
Setelah memakan waktu yang lama Sean dan yang lainnya mendarat di bandara Zurich , bandara terbesar di Swiss Sean mengenakan pakaian dingin dan di ikuti yang lainnya
Setelah turun dari pesawat , Sean heboh dengan pemandangan bersalju di bandara Zurich , Sean sibuk memberitahu sitter azza beberapa permainan yang sering dia lakukan saat ada salju di tempat ia singgah
Di sana sudah di sediakan dua mobil hitam untuk menjemput Sbastian dan yang lainnya untuk keluar dari bandara
Saat akan memasuki mobil Sean menarik lengan Sbastian
" Kenapa "
Sbastian menatap Sean
" Sean mau satu mobil dengan bunda az-az"
Sean menunjuk sitter azza yang sudah ada di dalam mobil bersama asisten John
" Kamu sama papa saja , kasian bunda az-az kalo sama kamu , nanti bunda az-az ngak sempet rawat dirinya sendiri , nanti bunda az-az malah ngerawat Sean yang mau ini mau itu "
Sbastian memencet hidung Sean
" Yaaaaa.... Yaudah deh "
Sean sedikit kecewa karena keputusan Sbastian
" nanti aja ya kalo udah Sampek di rumah "
Sbastian mengelus rambut Sean
" Iya papa "
Sean duduk di bangku depan bersama pak supir sedangkan Sbastian duduk di bangku belakang bersama pak Sam
" Papa rumah kita di mana "
Sean menoleh kepada papanya
" Nanti kamu tau "
Sbastian memberikan satu bungkus makanan ringan kepada Sean
" Makasih papa "
Sean memakan snack itu dan meneguk satu gelas minuman air putih
Setelah mobil keluar dari bandara , Sbastian mengambil Sean dari kursi depan dan meminta pak supir untuk menuju rumah utama yang sudah di sediakan jauh-jauh hari
Letak rumah utama tergolong cukup strategis, tempatnya dekat dengan kantor Sbastian yang ada di sana , dekat taman bermain anak dan pemandangan indah kota terlihat dari balkon rumah bertingkat empat yang di bangun oleh Sbastian
Sbastian membangun taman bermain pribadi untuk Sean di samping rumah dan satu kolam renang yang bisa di gunakan untuk ski es di saat musim dingin tiba
Di dalam rumah juga di sediakan pemandian air panas juga satu bioskop pribadi
Setelah perjalanan yang cukup panjang , mobil Sbastian masuk ke dalam rumah dan menurunkan Sbastian di pintu utama rumah yang cukup besar
" Luas sekali "
Sitter azza turun dari mobil dan melihat pintu masuk rumah utama Sbastian lalu berbalik melihat perjalanannya dari gerbang utama yang memakan waktu lima menit menggunakan mobil
" Itu hutan atau jalan masuk "
Sitter azza di ajak masuk oleh asisten John karena Sbastian sudah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah
" Ini lebih besar dari Fila mas "
Sitter azza menatap asisten John
" Namanya holang kaya , ayo kita masuk , di dalam lebih hangat "
Asisten John membawa sitter azza masuk kedalam dan benar saja di dalam lebih hangat , bahkan suhunya normal
Karena sitter azza sibuk dengan hangatnya ruangan sampai-sampai dia tidak sadar banyak pelayan rumah yang membungkuk hormat kepada mereka yang bermaksud menunggu pakaian hangat mereka agar mereka tidak repot-repot mencari tempat untuk pakaian hangat mereka
__ADS_1
" Maaf nyonya , pakaian hangat anda "
Salah satu pelayan berbicara dengan bahasa Indonesia dan membuat sitter azza terkejut , sejak kapan ada banyak pelayan di sini
" Maksudnya "
Sitter azza kebingungan dengan maksud pelayan itu
" Pakaian hangat mu sayang , di sini suhunya normal "
Asisten John membantu melepaskan pakaian istrinya
" Lalu "
Sitter azza melepas pakaian hangat itu dan dia kembali kebingungan
" Kalian istirahatlah , perjalanannya cukup memakan waktu yang lama , saat Sean bangun aku yakin dia akan mencari azza "
Sbastian menggendong Sean memasuki lift dan di ikuti yang lain
Asisten John memberikan pakaian hangat mereka kepada para pelayan dan membawa sitter azza masuk kedalam lift
" Tunggu "
