Aku Pangeran

Aku Pangeran
#113 ( pulau merak )


__ADS_3

" Ah Mao "


Sean terkejut


" Ada apa tuan "


Mao membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Sean masuk


" Aku khawatir dengan keadaan rumah "


Sean duduk di kursi ruang tamu dengan Fleur


" Kebetulan sekali , pesan dari rumah baru saya terima beberapa menit yang lalu "


Mao menyuguhkan dua cangkir teh dan secarik kertas


________


KAkAk , paPa sedang saakit , papa demeaM tingi sekaYang , kapan kAkak pulan , Aniel dan muTira Anen kAkak . BudA uga abis sakit , kaKAk cEpet PulaNg ya ( tulisan Aniel , definisi kebanyakan tipo )


Hari ini mutiara sama Aniel habis beli obat buat papa sama Mama sama papa Bram terus habis beli obat tadi , aku sama mutiara sama Aniel sama sama beli bubur buat papa (tulisan mutiara definisi kebanyakan kalimat sama )


Kalau kakak di rumah pasti kakak akan rawat papa sama kakak Adimas , terus bunda sama Aniel sama mutiara terus


( Tulisan Aniel dan mutiara definisi rapih karena di pandu Adinda )


Aku habis membuat kedua adik menangis di depan papa Sbastian dan aku di hukum sama papa Bram , jika kau tidak pulang maka akan aku ganggu adik adik agar tidak tenang hidupnya ( Definisi reyhan iri terhadap Aniel dan mutiara #tidak mau kalah)


Aku habis memukul kepala Reyhan karena mengganggu Aniel dan mutiara sampai menangis ( definisi Fadlan mau ikut ikutan )


Cepet pulang ya kak , Mutiara sama Aniel rindu kakak ( definisi Adimas melengkapi tulisan saudarinya )


Tertanda :


Mutiara <> Aniel ( tulisan adinda definisi kelupaan sebelum di kirim )


_____________


" Hahaha astaga tulisan mereka seperti ceker ayam"


Sean terkekeh melihat tulisan yang tidak rapih dan memiliki banyak tanda hati juga stiker


" Ini tulisan adik suamiku "


Fleur menerima kertas dari Sean


" Iya , ini tulisan mutiara dan ini milik Aniel , ini milik kakak laki-laki ku "


Sean menunjuk beberapa tulisan yang benar-benar berbeda


" Mao aku mau meminta sesuatu "


Sean menatap Mao


" Saya siap tuan "


Mao menjawab


" Bisakah kau pulang dan pastikan papa baik-baik saja "


Sean terlihat serius


" Baik tuan "


Mao mengangguk


" Kenapa tidak suamiku "


Fleur bertanya


" Sebenarnya aku juga ingin pulang , tapi jika aku pulang , butuh waktu lagi agar aku bisa kembali , sedangkan masalah di sini perlu secepatnya di selesaikan "


Sean mengusap kepala Fleur


" Dan aku masih ingin bersama istriku "


Sean melanjutkan kalimatnya


" Saya mengerti , saya akan terus membuka kotak surat agar anda selalu bisa berkirim surat dengan saya di rumah "


Mao mengeluarkan sebuah kalung


" Terimakasih Mao "


Sean menerima kalung yang Mao berikan


" Permintaan Anda adalah perintah untuk saya"


Mao berdiri dan membungkuk hormat


" Saya akan bersiap "


Mao berbalik meninggalkan Sean


" Suamiku "


Fleur memanggil


" Hm.. "


Sean menyahuti


" Kenapa Mao yang di kirim pulang "


Fleur menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Sean


" Dia yang paling mengerti semua sudut di dalam rumah , dia juga mengerti apa saja yang di sukai dan tidak di sukai penghuni rumah "


Sean mengusap kepala Fleur


" Jadi "


Fleur tidak mengerti


" Jadi hanya Mao yang bisa menggantikan posisiku di rumah agar papa tidak khawatir"


Sean menjelaskan


" Saya mengerti "


Fleur mengangguk


Saat Mao keluar , terlihat Mao sudah siap dengan pakaian formal kantor


" Tunggu sebentar tuan "


Mao keluar dari rumah dan tidak lama Mao kembali masuk


" Tuan , ini adalah kakak pertama saya , dia yang akan menjadi pengganti saya sekarang"


