
" Hahahaha , lalu apa kamu benar-benar mau ke kantor polisi "
Dokter tertawa
" Iya , aku tidak mau mengurus surat-surat lagi , itu menyusahkan "
Sbastian melirik adinda yang terlihat khawatir
" Apa kamu mau melihat Bella "
Sbastian menawari adinda
" Iya , saya mau kesana , saya khawatir kepadanya "
Adinda langsung mengangguk begitu Sbastian menawari
" Lebih baik kamu telfon orang tuamu , mereka pasti khawatir , dan juga orang tua Bella , dan lagi ini waktunya kalian pulang "
Sbastian melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang
" Hp saya ada di sekolahan , dan saya tidak ingat nomor ibu Bella "
Adinda menjawab
" Ingat nomor ibumu "
Sbastian bertanya
" Ingat "
Adinda mengangguk
" Ini , telfon ibumu , tapi jangan buka yang lain "
Sbastian memberikan hp nya
" Terimakasih "
Adinda bergegas menelfon ibunya
Setelah tersambung
" Assalamualaikum ayah , ini Dinda "
Adinda menempelkan telinganya di hp
*.....
" Ayah adinda di rumah sakit dengan.. "
Belum sempat adinda menjelaskan sudah terdengar keributan di balik telfon
*......
" Ayah.. ayah... Dengar Dinda , ayah "
Adinda sedikit berteriak
*.....
" AYAAAAH... Dengar Dinda dulu "
Adinda berteriak dengan suaranya yang kecil dan itu membuat Sbastian terkejut
*.....
" Dinda di sini dengan teman Dinda , Bella terluka jadi harus di bawa ke rumah sakit , hp Dinda di sekolah , dan Bella ngak bawa hp , apa ayah dan ibu bisa ke sini , Dinda khawatir dengan Bella "
Adinda kembali berbicara dengan tenang
*........
" Iya ayah , nanti Dinda ceritakan "
Adinda menelfon sambil memainkan jarinya
*.....
" Iya Dinda tutup dulu , assalamualaikum "
Dinda menyelesaikan telfonnya dan mengembalikan hp Sbastian
" Terimakasih "
Adinda sedikit tersenyum dan membuat Sbastian langsung memalingkan wajahnya ke pintu
" A..ada apa "
Adinda ikut melihat pintu juga
" Oh..itu... Ehem... Ayo kita lihat Bella "
Sbastian mengajak
" Iya "
Adinda berdiri
" Tunggu , aku mau bicara sebentar denganmu , nona adinda , bisakah kamu tunggu di luar sebentar "
Pak dokter menahan Sbastian
" Iya "
Adinda mengangguk dan keluar dari ruangan
" Kamu suka ya dengan dia "
Pak dokter menggoda Sbastian
" Hehehe paman tau aja "
Sbastian terkekeh
" Aku tuh udah jatuh cinta sama dia paman , apalagi aku ngak pernah liat dia lepas hijabnya , the best deh "
Sbastian mengacungkan jempolnya
" Dan rencananya setelah dia lulus , aku mau ngikat dia dengan pertunangan , terus kalau dia udah siap , nikah deh hahaaa "
Sbastian membayangkan hari hari dimana dia akan melamar adinda
" Apa kamu benar-benar mau melamar adinda "
Pak dokter memastikan
" Paman tau kan aku ini tidak pernah main-main dengan perkataanku "
Sbastian menarik turunkan alisnya
" Kamu yakin cintamu tidak akan hilang "
Pak dokter melipat tangannya di atas dada
" Aku suka sama dia sejak aku SMP kelas satu , aku kira itu cinta sesaat , tapi ternyata aku menyukainya sampai aku SMA kelas tiga , aku benar-benar akan melamarnya dan akan membuatnya bahagia , esok dan nanti di masa tua , aku buta dengannya paman "
Sbastian berbicara dengan percaya diri dan tersenyum bahagia
" Asal kamu tau "
Pak dokter tersenyum
" Apa "
Sbastian menatap pak dokter
" Nanti akan aku kirim sesuatu , susul adinda , jangan biarkan dia sendiri "
Pak dokter berdiri
" Lho.. kenapa sih "
Sbastian tidak mengerti
