Aku Pangeran

Aku Pangeran
#107 ( sekolah )


__ADS_3

" Itu mau di mulai upacaranya "


Adimas menunjuk lapangan yang sudah penuh


" Nanti jemput kalau aku telpon ya "


Sean keluar dari mobil dan memeriksa apakah ada barang yang tertinggal


" Iya tuan "


Aloe mengangguk


Setelah Sean menutup pintu , Aloe melaju meninggalkan sekolah dengan halaman dan gedung-gedung yang sangat luas dan besar


" Ayo "


Adimas menarik Sean menuju lapangan


" Kamu jangan ikut deh , nanti kamu pingsan"


Adimas meletakkan tas nya di lorong bersama tas-tas yang lain dan berlari meninggalkan Sean


" Aku ikut "


Sean mengikuti Adimas menuju lapangan


" Kamu jangan ikut nanti pingsan "


Adimas terkejut Sean berdiri di sebelahnya


" Ngak , aku ikut "


Sean Keukeh atas keputusannya


" Hai "


Reyhan menepuk pundak Sean


" Rey "


Adimas menjabat tangan Rey


" Fadlan "


Sean bertanya


" Lagi tarok tas "


Rey menjawab


" Halo "


Fadlan datang dan berdiri di samping Reyhan di barisan anak SMP kelas tiga


" Kak Rey kok baris di sini "


Sean bertanya


" Kelas dua kan di sana "


Adimas menunjuk sisi yang lain


" Aku ini pimpinan peleton kalian tau "


Reyhan berjalan melewati Sean dan berdiri di ujung barisan


" Hahaha "


Sean dan Adimas tertawa


Setelah itu upacara berlangsung dan terdapat beberapa siswa yang di hukum karena terlambat


" Untuk siswa baru silahkan cari nama kalian di Mading "


Pengumuman terdengar keras


" Ayo "


Adimas menarik Sean untuk mengambil tas dan melihat Mading pengumuman


" Kita kelas c , yes "


Adimas terlihat senang


" Hahaha "


Sean tertawa karena memang dirinya sudah berbicara dengan kepala sekolah


" Kelas c dimana ya "


Adimas menarik Sean menuju lorong kelas VII


" Itu dia "


Adimas melihat tanda VII C di atas pintu


" Wow banyak nya "


Adimas terkagum-kagum melihat jajaran kelas C , kelas C I hingga kelas C V setelah itu langsung di sebelahnya kelas D hingga kelas F II


" Kita termasuk baik lho "


Sean membatin setelah melihat kelas A hingga kelas A III dan kelas B hingga kelas B V


" Ayo masuk "


Adimas menarik Sean masuk dan terlihat kelas masih kosong dan sepi


" Duduk di mana ya "


Adimas melihat seluruh bangku di kelas yang berjejer rapih


" Ayo di sini "


Adimas menunjuk satu meja di dekat pintu


" Terserah kakak "


Sean mengikuti Adimas yang terlihat sangat bersemangat


Akhirnya Sean dan Adimas menjadi teman sebangku


* Brak


Terlihat banyak siswa yang masuk ke dalam kelas dan mulai memilih bangku


" Woe woe ini bangku gue "


" Cari yang lain lha "


" Ngak "


" Jangan rebutan dong "


Terdengar suara kegaduhan dari belakang dan Sean hanya menghiraukannya sedangkan Adimas terlihat berdiri dan menyaksikan keributan kelas


Setelah kelas redam dan semua siswa duduk di tempat masing-masing , terlihat ibu guru yang garang masuk dan memberi salam pembuka


Setelah itu Bu guru mengabsen semua siswa-siswi yang ada di sana dan memulai pelajaran ringan seperti saling tanya atau lainnya


Jam istirahat


" Silahkan ke kantin , kalian yang ikut ospek silahkan bimbing teman yang tidak ikut ospek menuju kantin"


Bu guru memerintahkan


" Baik Bu "


Mereka semua mulai gaduh kembali dan satu persatu mulai meninggalkan kelas


" Ayo jalan jalan "


Adimas mengajak


" Ayo makan bekal di taman "


Sean mengeluarkan bekalnya


" Oky "


Adimas mengeluarkan bekalnya dan berjalan mengikuti Sean


Sean membawa Adimas berjalan menyusuri lorong-lorong kelas dan keluar dari gedung SMP yang sangat padat penduduk


