
Malam ini Sean meninabobokan Aniel di samping Sbastian
" Kak "
Aniel memanggil
" Hm.. "
Sean membuka matanya
" Pan papa nun , iel aen "
( Kapan papa bangun , Aniel kangen )
Aniel memeluk erat tangan kiri Sbastian
" Kan ada kakak , biar papa istirahat dulu "
Sean membelai rambut Aniel
" Iel nen papa "
( Aniel kangen papa )
Aniel semakin erat memeluk tangan Sbastian
" Iya , kakak ngerti.. kakak juga kangen sama papa "
Sean memeluk Aniel dan lengan Sbastian
Dua tahun kemudian
" Kamu ngapain Aniel "
Sean saat ini sudah menginjak bangku kelas tiga SD dan memulai pelajaran onlinenya agar bisa fokus merawat dan memberi perhatian untuk Aniel
" Iel tulis ini "
Kalimat Aniel mulai fasih sedikit sedikit , Aniel tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik dengan penutup mata dari kain putih yang selalu menghiasi wajahnya
" Kamu tulis apa hm.. "
Sean membawa Aniel ke atas pangkuannya
Aniel mulai di ajari huruf timbul untuk orang orang yang tidak bisa melihat
" Iel tulis papa , kakak sama iel "
Aniel meraba tulisannya
Sejak Diablo menebak identitas Sean , kini Diablo lebih menghormati Sean dan selalu berkunjung untuk meminta beberapa tanda tangan dan mendengar titah Sean
Rekan-rekan Diablo yang lain masih belum tau kebenarannya dan hanya Diablo tau cerita sebenarnya tentang Sean
Awalnya Diablo tidak percaya , namun Sean menunjukkan banyak bukti dan itu membuat Diablo mempercayai Sean sepenuhnya
" Tuan "
Mao memanggil
" Kenapa "
Sean menoleh
" Ada Rohit di bawah "
Rohit kini menjadi pimpinan dari tim elit dua yang baru saja di bentuk Sean sebulan yang lalu
" Apa melodi juga ikut "
Sean melepas headset Aniel
" Iya "
Mao mengangguk
" Napa "
Aniel terlihat tidak suka
" Ada melodi di bawah , apa Aniel tidak mau bermain dengan melodi "
Sean membuat Aniel tersenyum
" Mau "
Aniel mengangguk dengan antusias
" Ayo turun "
Sean menggendong Aniel dan menghampiri Sbastian
" Papa... Kami turun dulu "
Sean mencium kening Sbastian
Sean keluar dan menuruni tangga sambil menggendong Aniel di ikuti Mao
" Salam tuan "
Rohit membungkuk dan melodi membungkuk mengikuti Rohit
" Tidak perlu begitu kakak "
Sean mendekati Rohit dan menurunkan Aniel
" Hai Adik Linda "
Melodi menghampiri Aniel
" Hai kak lodi "
Aniel melambaikan tangannya ntah kemana
" Bagaimana kalau Aniel membawa kak melodi main di karpet abjad "
Sean membelai rambut Aniel
" Ayo kak "
Aniel mengajukan tangannya dan melodi menggandeng tangan Aniel
" Ke arah sana dengan hitungan sepuluh kaki dari tempatmu berdiri "
Sean memutar Aniel yang menunjukkan langkah yang harus Aniel tempuh
" Okey..satu..dua..tiga.. "
Aniel menghitung langkahnya hingga sepuluh kaki dan duduk di tengah-tengah karpet abjad khusus untuk Aniel bermain dan Mao datang membawa beberapa mainan Aniel
" Saya mempunyai sebuah laporan "
Rohit membuat Sean menoleh
" Kita duduk "
Sean mempersilahkan
" Ini yang saya dapatkan "
Rohit memberikan sebuah berkas
" Bibi , tolong siapkan minuman dan camilan ya , untuk adik adik juga "
Sean memesan kepada maid yang kebetulan sedang lewat
" Iya tuan "
Maid itu mengangguk
Sean membuka berkasnya dan membacanya dengan teliti
" Apa ini informasi yang akurat "
Sean menatap Rohit
" Iya tuan "
Rohit mengangguk
" Lakukan penyelidikan lebih lanjut "
Sean menutup berkasnya
" Sudah tugas saya "
Rohit mengangguk
" Selamat pagi tuan "
Diablo datang dengan membawa Matty
