Aku Pangeran

Aku Pangeran
#97 ( perjalanan )


__ADS_3

*Brum Brum


Terdengar suara motor gede di halaman kantor


" Hahaha ini keren , kalau aku bawa Aniel pasti dia suka hahaha "


Sean terkekeh


* Brum


Suara sepeda motor Sean memecah keramaian kota


Terlihat Sean memimpin jalan dengan membonceng Mao yang masih memakai pakaian formalnya di iringi Diablo dan di kawal dengan banyak pengawal berpakaian bebas dengan motor gede yang sama dengan Sean


" Kata papa bunda itu suka motor gede , jadi aku pikir bunda akan langsung keluar saat mendengar mesin suara motor gede di dekat pantai "


Sean terkekeh


" Di depan tuan "


Diablo berteriak saat terlihat sebuah belokan curam


" Oke"


Sean membiarkan Diablo membimbing


Perjalanan cukup jauh karena Sean beberapa kali berhenti untuk melakukan beberapa hal


" Pantainya sudah terlihat "


Sean tersenyum saat suara desir ombak terdengar


Rombongan Sean akhirnya sampai di pintu masuk


" Saya akan mengurusnya "


Diablo turun dari moge nya dan berjalan menuju loket


" Apa Aniel sama sekali tidak menelepon "


Sean melepaskan helm nya


" Tidak ada panggilan masuk tuan "


Mao menjawab


" Kirim pesan kepada yang dirumah , mungkin kita bisa pulang esok atau lusa "


Sean turun dari motornya


" Baik tuan "


Mao membuka hp nya


" Salam tuan "


Arka membungkuk memberi salam


" Kapan kamu datang "


Sean bertanya


" Baru saja tuan "


Arka menunjuk rombongan mobilnya


" Dengan siapa "


Sean menaikkan alisnya


" Dengan para pengawal "


Arka menunjuk beberapa pengawal yang membawa motor


" Mari masuk "


Diablo menghampiri


" Naik Mao "


Sean naik ke atas mogenya


" Baik "


Mao naik ke atas motor


*Brum Brum


Sean melajukan motornya memasuki tugu selamat datang


" Di sana parkirnya "


Mao menunjuk area parkir


" Oke "


Sean berhenti di tempat yang di tunjukkan Abang jukir yang tiba-tiba nongol


" Biar saya urus , anda bisa masuk "


Arka tiba di samping Sean


" Oh... Terimakasih "


Sean meletakkan helm nya dan berjalan menuju pantai


" Dimana rumahnya Mao "


Terlihat di sepanjang pantai berjejer rapih rumah rumah warga dengan beberapa toko di sana


" Di sana tuan "


Diablo menunjuk sebuah rumah yang di penuhi pengunjung laki-laki


" Siapa para pria itu "


Sean bertanya dengan nada tidak suka


" Orang orang saya tuan , anda tidak perlu khawatir "


Diablo menenangkan Sean


" Oke "


Sean mengangguk


Sean berjalan mendekati tempat yang sering di sebut dengan warung makan , saat Sean masuk ke dalam , tidak ada yang berani bergerak dan terlihat mereka sedikit membungkukkan badan


" Permisi "


Sean berdiri di depan etalase makanan


" Iya "


Seorang laki-laki berdiri menyambut Sean


" Apa ini rumah dari nyonya Adinda putri ayu "


Sean membuat pria itu terkejut


" Siapa anda "


Terdengar suara seorang wanita dari arah pintu


" Ini nyata , papa... "


Sean menatap adinda dengan seksama


" Tuan "


Diablo menyadarkan


" Ah.. iya maaf "


Sean mengedipkan matanya


" Maaf nyonya , apakah anda Adinda putri ayu "


Sean bertanya kembali


" Siapa anda hingga berani bertanya seperti itu kepada saya , lagipula nama saya Alinda"


Wanita itu menyalahkan kalimat Sean


" Hahaha kata papa bunda memang keras kepala dan tidak mau kalah "


Sean membatin dan terkekeh


" Bisakah saya dan anda berbicara "


Sean meminta


" Anda siapa memangnya "


Laki laki yang menyambut Sean berdiri di hadapan Sean


" Aku lebih tinggi haha , padahal kami berbeda tiga tahun "


