
" Ciffon belum kembali "
Sean terkejut
" Belum tuan , katanya dia menyelesaikan beberapa pakaian untuk festival bulan depan"
North menjawab
" Hm... Beritahu dia untuk menemuiku setelah pekerjaannya selesai "
Sean melanjutkan perjalanan
" Saya mengerti "
North mengangguk
" Aku pulang dulu , kalian istirahatlah "
Sean berbalik
" Kami pamit undur diri tuan "
Mereka semua membungkuk hormat dan berlalu pergi
Setelah beberapa saat perjalanan menuju rumah
*Ckelek...grieeet
Sean membuka pintu rumah
" Gelap "
Sean menggumam
*Grieeet
Sean menutup pintu
Sean perlahan menyalakan batu lentera yang teraliri sihir dari pusat di bawah pulau
*Ctas... Ctas....
Sean menyalakan semua lampu penerang yang dibutuhkan dan terlihat remang-remang beberapa perabot rumah
" Mas "
Terdengar suara Fleur
" Sayang , kamu jadi kebangun "
Sean menghampiri Fleur
" Tidak ...hoam... Fleur lapar mau makan "
Fleur menyandarkannya tubuhnya di sandaran pintu
" Kamu mau makan apa "
Sean bertanya
" Bakso "
Fleur menjawab
" Haaa??... Sayang mau apa "
Sean bertanya kembali
" Mas pernah cerita bakso , Fleur mau bakso "
Fleur mengulangi kalimatnya
" Em.... Besok ya kita buat bakso "
Sean mengusap wajah Fleur
" Mau sekarang "
Fleur menggeleng
" Besok ya sayang , sekarang kan udah malem"
Sean mencoba bernegosiasi
" Hiks.... Mas gak sayang sama Fleur "
Fleur menitikkan air matanya
" Aduh gimana nih "
Sean membatin
" Sayang , ini kan sudah malem jadi ya ngak ada orang jualan bakso "
Sean mengusap kepala Fleur
" Tapi Fleur mau bakso "
Fleur menghentakkan kakinya seperti anak kecil
" Glup... "
Sean menelan ludahnya kasar
" Maaas... Mau bakso "
Fleur mengguncang lengan Sean
*Ting
Sean menemukan lampu kecil di atas kepalanya
" Iya kita makan bakso "
*Hup
Sean menggendong Fleur dan masuk ke dalam kamar
" Beneran "
Fleur menatap Sean
" Bener "
Sean mengangguk
" KYAAAAAAA SAKIT MAS PELAN PELAN "
Terdengar suara teriakan Fleur dari dalam kamar
" Maaf sayang "
Suara Sean menyahuti
" Kyung "
Roux menjadi kecil dan tidur di atas meja ruang tamu
Untuk mengulur waktu , Sean membuat Fleur lumpuh malam ini hingga esok pagi agar Fleur tidak menagih bakso idamannya
Setelah Fleur tertidur esok hari
" Haduh gimana nih "
Sean menggaruk kepalanya yang pening karena permintaan Fleur semalam
" Kalau minta Mao sempet ngak ya "
Sean menutup wajahnya dengan bantal
" Bakso "
Suara Fleur mengigau
" Minta tolong Mao dulu "
Sean turun dari tempat tidur dan melilitkan kain di pinggangnya
Di ruang tamu
_______
Mao
Fleur mau bakso , apa bisa di kirim sekarang juga
Kalau bisa kirimkan dua mangkok di bungkus aja
_________
Sean mengirimkan suratnya untuk Mao dengan di iringi magic dari batu blue miliknya agar lebih cepat terkirim
" Haisss... Kalau buat di sini gilingannya ngak ada "
Sean terlihat berpikir
" Pernah sih dulu liat pembuatan bakso sama papa , tapi bahannya apa aja ya "
Sean menyangga kepalanya dengan kedua tangannya
Dulu
" Papa papa itu apa "
Sean lima tahun bertanya kepada Sbastian
" Ini bakso "
Sbastian mulai menyuapi Sean dengan sepotong kecil bakso
" Enak "
Sbastian bertanya
" Iya "
Sean kecil mengangguk dan mulai memakan potongan kecil pentol dengan lahap
" Gimana cala buat ini "
Sean bertanya
" Kita bisa lihat nanti "
Sbastian mengusap pipi Sean yang terkena noda bakso
" Mau sekalang liatnya "
Sean meminta
" Iya ayo "
Sbastian membawa Sean kecil menuju tempat pembuatan bakso yang di kemas di dalam kemasan
Di pabrik pembuatan pentol
" Tu apa "
Sean kecil menunjuk gilingan daging yang amat besar
" Dagingnya di giling di sini , di kasih bumbu terus kalau udah halus nanti bisa jadi pentol"
Sbastian menjelaskan perlahan
" Daging aja "
Sean bertanya
" Tidak , ada bumbu lainnya "
Paman pemilik di sana tiba-tiba muncul
" Emang apa ubunya "
Sean bertanya
" Bumbu sayang "
Sbastian membenarkan
" Iya... ubu paman "
Sean mengulangi kalimatnya
" Hahaha bumbunya itu....