" Woaaaaaahhh keren "


Adimas memperhatikan sekeliling


" Hahaha aku tau responnya bakalan gitu "


Sean terkekeh saat melihat Adimas tidak berhenti menatap bangunan dan kelas-kelas di sana


*Bruk


Adimas menabrak sesuatu


" Ah maaf , saya tidak sengaja "


Adimas meminta maaf


" Heh anak baru "


Terlihat seorang pria berbadan besar.. lebih tepatnya gemuk..maksudku sangat gemuk dengan celana abu-abu memegang pundak Adimas


" I..iya "


Adimas terlihat terkejut


" Kamu anak baru berani menabrak aku yang senior "


Anak SMA itu terlihat garang


" Maaf senior , saudara saya tidak sengaja"


Sean memegang tangan anak SMA itu


" Kalian bawa bekal... Enak nih "


Anak SMA lainnya memegang bekal Adimas


" Ini bekal kami "


Sean menahan tangan senior


" Mau di kasih pelajaran nih si junior yang ngak tau siapa kita , iya ngak "


" Yoi bro "


" Gas wae lah "


Para senior berbicara sendiri sendiri


" Ayo kak "


Sean menarik lengan Adimas menjauh


" Heh tunggu dulu dong , kalian harus minta maaf nih "


Para senior memegang kepala Adimas


" Kami sudah minta maaf "


Sean memegang tangan besar milik senior


" Kurang tulus minta maafnya , ya kan "


Si gendut bertanya kepada senior yang lain


" Yoi bro "


Senior yang lain mengangguk mengiyakan


" Lepaskan dia "


Sean menatap tajam si gendut


*Krak


Senior merasakan tulangnya bersuara


" Sialan ni anak "


Senior membatin


" Kasih bekalnya dulu dong "


Salah satu dari mereka mengambil bekal Adimas yang sudah gemetar hebat


" Kalian boleh pergi "


Senior mengambil bekal Sean juga dengan paksa


" Eits tunggu "


Seorang yang kurus tiba-tiba merogoh dan mengambil uang dari saku Sean dan Adimas


" Keterlaluan "


Sean mengepalkan tangannya


" Ayo balik ke kelas aja "


Adimas menarik tangan Sean


Senior dan gerombolannya mulai pergi meninggalkan Sean dan Adimas


" Heh gendut ngak berpendidikan "


Sean memanggil dengan nada mengejek


" Apa Lo bilang "


Si gendut berhenti dan menoleh


" Ngerasa ya kalo gendut "


Sean mengejek


" Wah... Kurang ajar nih , di diemin malah ngelunjak "


Senior yang lain memanas manasi


" Kalau kalian ngak kembalikan milik kami , rasain akibatnya "


Sean menaik turunkan alisnya dengan sedikit senyuman yang menghiasi


" Hahahaha hajar bro "


Para senior memukul pundak si senior gendut


*Bugh


Tiba-tiba saja kepalan tangan si gendut mengenai wajah Sean tapi tidak membuat Sean bergeser sedikitpun , hanya saja wajahnya sedikit berkedut


Tiba-tiba berkumpul lah para paparazi sekolahan


" Sean kamu gapapa "


Adimas yang terkejut langsung saja berdiri di hadapan Sean


" Ha...hahaha "


Sean terkekeh kecil


" Menyingkirlah kakakku sayang , aku akan ambilkan bekal yang bunda buat "


Sean memegang kepala Adimas dan menyingkirkan Adimas ke samping


" Ja..jangan Sean "


Adimas mencoba menghentikan Sean


" Bawakan ini "


Sean melepas gelang kesayangannya hadiah dari Aniel dan memberikannya kepada Adimas


*Bugh


Tidak terlihat dan tidak terdengar suara langkah kaki dan si gendut hanya melihat sebuah tangan yang ada di depan wajahnya , itu membuatnya jatuh terpental ke belakang


" Astaga , dasar bodoh... Tuan Sean itu kalau pukul orang pakek tenaga penuh bakalan hancur tau "


Salah satu anak di sana menggumam


" Ngapain Lo pada diem , serang bego "


Si gendut memerintahkan kepada anak SMA lainnya


" Kalau kalian menang , bekal itu buat kalian"