Sean terkekeh


" Tuan Ken Sora , saya perlu berbicara "


Sean memegang pundak laki-laki yang dia panggil Ken Sora


*Grep


Tiba-tiba Sean di seret oleh laki-laki itu masuk ke dalam rumah


" Siapa kamu "


Laki-laki itu memegang kerah pakaian Sean


" Aku Ken Sora "


Sean tersenyum


" Maksudmu "


Wanita itu menyingkirkan laki-laki yang mencengkram leher Sean


" Bisakah kita duduk , saya benar-benar harus berbicara dengan Anda "


Sean membenarkan Hoodie nya


" Silahkan "


Wanita itu mempersilahkan


" Bunda "


Laki-laki itu seakan tidak percaya


" Katakan "


Wanita itu duduk berhadapan dengan Sean


" Bisakah anda juga duduk "


Sean menatap laki-laki yang dia panggil Ken Sora


" Pertama apakah anda mengenal Sbastian Ken Sora "


Sean membuat wanita itu terkejut


" Biar saya perjelas "


Sean berdiri


" Diablo "


Sean memanggil


" Saya tuan "


Diablo masuk bersama Mao


" Kemarikan berkasnya "


Sean meminta


" Ini tuan "


Diablo memberikan koper yang dia bawa


" Apakah ini benar "


Sean mengeluarkan beberapa berkas


*Srek


laki-laki yang di panggil soyra oleh Sean mengambil berkas Sean dan membacanya , terlihat iris mata pria itu menelaah semua yang ada di atas kertas dengan seksama


*Krak


Laki-laki itu mencengkram erat kertas yang ada di tangannya


*Brak


Laki-laki itu menggebrak meja


" Kau ingin membunuhku dan ibuku "


Wajah Laki-laki itu terlihat memerah dengan otot leher yang mulai keluar


" Adimas "


Suara wanita itu terdengar bergetar


" Bu..bunda "


Laki-laki yang di panggil Adimas itu menoleh dan terlihat wanita itu sudah menitikkan air mata dengan kertas di tangannya


" Bunda jangan di pikiran , Adimas akan melindungi bunda"


Adimas memeluk wanita itu


" Kamu siapa "


Wanita itu menatap Sean


" Nama saya Sean Ken Sora "


Sean membuat wanita itu dan Adimas terkejut


" Kamu Ken Sora "


Wanita itu terdengar bergetar


" Apakah anda tidak mengingat Sbastian Ken Sora "


Sean menatap manik mata indah milik wanita itu


" Sbastian "


Wanita itu memeluk Adimas dengan erat


" Iya..Sbastian Ken Sora "


Sean mengangguk


" Saya kemari bertujuan untuk menjemput anda dan membawa anda juga saudara untuk kembali ke kediaman "


Sean mengutarakan niatnya


" Tidak bisa , jika begitu Sbastian.. dia... Su..suamiku "


Wanita itu terlihat bergetar


" Nyonya Adinda harus ada di tempatnya , anda tidak boleh berada di sini "


Diablo memberitahu


" Tapi... Jika aku kembali... Nyawanya "


Adinda tergagap dan terlihat raut wajah ketakutan di wajahnya


" Nyawa papa akan terancam... "


Sean membuat adinda mengangguk


" Anda tenang saja , mereka tidak akan bisa melakukan apapun , saya berjanji "


Sean membuat janji


" Saya mohon kembalilah ke rumah "


Sean berlutut dan menyatukan kedua tangannya


" Tidak bisa aku... "


Adinda menggelengkan kepalanya


" Saya mohon papa sangat membutuhkan anda , saya mohon... Saya mohon "


Sean memohon dengan air mata yang mengalir


" Apa dia sudah menikah lagi "


Adimas bertanya


" Adimas "


Adinda memegang lengan Adimas


" Bunda , aku tidak mau bunda di madu "


Adimas menatap Sean tajam


" Tidak... Papa memang sudah menikah lagi dan memiliki seorang putri.. tapi papa sekarang sendiri , papa sendiri di rumah "


Sean menggeleng


" Kalau begitu tidak perlu kembali ke sana , bundaku sudah tersiksa selama ini , aku tidak mau dia menangis lagi , kembalilah "


Adimas memeluk adinda dengan erat


" Lakukan vace came "


