
" ayo makan tinggalin aja mereka "
Liona menarik Sean dan meninggalkan Sbastian dan lion di belakang
" Jangan tarik Sean dong , bonekanya mau ketinggalan nih "
Sean mengikuti langkah kaki liona yang lebar
" kakek Sam "
Liona melepaskan Sean dan melihat menu di meja
" Waaaaah pesanan lili ada semua "
Liona tersenyum senang
" Nona muda mau makan yang lain "
Bi Aini meletakkan sebuah cake dan puding busa di tengah tengah hidangan
" Bi Aini buat puding busa "
Liona menatap puding busa dengan lapar
" Ini hidangan penutup , nona muda kan harus minum obat "
Bi Aini meninggalkan meja
" Kak lili jahat "
Sean berteriak di dapur hingga semua pelayan keluar dari tempatnya
" boneka Sean kotor nih , kena lumpur sepatu kak lionaaaa "
Sean menunjukkan boneka Lumba-lumba kesayangan terkena noda lumpur sepatu liona
" Aku ngak nginjek lumpur "
Liona membela diri
" Coba liat jejak kaki kakak ini "
Sean menunjuk jejak sepatu yang terbuat dari lumpur
" Eh... "
Liona melihat telapak sepatunya
" Hehehe "
Liona cengengesan melihat Sean
" Kak liona tadi nginjek lumpur di mana , kenapa kotor banget "
Sean menatap liona marah
" Iya iya , maaf , nanti kakak cucikan "
Liona pasrah
" Humph... Aku marah sama kakak "
Sean memalingkan wajahnya
" Aku minta maaf "
Liona berlutut di depan Sean
" Ngak ada gunanya , bonekaku udah kotor , terus nanti malem aku tidur ma boneka apa"
Sean menatap liona jengkel
" Sama berang berangnya kan masih ada "
Sbastian menyahuti
" Paman berang berang udah di etalase , ngak boleh di keluarin lagi "
Sean menghentakkan kakinya kesal
" Pakai boneka bintang laut kamu aja , kan itu masih baru , bisa di buat teman tidur "
Sbastian memberi solusi namun dengan nada sedikit tinggi
" Iya deh.... Sean nurut "
Sean menunduk pasrah
" Sini tuan muda comel , biar bi Aini cucikan lumba lumbanya "
Bi Aini mengambil boneka Lumba-lumba Sean
" Makasih ya Bi "
Sean berterimakasih
" Iya tuan muda sayang "
Bi Aini membawa boneka Sean ke dalam tumpukan pakaian kotor
" Maaf dong "
Liona mengejar Sean yang berlalu pergi
" Kak lili minta maaf "
Liona mengejar Sean hingga menaiki tangga
" Papa "
Sean kembali turun
" Papa , papa beliin Sean cake coklat biru Ndak "
Sean menatap Sbastian penuh harapan
" Papa belikan , tapi yang kecil "
Sbastian menunjuk cake yang ada di samping cake liona yang besar
" Wah.... Kalau begitu Sean mau mandi , ayo mandi pa ayo mandi "
Sean menarik tangan Sbastian menuju lift di sebelah tangga
" Sean mau ambil bebek karet dulu "
Sean berlari masuk ke dalam kamarnya dan keluar membawa se kantong bebek karet dan satu kapal pesiar mewah berwarna silver
" Mandi mandi mandi mandi "
Sean menggoyangkan pinggulnya sambil menunggu Sbastian mengambil pakaian miliknya
" Ayo mandi ayo mandi "
Sean melompat senang saat Sbastian sudah datang membawa baju tidurnya
" Bebek karetnya mau di mandiin kah "
Sbastian masuk ke dalam kamar mandi di ikuti Sean
" Iya , biar wangi "
Sean menuangkan semua bebek karetnya di dalam bak mandi yang masih kosong
" Sean mau air hangat apa air dingin "
Sbastian melepaskan semua pakaian Sean
" Air hangat dong "
Sean mengambil kapal mainannya
" Pakek busa pa , yang buanyak "
Sean melihat Sbastian menyiapkan air mandinya
" Oh iya , sampo Sean ada di kamar "
Sean mengambil handuk kecilnya dan melilitkannya di pinggang kecilnya