Mao memperkenalkan seorang laki-laki dengan tubuh yang tinggi dan berbadan kekar


" Salam tuan , saya north siap mengabdi kepada anda "


Laki-laki bernama north itu membungkuk hormat


" Saya pamit tuan "


Mao mengambil tas kecilnya yang dia siapkan tadi


" Tunggu Mao "


Sean mengeluarkan sesuatu dari saku celananya


" Berikan ini kepada papa "


Sean memberikan sebuah boneka bintang kecil


" Boneka ini masih ada "


Mao terkejut


" Boneka bayiku , semoga papa lekas sembuh "


Sean tersenyum


" Saya akan memberikannya kepada tuan "


Mao memasukkan boneka Sean ke dalam tas kecilnya


" Saya pamit undur diri "


Mao membungkuk dan masuk ke dalam sebuah Portal yang baru saja terbuka


" Tuan "


North memanggil


" Iya "


Sean menoleh


" Sebentar lagi kita akan sampai di pulau merak "


North memberitahu


" Baiklah kalau begitu , ayo sayang kita bersiap-siap "


Sean berdiri dan membawa Fleur keluar dari rumah Mao


" Saya akan menunggu anda di jembatan sebrang "


North berjalan bersimpangan dengan arah yang Sean tuju


Setelah sampai di rumah


" Suamiku "


Fleur mengguncang Sean yang sedari tadi melamun


" Iya "


Sean tersadar


" Suamiku khawatir dengan ayah "


Fleur bertanya


" Begitulah "


Sean tersenyum


" Aku yakin ayah akan baik-baik saja , suamiku jangan khawatir ya , lebih baik suamiku cepat-cepat selesaikan urusan di sini agar bisa cepat pulang "


Fleur mengusap lengan Sean


" Aku juga mau pulang , tapi aku tidak mau meninggalkan mu sayang "


Sean memeluk Fleur erat


" Iya , Fleur mengerti "


Fleur membalas pelukan hangat Sean


" Aku akan bersiap , kita akan sampai di pulau "


Fleur melepaskan pelukan Sean dan berdiri


" Suamiku bebersih saja dulu , aku akan siapkan makanan dan pakaian "


Fleur membuka lemari pakaian baru yang di buatkan Sean kemarin


" Baiklah sayangku aku mandi ya "


Sean masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membasuh dirinya


Setelah beberapa saat


" Fleur "


Sean mengeluarkan kepalanya dari dalam kamar mandi


" Iya "


Fleur menyahuti


" Sayang dimana handuknya "


Sean sedikit berteriak karena tidak mendengar suara Fleur


" Iya sebentar "


Fleur berteriak dan bergegas memberikan handuk untuk Sean


" Ini suamiku "


Fleur memberikan sebuah handuk


*Grep


Sean menahan tangan Fleur


" Suamiku "


Fleur menatap Sean malas


" Ayolah sayang "


Sean mengedipkan matanya dengan lucu


" Sebentar saja ya "


Fleur mengangguk


" Yes "


Sean memasukkan Fleur ke dalam kamar mandi


Setelah beberapa jam


Di luar rumah


" KYAAAAAAA PELAN PELAN "


Terdengar samar-samar suara teriakan Fleur


" Aku rasa jangan menganggu dulu "


Aloe berbisik


" Aku rasa begitu "


North mengangguk


" Permisi tuan North "


Paon datang dengan beberapa orang lainnya


" Ada apa tuan "


North bertanya


" Apa tuan sudah siap "


Paon bertanya


" Jangan ganggu dulu , tuan sedang ekhem.. dengan nyonya "


North menjawab


" Ah... Saya mengerti "


Paon mengangguk


Di dalam rumah


" Suamiku sih "


Fleur memukul lengan Sean


" Hahaha maaf cantik "


Sean tertawa melihat wajah kesal Fleur yang tidak bisa berjalan karena Sean


" Tanggung jawab "


Fleur terlihat merajuk


" Kan bisa aku gendong "


Sean memakaikan pakaian untuk Fleur


" Iya , tapi makanan sama pakaiannya belum siap "


Fleur menunjuk tumpukan pakaian yang masih belum siap


*Tok..tok..tok


Terdengar suara ketukan pintu


" Sebentar "


