
" Anieeeel "
Teriakan Sean menggema di segala penjuru rumah
" Diam Aniel di sini ngak hilang "
Pak Sam menenangkan Sean yang baru saja sampai di lantai dasar
" Kenapa Sean ngak di bangunin "
Sean duduk dengan kesal di samping pak Sam
" Kamu begadang lagi heh "
Pak Sam menjewer telinga Sean
" Aduduh kakek sakit kek.... maaf maaf Sean salah "
Sean mengaduh kesakitan
" Ulangi lagi "
Pak Sam melepaskan tangannya
" Iya maap "
Sean menunjukkan wajah menyesal
" AYAAAAH "
Terdengar suara Kelvin dari arah pintu masuk
" Diam astagaaaaa semuanya suka teriak teriak "
Pak Sam memukul Kelvin yang sudah berdiri di hadapannya
" Hehehe "
Kelvin menunjukkan Gigi putihnya
" Hai bro "
Kelvin menyapa Sean
" Paman emang gajes "
Sean menanggapi
" Gajes apaan "
Kelvin mengambil buah dari atas meja
" Gak jelas "
Sean memonyongkan bibirnya
" Hahahaha yang gak jelas ntuh kamu "
Kelvin terbahak bahak
" Terserah deh "
Sean merebahkan tubuhnya di atas sofa
" Permisi "
Suara Diablo membuat semuanya menoleh
" Paman apa kabar "
Diablo menyalami pak Sam
" Aku baik "
Pak Sam tersenyum
" Kenapa paman Kelvin dan paman Diablo datang bersamaan "
Sean mendudukkan dirinya
" Paman cuma kangen kakek "
Kelvin memeluk pak Sam
" Saya mau melaporkan sesuatu "
Diablo meletakkan kopernya di atas meja
" Apa itu "
Sean mulai terlihat serius
" Tuan , tuan Rohit sudah datang , sekarang masih ada di gerbang utama "
Mao memberitahu
" Langsung suruh ke sini saja "
Sean menjawab
" Baik "
Mao mengangguk
" Ini hasil penyelidikan dan kasus empat belas tahun silam "
Diablo mengeluarkan beberapa berkas
" Apa sudah di adakan tes DNA dan tes lainnya "
Sean membuka satu persatu berkas yang Diablo bawa
" Sudah , hanya beberapa langkah lagi dan hasilnya yang akurat akan keluar "
Diablo mengiyakan
" Salam tuan "
Rohit datang dengan melodi di sampingnya
" Kak lodiiiii "
Suara Aniel terdengar menggema
" Melodi main saja sama adek di sana "
Sean menunjuk Aniel
" Baik... Melodi permisi "
Melodi membungkuk dan berlalu menghampiri Aniel
" Sangat lucu haha "
Sean tertawa kecil melihat melodi yang sudah mulai menghormatinya
" Oh ya...bagaimana paman "
Sean menepuk sofa di sampingnya
" Ini yang saya dapatkan "
Rohit meletakkan kopernya dan membuka laptopnya
Diskusi panjang terjadi antara mereka semua yang ada di ruang tamu , bahkan pak Sam ikut memberi solusi yang terbaik atas masalah kali ini
" Kakak "
Aniel mengakhiri diskusi panjang mereka
" Aniel sama kak lodi laper "
Aniel yang tiba-tiba sudah di sampingnya memegang perutnya
" Eh... Eh... Lodi ngak laper , tadi adek bilang mau ke kak Sean aja , lodi ngak bilang laper"
Melodi terlihat kalang kabut saat Aniel mengatakan itu
" Tadi perut kak lodi kerucuk kerucuk , perut Aniel juga "
Aniel membuat wajah memelas
" Ya sudah Sean juga laper , ayo makan semua ini waktunya jam makan siang "
Sean mengemasi barang-barangnya di bantu Diablo dan Rohit
" Ayo kak lodi "
Aniel terlihat senang
Sean membawa Aniel dan lainnya menuju ruang makan
" Makanlah kak Rohit , jangan sungkan "
Sean mempersilahkan saat melihat Rohit malu malu ketika akan mengambil makanan
" Iya tuan "
Rohit mengangguk
" Adek mau makan apa "
Sean menawari
" Mau kayak kak lodi "
Aniel menjawab
" Baiklah kayak kak lodi "
Sean mengambilkan porsi yang sama dengan melodi
" Ayo kakak suapi "
Sean mulai menyuapi Aniel
