Aku Pangeran

Aku Pangeran
# 45 ( menjadi nona menjengkelkan )


__ADS_3

Setelah selesai membaca buku , Ana dan Sean mengembalikan bukunya dan kembali kepada ayah mereka masing-masing


" Apa ada buku yang menarik "


Lagardio bertanya


" Bukunya menarik tapi..... "


Sean melirik ana yang masih fokus dengan dunianya sendiri


" Tapi.. "


Sbastian dan Lagardio mengikuti arah pandangan mata Sean


" Tapi dia terlalu menganggu "


Sean berbicara dengan kesal dan hanya di balas sebuah senyuman manis dari Ana


" Maaf-maaf pasalnya buku yang tadi sangat keren "


Ana menceritakan semuanya yang dia baca kepada papanya dengan semangat


" Baik-baik , sekarang kita pulang ya "


Sbastian memberikan tas ransel milik Sean dan mengambil cake yang sudah ada di atas meja


" Aku akan membayarnya "


Lagardio pergi dengan Ana yang sudah ada di dalam gendongannya


" Eh..eh.. "


Sbastian hendak berbicara namun Lagardio keburu pergi ke kasir


" Bukannya ini resto papa ya "


Sean melihat Lagardio yang sudah berdiri di depan kasir


" Sudahlah hahahaha "


Sbastian tertawa melihat Lagardio yang kembali dengan wajah aneh


" Bagaimana "


Sbastian bertanya dan tertawa


" Boleh aku membunuhmu "


Lagardio menatap tajam Sbastian


" Oh.. tentu tidak hahahaha "


Sbastian tertawa dan membuat Sean dan ana yang mengerti akan situasi menjadi tertawa terbahak-bahak


" Paman kamu lucu hahaha "


Sean tertawa dengan nada yang khas


" Papaaaaa papa "


Ana geleng-geleng kepala melihat kelakuan papanya


" Huh... Kenapa ngak di beritahu dari awal"


Lagardio melirik Sbastian


" Kamu keburu pergi sih "


Sbastian membawa Sean dan cake pesanan Sean


" Dasar "


Lagardio menggerutu


" Baiklah , kami pulang dulu ya "


Sbastian Sbastian menggandeng Sean keluar resto dan di ikuti oleh Lagardio


Saat Sbastian mengeluarkan motornya dari perkiraan


" Besok ayo pakek baju sama "


Ana tiba-tiba berbicara dengan Sean


" Astaga... Terkejut tau , kok belum naik mobil "


Sean melihat mobil Ana


" Iya , itu papa lagi telponan "


Ana menunjuk Lagardio yang masih sibuk menelfon seseorang di samping mobil


" Oh.... "


Sean hanya mengangguk


" Hei... Ayo besok pakai baju sama , besok kan hari kedua sekolah "


Ana sekali lagi mengajukan permintaan


" Boleh , pakek baju apa "


Sean bertanya


" Besok ana mau pakek rok merah kotak-kotak dengan atasan berwarna putih dengan topi baret kecil dan tas ransel hitam kecil , besok ana juga mau pakek sepatu merah dan hiasannya bunga berwarna pink"


Ana mendeskripsikan pakaian yang akan ia kenakan


" Baiklah... Besok Sean akan pakai warna yang sama "


Sean mengangguk


" Yeeey makasih "


Ana memeluk Sean dan setelah itu berlari menuju ayahnya


" Kenapa"


Ayah Sean bertanya


" Ngak apa-apa "


Sean menggeleng


" Yasudah , ayo pulang "


Sbastian menggendong Sean dan meletakkan Sean di atas motor lalu Sbastian naik dan melajukan motornya untuk pulang


Setelah sampai di rumah


" Kakeeeeek "


Sean berlari masuk dan melihat kakeknya sedang duduk-duduk di sofa ruang tamu sambil menonton TV


" Eh... Cucu kakek dah pulang "


Pak Sam meletakkan camilan yang ia bawa lalu menyambut Sean dengan bahagia


" Kakek kakek tadi Sean beli cake lho "


Sean di gendong oleh pak Sam dan di dudukkan di atas sofa oleh pak Sam


" Benarkah "


Pak Sam membantu Sean melepaskan ranselnya


" Iya kek , tadi Sean beli dua , satunya buat bunda azza "


Sean bercerita dengan girang


" Papa..... Dimana kue Sean "


Sean berdiri di atas sofa sambil melihat papanya yang berjalan mendekat membawa dua kotak cake pesanan Sean