*Blur
Sean melupakan bagian penting yang harus dia ingat
" Lalu apa lanjutannya "
Sean berkacak pinggang
" Heumm... "
Sean terlihat berpikir
" Aaarrrgggg aku lupa "
Sean mengacak rambutnya frustasi
*Zzrrtt
Sean merasakan getaran kecil dari kalung pesannya yang ada di atas meja
" Mao membalas "
Sean cepat-cepat membuka balasan dari Mao
_______
Saya akan carikan
_______
Pesan singkat Mao membuat Sean lega
" Kau penyelamat Mao "
Sean merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang
Setelah beberapa saat akhirnya datang dua bungkus bakso yang masih hangat dengan sepucuk surat
_______
Saya sudah memberikan penghalang , jadi makannya akan aman di sana
______
" Makasih Mao "
Sean tersenyum senang
" Sekarang saatnya membuat desain stempel "
Sean mengambil kertas dan pena
Tengah hari kemudian
*Tok... Tok... Tok...
Pintu di ketuk dan membuat Sean terbangun dari ketidurannya
" Sebentar "
Sean membenahi kain yang masih menempel di pinggangnya dan membuka pintu
" Selamat siang tuan "
Aloe dan North datang
" Oh aku sudah menyelesaikan desainnya "
Sean mengambil kertas desainnya dan memberikannya kepada Aloe
" Dan North aku ingin istirahat seharian ini ya , tubuhku lelah sekali "
Sean meminta
" Saya mengerti "
North mengangguk
" Kami pamit tuan "
Aloe dan North membungkuk
" Iya bay "
Sean menutup pintu dan kembali berbaring di atas kursi
*Kratak..
Terdengar suara tulang Sean yang berbunyi setelah Sean berbaring
" Enaknya rebahan "
Sean memejamkan matanya dan tertidur
*Sret
Sebuah cahanya membuat mata Sean silau
" Anda sudah sadar tuan "
Suara Mao memasuki pendengaran
" Mao "
Sean kesusahan menggerakkan bibirnya
" Tatak dah anun ya ao "
( Kakak udah bangun ya Mao )
Terdengar suara anak kecil di dekat telinga Sean
" Iya nona muda , anda duduk di sini dulu ya"
Terasa beberapa sentuhan membuat Sean sadar asal suara itu di dekatnya
" Mao "
Sean kembali memanggil
" Saya tuan "
Terasa sentuhan tangan menyentuh kulitnya
" Pa..pa "
Terasa berat dan kelu lidah Sean
" Tuan sedang keluar , anda istirahat saja ya"
Mao melepaskan banyak alat medis di sekujur tubuh Sean
Perlahan pengelihatan Sean kembali normal dalam beberapa menit
" Tatak "
Suara anak kecil itu kembali memasuki telinganya
" Siapa anak ini "
Sean membatin
*Sring
Terlihat di dahi gadis kecil muncul sebuah bunga mawar berwarna perak
" Fasyla "
Sean menggumam
" Ao ao tatak anun agi "
( Mao Mao kakak bangun lagi )
Terlihat senyum manis dari gadis kecil di hadapannya
" Fasyla "
__ADS_1
Sean berusaha menggerakkan tangannya
" Tatak au iel "
( Kakak mau Aniel )
Gadis kecil itu menatap tangan Sean
*Grep
Gadis kecil itu menggenggam tangan Sean
" Fasyla "
*Syut
Air mata Sean luruh seketika
" Ao ao tatak anis "
( Mao Mao kakak nangis )
Gadis kecil itu terlihat panik
" Iya nona sebentar "
Terdengar suara Mao dari dalam kamar mandi
" Tuan kenapa "
Mao menghampiri Sean dan menyentuh kening Sean
" Fasyla "
Sean berusaha mendudukkan dirinya
" Jangan tuan , anda harus istirahat "
Mao mencegah Sean duduk
" Iel au Luk tatak "
( Aniel mau peluk kakak )
Gadis itu merentangkan tangannya
" Fasyla "
Sean perlahan mengulurkan tangannya
*Grep
Gadis kecil itu masuk ke dalam pelukan Sean