" Selamat pagi paman "
Sean tersenyum
" Ada apa gerangan pagi pagi begini paman dan bibi Matty kesini "
Sean langsung to the points
" Kami mendapat berkas ini pagi ini , jadi kami langsung kemari "
Diablo meletakkan kopernya di atas meja dan membukanya
" Ini berkas-berkas yang harus di tanda tangani pagi ini juga dan ini berkas yang harus anda baca seteliti mungkin "
Diablo mengeluarkan beberapa berkas dan bulpoin
" Paman dan bibi bisa menunggu.. silahkan duduk "
Sean mempersilahkan
" Ini minumannya tuan "
Seorang maid memberikan dua gelas jus kepada Sean
" Tolong dua lagi ya Bi "
Sean meminta
" Baik tuan "
Maid itu pergi
" Bulpoin nya habis nih "
Sean mencoret coret berkas penting di depannya
" Astaga tuan , ini berkas penting "
Diablo membatin
" Ini bulpoinnya tuan "
Rohit memberikan bulpoin baru
" Terimakasih "
Sean mencoba bulpoinnya di atas kertas yang dia pegang dan membuat Diablo membatin lagi
" ini berkas untuk lamaran kerja kan "
Sean belum menandatanganinya
" Eh... Sa..saya salah maaf tuan "
Diablo mengambil berkas yang Sean pegang dan memberikan berkas baru
" Huft... Untung salah huhu "
Diablo memberikan berkas lainnya dengan sampul berbeda
" Maaf tuan Diablo "
Matty membuat Diablo menoleh
" Mengapa berkas penting yang anda katakan harus di tanda tangani tuan besar malah anda berikan kepada tuan muda "
Matty mengerenyitkan keningnya
" Eh.... Gimana ya "
Diablo menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Ini salah bibi Matty , bibi bisa merevisinya lagi "
Sean mencoret beberapa kalimat di atas berkas dan membuat Diablo memelototkan matanya
" Maaf , tapi anda tidak boleh mencoret-coret berkas ini sembarangan "
Matty memegang pergelangan tangan Sean dan membuat Rohit dan Diablo melotot tidak percaya
" Kata bibi ini harus di tanda tangani tuan besar , aku sudah tanda tangani dan aku malah dilarang merevisi isi berkas "
Sean melepaskan genggaman Matty
" Maksud anda "
Matty mengerenyitkan keningnya
" Tuan , ada panggilan "
Mao datang membawa telpon Sean
" Makasih Mao "
Sean menerima telpon
" Saya permisi "
Sean berdiri dan berjalan menjauh
" Adek kenapa "
Terdengar suara melodi membuat Sean menoleh
" Hiks... Hiks... "
Terdengar Aniel sesenggukan dan membuat Sean panik
" Adek nangis kenapa "
Melodi memeluk Aniel dan mengelus rambut Aniel dengan lembut
" Ada apa "
Sean duduk di samping Aniel
" Ngak tau , tiba-tiba kain mata adek basah terus nangis "
Melodi membiarkan Sean mengambil alih Aniel
" Hei kenapa "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya dan menepuk-nepuk punggung Aniel
" Kamu apakan nona "
Rohit memegang pundak melodi
" Ngak tau kak , tadi melodi naruh naruh boneka di samping adek , terus adek nangis , melodi ngak tauuu.. hiks... Hiks.. "
Karena ketakutan melodi jadi ikut ikutan nangis
" Sudah kak Rohit , melodi ngak salah "
Sean menenangkan Rohit
" Papa "
Terdengar suara Aniel yang lirih
" Apa dek , kamu bilang apa "
Sean menajamkan pendengarannya
" Papa hiks... Papa "
Aniel memeluk Sean dengan erat
" Tuan , tuan Sbastian kejang-kejang "
Suara seseorang dari ujung tangga membuat Sean terkejut
Mao berlari menaiki tangga dan langsung menuju kamar Sbastian
" Apa yang terjadi "
Sean berlari naik sambil menggendong Aniel
__ADS_1
" Saat saya mendengar sesuatu dari kamar tuan , saya melihatnya dan tuan kejang kejang "
Pengawal itu menjawab