Sean membuat taruhan


" Belagu Lo "


Sekitar lima orang yang sepertinya satu geng dengan si gendut menyerang Sean bersamaan


" Hahahaha "


Sean tertawa sangat keras


*Syut


Kembali terjadi.... Mereka tidak bisa melihat Sean dan tiba-tiba sebuah genggaman tangan muncul di depan wajahnya membuat mereka terpental ke belakang dengan keras


" Sean udah "


Adimas memegang tangan Sean


" Dia ngak gerak , terus siapa yang mukul tadi"


Si cungkring membuat yang lain menoleh


" Lari...lari woe "


Si gendut berlari di ikuti anak buahnya


Terlihat sebuah senyum kecil tersungging di bibir Sean yang tipis


*Tap..tap..tap


Sean berjalan mengambil bekalnya yang di bawa oleh seorang anak SMA yang terlihat agak cupu

__ADS_1


" Makasih "


Sean mengambil bekal dan uang nya lalu kembali menghampiri Adimas


" Ini kak , ayo beli susu terus kita makan di taman "


Sean memberikan bekal Adimas


" Tunggu "


Anak-anak yang sepertinya lebih senior menghampiri Sean dan Adimas


" Sebaiknya kalian jangan deket-deket lagi sama mereka "


Salah satu dari mereka memberitahu


" Kenapa "


Sean bertanya


" Mereka itu anaknya pemilik sekolah , jadi jangan deket-deket sama mereka "


" Iya nanti kamu dapat masalah "


" Kami cuma ngasih tau sih "


Mereka memberitahu Sean dan Adimas


" Kami mengerti "


Sean mengangguk dan pergi meninggalkan para senior


" Sean... Kamu beneran ngak kenapa Napa kan "


Adimas memastikan


" Iya kak "


Sean mengangguk


" Pipimu merah , gimana kalau nanti di tanya papa "


Adimas terlihat khawatir


" Jangan khawatir kak "


Sean merangkul pundak Adimas dan membawa Adimas menuju kantin


" Bibi saya beli ini dua "


Sean meletakkan dua kotak susu dingin di atas meja


" Delapan ribu nak "


Bu kantin memberitahu harga


" Ini Bu uang pas "


Sean memberikan uangnya dan berlalu menghampiri Adimas yang menunggu dengan tenang di atas meja


" Ayo kak "


Sean mengambil bekalnya dan menarik Adimas menuju taman


Sesampainya di taman sekolah , Sean mendudukkan dirinya di atas rumput di bawah pohon yang rindang lalu membuka bekalnya


" Kakak kenapa "


Sean mulai memakan bekal yang dia bawa


" Aku khawatir sama anak yang tadi , mereka baik-baik aja ngak ya "


Adimas mengerucutkan bibirnya


" Kakak ini , mereka itu anak pemilik sekolah , jadi ngak mungkin ngak ke rumah sakit "


Sean menyandarkan tubuhnya di pohon dan makan dengan tenang


" Tapi tadi hidungnya berdarah "


Adimas memegang hidungnya sendiri


" Kakak tau"


Sean menelan makannya


" Kalau kakak jadi cewek , pasti banyak yang naksir "


Sean kembali memakan makannya


" Tapi Sean , kasihan mereka "


Adimas mengerenyitkan keningnya


" Kalau kakak mau nanti kita jenguk mereka"


Sean memberi usul


" Emang boleh "


Adimas menoleh


" Boleh lah , sekalian nanti Sean ajak ke kantor "


Sean meminum susunya


" Sekarang kakak makan terus kita balik ke kelas "


Sean membuka kotak bekal Adimas


Adimas makan dan menghabiskan apa saja yang dia bawa lalu meminum susu kotak miliknya


" Kalian di sini "


Tibalah Fadlan dan Reyhan yang terlihat baru saja membeli beberapa camilan dari kantin


" Aku dengar tadi Sean abis pukul si gentong"


Reyhan membuka bungkus makanannya


" Beneran "


Fadlan terkejut


" Si gentong "


Sean mengerenyitkan keningnya


" Iya , anak SMA kelas dua belas yang badannya se gede gajah "


Fadlan mengangguk


" Oh... Aku patahin hidungnya tadi "


*Uhuk..uhukk


Sean membuat Fadlan tersedak makanan


" Gila kamu Sean "


