Aku Pangeran

Aku Pangeran
#51 ( cincin istimewa )


__ADS_3

" Tunggu "


Liona berteriak kecil dan berdiri dari pangkuan pengasuhnya


" Lili punya sesuatu "


Liona berjalan dengan gaun merah muda dan pita kecil di kepalanya menghampiri Sbastian


" Ini lili bawa sesuatu "


Liona mencoba memegang tangan kakak ipar barunya


" Jari kakak yang itu "


Liona menunjuk tangan kiri adinda


" Jarinya comel "


Liona tertawa kecil


" Kakak berikan ini "


Liona membuka kotak cincin berbentuk hati dengan sedikit kesusahan


" Aduh "


Liona hampir terjatuh namun kotak cincinnya berhasil di buka


" Kakak pakaian ini ke kakak cantik "


Liona memberikan cincin indah dengan satu permata kecil di tengahnya


" Baiklah "


Sbastian tersenyum dan memakaikan cincin yang sebenarnya sudah dia siapkan jauh jauh hari sebelum hari ini tiba


" Sudah "


Sbastian menggelus kepala liona sambil melirik adinda yang mengusap cincin barunya sambil tersenyum


" Ini , kakak berikan ini ke kakak lili "


Liona memberikan cincin polos kepada adinda


" Ah.. ba..baiklah "


Wajah adinda memerah saat meraih tangan kiri Sbastian


" Maaf "


Liona mengucapkan maaf lalu memakaikan cincin kawin itu kepada Sbastian


" Muach "


Tiba-tiba Sbastian mengecup kening adinda sekilas yang sangat dekat dengan bibirnya , saat tangannya memang sengaja ia tarik ketika adinda memakaikan cincin untuknya


" Su..sudah "


Adinda segera duduk kembali dengan baik saat sudah selesai melakukan apa yang ia lakukan


" Terimakasih "


Liona tersenyum dan menutup kotak cincin itu


" Boleh ini lili miliki "


Liona bertanya kepada Sbastian


" Boleh "


Sbastian tersenyum


" Seharusnya bicaranya nanti saja "


Sbastian membatin


" Hahahaha "


Semua orang tertawa saat paham bahwa cincin itu sudah di siapkan oleh Sbastian


" Maaf , aku tidak ingin ada perayaan atau semacamnya , aku sibuk akhir-akhir ini "


Sbastian berpamitan kepada pak penghulu dan orang tuanya juga orang tua adinda


" Ucapkan selamat tinggal kepada orang tuamu "


Sbastian memerintahkan kepada adinda dan adinda mematuhinya


" Selamat tinggal apa , kan aku cuma mau bawa ke kamar , dasar grogi "


Sbastian menggerutu sendiri


" Ayo "


Sbastian membawa adinda untuk naik ke kamarnya


Setelah sampai di dalam kamar , Sbastian memberikan gamis kepada adinda dan juga kerudung serta sepatu , tas dll yang adinda perlukan


" Pakailah ini , ganti pakaianmu "


Sbastian memberikan pakaian lengkap kepada adinda lalu dia pergi mengganti pakaiannya


" Ba..baik "


Adinda mengangguk


Saat Sbastian kembali dari mengganti pakaiannya , adinda belum mengganti pakaian pengantinnya


" Kenapa , gantilah pakaianmu "


Sbastian mengambil tas miliknya di atas tempat tidur dan membuka kertas kertas kantor


" A..apakah kita tidak melakukan , itu "


Adinda bertanya dengan gagap


" Itu "

__ADS_1


Sbastian tidak mengerti


" I..iya , kata ibu jika setelah menikah aku harus melayanimu , ah.. bukan bukan , aku harus melayani suamiku "


Adinda berkata dengan lirih


" Melakukan itu "


Sbastian menahan tawanya melihat kepolosan istri kecilnya


" Oh... Andai saja kita menikahnya sudah cukup umur "


Sbastian membatin


" Tidak , gantilah pakaianmu , kita akan pergi ke Indonesia , pekerjaanku sangat menumpuk di sana "


Sbastian menjawab seadanya


" Ba..baiklah "


Adinda mengangguk patuh lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya


" Apakah yang di katakan ibu salah "


Adinda menggumam sendiri saat di dalam kamar mandi


" Lucu sekali , andai ini sudah di rumah , akan ku habiskan pipimu yang tembem itu "


Sbastian menggumam sendiri sambil melihat foto pernikahan yang ia ambil secara diam-diam , yah... Menyuruh seseorang lebih tepatnya


" Astaga , apa apaan aku ini "


Sbastian meletakkan ponselnya


" Oh iya "


Sbastian mengambil kembali ponselnya dan menelfon seseorang


Setelah beberapa saat adinda keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian yang di berikan Sbastian


" Aku mau jadi ukuran yang paling besar "


Adinda mendengar suara Sbastian yang sedang menelfon seseorang


" Tidak , aku tidak suka "