" Berhenti tuan , nona Mao bilang anda tidak boleh masuk "
Rudi dan Ramlan menghentikan langkah Sean
" Huft... Tenang Sean papa baik , papa ngak mungkin ninggalin kamu... Tenang Sean tenang "
Sean menggumam dan menenangkan dirinya sendiri
Sean berdiri di depan pintu sambil mengelus punggung Aniel hingga Aniel tertidur dan menyisakan sedikit sesenggukan
*Piiiiiip
Terdengar suara yang nyaring dari dalam kamar
" Tenang Sean tenang.... Papa itu kuat.. papa ngak akan ninggalin kamu Sean.. tenang Sean ada Aniel.. jangan panik Sean.. jangan panik "
Sean membelai rambut Aniel untuk menenangkan diri
Selama satu jam Sean mondar mandir tanpa menurunkan Aniel , hatinya berusaha untuk tenang dan membaca doa apapun yang dia ingat
*Ckelek
Pintu terbuka
" Bagaimana Mao "
Sean menyambut Mao
" Tuan sudah stabil , anda bisa tenang "
Mao mengelus rambut Sean
"Tuan "
Mao terkejut saat Sean tiba-tiba terjatuh
" Ambil nona muda "
Mao memerintahkan dan Rudi mengambil alih Aniel dari Sean
" Tuan kenapa "
Ramlan membantu Mao membawa Sean ke dalam kamar rawat
" Tuan kelelahan , sejak kemarin malam tuan belum makan apapun , dan sekarang tuan mendapat berita seperti tadi , itu cukup membuat tuan terkejut "
Mao menjelaskan
" Letakkan nona Aniel di sini "
Mao menepuk tempat di sebelah Sean
Mao duduk dan menunggu Sean untuk bangun dari pingsannya hingga siang menjelang
" Mao "
Sean memanggil
" Tuan anda sudah sadar "
Mao menghampiri Sean
" Aku pingsan ya "
Sean memegangi kepalanya
" Iya , dan tuan harus makan sekarang "
Mao mengambil bubur yang sudah di siapkan di atas nakas
" Kenapa Aniel "
Sean membelai Aniel yang tertidur di dalam pelukannya
" Nona menunggu anda sadar hingga tertidur kembali "
Mao mengambil kursi dan duduk di samping Sean
" Tuan makan dulu , jika tidak nanti tuan jatuh sakit juga "
Mao mulai menyuapi Sean perlahan hingga tak menyisakan bubur di dalam mangkuk
Setelah makan
" Nona "
Rudi masuk ke dalam kamar
" Kenapa paman "
Mao berdiri
" Tuan besar Sam hendak bertemu dengan tuan Sean , beliau memaksa masuk di ujung lorong lift "
Rudi memberitahu
" Biarkan kakek masuk kemari paman "
Sean mendudukan dirinya
" Tapi tuan "
Mao terlihat khawatir
" Sudah dua tahun lebih kakek tidak bertemu dengan papa , biar kakek lihat papa "
Sean menyingkirkan Aniel dari tangannya
" Cucuku "
Terlihat kakek Sam berlari dan memeluk Sean
" Kamu ngak papa kan "
Pak Sam mencium kening Sean
" Sean baik kek "
Sean tersenyum
" Kakek dengar kamu pingsan "
Pak Sam memeluk Sean dengan erat
" Sean cuma kecapean kek "
Sean membalas pelukan pak Sam
" Kakek tidak mau bertemu papa "
Sean menunjuk Sbastian yang berbaring dengan mata yang masih tertutup
" Anakku "
Pak Sam berdiri dan berjalan mendekati Sbastian
" Kapan kamu sadar nak "
Pak Sam embelai pipi Sbastian dengan lembut
" Kasihan anak anakmu "
Pak Sam menggenggam tangan Sbastian
" Ayah merindukanmu , cepat sadar anakku"
Pak Sam mencium kening Sbastian
*Grep
Mao menangkap tubuh pak Sam yang tiba-tiba terjatuh
" Mari kembali tuan "
Mao di bantu Rudi dan luga membawa pak Sam kembali ke kamarnya sendiri di lantai dua
Esok hari pukul 03.00 pagi
" Siapa kalian "
Sean menginterogasi beberapa orang yang tertangkap hendak melarikan diri
Rudi melepaskan sumpanlan mulut salah satu dari mereka
" Anak kecil sepertimu mau mengancam kami heh.. cuih "
Penjahat itu meludah di atas kaki Sean
....... Hening .....
