
Setelah selesai membaca buku , Ana dan Sean mengembalikan bukunya dan kembali kepada ayah mereka masing-masing
" Apa ada buku yang menarik "
Lagardio bertanya
" Bukunya menarik tapi..... "
Sean melirik ana yang masih fokus dengan dunianya sendiri
" Tapi.. "
Sbastian dan Lagardio mengikuti arah pandangan mata Sean
" Tapi dia terlalu menganggu "
Sean berbicara dengan kesal dan hanya di balas sebuah senyuman manis dari Ana
" Maaf-maaf pasalnya buku yang tadi sangat keren "
Ana menceritakan semuanya yang dia baca kepada papanya dengan semangat
" Baik-baik , sekarang kita pulang ya "
Sbastian memberikan tas ransel milik Sean dan mengambil cake yang sudah ada di atas meja
" Aku akan membayarnya "
Lagardio pergi dengan Ana yang sudah ada di dalam gendongannya
" Eh..eh.. "
Sbastian hendak berbicara namun Lagardio keburu pergi ke kasir
" Bukannya ini resto papa ya "
Sean melihat Lagardio yang sudah berdiri di depan kasir
" Sudahlah hahahaha "
Sbastian tertawa melihat Lagardio yang kembali dengan wajah aneh
" Bagaimana "
Sbastian bertanya dan tertawa
" Boleh aku membunuhmu "
Lagardio menatap tajam Sbastian
" Oh.. tentu tidak hahahaha "
Sbastian tertawa dan membuat Sean dan ana yang mengerti akan situasi menjadi tertawa terbahak-bahak
" Paman kamu lucu hahaha "
Sean tertawa dengan nada yang khas
" Papaaaaa papa "
Ana geleng-geleng kepala melihat kelakuan papanya
" Huh... Kenapa ngak di beritahu dari awal"
Lagardio melirik Sbastian
" Kamu keburu pergi sih "
Sbastian membawa Sean dan cake pesanan Sean
" Dasar "
Lagardio menggerutu
" Baiklah , kami pulang dulu ya "
Sbastian Sbastian menggandeng Sean keluar resto dan di ikuti oleh Lagardio
Saat Sbastian mengeluarkan motornya dari perkiraan
" Besok ayo pakek baju sama "
Ana tiba-tiba berbicara dengan Sean
" Astaga... Terkejut tau , kok belum naik mobil "
Sean melihat mobil Ana
" Iya , itu papa lagi telponan "
Ana menunjuk Lagardio yang masih sibuk menelfon seseorang di samping mobil
" Oh.... "
Sean hanya mengangguk
" Hei... Ayo besok pakai baju sama , besok kan hari kedua sekolah "
Ana sekali lagi mengajukan permintaan
" Boleh , pakek baju apa "
Sean bertanya
" Besok ana mau pakek rok merah kotak-kotak dengan atasan berwarna putih dengan topi baret kecil dan tas ransel hitam kecil , besok ana juga mau pakek sepatu merah dan hiasannya bunga berwarna pink"
Ana mendeskripsikan pakaian yang akan ia kenakan
" Baiklah... Besok Sean akan pakai warna yang sama "
Sean mengangguk
" Yeeey makasih "
Ana memeluk Sean dan setelah itu berlari menuju ayahnya
" Kenapa"
Ayah Sean bertanya
" Ngak apa-apa "
Sean menggeleng
" Yasudah , ayo pulang "
Sbastian menggendong Sean dan meletakkan Sean di atas motor lalu Sbastian naik dan melajukan motornya untuk pulang
Setelah sampai di rumah
" Kakeeeeek "
Sean berlari masuk dan melihat kakeknya sedang duduk-duduk di sofa ruang tamu sambil menonton TV
" Eh... Cucu kakek dah pulang "
Pak Sam meletakkan camilan yang ia bawa lalu menyambut Sean dengan bahagia
" Kakek kakek tadi Sean beli cake lho "
Sean di gendong oleh pak Sam dan di dudukkan di atas sofa oleh pak Sam
" Benarkah "
Pak Sam membantu Sean melepaskan ranselnya
" Iya kek , tadi Sean beli dua , satunya buat bunda azza "
Sean bercerita dengan girang
" Papa..... Dimana kue Sean "
Sean berdiri di atas sofa sambil melihat papanya yang berjalan mendekat membawa dua kotak cake pesanan Sean
