
" Cantiknya "
Ayu mengambil aksesoris anak anaknya dan melihatnya dengan seksama
" Bunda bunda , tadi Aniel belinya bingung banget , soalnya harus pilih cantik cantik di sana bunda "
Aniel dengan antusias bercerita tentang apa yang dia alami
" Iya bunda , masak ya tadi itu ada yang walna ungu , ada walna putih ada walna pink , jadi Tia susah pilihnya "
Mutiara terlihat ikut-ikutan mengadu kepada Adinda
" Benarkah "
Adinda tersenyum
" Iya bunda , tadi banyaaaak banget yang harus di pilih "
Aniel mengangguk
" Udah udah , kalian anak papa yang cantik"
Sbastian dan Bram membawa kedua putrinya ke dalam gendongannya
" Ayo Sean tunjukkan seragamnya "
Sean berjalan terlebih dahulu di ikuti yang lain keluar dari toko
" Sean "
Reyhan dan Fadlan menyeimbangkan langkah mereka
" Apa kak "
Sean menanggapi
" Kamu masih aja besar "
Fadlan mendongak menatap Sean sinis
" Kakak pasti gini juga kok , cuma perlu waktu hahaha "
Sean tertawa
" Sean itu tingginya sama kayak papaku "
Adimas membuat kedua saudara menoleh
" Papa ku juga tingginya sama kayak Sean "
Reyhan menyahuti Adimas
Dan terjadilah percakapan ke empat laki-laki yang memimpin di depan , para mama di tengah dan para papa di belakang dengan ocehan putri kecilnya
" Wooooo figur nya Hulk kereeen "
Reyhan berhenti di salah satu toko
" Papa Reyhan mau beli ini ya "
Reyhan menatap papanya
" Ngak , kamu bentar lagi ujian , boleh beli kalau udah ujian "
Ayu menyahuti
" Kalau Fadlan "
Fadlan menunjuk dirinya sendiri
" Ngak boleh "
Ayu menggoyangkan jari telunjuknya
" Aaaaaaaa mama Reyhan janji kalau boleh beli nanti nilai ujiannya tinggi "
Reyhan menggelayuti tangan ayu
" Ngak boleh "
Ayu menolak
" Kakak mau "
Sean melihat Adimas yang terus menatap beberapa figur action di sana
" Ngak "
Adimas menggeleng
" Sean boleh beli pa "
Sean meminta
" Bentar lagi kan ikut ujian kelas enam , dan kak Adimas bentar lagi juga mulai sekolah , jadi ngak boleh ya "
Adinda menjawab dengan lembut
" Kapan kapan aja deh kita belinya "
Sean membuat keputusan
" Tapi itu figur action yang langka , aku mau beli sebelum habis "
Reyhan terlihat berjalan dengan lesu
" Kalau kakak kakak nilainya bagus nanti Sean kasih buat hadiah "
Sean membuat ketiga saudaranya terkejut
" Bener Sean "
Reyhan menghentikan langkah Sean
" Ya udah "
Sean menyingkirkan tangan Reyhan yang ada di pundaknya
" Oke , aku akan giat belajar... Huh... Semangat "
Reyhan terlihat bersemangat
*Cling...cling
Terlihat aura aura memohon dari wajah datar Fadlan dan wajah polos Adimas
" kan Sean udah bilang kakak kakak "
Sean mengedikkan bahunya
" Makasih "
Adimas tersenyum manis
" kamu yang terbaik... Huem.. "
Fadlan memberikan jempolnya
" Hahaha "
Sean tertawa
" Tuan besar "
Tiba-tiba terlihat seorang wanita berpakaian **** berlari mendekati Sean
" Tuan... Hadeh...tuan cepet banget langkahnya "
Wanita itu berhenti tepat di depan Sean
Terlihat wanita itu memiliki riasan yang tebal , rok pendek di atas lutut , kemeja yang kekecilan hingga menunjukkan lekuk tubuhnya dan jas yang dia tenteng membuat Sean menatap wanita itu malas
" Aduh... Kenapa pakaianmu seperti ini "
Sean menatap wanita itu tajam
" Aduh tuan kenapa permasalahin pakaian sih , itu ada orang bikin gaduh di sana , manager ngak bisa tangani "
Wanita itu terlihat masih ngos-ngosan