" Fasyla "
Sean merebahkan tubuhnya dengan menghadap ke samping kanan
" Iel cuka tatak "
( Aniel suka kakak )
Gadis itu tersenyum senang dan memeluk Sean dengan erat
" Ini putriku "
Hati Sean berkata dalam hati dengan penuh kebahagiaan
" Hoam.... Iel antuk "
( Hoam.... Aniel ngantuk )
Gadis kecil itu memejamkan matanya
" Fasyla "
Sean dengan kaku mengusap rambut tipis Aniel yang tepat ada di hadapannya
" Putriku sudah lahir "
Hati Sean bergetar hebat merasakan pelukan yang sudah lama dia rindukan
" Maafkan ayah sayang , ayah tidak bisa melindungimu "
Hati Sean terus menyesali kecerobohan dirinya dulu
" Siapa ya namamu sekarang , ayah harap papa memberimu nama yang indah "
Sean tersenyum dalam lamunannya
*Cup
Sean dengan sekuat tenaga mengecup pucuk kepala Aniel
" Mas "
Terdengar suara seorang perempuan
" Fasyla "
Sean menggumam
" Maaaas "
*Plak
Terasa pukulan di lengannya
" Sakit Fasyla "
Sean menggumam
" Maaaas iiiihhhhh sebel Fleur "
*Plak
Fleur memukul lengan Sean
" Sayang "
Sean membuka matanya perlahan
" Astaga sayang kamu dah bangun "
Sean mendudukkan dirinya
" Siapa Fasyla "
Fleur mengerucutkan bibirnya
" Fasyla "
Sean pura-pura tidak tahu
" Mas gak suka lagi sama Fleur "
Fleur menitikkan air matanya
" Aduh mampus "
Sean membatin
" Kemarilah sayang "
Sean menarik lengan Fleur
" Siapa Fasyla "
Fleur mengusap air matanya yang masih mengalir
" Siapa ya "
Sean memeluk Fleur
" Siapa "
Fleur menatap Sean
" Aduh siapa ya "
Sean membatin
" Itu nama anak perempuan kita sayang "
Sean tiba-tiba berkata seperti itu
" Anak perempuan "
Fleur mengerenyitkan keningnya
" Iya , kalau dia perempuan akan mas namakan Fasyla "
Sean mengusap perut Fleur
" Ngak percaya "
Fleur menggeleng
" Percaya dong , tadi tuh mas mikirin nama anak kita , eh malah kebawa mimpi "
Sean mencari alasan lain
" Ngak bohong "
Fleur mengajukan telunjuknya
" Ngak dong "
*Cup
Sean mengecup telunjuk Fleur
" Oh... "
Fleur mengangguk
" Ayo makan bakso , mas tadi udah beli bakso"
Sean berdiri
" Ada bakso "
Fleur terkejut
Sean membawa Fleur ke dapur
Di dapur
" Ini namanya bakso "
Fleur melihat satu plastik bakso di depannya
" Di taruh sini dulu baru di makan "
Sean menuangkan satu plastik bakso ke dalam mangkok
" Kayaknya enak "
Fleur terlihat sangat lapar
" kalau di hangatkan lebih enak , kamu mau di hangatkan "
Sean menawari
" Boleh "
Fleur mengangguk
Setelah itu Sean mulai menghangatkan bakso milik Fleur dan miliknya menjadi satu
" Silahkan makan nyonya "
Sean meletakkan satu mangkuk bakso jumbo di hadapan Fleur
" Cara makannya gimana "
Fleur bertanya
" Pakai sendok dong "
Sean menunjukkan cara memakan satu pentol
" Mau "
Fleur meminta sendok dari Sean
" Makan yang lahap , habiskan sampai kenyang "
Sean menuangkan beberapa tetes sambal dan saus juga kecap
" Enak mas "
Fleur memakan bakso idamannya dengan lahap
" Pelan-pelan makannya "
Sean mengusap pipi Fleur yang terkena kuah
" Hm... "
Senyum Fleur merekah dan itu membuat Sean bahagia
" Kenapa ya tiba-tiba aku bermimpi Aniel , apa terjadi sesuatu dengan Aniel "
Sean berfikir
" Apa Aniel dan lainnya baik-baik saja "
Sean mulai memikirkan Aniel karena mimpi tadi
" Habis "
