Aku Pangeran

Aku Pangeran
#34 {dari anak atau ayah}


__ADS_3

" Cie yang baru pulang "


Suara seorang wanita yang berasal dari jendela rumah


Cika


Sahabat karib Clara


Kemana mana selalu bersama


Cika bekerja sebagai seorang pegawai kantoran


Seorang gadis muda dengan rambut hitam se bahu dan kulit putih


Cika sendiri berasal dari Indonesia dan di pindah tugaskan ke Swiss


" Paan si Cika "


Clara membuka pintu dan langsung duduk di sofa putih lalu meletakkan tasnya di atas meja kaca berwarna hitam


" Wa'alaikum salam Clara , masuk tuh salam , lain kali jangan pulang malem-malem kayak gini lagi "


Teman Clara yang bernama Cika duduk di samping Clara sambil membawa secangkir coklat panas


" Hehehe "


Clara hanya cengengesan mendengar nasehat temannya


" Paan tuh , Sampek di peluk-peluk kotaknya , bentuk hati lagi "


Cika meletakkan coklat panasnya di atas meja dan menyilang kan kakinya


" itu tadi... Eh.. dari.. siapa ya nama pria tadi"


Clara menggaruk kepalanya dan mencoba mengingat


" Kalian kenalan ngak "


Cika duduk bersila dan meletakkan bantal di atas pahanya


" iya aku kenalan eh.... Tapi sama anaknya"


Clara mencoba mengingat-ingat


" Lho , kok sama anaknya "


Cika bertanya heran


" Iya , orang aku kenalnya sama Sean , ngak kenalan sama papanya "


Clara menganggukkan kepalanya dan membuat Cika terkejut bukan maen


" Lho gimana sih , jangan di terusin deh Clara , jangan ngerusak rumah tangga orang , gue kasih tau ya Lo , nanti Lo di labrak sama istrinya "


Cika berkata dengan nada serius


" Maksudnya "


Clara bingung


" Lo ngak liat yang kayak di film-film itu , nanti Lo di labrak sama istrinya , ih.... Ngeri"


Cika merinding sendiri


" Paan sih cik , istrinya tuh udah ngak ada , dia tinggal sama anaknya doang "


Clara meminum coklat panas milik Cika


" Duda dong , uwih... Seleralo aneh , suka yang bapak-bapak "


Cika memukul bahu Clara hingga coklat panas yang di minum Clara kembali menyembur keluar


" Paan sih cik , keselek tau , lagian mana ada yang suka sama gue , orang calon suami gue aja kabur "


Clara merebahkan dirinya di atas sofa


" Ceilah , jangan berkecil hati , siapa tau jodoh kan "


Cika menaik turunkan alisnya


" Ngak mungkin cik "


Clara mengelak


" Lha terus coklatnya ntuh ngak ada artinya dong "


Cika mengambil kotak coklat yang ada di pelukan Clara


" Iya ya , ini coklat dari bapaknya apa dari anaknya ya "


Clara terduduk dan menatap intens kotak coklat itu


" Kenapa hidup gua gini ya Cika"


Clara merebahkan kembali dirinya dan menatap langit-langit rumah


" Ya mana saya tau "


Cika mengembalikan coklat itu


" Kapan Lo ketemu sama si papa duda ntuh"


Cika mengeluarkan hp nya dari kantongnya


" Tadi pagi "


Clara menjawab jujur


" Astaga serius Lo "


Clara meletakkan hp nya dan melihat Clara intens


" Ya emang kenal tadi pagi "


Clara kembali meyakinkan


" Bukannya Lo tadi pagi ke sekolahan ya "


Cika bertanya kembali

__ADS_1


" Ngak jadi , rapatnya di tunda "


Clara duduk dan mengambil tasnya


" kenal di mana "


Cika kembali bertanya


" Di toko buku "


Clara menjawab


" Terus Lo dari pagi jalan bertiga gitu sama anaknya "