Sean memerintahkan kepada Diablo


" Anda harus lihat ini "


Sean menerima hp yang diberikan oleh Diablo


" Lihat ini , ini papa "


Sean menunjukkan hp nya

__ADS_1


" Astaga.... Suamiku "


Adinda menyambar hp yang Sean pegang


" A..apa yang terjadi dengannya "


Tangan adinda bergetar


" Kecelakaan yang membuatnya seperti itu , saya mohon kembalilah ke rumah , papa sangat mencintai anda "


Sean menunduk


" Papa tidak pernah melupakan wanita yang bernama Adinda putri ayu , satu-satunya wanita yang bisa membuat senyum bahagia papa kembali , saya mohon kembalilah ke rumah "


Sean menitikkan air mata


" Ayo pergi Adimas , ayah membutuhkan bunda "


Adinda mencengkram lengan Adimas


" Adimas.. dia ayahmu "


Adinda memeluk erat Adimas


" Baik... Apapun yang bunda minta Adimas akan penuhi "


Adimas mengangguk


" Terimakasih "


Sean tersenyum


" Dia begitu kurus "


Adinda menatap layar ponsel yang dia pegang


" Papa sudah seperti ini sejak empat tahun lalu "


Sean membuat Adinda terkejut


" Selama itu "


Adinda menatap Sean


" Iya... Papa sudah seperti ini , saya sudah mencoba segala cara , semua saya lakukan tapi tidak bisa..... Papa tidak kunjung sadar , dan saat saya menemukan anda , saya menerima secercah harapan , saya sangat bahagia saat anda benar-benar Adinda putri ayu yang sangat di cintai Sbastian Ken Sora hahaha , saya sangat bahagia "


Sean terkekeh


" Bisakah kita pulang sekarang "


Sean meminta


" Ayo Adimas kita pergi , bunda ingin bertemu ayah , ayo Adimas "


Adinda mengguncang tubuh putranya


" Iya bunda "


Adimas tersenyum


" Saudara memang mirip dengan papa "


Sean terkekeh


" Memang hiks... Memang "


Adinda memeluk Adimas dengan erat


" Dan anda masih sama dengan foto yang ada di rumah hahaha "


Sean tertawa


" Foto "


Adinda mengerenyitkan keningnya


" Satu foto anda dengan saudara saat masih di rumah sakit beberapa saat setelah saudara di lahirkan "


Sean tersenyum


" Kau tau "


Adinda terkejut


" Papa menceritakan banyak hal kepada saya "


Sean tersenyum


" Dan.... Foto SMA bahkan foto masa kecil anda tersimpan rapih dalam satu ruangan , itu sangat banyak hahaha "


Sean terkekeh


" Dia masih menyimpannya "


Adinda terkejut


" Bahkan semua pakaian anda papa sendiri yang membersihkannya setiap Minggu , dan sekarang semuanya saya kemas dengan rapih di dalam plastik "


Sean tersenyum


" I..itu berlebihan "


Adinda tersenyum kecil


" Anda akan lebih terkejut setelah anda sampai di kediaman hahaha "


Sean tertawa


" Tuan , mereka menyerang "


Mao masuk dan berteriak


" Oh... hahaha berani sekali mereka"


Sean terkekeh


"Gunakan mode bertahan , lindungi mereka di sini , jangan biarkan bunda dan kakak tergores sedikitpun "


Sean menepuk pundak Mao


" Siap tuan "


Mao mengangguk


" Bawa bunda dan kakak menuju kantor , di sana akan aman , bawa semua bodyguard dan aku akan menangani yang ada di sini "


Sean merubah rencananya


" Baik "


Mao membawa adinda dan Adimas lewat pintu belakang


" Aku siap "


Sean berdiri di luar warung dengan lengan yang sudah di gulung ke atas


" Anda yakin tuan "


Diablo bertanya


" Yakin lah "


Sean bersiap menyerang


" Apa dia akan baik-baik saja "


Adinda yang berlari bersama Adimas menuju mobil di sana bertanya kepada Mao


" Tuan itu kuat , anda tidak perlu khawatir "


Mao membuka pintu


" Ayo masuk nak "


Adinda menyuruh Adimas masuk


" Bunda dulu "


Adimas mempersilahkan Adinda


" Mari tuan muda "