" Iyuuuuh tidaaaak... Yiak jijik jijik.. minggir minggir ini menjijikkan "
Sean melepaskan sendalnya dan berjalan dengan terpincang-pincang menuju air mancur yang tidak jauh dan membasuh kakinya di sana
" Beraninya kau menghina tuanku "
Mao memukul kepala si penyusup dengan kencang hingga dia terpental menabrak pohon mangga di sana
" Kenapa ludahnya tidak hilang yiak jijik jijik"
Sean mengusap kakinya dengan rumput dan menyiram kakinya dengan air berkali-kali
" Ini tisu tuan "
Seorang penjaga memberikan Sean tisu
" Makasih paman "
Sean langsung mengusap ludah itu dan menyiram kakinya berkali-kali hingga ludah di kakinya benar-benar hilang
" Bagaimana saya bisa menghukum orang-orang ini tuan "
Mao berdiri di samping Sean yang masih sibuk dengan kakinya
" Apanya Mao , di sini masih pagi dan jangan membangunkan Aniel "
Sean melirik Mao
" Saya mengerti tuan "
Mao berlalu mendekati Rohit yang kebetulan ada di sana sejak kemarin
"........"
Mao membisikkan sesuatu kepada Rohit
" Saya permisi "
Rohit membungkuk dan menyeret orang-orang itu pergi
" Tunggu "
Rudi mengentikan
" Sumpal dulu mulutnya , dia banyak berbicara "
Rudi mengikat mata dan membungkam mulut orang yang sudah meludahi Sean
" Makasih paman "
Rohit kembali menyeret orang-orang itu di bantu beberapa pimpinan pasukan elit tuan Coce
" Tuan.. nona Aniel terbangun dan menangis mencari anda "
Salah satu maid memberitahu
" Sejak kapan "
Sean melepaskan sendalnya yang satu lagi dan berjalan tanpa alas kaki menuju pintu utama
" Baru saja "
Maid itu memberitahu
" Ini masih malam , kalian istirahatlah "
Sean memerintahkan kepada para maid yang berdiri di pintu utama
" Baik tuan "
Mereka semua membungkuk dan bubar saat Sean menaiki tangga
Di kamar Aniel
" Hiks... Kakaaaak.... Iel akuuut olong iel kak"
( Hiks.. kakaaaak... Aniel takuuut tolong Aniel kak )
Aniel terlihat terduduk di lantai sambil memeluk lututnya dan menangis sesenggukan
" Nona berteriak dan tidak mengizinkan saya memegangnya saat nona tau anda tidak di sini "
Key yang sedari tadi mencoba menenangkan Aniel menjelaskan kronologisnya
Key.. pengasuh baru Aniel yang di bawa oleh Mao , dia adalah adik sepupu Mao dari garis ayahnya , kata Mao dia paling suka dengan anak-anak dan key baru datang kemarin malam setelah Sean makan malam dengan Aniel
"Maaf ya merepotkan kak key "
Sean memeluk Aniel
" Tidak tuan "
Key menggeleng
" Kakak di sini "
Sean membawa Aniel ke dalam pelukannya
" Iel akut... Hiks.. kakak di mana..hiks.."
( Aniel takut... Hiks.. kakak dari mana.. hiks..)