Cika berpindah posisi duduk ke dekat Clara


" Ya enggak lah "


Clara menolak asumsi Cika pribadi


" Lha terus gimana dong , cerita dong "


Cika melihat Clara dengan serius dan mulai menjadi pendengar yang baik


Di dalam mobil


" Papa... Sean ngantuk "


Sean naik ke atas pangkuan papanya yang sibuk dengan hp


" Aduh... Anak papa ngantuk ya "


Sbastian mengambil tumpukan selimut yang selalu tersedia di dalam mobil dan menyelimuti Sean lalu merebahkan Sean di pelukannya setelah itu Sbastian kembali membuka hp nya dan memeriksa pekerjaan kantor


" Papa... "


Sean memegang tangan Sbastian yang sibuk memainkan hp


" Iya anak papa "


Sbastian melihat Sean yang mengerjakan matanya lucu


" Sean ngantuk "


Sean menggosok matanya yang sudah terasa panas


" hoam... "


Sean menguap dan matanya mulai mengeluarkan air mata


" Bobo sayang "


Sbastian meletakkan hp nya dan mengusap mata Sean yang di basahi air mata ke ngantukannya dan melihat hp kembali


" Sean ngantuk papa "


Sean menarik kecil jas Sbastian


" Baik..baik.. "


Sbastian mematikan hp nya dan menggulung Sean seperti kepompong lalu memeluknya erat


Sbastian mencium kening Sean dengan sayang dan meletakkan pipinya di kening Sean


" Bobo pangeran kecil "


Sbastian meminjat-mijat kecil punggung Sean


" Iya papa "


Sean memejamkan matanya dan meletakkan kepalanya di dada bidang papanya


" Udah baca doa tadi "


Sbastian mencubit pipi Sean


" Udah "


Sean mengeluarkan suaranya namun matanya tetap terpejam


" Anak pintar "


Sbastian membaca surat-surat pendek di dekat telinga Sean dan tangannya tidak berhenti mengelus kepala Sean hingga Sean tertidur


" Papa ingin kamu punya seorang ibu nak , tapi papa masih belum bisa melupakan bundamu , papa harus bagaimana sayang "


Sbastian memeluk erat Sean dan mencium kening Sean lalu menghirup dalam-dalam aroma khas bayi yang masih menempel di diri Sean


" Hoam.... "


Sean menguap dan merasakan sebuah beban yang ada di perutnya


Sean mengerjakan matanya lucu dan menyesuaikan cahaya di sekitarnya yang masuk ke dalam retina matanya , Sean menoleh ke kiri dan ke kanan lalu mendapati dirinya berada di atas kasur yang empuk dan nyaman


" Astagfirullah jam lima "


Sean terkejut saat melihat jam dinding besar yang tergantung di atas pintu berhiaskan kerang dengan jarum jam yang di panahnya di ganti dengan ikan badut yang lucu


" Papa jam lima pa , belum sholat subuh pa"


Sean mengguncang lengan papanya yang bertengger di atas perutnya


" Nanti dek "


Sbastian berbalik dan menaikkan selimutnya


" Astagfirullah papa , papa begadang lagi ya"


Sean berdiri dan menarik selimut Sbastian


" Bentar dek , papa masih ngantuk "


Sbastian menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut


" ayo papa.... Sean gigit lho nanti "


Sean membuat Sbastian terlentang dan duduk di atas perut Sbastian


" Pa.... Bangun paaa "

__ADS_1


Sean menarik kerah baju tidur Sbastian


" Papa masih ngantuk dek , nanti ya "


Sbastian berguling ke samping dan membuat Sean jatuh dari tubuhnya


" Nanti abis sholat tidur lagi gak papa deh , sekarang sholat dulu pa... "


Sean menggeliat ke arah wajah Sbastian dan menepuk-nepuk pipi Sbastian pelan


" Tch.. iya iya papa bangun "