Fleur meletakkan satu mangkuk bakso jumbo yang sudah tandas
" Mau makan yang lain "
Sean mengusap kepala Fleur
" Udah nanti aja "
Fleur menggeleng
Dua hari setelah itu Sean merenovasi rumahnya menjadi dua lantai dengan enam kamar tidur itu semua sesuai permintaan Fleur
Satu bulan kemudian
" Akhirnya selesai "
Sean tersenyum melihat rumahnya yang membuatnya mengingat rumah pohon saat dia masih menjadi raja Tian dulu
Satu bulan juga Sean mulai sering memimpikan masanya bersama Aniel
" Mas kenapa "
Fleur menyentuh pundak Sean
" Sayang , aku sering memimpikan Aniel "
Sean memberitahu
*Zzrrtt
Terasa dari getaran kalung Sean
Lama....
" Mana suratnya "
Sean memeriksa kalungnya
" Tuan Tuan ada banyak datang dari laut bersama nona Alula "
North mendatangi Sean
" Apa "
Sean terkejut
" Sayang kamu di rumah aja "
Sean mengeluarkan Roux dari rumah
" Jaga Fleur "
Sean meninggalkan Roux di samping Fleur
" Kyung.... "
Roux menjadi besar
" Ada apa ya "
Fleur mengusap kepala Roux
Sean berlari menuju pintu masuk pulau yang agak jauh karena kediaman Sean ada di ujung pulau
Sesampainya di pintu masuk
" Salam tuan "
Semua orang memberi jalan
" Papa "
Sean terkejut melihat seluruh keluarga Sbastian ada di sana
" Aniel kenapa "
Sean dan langsung mengambil Aniel dari gendongan key
" KAKAAAAAK Aniel kangen huaaaaaa "
Aniel memeluk leher Sean dengan erat
" Kamu panas , kenapa ini Alula "
Sean bertanya
" Adik sakit "
Adimas menjawab
" Kenapa di bawa kesini kalau sakit "
Sean mengusap rambut Aniel
" Aniel ngak mau ke rumah sakit , kami ngak tau harus apa "
Sbastian menjawab
" Akan Sean bawa periksa dulu , North bawa mereka pulang dan jelaskan kepada Fleur "
Sean langsung meninggalkan Sbastian sekeluarga
*Tap..tap..tap
Sean berlari dengan cepat menuju rumah rawat yang baru saja di bangun
" Tabib "
*Brak
Sean langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk
" Ada apa tuan "
Semua orang menghampiri Sean
" Periksa dia "
Sean mengusap kepala Aniel
" Baringkan di sini tuan "
Tabib tua menunjuk tempat tidur khusus untuk pasien
" Jangan tinggalin Aniel "
Aniel menarik tangan Sean
" Ngak akan , tenanglah kecil "
Sean meletakkan Aniel perlahan dan tetap menggenggam tangan Aniel hingga para tabib selesai memeriksa
__ADS_1
" Bagaimana "
Sean bertanya
" Nona muda sudah makan "
Tabib wanita di sana bertanya
" Aniel gak laper "
Aniel memeluk tangan Sean
" Kapan nona terakhir makan "
Tabib itu bertanya kembali
" Kemarin "
Aniel menjawab
" Nona harus makan yang banyak ya , agar tidak sakit "
Tabib memberitahu
" Iya "
Aniel mengangguk
" Sepertinya nona tidak benar-benar makan akhir-akhir ini , nona tidak boleh seperti ini atau kesehatannya akan memburuk "
Tabib wanita itu menjelaskan
" Aku mengerti "
Sean mengangguk
" Tuan , ini obat agar nona muda mau makan lebih banyak "
Tabib tua tadi mendekat
" Terimakasih tabib "
Sean menerima obat cair di dalam botol kayu dari tabib
" Nona harus segera makan setelah ini , lalu setelah makan nona harus minum obat "
Tabib tua memberitahu
" Aku mengerti , permisi tabib "
Sean berjalan keluar di antar seluruh tabib di sana
Sean keluar dari rumah rawat
" Kamu kenapa ngak mau makan "
Sean mengusap punggung Aniel