" Dek "
Sbastian berteriak
" Ambil sabun pa "
Sean berlari keluar dari kamar
Sean kembali dari kamarnya dengan beberapa alat mandi di dalam troli kecil
" Humph... "
Sean memalingkan wajahnya saat liona dan lion datang
" Sean huhuhu "
Liona berpura-pura menangis
" Sudahlah , nanti marahnya juga reda "
Lion menepuk-nepuk punggung liona pelan
" Papa , Sean bawa sabun mandi "
Sean meletakkan sabun mandinya di atas meja di kamar mandi
" Iya iya , airnya udah siap "
Sbastian melepaskan pakaiannya dan mulai mandi di bawah guyuran shower
" Jangan lama-lama ya mandinya "
Sbastian menghampiri Sean di dalam bak mandi
" Iya pa , kalau Sean udah puas nanti Sean keluar "
Sean memberikan jempolnya
" Jangan lama-lama "
Sbastian menoel pipi gembul Sean
Sbastian keluar dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur setelah itu Sbastian duduk di atas tempat tidur , merebahkan dirinya sambil memijit kepalanya yang terasa pusing
*Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Sbastian menoleh
" Sebentar "
Sbastian bangkit dan membuka pintu
" Kenapa liona "
Sbastian membuka pintu lebar lebar
" Kak Tian tau kak lion Ndak "
Liona celingukan
" Nggak tuh , di sini cuma kak Tian sama Sean "
Sbastian menunjukkan Sean yang mengintip di balik pintu kamar mandi
" Kemana ya , tadi katanya abis mandi mau ajarin lili main laptop "
Liona menggaruk kepalanya yang di tutupi oleh hijab
" Coba cari di taman belakang "
Sbastian keluar dan menutup pintu
" Iya "
Lion turun dari lantai atas dan berlari mencari lion di taman belakang
" Kak lion ngapain ngelamun di sini "
Liona memeluk lion dari belakang
" Kakak lagi baca buku "
Lion menunjukkan buku tebalnya
" Tumben deh "
Liona duduk di sebelah lion
" Ngak tumben , cuma kepingin aja "
Lion melanjutkan membaca bukunya
" Ngak percaya "
Liona memperhatikan wajah lion
" Kak lion habis nangis ya "
Liona menyentuh ujung mata lion
" Kamu kalau baca buku ini juga pasti nangis "
Lion masih membaca
" Ini novel "
Liona menarik buku yang di bawa lion
" Iya "
Lion menarik kembali bukunya
" Astaga , kakak baca novel "
Liona terkejut
" Yaaaaa dari pada ngak ngapa ngapain "
Lion melanjutkan membaca novelnya
" Kalian ngapain "
Sbastian datang dengan membawa buku tebal
" Kak Tian kak Tina , kak lion baca novel lho"
Liona sangat antusias seakan itu momen langka
" Iya iya , ini novel pesanan kamu "
Sbastian memberikan buku tebal itu pada liona
" Pesanan lili banyak lho , ini yang novel apa"
Liona menerima buku tebal dari Sbastian
" Ini yang satu satunya putri , yang lain masih di paketkan , belum datang "
Sbastian duduk di samping lion
" Wah... Emang kak Tian pesenin lili novel apa aja "
Liona duduk di samping Sbastian
" Nanti kamu juga liat "
Sbastian tersenyum
" Anak anak , waktunya makan "
Pak Sam datang menghampiri
__ADS_1
" Iya kakek "
Lion menyahuti dan berdiri
" Oh ya kakek , apa puding busa lili masih banyak , lili harus minum obat , tadi lili makan beberapa hehehe "
Liona menghampiri pak Sam
" Iya , bi Aini buat banyak sekali , habiskan nanti "
Pak Sam tersenyum
" Sean mana "
Pak Sam celingukan mencari sosok kecil kesayangannya
" Lagi mandi , nanti juga turun , ayah tau kan kalau Sean itu pecinta air "
Sbastian terkekeh
" Sbastian akan melihat Sean dulu "
Sbastian berjalan menuju kamarnya
" Adek... Udah selesai belum mandinya "
