
Sesampainya di kantor sbastian langsung turun dari mobil dan membawa Sean ke dalam pelukannya
Sepanjang jalan menuju ruangan sbastian, orang orang kantor mebungkuk memberi salam kepada sbastian , tidak ada yang berani mengangkat wajahnya . wibawa yang di bawa sbastian terlalu besar untuk di lawan oleh mereka ,meskipun mereka penasaran siapa anak kecil berjas yang di bawa oleh sbastian di dalam gendongannya
Banyak karyawan wanita yang rajin bekerja hanya untuk dapat melihat wajah atasannya yang kata mereka terlewat tampan
Sbastian menggendong Sean masuk ke dalam lift dan di ikuti oleh asisten John
Saat di dalam lift
" Apapa , ini pakek nya gimana "
Sean bertanya cara memakai lift
" Di pencet ini , terus di pencet tombol ke lantai mana kita menuju "
Sbastian menunjukkan cara kerja lift kepada Sean dengan nada yang terdengar menyenangkan dan beberapa tawa kecil yang di hasilkan Sean dan Sbastian
" Oh.... "
Sean memberikan oh yang sangat panjang tanda dirinya mengerti
" Paham "
Tanya sbastian
" Iya " jawab Sean
Sikap yang berbeda , sbastian hanya akan menunjukkan sifat lemah lembut miliknya jika bersama orang orang yang dikasihinya
Berbeda jika di hadapan orang lain seakan ada sesuatu yang berat yang menindih mereka untuk menunduk dan hormat di hadapan sbastian
Ting
Pintu lift terbuka di lantai paling atas , tempat khusus orang orang penting seperti sbastian
" Mana uanga apapa "
( Mana ruangan papa )
Tanya Sean
" Itu di ujung "
Tunjuk sbastian
Setelah sbastian meletakkan Sean di sofa dan meminta untuk di antarkan segelas susu coklat , segelas susu strawberry dan secangkir kopi panas , sbastian duduk di kursi miliknya dan mulai membuka satu persatu berkas yang terlihat sangat penting itu
Isi hati Sean
" Papa keren banget , itu gimana ya caranya , cuma kertas aja sama pensil , Sean juga punya "
Sean berkata dalam hati dan mengeluarkan alat tulis miliknya dan buku note sebesar telapak tangan orang dewasa
Sean mulai mencoret coret kertas yang ada di hadapannya
" Sean nulis kayak yang di ajarkan kakek aja , kan Sean pinter kalo nulis itu "
Sean mulai mengeja dalam hati kalimat yang dia tulis
" Kata papa , aku ngak boleh rame , aku mau niru papa , tenang kalo nulis "
Sean menulis banyak hal di kertas miliknya
" Woah.... Sean udah keren kayak papa ngak ya "
Pikir Sean
Isi hati Sean end
Sean sangat sibuk dengan kertas miliknya , hingga suara sbastian memanggil
" Dek , papa mau rapat dulu , adek mau ikut Ndak "
Tanya sbastian
" Ndak , ean au bubuk ambil nunggu apapa "
( Nggak , Sean mau tidur sambil nungguin papa )
Sean menggelengkan kepalanya
" Baiklah, jangan kemana mana ya "
Sbastian memperingatkan
" Iya apapa "
Sean mengangguk
" Nanti kalo adek mau sesuatu ke depan aja ya , ada kak Nia , nanti minta tolong sama kak Nia saja "
Sbastian memberitahu
" Apa kak Nia "
( Siapa kak Nia )
Sean bertanya
" Nia "
Sbastian memanggil nama sekertaris perempuannya
" Iya tuan "
Sekertaris Nia masuk dan membungkukan badan memberi salam
" Ini tolong di jaga ya anak saya , kamu jaga dia sampai meeting selesai"
Sbastian meminta
" Baik tuan "
Asisten Nia
" Papa keluar ya "
__ADS_1
Sbastian mengelus rambut Sean
" Iya "
Sean mengangguk