Sean keluar dan membuka pintu rumah

__ADS_1


" Kenapa ini "


Sean melihat banyak orang di depan rumahnya


" Maaf tuan , tapi raja suku merak sudah menunggu anda "


North memberitahu dengan sopan


" Aku mengerti "


Sean menutup pintu dan kembali bersiap


" Tuan Sean itu umur berapa sih "


Tanya Paon penasaran


" Tuan itu sudah berumur seratus dua puluh tahun lebih , itu usia ideal di sini untuk menikah "


North menjawab


* Sret


Aloe , Lao dan key melirik North


" Ekhem... Putra ayah tidak ada yang menikah pada usia seratus tahun "


North melipat tangannya di atas dada


" Siapa ya putra tertua ayah "


Lao menyindir


" Ngak tau "


Key mengedikkan bahunya


" Sudahlah , tugas putra ayah itu menjaga desa , jadi jangan bertanya seperti itu "


Aloe membela North


" Aloe benar "


North menatap Aloe seakan bilang 'terimakasih'


" Ayo "


Sean keluar sambil menggendong Fleur


" Astaga tuan , untuk apa saya menyiapkan tunggangan untuk anda "


North membatin


" Tuan , saya akan memanggil ichi terlebih dahulu "


Aloe pergi dan kembali


" Kamu mau naik Ichi atau aku gendong "


Sean bertanya kepada Fleur


" Terserah suamiku saja "


Fleur masih memeluk erat Fleur


" Kalau begitu aku gendong "


Sean berjalan meninggalkan anak buahnya


" Astaga tuan "


North menggelengkan kepalanya


Selama perjalanan menuju jembatan sebrang yang menghubungkan pulau dan daratan , Sean terlihat asyik berbicara dengan Fleur


" Suamiku "


Fleur memanggil


" Iya "


Sean menyahuti


" Aku sudah lebih baik , aku jalan saja "


Fleur meminta


" Baiklah "


Fleur di turunkan oleh Sean


" Sayang "


Sean berbisik


" Iya "


Fleur menoleh


" Aku dengar dari paon kalau di desa merak ada banyak sesuatu yang manis sekali dan itu hanya ada di sana , apa kau mau mencoba"


Sean menaik turunkan alisnya


" Mau "


Fleur mengangguk dengan antusias


" Oke kita beli itu nanti "


Sean terkekeh jahat


" Ada bayarannya nih "


Fleur mencubit hidung Sean


" Hehehe tau aja "


Sean terkekeh senang


" Selamat datang tuan Sean "


Raja merak yang terlihat sudah tua menyambut kehadiran Sean dengan deretan gadis cantik di sampingnya


" Wow itu tuan Sean ya "


" Aku kira tuan Sean sudah tua "


" Iya iya , ternyata masih tampan ya "


Terdengar bisikan kecil dari para wanita yang membuat Fleur sedikit tidak suka


" Ekhem.. "


Raja merak berdehem dan para wanita kembali tenang


" Hm.. "


Sean berdehem pendek


" Terimakasih atas sambutan anda "


North membalas kalimat raja merak


" Suamiku "


Fleur berbisik


" Ya "


Sean menyahuti


" Kenapa suamiku tidak menjawab "


Fleur benar-benar berbisik


" Tidak apa , hanya tidak suka "


Sean membalas dengan bisikan


" Mari tuan tuan , akan saya antarkan menuju tempat istirahat untuk tuan tuan sekalian "


Sang raja sendiri yang mempersilahkan


" Kamu mau istirahat atau jalan-jalan "


Sean menawari


" Terserah suamiku "


Fleur menjawab


Sean menentukan


" Baiklah "


Fleur mengangguk


" North "


Sean menoleh


" Saya "


North mendekat


" Urus yang di sini , aku mau jalan-jalan "


Sean benar-benar berbisik di telinga North


" Tapi tuan.."


