
" Ini tebuskan obat untuk Sean di apotek sekarang "
Sbastian memberikan catatan obat untuk Sean yang di berikan dokter Sisil
" Baik tuan "
Jawab asisten John
" Segera kembali "
Titah sbastian
" Baik tuan "
Jawab asisten John
Asisten John keluar untuk menebus obat Sean di apotek
" Bawakan pakaian ganti Sean kemari , kompres , buatkan bubur dan buatkan susu original saja "
Titah sbastian
" Baik tuan "
Sitter azza berbalik dan keluar untuk menyiapkan semua yang di perintahkan oleh sbastian
Tak lama sitter azza kembali dan di sana sudah ada asisten John berdiri di samping Sean berbincang bersama sbastian
" Tadi dokter Sisil di jemput dokter Brian , biasalah malmingan "
Tiba tiba sbastian melenceng dari pembicaraan yang semula membicarakan obat dan saat sitter azza masuk sbastian membicarakan dokter Sisil
" Hah "
Asisten John kebingungan , padahal dirinya sama sekali tidak ingin menyinggung masalah itu lagi
" Kan dokter Brian sama dokter Sisil pacaran , kamu lupa ya , kenapa aku suruh kamu jemput dokter Sisil , karena jika aku menyuruh Brian yang menjemput, maka aku jamin , akan lama sampai nya "
Kata sbastian sambil mengusap kepala Sean yang sedang tidur
" Taruh saja di meja "
Kata sbastian membuat asisten John menoleh ke belakang
" Hah azza "
Asisten John terkejut melihat sitter azza di ambang pintu membawa nampan
Asisten John langsung melihat ke arah sbastian dan berkata dalam hati
"Oh... Tuan sbastian ku sangat perhatian , tuan sbastian sangat baik , terima kasih tuan sbastian , kau yang aku cintai , i love you so much tuan "
Di dalam hati asisten John sangat senang , karena tuannya membantunya menjelaskan hal itu kepada sitter azza secara tidak langsung agar kesalah pahaman mereka tersudahi
Keesokan harinya sbastian seperti biasa , di bangunkan oleh Sean
Namun bukan dengan tepukan kecil , namun karena tangisan Sean
" Sean kamu kenapa "
Tanya sbastian terkejut
" Apapa , ean atut "
( Papa , Sean takut )
Sean berkata sambil sesenggukan
" Kamu mimpi buruk ya "
Tanya sbastian
" Ia "
( Iya )
Sean menjawab
" Udah gapapa , jangan nangis lagi , kita ganti baju terus sarapan , minum obat , lalu baca buku . Adek mau ??"
Tanya sbastian
" Au "
Jawab Sean
" Baik , ayo kita ganti baju lalu makan "
Sbastian menggendong Sean dan menyenderkan kepala Sean di pundaknya
"Adek mau pakek baju warna apa "
Tanya sbastian kepada Sean
" Bilu "
( Biru )
Jawab Sean menunjuk pakaian berwarna biru dengan motif awan putih kecil
" Baiklah , kita ganti baju "
Kata sbastian melepas pakaian dan memakainya kepada Sean
" Ean dak andi "
( Sean ngak mandi )
Tanya Sean melihat sbastian
" Adek kan sakit , makanya ngak mandi "
__ADS_1
Jelas sbastian
" Anti ean au "
( Nanti Sean bau )
Kata Sean
" Ngak papa , kan adek lagi sakit , kalo adek lagi sakit terus mandi , nanti adek makin sakit "
Jelas sbastian sambil berjalan keluar kamar
" Apapa dak andi "
( Papa ngak mandi )
Tanya Sean
" Udah , tadi papa mandi terus tidur bentar , terus adek nangis jadinya papa bangun "
Jelas Sean mengelus
Sean kembali merebahkan kepalanya ke bahu sbastian dan menutup matanya
Saat sudah sampai di dapur , sbastian memangku Sean dan menyuapi Sean untuk makan bubur
" Ayo dek makan dulu "
Sbastian mendudukkan Sean bersandar di lengan sbastian
" Adek , makan dulu , abis itu minum obat terus tidur "
Sbastian berhasil mendudukkan Sean meskipun terlihat sedikit malas
" Masih sakit kak "
Tanya lili
" Adek gua ini bego apa gimana sih , orang masih kelihatan pucet gitu masih di tanya "
Gerutu Leon dalam hati
" Iya "
Jawab sbastian pendek
" Ngapain dia di sini "
Mama yang tiba tiba datang langsung mencibir Sean
" Udah , ayo Mama duduk terus makan "
Titah papa sbastian
Mama sbastian hanya menurut dan duduk di samping papa sbastian
" Ayo adek satu lagi "
" Uah apapa "
( Udah papa )
Sean mencoba bernegosiasi dengan sbastian
" Lagi dong "
Sbastian menyendok kan lagi sesendok bubur
" Ait apapa "
( Pait papa )
Kata Sean
" Biar cepat sembuh , ayo dikit lagi ya "
Paksa sbastian
Dan akhirnya Sean makan hanya setengah mangkuk bubur
" Apapa akan ulu "
( Papa makan dulu )