Sbastian menghentikan liftnya saat hendak di tutup
" dimana Yukka , seharusnya dia di sini "
Sbastian melihat para pelayan
" Nona Yukka masih di luar tuan , sebentar lagi nona akan kembali "
Kepala pelayan lie menjawab
" Baiklah , terimakasih "
Sbastian menutup pintu lift nya dan menekan tombol untuk menuju ke lantai empat
" Maaf tuan , saya rasa saya.... "
" Kamu sudah seperti adikku , Sean juga membutuhkan mu , aku tidak bisa sepenuhnya selalu memberikan waktuku , aku meminta kalian ikut , karena mungkin kita akan menghabiskan waktu yang lumayan lama di sini , aku minta maaf jika mendadak , aku tidak punya pilihan lain "
Sbastian mengelus dan mencium rambut Sean
" Tidak masalah tuan , namun saya merasa tidak pantas mendapatkan semua ini "
Sitter azza menundukkan kepalanya
" Aku sudah bilang kan , kamu itu adikku "
Sbastian menoleh kepada sitter azza dan tersenyum kepadanya
" Bilang saja kalau dia menyakitimu , aku akan membunuhnya "
Tatapan mata Sbastian menusuk hati asisten John
" Astaga kenapa anda tidak mempercayai saya tuan "
Asisten John menunjukkan muka memelas
" Hah , aku muak dengan mu "
Sbastian kembali menghadap pintu dan *Ting* pintu lift terbuka dan Sbastian keluar lalu menuju kamarnya sendiri dan di ikuti oleh pak Sam
Sebelum masuk ke kamarnya , Sbastian menunjukkan kamar untuk pak Sam dan asisten John juga istrinya
Sbastian meletakkan Sean di atas tempat tidur yang bernuansa hitam putih dan menyelimuti Sean lalu menyalakan penghangat ruangan
Setelah melepaskan pakaian kantor Sean dan menggantinya dengan pakaian tidur , Sbastian mandi dengan berendam dalam air hangat guna menghilangkan lelah hati dan pikirannya
Setelah berendam dalam waktu yang cukup lama , Sbastian keluar dari kamar mandi lalu memakai pakaian tidur , melaksanakan shalat nya dan menjemput Sean ke alam mimpi
__ADS_1
Setelah dua jam Sbastian tertidur , Sbastian terbangun karena suara kegaduhan di sampingnya
Dan... Ternyata di sana Sean sedang berlarian di dalam kamar dengan panik
" Kenapa dek "
Sbastian mengucek matanya yang masih lengket
" Kenapa baju tidur adek warnanya putih , baju ikan adek kemana "
Sean menarik ujung pakaiannya
" Iya nanti papa belikan lagi , sekarang belum habis waktu tidur siangnya , ayo sini bobok lagi "
Sbastian membenarkan bantal di sampingnya dan meminta Sean tidur kembali
" Adek ngak ngantuk , adek mau main sama bunda az-az "
Sean tidak mau kembali tidur dan memilih tetap berdiri di tempatnya
" Bunda az-az lagi tidur , ayo kita tidur juga , nanti kalau bunda az-az bangun , nanti adek, papa bangunin "
Sbastian turun dari tempat tidur dan menggendong Sean menaiki tempat tidurnya untuk kembali tidur siang
" Papa Sean ngak mau tidur "
Sean menyentuh kening papanya yang sudah tertidur di sampingnya
" Tidur lagi sayangnya papa "
Sbastian menaikkan selimut dan membuat Sean merebahkan dirinya
" Papa..... "
Sean menoleh ke papanya dan menyentuh pipi Sbastian
" Papa Sean ngak ngantuk "
Sean memukul-mukul kecil pipi Sbastian
" Tapi papa ngantuk hoam... "
Sbastian menguap
" Yaudah deh papa tidur lagi "
Sean memeluk papanya dan memutuskan untuk ikut tidur kembali
Flashback on
" Sepertinya kita akan memakan waktu yang cukup lama di sini ayah "
Sbastian berbicara dengan pak Sam dan mengelus rambut Sean
" Ayah tidak apa-apa , tapi bagaimana dengan Sean "
Pak Sam mengelus punggung Sean
" Sean akan bersekolah di sini "
Sbastian menatap keluar jendela
" Baiklah ayah tidak keberatan , bagaimana dengan pekerjaanmu "
Pak Sam kembali bertanya
" Aku sudah mengaturnya ayah "
Sbastian tetap tidak mengalihkan pandangannya
" Baiklah jika kamu sudah menyiapkan semuanya "
__ADS_1
Pak Sam menepuk bahu sbastian dan hanya di balas senyuman oleh Sbastian
Flashback off