" Minta kak Yuka bawa pisau kue sama piring kecil , kalau buat bunda azza nanti saja di berikan , mungkin bunda azza sekarang sedang tidur siang "


Sbastian duduk di sofa singgel dan meletakkan kedua kotak cake itu di atas meja


" Baik papa , akan Sean ambilkan "


Sean turun dari atas sofa dan berlari ke arah dapur


" Bagaimana sekolahnya "


Pak Sam bertanya


" Baik yah , hanya saja ada sedikit kejadian tidak terduga "


Penjelasan Sbastian membuat pak Sam tersenyum


" Apa karena pertanyaan tentang ibu "


Pak Sam menebak


" Ayah selalu tau "


Sbastian tersenyum

__ADS_1


" Sama sepertimu dulu , apa kamu ingat "


Pak Sam mengingatkan


" Tentu aku masih ingat ayah , kan ayah yang menungguku sampai selesai sekolah "


Flashback on


" Ayah.... Tian takut "


Sbastian kecil memeluk kaki pak Sam saat akan memasuki kelas pertamanya


" Ngak usah takut.... Kan ada ayah di sini"


Pak Sam berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Sbastian kecil


" Iya ayah "


Sbastian kecil mengangguk namun tangannya tidak lepas dari pak Sam


" Ayah tunggu di luar ya , kamu masuk sendiri , berani kan "


Pak Sam membenarkan kerah pakaian Sbastian kecil


" Ngak mau.... Ayah ikut masuk ya "


Sbastian kecil memohon


" Anak ayah yang tampan.... Kamu harus berani "


Pak Sam mengelus kepala Sbastian kecil


" Tapi...... "


Sbastian menunduk namun tangannya tidak lepas dari lengan pakaian pak Sam


" Hai.... "


Suara seorang wanita membuat pak Sam dan Sbastian kecil menoleh , wanita paruh baya dengan setelan khas seorang guru yang umurnya lebih tua di banding pak sam


" Ha..halo "


Sbastian berjalan menuju belakang punggung pak Sam


" Apa kamu yang namanya Sbastian "


Wanita paruh baya itu bertanya


" I..iya "


Sbastian menjawab dengan sopan


" Apa ini papa kamu "


Wanita paruh baya itu bertanya


" Bu..bukan , itu.... Dia ayahku , papaku sedang bekerja bersama mama di kantor"


Sbastian menjelaskan dengan lirih


" Apakah anda pak Sam "


Wanita paruh baya itu bertanya


" Benar Bu "


Pak Sam mengangguk


" Ah.... Saya Bu arta guru kelas Sbastian , papa Sbastian sudah bercerita tentang anda dan Sbastian , jika Sbastian tidak mau masuk sendiri anda bisa mengantarkan Sbastian sampai ke kursi belajar "


Bu arta memberikan pendapat


" Baiklah Bu guru , terimakasih "


Pak Sam memutar badan hingga berhadapan dengan Sbastian


" Ayo ayah antarkan sampai meja belajar punya Tian "


Pak Sam menggendong Sbastian kecil dan berdiri


" Itu bangku Sbastian "


Bu arta menunjuk bangku yang ada di pojok depan bagian kanan , dekat dengan jendela


" Ayo.... "


Pak Sam membawa Sbastian kecil duduk di sana


" Duduklah "


Pak Sam mendudukkan Sbastian kecil di bangku siswa


Sbastian kecil memegang lengan pakaian pak Sam


" Iya... Ayah tunggu di luar ya , kalau Tian sudah selesai Tian langsung keluar "


Pak Sam mengelus kepala Sbastian kecil


" Iya "


Sbastian mengantar pak Sam keluar dengan sorot matanya yang tidak lepas dari pak Sam hingga keluar kelas


Setelah beberapa saat , disaat pak Sam menunggu Sbastian kecil di luar kelas , pak Sam ingin melihat Sbastian kecil dari jendela kelas di samping pintu


Saat pak Sam melihat Sbastian kecil di berdiri di depan kelas , pak Sam mendengar Sbastian kecil yang di minta menceritakan tentang keluarganya


" Apa kamu punya saudara "


Salah satu teman Sbastian kecil bertanya


" I..iya... Aku punya dua adik kembar , tapi mereka sedang sakit... Ibu merawat mereka berdua di sana "


Sbastian kecil menjelaskan dengan sedikit takut


" Woah.... Kamu punya adik yang kembar , aku juga punya adik tapi tidak kembar "


Teman Sbastian yang lain mengagumi adik kembar Sbastian


" Apa kamu sekarang tidur di temani ibumu, jika aku di temani ibuku "