Sbastian keluar ruangan bersama asisten John yang mengikuti di belakang dengan membawa banyak berkas
" Salam tuan muda "
Sekertaris Nia membungkuk memberi salam
" Kak Nia enal ean "
( Kak Nia kenal Sean )
Sean bertanya
" Eh.... Iya tuan muda , jika ada perlu silahkan panggil nama saya , saya akan ada di depan , saya permisi "
Asisten Nia membungkuk dan di angguki oleh Sean
Saat asisten Nia di luar ruangan
" Huh aku ngak paham , tapi tuan muda ganteng banget "
Asisten Nia membayangkan wajah imut Sean
" Nona , ini ada yang mencari tuan besar , beliau di bawah "
Seorang wanita memanggil Nia
" Siapa "
Tanya asisten Nia
Wanita itu mendekat dan berbisik
" Itu nyonya besar , beliau sekarang ada di ruang tunggu "
" Apa , kita ke sana sekarang "
Asisten Nia terkejut dan melupakan seseorang yang harus di jaganya
Setelah setengah jam , Sean memasukkan buku dan alat tulisnya dan mengeluarkan sebatang coklat
Serba isi hati Sean
" papa dimana ya , kok lama "
Sean turun dari sofa dengan perlahan
" Kak Nia mana ya "
Sean mencoba keluar dari ruangan
" Kak Nia , Kaka Nia "
Sean meneriakkan nama asisten Nia , namun tidak ada jawaban
Sean menggerutu
" Sean coba buka dulu para pintunya , tapi Sean ngak ada tangga di sini "
Sean menoleh ke kanan dan ke kiri
" Aha itu ada kursi "
Sean mendorong kursi kerja sbastian ke dekat pintu dan memutar gagangnya dengan penuh perjuangan
Dengan susah payah membuka pintu ruangan sbastian yang lumayan susah , akhirnya Sean bisa membuka pintu besar itu
" Akhirnya bisa keluar "
Sean keluar dari ruangan Sean dengan bangganya karena dirinya mampu menggunakan otak cerdas miliknya untuk membuka pintu
" Kak Nia kok ngak ada sih "
Sean celingukan namun tidak melihat siapapun di depan ruangan sbastian
" Sean mau cari papa "
Sean keluar dari ruangan yang ada di dalam ruangan itu dan pergi menelusuri lorong
Karena rata rata pintu setiap ruangan terbuat dari kaca , jadi mudah untuk di lihat oleh Sean , namun Sean tidak menemukan papanya
" Papa kemana sih "
Sean menggerutu sambil menempelkan wajahnya di sebuah pintu kaca
" Apa di ruangan lain ya "
Sean mengingat bahwa lantai di kantor ini tidak hanya satu
" Lewat pintu besar kata papa "
Sean menghampiri lift yang ada di ujung lorong
Sean berjinjit , melompat , mencari barang yang berguna , namun itu semua tidak ada hasilnya
Entah Sean yang terlalu pendek atau tombol itu yang terlalu tinggi
" Kenapa ngak sampek , padahal papa tadi mudah lho "
Sean menggerutu dan celingukan mencari sesuatu untuk membantunya
Lalu Sean melihat seseorang dari kejauhan , dan ternyata itu adalah seorang staf OB yang membawa alat bersih bersih
Lalu muncullah sebuah ide brilian di otak Sean
"Ada penyihir bawa sapu , aku yakin kakak penyihir ini bisa bukain pintu besar ini , tapi aku harus sembunyi nanti kalo nggak aku di culik "
Sean berfikir dalam hati dan bersembunyi di balik pot bunga besar di sudut ruangan
Saat staf OB membuka pintu lift Sean ikut masuk dengan mengendap edap lewat ujung pintu lift dengan merangkak dan bersembunyi di balik tong air milik OB itu
" Aduh... Kok lama ya "
__ADS_1
Sean menggerutu
" Kira kira papa di ruangan mana ya , rumah ini gede banget , gimana caranya Sean mau cari papa ya "