Meja makan siang itu benar-benar ramai dengan kalimat cadel Aniel yang selalu di tanggapi melodi , diskusi panjang antara Sean , rohit dan Diablo yang tidak kunjung selesai juga kegaduhan Kelvin yang selalu menggoda se isi meja makan
Setelah makan siang dan lainnya pada pukul 13.00 siang
" Kakak Aniel mau bobo sama kak lodi "
Aniel menghentikan percakapan Sean dan semua orang di ruang tamu
" Mau tidur sama kak lodi di mana hm.. "
Sean berlutut di depan Aniel
" Mau di kotak main , tapi ngak enak... Bisakah kakak taro apa aja yang lembut di sana "
Aniel meminta
" Boleh "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Nah... Melodi "
*Hup
Tiba-tiba Sean membawa melodi ke dalam gendongannya di tangan satunya
" Kalian berdua tidur yang nyenyak ya "
Sean membawa melodi dan Aniel ke dalam kotak mainan
" Ambilkan kasur bulu di kamar Sean dan dua mantel bulu di lemari kamar , juga beberapa boneka dan bantal bulu di kamar Aniel "
Sean memerintahkan kepada Mao dan key
" Baik tuan "
Mao dan key mengangguk dan berlalu pergi
" Kalian tidurlah di sini "
Sean di bantu melodi menyisihkan semua mainan dari tengah-tengah tempat bermain
" Ini tuan "
Mao datang bersama key
" Nah ini di sini "
Sean meletakkan kasur penuh bulu di tengah-tengah tempat bermain
" Kalian tidur di sini "
Sean mengangkat Aniel dan menidurkan Aniel di tengah
" Kamu di sini "
Melodi di tidurkan oleh Sean di samping Aniel dengan di berikan masing-masing satu boneka Teddy
" Tidurlah kalian nanti kakak bangunkan "
Sean menyelimuti kedua anak kecil yang tidur saling berpelukan di depannya
" Pasangkan kelambu nyamuk "
Sean keluar dari arena bermain dan Mao memasangkan kelambu nyamuk untuk Aniel dan melodi
" Maaf merepotkan anda tuan "
Rohit terlihat tidak enak
" Tidak apa , jarang juga Aniel punya teman tidur begitu "
Sean tersenyum
" Sampai mana kita tadi "
Sean mulai membuka halaman demi halaman dan mulai menandatangani satu persatu berkas yang tiba-tiba muncul di depannya
Hari-hari yang Sean lalui masih tetap sama hingga satu Minggu berlalu dan hari ini adalah jadwal operasi cangkok mata untuk Aniel
" Kenapa kamu yang gugup hahaha "
Bram tertawa melihat Sean yang sedang gugup di kursi tengah
" Kakak takut ya "
Aniel yang duduk di atas pangkuan Sean mendongak dan bertanya
" Udah udah jangan di ganggu anakku "
Ayu menghentikan suaminya
" Jangan gugup Sean , kan bukan kamu yang di operasi "
Kelvin yang ada di bangku belakang mulai menggoda Sean
" Jangan di ganggu anak nakal "
Pak Sam menyisihkan kepala Kelvin
" Kita sudah sampai "
Diablo memberitahu bahwa mereka sudah ada di rumah sakit
" Adek jangan takut ya "
Sean mencium pipi Aniel
" Kakak yang jangan takut "
Aniel memukul lengan Sean
" Benar itu Hahaha "
Semua tertawa saat Sean berkata seperti itu
" Sudah... Ayo anakku jangan dengar papamu yang aneh itu "
Ayu keluar dan membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Apa Tia ngak ikut "
Aniel yang ada di dalam gendongan ayu kini bertanya
" Ini kan rumah sakit , jadi Tia ngak boleh ikut "
Sean menjawab
" Oh.... Aniel kila Tia nanti ikut "
Aniel merebahkan kepalanya di atas pundak ayu
" Nanti Tia ajak mama kesini kalau kamu sudah boleh di jenguk "
Ayu membelai lembut kepala Aniel
" Ayo sama kakak , nanti mama capek "
Sean menepuk punggung Aniel
" Mama kuat tau "