" Minta kak Yuka bawa pisau kue sama piring kecil , kalau buat bunda azza nanti saja di berikan , mungkin bunda azza sekarang sedang tidur siang "
Sbastian duduk di sofa singgel dan meletakkan kedua kotak cake itu di atas meja
" Baik papa , akan Sean ambilkan "
Sean turun dari atas sofa dan berlari ke arah dapur
" Bagaimana sekolahnya "
Pak Sam bertanya
" Baik yah , hanya saja ada sedikit kejadian tidak terduga "
Penjelasan Sbastian membuat pak Sam tersenyum
" Apa karena pertanyaan tentang ibu "
Pak Sam menebak
" Ayah selalu tau "
Sbastian tersenyum
__ADS_1
" Sama sepertimu dulu , apa kamu ingat "
Pak Sam mengingatkan
" Tentu aku masih ingat ayah , kan ayah yang menungguku sampai selesai sekolah "
Flashback on
" Ayah.... Tian takut "
Sbastian kecil memeluk kaki pak Sam saat akan memasuki kelas pertamanya
" Ngak usah takut.... Kan ada ayah di sini"
Pak Sam berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Sbastian kecil
" Iya ayah "
Sbastian kecil mengangguk namun tangannya tidak lepas dari pak Sam
" Ayah tunggu di luar ya , kamu masuk sendiri , berani kan "
Pak Sam membenarkan kerah pakaian Sbastian kecil
" Ngak mau.... Ayah ikut masuk ya "
Sbastian kecil memohon
" Anak ayah yang tampan.... Kamu harus berani "
Pak Sam mengelus kepala Sbastian kecil
" Tapi...... "
Sbastian menunduk namun tangannya tidak lepas dari lengan pakaian pak Sam
" Hai.... "
Suara seorang wanita membuat pak Sam dan Sbastian kecil menoleh , wanita paruh baya dengan setelan khas seorang guru yang umurnya lebih tua di banding pak sam
" Ha..halo "
Sbastian berjalan menuju belakang punggung pak Sam
" Apa kamu yang namanya Sbastian "
Wanita paruh baya itu bertanya
" I..iya "
Sbastian menjawab dengan sopan
" Apa ini papa kamu "
Wanita paruh baya itu bertanya
" Bu..bukan , itu.... Dia ayahku , papaku sedang bekerja bersama mama di kantor"
Sbastian menjelaskan dengan lirih
" Apakah anda pak Sam "
Wanita paruh baya itu bertanya
" Benar Bu "
Pak Sam mengangguk
" Ah.... Saya Bu arta guru kelas Sbastian , papa Sbastian sudah bercerita tentang anda dan Sbastian , jika Sbastian tidak mau masuk sendiri anda bisa mengantarkan Sbastian sampai ke kursi belajar "
Bu arta memberikan pendapat
" Baiklah Bu guru , terimakasih "
Pak Sam memutar badan hingga berhadapan dengan Sbastian
" Ayo ayah antarkan sampai meja belajar punya Tian "
Pak Sam menggendong Sbastian kecil dan berdiri
" Itu bangku Sbastian "
Bu arta menunjuk bangku yang ada di pojok depan bagian kanan , dekat dengan jendela
" Ayo.... "
Pak Sam membawa Sbastian kecil duduk di sana
" Duduklah "
Pak Sam mendudukkan Sbastian kecil di bangku siswa
Sbastian kecil memegang lengan pakaian pak Sam
" Iya... Ayah tunggu di luar ya , kalau Tian sudah selesai Tian langsung keluar "
Pak Sam mengelus kepala Sbastian kecil
" Iya "
Sbastian mengantar pak Sam keluar dengan sorot matanya yang tidak lepas dari pak Sam hingga keluar kelas
Setelah beberapa saat , disaat pak Sam menunggu Sbastian kecil di luar kelas , pak Sam ingin melihat Sbastian kecil dari jendela kelas di samping pintu
Saat pak Sam melihat Sbastian kecil di berdiri di depan kelas , pak Sam mendengar Sbastian kecil yang di minta menceritakan tentang keluarganya
" Apa kamu punya saudara "
Salah satu teman Sbastian kecil bertanya
" I..iya... Aku punya dua adik kembar , tapi mereka sedang sakit... Ibu merawat mereka berdua di sana "
Sbastian kecil menjelaskan dengan sedikit takut