Sbastian membuka pintu kamar mandi
" Hai papa "
Sean melambaikan tangannya
" Ayo , yang lain udah mau makan "
Sbastian menghampiri Sean
" Masih mau main air "
Sean menggelengkan kepalanya
" Besok lagi , main di kolam belakang "
Sbastian mengambil handuk
" Ngak mau , masih mau main air "
Sean menolak
" Jangan buat papa maksa kamu lho "
Sbastian menatap Sean tajam
" Ngak mau pa , masih mau main air "
Sean memeluk bebek karetnya yang akan di ambil Sbastian
" Udah dek , kamu udah lama lho mandinya"
Sbastian mengambil kapal pesiar Sean
" Masih mau main air pa , nanti Sean makan sendiri aja "
Sean berdiri dan menyisihkan semua bebek karetnya agar tidak di ambil Sbastian
" Udah dong , nanti kamu demam lagi "
Sbastian mengangkat Sean paksa
" Bebek karetku , bebekku lepasin pa Sean masih mau mandi "
Sean memberontak
" Sudah Sean cukup "
Sbastian membentak Sean , membuat Sean terkejut
" Papa "
Sean menatap Sbastian dengan air mata yang sudah siap tumpah
" Kamu jangan bandel "
Sbastian dengan sedikit amarah mengguyur Sean di bawah shower dengan air hangat
" Iya maaf "
Sean menundukkan kepalanya
" Pakai bajunya "
Sbastian memberikan pakaian dalam kepada Sean
" Kesini "
Sbastian menarik tangan Sean ke atas tempat tidur
Sbastian memakaikan pakaian Sean dengan cepat
" Kamu kalau di bilangin jangan bandel , papa ngak suka "
Sbastian dengan kasar memakaikan piyama Sean
" Ayo makan "
Sbastian menggendong Sean dan membawanya turun
" Ayo makan "
Sbastian meletakkan Sean di kursinya dan mengambilkan Sean se porsi nasi juga lauk pauk pesanan Sean tadi
Sean makan dengan derai air mata yang dia usap saat sudah jatuh ke pipi
" Makan sayur "
Sbastian meletakkan sayur di atas piring Sean
" Iya..hiks.. pa "
Sean makan dengan sedikit isakan
Setelah makan selesai , Sean duduk di meja makan tanpa bersuara , hanya akan membersihkan air matanya yang jatuh dengan lengan piyamanya yang panjang sedangkan sedari tadi lion dan liona hanya menatap Sean , tidak tau apa yang terjadi
" Sean mau puding "
Liona menawari dan Sean hanya menggeleng
" Sudah lili , jangan di tawari , biarkan dia "
Sbastian yang belum selesai dengan makanannya meletakkan sendok dengan kasar dan berlalu pergi
" Tidur sendiri di kamarmu "
Sbastian melirik Sean dan pergi ke dalam kamarnya
Setelah Sbastian menghilang dari pandangan , Sean menangis sekeras-kerasnya
" Kakek huaaaaaa kakek , papa jahat , papa jahat "
Sean turun dari meja makan dan mencari pak Sam yang sedang ada di dapur
" Kenapa ini "
Pak Sam terkejut
" Papa.. hiks... Marahin Sean "
Sean memeluk pak Sam erat
" Pasti salah Sean , papa ngak mungkin marah marah kalau Sean ngak salah "
Pak Sam meletakkan Sean di dalam pangkuannya
" Iya ...hiks... Sean ngak nurut papa "
Sean mengusap air matanya yang tidak mau berhenti mengalir
" Tuh kan , Sean yang salah , papa itu sayang banget lho sama Sean , jadiii Sean ngak boleh bilang kalau papa jahat "
Pak Sam mencium pipi gembul Sean
Sean menangis semakin kencang
" Kenapa papa marah marah kayak gitu , kan bisa bilang pelan-pelan kalau Sean salah "
Sean mengusap air matanya
" Papa mungkin capek , kan papa juga kerja seharian buat Sean , jadi Sean harus ngerti ya "
Pak Sam memeluk Sean penuh kasih sayang
" Iya kek , Sean salah "
Sean mengangguk
" Apa Sean mau makan cake yang tadi "