Ayu tidak terima
" Aniel sama mama aja "
Aniel memeluk leher ayu
" Padahal aku mau sama Aniel huhu "
__ADS_1
Sean terlihat mengsad
" Papa tau perasaan kamu hahaha "
Bram menertawakan Sean
" Aku mau Aniel pa "
Sean memeluk pinggang Bram
" Tapi Aniel mau sama mama tuh "
Bram semakin memanas manasi
" Permisi "
Seorang dokter wanita menyapa
" Selamat pagi tuan Bram "
Dokter itu membungkuk hormat
" Selamat pagi "
Bram menjawab
*Cling
Mata tajam ayu menusuk hingga ke tulang rawan di punggung Bram
" Ini Aniel... Putriku dan ini Sean putraku , juga pastinya kamu tau istriku "
Bram menunjukkan bahwa istrinyalah yang paling cantik di sana
"Salam nyonya Bram "
Dokter itu membungkuk
" Hm.. "
Ayu hanya berdehem pendek
" Ini pak Sam , kakek ku lalu di belakang itu putranya dan , ini Diablo dan... "
Kalat Bram di potong oleh Sean
" Ini dokter Mao , kamu pasti kenal "
Sean menunjukkan Mao yang berdiri di belakangnya dengan pakaian ala dokter yang rapih dan bersih
" Pasti kenal lah , kepala rumah sakit ini kan Mao "
Diablo membatin
" Saya Mao "
Mao mengulurkan tangannya
*Nguuung
Nyamuk lewat
Dokter wanita itu hanya menatap Mao tanpa menerima uluran tangannya
" Biar saja Mao , dia belum belajar caranya bersalaman "
Sean menurunkan tangan Mao
" Berarti lebih hebat adek kecil dong haha "
Kelvin terkekeh
" Diam "
*Bugh
pak Sam memukul kepala Mao
" Ini nona yang harus saya tangani "
Dokter itu menatap Aniel
" Papa... Lebih baik Mao dan dokter lain saja "
Sean menarik lengan Bram
" Nak... Dia dokter mata lulusan terbaik , papa percaya dia bisa melakukan operasi untuk Aniel dengan baik "
Bram mengelus kepala Sean
" Iya pa "
Sean mengangguk
" Papa yang bawa dokter ini , sungkan pastinya kalau di tolak "
Sean membatin dan menatap dokter itu dengan aneh
" Kalau begitu mari saya periksa kesehatan nona dulu "
Dokter itu menunjukkan jalan
" Sean... "
Pak Sam memanggil
" Kakek ngak percaya sama dokter ini "
Pak Sam berbisik
" Sean pastikan dia akan mendapatkan yang setimpal jika terjadi apa apa dengan Aniel "
Sean mengepalkan tangannya
" Adek masuk sama mama aja ya "
Ayu menawari eh... Lebih tepat meminta
" Sama Sean aja ma , Sean juga mau "
Sean menarik lengan ayu
" Mama aja deh... Gapapa "
Ayu meyakinkan
" Huuuuhh Aniel sama kakak aja ya "
Sean merayu
" Sayang... Biar sama Sean aja , ngak papa"
Bram menepuk pundak ayu
" Tapi mas "
Ayu seakan tidak rela
" Ayolah ma "
Sean memohon
" Yaudah deh nih "
Ayu menyerahkan Aniel kepada Sean dengan enggan
" Papa... Aniel mau periksa sekarang , iringi Aniel dan Sean dengan doa ya pa "
Sean membatin dan mencium pipi gembul Aniel
" Kakak jangan rindu papa , Aniel di sini "
Aniel berbisik tepat di samping telinga Sean
" Iya "
Sean mengangguk
Ayu , Bram , pak Sam , Diablo , Kelvin dan key menunggu Sean di depan ruang pemeriksaan selama beberapa saat
Di rumah , Lao dan Aloe sudah kembali , mereka di tugaskan untuk menjaga Sbastian hingga Mao kembali dari rumah sakit
" Papa "
Sean keluar dengan wajah yang ceria
" Kata dokter... Aniel udah bisa di operasi "
Sean memeluk Bram dan bercerita dengan semangat
" Kapan operasi di lakukan "
Pak Sam bertanya
" Sekarang juga , Aniel lagi di persiapkan "
Sean menjawab
Dokter wanita tadi keluar dari ruangan
" Nona akan saya pindah ke ruang operasi sekarang , jadi anda bisa langsung kesana , mari saya tunjukkan jalan "
