Aku Pangeran

Aku Pangeran
#89 ( darah )


__ADS_3

Malam ini Sean meninabobokan Aniel di samping Sbastian


" Kak "


Aniel memanggil


" Hm.. "


Sean membuka matanya


" Pan papa nun , iel aen "


( Kapan papa bangun , Aniel kangen )


Aniel memeluk erat tangan kiri Sbastian


" Kan ada kakak , biar papa istirahat dulu "


Sean membelai rambut Aniel


" Iel nen papa "


( Aniel kangen papa )


Aniel semakin erat memeluk tangan Sbastian


" Iya , kakak ngerti.. kakak juga kangen sama papa "


Sean memeluk Aniel dan lengan Sbastian


Dua tahun kemudian


" Kamu ngapain Aniel "


Sean saat ini sudah menginjak bangku kelas tiga SD dan memulai pelajaran onlinenya agar bisa fokus merawat dan memberi perhatian untuk Aniel


" Iel tulis ini "


Kalimat Aniel mulai fasih sedikit sedikit , Aniel tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik dengan penutup mata dari kain putih yang selalu menghiasi wajahnya


" Kamu tulis apa hm.. "


Sean membawa Aniel ke atas pangkuannya


Aniel mulai di ajari huruf timbul untuk orang orang yang tidak bisa melihat


" Iel tulis papa , kakak sama iel "


Aniel meraba tulisannya


Sejak Diablo menebak identitas Sean , kini Diablo lebih menghormati Sean dan selalu berkunjung untuk meminta beberapa tanda tangan dan mendengar titah Sean


Rekan-rekan Diablo yang lain masih belum tau kebenarannya dan hanya Diablo tau cerita sebenarnya tentang Sean


Awalnya Diablo tidak percaya , namun Sean menunjukkan banyak bukti dan itu membuat Diablo mempercayai Sean sepenuhnya


" Tuan "


Mao memanggil


" Kenapa "


Sean menoleh


" Ada Rohit di bawah "


Rohit kini menjadi pimpinan dari tim elit dua yang baru saja di bentuk Sean sebulan yang lalu


" Apa melodi juga ikut "


Sean melepas headset Aniel


" Iya "


Mao mengangguk


" Napa "


Aniel terlihat tidak suka


" Ada melodi di bawah , apa Aniel tidak mau bermain dengan melodi "


Sean membuat Aniel tersenyum


" Mau "


Aniel mengangguk dengan antusias


" Ayo turun "


Sean menggendong Aniel dan menghampiri Sbastian


" Papa... Kami turun dulu "


Sean mencium kening Sbastian


Sean keluar dan menuruni tangga sambil menggendong Aniel di ikuti Mao


" Salam tuan "


Rohit membungkuk dan melodi membungkuk mengikuti Rohit


" Tidak perlu begitu kakak "


Sean mendekati Rohit dan menurunkan Aniel


" Hai Adik Linda "


Melodi menghampiri Aniel


" Hai kak lodi "


Aniel melambaikan tangannya ntah kemana


" Bagaimana kalau Aniel membawa kak melodi main di karpet abjad "


Sean membelai rambut Aniel


" Ayo kak "


Aniel mengajukan tangannya dan melodi menggandeng tangan Aniel


" Ke arah sana dengan hitungan sepuluh kaki dari tempatmu berdiri "


Sean memutar Aniel yang menunjukkan langkah yang harus Aniel tempuh


" Okey..satu..dua..tiga.. "


Aniel menghitung langkahnya hingga sepuluh kaki dan duduk di tengah-tengah karpet abjad khusus untuk Aniel bermain dan Mao datang membawa beberapa mainan Aniel


" Saya mempunyai sebuah laporan "


Rohit membuat Sean menoleh


" Kita duduk "


Sean mempersilahkan


" Ini yang saya dapatkan "


Rohit memberikan sebuah berkas


" Bibi , tolong siapkan minuman dan camilan ya , untuk adik adik juga "


Sean memesan kepada maid yang kebetulan sedang lewat


" Iya tuan "


Maid itu mengangguk


Sean membuka berkasnya dan membacanya dengan teliti


" Apa ini informasi yang akurat "


Sean menatap Rohit


" Iya tuan "


Rohit mengangguk


" Lakukan penyelidikan lebih lanjut "