" Lalu "
Sean menaikkan alisnya
" Kami semua kewalahan , mereka bilang ingin bertemu orang yang menjalankan mall ini , dan karena saya tau tuan di sini jadi saya kejar "
Wanita itu menjelaskan
" Astaga mala , pakai dulu jas mu , atau gajimu aku potong setengah "
Sean mengancam
" Iya iya "
Wanita yang di panggil Mala itu langsung sama memakai jas nya
" Ikut , aku mau lihat kamu jadi kayak papa"
Reyhan berdiri di depan Sean
" Iya , maaf ya mama , bunda "
Sean terlihat tidak enak
" Ngak papa "
Mereka tersenyum
" Mall ini punya anakku "
Sbastian membatin
" Kau tau kalau mall ini punya Sean "
Sbastian bertanya kepada Bram
" aku tau dia punya beberapa perusahaan , tapi aku tidak tau kalau mall ini miliknya "
Bram menjawab rasa penasaran Sbastian
" Tunjukkan jalannya "
Sean meminta
" Baik tuan "
Mala berjalan terlebih dahulu di ikuti yang lain
" Mala "
Sean memegang kepala Mala namun mereka tetap berjalan
" Iya tuan "
Mala mendongak karena tingginya hanya sebatas bahu Sean
" Kalau kamu masih pakai pakaian seperti ini , gajimu akan aku potong tujuh puluh persen "
Sean menatap Mala tajam
" Tapi tuan , kan baju saya semuanya gini "
Mala menolak
" Oh... Gajimu satu tahun akan lenyap "
Sean melepaskan kepala Mala
" Iya iya huuuh aku benci sama tuan "
Mala terlihat kesal
" Lagipun aku kan sudah membatasi pakaian karyawan , kalau di luar jam kerja itu terserah kamu "
Sean membuat Mala semakin kesal
" Tau deh serah tuan "
Mala berjalan lebih cepat
" Dia keren "
Reyhan berbisik dengan Fadlan dan Adimas
" Aku tau "
Adimas dan Fadlan mengangguk
Terlihat di lobi depan banyak sekali orang yang berkumpul untuk menenangkan orang yang sedang marah-marah di tengah-tengah kerumunan
" Ada apa ini "
Suara Sean terdengar sangat berwibawa dan tegas , berbeda dari biasanya
" Salam tuan "
Mereka semua membungkuk hormat dan memberi jalan
" Ada apa nona muda "
Sean menghampiri dua wanita yang berbeda usia
" Ini tuan , mereka ingin membeli semua ini , namun kartu kredit mereka saldonya nol "
Seorang laki-laki menjelaskan , dia adalah manager di sana
" Boleh saya lihat "
Sean meminta kartunya
Sean mengeluarkan hp nya dan memfoto kartu tersebut
" Maaf nyonya , tapi kartu ini sudah di bekukan dua hari yang lalu "
Sean memberitahu
" Anda ini siapa , tiba-tiba datang dan meminta kartu saya "
Si nyonya tua menyolot
" Maaf nyonya , beliau adalah pendiri dan pemilik mall ini "
Si pria manager memberitahu
" Astaga "
Kedua wanita itu terlihat terkejut
" Em... Tuan pemilik sangat tampan ya haha"
Si wanita muda terlihat melonggarkan pakaiannya hingga membuat belahan dadanya terlihat jelas
" Begini saja , saya akan mengamankan semua barang yang anda ambil dan kalian berdua bisa pulang untuk mengambil uang"
Sean memberi solusi
" Hm... bagaimana kalau... "
*Tap..tap..tap
Si wanita muda berjalan mendekati Sean
" Kalau saya membayar dengan cara lain "
Wanita muda itu berdiri di depan Sean dan menatap Sean dengan lembut , terlihat tinggi wanita muda itu sebatas bibir Sean
*Grep
Sean memegang tangan wanita muda itu yang tiba-tiba masuk ke dalam jas nya
" Anda mau membayar dengan cara lain "
Sean mengangkat tangan wanita muda itu
" Iya jika boleh "
Wanita muda itu tersenyum
" Waduh mampus dia "
Para karyawan yang sudah kenal dengan Sean membatin
