
" Saya keluar dulu tuan , masih ada beberapa hal yang perlu saya kerjakan "
Asisten John pamit dan di angguki oleh Sbastian
" Ambilkan minuman dan juga camilan untuk kami di sini "
Sbastian meminta kepada asisten John sebelum dia keluar dari pintu
" Tentu tuan "
Asisten John membungkuk lalu pergi
" Anak-anak , ini bibi Bella , teman bunda "
Sbastian memperkenalkan seorang wanita dengan pakaian formal dan hijab berwarna hitam duduk di depan Sbastian
" Ini paman muzan , dia kakak kelas bunda dan adik kelas papa "
Sbastian memperkenalkan laki-laki dengan setelan yang berwarna hitam dengan rambut di sisir rapih yang duduk di tengah-tengah
" Dan ini paman Hans , dia teman sekelas papa dulu saat masih SMA "
Sbastian memperkenalkan seseorang yang duduk di depan lion dengan setelan jas berwarna putih dengan rambut yang rapih dengan gaya duduk ala orang penting
" Apa ini Sean "
Bella mengenali Sean
" Iya saya Sean "
Sean mengangguk
" Kalau kamu gadis cantik , siapa namanya "
Bella menatap adinda
" Li..liona biasanya kakak panggil lili "
Liona memeluk Sean erat karena malu
" Kamu seperti adinda , sangat cantik "
Bibi Bella memuji liona
" Terimakasih "
Liona tersenyum manis
" Kalau kamu "
Bella tersenyum kepada lion
" Saya lion , saudara kembar liona "
Lion menjawab dengan tegas
" Aku suka ide idenya , kelas berapa kamu anak muda "
Tuan muzan bertanya
" Saya kelas tiga SMP "
Lion menjawab
" Hm.. masih sangat muda untuk berprestasi , apa kamu adik Sbastian "
Muzan menyipitkan matanya
" Iya "
Lion menjawab dengan singkat
" Sangat tidak peduli dengan sekitar , sama seperti Sbastian sebelum bertemu adinda hahahaha "
Tuan Hans tertawa sambil memegangi perutnya
" Itu beda "
Sbastian tidak terima
" Emang beda , dasar balok kayu "
Lion menatap Sbastian sinis
" Dasar balok es "
Sbastian menjawab ejekan lion
" Siapa coba yang di sini balok es "
Lion melipat tangannya di atas dada
" Emang aku mirip balok kayu apa "
Sbastian tidak terima
" Heh... Dasar mesum "
Lion melirik Sbastian
" Dasar ***** "
Sbastian memelototi lion dan di balas pelototan oleh lion
" Bisakah kalian tidak bertengkar "
Liona melerai mereka
" Iya adik "
Sbastian dan lion menjawab secara bersamaan
" Dia adikku jadi jangan ikut-ikutan menjawab kalimat lili"
Sbastian memulai pertengkaran lagi
" Lho.. dia kembaranku , apa salahnya "
Lion tidak terima
" Lihat sekarang , dia mirip dengan istriku , jadi dia harus bersamaku hari ini "
Sbastian berkacak pinggang
" Lho.. apa hubungannya , kan kakak di sini kerja , ngak main sama mereka "
Lion ikut berkacak pinggang dan mereka berdua sama-sama berdiri di samping liona
" Bisakah kau menghentikan mereka "
Liona berbisik kepada Sean
" Papa.... "
Sean menarik dasi Sbastian
" Kenapa "
Sbastian melihat ke bawah
" Sean laper "
Sean memegangi perutnya
" Aku akan ambilkan camilan "
Lion hendak menggendong Sean namun Sebastian memegangi Sean
" Dia anakku "
Sbastian menatap lion tajam
" Dia adikku "
Leon menatap balik
" Lho.. apa hubungannya kalau dia adikmu , harusnya aku yang memberi anakku makan dengan tanganku sendiri "
Sbastian tidak mau kalah
" Kan bisa kalau aku yang suapin dia "
Leon bersikeras
" Sean mau makan sama kak lili aja "
Sean memeluk tangan lili yang memeluk dirinya erat
" Oke "
Liona tersenyum dan mengangguk
" Kalian ini beda usia tapi kok masih tengkar aja "
Bella menggelengkan kepalanya
