Aku Pangeran

Aku Pangeran
#60 ( teman bunda dan papa )


__ADS_3

" Saya keluar dulu tuan , masih ada beberapa hal yang perlu saya kerjakan "


Asisten John pamit dan di angguki oleh Sbastian


" Ambilkan minuman dan juga camilan untuk kami di sini "


Sbastian meminta kepada asisten John sebelum dia keluar dari pintu


" Tentu tuan "


Asisten John membungkuk lalu pergi


" Anak-anak , ini bibi Bella , teman bunda "


Sbastian memperkenalkan seorang wanita dengan pakaian formal dan hijab berwarna hitam duduk di depan Sbastian


" Ini paman muzan , dia kakak kelas bunda dan adik kelas papa "


Sbastian memperkenalkan laki-laki dengan setelan yang berwarna hitam dengan rambut di sisir rapih yang duduk di tengah-tengah


" Dan ini paman Hans , dia teman sekelas papa dulu saat masih SMA "


Sbastian memperkenalkan seseorang yang duduk di depan lion dengan setelan jas berwarna putih dengan rambut yang rapih dengan gaya duduk ala orang penting


" Apa ini Sean "


Bella mengenali Sean


" Iya saya Sean "


Sean mengangguk


" Kalau kamu gadis cantik , siapa namanya "


Bella menatap adinda


" Li..liona biasanya kakak panggil lili "


Liona memeluk Sean erat karena malu


" Kamu seperti adinda , sangat cantik "


Bibi Bella memuji liona


" Terimakasih "


Liona tersenyum manis


" Kalau kamu "


Bella tersenyum kepada lion


" Saya lion , saudara kembar liona "


Lion menjawab dengan tegas


" Aku suka ide idenya , kelas berapa kamu anak muda "


Tuan muzan bertanya


" Saya kelas tiga SMP "


Lion menjawab


" Hm.. masih sangat muda untuk berprestasi , apa kamu adik Sbastian "


Muzan menyipitkan matanya


" Iya "


Lion menjawab dengan singkat


" Sangat tidak peduli dengan sekitar , sama seperti Sbastian sebelum bertemu adinda hahahaha "


Tuan Hans tertawa sambil memegangi perutnya


" Itu beda "


Sbastian tidak terima


" Emang beda , dasar balok kayu "


Lion menatap Sbastian sinis


" Dasar balok es "


Sbastian menjawab ejekan lion


" Siapa coba yang di sini balok es "


Lion melipat tangannya di atas dada


" Emang aku mirip balok kayu apa "


Sbastian tidak terima


" Heh... Dasar mesum "


Lion melirik Sbastian


" Dasar ***** "


Sbastian memelototi lion dan di balas pelototan oleh lion


" Bisakah kalian tidak bertengkar "


Liona melerai mereka


" Iya adik "


Sbastian dan lion menjawab secara bersamaan


" Dia adikku jadi jangan ikut-ikutan menjawab kalimat lili"


Sbastian memulai pertengkaran lagi


" Lho.. dia kembaranku , apa salahnya "


Lion tidak terima


" Lihat sekarang , dia mirip dengan istriku , jadi dia harus bersamaku hari ini "


Sbastian berkacak pinggang


" Lho.. apa hubungannya , kan kakak di sini kerja , ngak main sama mereka "


Lion ikut berkacak pinggang dan mereka berdua sama-sama berdiri di samping liona


" Bisakah kau menghentikan mereka "


Liona berbisik kepada Sean


" Papa.... "


Sean menarik dasi Sbastian


" Kenapa "


Sbastian melihat ke bawah


" Sean laper "


Sean memegangi perutnya


" Aku akan ambilkan camilan "


Lion hendak menggendong Sean namun Sebastian memegangi Sean


" Dia anakku "


Sbastian menatap lion tajam


" Dia adikku "


Leon menatap balik


" Lho.. apa hubungannya kalau dia adikmu , harusnya aku yang memberi anakku makan dengan tanganku sendiri "


Sbastian tidak mau kalah


" Kan bisa kalau aku yang suapin dia "


Leon bersikeras


" Sean mau makan sama kak lili aja "


Sean memeluk tangan lili yang memeluk dirinya erat


" Oke "


Liona tersenyum dan mengangguk


" Kalian ini beda usia tapi kok masih tengkar aja "


Bella menggelengkan kepalanya


" Ntah "