Mao mempersilahkan


" Ayo nak"


Adinda memanggil Adimas


" Adimas pikir harus membantu anak itu "


Adimas berlari menjauh


" Adimas "


Adinda berteriak


" Saya akan mengikuti tuan muda , bawa nyonya ke kantor segera "


Mao menutup pintu dan menguncinya menggunakan kekuatan magic


" Anakku "


Adinda terlihat menitikkan air mata


" Anda tenang saja , nona Mao sudah biasa menghadapi banyak hal seperti itu "


" Tapi itu putraku "


Terdengar sedikit suara amarah dari mulut Adinda


" Ahahaha saya jamin tuan muda akan kembali tanpa luka gores sedikitpun "


Arka tertawa


Di tempat Sean , setengah dari musuh sudah di habisi oleh Sean


" Aku capek hahaha "


Sean tertawa


" Saya jadi takut dengan anda tuan muda "


Diablo menyindir Sean


" Lihat kakakku sangat bersemangat hahaha "


Sean tertawa melihat Adimas yang dengan cekatan dan terlihat api amarah menyelimuti tubuhnya , memukuli musuh dengan keren dan bergaya


" Sudah sudah saudaraku "


Sean menghentikan Adimas yang masih memukuli seorang lawan yang sudah terkapar


" Bersihkan mereka "


Sean memerintahkan


" Baik tuan "


Diablo mengangguk dan mengeluarkan ponselnya


" Apa saudaraku puas "


Sean membantu Adimas berdiri


" Aku ingin membunuh orang yang membuat bunda seperti ini "


Adimas dengan geram menatap semua orang yang terkapar di atas pasir pantai


" Aku akan membuat saudara menemuinya nanti , sekarang bunda pasti sangat khawatir denganmu , ayo ganti baju lalu kita pulang "


Sean menarik Adimas menuju rumah yang di tinggali Adimas


" Bagaimana kau tau kami di sini "


Adimas mengimbangi langkah Sean


" Aku tau kasus kematian bunda dan saudara dulu sangat aneh , hingga aku melihat bunda empat tahun yang lalu di dekat kebun binatang , apa saudara ingat anak laki-laki lumpuh yang melihat kotak musik bunda "


Sean mengingatkan


" Aku ingat "


Adimas mengangguk


" Apa saudara masih ingat anak perempuan yang duduk di atas pangkuan anak lumpuh itu "


Sean masuk ke dalam rumah


" Iya "


Adimas mengangguk


" Gadis itu adalah adik saudara "


Sean masuk ke dalam kamar mandi


" Kau bahkan tau letak kamar mandi "


Adimas menatap Sean tajam


" Hehehe "


Sean masuk dan tidak lama Diablo masuk ke dalam rumah


" Tuan muda ini pakaian ganti anda dan pakaian ganti tuan muda Sean "


Diablo meletakkan dua set pakaian di atas meja makan


" Tidak perlu , aku memiliki pakaian sendiri"


Adimas menolak


" Maaf tapi anda tidak perlu memakai pakaian anda lagi "


Diablo membuat Adimas menoleh


" Anda tidak perlu mengatur saya paman "


Diablo masuk ke dalam kamarnya


" Hahaha mirip dengan tuan Sean "


Diablo terkekeh


" Mana pakaiannya paman "


Sean menyembulkan kepalanya dari kamar mandi


" ini tuan "


Diablo memberikan satu set pakaian Sean


" Makasih "


Sean mengambilnya lalu mengganti pakaiannya


Tidak lama Sean keluar dan Adimas langsung mengisi kamar mandi


" Paman udah mandi "


Sean melihat pakaian Diablo yang sudah berganti


" Sudah tuan "


Diablo mengangguk


" Cepet amat "


Sean terkekeh


" Ada panggilan dari rumah "


Diablo memberikan ponsel Sean


" Makasih "


Sean menerima panggilan


______________


KAKAAAAAK :


Terdengar suara Aniel yang memekakkan telinga


Iya iya :


Sean menyahuti


Kakak kemana :


Aniel bertanya


Kakak lagi kerja di luar , bentar lagi kakak pulang :


Sean menenangkan Aniel


Kakak pulang kan , Aniel dengar kakak pulang besok ..hiks... Aniel ngak mau sendiri :