Pak Sam berdiri dan mengangkat Sean ke dalam gendongannya
" Ndak , Sean mau makan sama papa besok , Sean mau tidur sama papa tapi.. tapi.. papaaa... Hiks.. papa ngak ngebolehin Sean tidur sama papa hiks... Huaaaaaa papaaaaa Sean maaf "
Sean kembali menangis dengan kencang hingga membuat ingusnya bertebaran ke mana mana
" Cup cup "
Pak Sam mengusap air mata dan ingus Sean dengan sapu tangannya
" Tidur sama kakek yuk "
Pak Sam membawa Sean naik ke lantai atas
" papa "
Sean menatap pintu kamar Sbastian yang tertutup rapat
" Sudah sudah , nanti di marahin papa lagi , biarin papa istirahat ya "
Pak Sam membawa Sean masuk ke dalam kamarnya
" Papa "
Sean terkejut Sbastian tidur di atas tempat tidurnya
" Papa "
Sean turun dari gendongan pak Sam dan berlari naik ke atas kasurnya
" Papa "
Sean mengguncang Sbastian
" Papa masih marah sama Sean "
Sean duduk di belakang Sbastian sambil menunduk
" Hiks.. hiks.. papa jangan gitu , Sean salah papa maaf "
Sean mengguncang Sbastian lebih keras
" Papa "
Sean membalikkan papanya yang terpejam , meski itu pura-pura
" Papa "
Sean mencium pipi Sbastian
" Papa... Sean maaf "
Sean memeluk leher Sbastian
" Kakek , badan papa panas "
Sean terkejut merasakan leher Sbastian yang terasa hangat
" Benarkah "
Pak Sam mendekat dan menyentuh kening Sbastian
" Papamu demam , biar papa ambilkan kompres "
Pak Sam keluar dari kamar
" Papa kenapa ngak bilang kalau sakit "
Sean meletakkan tangan kecilnya yang terasa dingin di atas kening Sbastian
" Sean "
Sbastian membuka matanya
" Papa kenapa "
Sean menyentuh pipi Sbastian
" Papa ngak apa apa , sudah , maaf ya , papa tadi marah-marah "
Sbastian mengusap wajah Sean yang di penuhi air mata
" Papa sakit apa , biar Sean panggil paman dokter "
Sean mengambil hp nya yang sedang di charger di atas nakasnya
: Assalamualaikum paman
: Wa'alaikum salam Sean , ini bibi kenapa
: Bi Sisil , papa sakit
: Papanya Sean
: Iya bi Sisil , badan papa panas
: Iya iya , bibi suruh paman Brian ke rumah sekarang
: Makasih ya Bi assalamualaikum
: Iya wa'alaikum salam
Sean mematikan sambungan teleponnya
" Sean udah telpon paman , nanti paman ke sini "
Sean menghampiri Sbastian dan menaikkan selimut Sbastian
" Ini nanti biar temani papa tidur "
Sean memberikan boneka bintang lautnya di samping papa
" Papa kepalanya sakit ngak "
Sean menyentuh kening Sbastian
" Sedikit "
Sbastian tersenyum
" Sean pijit ya "
Sean menawarkan jasa dan Sbastian menerima jasa
" Enak ngak pa "
Sean memijit pelan kepala Sbastian
" Enak kok , teruskan ya sampai papa tidur"
Sbastian memegang kaki Sean yang selonjoran di sampingnya
" Sbastian "
Pak Sam masuk membawa baskom berisi air hangat dan kain kompres
__ADS_1
" Sean , biarkan papa tidur ya "
Pak Sam menaruh baskom di atas nakas dan mulai mengompres Sbastian
" Biar Sean yang kompres papa "
Sean turun dari tempat tidur dan menarik kursi belajar agar dekat dengan Sbastian
" Adek mau apa "
Sbastian melihat Sean yang sedang bersusah payah
" Mau kompres papa , kakek istirahat aja "
Sean naik ke atas kursinya dan duduk dengan baik
" Kakek sudah lelah , kakek istirahat saja "
Sean memegang tangan Sbastian
" Baiklah , nanti panggil kakek jika butuh sesuatu ya "
Pak Sam mengusap kepala Sean
" Iya kek , makasih ya kek "
Sean memeluk pak Sam
