Aku Pangeran

Aku Pangeran
#118 ( Aniel )


__ADS_3

" Ciffon belum kembali "


Sean terkejut


" Belum tuan , katanya dia menyelesaikan beberapa pakaian untuk festival bulan depan"


North menjawab


" Hm... Beritahu dia untuk menemuiku setelah pekerjaannya selesai "


Sean melanjutkan perjalanan


" Saya mengerti "


North mengangguk


" Aku pulang dulu , kalian istirahatlah "


Sean berbalik


" Kami pamit undur diri tuan "


Mereka semua membungkuk hormat dan berlalu pergi


Setelah beberapa saat perjalanan menuju rumah


*Ckelek...grieeet


Sean membuka pintu rumah


" Gelap "


Sean menggumam


*Grieeet


Sean menutup pintu


Sean perlahan menyalakan batu lentera yang teraliri sihir dari pusat di bawah pulau


*Ctas... Ctas....


Sean menyalakan semua lampu penerang yang dibutuhkan dan terlihat remang-remang beberapa perabot rumah


" Mas "


Terdengar suara Fleur


" Sayang , kamu jadi kebangun "


Sean menghampiri Fleur


" Tidak ...hoam... Fleur lapar mau makan "


Fleur menyandarkannya tubuhnya di sandaran pintu


" Kamu mau makan apa "


Sean bertanya


" Bakso "


Fleur menjawab


" Haaa??... Sayang mau apa "


Sean bertanya kembali


" Mas pernah cerita bakso , Fleur mau bakso "


Fleur mengulangi kalimatnya


" Em.... Besok ya kita buat bakso "


Sean mengusap wajah Fleur


" Mau sekarang "


Fleur menggeleng


" Besok ya sayang , sekarang kan udah malem"


Sean mencoba bernegosiasi


" Hiks.... Mas gak sayang sama Fleur "


Fleur menitikkan air matanya


" Aduh gimana nih "


Sean membatin


" Sayang , ini kan sudah malem jadi ya ngak ada orang jualan bakso "


Sean mengusap kepala Fleur


" Tapi Fleur mau bakso "


Fleur menghentakkan kakinya seperti anak kecil


" Glup... "


Sean menelan ludahnya kasar


" Maaas... Mau bakso "


Fleur mengguncang lengan Sean


*Ting


Sean menemukan lampu kecil di atas kepalanya


" Iya kita makan bakso "


*Hup


Sean menggendong Fleur dan masuk ke dalam kamar


" Beneran "


Fleur menatap Sean


" Bener "


Sean mengangguk


" KYAAAAAAA SAKIT MAS PELAN PELAN "


Terdengar suara teriakan Fleur dari dalam kamar


" Maaf sayang "


Suara Sean menyahuti


" Kyung "


Roux menjadi kecil dan tidur di atas meja ruang tamu


Untuk mengulur waktu , Sean membuat Fleur lumpuh malam ini hingga esok pagi agar Fleur tidak menagih bakso idamannya


Setelah Fleur tertidur esok hari


" Haduh gimana nih "


Sean menggaruk kepalanya yang pening karena permintaan Fleur semalam


" Kalau minta Mao sempet ngak ya "


Sean menutup wajahnya dengan bantal


" Bakso "


Suara Fleur mengigau


" Minta tolong Mao dulu "


Sean turun dari tempat tidur dan melilitkan kain di pinggangnya


Di ruang tamu


_______


Mao


Fleur mau bakso , apa bisa di kirim sekarang juga


Kalau bisa kirimkan dua mangkok di bungkus aja


_________


Sean mengirimkan suratnya untuk Mao dengan di iringi magic dari batu blue miliknya agar lebih cepat terkirim


" Haisss... Kalau buat di sini gilingannya ngak ada "


Sean terlihat berpikir


" Pernah sih dulu liat pembuatan bakso sama papa , tapi bahannya apa aja ya "


Sean menyangga kepalanya dengan kedua tangannya


Dulu


" Papa papa itu apa "


Sean lima tahun bertanya kepada Sbastian


" Ini bakso "


Sbastian mulai menyuapi Sean dengan sepotong kecil bakso


" Enak "


Sbastian bertanya


" Iya "


Sean kecil mengangguk dan mulai memakan potongan kecil pentol dengan lahap


" Gimana cala buat ini "


Sean bertanya


" Kita bisa lihat nanti "