Dokter itu mempersilahkan
" Tidak perlu dokter "
Sean menghentikan
" Saya sudah mengenal tempat ini , jadi saya sudah mengerti di mana letak ruang operasi "
Sean menolak
" Ya iyalah... Orang rumah sakit ini yang bangun itu tuan muda tiada duanya "
Kelvin dan Diablo melirik Sean dengan sinis
" Mari papa "
Sean memimpin jalan sambil memeluk ayu
" Saya tidak pernah menyangka bahwa putra saya yang saya ingat imut dulu menjadi hebat seperti ini "
Bram mensejajarkan langkahnya dengan pak Sam
" Yang saya ingat dia itu cucu laki-laki saya yang sangat saya sayangi , anak yang polos dengan senyuman yang lucu "
Pak Sam tersenyum
" Malahan saya kira tuan itu cuma anak kecil yang sangat di sayangi oleh tuan besar saya eh.... Ternyata dia tuan besar saya "
Diablo ikut gabung dalam percakapan Bram dan pak Sam
" Dia kan putraku "
Ayu memeluk Sean dengan sayang
" Sean boleh ketemu Aniel lagi ngak ya "
Sean memonyongkan bibirnya
" Emang ngak boleh "
Ayu bertanya
" Kata Mao Aniel harus istirahat sebentar sebelum operasi "
Sean menjawab
" Kalau bilang mau ketemu pasti bisa "
Ayu menoel pipi Sean
" Huhuhu Sean mau ketemu Aniel "
Sean menggumam sepanjang jalan hingga sampai di depan ruang operasi
" Mao "
Sean menghentikan rombongan dokter yang berjalan dengan sebuah bankar yang berisi Aniel
" kapan operasinya "
Sean bertanya
" Kalian duluan "
Mao mempersilahkan para dokter
" Operasi di lakukan dua jam setelah ini "
Mao menjawab
" Ngak boleh ya kalau aku mau sama Aniel dulu "
Sean memeluk lengan Mao
" Ayolah tuan muda "
Mao melirik Sean
" Ya Mao.... Kamu kan yang terbaik "
Sean merayu
" Tidak , nona harus istirahat "
Mao melepaskan genggaman tangan Sean
" Ayolah ayolah.. bentar aja kok "
Sean menahan Mao yang hendak masuk ke dalam ruang operasi
" Tuan muda sayang.... Anda harus mengerti ya , nona ini harus istirahat "
Mao menepuk kepala Sean
" Aku ngak ngerti... Ayolah Mao "
Sean memeluk Mao dari belakang
" Ayo ayo boleh lah "
Sean tidak membiarkan Mao lepas
" Eh.... Itu tidak sopan kan "
" Bagaimana bisa seorang laki-laki berpendidikan melakukan itu "
" Untung saja bukan anakku "
" Jika anakku akan aku hukum dia "
Para pengunjung berbisik melihat laki laki yang memeluk seorang wanita cantik di depan umum
" Sean aduh... Sayang "
Ayu mencoba mengambil Sean dari Mao eh.. tapi dia tidak tau caranya
" Anda memang tidak berubah sejak kecil tuan muda "
Mao berkacak pinggang
" Ayolah Mao boleh ya "
Sean memeluk Mao dari samping
" Kamu kan tau aku keras kepala "
Sean melepaskan Mao
" Saya kan yang mengasuh anda "
Mao mencubit pipi Sean
" Makanya bolehin ya "
Sean menunjukkan wajah memelasnya
" Tuan... Anda itu sudah besar "
Mao memukul kepala Sean
" Aku ini masih kelas lima tau "
Sean menghentakkan kakinya
" Anda meragukan untuk di sebut kelas lima"
Mao berjalan meninggalkan Sean
" Ayolah Mao "
Sean menahan Mao lagi
" Baik baik... Tunggu sampai saya panggil "
Mao mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Sean
" Yes "
Sean terlihat senang
" Mao itu siapa nak "
Ayu bertanya
__ADS_1
" Dia yang ngerawat Sean mulai kecil ma "
Sean menjawab
" Usianya lebih tua lho dari mama "
Sean duduk di sebelah ayu
" Benarkah "
Ayu terlihat terkejut
" Iya ma "
Sean mengiyakan
" Tapi wajahnya kok masih muda ya "
Ayu memegang wajahnya sendiri