Sean menutup berkasnya


" Sudah tugas saya "


Rohit mengangguk


" Selamat pagi tuan "


Diablo datang dengan membawa Matty


" Selamat pagi paman "


Sean tersenyum


" Ada apa gerangan pagi pagi begini paman dan bibi Matty kesini "


Sean langsung to the points


" Kami mendapat berkas ini pagi ini , jadi kami langsung kemari "


Diablo meletakkan kopernya di atas meja dan membukanya


" Ini berkas-berkas yang harus di tanda tangani pagi ini juga dan ini berkas yang harus anda baca seteliti mungkin "


Diablo mengeluarkan beberapa berkas dan bulpoin


" Paman dan bibi bisa menunggu.. silahkan duduk "


Sean mempersilahkan


" Ini minumannya tuan "


Seorang maid memberikan dua gelas jus kepada Sean


" Tolong dua lagi ya Bi "


Sean meminta


" Baik tuan "


Maid itu pergi


" Bulpoin nya habis nih "


Sean mencoret coret berkas penting di depannya


" Astaga tuan , ini berkas penting "


Diablo membatin


" Ini bulpoinnya tuan "


Rohit memberikan bulpoin baru


" Terimakasih "


Sean mencoba bulpoinnya di atas kertas yang dia pegang dan membuat Diablo membatin lagi


" ini berkas untuk lamaran kerja kan "


Sean belum menandatanganinya


" Eh... Sa..saya salah maaf tuan "


Diablo mengambil berkas yang Sean pegang dan memberikan berkas baru


" Huft... Untung salah huhu "


Diablo memberikan berkas lainnya dengan sampul berbeda


" Maaf tuan Diablo "


Matty membuat Diablo menoleh


" Mengapa berkas penting yang anda katakan harus di tanda tangani tuan besar malah anda berikan kepada tuan muda "


Matty mengerenyitkan keningnya


" Eh.... Gimana ya "


Diablo menggaruk kepalanya yang tidak gatal


" Ini salah bibi Matty , bibi bisa merevisinya lagi "


Sean mencoret beberapa kalimat di atas berkas dan membuat Diablo memelototkan matanya


" Maaf , tapi anda tidak boleh mencoret-coret berkas ini sembarangan "


Matty memegang pergelangan tangan Sean dan membuat Rohit dan Diablo melotot tidak percaya


" Kata bibi ini harus di tanda tangani tuan besar , aku sudah tanda tangani dan aku malah dilarang merevisi isi berkas "


Sean melepaskan genggaman Matty


" Maksud anda "


Matty mengerenyitkan keningnya


" Tuan , ada panggilan "


Mao datang membawa telpon Sean


" Makasih Mao "


Sean menerima telpon


" Saya permisi "


Sean berdiri dan berjalan menjauh


" Adek kenapa "


Terdengar suara melodi membuat Sean menoleh


" Hiks... Hiks... "


Terdengar Aniel sesenggukan dan membuat Sean panik


" Adek nangis kenapa "


Melodi memeluk Aniel dan mengelus rambut Aniel dengan lembut


" Ada apa "


Sean duduk di samping Aniel


" Ngak tau , tiba-tiba kain mata adek basah terus nangis "


Melodi membiarkan Sean mengambil alih Aniel


" Hei kenapa "


Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya dan menepuk-nepuk punggung Aniel


" Kamu apakan nona "


Rohit memegang pundak melodi


" Ngak tau kak , tadi melodi naruh naruh boneka di samping adek , terus adek nangis , melodi ngak tauuu.. hiks... Hiks.. "


Karena ketakutan melodi jadi ikut ikutan nangis


" Sudah kak Rohit , melodi ngak salah "


Sean menenangkan Rohit


" Papa "


Terdengar suara Aniel yang lirih


" Apa dek , kamu bilang apa "


Sean menajamkan pendengarannya


" Papa hiks... Papa "


Aniel memeluk Sean dengan erat


" Tuan , tuan Sbastian kejang-kejang "


Suara seseorang dari ujung tangga membuat Sean terkejut


Mao berlari menaiki tangga dan langsung menuju kamar Sbastian


" Apa yang terjadi "


Sean berlari naik sambil menggendong Aniel

__ADS_1


" Saat saya mendengar sesuatu dari kamar tuan , saya melihatnya dan tuan kejang kejang "