Sbastian mengusap pipi Sean yang terkena noda bakso


" Mau sekalang liatnya "


Sean meminta


" Iya ayo "


Sbastian membawa Sean kecil menuju tempat pembuatan bakso yang di kemas di dalam kemasan


Di pabrik pembuatan pentol


" Tu apa "


Sean kecil menunjuk gilingan daging yang amat besar


" Dagingnya di giling di sini , di kasih bumbu terus kalau udah halus nanti bisa jadi pentol"


Sbastian menjelaskan perlahan


" Daging aja "


Sean bertanya


" Tidak , ada bumbu lainnya "


Paman pemilik di sana tiba-tiba muncul


" Emang apa ubunya "


Sean bertanya


" Bumbu sayang "


Sbastian membenarkan


" Iya... ubu paman "


Sean mengulangi kalimatnya


" Hahaha bumbunya itu....


*Blur


Sean melupakan bagian penting yang harus dia ingat


" Lalu apa lanjutannya "


Sean berkacak pinggang


" Heumm... "


Sean terlihat berpikir


" Aaarrrgggg aku lupa "


Sean mengacak rambutnya frustasi


*Zzrrtt


Sean merasakan getaran kecil dari kalung pesannya yang ada di atas meja


" Mao membalas "


Sean cepat-cepat membuka balasan dari Mao


_______


Saya akan carikan


_______


Pesan singkat Mao membuat Sean lega


" Kau penyelamat Mao "


Sean merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang


Setelah beberapa saat akhirnya datang dua bungkus bakso yang masih hangat dengan sepucuk surat


_______


Saya sudah memberikan penghalang , jadi makannya akan aman di sana


______


" Makasih Mao "


Sean tersenyum senang


" Sekarang saatnya membuat desain stempel "


Sean mengambil kertas dan pena


Tengah hari kemudian


*Tok... Tok... Tok...


Pintu di ketuk dan membuat Sean terbangun dari ketidurannya


" Sebentar "


Sean membenahi kain yang masih menempel di pinggangnya dan membuka pintu


" Selamat siang tuan "


Aloe dan North datang


" Oh aku sudah menyelesaikan desainnya "


Sean mengambil kertas desainnya dan memberikannya kepada Aloe


" Dan North aku ingin istirahat seharian ini ya , tubuhku lelah sekali "


Sean meminta


" Saya mengerti "


North mengangguk


" Kami pamit tuan "


Aloe dan North membungkuk


" Iya bay "


Sean menutup pintu dan kembali berbaring di atas kursi


*Kratak..


Terdengar suara tulang Sean yang berbunyi setelah Sean berbaring


" Enaknya rebahan "


Sean memejamkan matanya dan tertidur


*Sret


Sebuah cahanya membuat mata Sean silau


" Anda sudah sadar tuan "


Suara Mao memasuki pendengaran


" Mao "


Sean kesusahan menggerakkan bibirnya


" Tatak dah anun ya ao "


( Kakak udah bangun ya Mao )


Terdengar suara anak kecil di dekat telinga Sean


" Iya nona muda , anda duduk di sini dulu ya"


Terasa beberapa sentuhan membuat Sean sadar asal suara itu di dekatnya


" Mao "


Sean kembali memanggil


" Saya tuan "


Terasa sentuhan tangan menyentuh kulitnya


" Pa..pa "


Terasa berat dan kelu lidah Sean


" Tuan sedang keluar , anda istirahat saja ya"


Mao melepaskan banyak alat medis di sekujur tubuh Sean


Perlahan pengelihatan Sean kembali normal dalam beberapa menit


" Tatak "


Suara anak kecil itu kembali memasuki telinganya


" Siapa anak ini "


Sean membatin


*Sring


Terlihat di dahi gadis kecil muncul sebuah bunga mawar berwarna perak


" Fasyla "


Sean menggumam


" Ao ao tatak anun agi "


( Mao Mao kakak bangun lagi )


Terlihat senyum manis dari gadis kecil di hadapannya


" Fasyla "

__ADS_1


Sean berusaha menggerakkan tangannya


" Tatak au iel "


( Kakak mau Aniel )


Gadis kecil itu menatap tangan Sean


*Grep


Gadis kecil itu menggenggam tangan Sean


" Fasyla "


*Syut


Air mata Sean luruh seketika


" Ao ao tatak anis "


