
" Tunggu "
Liona berteriak kecil dan berdiri dari pangkuan pengasuhnya
" Lili punya sesuatu "
Liona berjalan dengan gaun merah muda dan pita kecil di kepalanya menghampiri Sbastian
" Ini lili bawa sesuatu "
Liona mencoba memegang tangan kakak ipar barunya
" Jari kakak yang itu "
Liona menunjuk tangan kiri adinda
" Jarinya comel "
Liona tertawa kecil
" Kakak berikan ini "
Liona membuka kotak cincin berbentuk hati dengan sedikit kesusahan
" Aduh "
Liona hampir terjatuh namun kotak cincinnya berhasil di buka
" Kakak pakaian ini ke kakak cantik "
Liona memberikan cincin indah dengan satu permata kecil di tengahnya
" Baiklah "
Sbastian tersenyum dan memakaikan cincin yang sebenarnya sudah dia siapkan jauh jauh hari sebelum hari ini tiba
" Sudah "
Sbastian menggelus kepala liona sambil melirik adinda yang mengusap cincin barunya sambil tersenyum
" Ini , kakak berikan ini ke kakak lili "
Liona memberikan cincin polos kepada adinda
" Ah.. ba..baiklah "
Wajah adinda memerah saat meraih tangan kiri Sbastian
" Maaf "
Liona mengucapkan maaf lalu memakaikan cincin kawin itu kepada Sbastian
" Muach "
Tiba-tiba Sbastian mengecup kening adinda sekilas yang sangat dekat dengan bibirnya , saat tangannya memang sengaja ia tarik ketika adinda memakaikan cincin untuknya
" Su..sudah "
Adinda segera duduk kembali dengan baik saat sudah selesai melakukan apa yang ia lakukan
" Terimakasih "
Liona tersenyum dan menutup kotak cincin itu
" Boleh ini lili miliki "
Liona bertanya kepada Sbastian
" Boleh "
Sbastian tersenyum
" Seharusnya bicaranya nanti saja "
Sbastian membatin
" Hahahaha "
Semua orang tertawa saat paham bahwa cincin itu sudah di siapkan oleh Sbastian
" Maaf , aku tidak ingin ada perayaan atau semacamnya , aku sibuk akhir-akhir ini "
Sbastian berpamitan kepada pak penghulu dan orang tuanya juga orang tua adinda
" Ucapkan selamat tinggal kepada orang tuamu "
Sbastian memerintahkan kepada adinda dan adinda mematuhinya
" Selamat tinggal apa , kan aku cuma mau bawa ke kamar , dasar grogi "
Sbastian menggerutu sendiri
" Ayo "
Sbastian membawa adinda untuk naik ke kamarnya
Setelah sampai di dalam kamar , Sbastian memberikan gamis kepada adinda dan juga kerudung serta sepatu , tas dll yang adinda perlukan
" Pakailah ini , ganti pakaianmu "
Sbastian memberikan pakaian lengkap kepada adinda lalu dia pergi mengganti pakaiannya
" Ba..baik "
Adinda mengangguk
Saat Sbastian kembali dari mengganti pakaiannya , adinda belum mengganti pakaian pengantinnya
" Kenapa , gantilah pakaianmu "
Sbastian mengambil tas miliknya di atas tempat tidur dan membuka kertas kertas kantor
" A..apakah kita tidak melakukan , itu "
Adinda bertanya dengan gagap
" Itu "
__ADS_1
Sbastian tidak mengerti
" I..iya , kata ibu jika setelah menikah aku harus melayanimu , ah.. bukan bukan , aku harus melayani suamiku "
Adinda berkata dengan lirih
" Melakukan itu "
Sbastian menahan tawanya melihat kepolosan istri kecilnya
" Oh... Andai saja kita menikahnya sudah cukup umur "
Sbastian membatin
" Tidak , gantilah pakaianmu , kita akan pergi ke Indonesia , pekerjaanku sangat menumpuk di sana "
Sbastian menjawab seadanya
" Ba..baiklah "
Adinda mengangguk patuh lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya
" Apakah yang di katakan ibu salah "
Adinda menggumam sendiri saat di dalam kamar mandi
" Lucu sekali , andai ini sudah di rumah , akan ku habiskan pipimu yang tembem itu "
Sbastian menggumam sendiri sambil melihat foto pernikahan yang ia ambil secara diam-diam , yah... Menyuruh seseorang lebih tepatnya
" Astaga , apa apaan aku ini "
Sbastian meletakkan ponselnya
" Oh iya "
Sbastian mengambil kembali ponselnya dan menelfon seseorang
Setelah beberapa saat adinda keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian yang di berikan Sbastian
" Aku mau jadi ukuran yang paling besar "
Adinda mendengar suara Sbastian yang sedang menelfon seseorang