" Kan dia siluman... Siluman yang up normal"
Sean membatin
" Ngak tau tuh "
Sean mengedikkan bahunya
" Oalah ibu asuhnya ternyata "
" Tapi masih muda ya "
" Wajahnya juga masih cantik "
Para pengunjung mulai berprasangka baik kepada Sean dan keluarganya
Tidak lama setelah itu Mao keluar dengan menggendong Aniel
" Aniel "
Sean berdiri
" Siniin Aniel ku "
Sean mengambil Aniel dari gendongan Mao
" Kakak Aniel ngantuk "
Aniel memeluk Sean
" Kamu tidur aja di sini "
Sean duduk dan Aniel di nina bobokan di atas pangkuan Sean
" Lebih baik di ruang rawat saja "
Mao memberi saran
" Tapi jauh jika ke atas "
Sean menolak
" Kan bisa di sini tuan "
Mao menunjuk ruang rawat di sebelah ruang operasi
" Okey "
Sean membawa Aniel masuk dan menidurkan Aniel di atas bankar
" Kakak jangan tinggalin aku ya "
Aniel memegang tangan Sean
" Kakak di sini sampai kamu bangun "
Sean mencium tangan Aniel
" Ngak bisakah kalau Aniel di peluk "
Aniel meminta
" Boleh "
Sean naik ke atas bankar
" Tidurlah adik kecilnya kakak yang paling cantik "
Sean meletakkan Aniel di atas lengannya dan memeluk Aniel dengan lembut
" Nanti mama bangunkan "
Ayu memakaikan selimut untuk Sean dan Aniel
" Papa sekarang Sean baik baik aja , papa harus cepetan sadar ya , Sean sama Aniel udah nungguin papa "
Sean memejamkan matanya sambil mengingat masa dimana dia masih di peluk dan di nina bobokan dengan hangat oleh Sbastian
Dua jam sudah berlalu dan waktunya Aniel untuk melaksanakan operasi yang telah di jadwalkan
" Tapi Aniel masih tidur "
Sean sedari tadi masih sibuk membelai lembut kepala Aniel
" Itu lebih baik "
Mao menyuntikkan obat tidur
" Saya akan membawa nona "
Mao menggendong Aniel keluar ruangan
" Tunggu aku "
Sean turun dari bankar dan mengikuti langkah Mao
" Mao "
Sean menarik lengan Mao
" Tenang saja tuan muda , anda hanya perlu berdoa "
Mao mengusap kepala Sean
" Kakak tunggu ya "
Sean mencium pipi Aniel dan menatap Aniel yang di bawa Mao masuk ke dalam ruang operasi
" Jangan takut "
Ayu memeluk Sean yang berdiri tepat di depan pintu operasi
" Ayo duduk "
Ayu mendudukkan Sean di kursi tunggu dan membelai lembut kepala putranya
" Aniel baik baik aja kan ma "
Sean memeluk pinggang ayu
" Iya... Kamu jangan khawatir "
Ayu memeluk Sean yang terlihat pucat dan berkeringat dingin
" Jika Sbastian di sini maka aku yakin dia yang paling takut "
Pak Sam membuka pembicaraan
" Memang tuan Sbastian itu bagaimana jika ada seperti ini "
Bram bertanya
" Dulu saat Sean di operasi , Sbastian bergetar hebat sampai-sampai dia pingsan "
Pak Sam membuat Sean terkekeh
" Papa kan memang lemah jika menyangkut keluarganya "
Sean menjawab
" Kami juga kan "
Pak Sam membelai kepala Sean
" Iya "
Sean mengangguk
" Papa tau , dulu papa Sbastian itu sayaaang banget sama Sean "
Sean merebahkan kepalanya di atas pundak ayu
" Pas Sean jatoh , Sean di marahin sama papa , tapi abis itu Sean di peluk "
Sean menatap Bram yang terlihat mendengarkannya
" Sean dulu pernah sakit demam , terus papa ada sama Sean sampai Sean sembuh"
Sean memejamkan matanya
" Papa juga pernah peluk Sean kayak gini , terus papa bilang Sean ngak boleh nangis kan Sean cowok "
*Syut
Luruh sudah air mata Sean
" Terus papa bilang apa lagi sama Sean "
Ayu menghapus air mata Sean dengan lembut
" Papa bilang Sean dan Aniel itu kehidupan papa "