( Mao Mao kakak nangis )


Gadis kecil itu terlihat panik


" Iya nona sebentar "


Terdengar suara Mao dari dalam kamar mandi


" Tuan kenapa "


Mao menghampiri Sean dan menyentuh kening Sean


" Fasyla "


Sean berusaha mendudukkan dirinya


" Jangan tuan , anda harus istirahat "


Mao mencegah Sean duduk


" Iel au Luk tatak "


( Aniel mau peluk kakak )


Gadis itu merentangkan tangannya


" Fasyla "


Sean perlahan mengulurkan tangannya


*Grep


Gadis kecil itu masuk ke dalam pelukan Sean


" Fasyla "


Sean merebahkan tubuhnya dengan menghadap ke samping kanan


" Iel cuka tatak "


( Aniel suka kakak )


Gadis itu tersenyum senang dan memeluk Sean dengan erat


" Ini putriku "


Hati Sean berkata dalam hati dengan penuh kebahagiaan


" Hoam.... Iel antuk "


( Hoam.... Aniel ngantuk )


Gadis kecil itu memejamkan matanya


" Fasyla "


Sean dengan kaku mengusap rambut tipis Aniel yang tepat ada di hadapannya


" Putriku sudah lahir "


Hati Sean bergetar hebat merasakan pelukan yang sudah lama dia rindukan


" Maafkan ayah sayang , ayah tidak bisa melindungimu "


Hati Sean terus menyesali kecerobohan dirinya dulu


" Siapa ya namamu sekarang , ayah harap papa memberimu nama yang indah "


Sean tersenyum dalam lamunannya


*Cup


Sean dengan sekuat tenaga mengecup pucuk kepala Aniel


" Mas "


Terdengar suara seorang perempuan


" Fasyla "


Sean menggumam


" Maaaas "


*Plak


Terasa pukulan di lengannya


" Sakit Fasyla "


Sean menggumam


" Maaaas iiiihhhhh sebel Fleur "


*Plak


Fleur memukul lengan Sean


" Sayang "


Sean membuka matanya perlahan


" Astaga sayang kamu dah bangun "


Sean mendudukkan dirinya


" Siapa Fasyla "


Fleur mengerucutkan bibirnya


" Fasyla "


Sean pura-pura tidak tahu


" Mas gak suka lagi sama Fleur "


Fleur menitikkan air matanya


" Aduh mampus "


Sean membatin


" Kemarilah sayang "


Sean menarik lengan Fleur


" Siapa Fasyla "


Fleur mengusap air matanya yang masih mengalir


" Siapa ya "


Sean memeluk Fleur


" Siapa "


Fleur menatap Sean


" Aduh siapa ya "


Sean membatin


" Itu nama anak perempuan kita sayang "


Sean tiba-tiba berkata seperti itu


" Anak perempuan "


Fleur mengerenyitkan keningnya


" Iya , kalau dia perempuan akan mas namakan Fasyla "


Sean mengusap perut Fleur


" Ngak percaya "


Fleur menggeleng


" Percaya dong , tadi tuh mas mikirin nama anak kita , eh malah kebawa mimpi "


Sean mencari alasan lain


" Ngak bohong "


Fleur mengajukan telunjuknya


" Ngak dong "


*Cup


Sean mengecup telunjuk Fleur


" Oh... "


Fleur mengangguk


" Ayo makan bakso , mas tadi udah beli bakso"


Sean berdiri


" Ada bakso "


Fleur terkejut


Sean membawa Fleur ke dapur


Di dapur


" Ini namanya bakso "


Fleur melihat satu plastik bakso di depannya


" Di taruh sini dulu baru di makan "


Sean menuangkan satu plastik bakso ke dalam mangkok


" Kayaknya enak "


Fleur terlihat sangat lapar


" kalau di hangatkan lebih enak , kamu mau di hangatkan "


Sean menawari


" Boleh "


Fleur mengangguk


Setelah itu Sean mulai menghangatkan bakso milik Fleur dan miliknya menjadi satu


" Silahkan makan nyonya "


Sean meletakkan satu mangkuk bakso jumbo di hadapan Fleur


" Cara makannya gimana "


Fleur bertanya


" Pakai sendok dong "


Sean menunjukkan cara memakan satu pentol


" Mau "


Fleur meminta sendok dari Sean


" Makan yang lahap , habiskan sampai kenyang "