" Sayangnya aku sudah memiliki wanita yang aku cintai "
Sean menurunkan tangan wanita muda itu
" Memangnya ada yang lebih baik dari saya"
Wanita muda itu tiba-tiba memeluk pinggang Sean
" Ada , banyak sekali "
Sean tersenyum
" Dan ya nona muda "
*Grep
Sean mencengkram pipi wanita muda itu
" Saya akan mengantar anda pulang dengan selamat "
Sean melepaskan wanita muda itu
" Mala "
Sean memanggil
" Saya "
Mala dengan ketus menjawab
__ADS_1
" Antarkan nona muda ini pulang , bawa barang-barang yang nona muda ini beli "
Sean melepaskan pelukan wanita muda di depannya
" Astaga dia selamat "
" Aku kira akan di kil "
" Seharusnya dia bersyukur "
Beberapa karyawan berbisik bisik
" Anda bisa datang ke rumah saya nanti tuan "
Wanita muda itu menatap Sean
" Boleh aku lihat KTP milikmu "
Sean meminta
" Tentu "
Wanita muda itu memberikan KTPnya
*Ckrek
Sean memfoto KTP yang dia pegang
" Terimakasih "
Sean mengembalikan KTP wanita itu
" Ini alamat saya "
Wanita itu memberikan sebuah kertas
" Anda bisa pulang "
Sean mempersilahkan
*Cup
Wanita itu mencium pipi Sean
" Babay sayang "
Wanita itu melambaikan tangannya dan berjalan keluar dari mall
" Ini tuan "
Mala memberikan satu kotak tisu basah
" Makasih "
Sean mengambil lima lembar tisu basah dan mengusap pipi dan lehernya sampai bersih
" Ingat wajah mereka , jangan biarkan mereka masuk ke dalam asetku di manapun itu "
Sean memberikan hpnya kepada Mala
" Jas anda tuan "
Sang laki-laki manager itu memberikan satu jas baru
" Untuk rumahnya tetap pantau , dia bukan orang biasa "
Sean mengganti jas yang dia pakai
" Ini parfum anda "
Salah satu karyawan yang notabenenya adalah kepala OB memberikan parfum yang sama untuk Sean
" Kami minta maaf tuan "
Semua karyawan membungkukkan badan
" Tidak perlu , kembalilah bekerja dan pel lantai di sini "
Sean memerintahkan
" Baik tuan "
Mereka semua berlalu pergi sesuai perintah Sean
" Ini hp anda tuan "
Mala mengembalikan hp Sean
" Kalian kembalilah bekerja "
Sean menerima hp nya dan mengambil beberapa lembar tisu basah lagi
" Kami permisi "
Mereka membungkuk dan pergi
" Dan Mala "
Sean membuat langkah Mala berhenti
" Iya iya aku ganti pakaianku "
Mala dengan jengkel mengiyakan Sean
" Kamu keren "
Reyhan menghampiri Sean dengan semangat
" Iya kamu keren "
Adimas mengiyakan dan Fadlan mengangguk membenarkan
" Memangnya wanita yang kamu cintai itu dimana "
Sbastian menggoda Sean
" Itu sama itu "
Sean menunjuk ayu dan Adinda
" Dia istriku "
Sbastian dan Bram merangkul pundak istrinya
" Huh kalau gitu dia sama dia "
Sean menunjuk Aniel dan mutiara
" Ini anakku "
Bram dan Sbastian memeluk putri mereka masing-masing
" Papa ngak bisa ngalah ya sama Sean "
Sean terlihat merajuk
" Enggak ble.. "
Sbastian menjulurkan lidahnya sedangkan Bram menarik kantung matanya ke bawah
" Sudah jangan ganggu anakku "
Ayu dan Adinda memukul suami mereka
" Bleee... "
Sean membalas ejekan papanya
" Tuan "
Mala kembali dengan pakaian lebih panjang dan longgar
" Nah gini kan enak di liat "
Sean terkekeh
" Jangan ngejek saya uuhhh... "
*Dugh
Mala menginjak kaki Sean
" Ouch... Saya ini atasanmu lho "
Sean menyingkirkan kakinya
" Tapi anda lebih muda dari saya , dasar anak SD "
Mala terlihat marah
" Iya Tante "
Sean mengejek
" Kok Tante sih "
Mala mengerenyitkan keningnya
Sean berkacak pinggang menirukan Mala