" Ntah "
Sean dan liona mengedikkan bahunya
" Permisi "
Salah satu staf ob masuk dan membawa banyak sekali nampan makanan dan minuman
" Apa kalian tau , kakak kalian ini orang yang tidak memiliki teman lho , teman papamu hanya kami bertiga yang berbeda kelas dan asisten kampret itu "
Hans membuka aib Sbastian
" Ya... Terserah "
Sbastian mendengus kecil
" Bagaimana bibi Bella bertemu dengan bunda "
Sean bertanya
" Kami dulu teman dari kecil "
Bella menjawab
Flashback on
Ketika umur Bella masih enam tahun , Bella harus menginap di rumah sakit karena DBD
" Bella kapan boleh pulang "
Bella bertanya kepada Bu dokter yang memeriksanya
" Maaf ya gadis kecil , kamu masih harus di rawat "
Bu dokter tersenyum
" Yah... Bella mau sekolah lagi "
Bella kecil memanyunkan bibirnya
" Apa Bella tau , bahwa di kamar sebelah ada anak yang se usia dengan Bella "
Bu dokter mencolek hidung Bella
" Benarkah "
Bella bertanya dengan penasaran
" Iya , namanya adinda , mungkin dia suka jika Bella menemuinya "
Bu dokter tersenyum
" Bu dokter keluar dulu ya , cepat sehat ya Bella "
__ADS_1
Bu dokter mengelus kepala bela
" Mari tuan , nyonya "
Bu dokter pamit kepada orang tua Bella
" ayah.. Bella mau liat anak yang di sebelah"
Bella menarik-narik tangan ayahnya
" Boleh , biar ayah lihat dulu ya "
Ayah Bella keluar dari kamar
" Ayo Bu , Bella udah ngak sabar "
Senyum Bella kembali
" Iya sayang "
Ibu Bella mengambil kursi roda dan mendudukkan Bella di sana
" Gimana ayah "
Bella berteriak saat ayahnya masuk ke dalam ruangan
" Boleh tuh , ayo kesana "
Ayah Bella membawa infus Bella dan ibu Bella mendorong kursi roda Bella
Mereka bertiga keluar dari kamar dan menuju kamar sebelah lalu masuk
" Permisi "
Ayah Bella mengetuk pintu dan masuk
" Hai "
Bella melambaikan tangannya saat melihat seorang anak yang duduk di atas ranjangnya
" Hai "
Adinda kecil memeluk lengan ibunya yang ada di dekatnya
" Dia agak pemalu , bisakah kamu berteman dengannya "
Ibu adinda tersenyum kepada Bella kecil
" Bisa "
Bella tiba-tiba di naikkan oleh ayah adinda ke atas bankar adinda
" Duduk di sini saja "
Ayah adinda tersenyum
" Terimakasih paman "
Bella berterimakasih
" Siapa namamu "
Bella mencoba melihat wajah adinda namun adinda menyembunyikan wajahnya
" Adinda "
Adinda kecil menjawab dengan lirih
" wah , namanya cantik , apa kamu suka es krim "
Bella masih mencoba melihat wajah adinda
" Suka "
Adinda semakin menyembunyikan wajahnya
" Kalau Snack "
Bella berhenti untuk mencoba mengintip
" Suka , tapi ngk boleh karena masih sakit "
Adinda mengintip sedikit
" Kalau udah sembuh mau ngak beli banyak Snack sama aku "
Bella memegang tangan adinda
" Memang boleh "
Adinda melepaskan cengkraman tangannya di lengan baju ibunya
" Boleh dong "
Bella tersenyum
" Apa kamu mau berteman sama aku "
Adinda berbicara dengan lirih
" Lho... Kan aku tadi minta kamu jadi temanku , kamu belum jawab "
Bella memonyongkan bibirnya
" Lho , sekarang aku tanya , apa kamu mau berteman sama aku "
Adinda mengerenyitkan keningnya
" Lho.. kamu lho belum jawab pernyataanku "
Bella ikut mengerenyitkan keningnya
" Pertanyaan , bukan pernyataan "
Adinda menyingkirkan tangan ibunya
" Ngak papa cuma beda dikit "
Bella melambaikan tangannya
Adinda melotot
" Ngak papa itu sama "
Bella ikut melotot
" Bu , itu beda apa sama "
Adinda menoleh ke ibunya yang ada di sampingnya