" Woah.... Kamu punya adik yang kembar , aku juga punya adik tapi tidak kembar "
Teman Sbastian yang lain mengagumi adik kembar Sbastian
" Apa kamu sekarang tidur di temani ibumu, jika aku di temani ibuku "
Teman yang lain bertanya
" Ti..tidak ibuku menemani adik di rumah sakit , jadi aku tidur dengan ayah Sam "
Sbastian kecil memberikan jawaban
" Apa ayah Sam itu ayahmu "
Salah seorang anak memberikan pertanyaan lagi
" Ayah Sam... Dia ayah asuhku , ayah Sam membuat aku merasakan kasih sayang papa dan mama , ayah Sam juga yang mengantarku sekolah "
Sbastian kecil mulai menitikkan air mata
" Kenapa tidak ibu kamu "
Anak yang lain bertanya
" Karena ibuku merawat adikku , jadi yang merawatnya ayah Sam "
Sbastian mulai mengusap air matanya yang mengalir dengan deras
*Cklek
terdengar suara pintu terbuka
" Ayah.... "
Sbastian kecil berlari melewati teman-temannya dan menuju pak Sam yang sudah berjongkok menyambut Sbastian kecil yang berurai air mata
" Ayah.... "
Sbastian kecil memeluk pak Sam dengan erat dan mulai terisak dengan kencang
" Ssssttt apa kamu tidak malu di lihat teman-teman "
Pak Sam mengusap punggung Sbastian kecil namun pertanyaannya pak Sam di jawab gelengan oleh Sbastian
" Ti..hiks..tidak "
Sbastian memeluk pak Sam dengan erat dan semakin terisak
" Ke..hiks...kenapa mama tidak pernah... Hiks... Tidur dengan Tian ... Hiks... Padahal hiks... Tian anak baik , kenapa hiks... Semua teman di antar mamanya , kenapa ...hiks... Tian ngak di antar mama "
Sbastian kecil berbicara dengan keras hingga semua orang mendengarkan
" Ssssttt Tian kan tau , kalau adik kembar butuh mama , jadi Tian tidak boleh egois ya"
Pak Sam menasehati
" Kenapa... Hiks... Kenapa cuma adik yang boleh tidur sama mama ... Hiks... Kenapa Tian enggak , Tian kan hiks... Juga pengen kayak adik , apa Tian hiks... Bukan anak papa dan mama "
Sbastian kecil melepaskan pelukannya dan membentak-bentak pak Sam
" Sekarang dengar ayah.... Kenapa mama selalu bersama adik . Karena adik sakit , kenapa mama tidak pernah menemani Tian saat malam . Karena saat malam adik membutuhkan mama . Tian tau adik sakit apa . Adik sakit sesuatu yang sulit untuk di sembuhkan . Adik sakit dan mama harus menemani adik berobat . Adik sakit dan papa harus bekerja demi mengobati adik . Papa dan mama juga bekerja untuk membelikan Tian dan adik leo mainan . Papa dan mama bekerja untuk membelikan obat untuk Adin liona . Dan Tian harus mengerti kondisi adik yang menderita sakit parah . Tian tau rasanya di tinggal mama . Itulah yang akan mama rasakan jika adik meninggalkan mama . Bahkan akan lebih dan lebih sakit lagi . Adik membutuhkan mama . Dan Tian harus mengerti kondisi mama dan papa . Apa Tian mengerti "
Pak Sam menjelaskan dengan sabar dan Sbastian menjadi pendengar yang baik
__ADS_1
" I...iya... Maafkan Tian ....Hua...... "
Sbastian kecil memeluk pak Sam dan menangis dengan keras hingga sebuah sentuhan di kepalanya menghentikan tangisannya
" Mama "
Sbastian kecil terkejut melihat mamanya dan papanya yang berdiri di depannya
" Tuan "
Pak Sam menurunkan Sbastian kecil dari pelukannya dan berdiri lalu sedikit membungkuk
" Terimakasih Sam "
Papa Sbastian memeluk pak Sam
" Iya tuan "
Pak Sam tidak membalas pelukan papa Sbastian
" Maafkan mama ya nak "
Mama Sbastian melepaskan troli bayi yang ia pegang lalu memeluk Sbastian kecil dengan hangat
" Mama.... Hiks... Maafkan Tian ma.... Hua....."