Pengawal itu menjawab


" Berhenti tuan , nona Mao bilang anda tidak boleh masuk "


Rudi dan Ramlan menghentikan langkah Sean


" Huft... Tenang Sean papa baik , papa ngak mungkin ninggalin kamu... Tenang Sean tenang "


Sean menggumam dan menenangkan dirinya sendiri


Sean berdiri di depan pintu sambil mengelus punggung Aniel hingga Aniel tertidur dan menyisakan sedikit sesenggukan


*Piiiiiip


Terdengar suara yang nyaring dari dalam kamar


" Tenang Sean tenang.... Papa itu kuat.. papa ngak akan ninggalin kamu Sean.. tenang Sean ada Aniel.. jangan panik Sean.. jangan panik "


Sean membelai rambut Aniel untuk menenangkan diri


Selama satu jam Sean mondar mandir tanpa menurunkan Aniel , hatinya berusaha untuk tenang dan membaca doa apapun yang dia ingat


*Ckelek


Pintu terbuka


" Bagaimana Mao "


Sean menyambut Mao


" Tuan sudah stabil , anda bisa tenang "


Mao mengelus rambut Sean


"Tuan "


Mao terkejut saat Sean tiba-tiba terjatuh


" Ambil nona muda "


Mao memerintahkan dan Rudi mengambil alih Aniel dari Sean


" Tuan kenapa "


Ramlan membantu Mao membawa Sean ke dalam kamar rawat


" Tuan kelelahan , sejak kemarin malam tuan belum makan apapun , dan sekarang tuan mendapat berita seperti tadi , itu cukup membuat tuan terkejut "


Mao menjelaskan


" Letakkan nona Aniel di sini "


Mao menepuk tempat di sebelah Sean


Mao duduk dan menunggu Sean untuk bangun dari pingsannya hingga siang menjelang


" Mao "


Sean memanggil


" Tuan anda sudah sadar "


Mao menghampiri Sean


" Aku pingsan ya "


Sean memegangi kepalanya


" Iya , dan tuan harus makan sekarang "


Mao mengambil bubur yang sudah di siapkan di atas nakas


" Kenapa Aniel "


Sean membelai Aniel yang tertidur di dalam pelukannya


" Nona menunggu anda sadar hingga tertidur kembali "


Mao mengambil kursi dan duduk di samping Sean


" Tuan makan dulu , jika tidak nanti tuan jatuh sakit juga "


Mao mulai menyuapi Sean perlahan hingga tak menyisakan bubur di dalam mangkuk


Setelah makan


" Nona "


Rudi masuk ke dalam kamar


" Kenapa paman "


Mao berdiri


" Tuan besar Sam hendak bertemu dengan tuan Sean , beliau memaksa masuk di ujung lorong lift "


Rudi memberitahu


" Biarkan kakek masuk kemari paman "


Sean mendudukan dirinya


" Tapi tuan "


Mao terlihat khawatir


" Sudah dua tahun lebih kakek tidak bertemu dengan papa , biar kakek lihat papa "


Sean menyingkirkan Aniel dari tangannya


" Cucuku "


Terlihat kakek Sam berlari dan memeluk Sean


" Kamu ngak papa kan "


Pak Sam mencium kening Sean


" Sean baik kek "


Sean tersenyum


" Kakek dengar kamu pingsan "


Pak Sam memeluk Sean dengan erat


" Sean cuma kecapean kek "


Sean membalas pelukan pak Sam


" Kakek tidak mau bertemu papa "


Sean menunjuk Sbastian yang berbaring dengan mata yang masih tertutup


" Anakku "


Pak Sam berdiri dan berjalan mendekati Sbastian


" Kapan kamu sadar nak "


Pak Sam embelai pipi Sbastian dengan lembut


" Kasihan anak anakmu "


Pak Sam menggenggam tangan Sbastian


" Ayah merindukanmu , cepat sadar anakku"


Pak Sam mencium kening Sbastian


*Grep


Mao menangkap tubuh pak Sam yang tiba-tiba terjatuh


" Mari kembali tuan "


Mao di bantu Rudi dan luga membawa pak Sam kembali ke kamarnya sendiri di lantai dua


Esok hari pukul 03.00 pagi


" Siapa kalian "


Sean menginterogasi beberapa orang yang tertangkap hendak melarikan diri


Rudi melepaskan sumpanlan mulut salah satu dari mereka


" Anak kecil sepertimu mau mengancam kami heh.. cuih "


Penjahat itu meludah di atas kaki Sean


....... Hening .....


