
" Ayah "
Neve menahan tangan Sean
" Iya "
Sean mengusap kepala Neve
" Ayah mau kemana "
Neve bertanya
" Ayah akan berbincang dengan kakak sebentar , nanti kalau Neve bangun , Neve tinggal cari ayah "
Sean menjawab
" Di mana "
Neve bertanya
*Puk
Sean mengeluarkan seekor kadal dari dalam dimensinya
" Saya sedang tidur siang lho "
Kadal kecil itu terlihat marah
" Tidurlah di sini , jaga anak anakku "
Sean menempatkan si kadal di samping Neve
" Iya iya "
Kadal itu mengangguk
" Geo... Jika kau lalai sedikit saja maka kepalamu akan ku jadikan perhiasan di rumah"
Sean memelototi kadal kecil yang di panggil Geo
Bagi yang lupa , Geo itu kadal yang lahir dari telur sama si ayam , dan menghilang dari sekian banyak episode
*Brak
Kaca jendela di tabrak
" Grande "
Sean terkejut
" Tuan , anda kembali "
Seekor naga raksasa masuk ke dalam dengan menembus tembok
" Apa kabarmu Grande "
Sean mengusap kepala Grande
" Saya baik tuan , saya merindukan anda "
Grande menundukkan leher panjangnya dan membiarkan Sean mengelus kepalanya
" Bisakah aku minta tolong "
Sean meminta
" Apapun untuk tuanku "
Grande menundukkan kepalanya
*Syut
Ukuran grande menyusut dan berubah menjadi seorang laki-laki muda
" Kau masih bisa berubah ya "
Sean berkacak pinggang
" Ini karena ada tuanku , jika tuanku tidak ada , maka grande ini tidak akan bisa mengganti wujudnya "
Grande membungkuk hormat
" Hm... Kalau begitu aku pergi "
Sean mengusap kepala Neve yang sudah terpejam lalu berdiri
" Kalau anak-anak mau menemui ayahnya , antarkan dia , jika ada yang menghalangi , potong saja tangannya "
Sean berjalan keluar di ikuti putra putranya
" Saya mengerti tuan "
Grande membungkuk hormat
" Ayah tidak merindukan Geo "
Geo yang masih berwujud seekor kadal berubah menjadi anak kecil yang selalu dia tunjukkan saat bermain dengan Aniel
" Hahaha , kau sudah besar anak nakal "
Grande membawa Goe ke dalam gendongannya
Bersama Sean
" Dimana ruang rapat "
Sean bertanya
" Itu ayah , ruangannya di ujung "
Aine yang berjalan di belakang Sean menunjuk ruang rapat
" Hem... Dimana istri kalian , ayah tidak melihatnya sama sekali "
Sean bertanya
" Mereka pasti ada di taman , biasanya mereka akan menghabiskan waktu di sana sambil menunggu kami "
Deuxie menjawab
" Hm... Mereka tidak menghabiskan waktu dengan anak anak "
Sean bertanya
" Mereka menghabiskan waktu dengan anak-anak setiap sore , jika pagi sampai siang mereka akan menghabiskan waktu dengan tumpukan buku dan kertas "
Aine menjawab
" Sore saja "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Iya "
Aine mengangguk
" Berapa lama "
Sean bertanya
" Kira-kira dua putaran jam pasir "
Aine menjawab
" Hem... Hanya dua jam , sikap yang buruk "
Sean berhenti di depan pintu masuk ruang rapat
*Griet
Pintu di buka oleh para pengawal dan di dalam sana terlihat semua perangkat istana berdiri menyambut kedatangan raja mereka
" Ayah silahkan duduk di kursi ujung "
Aine menunjuk kursi yang di siapkan untuknya
" Aku mau duduk di tengah , dan di mana pensil yang aku minta "
Sean menatap Aine
" Baik ayah "
Aine maju ke depan di ikuti kedua saudaranya dan menyiapkan sendiri tempat duduk Sean
