
" Sean sudah pernah gendong adek bayi , tapi kalau sekecil ini Sean ngak pernah "
Sean menyipitkan matanya
End
" Hingga saat itu Sean selalu bersama Fleur hingga usianya dua tahun dan ibu Vie meninggal "
Sean menundukkan kepalanya
" Dan Fleur langsung jatuh sakit berhari-hari tanpa ada tanda-tanda akan membaik , hingga nyonya Lusi... Istri tetua datang merawat Fleur "
Sean menatap Sbastian
" Lalu kenapa Fleur mau menikahimu "
Sbastian bertanya
" Ehehe gatau sih "
Sean mengusap tengkuknya
" Kok gitu "
Sbastian melipat tangannya di atas dada
" Waktu Sean masih di sini , Sean sering sekali pergi ke banyak tempat dan meninggalkan Fleur bersama nyonya Lusi hingga usianya hampir empat puluh tahun "
Sean memberitahu
" Hah "
Sbastian menyipitkan matanya
" Iya pa beneran isinya sampai empat puluh tahun , lalu Sean menikahinya pada usia empat puluh lima tahun "
Sean melipat tangannya di atas dada
" Dan kamu tinggalkan dia "
Sbastian memelototi Sean
" Sean belum kembali ke rumah, Sean hanya tinggalkan Fleur ke beberapa tempat hingga usianya sembilan puluh delapan tahun "
Sean menjawab
" Astaga , kamu kemana saja "
Sbastian
" Hehe , lalu Sean pulang ke rumah , habis itu saat Sean kembali , umur Fleur akan menjadi seratus tahun dua bulan lagi "
Sean tersenyum manis
" Maksudmu saat kamu sadar dari koma "
Sbastian memastikan
" Iya "
Sean mengangguk
" Kok rentan waktunya jauh banget "
Sbastian mengerenyitkan keningnya
" Iya , rentan waktu di sana dan sini sangat jauh dan setiap saat sangat berbeda "
Sean memberitahu
" Oh , begitu... Lalu maksudmu kamu di sini dan di sana tubuhmu boneka "
Sbastian menatap Sean sinis
" Ehehehe em... Itu udah hampir pagi ayo tidur "
Sean menghindari pertanyaan Sean
*Tap... Tap.... Tap...
Sean berjalan dengan cepat menuju kamarnya
*Plak
Sbastian tiba-tiba datang dan memukul punggung Sean
" Ouch.... Astaga sayangku pasti bangun.. babay pa "
*Ckel
Sean menutup pintunya dan menguncinya
" Dasar anak durhaka "
Sbastian menggumam
" Mas ngapain di luar "
Suara Adinda mengejutkan Sbastian
" Mas ngak bisa tidur , tadi habis ngobrol sama Sean "
Sbastian menghampiri Adinda
" Oh... "
Adinda mengangguk
" Ayo tidur , ini masih malam "
Sbastian memeluk dan membawa adinda naik ke atas peraduan
Di dalam kamar Sean
" Mas "
Fleur membuka matanya
" Hai cantik "
Sean meletakkan mantel bulunya di atas kursi
" Mas dari mana "
Fleur menggosok matanya yang lengket
__ADS_1