Adinda membawa keluar baju pengantinnya dan mendengar Sbastian berbicara dengan seseorang di balik telfon


" Jika aku ingin membunuhmu katakan saja"


Kalimat yang baru saja di ucapkan Sbastian membuat adinda merinding


" JOOOHN jika ingin mati katakan "


Adinda terkejut saat Sbastian berteriak kepada hp nya


" Dasar John sialan "


Sbastian duduk di atas tempat tidurnya dengan kasar


" Aku akan membunuhnya nanti "


" A..aku sudah selesai "


Adinda menunduk dan meletakkan lipatan baju pengantinnya di atas tempat tidur


" Sudah "


Sbastian bertanya


" I..iya "


Adinda menjawab dengan takut


" KAKAAAAAK "


Suara lion menggedor-gedor pintu kamar Sbastian


" Kenapa "


Sbastian melompat dari atas tempat tidur dan membuka pintu


" Kakak "


Suara kecil liona menyapa


" Halo "


Sbastian menggendong liona dan membiarkan lion berdiri di sana


" Anak nakal , masuklah "


Sbastian memanggil lion yang berdiri diam di ambang pintu dengan muka kesal


" Kamu sudah mengganti pakaianmu "


Suara Mama memasuki pendengaran Sbastian


" Iya ma , sekarang Sbastian akan kembali , perusahaan benar-benar sibuk "


Sbastian mendudukkan liona di atas bantalnya yang ia susun tinggi-tinggi


" Apa kalian benar-benar akan pergi "


Suara ibu adinda menyahuti


" Ibu "


Adinda berlari memeluk ibunya


" Bagaimana dengan pendidikannya "


Ibu adinda memeluk adinda


" Sbastian sudah memindahkannya ke Indonesia "


Sbastian menjawab

__ADS_1


" Silahkan masuk "


Sbastian membiarkan para ibu masuk dan duduk di sofa ruangan


" Tapi dia sebentar lagi lulus "


Ibu adinda memberitahu


" Iya , Sbastian tau Bu , Sbastian pastikan adinda menempuh pendidikan yang di inginkannya "


Sbastian menenangkan


" Adinda akan ikut apa kata em... "


Adinda memandang Sbastian , dirinya kesulitan menentukan panggilan untuk suaminya


" Hahaha dia pasti kesulitan memanggilku apa , padahal kan tadi sudah mengeluarkan kata suamiku , dasar Gadi polos "


Sbastian membatin , dirinya yang masih sibuk bermain dengan adik kembarnya sedikit melirik adinda yang kebingungan


" Mas "


Suara Sbastian membuat adinda dan yang lainnya menoleh


" I..iya , adinda akan ikut apa yang mas katakan "


Adinda berbicara dengan lirih


" Baiklah , jika itu maumu "


Ibu memeluk adinda dengan sayang


* Drrrt


Dering telepon Sbastian


" Halo "


Sbastian mengangkat telfonnya


" Baiklah baiklah "


Sbastian menutup telfonnya


" Baik baik , padahal ngak denger apa apa"


Lion menggerutu


" Apa sih anak nakal "


Sbastian menurunkan lion yang bertengger di punggungnya


" Kakak harus kembali sekarang "


Sbastian mencium seluruh wajah liona dan lion


" Sekarang m..mas "


Adinda bertanya


" Iya , di pusat sedang ada kekacauan "


Sbastian menjawab


" Ibu "


Adinda memeluk ibunya erat


" Adinda akan merindukan ibu "


Adinda mencium pipi ibunya


" Ibu juga akan merindukanmu "


Ibu memeluk adinda dengan sayang


" Nak "


Mama memeluk Sbastian yang sedang memandang adinda


" Mama , Sbastian janji Sbastian akan menjaganya hingga akhir "


Sbastian memeluk mamanya erat dan berbicara sambil berbisik


" Iya , mama percaya padamu "


Mama Sbastian mengelus punggung Sbastian


" A..apakah kita perlu mengambil baju em.. ku "


Adinda kesulitan kembali menentukan panggilan untuk dirinya saat berbicara dengan sang suami


" Tidak perlu , aku sudah menyiapkan semua baju dan perlengkapanmu di rumah "


Sbastian melepaskan pelukan mamanya dan memeluk liona dan lion . Lagi


" Lili akan rindu kakak "


Lion mencium pipi Sbastian


" Kakak tau hahaha "


Sbastian terkekeh


" Kakak pergi ya "


Sbastian mencium pipi kanan liona dan pipi kiri lion


Sbastian juga berpamitan kepada ibu mertuanya


" Tolong jaga putriku "


Ibu berbicara dengan nada sedih


" Pasti Bu "


Sbastian mencium tangan ibu mertuanya

__ADS_1


" Ayo "


Sbastian berjalan keluar kamar terlebih dahulu sambil membawa adik kecilnya dan di ikuti oleh para ibu dan adinda yang masih setia di dalam pelukan ibunya


__ADS_2