North mencoba mengelak


" Hm..hm.. "


Sean menaikkan alisnya


" Nanti akan saya kabari saat kita harus kembali "


North mengalah


" Oke "


Sean mengangguk


" Ayo pergi "


Sean menggandeng Fleur


Sean berjalan dengan merangkul pundak Fleur dan dengan tenang melewati raja merak yang terlihat sedikit tersinggung


" Ekhem... Maaf yang mulia , tapi tuan kami sedikit tersinggung "


North memberitahu


" Karena apa "


Paon bertanya


" Ntahlah , pikiran tuan itu aneh , jadi sulit untuk menebak "


North menjawab


Di tempat Sean


" Woaaaaaahhh lihat suamiku , rambut mereka memiliki bulu merak di ujungnya , tidak seperti yang kita temui di kapal "


Fleur heran


" Karena yang kita temui di kapal itu keluarga kerajaan , jadi rambut panjang mereka itu bulu mereka "


Sean menjelaskan


" Jadi "


Fleur tidak mengerti


" Hahaha jadi cintaku.. hanya keluarga kerajaan dan bangsawan yang bisa mengatur kemunculan bulu mereka "


Sean menjelaskan dengan kekehan


" Oh.... "


Fleur mengangguk


" Lihat pakaian mereka sayang "


Sean menunjuk pakaian para suku merak


" Itu cantik "


Fleur terkesan


" Lihat dengan teliti , itu adalah kulit mereka yang bisa menyamarkan garis lekuk tubuh , jadi jarang sekali suku merak yang memakai pakaian "


Sean menunjuk pakaian yang di pakai suku merak


" Lalu rok panjang itu "


Fleur menunjuk sebuah rok yang menjuntai hingga menyentuh tanah


" Itu terbuat dari ekor bulu merak mereka sendiri , gaun yang dia pakai itu hasil dari sihir khas suku merak "


Sean menjawab


" Menakjubkan "


Fleur tidak berhenti memandangi gaun dan pakaian suku merak yang memiliki warna unik


" Lihat apa itu "


Fleur menunjuk sebuah kedai yang sangat ramai


" Ayo kesana "


Sean menggandeng Fleur mendekati kedai


" Woah.... Apa ini "


Fleur terkejut melihat banyak sesuatu yang imut di pajang dengan rapih


" Mau mencoba "


Sean menawari


" Mau mau "


Fleur mengangguk


" Kita tukar uang dulu "


Sean menarik tangan Fleur menjauh dari kerumunan


" Tukar uang "


Fleur tidak mengerti


" Uang di sini dengan uang yang kita miliki itu berbeda sayang , jadi harus di tukar dulu"


Sean menjelaskan


" Oh... "


Fleur mengangguk mengerti


Sean mendekat ke sebuah kedai yang cukup tertutup


" Tuan mau menukar uang atau menjual barang"


Seorang penjaga bertanya


" Membeli lalu menukar "


Sean menjawab


" Mari ikuti saya "


Penjaga tersebut membawa Sean masuk dan terlihat sang penjaga membawa Sean ke dalam ruangan lainnya


Ruangan yang di masuki Sean lebih gelap dan lembab


" Suamiku "


Fleur memeluk lengan Sean


" Jangan takut "


Sean mengusap kepala Fleur


" Ada apa gerangan orang awam seperti anda mengetahui apa yang di inginkan "


Seorang lelaki yang terlihat benar-benar tua dan membawa tongkat menyambut Sean dengan sinis


" Aku mau tau apakah ini masih berlaku "

__ADS_1


Sean mengeluarkan sebuah token yang terbuat dari besi


Token itu memiliki ukiran bertuliskan raja Tian dan di hiasi dengan intan permata yang di lebur dan di taburkan di sana dengan ujung yang memiliki cap jari jempol menggunakan darah


" A..an..anda siapa "


Pria tua itu terlihat terkejut dan bergetar


" Bagaimana jika ini aku "


Sean tersenyum ramah


*Klotak


Tiba-tiba pria tua itu menjatuhkan tongkat yang dia bawa dan bersujud di hadapan Sean


" S..salam yang mulia , hamba tidak mengenali yang mulia h..ha..hamba pantas di hukum "


Terdengar suara pria tua itu benar-benar bergetar


" Sudahlah tuan , ini sudah ribuan tahun berlalu , tidak perlu begini "


Sean membantu pak tua berdiri


" Silahkan... silahkan tuan , anda nyamankan diri anda , saya akan mengambilkan air "