" Beda sayang "
Ibu adinda menjawab
" Tuh.. kata ibuku aja beda "
Adinda menunjuk ibunya
" Ngak boleh bawa-bawa ibu "
Bella memonyongkan bibirnya
" Bu , beda apa sama "
Bella menatap ibunya
" Beda sayang "
Ibu bela menjawab
" Tuh.. beda kan "
Adinda melipat tangannya di atas dada dengan bangga
" Lho , pokoknya sama "
Bella menunjukkan wajah marah
" Beda Bella , itu ngak sama "
Adinda menolak kalimat Bella
" Aduh Dinda , sama kok "
Bella duduk semakin maju
" Yah.. terserah Bella "
Adinda merebahkan dirinya di atas tempat tidur
" Dinda kenapa "
Bella merangkak dan duduk di dekat adinda
" Kepala adinda pusing "
Adinda menghadap ke arah kanan dimana Bella ada di arah kanannya
" Ouch.. kasian Dinda "
Bella mendekat ke kepala adinda dan mulai mengelus kepala adinda
" Apa adinda suka "
Bella melihat adinda yang memejamkan matanya
" Iya , tangan Bella kayak tangan ibu "
Adinda menyamankan dirinya menikmati sentuhan tangan Bella
" Oh iya , kamu nanti sekolah di mana "
Bella bertanya
" Kata ibu nanti adinda sekolah di.... Ngak tau , tapi katanya di dekat toko besar yang banyak cake nya itu lho "
Adinda memberitahu lokasinya
" Oh.. iya iya Bella tau , Bella juga sekolah di sana , yang bangunan sekolahannya warna merah putih itu kan "
Bella mengingatnya
" Iya , yang ada tiang bendera besar di tengah lapangannya yang luas "
Adinda mengangguk
" Hm... Bella suka deh sama Dinda , kita teman ya "
Bella memberikan jari kelingkingnya
" Kalo gitu janji sampai besar ya "
Adinda menautkan jari kelingking kecilnya di atas jari kelingking Bella
" Boleh "
Bella mengangguk
Flashback off
"Dan sejak saat itu bundamu dan bibi menjadi teman baik "
Bella tersenyum kepada Sean yang sibuk makan cake di depannya
" Terus bibi sering jumpa sama bunda di RS"
Rasa penasaran Sean masih belum terpuaskan
" Iya , sejak saat itu bunda dan bibi menjadi teman baik sampai bundamu meninggalkan kami "
__ADS_1
Bella tersenyum sambil menatap liona
" Kalau tidak salah... Ini kado ulang tahun adinda kan "
Bella mengenali pakaian adinda yang di kenakan liona
" Iya , makanya aku terkejut saat gadis kecilku memilih pakaian ini , aku seperti melihat adinda kembali "
Sbastian mengelus kepala liona yang sedang sibuk dengan makanan di atas meja
" Bagaimana bibi tau "
Lion penasaran
" Dulu gamis ini selalu di pakai adinda saat kami berdua bertemu , dia akan selalu tersenyum sambil cekikikan tidak jelas "
Flashback on
" Hai Bella "
Senyum cerah adinda menyapa Bella yang sedang duduk di meja cafe favorit mereka
" Adinda "
Bella muda melihat adinda yang memakai gamis hitam putih yang cantik
" Ini suamiku "
Adinda memeluk lengan Sbastian yang sedang bermain hp
" Pria tua ini suamimu , kau buta ya "
Bella mengejek adinda
" Iya.. aku buta dengan cintanya "
Adinda menatap Sbastian yang senyumnya sedikit tersungging di bibirnya
" Duduk dong "
Bella meminta adinda dan Sbastian yang masih berdiri untuk duduk
" Hehe "
Bukannya duduk , adinda malah berputar-putar di depan Bella
" Apaan "
Bella yang seakan tidak faham mengerenyitkan keningnya saat melihat adinda memamerkan gamis barunya
" Huuuh Bella ngak seru ah "
Adinda memonyongkan bibirnya dan duduk di samping Bella dengan kasar
" Apanya "
Bella menaikturunkan alisnya
" Bellaaaa "
Adinda memukul lengan Bella
" Iya iya cayang , gamis barunya bagus "
Bella memuji
" Makasih "
Adinda memeluk lengan Bella