" Iyuuuuh tidaaaak... Yiak jijik jijik.. minggir minggir ini menjijikkan "


Sean melepaskan sendalnya dan berjalan dengan terpincang-pincang menuju air mancur yang tidak jauh dan membasuh kakinya di sana


" Beraninya kau menghina tuanku "


Mao memukul kepala si penyusup dengan kencang hingga dia terpental menabrak pohon mangga di sana


" Kenapa ludahnya tidak hilang yiak jijik jijik"


Sean mengusap kakinya dengan rumput dan menyiram kakinya dengan air berkali-kali


" Ini tisu tuan "


Seorang penjaga memberikan Sean tisu


" Makasih paman "


Sean langsung mengusap ludah itu dan menyiram kakinya berkali-kali hingga ludah di kakinya benar-benar hilang


" Bagaimana saya bisa menghukum orang-orang ini tuan "


Mao berdiri di samping Sean yang masih sibuk dengan kakinya


" Apanya Mao , di sini masih pagi dan jangan membangunkan Aniel "


Sean melirik Mao


" Saya mengerti tuan "


Mao berlalu mendekati Rohit yang kebetulan ada di sana sejak kemarin


"........"


Mao membisikkan sesuatu kepada Rohit


" Saya permisi "


Rohit membungkuk dan menyeret orang-orang itu pergi


" Tunggu "


Rudi mengentikan


" Sumpal dulu mulutnya , dia banyak berbicara "


Rudi mengikat mata dan membungkam mulut orang yang sudah meludahi Sean


" Makasih paman "


Rohit kembali menyeret orang-orang itu di bantu beberapa pimpinan pasukan elit tuan Coce


" Tuan.. nona Aniel terbangun dan menangis mencari anda "


Salah satu maid memberitahu


" Sejak kapan "


Sean melepaskan sendalnya yang satu lagi dan berjalan tanpa alas kaki menuju pintu utama


" Baru saja "


Maid itu memberitahu


" Ini masih malam , kalian istirahatlah "


Sean memerintahkan kepada para maid yang berdiri di pintu utama


" Baik tuan "


Mereka semua membungkuk dan bubar saat Sean menaiki tangga


Di kamar Aniel


" Hiks... Kakaaaak.... Iel akuuut olong iel kak"


( Hiks.. kakaaaak... Aniel takuuut tolong Aniel kak )


Aniel terlihat terduduk di lantai sambil memeluk lututnya dan menangis sesenggukan


" Nona berteriak dan tidak mengizinkan saya memegangnya saat nona tau anda tidak di sini "


Key yang sedari tadi mencoba menenangkan Aniel menjelaskan kronologisnya


Key.. pengasuh baru Aniel yang di bawa oleh Mao , dia adalah adik sepupu Mao dari garis ayahnya , kata Mao dia paling suka dengan anak-anak dan key baru datang kemarin malam setelah Sean makan malam dengan Aniel


"Maaf ya merepotkan kak key "


Sean memeluk Aniel


" Tidak tuan "


Key menggeleng


" Kakak di sini "


Sean membawa Aniel ke dalam pelukannya


" Iel akut... Hiks.. kakak di mana..hiks.."


( Aniel takut... Hiks.. kakak dari mana.. hiks..)


Aniel memeluk Sean dengan erat


" Apa Aniel mau ke papa , kita tidur sama papa "


Sean mengusap keringat Aniel dengan lengan bajunya


" Iya "


Aniel mengangguk


Sean membawa Aniel ke kamar rawat Sbastian dan meninabobokan Aniel di samping Sbastian


" Berkas masih banyak , jangan tidur Sean "


Sean menggumam dan kembali ke kamarnya setelah Aniel tertidur untuk mengerjakan beberapa berkas tersisa


" Tuan "


Mao memanggil


" Kenapa Mao "


Sean menoleh


" Ini sudah hampir jam lima , setidaknya istirahat sebentar "


Mao menghampiri Sean


" Semua sudah selesai Mao , aku akan istirahat "