Setelah Sean duduk di tengah-tengah Mentri , Aine mendudukkan dirinya di ikuti semua orang di sana
" Baiklah , rapat kita mulai , silahkan "
Aine mempersilahkan
Rapat berlangsung lama , semua Mentri mengajukan keluhannya
Beberapa saat setelah Aine menjawab pertanyaan menterinya
*Syut... Tak
Sebuah bulpoin bulu tertancap di depan Aine dengan indah
*Glup
Aine menelan ludahnya dengan susah payah
" Aku salah di mananya "
Aine membatin
" Ekhem... "
Aine menarik semua perhatian dari menterinya dan kembali berbicara dengan tegas
*Tak
Satu bulpoin bulu
*Tak
Bulpoin bulu yang ketiga
*Tak
Bulpoin bulu yang ke enam
*Tak
Bulpoin bulu milik Sean yang terakhir tertancap di pegangan kursi Aine
" Kemarikan bulpoinnya "
Sean meminta
" Lancang kau "
Salah satu Mentri di sana berdiri memelototi Sean
" DIAM "
Suara Aine menggelegar membuat semua orang terkejut
*Tak
Wadah bulpoin melayang tepat di bahu kanan Aine
" Aine Rudeus "
Sean menatap Aine dengan tajam
" Iya ayahanda "
Aine menyahuti
" Kau sadar dengan kesalahanmu "
Sean meletakkan kepalanya di atas tangannya
" Iya ayahanda , Aine sadar "
Aine mengangguk
" Bagus , biarkan saudaramu mengambil keputusan sesuai bidang mereka , ayah tidak mengajarimu untuk mengambil alih semua pekerjaan "
*Griet
Sean berdiri
" Iya ayah "
Aine mengangguk
" Kamu hanya perlu mengawasi adik adikmu bekerja , biarkan adik adikmu mengatasi tanggung jawab mereka sendiri"
Sean berjala menuju pintu
*Brak
Sean membuka pintu ruang rapat dengan tangannya sendiri
" Baik ayah , Aine mengerti "
Aine mengangguk
" Dan anak-anak "
Sean berhenti di tengah-tengah pintu
" Kami ayah "
Semua putra Sean berdiri
" Jangan tiru kelakuan kakak kalian "
Sean berjalan keluar
" Baik ayahanda "
Semua putra Sean membungkuk memberi hormat untuk Sean
" Dan anak-anak "
Sean berbalik melihat putra putranya
" Iya "
Mereka semua menatap Sean
" Potong leher orang yang coba menghalangi"
Sean tersenyum dan berbalik lalu pergi
" BAIK AYAH "
Aine dan saudaranya berkata dengan lantang dan pasti
Setelah Sean menghilang
" Huft... Aku sudah lama tidak di marahi ayah"
Aine duduk dan mengelus dadanya
" Hahaha , aku pertama kali ngerasa deg degan di depan ayah "
Sixieme tertawa
" Hahaha ayah menyeramkan "
Trois ikut tertawa
" Dulu ayah lebih seram kalau masalah pendidikan "
Quatri mengiyakan
" Aku tau , sampai sampai kak Aine dulu melarikan diri "
Cinquieme berkata dengan nada bercanda
" Hahahaha bahkan kak Doux bersembunyi di dalam lemari "
Septi menambahkan kalimat
" Tapi aku suka ayah saat dia mengayunkan pedangnya "
Huitieme mengeluarkan pendapat
" Iya iya , aku tau itu , apalagi saat berperang dengan musuh "
Sixieme menyahuti
Semua saudara Aine berbincang dan tertawa hingga tidak mengingat keberadaan para Mentri
" Aku rasa ayah benar , kakak... aku akan menerima tanggung jawabku "
Atri mengangkat suara
" Kau mau menjadi pengurus militer "
Aine terkejut
" Iya , aku akan mengemban tanggung jawab itu "
Atri mengangguk dengan pasti
" Anak anakmu "
Aine bertanya
" Akan aku bawa kemanapun aku pergi , untuk anak anakku akan aku latih agar mereka menjadi kuat seperti ibunya "
Atri mengepalkan tangannya
" Bagus , militer sudah memiliki pemimpin , apa ada yang tidak setuju "
Aine menatap para menterinya