Teman yang lain bertanya


" Ti..tidak ibuku menemani adik di rumah sakit , jadi aku tidur dengan ayah Sam "


Sbastian kecil memberikan jawaban


" Apa ayah Sam itu ayahmu "


Salah seorang anak memberikan pertanyaan lagi


" Ayah Sam... Dia ayah asuhku , ayah Sam membuat aku merasakan kasih sayang papa dan mama , ayah Sam juga yang mengantarku sekolah "


Sbastian kecil mulai menitikkan air mata


" Kenapa tidak ibu kamu "


Anak yang lain bertanya


" Karena ibuku merawat adikku , jadi yang merawatnya ayah Sam "


Sbastian mulai mengusap air matanya yang mengalir dengan deras


*Cklek


terdengar suara pintu terbuka


" Ayah.... "


Sbastian kecil berlari melewati teman-temannya dan menuju pak Sam yang sudah berjongkok menyambut Sbastian kecil yang berurai air mata


" Ayah.... "


Sbastian kecil memeluk pak Sam dengan erat dan mulai terisak dengan kencang


" Ssssttt apa kamu tidak malu di lihat teman-teman "


Pak Sam mengusap punggung Sbastian kecil namun pertanyaannya pak Sam di jawab gelengan oleh Sbastian


" Ti..hiks..tidak "


Sbastian memeluk pak Sam dengan erat dan semakin terisak


" Ke..hiks...kenapa mama tidak pernah... Hiks... Tidur dengan Tian ... Hiks... Padahal hiks... Tian anak baik , kenapa hiks... Semua teman di antar mamanya , kenapa ...hiks... Tian ngak di antar mama "


Sbastian kecil berbicara dengan keras hingga semua orang mendengarkan


" Ssssttt Tian kan tau , kalau adik kembar butuh mama , jadi Tian tidak boleh egois ya"


Pak Sam menasehati


" Kenapa... Hiks... Kenapa cuma adik yang boleh tidur sama mama ... Hiks... Kenapa Tian enggak , Tian kan hiks... Juga pengen kayak adik , apa Tian hiks... Bukan anak papa dan mama "


Sbastian kecil melepaskan pelukannya dan membentak-bentak pak Sam


" Sekarang dengar ayah.... Kenapa mama selalu bersama adik . Karena adik sakit , kenapa mama tidak pernah menemani Tian saat malam . Karena saat malam adik membutuhkan mama . Tian tau adik sakit apa . Adik sakit sesuatu yang sulit untuk di sembuhkan . Adik sakit dan mama harus menemani adik berobat . Adik sakit dan papa harus bekerja demi mengobati adik . Papa dan mama juga bekerja untuk membelikan Tian dan adik leo mainan . Papa dan mama bekerja untuk membelikan obat untuk Adin liona . Dan Tian harus mengerti kondisi adik yang menderita sakit parah . Tian tau rasanya di tinggal mama . Itulah yang akan mama rasakan jika adik meninggalkan mama . Bahkan akan lebih dan lebih sakit lagi . Adik membutuhkan mama . Dan Tian harus mengerti kondisi mama dan papa . Apa Tian mengerti "


Pak Sam menjelaskan dengan sabar dan Sbastian menjadi pendengar yang baik

__ADS_1


" I...iya... Maafkan Tian ....Hua...... "


Sbastian kecil memeluk pak Sam dan menangis dengan keras hingga sebuah sentuhan di kepalanya menghentikan tangisannya


" Mama "


Sbastian kecil terkejut melihat mamanya dan papanya yang berdiri di depannya


" Tuan "


Pak Sam menurunkan Sbastian kecil dari pelukannya dan berdiri lalu sedikit membungkuk


" Terimakasih Sam "


Papa Sbastian memeluk pak Sam


" Iya tuan "


Pak Sam tidak membalas pelukan papa Sbastian


" Maafkan mama ya nak "


Mama Sbastian melepaskan troli bayi yang ia pegang lalu memeluk Sbastian kecil dengan hangat


" Mama.... Hiks... Maafkan Tian ma.... Hua....."