Sean mengerjakan tugas wajibnya dan merebahkan badan di atas tempat tidurnya


Pukul 07.00


" Kakak... Kakak "


Terdengar suara Aniel di dekat telinga Sean


" Hm... "


Sean membuka matanya dan terlihat Aniel berdiri di samping di dampingi oleh key


" Aniel... Astagaaaaa kakak ketiduran "


Sean terkejut dan terduduk lalu membawa Aniel ke dalam pangkuannya


" Kamu belum makan "


Sean menggosok matanya


" Belum "


Aniel menggeleng

__ADS_1


" Nona Tidak mau makan , nona bilang mau menunggu anda hingga anda bangun "


Key menjelaskan


" Kakak alin iel agi "


( Kakak tinggalin Aniel lagi )


Aniel terlihat murung dan bersedih


" Maaf ya , kakak ketiduran "


Sean memeluk Aniel


" Iya "


Aniel mengangguk


" Apa kamu mimpi buruk lagi "


Sean membelai rambut Aniel


" Iya "


Aniel akhir akhir ini sering sekali bermimpi buruk saat Sean pergi dari sampingnya saat dia tertidur


" Kakak minta maaf ya , kakak selesaikan tugas kakak tadi "


Sean berdiri dan mendudukkan Aniel di atas tempat tidurnya


" Kakak au emana "


( Kakak mau kemana )


Aniel bertanya saat merasakan tangan Sean pergi menjauh


" Kakak mau mandi , bisakah Aniel di sini menunggu kakak "


Sean mengganti posisi duduk Aniel


" Iya "


Aniel mengangguk


" Gadis pintar "


Sean mencium kening Aniel


" Hehe "


Aniel terkekeh dan memegangi keningnya


" Tayang kakak "


( Sayang kakak )


Aniel memeluk Sean


" Kakak juga tayang ma adek kecil imut unyu ini "


Sean mencubit pipi Aniel


Sean pergi mandi dengan cepat dan sesegera mungkin mengganti pakaiannya agar Aniel tidak menunggu terlalu lama


" Kakak "


Aniel memanggil saat merasakan sebuah tangan menyentuh kepalanya


" Kakaaaak "


Aniel berteriak karena mengira Sean menggodanya


" Kakak kakaaaak "


Aniel berteriak geram saat merasakan sebuah tangan ada di lehernya


" Kakak "


Aniel merasakan ada air yang muncrat di wajahnya


" Maaf maaf , kakak hanya bercanda "


Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya dan mengusap air di wajah Aniel


" Kakak jan belcanda lha , iel akut ni "


( Kakak jangan bercanda lha , Aniel takut ni)


Aniel memeluk Sean


" Baju kamu kotor kena apa "


Sean memperhatikan noda di pakaian kuning Aniel


" Iel gak mana mana "


( Aniel ngak kemana mana )


Aniel menggeleng


" Kita ganti baju dulu deh "


Sean membawa Aniel keluar kamar dan membuat para prajurit terkejut


" Bersihkan darah yang ada di dalam , obati key lukanya sangat parah dan aku sudah memberi pertolongan pertama "


Sean membawa Aniel masuk ke dalam kamar Aniel sendiri


" Baik tuan "


Mao mengangguk


" Kita pakek baju apa ya "


Sean menurunkan Aniel di depan lemari


" Kek utih aja "


( Pakek putih aja )


Aniel meminta


" Oke "


Sean mengambil satu set jubah putih dan kain penutup matanya


" Ayo ganti baju "


Sean menggendong Aniel masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh wajah Aniel


" Tuan "


Mao masuk ke dalam kamar mandi


" Buang ini "


Sean memberikan dress kuning Aniel


" Apa yang uang "


( Apa yang di buang )


Aniel terlihat penasaran


" Penutup mata Aniel udah rusak , jadi di buang dan kakak ganti yang baru "


Sean memberi kebohongan


" Ohhhh okey "


Aniel terlihat lebih cantik saat Sean memakaikan set gamis putih dengan kerudung merah yang di ramaikan dengan manik-manik dan pita merah di bajunya


" Ayo kita turun dan makan "


Sean mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di bawa Mao dan membawa Aniel turun ke lantai dasar


" Kak "


Aniel menepuk pundak Sean


" Apa "


Sean masuk ke dalam lift


" Pa walna tutup mata iel "


( Apa warna penutup mata Aniel )