" Aku tidak mau merusak kebahagiaanmu , tapi memberitahukan sekarang itu lebih baik "
Pak dokter menuju meja kerjanya dan Sbastian berdiri
" Maksudnya paman "
Senyum Sbastian menghilang
" Apa kamu tau kangker sel darah putih "
Pak dokter menatap Sbastian
" Sbastian sudah belajar ilmu medis sejak SMP , bagaimana Sbastian tidak tau "
Sbastian mendekati pak dokter
" Hahaha sebaiknya bahagiakan adinda sebelum semuanya terlambat "
Pak dokter tersenyum
*Jeder
Seakan petir menyambar tubuh Sbastian , Sbastian diam terpaku , sorot matanya yang tajam menatap pak dokter dengan tidak percaya
" Maksud paman dia... "
Sbastian menoleh ke arah pintu
" Itu sudah stadium dua dan pengobatannya masih di lakukan sampai sekarang , satu bulan kemarin saja dia menginap di sini , dengar Sbastian , paman tidak mau merusak kebahagiaanmu , tapi... Lebih baik kamu tau jika rencananya sudah ke jenjang yang lebih jauh "
Pak dokter menyerahkan sebuah berkas
" Tidak mungkin "
Sbastian menatap pak dokter tidak percaya
" Tapi itu faktanya , paman sangat menyayangi adinda , adinda itu sudah seperti putri paman sendiri , jika kamu tidak mau menerima kondisi adinda yang seperti itu , sebaiknya kamu berhenti saja di sini "
Pak dokter membawa Sbastian keluar ruangan
" Nah... Jangan lupa minum obat ya sayang"
Pak dokter mengusap kepala adinda
" Iya paman "
Adinda tersenyum
" Anak pandai "
Pak dokter tersenyum
" A..Ayo adinda , kita lihat Bella "
Sbastian menunjukkan senyum yang terpaksa
" Iya "
Adinda berdiri dan menyalami pak dokter lalu mengikuti Sbastian yang sudah pergi terlebih dahulu menuju meja resepsionis
" Kenapa kak Sbastian jadi diam ya , apa se khawatir itu kak Sbastian dengan Bella "
Raut wajah kecewa adinda terukir dengan jelas
" tenang adinda , Bella itu temanmu "
Adinda membatin sambil menatap Sbastian kecewa
" Ayo adinda , kita ke ruangan Bella "
Sbastian membawa adinda ke Ruang rawat Bella yang berada di lantai dua di kamar anggrek
" Permisi "
Sbastian masuk terlebih dahulu baru adinda menyusul dari belakang
" Dokter "
Sbastian menyapa dokter wanita yang baru selesai dengan Bella dan mendengar penjelasan dokter
" My Bella "
Adinda cepat-cepat menghampiri Bella yang tersenyum kepadanya
" Maaf ya , ini karena aku '
Adinda memeluk lengan Bella
" Demi teman apa yang enggak hahaha "
Bella tidak menoleh karena lehernya memiliki sesuatu yang besar di gunakan untuk menahan agar lehernya tidak bergerak yang bahkan adinda tidak tau namanya itu
" Kata dokter lehermu patah , jadi kau tidak boleh banyak menoleh dulu agar cepat sembuh , dan juga tidak boleh melakukan hal-hal yang berat seperti latihan bela diri "
Sbastian seakan berbicara sendiri , pasalnya Bella sibuk menenangkan adinda yang mulai berkaca-kaca
" Dengar tidak "
Sbastian mencubit lengan Bella
" Iya iya denger , udah ah "
Bella tidak menghiraukan Sbastian dan lebih memperhatikan adinda
" Duduklah "
Sbastian memberikan kursi kepada adinda
" Makasih "
Adinda duduk dan meletakkan kepalanya di atas telapak tangan Bella
" Hei , dia sedang sakit "
Sbastian mengingatkan
__ADS_1
" Sudahlah , ini kebiasaanya jika punya rasa bersalah kepadaku , jangan khawatir , dia sangat ringan "
Bella menyingkirkan Sbastian dengan halus
" Cih kalian berdua sama saja "
Sbastian duduk di sofa dan membiarkan dua sahabat itu berbicara