" Oh ya , papa tadi belum makan , ayo ambilkan makanan untuk papa "
Sean menatap Sbastian
" Iya "
Pak Sam mengangguk
" Papa istirahat dulu , Sean ke bawah dulu ambilkan papa makan "
Sean mencium pipi Sbastian
*Tok..tok..tok
Suara ketukan pintu
" Biar kakek buka "
Pak Sam membuka pintu kamar dan di sana terlihat dokter Brian yang memakai piyama biru cantik
" Paman "
Brian menyalami pak Sam
" Paman , cepat periksa papa "
Sean menatap Brian
" Iya tuan muda "
Dokter Brian mulai memeriksa Sean
" Sean ke sini dulu "
Pak Sam membawa Sean ke dalam gendongannya
" Papa sakit apa "
Sean di dudukkan pak Sam di samping Sbastian
" Papa hanya kecapean , biasakan Sean merawat papa , jangan sampai papa kelelahan ya , dan juga ini vitamin , jangan biarkan papa bekerja hingga beberapa hari ke depan ya "
Brian memberikan beberapa obat kepada Sean
" Ini gimana minumnya paman "
Sean melihat tiga botol obat bulat bulat yang di berikan dokter Brian
" Yang satu ini , di minum tiga kali sehari , yang ini dua kali saat makan siang dan makan malam , dan yang satu ini di minum setiap pagi , apa Sean paham "
Dokter Brian menunjukkan waktu minum yang benar
" Sean mengerti "
Sean mengambil tasnya dan mengeluarkan stiker juga bulpoin miliknya
" Ini tiga kali "
Sean menuliskan angka 3× di botol yang paling besar
" Ini siang dan malam "
Sean menggambar bintang dan matahari di botol kedua dan menempelkan stikernya
" Dan yang ini vitamin setiap pagi "
Sean menggambar matahari yang redup
" Kamu sebaiknya tidak terlalu memikirkan tentang lion , kesehatanmu langsung memburuk seperti ini "
Dokter Brian mengingatkan Sbastian
" Dia adikku bodoh "
Sbastian menggumam
" Iya aku tau , tapi jika kamu terlalu memikirkannya dan kamu sakit , bagaimana dengan Sean , lihat dia "
Dokter membuat Sbastian menatap Sean
Sbastian membelai pipi Sean yang masih terasa bahwa air mata baru saja membasahinya
" Kenapa pa "
Sean yang terkejut langsung menoleh
" Apa sudah selesai "
Sbastian menunjuk obat obatan miliknya
" Sudah "
Sean menunjukkan botol obatnya memiliki berbagai macam stiker yang lucu
" Hahaha , tidurlah di sini "
Sbastian menepuk sela-sela antara tangan dan tubuhnya
" Baik "
Sean merangkak dan berebahkan dirinya di dalam dekapan papanya
" Apa papa mau di pijit lagi "
Sean mendongak ke atas
" Tidak , kamu tidurlah "
Sbastian memeluk Sean
" Aku pergi dulu "
Dokter Bram berdiri
" Paman Sam , saya pamit "
Dokter Bram menyalami paman Sam yang sedari tadi duduk di sebelah kaki Sbastian
" Iya , hati-hati ya "
Pak Sam berdiri
" Ayah istirahat saja , Sbastian akan memanggil Mao atau yang lain saat Sbastian membutuhkan sesuatu "
Sbastian memegang lengan pak Sam
" Ada Sean di sini , kakek ngak perlu khawatir "
Sean memeluk Sbastian
" Baiklah sayang , kalau ada apa apa panggil kakek ya "
Pak Sam membelai Sean dengan sayang
" Ayah istirahat saja "
Sbastian tersenyum
Setelah Pak Sam keluar , Sean meletakkam obat Sbastian dengan rapih di dalam nakas , tidak lama setelah itu pintu tiba-tiba terbuka
" Kak Tian , kak Tian "
Lion dan liona masuk dan berlari ke arah Sbastian
" Kenapa kenapa "
Sean terkejut
" kakak sakit apa "
Liona langsung naik dan duduk di samping Sean
" Kakak demam ya "
Lion duduk di kursi di samping nakas
" Kalian ini , buat kakak terkejut saja "
Sbastian kembali memejamkan matanya
" Papa kepalanya pusing , jadi jangan ramai ya "