Aniel meraba wajahnya


" Warnanya merah , kayak pita kamu yang besar ini "


Sean menuntun tangan Aniel menyentuh pitanya yang bertengger di punggung


" Oooohhhh iel uka mela haha "


( Oooohhhh Aniel suka merah haha )


Aniel tertawa


" Pagi bibi Aini "


Sean menyapa


" Agi bi ni "


( Pagi bibi Aini )


Aniel ikut menyapa


" Selamat pagi anak anak kecil imut unyu lucu tersayang "


Dengan antusias bi Aini memeluk Aniel dan Sean lalu mencium pipi mereka berdua bergantian


" Apa kakek masih sakit bi "


Sean meletakkan Aniel di atas kursi


" Sudah lebih baik tuan "


Bi Aini menjawab


" Saya dengar ada penyusup tadi pagi "


Bi Aini bertanya


" Iya bi , apa bibi tidak tau "


Sean menaikkan alisnya


" Tidak , tadi bibi ketiduran jadi ngak tau hehehe "


Bi Aini menyiapkan makanan Aniel dan Sean


" Makasih bi "


Sean berterimakasih


" Aci bi "


( Makasih bi )


Aniel mengikuti kalimat Sean


" Sama sama sayang aduuuuh imutnya "


Bi Aini gemas melihat pipi Aniel yang naik turun saat memakan suapan demi suapan dari Sean


Setelah sarapan pagi


" Kakak pain "


( Kakak ngapain )


Aniel yang duduk di pangkuan Sean mulai bosan


" Kakak mengerjakan tugas "


Sean memang sedang membolak-balik halaman berkas yang bertumpuk-tumpuk di ruang kerjanya


" Huuuuhh iel osan "


( Huuuuhh Aniel bosan )


Aniel menghembuskan nafas panjang


"Emang adek mau main apa , nanti kakak temani "


Sean berbicara namun matanya dan tangannya tidak lepas dari berkas di depannya


" Mau sama papa "


Aniel membuat Sean berhenti


" Baiklah , kita ke papa "


Sean turun dan membawa Aniel ke dalam gendongannya


" Papa pain ya "


( Papa ngapain ya )


Aniel meletakkan telunjuknya di atas dagu


" Papa lagi istirahat "


Sean masuk ke dalam kamar rawat Sbastian


" Papa.. Aniel dan Sean datang "


Sean mendudukkan Aniel di samping Sbastian dan mencium kening Sbastian


*Cup


Dua tahun berlalu...


Rutinitas Sean saat ini adalah membawa Aniel ke dalam kamar Sbastian setiap usai sarapan dan membacakan banyak doa agar Sbastian cepat sadar dari komanya


" Kakak "


Aniel memanggil


" Iya "


Sean yang masih belum memotong rambutnya mengikat rambut panjangnya agar tidak menganggu


" Kapan papa bangun "


Aniel merebahkan tubuhnya di antara lengan dan tubuh Sbastian dengan hati-hati di bantu key


" kakak ngak tau "


Sean berdiri dan saat ini Sean mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk Sbastian, Mao bilang Sbastian akan sadar tidak lama lagi , namun sampai sekarang Sbastian tidak kunjung sadar


" Kakak lagi apa "


Aniel memeluk lengan Sbastian


" Kakak lagi lemasin otot papa biar ngak kaku pas papa bangun nanti "


Sean dengan penuh kasih sayang melakukan pelemasan otot menggunakan mesin khusus sesuai arahan Yuka di luar sana


" Oh....Kapan ya Aniel bisa liat papa lagi "


Aniel mencium pipi lengan Sbastian yang terdapat juntaian selang yang di aliri nutrisi makanan cair untuk Sbastian


*Deg


Sean berhenti sesaat


" Bersabarlah Aniel , kamu akan bisa lihat papa tahun depan "


Sean membuat Aniel tersenyum lebar


" Kakak ngak bohong "


Aniel menatap lurus ke depan


" Kalau tahun depan operasinya bisa di lakukan ya bisa-bisa saja "


Sean tersenyum


" Yes... Nanti aku bisa liat papa sama kakak lagi "


Aniel memeluk lengan Sbastian dengan perasaan gembira yang tiada tara


" Berdoa saja ya "


Sean tersenyum

__ADS_1


__ADS_2