Fadlan meminum air yang di berikan Adimas


" Mereka ganggu sih "


Sean mengambil satu keripik dari snack Reyhan


" Se enggaknya jangan di pukul lha "


Fadlan kembali makan


" Mereka ambil bekal sama uang kami "


Adimas menjawab


" Beneran "


Reyhan terkejut


" Iya "


Adimas mengangguk


*Teeeet


Terdengar suara bel kelas berbunyi


" Ayo kita balik "


Sean berdiri


" Tapi aku belum selesai "


Fadlan menunjukkan makanannya


" Makan nanti aja "


Sean mengambil kotak bekalnya dan berjalan di ikuti Adimas dan Reyhan yang masih makan sedangkan Fadlan memasukkan makanannya yang masih utuh ke dalam saku


Setelah sampai di kelas , terlihat guru masih belum datang


" Aku tadi masih ada makanan , boleh di makan ngak "


Adimas mengeluarkan satu bungkus wafer


Sean melarang


" Ok "


Adimas memasukkan makanannya yang tersisa ke dalam tas


Setelah itu guru datang dan memulai kelas


" Sekarang Bu guru akan menentukan siapa saja yang akan menjadi ketua sampai seksi kebersihan kelas "


Bu guru mengeluarkan beberapa kertas kecil


" Silahkan tuliskan nama kalian masing masing di atas kertas "


Bu guru membagikan kertas kecil kepada semua murid


Setelah beberapa saat


" Kamu sudah kah "


Adimas bertanya


" Udah "


Sean mengangguk


" Mana biar aku kumpulin "


Adimas meminta


" Makasih "


Sean memberikan kertasnya


Setelah semua kertas terkumpul , Bu guru memasukkan semua kertas ke dalam toples kecil yang awalnya di gunakan untuk tempat kapur tulis


" Yang keluar pertama jadi ketua ya "


Bu guru mulai mengocok toples


*Tuk


Satu gulungan kecil keluar


" Namanya Tara... Yang mana Tara "


Bu guru bertanya


" Saya Bu "


Terlihat seorang anak perempuan mengangkat tangannya


" Baik Tara , kamu ketua kelas ya "


Bu guru menulis nama Tara di papan


Bu guru mulai mengundi kembali hingga semua selesai


" Hahaha kamu terbaik jiji "


Sean terkekeh karena Sean sudah meminta jiji menjaga kertas namanya agar tidak keluar dari toples


" Oke semua... "


Bu guru mulai membahas hal-hal yang sudah sering Sean dengar di kantor namun di sini hanya sesuatu yang di permudah


Mulai absen sampai uang iuran per Minggu semua sudah di tentukan dan Sean tidak angkat bicara sama sekali


" Apa semua setuju "


Bu guru bertanya


" Iya Bu "


Semua siswa menjawab.... Kecuali Sean


" Kamu siapa namanya "


Bu guru menghampiri Sean


" Sean Bu "


Sean menjawab


" Kenapa sejak awal kamu diam saja "


Bu guru bertanya


" Maaf Bu , saudara saya mungkin sedang sakit kepalanya "


Adimas meminta maaf mewakili Sean


" Hahaha "


Sean terkekeh kecil


" Jika sakit kenapa sekolah "


Bu guru membuat semua pandangan tertuju pada Sean


" Ini hari pertama sekolah Bu , jadi dia juga mau ikut "


Adimas menjawab


" Kakak jadi jubir keren nih hahaha "


Sean membatin


Note : jubir ( juru bicara )


" Kalau sakit jangan di paksa , nanti kalau makin parah kan susah , orang tua kalian juga nanti khawatir "


Bu guru memberitahu


" Tapi Bu "


Adimas hendak berbicara namun Bu guru menyela


" Tidak ada tapi tapian , kalau kamu sakit kamu harus istirahat "


Bu guru Keukeh akan kalimatnya


" Hehe "


Sean hanya cengengesan melihat bu guru yang garang


" ketawa ketawa , sudah... kamu besok kalau masih sakit jangan sekolah "


Bu guru mencubit pipi Sean


" Iya Bu "


Adimas mengangguk


" Kamu ini siapanya "


Bu guru bertanya kepada Adimas


" Saya kakaknya Bu "


Adimas menjawab


" Kandung "


Bu guru penasaran


" Bukan "