" Terserah , ayo saya antar menuju lantai atas "
Mala berbalik dan berjalan dengan penuh kekesalan
" Hahaha "
Sean tertawa melihat Mala yang benar-benar merajuk
" Ayo bunda mama "
Sean berjalan bersama saudaranya menuju lift kaca di ikuti yang lain
*Ting
Lift terbuka
" Ayo masuk "
Mala masuk terlebih dahulu dan berdiri di depan
" Mama dulu "
Sean mempersilahkan yang lain dan dirinya terakhir berdiri di samping Mala
" Ini informasi yang baru mereka kirim "
Mala dengan jengkel memberikan sebuah tab
" Makasih cantik "
Sean menaik turunkan alisnya
" Terserah "
Mala memencet tombol untuk naik ke lantai paling atas
" Woah.... Ini lantainya ada berapa ya "
Para saudara terlihat sibuk mengamati tingkatan lantai di sana
" Lihat mereka semua melihat kita "
Reyhan menunjuk para karyawan
" Itu karena ada Sean di sini "
Fadlan menyahuti
" Woaaaaaahhh mereka membungkuk "
Reyhan kembali heboh
" Coba lihat "
Adimas membuat Reyhan menoleh ke sebelah kanan
Terlihat Sean berdiri dengan penuh wibawa sambil menggendong kedua adik kecilnya
" Kalau kita kayak gitu gimana ya "
Mereka bertiga menatap Sean kagum
" Tetap saja dia adik kalian "
Bram membuat mereka bertiga menoleh
" Mereka akan menghormati Sean , tapi Sean akan tetap menghormati kalian "
Sbastian mengusap kepala Adimas
" Benarkah papa "
Mereka bertiga bertanya
" Iya "
Sbastian dan Bram mengangguk
" Wow "
Mereka bertiga memandang Sean dengan penuh kekaguman untuk kesekian kalinya
*Ting
Lift berbunyi
" Kita sudah sampai "
Mala keluar terlebih dahulu di ikuti yang lain
" Salam tuan "
Para karyawan yang berlalu lalang di sana membungkuk hormat ketika Sean keluar
" Ayo kesana "
Sean kali ini memimpin jalan
" Woaaaaaahhh aku selalu ingin naik ke lantai atas jika di sini "
Reyhan berlari ke ujung lorong dan melihat pemandangan kota di bawah
" Apa keren "
Adimas dan Fadlan mengikuti Reyhan
" Kamu pandai memilih tempat yang strategis"
Sbastian mengambil Aniel dari gendongan Sean
" Makasih papa "
Sean tersenyum
" Papa terkejut ini semua kamu yang pikirkan "
Bram mengambil mutiara dari gendongan Sean
" Hehehe "
Sean tersipu malu
" Anak bunda/mama lucu deh "
Ayu dan Adinda mencubit pipi Sean
" Ayo kesini "
Sean masuk ke dalam suatu ruangan di ikuti yang lain
" Waaaahhhh ini baju kita "
Reyhan terlihat bersemangat
" Sean minta lima setel untuk masing-masing "
Sean tersenyum melihat mereka semua senang
" Salam tuan "
Alisya dan Rena masuk ke dalam
" ini sangat indah , terimakasih "
Sean tersenyum
" Kami senang jika anda senang "
Alisya tersenyum
" Bisa tunjukkan Beberapa model lainnya "
Sean meminta
" Tentu "
Rena menuju salah satu pintu di ruangan sana
" Kakak ini cantik , makasih "
Mutiara dan Aniel terlihat senang
" Kakak buatkan ini untuk kalian berdua , ini hadiah spesial "
Sean tersenyum manis
*Cup
"Sayang kakak "
Aniel dan mutiara memeluk Sean
__ADS_1
" Hahaha "
Sean tertawa
" Ini sangat indah Sean "
Bunda dan mama melihat beberapa pakaian couple untuk yang Sean pajang
" Sean buat ini sebagai seragam , dan Sean juga buat beberapa untuk kalian semua "
Sean menerima beberapa paper bag dari Rena
" Ini untuk Aniel , dan mutiara "
Sean memberikan dua paper bag untuk Aniel dan mutiara
" Ini buat mama dan bunda "
Sean memberikan dua paper bag yang lebih besar
" Ini papa "