" Ini mas ku lho yang kasih "
Adinda pamer sambil sedikit melirik Sbastian yang masih sibuk dengan hp nya
" Beneran , bagus kalo kamu pakek "
Bella mengelus kepala adinda
" Adinda rinduuuu sama elusan kepala Bella"
Seakan adinda tidak puas karena Sbastian tidak meliriknya , adinda sedikit mengeraskan suaranya
" Hahaha , beneran "
Bella membantu adinda
" Iya bener "
Suara adinda sengaja di keraskan agar Sbastian meletakkan hp nya tapi sepertinya tidak berhasil
" Tch.. apaan sih , kan istrinya aku "
Adinda menggeser kursinya lebih dekat dengan Bella
" Hei hahaha "
Bella tersenyum melihat kelucuan adinda yang mencari perhatian Sbastian
" Tch.. apaan sih mas , hp terus , adinda ngak di peduliin "
Adinda menghentakkan kakinya dan memeluk lengan Bella dan memalingkan wajahnya tanda dia sedang marah
*Muach
Tiba-tiba Sbastian mencium kepala bagian belakang adinda
" Aku titip dia dulu "
Sbastian berdiri dan berjalan meninggalkan mereka berdua
" Mau kemana mas "
Adinda menoleh kepada Sbastian yang berjalan menjauh
" Cari pacar "
Sbastian menjawab asal
" MAAAAAS "
Adinda menghentakkan kakinya kesal hingga membuat Bella tertawa terbahak-bahak
" Kalian ini emang ngak pernah akur ya "
Bella menggelengkan kepalanya
" Aku benci sama mas "
Adinda meletakkan wajahnya di atas meja
" Makanlah "
Tiba-tiba Sbastian mengelus kepala adinda
" Hoh "
Adinda terkejut karena Sbastian tiba-tiba duduk
" Kamu lapar kan , lihatlah temanmu sudah menghabiskan satu toko hahaha "
Sbastian terkekeh kecil
" Mas jahat "
Adinda memukul lengan Sbastian cukup keras
" Pukulanmu ngak pernah keras sayang hahahaha "
Sbastian terbahak-bahak
" Bella , pukul mas ku Sampek giginya rontok "
Adinda mengadu kepada sahabatnya
" Nanti kalo rontok jadi kakek-kakek dong , nanti adinda jalan sama kakek kakek "
Bella membela Sbastian
" Lha bener tuh , nanti kamu jalan sama aki-aki "
Sbastian mengacungkan jempol kepada Bella
" Cucu... Tolong bantu kakek nyebrang jalan cu"
Sbastian memperagakan bagaimana kakek-kakek yang dia bayangkan
" Hoho nanti kamu bilang gini , iya kek adinda bantu kakek nyebrang jalan , pegangan ya kek hahahaha "
Tawa Sbastian pecah hingga membuat adinda kesal
" Aku beci sama mas "
Adinda berdiri hendak pergi
*Grep
Sbastian memegang lengan adinda dan dalam keadaan masih terkekeh kecil
" Kemarilah "
Sbastian menarik adinda secara tiba-tiba dan mendudukkan adinda di atas pangkuannya
" Sepertinya istriku sedang merajuk "
Sbastian menatap adinda penuh nafsu
" Sepertinya istriku perlu makan agar nanti bertenaga saat pulang "
Sbastian menyentuh bibir adinda
"Humph "
Adinda memalingkan wajahnya
" Masih merajuk ya "
Sbastian meletakkan kepalanya di atas dada adinda yang sangat dia sukai
" Ngak "
Adinda menjawab dengan singkat
" Bella , pertemuan kali ini di tunda dulu , istriku perlu di lumpuhkan kakinya "
Sbastian berdiri sambil menggendong adinda
" Ngak usah di bayar , nanti John yang bayar "
Sbastian pergi meninggalkan Bella yang senyum-senyum sendiri
" Aku benci sama mas "
Adinda mengeluarkan sepatah kalimat yang membuat Sbastian tertawa
" Tapi aku mencintaimu hahaha "
Sbastian tertawa dan membawa adinda keluar dari cafe
Flashback off
" Itu adalah masa-masa terbaik "
Sbastian senyum-senyum sendiri
" Kalau paman muzan "
Leon menatap muzan yang sedang makan cake
" Kalau paman dulu gimana ya "
__ADS_1
Muzan mengingat ingat