Sean dan liona mengedikkan bahunya


" Permisi "


Salah satu staf ob masuk dan membawa banyak sekali nampan makanan dan minuman


" Apa kalian tau , kakak kalian ini orang yang tidak memiliki teman lho , teman papamu hanya kami bertiga yang berbeda kelas dan asisten kampret itu "


Hans membuka aib Sbastian


" Ya... Terserah "


Sbastian mendengus kecil


" Bagaimana bibi Bella bertemu dengan bunda "


Sean bertanya


" Kami dulu teman dari kecil "


Bella menjawab


Flashback on


Ketika umur Bella masih enam tahun , Bella harus menginap di rumah sakit karena DBD


" Bella kapan boleh pulang "


Bella bertanya kepada Bu dokter yang memeriksanya


" Maaf ya gadis kecil , kamu masih harus di rawat "


Bu dokter tersenyum


" Yah... Bella mau sekolah lagi "


Bella kecil memanyunkan bibirnya


" Apa Bella tau , bahwa di kamar sebelah ada anak yang se usia dengan Bella "


Bu dokter mencolek hidung Bella


" Benarkah "


Bella bertanya dengan penasaran


" Iya , namanya adinda , mungkin dia suka jika Bella menemuinya "


Bu dokter tersenyum


" Bu dokter keluar dulu ya , cepat sehat ya Bella "

__ADS_1


Bu dokter mengelus kepala bela


" Mari tuan , nyonya "


Bu dokter pamit kepada orang tua Bella


" ayah.. Bella mau liat anak yang di sebelah"


Bella menarik-narik tangan ayahnya


" Boleh , biar ayah lihat dulu ya "


Ayah Bella keluar dari kamar


" Ayo Bu , Bella udah ngak sabar "


Senyum Bella kembali


" Iya sayang "


Ibu Bella mengambil kursi roda dan mendudukkan Bella di sana


" Gimana ayah "


Bella berteriak saat ayahnya masuk ke dalam ruangan


" Boleh tuh , ayo kesana "


Ayah Bella membawa infus Bella dan ibu Bella mendorong kursi roda Bella


Mereka bertiga keluar dari kamar dan menuju kamar sebelah lalu masuk


" Permisi "


Ayah Bella mengetuk pintu dan masuk


" Hai "


Bella melambaikan tangannya saat melihat seorang anak yang duduk di atas ranjangnya


" Hai "


Adinda kecil memeluk lengan ibunya yang ada di dekatnya


" Dia agak pemalu , bisakah kamu berteman dengannya "


Ibu adinda tersenyum kepada Bella kecil


" Bisa "


Bella tiba-tiba di naikkan oleh ayah adinda ke atas bankar adinda


" Duduk di sini saja "


Ayah adinda tersenyum


" Terimakasih paman "


Bella berterimakasih


" Siapa namamu "


Bella mencoba melihat wajah adinda namun adinda menyembunyikan wajahnya


" Adinda "


Adinda kecil menjawab dengan lirih


" wah , namanya cantik , apa kamu suka es krim "


Bella masih mencoba melihat wajah adinda


" Suka "


Adinda semakin menyembunyikan wajahnya


" Kalau Snack "


Bella berhenti untuk mencoba mengintip


" Suka , tapi ngk boleh karena masih sakit "


Adinda mengintip sedikit


" Kalau udah sembuh mau ngak beli banyak Snack sama aku "


Bella memegang tangan adinda


" Memang boleh "


Adinda melepaskan cengkraman tangannya di lengan baju ibunya


" Boleh dong "


Bella tersenyum


" Apa kamu mau berteman sama aku "


Adinda berbicara dengan lirih


" Lho... Kan aku tadi minta kamu jadi temanku , kamu belum jawab "


Bella memonyongkan bibirnya


" Lho , sekarang aku tanya , apa kamu mau berteman sama aku "


Adinda mengerenyitkan keningnya


" Lho.. kamu lho belum jawab pernyataanku "


Bella ikut mengerenyitkan keningnya


" Pertanyaan , bukan pernyataan "


Adinda menyingkirkan tangan ibunya


" Ngak papa cuma beda dikit "


Bella melambaikan tangannya


Adinda melotot


" Ngak papa itu sama "


Bella ikut melotot


" Bu , itu beda apa sama "