Sean menuangkan beberapa tetes sambal dan saus juga kecap


" Enak mas "


Fleur memakan bakso idamannya dengan lahap


" Pelan-pelan makannya "


Sean mengusap pipi Fleur yang terkena kuah


" Hm... "


Senyum Fleur merekah dan itu membuat Sean bahagia


" Kenapa ya tiba-tiba aku bermimpi Aniel , apa terjadi sesuatu dengan Aniel "


Sean berfikir


" Apa Aniel dan lainnya baik-baik saja "


Sean mulai memikirkan Aniel karena mimpi tadi


" Habis "


Fleur meletakkan satu mangkuk bakso jumbo yang sudah tandas


" Mau makan yang lain "


Sean mengusap kepala Fleur


" Udah nanti aja "


Fleur menggeleng


Dua hari setelah itu Sean merenovasi rumahnya menjadi dua lantai dengan enam kamar tidur itu semua sesuai permintaan Fleur


Satu bulan kemudian


" Akhirnya selesai "


Sean tersenyum melihat rumahnya yang membuatnya mengingat rumah pohon saat dia masih menjadi raja Tian dulu


Satu bulan juga Sean mulai sering memimpikan masanya bersama Aniel


" Mas kenapa "


Fleur menyentuh pundak Sean


" Sayang , aku sering memimpikan Aniel "


Sean memberitahu


*Zzrrtt


Terasa dari getaran kalung Sean


Lama....


" Mana suratnya "


Sean memeriksa kalungnya


" Tuan Tuan ada banyak datang dari laut bersama nona Alula "


North mendatangi Sean


" Apa "


Sean terkejut


" Sayang kamu di rumah aja "


Sean mengeluarkan Roux dari rumah


" Jaga Fleur "


Sean meninggalkan Roux di samping Fleur


" Kyung.... "


Roux menjadi besar


" Ada apa ya "


Fleur mengusap kepala Roux


Sean berlari menuju pintu masuk pulau yang agak jauh karena kediaman Sean ada di ujung pulau


Sesampainya di pintu masuk


" Salam tuan "


Semua orang memberi jalan


" Papa "


Sean terkejut melihat seluruh keluarga Sbastian ada di sana


" Aniel kenapa "


Sean dan langsung mengambil Aniel dari gendongan key


" KAKAAAAAK Aniel kangen huaaaaaa "


Aniel memeluk leher Sean dengan erat


" Kamu panas , kenapa ini Alula "


Sean bertanya


" Adik sakit "


Adimas menjawab


" Kenapa di bawa kesini kalau sakit "


Sean mengusap rambut Aniel


" Aniel ngak mau ke rumah sakit , kami ngak tau harus apa "


Sbastian menjawab


" Akan Sean bawa periksa dulu , North bawa mereka pulang dan jelaskan kepada Fleur "


Sean langsung meninggalkan Sbastian sekeluarga


*Tap..tap..tap


Sean berlari dengan cepat menuju rumah rawat yang baru saja di bangun


" Tabib "


*Brak


Sean langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk


" Ada apa tuan "


Semua orang menghampiri Sean


" Periksa dia "


Sean mengusap kepala Aniel


" Baringkan di sini tuan "


Tabib tua menunjuk tempat tidur khusus untuk pasien


" Jangan tinggalin Aniel "


Aniel menarik tangan Sean


" Ngak akan , tenanglah kecil "


Sean meletakkan Aniel perlahan dan tetap menggenggam tangan Aniel hingga para tabib selesai memeriksa

__ADS_1


" Bagaimana "


Sean bertanya


" Nona muda sudah makan "


Tabib wanita di sana bertanya


" Aniel gak laper "


Aniel memeluk tangan Sean


" Kapan nona terakhir makan "


Tabib itu bertanya kembali


" Kemarin "


Aniel menjawab


" Nona harus makan yang banyak ya , agar tidak sakit "


Tabib memberitahu


" Iya "


Aniel mengangguk


" Sepertinya nona tidak benar-benar makan akhir-akhir ini , nona tidak boleh seperti ini atau kesehatannya akan memburuk "


Tabib wanita itu menjelaskan


" Aku mengerti "


Sean mengangguk


" Tuan , ini obat agar nona muda mau makan lebih banyak "


Tabib tua tadi mendekat


" Terimakasih tabib "