" Maaf yang mulia , tapi saya tidak setuju jika pangeran Quatrième Rudeus yang menjadi pimpinan militer istana "
Salah satu Mentri berdiri
" Oh... Lalu apa yang tidak kamu sukai "
Aine bertanya
" Maaf yang mulia , karena anak-anak pangeran Quatrième bukanlah anak sah , saya minta agar pangeran Quatrième Rudeus kembali menikah dan memiliki anak yang sah "
Mentri itu mengajukan permintaannya
__ADS_1
*Syut
Atri tiba-tiba menghilang dari pandangan semua orang
*Brak
" ATRI "
Aine menggebrak meja dan berteriak memanggil pangeran Atri
" Aku tidak suka anak anakku di hina "
*Sring
Atri berada di tengah-tengah pintu yang terbuka dan kembali memasukkan pedangnya
" Ingat kalian semua , siapa yang menentang keputusan raja dan menghalangi jalanku , akan ku potong tangan kalian "
Atri berjalan keluar
" AAARRRGGGG TANGANKU "
Mentri yang tadi menghina Atri , kini sudah meletakkan lengan kirinya di atas meja dengan banyak lumuran darah
" Okeh itu teriakan kesakitan yang telat "
Trois membatin
" Atri... ATRI TUNGGU "
Aine berlari meninggalkan tempat rapat
" Ingat , siapapun yang berbuat salah , maka harus menerima akibatnya "
Douxi berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan
" Seharusnya kau lega , kak Atri itu bisa saja memotong lidahmu "
Huitieme berdiri
" Karena kau masih memiliki anak dan istri jadi kak Atri hanya memotong tanganmu "
Sixieme mengikuti putra ke delapan , Huitieme
" Iya , jangan pikir kau sudah bebas dari hukuman , kau akan mendapatkan lebih nanti , jika kau masih memiliki masalah maka kepalamu akan hilang "
Septième ikut memanas manasi
" Ingat kalian semua , kami tidak akan mengampuni seorang penghianat , aku kepala keadilan istana akan menghukum mereka yang berkhianat seberat mungkin"
Troisieme berdiri
" BAIK YANG MULIA , KAMI MENGERTI "
Semua Mentri berdiri dan membungkuk hormat saat semua pangeran menggalakan tempat mereka
Bersama Sean
" Hem... Hem.... Hm... Hm... "
Sean bersenandung kecil sambil mengelilingi istana
" Ayaaaaah "
Suara Neve kecil membuat Sean terkejut
*Grep
Neve langsung saja memeluk kaki Sean
" Salam tuan "
Geo memberi salam
" Sudah nyenyak tidurnya "
Sean mengusap kepala Neve
" Sudah hehe "
Neve mengangguk
" Neve lapar tidak "
Sean membawa Neve ke dalam gendongannya
" Neve boleh minta camilan "
Neve meminta
" Boleh "
Sean tersenyum
" Kita makan di taman boleh "
Neve meminta
" Boleh "
Sean berjalan meninggalkan Geo
" Tunggu tuan "
Geo berlari menyusul langkah kaki Sean
" Di mana dapurnya "
Sean bertanya
" Ngak tau "
Neve menggeleng
" Ayah "
Terdengar suara Atri memanggil Sean
Sean menoleh ke depan dan ke belakang juga ke segala arah
" Eh... Tuan "
Geo menarik celana Sean
" Ya "
Sean menoleh
" Itu kah yang anda cari "
Geo menunjuk Atri yang sedang duduk di atas atap yang cukup tinggi
" Kenapa anak itu di sana "
Sean berkacak pinggang
" TURUN "
Sean berteriak
*Syut
Atri melompat turun ke bawah tanpa pengaman
" Dasar kakakmu itu "
Sean melihat Atri yang berlari dan menghilang
" Kakak hebat bisa naik ke sana "
Neve menatap atap yang di naiki Atri
" Nanti akan ayah tunjukkan sesuatu yang hebat"
Sean mengusap kepala Neve
" Sesuatu apa "
Neve bertanya