" Aniel kangen kakak "
Aniel memeluk erat leher Sean
" Hm... Kakak bisa menebaknya , Aniel mau ketemu kakak terus papa bilang ngak bisa jadi Aniel mogok makan , bener kan "
Sean menebak
" Maaf , Aniel salah "
Aniel mengaku
" Jangan seperti itu lagi , kalau kamu memperhatikan , papa pucat sekali tadi bahkan bunda dan kak Adimas "
Sean memasuki sebuah kedai kecil
" Mereka khawatir sama Aniel "
Aniel menatap Sean
" Benar sekali "
Sean mengusap kepala Aniel
Sean duduk di salah satu bangku panjang
" Bibi satu porsi biasanya ya "
Sean meminta
" Siap tuan "
Seorang wanita paruh baya mengangguk
" Maaf kak , Aniel salah "
*Sret
Air meta Aniel luruh
" Iya , ngak papa tapi jangan di ulangi ya "
Sean mengusap air mata Aniel
" Ini tuan "
Satu porsi makanan ada di depan Aniel
" Kita makan sekarang "
Sean mulai menyuapi Aniel dengan makanan yang terbuat dari daging ikan lebih tepat bubur ikan
" Aaa.... Buka mulutnya sayang "
Sean menyendokkan sesuap bubur ikan
" Aem.... Hemmm Enak kak "
Aniel memakannya dengan wajah terkejut
" Habiskan "
Sean kembali menyuapkan sesendok bubur untuk Aniel
" Aniel makan sendiri kak "
Aniel meminta sendok dari Sean
" Iya "
Sean memberikan sendoknya kepada Aniel dan membiarkan Aniel makan bubur di atas pangkuannya
" Bi aku mau bawa pulang lima porsi "
Sean meminta
" Siap tuan "
Bibi itu mulai meletakkan makanan yang seperti di makan Aniel ke dalam wadah dari kayu
" Itu siapanya tuan "
Bibi bertanya
" Saudari saya "
Sean menjawab
" Oh saya kira anak tuan , padahal kan nyonya belum lahiran "
Bibi meletakkan semua bawaan Sean yang sudah di tata rapih dengan cara di ikat menggunakan tali
" Doakan saja bi , beberapa bulan lagi udah mau lahiran "
Sean menjawab
" Emang udah berapa bulan , tuan "
Bibi bertanya
" Sudah enam "
Sean menjawab
" Waaaah bentar lagi ramai dong rumahnya"
Bibi terlihat senang
" Iya Bi "
Sean tersenyum
" Habis kak "
Aniel menarik tangan Sean
" Mau lagi "
Sean menawari
" Ayo pulang "
Aniel memeluk Sean
" Minum obat dulu "
Sean mengeluarkan obat Aniel
" Pait "
Aniel menutup mulutnya
" Kalau pakek ini pasti mau "
Bibi memberikan madu di dalam gelas dari bambu yang sangat kecil
" Hm... Ini madu yang manis , kalau di pakai minum obat pasti ngak pait "
Sean menuangkan sedikit obat ke dalam madu
" Kalau obat kimia pasti ga mempan , berhubung obat alam jadi gapapa kalo di minum dengan madu "
Sean membatin
" Ngak pait kan "
Aniel bertanya
" Cobalah dulu "
Sean menyerahkan madu yang sudah dia campuri obat
*Glup
Aniel menuangkan madu kental ke dalam mulutnya
" Em... Asem "
Aniel menjulurkan lidahnya
" Enak lho haha "
Bibi tertawa
" Ini "
Bibi menyodorkan kembali gelas kec tadi yang sudah di kasih air
*Glup
Aniel meneguknya dengan sekali tegukan
" Enak "
Aniel tersenyum
" Makasih ya Bi , ini uangnya "
Sean meletakkan beberapa keping uang di atas meja
" Makasih ya tuan "
Bibi itu melambaikan tangannya saat Sean berjalan keluar
" Kita pulang "
Aniel bertanya
" Iya , akan kakak tunjukkan rumah baru kakak"
Sean membawa Aniel menuju pasar
" Kok ke pasar "
Aniel memperhatikan sekeliling
" Kita beli bahan masak dulu , nanti kakak masakkan banyak makanan di rumah "
Sean membeli beberapa bahan makanan