Adimas menggeleng


" Oh... Ibu kira kandung "


Bu guru ber oh ria


" Rumahnya di mana "


Bu guru bertanya


" Tidak tau "


Sean menjawab dengan cepat sebelum Adimas menjawab


" Kok ndak tau "


Bu guru mengerenyitkan keningnya


" Kami ngak terlalu mengingat alamat hehe"


Sean menjawab


" Dasar kalian ini "


Bu guru menggosok kepala Adimas


" Ya sudah , anak-anak persiapan pulang , untuk anggota seksi kelas jangan pulang dulu , kalian ke ruang guru "


Bu guru kembali ke tempat duduknya

__ADS_1


" Kok kamu jawab gitu "


Adimas berbisik


" Nanti Sean kasih tau "


Sean berbisik pula


*Triiiiing


Bel pulang sekolah berdering


" Ayo kak "


Sean berdiri


Sean berjalan mendekati Bu guru di ikuti Adimas dan Sean mengulurkan tangannya


" Kenapa "


Bu guru yang bertanya membuat semua siswa yang mau keluar maupun yang belum keluar menoleh


" Kata bunda tadi pagi , kami harus salim dengan guru kami agar ilmu yang di miliki guru kami tersalur kepada kami "


Sean membuat semua siswa memandang satu sama lain


" Ah iya "


Bu guru mengulurkan tangannya, setelah Adimas dan Sean bersalaman , semua siswa siswi mengikuti Sean dan Adimas lalu kembali duduk


" Kok kembali duduk "


Bu guru heran kembali


" Habis Bu guru keluar , baru kami keluar , itu tata Krama yang papa ajarkan kepada kami"


Adimas kini menjawab


" Ah... Baiklah "


Bu guru sedikit tersenyum


" Sampai jumpa Bu guru "


Adimas melambaikan tangannya dengan gembira saat Bu guru akan keluar kelas


" Sampai jumpa "


" Semoga hari Bu guru indah "


" Hati hati Bu guru "


Para siswa melambaikan tangannya kepada Bu guru


" Sampai jumpa anak-anak "


Bu guru membalas lambaian tangan para siswa siswi dan berlalu keluar kelas di ikuti siswa anggota seksi kelas


" Kamu keren "


" Siapa namamu "


" di mana rumahmu "


Para siswi mendekati Adimas


" Namaku Adimas "


Adimas menjawab dengan sedikit senyuman


" Hahaha "


Sean tertawa melihat Adimas di dekati oleh para siswi


Paras tampan Adimas yang menurun dari Sbastian di tambah pipi chubby Adimas yang belum hilang membuat Adimas terlihat sangat tampan dan menggemaskan


Sean berdiri dan keluar dari bangku membuat para siswi leluasa untuk berbincang dengan Adimas


" Woe "


" Nama Lo siapa "


Terlihat beberapa siswa mendekati Sean


" Sean "


Sean menjawab dengan singkat


" Saudara Lo populer ya "


Beberapa siswa laki-laki bertanya


" Dia akan kesusahan nanti "


Sean tersenyum kecil


" Maksud Lo kesusahan "


Salah satu pria di sana bertanya


" Ya iyalah bego... Secara dia kan jadi primadona cewek meski awal sekolah , ya gak mungkin lah gak susah "


Temannya saling menjelekkan


" Ngomong ngomong Sean "


Salah satu siswa menepuk pundak Sean


" Kenapa "


Sean menoleh


" Nama gue Azam "


" Nama gue Fahri "


" Nama gue fajar "


" Nama gue Denis "


" Nama gue adzhim "


" Nama gue Rizki "


Teman teman memperkenalkan namanya


" Waduh... Bokap gue dah jemput nih , duluan ya "


Azam berpamitan


" Ikut , nyokap gue dah nunggu "


Fahri mengikuti Azam


" Kalian kalau mau pulang duluan aja , gue nunggu Adimas bakalan lama "


Sean mempersilahkan


" Nanti deh , gua masih lama jemputannya , bokap lagi meeting tadi "


Rizki mendudukkan dirinya di kursi paling depan


" Mau "


Denis mengeluarkan beberapa makanan ringan miliknya


" Makasih "


Sean dan lainnya memutuskan untuk makan hingga para ciwi-ciwi selesai dengan Adimas