Sbastian memeluk mamanya dan menangis dengan keras di pelukan mamanya
" Sudah-sudah , sekarang Tian belajar ya , setelah belajar nanti kita jalan-jalan sama adik kecil "
Mama menghapus sedikit air matanya dan menunjuk troli bayi yang ia bawa
" Adik leo , adik liona "
Sbastian kecil menghampiri troli bayi itu dan memegang kedua tangan bayi kecil itu
" Wah... Wah... Adik bayi memegang tangan Tian "
Tian senang saat melihat jadi kecilnya di genggam oleh jari kecil kedua adik kembarnya
" Baiklah... Sekarang Sbastian belajar dulu ya "
Mama memegang pundak Sbastian kecil lalu membenarkan pakaian Sbastian kecil yang berantakan karena adegan tangis menangis tadi
" Tapi mama jangan pergi ya "
Sbastian memegang lengan mamanya
" Mama di sini sampai anak mama selesai menulis , mama janji "
Mama membuat janji
" Hei jagoan kecil , setelah kamu selesai belajar papa akan mengajakmu dan adik kecil bermain di taman , jika kamu sudah selesai belajar "
Papa Sbastian berkacak pinggang
" Benarkah pa , benar ma "
Sbastian kecil menoleh ke arah papa dan mamanya
" Apa kamu tidak mau , jika tidak ya sudah "
Papa Sbastian melipat tangannya di atas dada
" Tian mau Tian mau , yeeeey Tian akan belajar "
Sbastian kecil berjingkrak riang dan mencium pipi mamanya lalu masuk ke dalam kelas
" Maafkan mama nak "
Mama Sbastian berdiri dan melihat Sbastian yang kegirangan dan menjadi bersemangat dalam belajar
" Sudahlah ma , jangan terlalu di fikirkan , liona juga membutuhkan mu , papa akan berbicara dengan Sbastian nanti , papa yakin Sbastian pasti akan mengerti "
Papa Sbastian merangkul mama Sbastian dan mencium pucuk kepala mama Sbastian
" Iya pa "
Mama Sbastian memegang troli bayi dan duduk di bangku tunggu orang tua
Flashback off
" Yah... Itu awal mula semuanya "
Sbastian memejamkan matanya
" Tapi kamu sudah mengerti kan waktu itu"
Pak Sam bertanya
" Iya ayah , Sbastian memang mengerti waktu itu , namun luka itu masih ada di sini"
Sbastian memegang dadanya
" Nak.... Itu juga demi nona liona "
Pak Sam menjelaskan
" Tian ngak benci liona ataupun lion , justru sebaliknya , Sbastian sangat menyayangi mereka , namun untuk papa dan mama , aku masih merasakan sesuatu yang menjanggal di hati ku "
Sbastian melihat Sean yang berjalan bersama Yuka
" Dan aku tidak mau membuat kesalahan seperti papa dan mama "
Sbastian tersenyum saat melihat Sean yang berjalan dengan cepat ke arahnya
" Papa..... Ayo makan cakenya "
Sean memeluk kaki Sbastian dan Sbastian mengangkat Sean ke dalam pelukannya
" Papa... Udah ngak apapa "
Sean menepuk-nepuk kecil punggung Sbastian
" Makasih "
Sbastian melepaskan Sean dan mereka berdua saling memberikan senyuman yang bermakna
" Ayo makan kuenya "
Sbastian meletakkan Sean di sebelahnya lalu mengambil potongan kue yang di buat oleh Yuka
" Adek mau yang banyak krimnya "
Sean meminta
" Eh.... Papa juga mau "
Sbastian mengambil terlebih dahulu kue yang memiliki krim terbanyak
" Papa kan ngak suka manis , berikan itu ke Sean "
Sean menarik ujung pakaian Sbastian
" Kata siapa "
Sbastian menyendok cake itu dan memasukannya ke dalam mulutnya
" Iiiiisss..... Papaaaaa Sean juga mau "
Sean menarik piring kue Sbastian
" Ini punya papa "
Sbastian tidak mau mengalah
" Sean juga mau krimnya "
Sean menarik piring Sbastian namun Sbastian mempertahankan piringnya
Dan....
*Grep
Sean mengambil semua kue yang ada di dalam piring Sbastian menggunakan tangannya dan memakannya
" Astaga anak papa "
Sbastian terkejut bukan main
" Kamu curang "
Sbastian berkacak pinggang
" Ble... "
Sean menjulurkan lidahnya
" Dasar "
Sbastian melipat tangannya di atas dada dan memalingkan wajahnya dari Sean
" Yang penting happy "
Sean memakan cake yang ada di tangannya dan yang ada di piringnya dengan santai
" Astaga.... Anak-anak ini "
__ADS_1
Pak Sam geleng-geleng kepala melihat kelakuan putra dan cucunya yang tidak beda jauh
Dan terciptalah suasana hangat yang Sbastian inginkan sedari kecil