Terdengar sedikit isakan kecil dari sebrang telfon


Kakak pulang , jangan nangis ya kakak nanti bawakan cake kesukaan Aniel :


Sean mencoba menghibur


Cepet pulang kak ..hiks.. Aniel ngak mau sendiri :


Aniel terdengar lirih


Kakak pulang sekarang ya , ini mau jalan , kakak tutup dulu :


Sean memberitahu


Iya :


Aniel mengiyakan


Babay cantik :


Sean tersenyum


Babay..hiks... Kakak :


Aniel menutup telfonnya secara sepihak


_____________


" Huft.. Bisakah perjalanan di percepat "

__ADS_1


Sean duduk di atas kursi kayu sederhana di sana


" Menggunakan kendaraan udara atau darat"


Diablo memberi pilihan


" Darat saja , keselamatan kakak dan bunda nomor satu "


Sean menjawab


" Baik "


Diablo menghubungi seseorang


" Aku selesai "


Adimas keluar dengan pakaian sederhana , sangat berbeda dengan Sean yang memakai pakaian serba mahal mulai baju hingga sepatu


" Kakak akan sulit menyesuaikan "


Sean tersenyum


" Menyesuaikan apa "


Adimas memiringkan kepalanya


" Kakak akan tau nanti "


Sean berbalik hendak berjalan keluar


" Tunggu aku belum mengemasi barang-barang ku dan barang bunda "


Adimas menghentikan langkah Sean


" Bawa yang benar-benar berharga saja , untuk pakaian dan lainnya sudah Sean siapkan "


Sean tersenyum


" Iya tunggu sebentar "


Adimas masuk ke dalam kamarnya


Tidak lama Adimas kembali dengan membawa satu tas kecil dan kembali masuk ke kamar satunya , saat keluar Adimas membawa satu ransel besar di punggungnya


" Hahaha kakak memang keras kepala ya"


Sean terkekeh


" Ayo pergi "


Sean menarik tangan Adimas dan bergegas menuju parkiran


" Kakak pernah bawa sepeda motor "


Sean mengambil helmnya


" Bunda ngak ngebolehin "


Adimas menerima helm dari Sean


" Sean juga ngak di bolehin , tapi diam-diam Sean belajar sepeda "


Sean memakai helm nya


" Terus yang ngurus di sini siapa "


Sean menatap Diablo


" Salah satu kepercayaan saya "


Diablo menaiki motornya


" Oke "


Sean memundurkan motornya dari area parkir


" Ayo kak naik "


Sean menyalakan mesin motornya


" Kamu yakin "


Adimas terlihat ragu-ragu


" Yakeeeen cus naik "


Sean menggeber-geber motornya


" Oke "


Adimas naik dan membenarkan posisi tasnya


" Go "


Sean melajukan motornya dan membuat Adimas menempel padanya


" Pelan pelan "


Adimas berteriak


" Ngak ada waktu "


Sean menjawab


" APA "


Adimas tidak mendengarkan karena Sean benar-benar dalam mode kecepatan penuh


" NGAK ADA WAKTU "


Sean berteriak


" APA "


Adimas tidak bisa mendengar Sean


" Apneuavaybd "


Sean mengeluarkan semua huruf secara random


" Oooooh kenapa ngak ada waktu "


Adimas bertanya


" Nanti Bae jawabnya "


*Brum


Sean makin mempercepat laju motornya


Selama beberapa menit akhirnya mereka sampai di perkotaan dan Sean sedikit memperlambat laju moge nya hingga sampai di kantor


" Bunda "


Adimas langsung turun dan memeluk adinda


" Kamu baik-baik aja kan "


Adinda memeriksa seluruh tubuh Adimas


" Baik bunda , bunda jangan khawatir "


Adimas memeluk kembali adinda


" Tuan , mobil sudah siap "


Diablo menghampiri Sean


" Bawa lebih banyak pengawal , aku tidak ingin terjadi kesalahan "


Sean menerima jas kantornya yang di bawa oleh Mao


" Saya sudah siapkan "


Mao mengangguk


" Kakak dan bunda silahkan masuk terlebih dahulu "


Sean mempersilahkan


" Mari nyonya "


Diablo membukakan pintu mobil


" Bunda "