Saat Sean sedang melamun pintu lift terbuka dan Sean tersadar bahwa tong di depannya tiba tiba terangkat
" Udah Sampek ternyata "
Sean mengengendap endap saat keluar dari lift
Saat Sean sudah sampai di luar lift staf OB itu sudah berjalan cukup jauh
" Terimakasih kakak penyihir baik hati "
Sean membungkukkan badannya sedikit
" Ini ruangan mana ya "
Sean melihat semua isi ruangan yang luas itu
" Woah..... Luas banget "
Sean memandang kagum lantai pertama kantor itu
" Eh..... Ada tempat kertas besar , woah aku di sini tadi saat masuk sama papa "
Sean melihat meja resepsionis yang di atasnya terdapat satu paket besar milik salah satu karyawan yang dari tadi belum di ambil
" Kalo lewat pintu besaf lagi , pasti susah , pintu besarnya kan tinggi "
Sean membalikkan badan dan melihat lift yang terlihat seperti pintu ajaib yang sangat besar
" Mungkin papa di sini "
Sean berniat untuk menelusuri lorong lantai pertama kantor
Sean mengeluarkan pensil miliknya dan meletakkan pensil miliknya lalu pensil itu di putar
" Kata tongkat ajaib ke kanan dulu "
Pensil Sean berhenti di lorong kanan
Sean berjalan dengan berhati hati melewati lorong lorong itu agar tidak di ketahui oleh orang lain
Saat ada seseorang yang lewat Sean berjongkok dan menempel di dinding kaca penyekat antar ruangan
" Ada manusia kertas "
Sean melihat seseorang yang lewat dengan membawa banyak sekali kertas hingga wajahnya tidak terlihat
" Sean juga punya permen kertas "
Sean mengeluarkan permen namun permen itu bisa di sobek layaknya kertas , permen khusus sean buatan sitter azza
Sepanjang jalan Sean menemui banyak orang orang aneh , mulai dari manusia papan , ( OB yang membawa nampan minuman , yang terlihat dari bawah tidak ada wajahnya )
Penyihir hitam
( Karyawan yang memakai pakaian serba hitam )
Goblin hitam gendut
( Pak satpam yang sudah berumur dengan perut yang agak besar )
Peri coklat
( Tukang pos cantik dengan rambut panjang terurai )
Golem besar
( Satpam dengan perawakan tinggi besar )
Dan banyak lagi
" Papa di mana ya , kok ngak ada sih... "
Sean sudah sampai di ujung lorong itu dan berbalik dengan wajah lesu
" Sean coba ke arah sebaliknya aja kali ya "
Sean berfikir
" Katanya lift kiri tidak bisa di pakai ya "
Percakapan dua orang karyawan tidak sengaja terdengar oleh Sean , dan membuat Sean menoleh
" Benarkah , kalau ramai lewat tangga darurat dong , astaga kalau lewat tangga darurat kan harus hitung pintu sampai lantai mana , kok nyesek yak "
Karyawan yang lain menimpali
" Enggak usah ngitung lha , kan udah di pasang angka pintu nya "
Karyawan satunya menimpali
" Kalo kita ke ruangan meeting kan di lantai 15 , jadi harus jalan cepat dong , kepor lha kaki aku "
Karyawan satunya mengeluh
Dan karyawan itu menghilang dari pandangan Sean
" Whoaaaaa... Sean ngak usah lewat pintu besar lagi , Sean bisa lewat tangga , tapi Sean harus cari tangganya dong "
Sean berkata dengan nada ceria di awalan dan sedih di akhir kalimat
" Ok Sean semangat , harus nemu papa pokoknya "
Sean mengepalkan tangannya dan mulai mencari di mana keberadaan tangga darurat itu
hai hai
Karen aku belum nemuin buat asisten John
jadi ini animasi buat si kembar Leon dan Liona dulu ya
ya Liona / lili hehehe
__ADS_1