Pria tua itu menuntun Sean untuk duduk di kursi yang tersedia di sana


" Tidak perlu , aku hanya membutuhkan uang , apa ini masih bisa di tukar "


Sean menunjuk token miliknya


" Tentu tuan , sebanyak yang anda mau "


Laki laki tua itu mengangguk


" Hahaha "


Sean terkekeh


Tidak lama Sean keluar dengan membawa se kantong koin emas


" Ini terlalu banyak sih suamiku "


Fleur mengerenyitkan keningnya


" Sayang , akan aku lakukan apapun untukmu hm... jadi jangan berpikir seperti itu"


Sean mencubit pipi Fleur


" Baiklah... Hehe "


Fleur mengangguk dan menunjukkan deretan gigi putihnya


" Kita pergi ke mana dulu nih "


Sean menoel hidung Fleur


" Itu "


Fleur menunjuk sebuah kedai manisan


" Baiklah sayangku "


Sean membawa Fleur menuju kedai manisan yang di tunjuk ya


Setelah itu , Sean membawa Fleur berjalan mengelilingi pasar hingga matahari hampir terbenam


" Pasarnya tidak tutup ya "


Fleur yang sudah membawa banyak manisan dan duduk di atas rumput di tepi danau terlihat mengagumi pasar yang kian ramai


" Mungkin ada festival "


Sean menyuapi satu persatu makanan yang dia beli tadi


" Suamiku , nanti kita tidur di mana "


Fleur bertanya


" Terserah kamu "


Sean menerima suapan dari Fleur


" Jika di rumah "


Fleur meletakkan kepalanya di atas pundak Sean


" Boleh "


Sean mengangguk


" Jika di penginapan"


Fleur mendongak


" Boleh "


Sean menyuapkan sesendok manisan untuk Fleur


" Hm... Jika di istana "


Fleur menunjuk bangunan yang megah di ujung bukit


" Kita bisa kesana "


Sean mengangguk


" Jika aku minta tidur di sini "


Fleur menunjuk tempat yang mereka duduki


" Iya , terserah kamu cantik "


Sean menyuapkan kembali makanan yang dia pegang


*Syuuut... Sret


Sean menangkap sebuah anak panah yang melesat mendekati mata kanan Fleur


" Hahaha , ayo berdiri cintaku "


Sean membawa Fleur ke dalam gendongannya dan berdiri


" Kamu mau tidur dimana tadi "


Sean melesat ke atas pohon terdekat


" Apa itu tadi "


Fleur bertanya


" Kita akan tidur di istana "


Sean kembali melesat melewati pepohonan yang rindang


" Suamiku.. apa itu tadi "


Fleur masih bertanya


" Mungkin utusan raja , suamimu ini harus menyelesaikan beberapa tugas jadi kita akan istirahat di istana "


Sean menjawab


" Baiklah "


Fleur mengangguk


Sean melesat dengan sangat cepat melewati setiap pepohonan yang rindang hingga mencapai gerbang istana Sean mendarat dan berhadapan dengan penjaga


" Maaf tuan , anda siapa "


Penjaga bertanya


" Saya pemimpin dari desa suku Tiger "


Sean menjawab


Para penjaga saling lirik tidak percaya


" Apa buktinya "


Kedua penjaga gerbang tidak percaya


" Suamiku kita ke tempat lain saja "


Fleur terlihat tidak suka


" Aku sudah berjanji membawamu masuk , dan aku akan membawamu masuk "


Sean melompat ke atas gerbang


*Prang


Pelindung sihir yang terbilang cukup tebal pecah hanya kerena Sean melewatinya


" Apa itu "


Fleur menoleh ke belakang


" Ntahlah "


Sean turun dan berjalan dengan santai menuju pintu masuk istana yang sudah di depan mata


*Grieeet


Pintu besar yang sangat berat itu terbuka perlahan


" Sihir "


Fleur menggumam


" Iya "


Sean mengangguk


Terlihat di aula utama banyak sekali orang orang besar dengan pakaian yang indah memandang Sean


" Dimana raja merak "


Suara Sean yang dingin menggelegar dan itu membuat Fleur terkejut


" Ada apa anda mencari saya "


Dari kerumunan terlihat raja merak yang sudah tua itu maju ke depan


Terlihat North dan suku Tiger lainnya berlarian menghampiri Sean dan Fleur


" Sebentar ya sayang "