Kata Sean
" Iya , papa makan dulu ya "
Sbastian mengelus kepala Sean dan mendudukkannya di kursinya sendiri
Setelah sbastian menghabiskan makanannya , sbastian mencuci tangannya terlebih dahulu
Sean yang sedang meringkuk di atas kursi meja makan merasa di angkat secara tiba tiba dan membuat Sean terkejut
Saat melihat siapa yang mengangkat dirinya , Sean memberontak meminta di lepaskan
" Dak au , dan au ama apapa "
( Ngak mau , Sean mau sama papa "
Sean memberontak di pelukan lili
" Sama kakak aja , nanti main , sama baca buku "
Ajak lili
" Dak au , ean au ma apapa "
( ngak mau , Sean mau sama papa )
Sean meronta ronta ingin melepaskan diri
__ADS_1
Namun lili tidak semudah itu melepaskan Sean
Akhirnya Sean mulai tenang di pelukan lili , namun saat lili melihat wajah Sean , air mata Sean sudah mengalir dengan deras
" Lho lho kamu kenapa "
Lili bertanya kepada Sean
" Apapa "
Sean memanggil papanya dengan nada lirih
" Dek , dia lagi sakit ngapain di paksa , udah sini sean nya , biar kakak balikin ke kak Tian "
Leon mulai ikut ambil bagian dalam sandiwara meja makan di pagi hari itu
" Ngak mau kak , biarin Sean sama aku , nanti aku balikin "
Pinta lili
" Dek , Sean lagi sakit "
Leon menaikkan suaranya satu oktaf
" Kalian itu ya , anak manja kayak gitu di rebutin , mama ngak suka ya , eh kamu anak manja , ngak usah nyari perhatian ya , mentang mentang sakit kamu jadi manja "
Mama sbastian berbicara dengan nada yang tinggi
Sbastian yang mendengar itu dari arah wastafel segera mengelap tangannya dan berjalan ke arah meja makan dengan cepat dan mengambil Sean dari pelukan lili
" Apaan sih ma , mama itu jangan kayak gitu sama anak kecil , lagian dia lagi sakit , kan wajar manja , biasanya juga kan ngak gini "
Sbastian mencoba menghentikan mamanya
" Anak anak mama dulu ngak ada yang manja kayak gitu , liona yang sering sakit aja ngak kayak gitu , anak kecil kalo di manjain ya gitu jadinya "
Mama Sean tetap mengeluarkan suara yang keras
" Azza "
Sbastian tidak menghiraukan mamanya dan berdiri memanggil sitter azza dengan nada yang cukup keras
" Iya tuan "
Sitter azza yang kebetulan masih ada di dapur segera menghampiri sbastian
" Siapkan pakaian Sean , minta ayah dan bi Aini bersiap , kita ke Fila sekarang , telpon juga John , minta dia membawa pekerjaan kantor yang perlu di kerjakan , dan minta Brian juga Sisil ke Fila secepatnya . Mengerti azza "
Sbastian berbicara dengan nada yang agak keras
" Mengerti tuan , saya kerjakan sekarang"
Sitter azza beranjak dari tempatnya dan melaksanakan tugas dari tuannya segera
Sbastian berjalan ke arah ruang tamu
" Aji ... Aji.... "
Sbastian memanggil aji sang supir pribadi dengan nada yang keras
" Iya tuan "
Aji datang dari pintu masuk rumah
" Siapkan mobil , kita ke Fila sekarang , kamu bersiaplah , kita akan menginap beberapa hari "
Sbastian berkata dengan nada yang datar
" Akan saya siapkan tuan "
Pak aji bergegas menyiapkan mobil mobil yang di perintahkan sbastian
Sean beranjak dari tempatnya dan menaiki lift agar cepat sampai ke kamarnya
Saat sudah sampai di kamarnya , sbastian meletakkan Sean dengan perlahan di tempat tidur dan mengelus rambut Sean dengan lembut
" Adek mau bawa boneka apa ke Fila "
Tanya sbastian
" Au elang lang ama iu ama umba "
( Mau berang berang sama hiu sama lumba-lumba )
Pinta Sean
" Okeh , papa masukin ke koper mainan Sean ya "
Kata sbastian
" Ean au awa umi ua "
( Sean mau bawa cumi juga )
Kata Sean kembali
" Ngak boleh , cuma boleh bawa tiga mainan "
Kata sbastian menjelaskan
Setelah perdebatan yang panjang dan akhirnya Sean membawa hanya tiga boneka
" Baiklah , kita ke Fila "
Sbastian menggendong Sean yang ketiduran
Sbastian turun kelantai bawah dan sudah ada pak Sam , bi Aini , sitter azza, asisten John dan pak aji yang sudah siap , sbastian meminta aji mengambil kopernya yang ada di kamar
Dan segera berangkat tanpa berpamitan kepada penghuni yang lainnya
Leon dan Liona tidak kelihatan karena di kurung di kamar mereka oleh mama sbastian
__ADS_1
Dan papa sbastian di masukkan ke dalam kamar dan tidak di perbolehkan untuk keluar