Adimas menahan adinda


" Tuan muda "


Terdengar sebuah suara yang tidak asing di telinga Adinda


" Paman John "


Sean terkejut


" Anda sedang apa di sini "


Asisten John memegang pundak Sean


" Lihat "


Sean menunjuk adinda


Asisten John menoleh dan


*Brak


Koper dan tas jinjing John terjatuh


" Ti..tidak mungkin "


Asisten John terbelalak dan tubuhnya bergetar


" Paman... "


Sean memegang pundak asisten John


" kakak John "


Adinda memanggil


" Adinda "


John benar-benar terkejut dan terbelalak tidak percaya


" Kamu Adinda... Benar-benar Adinda "


John terduduk


" Tenanglah paman John "


Sean menenangkan John


" Paman mau pulang "


Sean mengalihkan topik pembicaraan


" I..iya "


Asisten John mengangguk


" Mari bersama kami "


Sean melambaikan tangannya dan salah satu penjaga datang untuk membantu asisten John


" Nyonya mari masuk "


Diablo menyadarkan Adinda


" Ah... Baik "


Adinda masuk dan menarik Adimas untuk masuk ke dalam mobil


" Dia ikut mobil mana , atau bawa sendiri "


Adinda bertanya


" Maksud anda tuan muda "


Diablo memasang sabuk pengamannya


" Iya "


Adinda mengangguk


" Tuan muda akan ada di sini "


Diablo membenarkan beberapa hal di dalam mobil


" Tuan dan nyonya harap memakai sabuk pengaman "


Diablo mengingatkan


" Ah... Iya "


Adinda memakai sabuk pengaman dan membantu Adimas memakai sabuk pengamannya


" Dia sedang apa "


Adimas memperhatikan Sean


" Tuan sedang memberikan penyambutan , ini pertama kalinya tuan sampai di sini , jadi ini peristiwa bersejarah untuk para karyawan "


Diablo memberikan beberapa cemilan


" Silahkan anda nikmati , ini mungkin akan agak lama "


Diablo memberikan beberapa bungkus makanan ringan dengan minuman


" Makanlah nak "


Adinda membelai lembut kepala Adimas


" Iya bunda dan... Terimakasih paman "


Adimas berterimakasih kepada Diablo


" Hahaha anda sangat sopan tuan "


Diablo terkekeh


" Ayo paman , aku sudah selesai "


Sean masuk dan duduk di kursi depan


" Tas kakak letakkan saja di belakang "


Sean memasang sabuk pengamannya


" Iya "


Adimas dengan hati-hati meletakkan tasnya di bangku belakang


" Apa kakak terbiasa dengan AC "


Sean bertanya


" Tidak tau "


Adimas menggeleng


" Adimas tidak pernah naik mobil , dia hanya pernah naik pickup dan itu naik di belakang "


Adinda membelai lembut kepala Adimas


" Maaf ya , Sean baru bisa mengetahui ini sekarang , padahal penyelidikan di lakukan beberapa tahun lalu "


Sean berbicara dengan tidak enak


" Eeeeh tuan "


Diablo melirik Sean


" Sean kan ikut dalam ekspedisi , jangan di masukkan ke dalam hati hehe "


Sean cengengesan


*Ting


Suara dentingan ponsel dari saku Sean


" Pesan "


Diablo bertanya


" Beberapa berkas "


Sean membuka hp nya


" Bunda lapar "


Adimas menyodorkan makanan ringan yang dia makan


" Makanlah , bunda tidak lapar "


Adinda membiarkan putranya makan Snack yang di berikan Diablo


" Tapi bunda belum makan dari kemarin "


Adimas menyodorkan sebuah kripik


" Bunda belum lapar "


Adinda tersenyum


" Paman "


Sean memanggil


" Saya mengerti tuan "


Diablo melajukan mobilnya menuju resto cepat saji yang terlihat di depan mata


Setelah memesan beberapa menu makanan akhirnya Diablo melanjutkan perjalanannya


" Ini kakak , habiskan dengan bunda "


Sean memberikan dua porsi makanan cepat saji yang berisi dada ayam dengan nasi porsi jumbo


" Tapi "


Adimas terlihat ragu-ragu


" Habiskan kak "


Sean tersenyum

__ADS_1


__ADS_2