Sbastian mengeluarkan hp nya dan menghubungi orang tua adinda dan John agar langsung ke kamar anggrek tempat Bella di rawat
Tidak lama pintu terbuka dan terlihat John masuk dan membawa tiga tas juga satu jas kantor berwarna hitam dan langsung menuju Sbastian yang sibuk bermain hp
" Ini jas mu , apa kau akan pergi ke kantor setelah ini "
John meletakkan tas mereka di samping Sbastian
" Aku akan mengundurnya , aku akan mengambil surat-suratku di kantor polisi "
Sbastian menjawab dengan malas
" Sudahlah "
John meninggalkan Sbastian dan menuju Bella yang sedang bercanda dengan adinda
" Hai bro "
John dan Bella melakukan tos
" Sakit ya "
John meledek
" Mau ku bunuh ya "
Bella memberikan bogem kepada John
" Emang bisa ble "
John meledek Bella
" John , biarin ah , dia lagi sakit "
Sbastian melerai
" Ble "
John dan Bella saling menjulurkan lidahnya mengejek
" Bella Deket ya sama kak John sama kak Sbastian "
Adinda heran melihat mereka bertiga terlihat dekat
" Cemburu ya "
Bella mengejek adinda
" Ngak kok apaan sih "
Adinda meletakkan kepalanya di samping Bella
" Pusing ya "
Bella mengelus kepala adinda hingga adinda terlelap dan Bella ikut memejamkan matanya , tidak lama setelah itu terdengar derap langkah kaki yang tergopoh-gopoh
*Cklek
Terdengar suara pintu terbuka
" Bella "
Suara seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan
" Tolong jangan ramai , mereka sedang tidur"
Sbastian menghentikan empat orang yang di kenal oleh Sbastian
" Tuan Sbastian "
Ayah adinda terkejut melihat Sbastian , rekan kerjanya ada di ruangan yang di sebutkan oleh putrinya
" Apa tuan Bram ini ayahnya adinda "
Sbastian bertanya
" Iya dan ini istri saya , mereka orang tua Bella "
Tuan Bram memperkenalkan mereka kepada Sbastian
" Tuan Sbastian "
Ayah Bella menjabat tangan Sbastian
" Anda mengenal tuan Sbastian "
Ayah adinda terkejut
" Tentu , beliau yang menolong perusahaan saya saat akan jatuh , bagaimana saya tidak mengingatnya "
Ayah Bella menjelaskan
" Mari kita duduk , saya akan menjelaskan kronologi kejadiannya "
Sbastian mengajak mereka duduk dan menjelaskan segala kronologi kejadian yang menimpa Bella
Flashback off
" Terus , apa yang terjadi sama yang mukul teman bunda "
Sean menatap Sbastian dengan tanda tanya
" Mereka di skors dari dan di keluarkan dari sekolahan , akhirnya bunda bisa sekolah dengan tenang tanpa gangguan bersama bibi Bella "
Sbastian mencolek hidung Sean
" Bisa ngak Sean ketemu bibi Bella "
Sean meminta
" Boleh , besok papa ada meeting dengan bibi Bella , apa Sean mau ikut "
Sbastian menawari
" Mau .... Tapiiii gimana kakak kembar , nanti mereka sendirian di rumah "
Sean menatap lion dan liona yang tidur dengan saling berhadapan dan tangan mereka yang saling tumpang tindih
" Kita ajak sekalian , gimana "
Sbastian memberikan pendapat
" Boleh , kita jalan jalan juga ya "
Sean meminta
" Iya.. sekarang kita tidur "
Sbastian membawa Sean tidur di belakang lion dan Sbastian memeluk Sean dengan sayang
Sbastian mencoba bernyanyi lagu pengantar tidur
" Papa fals suaranya "
Sean bergumam
Keesokan harinya , seperti biasa pada pukul lima pagi untuk sholat subuh , Sean akan menjadi alarm alami untuk Sbastian yang susah untuk bangun pagi
Setelah melaksanakan kewajiban , Sbastian meminta agar kedua adik kembarnya berpakaian yang rapih karena mereka berdua akan ikut Sbastian ke kantor sekalian