Setelah beberapa menit


" Haduh... Kenapa sih mereka ngerubutin aku"


Adimas menghela nafas lega setelah para ciwi-ciwi keluar


" Salah sendiri ganteng "


Sean menaik turunkan alisnya


" Lho temen-temen di sini "


Adimas terkejut karena di sana bukan hanya ada Sean


" halo "


Rizki melambaikan tangannya


" Kakak kenal "


Sean bertanya


" Aku kan ikut ospek "


Adimas mengangguk


" Oh iya "


Sean menyipitkan matanya malas


" Ayo deh pulang "


Denis berdiri


" Ya ayo "


Adimas menarik tangan Sean dan berjalan keluar kelas di ikuti yang lain


" Waduh udah di jemput gue , duluan ya "


" Gue juga "


" Babay "


Teman-teman terlihat berjalan meninggalkan Sean dan Adimas


" Kita kapan di jemput "


Adimas bertanya karena sekolahan sudah sepi


" Jadi nih jengukin senior "


Sean bertanya


" Jadi , kasihan mereka "


Adimas mengangguk


" Tapi ke kantor dulu ya "


Sean menarik Adimas keluar pintu gerbang


" Ngapain "


Adimas bertanya


" Telpon bunda , izin pulang telat "


Sean memberikan alasan


" Oh... "


Adimas mengangguk


*Tiin


terdengar suara klakson mobil dari arah kanan


" Itu Mao "


Sean menunjuk mobil hitam pribadi yang selalu di gunakannya kemanapun


Setelah Mao mendekat , segera saja Sean dan Adimas masuk ke dalam mobil


" Jadwal apa hari ini "


Sean melepaskan tas sekolahnya


" Sudah saya kosongkan "


Mao menjawab


" Hm.... "


Sean merebahkan tubuhnya di sandaran mobil


" Kamu sakit "


Adimas bertanya dengan khawatir


" Ngak , cuma ngantuk "


Sean memejamkan matanya


Tidak lama setelah itu , akhirnya mobil berhenti di halaman depan kantor pusat


" Kita ganti baju dulu "


Sean turun dari mobil di ikuti Adimas


" Aku gak bawa baju ganti "


Adimas menjawab


" Pakek baju Sean "


Sean berjalan menuju lift tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri


" Ada baju Sean di sini "


Adimas mengimbangi langkahnya dengan Sean


" Ada "


Sean mengangguk


*Ting


Lift terbuka dan Sean menuju lantai atas bersama Adimas , Mao dan Aloe


*Ting


Lift terbuka


" Woaaaaaahhh keren "


Adimas menatap sekeliling


" Kakak harus terbiasa dengan pemandangan seperti ini "


Sean membuka salah satu pintu yang bertuliskan Ruang CEO


" Kenapa "


Adimas mengikuti Sean


" Nanti kakak juga akan kerja di sini "


Sean menuju salah satu pintu di sudut ruangan dan masuk ke dalamnya


" Oh... Bantu kamu ya "


Adimas melihat di sana ada sebuah kamar


" Kurang lebih iya "


Sean membuka lemari dan mengeluarkan beberapa pakaian


" Kenapa kamu buat kamar di sini "


Adimas bertanya


" Ini akan berguna suatu saat nanti haha "


Sean terkekeh kecil


" Kapan "


Adimas mengambil pakaian yang Sean berikan


" Saat kakak sudah menikah "


Sean menjawab dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya


" Tapi kalau menikah itu kan masih lama "


Adimas menggumam


Tidak lama kemudian Sean keluar dengan Hoodie putih dan celana hitam ketat


" Kupluk mu mana "


Adimas bertanya


" Ini "


Sean memakai kupluk rajut warna hitam yang tidak pernah di tinggalkannya


" Cepet gih ganti "


Sean mendorong Adimas masuk ke dalam kamar mandi


" Ok "


Adimas masuk dan mulai mengganti pakaiannya


" Mao "


Sean keluar dari kamar ganti


" Iya tuan "


Mao masuk ke dalam


" Apa tuan Juan sudah di kabari "


Sean duduk di kursi kerjanya


" Sudah tuan , katanya beliau menunggu anda dengan senang hati "


Mao menjawab

__ADS_1


" Dasar penjilat "


Sean mengambil telfon kabelnya dan mulai menelfon adinda


__ADS_2