Sean memberikan dua paper bag lainnya
" Woaaaaaahhh kelen "
Aniel dan mutiara mengeluarkan apa yang mereka terima dari papar bag
" Aku mana "
Reyhan menunjuk dirinya
" Ini kakak "
Sean memberikan masing-masing untuk kakaknya
" Makasih , ini keren "
Fadlan melihat pakaian yang dia terima , itu berupa satu set pakaian santai yang Couple dengan Reyhan dan Adimas
" Jadi kita ngak perlu pilih di toko , Sean sudah siapkan yang terbaik di sini "
Sean menunjuk seragam mereka yang di pajang di manekin
Setelah puas melihat-lihat pakaian , Sean mengajak mereka untuk pulang sebelum magrib menjelang
" Besok main lagi ya "
Aniel dan mutiara mengucapkan salam perpisahan
" Nanti hari pertama pakai apa "
Fadlan bertanya
" Pakai yang abu-abu aja "
Adimas memberi pendapat
" Jangan menurutku lebih bagus yang merah"
Fadlan menolak usul Adimas
" Yang hitam aja lho "
Reyhan tidak mau kalah
" Anak-anak ayo "
Sbastian membuat mereka sadar dari perdebatan
" Babay "
Aniel masuk ke dalam gendongan Adimas dan masuk ke dalam mobil
Setelah beberapa percakapan , akhirnya mobil keluarga Sbastian dan keluarga Bram mulai melaju dan berpisah
Setelah sampai di rumah
" Capeknya "
Adimas merebahkan dirinya di atas karpet bulu di ruang tamu
" Capek capek "
Aniel mengikuti Adimas
" Malam ini udah ngak tarawih , jadi kalian langsung tidur setelah sholat isya "
Adinda dan Sbastian duduk di sofa
" Yey "
Aniel terlihat senang
" Ayo main "
Aniel berlari mengambil bonekanya di ruang mainan yang ada di ruang tamu
Esok hari gema takbir idul Fitri yang di kumandangkan mulai tadi malam membuat Aniel benar-benar bersemangat
" Pakai baju apa Bun "
Aniel yang sedang mandi bersama Adinda bertanya untuk pakaian nanti
" Pakai baju yang warna putih "
Adinda menjawab
" Okay "
Aniel yang sudah selesai di mandikan keluar dari kamar mandi
" Udah sayang "
Sbastian yang sudah rapih menghampiri Aniel yang di belit handuk besar di seluruh tubuhnya
" Udah , sekarang nunggu bunda "
Aniel di dudukkan di atas tempat tidur
" Papa... Papa "
*Tok..tok..tok
Terdengar suara Adimas mengetuk pintu
" Iya masuk "
Sbastian mempersilakan
" Pakai baju apa "
Adimas masuk dengan handuk yang melilit pinggangnya
" Kata bunda putih "
Aniel menjawab
" Oke "
Adimas menutup pintu dan berlari menuju kamarnya
Di lorong sudah tidak terlihat para bodyguard karena Sean sudah mengambil banyak langkah untuk para musuh
Sebagai gantinya Sean memperketat penjagaan halaman dan atap rumah
Sejak memasuki bulan puasa , Sean membuat para pengawal yang sudah berkeluarga dan memiliki rumah dekat dari lokasi untuk bekerja hanya saat matahari terbit
Sedangkan untuk para penjaga yang memiliki lokasi kediaman yang jauh , mereka pulang satu Minggu sebelum hari raya datang
Dan saat hari raya , Sean hanya mempekerjakan orang orang yang kehilangan keluarga dan kediamannya
" Ayo berangkat nak "
Adinda keluar dengan mukenah putih bersama Aniel
" Sean "
Sbastian menjemput Sean di kamarnya dan terlihat Sean menggunakan baju kokoh putih dengan sarung hitam dan peci seperti Sbastian
" Adimas ayo "
Sbastian membiarkan pintu kamar Sean terbuka
" Iya pa "
Adimas keluar dari kamar dan terlihat Adimas mengenakan pakaian yang sama dengan Sean dan Sbastian
" Kita semua putih hahaha "
Aniel tertawa senang
" Udah ayo turun "
Sbastian membawa keluarganya turun ke bawah