" Kakak "
Liona berjalan membawa handuk dengan satu set pakaian yang di bawa olehnya
" Napa dek "
Sbastian yang sedang membantu Sean memakaikan pakaiannya menoleh ke arah pintu kamar sebentar karena liona memanggil
" Apa boleh liona pakek baju kak Dinda , liona ngak punya baju panjang "
Liona menunjukkan gamis berwarna hitam putih
" Ada hijabnya di etalase kamar kakak , pilih saja "
Sbastian tidak menoleh dan terus mengurus Sean
" Makasih "
Liona bergegas pergi dan mandi
Setelah semuanya mandi dan sudah siap , Sbastian menuju ruang makan dan di sana sudah terlihat Sean dan lion yang sudah rapih
" Dimana lili "
Sbastian duduk dan memperhatikan sekitar
" Masih mandi tadi "
Lion menjawab
" Biasa cewek hahaha "
Sean tertawa dan di sambut oleh kekehan Sbastian juga tawa lion yang renyah membuat Sbastian dan Sean menutup mulutnya
" eh.. ahaha kenapa "
Lion menatap Sbastian dan Sean penasaran
" Ngak , baru liat aja kakak ketawa "
Sean mengedikkan bahunya
" Masa hahaha "
Lion tertawa
" Di mana kak cantik "
Sean menoleh ke kanan dan ke kiri
" Pulang tadi jam enam , katanya ada yang darurat "
Sbastian mengambil udang goreng dan memakannya
" Kakak "
Suara lirih liona memasuki pendengaran mereka
" Gimana baju kak Dinda , cantik kan kalo di pakek lili "
Liona berputar-putar menunjukkan gamis hitam putih dengan kerudungnya yang berwarna hitam polos dengan bordiran nama adinda di ujung hijab
*Deg
Jantung Sbastian berdetak kencang
Sbastian menatap liona tidak percaya , nafasnya tersengal-sengal , tubuhnya bergetar , matanya tidak melihat adik kecilnya , namun melihat adinda berdiri di depannya
" Adinda "
Kenangan lama muncul di dalam memori Sbastian
Flashback on
" Ini untuk adin mas "
Adinda bertanya dengan tidak percaya
" Iya "
Sbastian mengangguk
" Adin buka ya "
Adinda yang baru saja membuka kado ulang tahunnya berjingkrak senang karena Sbastian memberikan gamis yang terlihat sangat indah dan elegan , sesuai yang dia inginkan saat mereka berjalan jalan di mall
" Cantik apa ngak "
Sbastian bertanya
" Cantik mas , adin suka "
Adinda membolak-balik gamisnya dengan senyum lebarnya
" Di pakek dong "
Sbastian melepaskan jasnya dan meletakkannya di atas tempat tidur
" Iya , Adin coba "
Adinda melepaskan pakaiannya dan langsung memakai gamis barunya
" Cocok ngak mas "
Adinda berdiri di depan Sbastian yang bermain hp
" Cantiknya istriku , hijabnya cocok ngak "
Sbastian mengeluarkan hijab hitam dari kotak kado
" Lihat , mas berikan nama adinda juga di sini "
Sbastian menunjukkan ujung kerudung yang di bordil nama adinda dengan benang putih
" Cantiknya "
Adinda memutar mutar badannya sambil mengagumi kado pemberian Sbastian
" Kamu suka "
Sbastian bertanya
__ADS_1
" Sukaaaaa benget , makasih ya "
Adinda memeluk dan mencium pipi Sbastian
" Cantik ngak adin "
Adinda mendongak dan tersenyum manis
" Kamu sangat cantik "
Sbastian mengusap pipi adinda dan memeluk adinda erat
Flashback off
" Kakak kenapa "
Liona panik karena air mata Sbastian mulai menetes dan tubuh Sbastian yang gemetar , Pasalnya liona tidak pernah melihat Sbastian menangis ataupun bersedih , Sbastian akan selalu menunjukkan tawa cerianya di depan adik adiknya