" Sekarang dimana tempat tinggal Neve , ayah yakin kakak pasti memberikan rumah untuk Neve "
Sean berjalan dan mengusap kepala Neve
" Ada , tempat Neve ada di belakang sana , kayak adik adik yang lain , tempat Neve yang ada di ujung "
Neve menunjuk belakang mansion Aine
" Apa adik pangeran dan putri juga mendapat tempat sendiri "
Sean bertanya
" Iya , mereka punya tempat sendiri kayak Neve "
Neve mengangguk
" Ya sudah , ayo pergi ke rumah Neve saja , ayah akan buatkan banyak camilan untuk Neve "
Sean berjalan keluar dari bangunan
" Iya "
Neve mengangguk
" Hm... Bagaimana kalau ke rumah Neve sambil terbang "
" Memang bisa "
Neve bertanya
" Bisa dong "
Sean menaik turunkan alisnya
*Syut
Sean tiba-tiba melompat ke atas dan membuat Neve terkejut
Sean melompati beberapa bangunan untuk sampai di ujung bangunan tertinggi di istana , yaitu menara lonceng Rudeus
" Neve lihat itu "
Sean mengusap kepala Neve yang tenggelam di pundaknya
" KEREEEEEN "
Neve terkejut melihat banyak sekali bangunan yang awalnya besar kini menjadi agak kecil
" Lihat ayah , itu kakak Aine "
Neve menunjuk taman di bawa
" Iya , kakak Aine dengan adik kecil "
Sean tersenyum
" Ayah lihat , itu rumah Neve "
Neve menunjuk sebuah bangunan yang terlihat berbeda
" Rumah Neve di sana "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Neve "
Sean memanggil
" Iya "
Neve menoleh
" Kalau Neve di rumah , siapa yang merawat Neve "
*Syut
Sean melompat ke atap bangunan yang lain
" Ada dua kakak pengasuh "
Neve menjawab namun tatapannya masih melihat sekitar
" Ada berapa orang yang membuatkan makanan untuk Neve "
Sean berhenti di gerbang masuk istana dan berdiri di atas menara pengawas
" Ya kakak pengasuh , tapi kalau kakak ada di sana , nanti pengasuh bertambah banyak , bukan cuma dua "
Neve menjelaskan
" Hem... Ada berapa banyak pengasuhnya Neve "
*Syut
Sean melompat keluar istana
" Banyak ayah , ada dua puluh kakak pengasuh perempuan , ada lima belas pengasuh laki-laki "
Sean menjawab
" Kamu ingat semua "
Sean terkejut
" Iya , kakak sering memuji Neve karena itu "
Neve tersenyum
" Anak pintar "
Sean mengusap kepala Neve
Setelah beberapa saat , akhirnya Neve dan Sean berada di pasar yang letaknya lumayan jauh dari istana
" Ayah , ayah mengajakku kemari "
Neve terkejut
" Tentu , kenapa tidak "
Sean tersenyum
" Woah menakjubkan itu apa ayah "
Neve menunjuk banyak hal
Sean membawa Neve bermain dan menghabiskan waktu siang di pasar
Di dalam istana
" Yang mulia "
Salah seorang penasehat istana datang menemui Aine
" Fidele "
Aine terkejut
Fidele : orang yang sudah mengikuti Aine sejak kecil
Ibu Fidele sendiri adalah ibu asuh para pengeran dan Fidele tumbuh besar dengan kasih sayang raja Tian sebagai ayah
" Ada apa "
Deuxie bertanya
" Ampun yang mulia , bolehkan saya menanyakan sesuatu "
Fidele bertanya
" Tentu saudaraku "
Aine mengangguk
" Bukannya saya meragukan anda , tapi saya penasaran kenapa anda begitu mudah percaya dengan tuan yang mengajak pangeran muda "
Fidele bertanya dengan hati-hati
" Aku tau karena si kecil yang tidak pernah keluar dari rumah , langsung berlari masuk ke dalam pelukannya apalagi memanggilnya ayah "
Aine tersenyum