Sean menerawang jauh saat dirinya di peluk dengan hangat oleh Sbastian
" Tapi ma , kalau papa bilang Sean dan Aniel kehidupan papa , terus kenapa papa ngak bangun-bangun "
Sean menatap ayu
" Kenapa papa Sean ngak pernah sekalipun temuin Sean selama ini , seenggaknya di dalam mimpi "
Sean mengedipkan matanya
" Kamu tau nak "
Pak Sam membelai lembut kepala Sean
" Saat kamu koma dulu , papamu selalu ada sama kamu "
Pak Sam tersenyum
" Kakek memang ngak lihat sendiri , tapi kata Aini papa selalu duduk di samping kamu saat dia dapat waktu istirahat "
Pak Sam menjeda kalimatnya
" Bahkan waktu paman John meminta papa untuk istirahat bekerja papa duduk di samping kamu hingga waktu untuk beristirahatnya selesai... Jadi sekarang biarkan papa tidur dulu "
Pak Sam tersenyum
" Kakek benar , biarkan papa istirahat dulu hingga adik sembuh , kan nanti kasihan papa kalau baru sadar terus ngelihat adek kayak gitu "
Ayu mencium pucuk kepala Sean
" Mama benar , papa dan mama ada di sini untuk kamu , jadi jangan sedih ya "
Bram mencium kening Sean
" Sean masih ngak percaya kalau ini orang yang udah ngelahirin Sean "
Sean tersenyum dan memeluk ayu erat
" Mama bahagia kalau ini putra ketiga mama yang paling mirip sama papa "
Ayu membalas pelukan hangat Sean
Lama... Dua jam lebih terlewati, itu sangatlah lama untuk Sean menunggu pintu operasi tidak kunjung terbuka
" Kenapa belum ada yang keluar ma "
Sean berdiri dari duduknya
" Tenanglah nak "
Bram berdiri
" Tapi ini udah lama pa "
Sean menepis tangan Bram dan berjalan menuju pintu operasi
" Mas "
Ayu memberi kode agar membiarkan Sean untuk sendiri
" Kenapa kamu lama banget "
Sean menyandarkan kepalanya di tembok yang tepat berada di samping pintu operasi
Sean berjalan kesana kemari , mondar mandir , duduk lalu berdiri , Sean menggigit kukunya , mengacak rambutnya frustasi menunggu pintu operasi di buka
" Mama "
Terdengar suara Tiara memanggil
" Kenapa ma "
Reyhan bertanya
" Apa adiknya sudah selesai "
Fadlan bertanya
" Belum , adik alin belum keluar "
Ayu menjawab
" Dia jadi panik begitu "
Reyhan memperhatikan Sean
" Reyhan dia itu adikmu "
Ayu membawa mutiara ke dalam pangkuannya
" Iya sih ma ha..... "
Reyhan menghela nafas panjang
" Yang di pertanyakan itu kenapa kalian di sini "
Bram membuat mereka bertiga mematung seketika
" A..adik yang minta , dia bilang mau ketemu mama "
Reyhan menunjuk mutiara
*Ting
Terdengar suara lampu ruang operasi berganti warna
" Mao Mao , bagaimana Aniel "
Sean langsung menyambut Mao
" Astaga tuan muda , saya kaget "
Mao terkejut melihat Sean yang sudah ada di depan pintu
" Gimana Aniel "
Sean tidak memperdulikan kalimat Mao
" Operasi berjalan dengan lancar , dan sekarang nona muda masih dalam pengaruh bius "
Mao membelai lembut kepala Sean
" Alhamdulillah "
Sean memeluk Mao dengan erat dan menelusupkan wajahnya di pundak Mao
" Anda menangis "
Mao membalas pelukan Sean
" Makasih ya Mao "
Sean berbisik
" Iya tuan muda , tapi bukan hanya saya yang harus di beri ucapan terimakasih "
Mao menepuk nepuk punggung Sean pelan
" Itu nanti "
Sean membalas kalimat Mao dengan bisikan
" Tuan mudaku memang masih kecil ya "
Mao melepaskan pelukan Sean
*Cup
Mao mencium kening Sean dan mengusap air mata Sean
" Makasih "
Sean memegang tangan Mao yang masih ada di pipinya
__ADS_1
" Iya "
Mao tersenyum