Aniel memeluk Sean dengan erat
" Apa Aniel mau ke papa , kita tidur sama papa "
Sean mengusap keringat Aniel dengan lengan bajunya
" Iya "
Aniel mengangguk
Sean membawa Aniel ke kamar rawat Sbastian dan meninabobokan Aniel di samping Sbastian
" Berkas masih banyak , jangan tidur Sean "
Sean menggumam dan kembali ke kamarnya setelah Aniel tertidur untuk mengerjakan beberapa berkas tersisa
" Tuan "
Mao memanggil
" Kenapa Mao "
Sean menoleh
" Ini sudah hampir jam lima , setidaknya istirahat sebentar "
Mao menghampiri Sean
" Semua sudah selesai Mao , aku akan istirahat "
Sean mengerjakan tugas wajibnya dan merebahkan badan di atas tempat tidurnya
Pukul 07.00
" Kakak... Kakak "
Terdengar suara Aniel di dekat telinga Sean
" Hm... "
Sean membuka matanya dan terlihat Aniel berdiri di samping di dampingi oleh key
" Aniel... Astagaaaaa kakak ketiduran "
Sean terkejut dan terduduk lalu membawa Aniel ke dalam pangkuannya
" Kamu belum makan "
Sean menggosok matanya
" Belum "
Aniel menggeleng
__ADS_1
" Nona Tidak mau makan , nona bilang mau menunggu anda hingga anda bangun "
Key menjelaskan
" Kakak alin iel agi "
( Kakak tinggalin Aniel lagi )
Aniel terlihat murung dan bersedih
" Maaf ya , kakak ketiduran "
Sean memeluk Aniel
" Iya "
Aniel mengangguk
" Apa kamu mimpi buruk lagi "
Sean membelai rambut Aniel
" Iya "
Aniel akhir akhir ini sering sekali bermimpi buruk saat Sean pergi dari sampingnya saat dia tertidur
" Kakak minta maaf ya , kakak selesaikan tugas kakak tadi "
Sean berdiri dan mendudukkan Aniel di atas tempat tidurnya
" Kakak au emana "
( Kakak mau kemana )
Aniel bertanya saat merasakan tangan Sean pergi menjauh
" Kakak mau mandi , bisakah Aniel di sini menunggu kakak "
Sean mengganti posisi duduk Aniel
" Iya "
Aniel mengangguk
" Gadis pintar "
Sean mencium kening Aniel
" Hehe "
Aniel terkekeh dan memegangi keningnya
" Tayang kakak "
( Sayang kakak )
Aniel memeluk Sean
" Kakak juga tayang ma adek kecil imut unyu ini "
Sean mencubit pipi Aniel
Sean pergi mandi dengan cepat dan sesegera mungkin mengganti pakaiannya agar Aniel tidak menunggu terlalu lama
" Kakak "
Aniel memanggil saat merasakan sebuah tangan menyentuh kepalanya
" Kakaaaak "
Aniel berteriak karena mengira Sean menggodanya
" Kakak kakaaaak "
Aniel berteriak geram saat merasakan sebuah tangan ada di lehernya
" Kakak "
Aniel merasakan ada air yang muncrat di wajahnya
" Maaf maaf , kakak hanya bercanda "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya dan mengusap air di wajah Aniel
" Kakak jan belcanda lha , iel akut ni "
( Kakak jangan bercanda lha , Aniel takut ni)
Aniel memeluk Sean
" Baju kamu kotor kena apa "
Sean memperhatikan noda di pakaian kuning Aniel
" Iel gak mana mana "
( Aniel ngak kemana mana )
Aniel menggeleng
" Kita ganti baju dulu deh "
Sean membawa Aniel keluar kamar dan membuat para prajurit terkejut
" Bersihkan darah yang ada di dalam , obati key lukanya sangat parah dan aku sudah memberi pertolongan pertama "
Sean membawa Aniel masuk ke dalam kamar Aniel sendiri
" Baik tuan "
Mao mengangguk
" Kita pakek baju apa ya "
Sean menurunkan Aniel di depan lemari
" Kek utih aja "
( Pakek putih aja )
Aniel meminta
" Oke "
Sean mengambil satu set jubah putih dan kain penutup matanya
" Ayo ganti baju "
Sean menggendong Aniel masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh wajah Aniel
" Tuan "
Mao masuk ke dalam kamar mandi
" Buang ini "
Sean memberikan dress kuning Aniel
" Apa yang uang "
( Apa yang di buang )
Aniel terlihat penasaran
" Penutup mata Aniel udah rusak , jadi di buang dan kakak ganti yang baru "
Sean memberi kebohongan
" Ohhhh okey "