Sean menerima obat cair di dalam botol kayu dari tabib


" Nona harus segera makan setelah ini , lalu setelah makan nona harus minum obat "


Tabib tua memberitahu


" Aku mengerti , permisi tabib "


Sean berjalan keluar di antar seluruh tabib di sana


Sean keluar dari rumah rawat


" Kamu kenapa ngak mau makan "


Sean mengusap punggung Aniel


" Aniel kangen kakak "


Aniel memeluk erat leher Sean


" Hm... Kakak bisa menebaknya , Aniel mau ketemu kakak terus papa bilang ngak bisa jadi Aniel mogok makan , bener kan "


Sean menebak


" Maaf , Aniel salah "


Aniel mengaku


" Jangan seperti itu lagi , kalau kamu memperhatikan , papa pucat sekali tadi bahkan bunda dan kak Adimas "


Sean memasuki sebuah kedai kecil


" Mereka khawatir sama Aniel "


Aniel menatap Sean


" Benar sekali "


Sean mengusap kepala Aniel


Sean duduk di salah satu bangku panjang


" Bibi satu porsi biasanya ya "


Sean meminta


" Siap tuan "


Seorang wanita paruh baya mengangguk


" Maaf kak , Aniel salah "


*Sret


Air meta Aniel luruh


" Iya , ngak papa tapi jangan di ulangi ya "


Sean mengusap air mata Aniel


" Ini tuan "


Satu porsi makanan ada di depan Aniel


" Kita makan sekarang "


Sean mulai menyuapi Aniel dengan makanan yang terbuat dari daging ikan lebih tepat bubur ikan


" Aaa.... Buka mulutnya sayang "


Sean menyendokkan sesuap bubur ikan


" Aem.... Hemmm Enak kak "


Aniel memakannya dengan wajah terkejut


" Habiskan "


Sean kembali menyuapkan sesendok bubur untuk Aniel


" Aniel makan sendiri kak "


Aniel meminta sendok dari Sean


" Iya "


Sean memberikan sendoknya kepada Aniel dan membiarkan Aniel makan bubur di atas pangkuannya


" Bi aku mau bawa pulang lima porsi "


Sean meminta


" Siap tuan "


Bibi itu mulai meletakkan makanan yang seperti di makan Aniel ke dalam wadah dari kayu


" Itu siapanya tuan "


Bibi bertanya


" Saudari saya "


Sean menjawab


" Oh saya kira anak tuan , padahal kan nyonya belum lahiran "


Bibi meletakkan semua bawaan Sean yang sudah di tata rapih dengan cara di ikat menggunakan tali


" Doakan saja bi , beberapa bulan lagi udah mau lahiran "


Sean menjawab


" Emang udah berapa bulan , tuan "


Bibi bertanya


" Sudah enam "


Sean menjawab


" Waaaah bentar lagi ramai dong rumahnya"


Bibi terlihat senang


" Iya Bi "


Sean tersenyum


" Habis kak "


Aniel menarik tangan Sean


" Mau lagi "


Sean menawari


" Ayo pulang "


Aniel memeluk Sean


" Minum obat dulu "


Sean mengeluarkan obat Aniel


" Pait "


Aniel menutup mulutnya


" Kalau pakek ini pasti mau "


Bibi memberikan madu di dalam gelas dari bambu yang sangat kecil


" Hm... Ini madu yang manis , kalau di pakai minum obat pasti ngak pait "


Sean menuangkan sedikit obat ke dalam madu


" Kalau obat kimia pasti ga mempan , berhubung obat alam jadi gapapa kalo di minum dengan madu "


Sean membatin


" Ngak pait kan "


Aniel bertanya


" Cobalah dulu "


Sean menyerahkan madu yang sudah dia campuri obat


*Glup


Aniel menuangkan madu kental ke dalam mulutnya


" Em... Asem "


Aniel menjulurkan lidahnya


" Enak lho haha "


Bibi tertawa


" Ini "


Bibi menyodorkan kembali gelas kec tadi yang sudah di kasih air


*Glup


Aniel meneguknya dengan sekali tegukan


" Enak "


Aniel tersenyum


" Makasih ya Bi , ini uangnya "


Sean meletakkan beberapa keping uang di atas meja


" Makasih ya tuan "


Bibi itu melambaikan tangannya saat Sean berjalan keluar


" Kita pulang "