Mungkin memori masa kecilnya sudah tersimpan secara rapih , Padahal dulu saat liona masih kecil , dia akan selalu menjadi pelarian Sbastian saat sedang ada masalah , Sbastian akan berbicara meski liona tidak mengerti apapun yang dia bicarakan
" Papa "
Sean menarik lengan Sbastian dan membuat Sbastian tersadar
" Kemarilah "
Sbastian melambaikan tangannya memanggil liona untuk mendekat
" Kamu sangat cantik "
Sbastian mengusap pipi liona dan memeluk liona , Sbastian menghirup dalam-dalam aroma parfum kesayangan adinda yang tidak hilang dari gamis yang paling di sayangi oleh adinda meski sudah bertahun tahun lamanya
" Aku mencintaimu adinda "
Sbastian meletakkan wajahnya di atas pundak liona dan memeluk liona erat
" Kakak rindu ya "
Liona membalas pelukan Sbastian dan mengusap usap punggung Sbastian
" Lili ganti aja ya bajunya , lili ngak suka liat kakak nangis "
Liona masih mengusap usap punggung Sbastian
" Jangan , biarkan kakak melepas rindu dengan kak Dinda , biarkan seperti ini "
Sbastian tersenyum
" Duduklah , makan sayang "
Sbastian mendudukkan liona dan membiarkan liona makan dengan tenang
" Kak lili cantik deh "
Sean memuji liona yang terlihat merasa bersalah
" Iya kamu cantik "
Lion ikut menghibur
" Kamu mirip sekali dengan adinda , bahkan postur tubuh kalian sama , nanti kakak belikan pakaian untuk kamu sepulang dari kantor , apa kamu mau "
Sbastian ikut menghibur liona
" Lili pakek baju lili aja , ngak usah beli lagi "
Liona menolak
" Ini hadiah dari kakak karena kamu mengobati rindu kakak kepada kak adinda , nah.. ini uang saku kalian hari ini "
Sbastian memberikan dua ratus ribu kepada liona dan lion
" Makasih "
Senyum cerah liona kembali
" Sean mana "
Sean mengajukan tangannya
" Satu aja , kamu masih kecil "
Sbastian memberikan uang dua puluh ribu
" Papa ngak adil ih "
Sean memakan nasinya dengan dongkol
" Hahahaha "
Sbastian tergelak dan mengusap kepala Sean
" Makan yang banyak , nanti papa akan sibuk di kantor "
Sbastian menambahkan lauk ke atas piring ketiga anaknya
Setelah sarapan , Sbastian berdiri dan di ikuti para anak buah kecilnya menuju teras depan rumah
" Ayah "
Sbastian memanggil pak Sam yang sedang duduk-duduk santai di teras rumah
" Lihat lili , dia mirip dengan adinda kan "
Sbastian memamerkan adik kecilnya
" Iya "
Pak Sam tersenyum
" Kemari lili "
Pak Sam memanggil lili untuk mendekat
" Iya kakek "
Lili mendekat
" Kamu cantik sekali saat memakai pakaian seperti ini , pertahankan ya "
Pak Sam mengusap kepala liona
" Iya kakek "
Liona memeluk pak Sam sebentar lalu pergi meninggalkan pak Sam
" Ayo masuk "
Sbastian membuka pintu mobil dan lion masuk di susul Sean dan terakhir liona
" Mari aji , kita berangkat "
Sbastian masuk ke dalam mobil
" Kita langsung ke kantor "
Sbastian memasang sabuk pengaman
" Pasang sabuk pengaman kalian "
Sbastian menoleh ke belakang
Setelah perjalanan yang di penuhi gelak tawa si kembar dan Sean , akhirnya mereka sampai di kantor Sbastian
" Ayo turun "
Sbastian turun sambil menatap layar ponselnya dan ketiga anak-anak itu mengikutinya dari belakang
" Selamat pagi tuan Sbastian "
Para staf kantor menyapa , tapi Sbastian terlalu sibuk untuk membalas sapaan dan hasilnya Sean lah yang menjawab sapaan para staf
Saat sampai di lift , asisten John datang menghampiri
" Kamu telat "
Sbastian menatap sinis asisten John