Sean merebahkan dirinya di dalam pelukan Sbastian
" Lili ikut "
Liona tidur di sebelah Sean
" Sini lho kak "
Liona menepuk tempat di sampingnya
Dan akhirnya tempat tidur king size milik Sean panuh dengan mereka ber empat dan boneka-boneka laut Sean yang berjejer rapih
*Brak
Pintu terbuka dan membuat Sbastian terjingkat , namun tidak dengan ketiga makhluk yang sudah terlelap di sampingnya
" Sbastian "
Mama datang bersama papa
" Jam dua belas "
Sbastian menggumam
" Kamu kenapa "
Mama menghampiri Sbastian dan menyentuh kening Sbastian yang sudah tidak panas lagi
" Dimana Sean "
Sbastian mencari keberadaan putra tersayangnya yang tadi tidur di dalam pelukannya
" Eh... Di sini"
Sbastian terkejut melihat Sean yang tertidur di atas tumpukan boneka di atas kepalanya
" Kamu sakit kenapa masih memperdulikan sampah itu "
Mama menatap Sean dengan tidak suka
" Mama , Sbastian sedang sakit jadi jangan seperti ini "
Papa mengingatkan
" Oh... Kamu mengompres papa ya "
Sbastian tidak menghiraukan mamanya , Sbastian duduk dan memindahkan Sean agar tidur di sampingnya , setelah itu Sbastian kembali merebahkan tubuhnya
" Sbastian , mama gak suka ya kamu abaikan mama demi anak pungut itu "
Mama menahan suaranya karena kedua singa kembarnya sedang tidur dengan pulas di sisi yang lain
" Sbastian ini sedang sakit ma , bisakah mama tidak marah-marah dulu , kepala Sbastian benar benar pusing "
Sbastian menatap mamanya sayu
" Mama ngak suka dia di sini "
Mama menunjuk nunjuk Sean
" Iya Sbastian tau , bisakah mama biarkan Sbastian istirahat "
Sbastian memejamkan matanya
" Mama akan tidur di sini malam ini "
Mama membuat keputusan
" Mama dan papa tidur di kamar Sbastian saja "
Sbastian memberikan pendapat
" Papa "
Sbastian memegangi lengan mamanya
" Papa di sini "
Papa mendekat
" Bisakah Sbastian bicara dengan papa "
Sbastian mencoba untuk duduk
" Jangan duduk , tidurlah , kita bicara besok saja "
Papa mengusap kening Sbastian dan membenarkan selimut anak anaknya
" Ayo ma "
Papa merangkul pundak mama dan membawa mama keluar dari kamar Sean
Saat papa dan mama memasuki kamar Sbastian , betapa terkejutnya mereka bahwa barang-barang di sana semuanya berubah , tempat tidur yang menjadi penuh warna dan etalase yang dulu berisi berkas-berkas kantor sekarang isinya menjadi mainan mainan dan beberapa perhiasan
" Ini perhiasan adinda "
Mama mengenali salah satu perhiasan
" Sbastian memang belum melupakan wanita cantik itu "
Papa melepaskan jas kantornya dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur
" Hm... Baunya harum "
Papa mencium bau harum di atas tempat tidur yang berwarna biru laut yang lucu
" Ini bau mawar dan bau susu yang tercampur "
Mama mengenali baunya
" Mawar ini parfum khas adinda , Sbastian pernah menghadiahkan parfum mawar racikannya sendiri untuk adinda , ini aromanya , tapi aroma susu ini "
Mama duduk dan mencium aromanya lebih dalam
" Aroma anak pungut itu "
Mama berbicara dengan tidak suka
" Papa suka aromanya , ayo ma , papa sudah lelah "
Papa , tanpa melepas sepatunya langsung memejamkan matanya berbantalkan boneka hewan laut Sean yang memenuhi tempat tidur
__ADS_1
" Papa ini masih sama saja , kenapa kebiasaan buruk papa di tiru Sbastian "
Mama tersenyum dan melepaskan sepatu papa yang masih tersangkut di kakinya