" Tidak , aku tidak suka "
Adinda membawa keluar baju pengantinnya dan mendengar Sbastian berbicara dengan seseorang di balik telfon
" Jika aku ingin membunuhmu katakan saja"
Kalimat yang baru saja di ucapkan Sbastian membuat adinda merinding
" JOOOHN jika ingin mati katakan "
Adinda terkejut saat Sbastian berteriak kepada hp nya
" Dasar John sialan "
Sbastian duduk di atas tempat tidurnya dengan kasar
" Aku akan membunuhnya nanti "
" A..aku sudah selesai "
Adinda menunduk dan meletakkan lipatan baju pengantinnya di atas tempat tidur
" Sudah "
Sbastian bertanya
" I..iya "
Adinda menjawab dengan takut
" KAKAAAAAK "
Suara lion menggedor-gedor pintu kamar Sbastian
" Kenapa "
Sbastian melompat dari atas tempat tidur dan membuka pintu
" Kakak "
Suara kecil liona menyapa
" Halo "
Sbastian menggendong liona dan membiarkan lion berdiri di sana
" Anak nakal , masuklah "
Sbastian memanggil lion yang berdiri diam di ambang pintu dengan muka kesal
" Kamu sudah mengganti pakaianmu "
Suara Mama memasuki pendengaran Sbastian
" Iya ma , sekarang Sbastian akan kembali , perusahaan benar-benar sibuk "
Sbastian mendudukkan liona di atas bantalnya yang ia susun tinggi-tinggi
" Apa kalian benar-benar akan pergi "
Suara ibu adinda menyahuti
" Ibu "
Adinda berlari memeluk ibunya
" Bagaimana dengan pendidikannya "
Ibu adinda memeluk adinda
" Sbastian sudah memindahkannya ke Indonesia "
Sbastian menjawab
__ADS_1
" Silahkan masuk "
Sbastian membiarkan para ibu masuk dan duduk di sofa ruangan
" Tapi dia sebentar lagi lulus "
Ibu adinda memberitahu
" Iya , Sbastian tau Bu , Sbastian pastikan adinda menempuh pendidikan yang di inginkannya "
Sbastian menenangkan
" Adinda akan ikut apa kata em... "
Adinda memandang Sbastian , dirinya kesulitan menentukan panggilan untuk suaminya
" Hahaha dia pasti kesulitan memanggilku apa , padahal kan tadi sudah mengeluarkan kata suamiku , dasar Gadi polos "
Sbastian membatin , dirinya yang masih sibuk bermain dengan adik kembarnya sedikit melirik adinda yang kebingungan
" Mas "
Suara Sbastian membuat adinda dan yang lainnya menoleh
" I..iya , adinda akan ikut apa yang mas katakan "
Adinda berbicara dengan lirih
" Baiklah , jika itu maumu "
Ibu memeluk adinda dengan sayang
* Drrrt
Dering telepon Sbastian
" Halo "
Sbastian mengangkat telfonnya
" Baiklah baiklah "
Sbastian menutup telfonnya
" Baik baik , padahal ngak denger apa apa"
Lion menggerutu
" Apa sih anak nakal "
Sbastian menurunkan lion yang bertengger di punggungnya
" Kakak harus kembali sekarang "
Sbastian mencium seluruh wajah liona dan lion
" Sekarang m..mas "
Adinda bertanya
" Iya , di pusat sedang ada kekacauan "
Sbastian menjawab
" Ibu "
Adinda memeluk ibunya erat
" Adinda akan merindukan ibu "
Adinda mencium pipi ibunya
" Ibu juga akan merindukanmu "
Ibu memeluk adinda dengan sayang
" Nak "
Mama memeluk Sbastian yang sedang memandang adinda
" Mama , Sbastian janji Sbastian akan menjaganya hingga akhir "
Sbastian memeluk mamanya erat dan berbicara sambil berbisik
" Iya , mama percaya padamu "
Mama Sbastian mengelus punggung Sbastian
" A..apakah kita perlu mengambil baju em.. ku "
Adinda kesulitan kembali menentukan panggilan untuk dirinya saat berbicara dengan sang suami
" Tidak perlu , aku sudah menyiapkan semua baju dan perlengkapanmu di rumah "
Sbastian melepaskan pelukan mamanya dan memeluk liona dan lion . Lagi
" Lili akan rindu kakak "
Lion mencium pipi Sbastian
" Kakak tau hahaha "
Sbastian terkekeh
" Kakak pergi ya "
Sbastian mencium pipi kanan liona dan pipi kiri lion
Sbastian juga berpamitan kepada ibu mertuanya
" Tolong jaga putriku "
Ibu berbicara dengan nada sedih
" Pasti Bu "
Sbastian mencium tangan ibu mertuanya
__ADS_1
" Ayo "
Sbastian berjalan keluar kamar terlebih dahulu sambil membawa adik kecilnya dan di ikuti oleh para ibu dan adinda yang masih setia di dalam pelukan ibunya