Sbastian memeluk mamanya dan menangis dengan keras di pelukan mamanya


" Sudah-sudah , sekarang Tian belajar ya , setelah belajar nanti kita jalan-jalan sama adik kecil "


Mama menghapus sedikit air matanya dan menunjuk troli bayi yang ia bawa


" Adik leo , adik liona "


Sbastian kecil menghampiri troli bayi itu dan memegang kedua tangan bayi kecil itu


" Wah... Wah... Adik bayi memegang tangan Tian "


Tian senang saat melihat jadi kecilnya di genggam oleh jari kecil kedua adik kembarnya


" Baiklah... Sekarang Sbastian belajar dulu ya "


Mama memegang pundak Sbastian kecil lalu membenarkan pakaian Sbastian kecil yang berantakan karena adegan tangis menangis tadi


" Tapi mama jangan pergi ya "


Sbastian memegang lengan mamanya


" Mama di sini sampai anak mama selesai menulis , mama janji "


Mama membuat janji


" Hei jagoan kecil , setelah kamu selesai belajar papa akan mengajakmu dan adik kecil bermain di taman , jika kamu sudah selesai belajar "


Papa Sbastian berkacak pinggang


" Benarkah pa , benar ma "


Sbastian kecil menoleh ke arah papa dan mamanya


" Apa kamu tidak mau , jika tidak ya sudah "


Papa Sbastian melipat tangannya di atas dada


" Tian mau Tian mau , yeeeey Tian akan belajar "


Sbastian kecil berjingkrak riang dan mencium pipi mamanya lalu masuk ke dalam kelas


" Maafkan mama nak "


Mama Sbastian berdiri dan melihat Sbastian yang kegirangan dan menjadi bersemangat dalam belajar


" Sudahlah ma , jangan terlalu di fikirkan , liona juga membutuhkan mu , papa akan berbicara dengan Sbastian nanti , papa yakin Sbastian pasti akan mengerti "


Papa Sbastian merangkul mama Sbastian dan mencium pucuk kepala mama Sbastian


" Iya pa "


Mama Sbastian memegang troli bayi dan duduk di bangku tunggu orang tua


Flashback off


" Yah... Itu awal mula semuanya "


Sbastian memejamkan matanya


" Tapi kamu sudah mengerti kan waktu itu"


Pak Sam bertanya


" Iya ayah , Sbastian memang mengerti waktu itu , namun luka itu masih ada di sini"


Sbastian memegang dadanya


" Nak.... Itu juga demi nona liona "


Pak Sam menjelaskan


" Tian ngak benci liona ataupun lion , justru sebaliknya , Sbastian sangat menyayangi mereka , namun untuk papa dan mama , aku masih merasakan sesuatu yang menjanggal di hati ku "


Sbastian melihat Sean yang berjalan bersama Yuka


" Dan aku tidak mau membuat kesalahan seperti papa dan mama "


Sbastian tersenyum saat melihat Sean yang berjalan dengan cepat ke arahnya


" Papa..... Ayo makan cakenya "


Sean memeluk kaki Sbastian dan Sbastian mengangkat Sean ke dalam pelukannya


" Papa... Udah ngak apapa "


Sean menepuk-nepuk kecil punggung Sbastian


" Makasih "


Sbastian melepaskan Sean dan mereka berdua saling memberikan senyuman yang bermakna


" Ayo makan kuenya "


Sbastian meletakkan Sean di sebelahnya lalu mengambil potongan kue yang di buat oleh Yuka


" Adek mau yang banyak krimnya "


Sean meminta


" Eh.... Papa juga mau "


Sbastian mengambil terlebih dahulu kue yang memiliki krim terbanyak


" Papa kan ngak suka manis , berikan itu ke Sean "


Sean menarik ujung pakaian Sbastian


" Kata siapa "


Sbastian menyendok cake itu dan memasukannya ke dalam mulutnya


" Iiiiisss..... Papaaaaa Sean juga mau "


Sean menarik piring kue Sbastian


" Ini punya papa "


Sbastian tidak mau mengalah


" Sean juga mau krimnya "


Sean menarik piring Sbastian namun Sbastian mempertahankan piringnya


Dan....


*Grep


Sean mengambil semua kue yang ada di dalam piring Sbastian menggunakan tangannya dan memakannya


" Astaga anak papa "


Sbastian terkejut bukan main


" Kamu curang "


Sbastian berkacak pinggang


" Ble... "


Sean menjulurkan lidahnya


" Dasar "


Sbastian melipat tangannya di atas dada dan memalingkan wajahnya dari Sean


" Yang penting happy "


Sean memakan cake yang ada di tangannya dan yang ada di piringnya dengan santai


" Astaga.... Anak-anak ini "

__ADS_1


Pak Sam geleng-geleng kepala melihat kelakuan putra dan cucunya yang tidak beda jauh


Dan terciptalah suasana hangat yang Sbastian inginkan sedari kecil


__ADS_2