Setelah membeli banyak bahan makanan hingga Sean tidak bisa membawanya
Akhirnya Sean pulang dengan tangan yang penuh dan Aniel yang tertidur di gendongannya
" Tuan , saya bantu bawakan "
Tiba-tiba muncul Aloe dan key ntah dari mana
" Iya makasih "
Sean memberikan semua belanjaannya
" Bagaimana dengan papa dan bunda "
Sean bertanya
" Nyonya , tuan dan tuan muda sudah di rumah bersama nyonya Fleur "
Key menjawab
" Apa mereka bertanya tentang Fleur "
Sean kembali bertanya
" Iya , dan tuan muda bilang anda yang akan menjelaskan anti "
Key menjawab kembali
" Hm... "
Sean mengangguk
Setelah perjalanan yang cukup menyita waktu karena Sean mampir ke beberapa toko untuk membeli banyak barang untuk perlengkapan rumah
Sean kembali dengan banyak orang untuk membantu membawakan barang-barang yang dia beli
Akhirnya Sean melihat Fleur berdiri di depan pintu dengan wajah yang khawatir
Fleur berjalan cepat menghampiri Sean
*Grep
Fleur langsung memeluk erat tubuh Sean
" Jangan erat-erat , kasihan anak kita nanti "
Sean mengusap kepala Fleur
" Lama "
Fleur menatap Sean dengan air mata yang mengalir
" Maaf , aku membeli banyak barang dan memeriksakan Aniel ke tabib "
Sean mengusap air mata Fleur dengan tangan kirinya
" Iya "
Fleur mengangguk
" Ayo "
Sean membawa Fleur berjalan menuju pintu rumah yang sudah di isi dengan Sbastian dan Adinda
" Mas "
Fleur menggenggam erat tangan Sean yang ada di pundaknya
" Jangan takut , mereka keluarganya mas "
*Cup
Sean mengecup pucuk kepala Fleur
" Papa , bunda kita masuk dulu "
Sean menggiring keluarganya masuk ke dalam
" Tunggu ya "
*Cup
Sean mengecup kening Fleur dan berlalu masuk ke dalam kamar
Banyak orang masuk ke dalam rumah untuk meletakkan barang bawaan Sean di tempat seharusnya dengan panduan Aloe
*Klak
Sean keluar dari kamar dan menutup pintu kamar
Sean berjalan mendekati keluarganya yang siap menerima penjelasan
*ctas... Ctas...
Sean menyalakan lampu yang tertempel di dinding di atas Sbastian dan Adimas
Ketika Fleur hendak berdiri Sean menghentikannya
" Duduk saja "
Sean mendudukkan Fleur dan mengusap rambut panjang Fleur
*Ctas... Ctas...
Sean menyalakan sepuluh penerangan yang ada di ruang tamu termasuk lampu gantung besar di tengah-tengah ruangan
" Tuan , kami sudah meletakkan semuanya di tempatnya "
Key dan North menghampiri Sean
" Kalian pulanglah dan istirahat , ini hampir malam juga katakan kepada tetua untuk membatalkan pertemuan malam ini "
Sean memerintahkan
" Baik tuan "
North dan ketiga saudaranya mengangguk
" Dan North , malam ini bisakah kamu wakilkan pertemuan dengan para pedagang"
Sean meminta
" Saya laksanakan tuan "
North mengangguk
" Ini untuk kalian , North bagi ini secara rata kepada mereka "
Sean memberikan se kantong uang untuk para pekerja
" Kami pamit undur diri "
Semua orang membungkuk hormat dan meninggalkan rumah Sean
* Ctas... Ctas...
Sean keluar dan menyalakan penerangan di luar rumah yang baru di pasang hari ini
*Ngung... Ngung... Ngung...
Terdengar samar-samar suara dari putaran batu sihir penerangan yang ada di dalam tempatnya
*Hening....
Sbastian hanya menunjukkan wajah penasaran begitu pula Adinda sedangkan Adimas terlihat biasa saja
__ADS_1