Aniel bertanya


" Iya , akan kakak tunjukkan rumah baru kakak"


Sean membawa Aniel menuju pasar


" Kok ke pasar "


Aniel memperhatikan sekeliling


" Kita beli bahan masak dulu , nanti kakak masakkan banyak makanan di rumah "


Sean membeli beberapa bahan makanan


Setelah membeli banyak bahan makanan hingga Sean tidak bisa membawanya


Akhirnya Sean pulang dengan tangan yang penuh dan Aniel yang tertidur di gendongannya


" Tuan , saya bantu bawakan "


Tiba-tiba muncul Aloe dan key ntah dari mana


" Iya makasih "


Sean memberikan semua belanjaannya


" Bagaimana dengan papa dan bunda "


Sean bertanya


" Nyonya , tuan dan tuan muda sudah di rumah bersama nyonya Fleur "


Key menjawab


" Apa mereka bertanya tentang Fleur "


Sean kembali bertanya


" Iya , dan tuan muda bilang anda yang akan menjelaskan anti "


Key menjawab kembali


" Hm... "


Sean mengangguk


Setelah perjalanan yang cukup menyita waktu karena Sean mampir ke beberapa toko untuk membeli banyak barang untuk perlengkapan rumah


Sean kembali dengan banyak orang untuk membantu membawakan barang-barang yang dia beli


Akhirnya Sean melihat Fleur berdiri di depan pintu dengan wajah yang khawatir


Fleur berjalan cepat menghampiri Sean


*Grep


Fleur langsung memeluk erat tubuh Sean


" Jangan erat-erat , kasihan anak kita nanti "


Sean mengusap kepala Fleur


" Lama "


Fleur menatap Sean dengan air mata yang mengalir


" Maaf , aku membeli banyak barang dan memeriksakan Aniel ke tabib "


Sean mengusap air mata Fleur dengan tangan kirinya


" Iya "


Fleur mengangguk


" Ayo "


Sean membawa Fleur berjalan menuju pintu rumah yang sudah di isi dengan Sbastian dan Adinda


" Mas "


Fleur menggenggam erat tangan Sean yang ada di pundaknya


" Jangan takut , mereka keluarganya mas "


*Cup


Sean mengecup pucuk kepala Fleur


" Papa , bunda kita masuk dulu "


Sean menggiring keluarganya masuk ke dalam


" Tunggu ya "


*Cup


Sean mengecup kening Fleur dan berlalu masuk ke dalam kamar


Banyak orang masuk ke dalam rumah untuk meletakkan barang bawaan Sean di tempat seharusnya dengan panduan Aloe


*Klak


Sean keluar dari kamar dan menutup pintu kamar


Sean berjalan mendekati keluarganya yang siap menerima penjelasan


*ctas... Ctas...


Sean menyalakan lampu yang tertempel di dinding di atas Sbastian dan Adimas


Ketika Fleur hendak berdiri Sean menghentikannya


" Duduk saja "


Sean mendudukkan Fleur dan mengusap rambut panjang Fleur


*Ctas... Ctas...


Sean menyalakan sepuluh penerangan yang ada di ruang tamu termasuk lampu gantung besar di tengah-tengah ruangan


" Tuan , kami sudah meletakkan semuanya di tempatnya "


Key dan North menghampiri Sean


" Kalian pulanglah dan istirahat , ini hampir malam juga katakan kepada tetua untuk membatalkan pertemuan malam ini "


Sean memerintahkan


" Baik tuan "


North dan ketiga saudaranya mengangguk


" Dan North , malam ini bisakah kamu wakilkan pertemuan dengan para pedagang"


Sean meminta


" Saya laksanakan tuan "


North mengangguk


" Ini untuk kalian , North bagi ini secara rata kepada mereka "


Sean memberikan se kantong uang untuk para pekerja


" Kami pamit undur diri "


Semua orang membungkuk hormat dan meninggalkan rumah Sean


* Ctas... Ctas...


Sean keluar dan menyalakan penerangan di luar rumah yang baru di pasang hari ini


*Ngung... Ngung... Ngung...


Terdengar samar-samar suara dari putaran batu sihir penerangan yang ada di dalam tempatnya


*Hening....


Sbastian hanya menunjukkan wajah penasaran begitu pula Adinda sedangkan Adimas terlihat biasa saja

__ADS_1


__ADS_2