" Dan lagi gelang batu biru yang aku pakai menjadi tanda bukti , gelang ini bergetar dan hendak lepas dari tanganku saat ayah datang "
Aine menjelaskan
" Jadi gelang itu hanya bereaksi dengan yang mulia raja Tian "
Fidele memastikan
" Iya , kau benar , lagipun jika dia bukan ayah , maka auranya saat memutus tangan kanan kepercayaan Deuxie.... "
Perkataan Aine terhenti
" Tidak akan se menyeramkan itu "
Deuxie menyambung kalimat Aine
" Dan juga , naga Grande tidak akan langsung datang sampai memaksakan dirinya menembus dinding "
Trois memberitahu
" Itu butuh energi yang besar "
Cinque menunjuk Trois
" Apalagi rumah naga Grande sangat jauh dari sini "
Cinque menyambung kalimat Trois
" Kau benar , rumah naga Grande ada di hutan ujung Utara dan itu membutuhkan satu bulan dengan kecepatan penuh "
Deuxi mengangguk
" Saya percaya sekarang "
Fidele mengangguk
Percakapan terjadi hingga menjelang larut malam , dan Sean baru saja kembali dari pasar bersama Neve yang tertidur di pelukannya
" Ayah "
Aine menyambut Sean di gerbang utama
__ADS_1
" Dimana anak-anak kalian "
Sean bertanya
" Anak anak kami sudah kembali ke kediamannya masing-masing "
Aine menjawab
" Hem... "
Sean berjalan masuk di ikuti Aine dan pangeran lainnya
" Ayah "
Atri memanggil
" Iya "
Sean menyahuti
" Atri mau berbicara dengan ayah , bisakah "
Atri meminta
" Iya "
Sean mengangguk
" Ayaaaaah "
Terlihat kedua anak Atri berlari dari kejauhan
" Kenapa sayang "
Atri menyambut kedua anaknya
" Bolehkah kami tidur dengan kakak hari ini"
Putra Atri meminta
" Boleh "
Sean menyahuti
" Huwaaa makasih kakek "
Kedua putra Atri memeluk kaki Sean
" Kalian pernah tidur dengan kakak "
Sean bertanya
" Pernah , kami pernah tidur di taman siang hari"
Putri Atri menjawab
" Kalau kalian mau tidur dengan kak Neve apa ayah "
Sean bertanya
" Mau dua duanya "
Kedua putra Atri memeluk kaki Sean
" Baiklah kita tidur sama-sama "
Sean tersenyum
" Dimana kamarnya "
Sean bertanya
" Mari ayah "
Atri berjalan terlebih dahulu di ikuti oleh putra putrinya
Setelah sampai di mansion Neve
" Dimana para pelayan "
Sean tidak melihat adanya aktivitas pelayan dan pengawal
" Mungkin mereka sudah istirahat "
Atri memberi kemungkinan
" Tapi tuan muda mereka belum pulang "
Sean berhenti dan memperhatikan sekeliling
" Saya akan mencari mereka "
Atri bergegas pergi
" Atri "
Sean memanggil
" Iya ayah "
Atri berbalik
" Ayah tau kamu menyembunyikan sesuatu"
Sean menatap Atri dengan tajam
" T..tidak ayah , Atri tidak menyembunyikan apapun "
Atri mengelak
" Sudahlah , dimana kamar Neve "
Sean bertanya
" Mari ayah "
Atri berjalan terlebih dahulu
Setelah melewati beberapa lorong
Di kamar Neve
" Ini kamar macam apa "
Sean terkejut melihat kamar Neve yang berantakan dan tidak terawat
" Biar Atri bersihkan "
Atri mulai memunguti pakaian dan perabotan yang berantakan
" Siapkan saja tempat tidurnya "
Sean membuat jalan agar cucunya bisa mengikutinya
" Iya ayah "
Atri meletakkan semua yang dia bawa dan mulai membersihkan tempat tidur Neve
Setelah selesai di bersihkan
" Atri "
Sean memanggil
" Iya ayah "
Atri yang sedang membuka lemari kini menoleh
" Panggil Aine , apapun yang terjadi dia harus kemari sekarang "
Sean memerintahkan
" Tapi ayah , ini malam hari mungkin kakak..."