Sbastian berdecak lalu duduk dan turun dari kasur


" Gitu dong "


Sean ikut turun dari kasur dan ikut mengambil air wudhu bersama Sbastian


Dan benar saja , setelah sholat dan membaca surat-surat pendek bersama Sean , Sbastian kembali memejamkan matanya di atas sajadah


" Dasar papa "


Sean merapihkan tempat sholat dan kitabnya lalu meninggalkan Sbastian yang sudah berkelana ke alam mimpi


" Bunda Sean mau mandi dulu ya "


Sean meraih foto almarhum adinda yang ada di sebelah susunan kitab suci dan menciumnya


Sean keluar dari kamar dan turun perlahan hingga sampai ke lantai dasar


" Yang lain mana ya , kok sepi sih "


Sean menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang mungkin kebetulan akan lewat


" Ngak ada orang sama sekali deh.. "


Sean berjalan ke arah dapur dan mendapati makanan yang sudah tertata rapih di atas meja makan


" Sean laper tapi belom mandi "


Sean keluar dari dapur dan berjalan melewati ruang keluarga hingga sampai di ruang tamu


" Ini orang pada kemana sih "


Sean menggaruk rambutnya frustasi


" Sepinya "


Sean berjalan ke arah meja di ruang tamu dan menemukan paper bag coklat miliknya semalam


" Makan coklat enak nih "


Sean meraih paper bag coklat miliknya dan mengambil beberapa camilan di atas meja juga remote tv legendaris yang sering hilang


Sean memasukkan kaset animasi favorit miliknya dan melihatnya sambil memakan camilan yang mengelilinginya , tidak lama setelah itu Yuka


" Astaga tuan muda "


Yuka terkejut saat melihat tuan mudanya yang mengotori sofa dengan coklat dan remah keripik yang berceceran


" Hai kak Yuka "


Sean melambaikan tangannya yang penuh dengan coklat


" Tuan muda bisa di marahi tuan besar jika seperti ini "


Yuka mengambil coklat dan membersihkan remah kripik yang ada di tangan Sean


" Tadi Sean mau mandi tapi ngak ada orang , Sean mau makan tapi belom mandi "


Sean membantu Yuka menutup semua toples makanan ringan yang di makannya


" Lalu kemana semuanya "


Yuka berdiri dan sepertinya sedang menelfon seseorang


Tidak lama muncullah banyak pelayan berseragam berkumpul di ruang tamu sambil menundukkan kepalanya , saat mereka semua berkumpul Yuka terlihat berkacak pinggang dan mengeluarkan banyak kalimat yang tidak di mengerti Sean


" Kak Yuka ngomel terus "


Sean menutup telinganya dan pergi dari sana diam-diam


" Hah "


Sean terkejut saat ada salah seorang pelayan yang melihat kearahnya dengan tatapan seolah bertanya " mau kemana "


" Ssssttt "


Sean meletakkan jari telunjuk di bibirnya lalu menunjuk ke arah dapur


Seakan pelayan itu mengerti apa arti isyarat Sean , pelayan wanita itu tersenyum dan mengacungkan jempol nya sedikit


" Sip "


Sean melanjutkan perjalanannya dengan mengendap-endap menuju dapur


" Huft.. "


Sean menghela nafas dan mengelus dadanya saat sudah sampai dapur dengan selamat


" kenapa diam-diam gitu "


Sebuah suara mengagetkan Sean yang sedang mengintip apakah Yuka melihatnya atau tidak


" Astagfirullah kakek , Sean terkejut hahaha"


Sean cekikikan dan membuat pak Sam kebingungan


" Mau mandi doang kek "


Sean berhenti tertawa dan memeluk kaki pak Sam


" Ayo mandi kek "


Sean menunjukkan gigi putihnya yang rapih dan bersih


" Baiklah , ayo mandi "


Pak Sam menggendong Sean dan membawa Sean untuk mandi

__ADS_1


__ADS_2