" Salam tuan "
Terlihat pengawal di sana sudah siap ikut Sbastian untuk sholat idul Fitri
" Ayo berangkat "
Sbastian sekeluarga di ikuti para pengawal berangkat ke masjid
Aniel terlihat ikut sholat dengan Adinda bersama beberapa maid yang ikut sholat hari raya idul Fitri di masjid
" Woe Sean , Adimas "
Teman-teman Sean menyapa
" Hm.. "
Sean melepaskan peci nya dan berwudlu
" Ayo ke ujung sana yok , dekat jalan raya "
Teman-teman Sean ikut berwudhu bergantian
" Jangan disana nanti susah pulangnya , sendal kita kan di sini "
Sean mengambil pecinya Lagi setelah berwudhu
" Sean bener nanti kita kesusahan cari sendal , terus ilang deh "
Adimas menasehati
" Iya ya "
Mereka terlihat berpikir
" Ayo kak itu papa nunggu "
Sean membawa Adimas menuju Sbastian
" Ikut woe "
Teman-teman Sean mengikuti Sean dan Adimas
Setelah sholat id selesai , Sean dan kedua saudaranya melakukan sungkem dengan Adinda dan Sbastian di ruang tamu , setelah sungkem yang penuh haru , akhirnya datang beberapa tamu
" Bro nanti malem ngopi yuk "
Rian yang kebetulan di sana mengajak Sean
" Ngak deh , nanti gue ke rumah nenek sama kakek "
Sean menolak
" Lo jalan nanti malem "
Rian bertanya
" Yaps "
Sean mengangguk
Setelah keluarga Rian pulang , Sean dan lainnya di ajak oleh Sbastian berkeliling ke rumah orang yang lebih tua di sana hingga waktu menunjukkan pukul 12 siang
" Capeknya "
Sean merebahkan diri di atas sofa
" Lihat Aniel dapat banyak "
Aniel mengeluarkan banyak uang yang dia dapat
" Kak Dimas juga "
Adimas ikut duduk dan mengeluarkan miliknya
" Kakak Sean ngak dapet "
Aniel bertanya
" Dapet "
Sedang mengangguk
" Di mana "
Adimas bertanya
" Di bank banyak banget "
Sean menjawab
" Itu bukan uang hari raya namanya "
Sbastian duduk di samping Adinda yang sedang memakan camilan
" Hehehe "
Sean tertawa
" Aniel mau simpan amplopnya "
Aniel menyisihkan amplop hari raya miliknya
" Kakak dapat berapa "
Aniel melihat uang Adimas
" Ngak tau , masih di hitung "
Adimas terlihat menghitung uangnya
" Aniel gimana ngitungnya "
Aniel memajang semua uang yang dia dapat
" Kakaaaak "
Terdengar suara mutiara dari arah pintu
" Tia "
Aniel berdiri dan berlari memeluk mutiara
" Alin lagi apa "
Aniel bertanya
" Lagi ngitung uang hali laya "
Aniel mengajak mutiara duduk di atas karpet
" Mutiara , Salim dulu sama papa sama bunda"
Ayu mengingatkan
" Iya mama "
Mutiara berdiri dan mencium tangan Adinda dan Sbastian
" Selamat hali laya bunda "
Mutiara memeluk Adinda
" Selamat hari raya sayang , ini buat kamu "
Adinda dan Sbastian memberikan dua amplop lucu
" Ini buat kalian "
Sbastian dan Adinda memberikan masing-masing satu untuk Fadlan dan Reyhan
" Maaf ya ma , bukannya Sean yang kesana malah mama yang kesini "
Sean memeluk ayu dan Bram
" Ngak papa , mutiara juga Pengan kesini , jadi sekalian "
Ayu mencium kening Sean dan Sean melakukan sungkem untuk kedua orang tua kandungnya
" Kamu ngitung uang "
Reyhan dan Fadlan setelah mengucapkan selamat kepada Sbastian dan Adinda juga menerima amplop , mereka ikut duduk dengan Adimas
" Kami juga belum ngitung "
Mereka berdua terlihat menghitung uang yang mereka dapat
" Kalian ngak mau "
Sean mengeluarkan beberapa amplop lucu
" Mauuuu "
Aniel dan mutiara berdiri
" Cium dulu "
__ADS_1
Sean menunjuk pipinnya sendiri