Sean menurunkan Fleur dan menyerahkan kepada nyonya Lusi


" Suamiku "


Fleur menggenggam erat tangan Sean


" Sebentar sayang "


Sean melepaskan genggaman tangan Fleur dan beranjak dari tempatnya


" Suamiku "


Fleur mencoba meraih Sean namun nyonya Lusi menghentikan Fleur


" Nyonya tunggu di sini "


Nyonya Lusi merangkul pundak Fleur


" Tapi Bu "


Fleur terlihat khawatir


" Jangan khawatir nyonya "


Nyonya Lusi merangkul erat Fleur


Terlihat North berjalan ke depan menghalangi pandangan Fleur di ikuti yang lain hingga Fleur benar-benar tidak bisa melihat apa yang di lakukan Sean


" Kenapa "


Fleur mencoba melepaskan dirinya tapi itu tidak berhasil


" Kenapa , tolong menyingkirlah "


Fleur menarik pakaian North yang ada di depannya


" Nyonya tenanglah "


Key menggenggam kedua tangan Fleur


" Kenapa.. kenapa.. menyingkirlah kumohon hiks.. kumohon "


Fleur berusaha melepaskan diri dan mulai menitikkan air mata


" Suami anda bilang anda harus tenang "


Sebuah tangan dari belakang menutup pengelihatan Fleur


" Tapi suamiku "


Fleur mendadak merasakan tubuhnya menjadi lemas


" Jangan goyah bunga , jadilah kelopak yang indah dan kuat "


Sebuah suara berbisik tepat di telinga Fleur dan terasa sebuah tangan memeluk perut Fleur


" Suamiku... jangan pergi "


Fleur merasakan seluruh badannya lumpuh total dan Fleur hanya merasakan mulutnya dan air mata yang terus mengalir


" Jangan tinggalkan aku "


Fleur terus bergumam karena hanya itu yang dia bisa


" Bunga putih tetaplah putih , tangkai berduri jagalah bunga putihku , daun hijau akan memberimu segalanya , jangan layu bungaku "


Kalimat yang berbeda namun tetap bercerita tentang bunga terus berbisik di telinga Fleur


" Aku mencintaimu suamiku "


Fleur merasakan kesadarannya perlahan menghilang


" Jangan pergi sayang "


Fleur merasakan semuanya menjadi hening dan tidak merasakan apapun


Terasa tangan yang tadi memeluknya erat kini sudah menghilang


" Sayang "


Suara yang halus dan hangat masuk ke dalam pendengaran Fleur


Fleur membuka matanya dengan penuh usaha , dan terlihat senyum Sean yang selalu menggelitik hatinya kini menjadi senyuman hangat yang dia mau


" Kita pulang , istirahatlah cintaku "


Sean menutup mata Fleur


Fleur merasakan tubuhnya di angkat dan guncangan kecil membuatnya tidak benar-benar kehilangan kesadaran


" Anda kejam tuan "


Key membuka suara


" Dia mengusik istriku sejak kedatanganku ke sini , mana bisa aku diam saja "


Terdengar suara Sean samar-samar di pendengaran Fleur


" Tunggu tuan Sean "


Sebuah suara yang tidak asing memasuki pendengaran Fleur


" Ada apa kau mencariku pangeran paon "


Terdengar suara tidak suka dari mulut Sean yang selalu terdengar penuh kasih sayang


" Saya meminta maaf kepada anda semua atas kesalahan yang di lakukan oleh ayah saya "


Terdengar suara penyesalan dari mulut pangeran paon


" Kau tau sebesar apa kesalahan yang dia lakukan kepada istriku "


Suara Sean terdengar tidak menyukai pangeran paon


" Karena itu kami pangeran negri ini yang akan menebus kesalahan raja kami "


Suara pengeram paon terdengar sangat meyakinkan


" Lagipun perjalanan menuju pulau anda itu akan berbahaya untuk kesehatan nyonya di waktu malam , jadi izinkan saya menyiapkan tempat untuk anda "


Terdengar suara yang lembut bak seorang wanita


" Pangeran benar tuan , bagaimana jika nyonya sakit "

__ADS_1


Suara North terdengar meyakinkan


__ADS_2