" Maaf tuan , tadi wafi rewel , saya benar-benar minta maaf "
Asisten John memberikan alasan
" Bunda kenapa lho "
Sean bertanya sambil berbisik
" Bunda sakit "
Asisten John menjawab sambil berbisik
" Nanti Sean jenguk "
Sean berbisik lagi
" Ok "
Asisten John menjawab bisikan Sean
" Ekhem "
Sbastian menghentikan bisikan-bisikan setan di belakangnya
" Kakak lili nanti main mainan Sean yang ada di kantor yuk "
Sean memulai pembicaraan dan si kembar mulai sibuk dengan Sean
* Ting
Pintu lift terbuka saat sudah sampai di lantai atas
" Papa ada meeting dengan bibi Bella , ada yang mau ikut "
Sbastian menawari
" Sean mau "
Sean mengangkat tangannya
" Leon juga ikut , Leon mau cepet-cepet belajar kantor biar bisa bantuin kakak di kantor "
Leon mengajukan diri
" Lili ikut aja "
Liona tersenyum
" Lili kalau capek bisa istirahat "
Sbastian menawari
" Lili ikut kakak aja "
Liona menolak
" Ruang meeting di depan , kalian jangan ramai ya "
Sbastian memperingatkan
" Ok "
Mereka semua mengacungkan jempol
Mereka semua berjalan memasuki ruangan meeting
" Maaf , saya terlambat "
Sbastian masuk dan semua orang berdiri
" Kesini lili "
Sbastian membiarkan liona duduk di kursinya
" Perhatikanlah "
Sbastian berdiri sampai kiri liona , Sean duduk di pangkuan liona dan lion berdiri di samping kanan liona
Meeting di lakukan secara cepat , Sean memasukkan ide idenya saat Sbastian memintanya untuk berbicara
" Apa ada lagi masukan masukan "
Sbastian bertanya dan lion menjawab
" Maaf , menurut saya , akan kurang akurat jika sepatu merk baru ini hanya di luncurkan di dalam negri , bagaimana jika di luar negri juga , meski resikonya besar karena ini prodak baru , namun bisa di coba dengan meluncurkan edisi terbatas dengan harga yang tinggi , menurut saya harga tinggi hanya golongan tinggi saja yang bisa membeli , namun dengan cara seperti itu kita bisa membuat sepatu ini terkenal , dan jika sudah seperti itu maka kita bisa menurunkan harganya dan mengeluarkan produk-produk baru yang kualitas dan harga tidak kalah tinggi dengan yang sebelumnya "
Lion memberi masukan
" Patut di coba "
Salah satu petinggi dari salah satu perusahaan besar yang bekerja sama dengan SL group menyukai pendapat lion
" Itu ide yang bagus , tapi apakah dana untuk itu semua ada "
Petinggi persero yang lain ikut memberi pendapat dan akhirnya semua orang mendiskusikan tentang perkataan lion , dan tidak lama setelah itu mereka semua sudah membuat keputusan yang akurat
" Kalau begitu ide anak muda ini di terima "
Tuan muzan , Petinggi perusahaan gada group mewakili yang lain dalam persetujuan pendapat lion
" Kita hanya butuh designer , dan mungkin kita bisa memadukan semua desain dari beberapa desainer sepatu kita "
Tuan Hans , petinggi dari perusahaan yuan group memberi pendapat
" Kami setuju "
Seluruh petinggi yang ikut hadir dalam rapat menyetujui hasil dari meeting yang memakan waktu sekitar setengah jam
" Kalau begitu kami kembali dulu , hari sudah semakin siang , kami pamit "
Satu persatu para manusia di sana menyalami Sbastian dan ketiga anak kecil yang di bawa oleh Sbastian satu persatu hingga tertinggal tiga orang petinggi dari Perusahaan perusahaan besar yang berkumpul di sana
__ADS_1
" Duduklah lion "
Sbastian menyuruh lion duduk dan Sbastian duduk di samping liona lalu ketiga petinggi itu duduk di depan mereka