Adinda menoleh ke ibunya yang ada di sampingnya


" Beda sayang "


Ibu adinda menjawab


" Tuh.. kata ibuku aja beda "


Adinda menunjuk ibunya


" Ngak boleh bawa-bawa ibu "


Bella memonyongkan bibirnya


" Bu , beda apa sama "


Bella menatap ibunya


" Beda sayang "


Ibu bela menjawab


" Tuh.. beda kan "


Adinda melipat tangannya di atas dada dengan bangga


" Lho , pokoknya sama "


Bella menunjukkan wajah marah


" Beda Bella , itu ngak sama "


Adinda menolak kalimat Bella


" Aduh Dinda , sama kok "


Bella duduk semakin maju


" Yah.. terserah Bella "


Adinda merebahkan dirinya di atas tempat tidur


" Dinda kenapa "


Bella merangkak dan duduk di dekat adinda


" Kepala adinda pusing "


Adinda menghadap ke arah kanan dimana Bella ada di arah kanannya


" Ouch.. kasian Dinda "


Bella mendekat ke kepala adinda dan mulai mengelus kepala adinda


" Apa adinda suka "


Bella melihat adinda yang memejamkan matanya


" Iya , tangan Bella kayak tangan ibu "


Adinda menyamankan dirinya menikmati sentuhan tangan Bella


" Oh iya , kamu nanti sekolah di mana "


Bella bertanya


" Kata ibu nanti adinda sekolah di.... Ngak tau , tapi katanya di dekat toko besar yang banyak cake nya itu lho "


Adinda memberitahu lokasinya


" Oh.. iya iya Bella tau , Bella juga sekolah di sana , yang bangunan sekolahannya warna merah putih itu kan "


Bella mengingatnya


" Iya , yang ada tiang bendera besar di tengah lapangannya yang luas "


Adinda mengangguk


" Hm... Bella suka deh sama Dinda , kita teman ya "


Bella memberikan jari kelingkingnya


" Kalo gitu janji sampai besar ya "


Adinda menautkan jari kelingking kecilnya di atas jari kelingking Bella


" Boleh "


Bella mengangguk


Flashback off


"Dan sejak saat itu bundamu dan bibi menjadi teman baik "


Bella tersenyum kepada Sean yang sibuk makan cake di depannya


" Terus bibi sering jumpa sama bunda di RS"


Rasa penasaran Sean masih belum terpuaskan


" Iya , sejak saat itu bunda dan bibi menjadi teman baik sampai bundamu meninggalkan kami "

__ADS_1


Bella tersenyum sambil menatap liona


" Kalau tidak salah... Ini kado ulang tahun adinda kan "


Bella mengenali pakaian adinda yang di kenakan liona


" Iya , makanya aku terkejut saat gadis kecilku memilih pakaian ini , aku seperti melihat adinda kembali "


Sbastian mengelus kepala liona yang sedang sibuk dengan makanan di atas meja


" Bagaimana bibi tau "


Lion penasaran


" Dulu gamis ini selalu di pakai adinda saat kami berdua bertemu , dia akan selalu tersenyum sambil cekikikan tidak jelas "


Flashback on


" Hai Bella "


Senyum cerah adinda menyapa Bella yang sedang duduk di meja cafe favorit mereka


" Adinda "


Bella muda melihat adinda yang memakai gamis hitam putih yang cantik


" Ini suamiku "


Adinda memeluk lengan Sbastian yang sedang bermain hp


" Pria tua ini suamimu , kau buta ya "


Bella mengejek adinda


" Iya.. aku buta dengan cintanya "


Adinda menatap Sbastian yang senyumnya sedikit tersungging di bibirnya


" Duduk dong "


Bella meminta adinda dan Sbastian yang masih berdiri untuk duduk


" Hehe "


Bukannya duduk , adinda malah berputar-putar di depan Bella


" Apaan "


Bella yang seakan tidak faham mengerenyitkan keningnya saat melihat adinda memamerkan gamis barunya


" Huuuh Bella ngak seru ah "


Adinda memonyongkan bibirnya dan duduk di samping Bella dengan kasar


" Apanya "


Bella menaikturunkan alisnya


" Bellaaaa "


Adinda memukul lengan Bella


" Iya iya cayang , gamis barunya bagus "


Bella memuji


" Makasih "


Adinda memeluk lengan Bella


" Ini mas ku lho yang kasih "