Aniel terlihat lebih cantik saat Sean memakaikan set gamis putih dengan kerudung merah yang di ramaikan dengan manik-manik dan pita merah di bajunya
" Ayo kita turun dan makan "
Sean mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di bawa Mao dan membawa Aniel turun ke lantai dasar
" Kak "
Aniel menepuk pundak Sean
" Apa "
Sean masuk ke dalam lift
" Pa walna tutup mata iel "
( Apa warna penutup mata Aniel )
Aniel meraba wajahnya
" Warnanya merah , kayak pita kamu yang besar ini "
Sean menuntun tangan Aniel menyentuh pitanya yang bertengger di punggung
" Oooohhhh iel uka mela haha "
( Oooohhhh Aniel suka merah haha )
Aniel tertawa
" Pagi bibi Aini "
Sean menyapa
" Agi bi ni "
( Pagi bibi Aini )
Aniel ikut menyapa
" Selamat pagi anak anak kecil imut unyu lucu tersayang "
Dengan antusias bi Aini memeluk Aniel dan Sean lalu mencium pipi mereka berdua bergantian
" Apa kakek masih sakit bi "
Sean meletakkan Aniel di atas kursi
" Sudah lebih baik tuan "
Bi Aini menjawab
" Saya dengar ada penyusup tadi pagi "
Bi Aini bertanya
" Iya bi , apa bibi tidak tau "
Sean menaikkan alisnya
" Tidak , tadi bibi ketiduran jadi ngak tau hehehe "
Bi Aini menyiapkan makanan Aniel dan Sean
" Makasih bi "
Sean berterimakasih
" Aci bi "
( Makasih bi )
Aniel mengikuti kalimat Sean
" Sama sama sayang aduuuuh imutnya "
Bi Aini gemas melihat pipi Aniel yang naik turun saat memakan suapan demi suapan dari Sean
Setelah sarapan pagi
" Kakak pain "
( Kakak ngapain )
Aniel yang duduk di pangkuan Sean mulai bosan
" Kakak mengerjakan tugas "
Sean memang sedang membolak-balik halaman berkas yang bertumpuk-tumpuk di ruang kerjanya
" Huuuuhh iel osan "
( Huuuuhh Aniel bosan )
Aniel menghembuskan nafas panjang
"Emang adek mau main apa , nanti kakak temani "
Sean berbicara namun matanya dan tangannya tidak lepas dari berkas di depannya
" Mau sama papa "
Aniel membuat Sean berhenti
" Baiklah , kita ke papa "
Sean turun dan membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Papa pain ya "
( Papa ngapain ya )
Aniel meletakkan telunjuknya di atas dagu
" Papa lagi istirahat "
Sean masuk ke dalam kamar rawat Sbastian
" Papa.. Aniel dan Sean datang "
Sean mendudukkan Aniel di samping Sbastian dan mencium kening Sbastian
*Cup
Dua tahun berlalu...
Rutinitas Sean saat ini adalah membawa Aniel ke dalam kamar Sbastian setiap usai sarapan dan membacakan banyak doa agar Sbastian cepat sadar dari komanya
" Kakak "
Aniel memanggil
" Iya "
Sean yang masih belum memotong rambutnya mengikat rambut panjangnya agar tidak menganggu
" Kapan papa bangun "
Aniel merebahkan tubuhnya di antara lengan dan tubuh Sbastian dengan hati-hati di bantu key
" kakak ngak tau "
Sean berdiri dan saat ini Sean mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk Sbastian, Mao bilang Sbastian akan sadar tidak lama lagi , namun sampai sekarang Sbastian tidak kunjung sadar
" Kakak lagi apa "
Aniel memeluk lengan Sbastian
" Kakak lagi lemasin otot papa biar ngak kaku pas papa bangun nanti "
Sean dengan penuh kasih sayang melakukan pelemasan otot menggunakan mesin khusus sesuai arahan Yuka di luar sana
" Oh....Kapan ya Aniel bisa liat papa lagi "
Aniel mencium pipi lengan Sbastian yang terdapat juntaian selang yang di aliri nutrisi makanan cair untuk Sbastian
*Deg
Sean berhenti sesaat
" Bersabarlah Aniel , kamu akan bisa lihat papa tahun depan "
Sean membuat Aniel tersenyum lebar
" Kakak ngak bohong "
Aniel menatap lurus ke depan
" Kalau tahun depan operasinya bisa di lakukan ya bisa-bisa saja "
Sean tersenyum
" Yes... Nanti aku bisa liat papa sama kakak lagi "
Aniel memeluk lengan Sbastian dengan perasaan gembira yang tiada tara
" Berdoa saja ya "
Sean tersenyum
__ADS_1