Atri belum selesai berbicara dan Sean menyelanya
" Ingat Atri , kau pimpinan sepuluh panglima istana mulai kau mengambil keputusan di ruang rapat "
Sean mengingatkan Atri
" Ayah tau "
Atri terkejut
" Kau harus tegas dan jangan menjadi lemah "
Sean mengingatkan
" Baik ayah "
Senyuman Atri terbit dan membuat semangat Atri bangkit
Atri keluar dengan tergesa-gesa dan suara langkah kakinya perlahan menghilang dari pendengaran
"Ayo tidur "
Sean meletakkan Neve dan kedua cucunya dengan berdampingan
" Kakek punya cerita tidak "
Terre putri Atri bertanya
" Cerita apa "
Sean mengambil membuka beberapa lemari yang ada di sana guna mencari selimut bersih
" Cerita ibu peri yang cantik sekali "
Terre memberitahu
" Baiklah sayangku yang kecil , ayo kita mulai bercerita "
Sean memakaikan selimut tebal dan hangat untuk ketiga makhluk kecil mungil di hadapannya
Di tempat Atri
" Anda tidak boleh masuk "
Para penjaga menghalangi jalan Atri
" Maka aku akan melewati kalian "
Atri bergerak dengan kecepatan penuh hingga dirinya terlihat menghilang di depan pandangan pada penjaga
" Kalian terlalu lamban "
Atri berdiri di pintu masuk dan langsung berlari masuk ke dalam kediaman
Atri berlari dan melumpuhkan setiap maid dan penjaga yang menghentikan langkahnya
Hingga Atri berhenti tepat di depan pintu Aine yang terdengar sangat sunyi
" KAK AINE "
Atri berteriak
*Hening.....
Tidak ada sahutan dari dalam
" FILS AINE RUDEUS , AYAH MENCARIMU SEKARANG "
Atri berteriak semakin kencang
*Brak
Aine keluar dengan pakaian yang berantakan
" Maaf aku di kamar mandi "
Aine terlihat sangat acak acakan dan tidak terlihat seperti seorang raja
" Kau di panggil ayah di kamar Neve sekarang , ayah bilang kau harus datang sekarang "
Atri memberitahu pesan dari Sean
" Iya , aku akan bersiap "
Aine kembali masuk dan menutup pintu
Tidak lama kemudian
" Ayo "
Aine keluar dengan pakaian yang rapih
" Ayo "
Atri mempersilahkan Aine untuk berjalan terlebih dahulu
Atri membawa Aine berlari dengan kecepatan penuh agar cepat sampai di hadapan Sean
Di kamar Neve
" Tamat "
Sean menepuk kepala Terre
" Jadi perinya ketemu ibu peri "
Terre bertanya
" Iya , perinya bertemu dengan ibu peri dan hidup bahagia selamanya bersama keluarganya"
Sean mengangguk
" Aku mau ketemu ibu "
Terre menggenggam tangan Sean
" Kakek juga dulu begitu , tapi karena ibu angkat kakek , kakek jadi merasa terobati "
Sean mengusap kepala Terre
" Apa nanti Terre punya yang sepertinya ibunya kakek "
Terre bertanya
" Dengar ya sayang , cinta itu dari hati , tidak ada yang akan bisa menggantikan posisi orang itu , tapi kita bisa memberi sebuah ruang lain untuknya di sini "
Sean menunjuk dada cucu perempuannya
" Terra ngerti kek "
Terra mengangguk
" Sekarang tidurlah , ibumu akan selalu bersamamu "
Sean mengusap mata Terra
" Malam kakek "
Terra tersenyum
" Malam cantik "
Sean tersenyum
*Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan pintu
" Aine "
Sean tersenyum
" Iya ayah "
Aine berdiri di pintu dan tidak masuk
" Aine , siapa yang mengurus mansion Neve"
Sean membenarkan posisi cucu dan putranya lalu berdiri
" Aine menyerahkannya kepada tangan kanan Aine "
Aine menjawab
" Siapa tangan kananmu "
Sean bertanya
" Akan Aine panggilkan "
Aine beranjak dari tempatnya
" Aine "
Sean memanggil
" Iya ayah "
Aine berbalik
" Panggil semua yang melayani di sini dan suruh mereka berdiri di hadapanku "
Sean memerintahkan
" Iya ayah "
Aine beranjak pergi
Tidak lama setelah itu , seluruh pelayan di sana berdiri di hadapan Sean
" Siapa yang bertanggung jawab atas keseharian pangeran Neve "
Sean memunguti pakaian sambil bertanya
*Hening....
Tidak ada yang menjawab
" Kalian tuli "
Aine yang memelototi semua orang di sana
" Saya yang mulia "
Dua orang maid berjalan ke depan
" Kalian berdua ini apa jabatannya "
Sean meletakkan pakaian kotor di ujung kamar
__ADS_1
" Jawab "
Aine membentak karena mereka berdua tidak kunjung menjawab