Adinda pamer sambil sedikit melirik Sbastian yang masih sibuk dengan hp nya


" Beneran , bagus kalo kamu pakek "


Bella mengelus kepala adinda


" Adinda rinduuuu sama elusan kepala Bella"


Seakan adinda tidak puas karena Sbastian tidak meliriknya , adinda sedikit mengeraskan suaranya


" Hahaha , beneran "


Bella membantu adinda


" Iya bener "


Suara adinda sengaja di keraskan agar Sbastian meletakkan hp nya tapi sepertinya tidak berhasil


" Tch.. apaan sih , kan istrinya aku "


Adinda menggeser kursinya lebih dekat dengan Bella


" Hei hahaha "


Bella tersenyum melihat kelucuan adinda yang mencari perhatian Sbastian


" Tch.. apaan sih mas , hp terus , adinda ngak di peduliin "


Adinda menghentakkan kakinya dan memeluk lengan Bella dan memalingkan wajahnya tanda dia sedang marah


*Muach


Tiba-tiba Sbastian mencium kepala bagian belakang adinda


" Aku titip dia dulu "


Sbastian berdiri dan berjalan meninggalkan mereka berdua


" Mau kemana mas "


Adinda menoleh kepada Sbastian yang berjalan menjauh


" Cari pacar "


Sbastian menjawab asal


" MAAAAAS "


Adinda menghentakkan kakinya kesal hingga membuat Bella tertawa terbahak-bahak


" Kalian ini emang ngak pernah akur ya "


Bella menggelengkan kepalanya


" Aku benci sama mas "


Adinda meletakkan wajahnya di atas meja


" Makanlah "


Tiba-tiba Sbastian mengelus kepala adinda


" Hoh "


Adinda terkejut karena Sbastian tiba-tiba duduk


" Kamu lapar kan , lihatlah temanmu sudah menghabiskan satu toko hahaha "


Sbastian terkekeh kecil


" Mas jahat "


Adinda memukul lengan Sbastian cukup keras


" Pukulanmu ngak pernah keras sayang hahahaha "


Sbastian terbahak-bahak


" Bella , pukul mas ku Sampek giginya rontok "


Adinda mengadu kepada sahabatnya


" Nanti kalo rontok jadi kakek-kakek dong , nanti adinda jalan sama kakek kakek "


Bella membela Sbastian


" Lha bener tuh , nanti kamu jalan sama aki-aki "


Sbastian mengacungkan jempol kepada Bella


" Cucu... Tolong bantu kakek nyebrang jalan cu"


Sbastian memperagakan bagaimana kakek-kakek yang dia bayangkan


" Hoho nanti kamu bilang gini , iya kek adinda bantu kakek nyebrang jalan , pegangan ya kek hahahaha "


Tawa Sbastian pecah hingga membuat adinda kesal


" Aku beci sama mas "


Adinda berdiri hendak pergi


*Grep


Sbastian memegang lengan adinda dan dalam keadaan masih terkekeh kecil


" Kemarilah "


Sbastian menarik adinda secara tiba-tiba dan mendudukkan adinda di atas pangkuannya


" Sepertinya istriku sedang merajuk "


Sbastian menatap adinda penuh nafsu


" Sepertinya istriku perlu makan agar nanti bertenaga saat pulang "


Sbastian menyentuh bibir adinda


"Humph "


Adinda memalingkan wajahnya


" Masih merajuk ya "


Sbastian meletakkan kepalanya di atas dada adinda yang sangat dia sukai


" Ngak "


Adinda menjawab dengan singkat


" Bella , pertemuan kali ini di tunda dulu , istriku perlu di lumpuhkan kakinya "


Sbastian berdiri sambil menggendong adinda


" Ngak usah di bayar , nanti John yang bayar "


Sbastian pergi meninggalkan Bella yang senyum-senyum sendiri


" Aku benci sama mas "


Adinda mengeluarkan sepatah kalimat yang membuat Sbastian tertawa


" Tapi aku mencintaimu hahaha "


Sbastian tertawa dan membawa adinda keluar dari cafe


Flashback off


" Itu adalah masa-masa terbaik "


Sbastian senyum-senyum sendiri


" Kalau paman muzan "


Leon menatap muzan yang sedang makan cake


" Kalau paman dulu gimana ya "

__ADS_1


Muzan mengingat ingat


__ADS_2