
Sbastian melangkah semakin dekat dengan pintu kamarnya
Dia mulai memegang handel pintu kamarnya , membukanya dan....
Sbastian melongo melihat kondisi tempat tidurnya yang seperti kapal pecah , bukan pecah lebih tepatnya . hancur
"Astaga Sean "
Gerutu sbastian saat melihat semuanya
Sbastian merapihkan sedikit ujung tempat tidurnya dan meletakkan Sean yang tertidur di sana
" Sean . bangun , papa tau kamu tidak tidur " kata sbastian berkacak pinggang di depan Sean yang masih terpejam
Kedua manusia yang setia mengikuti sbastian sedari tadi terbengong melihat kamar sbastian yang dulunya bernuansa hitam putih , kini kebanyakan berwarna biru laut dan beberapa boneka hewan laut yang berserakan di atas tempat tidur
Saat menoleh ke kanan ada lemari kaca yang berisikan mainan mainan hewan laut milik Sean yang tertata rapih
Namun pandangan mereka teralihkan oleh suara sbastian
" Sean bangun sebelum papa benar benar marah " kata sbastian melipat tangannya di atas dada
Kedua orang itu melihat sbastian yang berbicara dengan anak umur satu tahun yang terlihat tidur dengan tenang
" Sean " sbastian mengeluarkan suaranya yang berat dan khas untuk membangunkan Sean yang berpura pura tidur
Dan benar saja Sean langsung membuka matanya dan melihat sbastian yang berdiri melipat tangannya di atas dada dengan aura kemarahan yang muncul di sekitarnya
Sean langsung membangunkan dirinya sendiri dan duduk dengan baik di depan sbastian
" apapa , itu ean tadi anik an --"
( Papa , itu Sean tadi panik dan --)
Kalimat kecil Sean terputus dengan kalimat sbastian
" Papa tidak mau tau , bersihkan sekarang . atau semua buku , alah bebersih dan juga permenmu akan papa sita "
Kata sbastian penuh penekanan kepada Sean
Sean cepat cepat menganggukkan kepalanya dan mulai menyeret bantal bantal yang ada di sekitarnya dan meletakkannya di tempatnya semula , boneka boneka yang tergeletak di karpet dekat tempat tidur juga mulai di rapihkan oleh Sean
Sbastian terkekeh melihat Sean yang bersusah payah menyeret beberapa bonekanya yang lumayan besar dari bawah menuju ke tempat tidurnya
Sbastian membuatkan tangga kecil yang di lapisi busa tebal agar Sean bisa naik turun tempat tidur yang tinggi itu dengan mudah
Setelah tiga puluh menit Sean membersihkan tempat tidur ayahnya yang berantakan karena ulahnya
Sean menjadi penuh keringat karena menyeret bantal bantal yang hanya sedikit lebih kecil darinya
" Kenapa , apa sudah semuanya "
Tanya sbastian melihat Sean duduk dan memandanginya
Sean mengangguk memberitahu bahwa dirinya sudah menyelesaikan semuanya
" Kalian berdua duduklah di sofa , aku akan membersihkan diri dulu " sbastian memerintahkan kepada kedua orang yang mengikutinya itu untuk duduk di sofa di dekat pintunya
Kedua orang itu duduk di sana dengan baik
" Sean ambil bajumu dan ayo mandi "
Sbastian memerintahkan Sean
Sean berlari keluar kamar dan memasuki kamarnya sendiri untuk mengambil bajunya
Di bantu sitter azza mengambil baju , Sean memilih baju berwarna merah ceri dengan motif awan
Namun tiba tiba sbastian berteriak dari pintu kamarnya
" Sean ambil baju tidur saja "
Perintah sbastian
Sean meletakkan pakaian yang dia ambil dan mengambil baju tidur berwarna biru langit dengan motif ikan ikan kecil berwarna kuning
Setelah memilih pakaian , sitter azza mengantar Sean kembali ke kamar sbastian
Sitter azza membantu membukakan pintu kamar sbastian
Saat Sean memasuki pintu kamar sbastian , kedua orang yang sedang duduk di sofa memandangi Sean dengan tatapan yang tidak bisa di artikan
" Mata mereka berbinar , mengerikan , aku tau artinya "
Suara hati Sean yang berdiri di ambang pintu dan memiringkan kepalanya
Suara sbastian menyadarkan lamunan mereka bertiga
" Sean ayo mandi , cepat kemari "
Kepala sbastian terlihat keluar dari pintu kamar mandi
Sean berjalan dengan tangan kanan yang menyeret tas kecil berisi pakaian miliknya dan tangan kirinya memegang kantung kecil yang berisikan beberapa bebek karet untuk mandi
__ADS_1
Sean berhenti sejenak saat akan memasuki pintu kamar mandi dan menoleh kepada kedua manusia yang memandanginya dari sofa di dekat pintu
" Ayo Sean "
Sbastian memanggil Sean dari dalam kamar mandi
Sean memasuki kamar mandi dan di sambut oleh sbastian yang hanya memakai celana pendek
" Apapa ciapa eleka "
( Papa siapa mereka )
Tanya Sean saat sbastian melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Sean
" Nanti saja , sekarang mandi dulu "
Kata sbastian mengambil mainan bebek karet Sean dan meletakkan di dalam bak mandi yang di isi sedikit air agar Sean tidak tenggelam
Sbastian mandi di bawah shower sedangkan Sean mandi di dalam bak mandi
Dua manusia yang terbengkalai di sofa hanya diam dan mendengarkan kalimat sbastian yang berbicara dengan anak berumur satu tahun itu
Setelah tiga puluh menit , sbastian menggendong Sean yang sudah berpakaian lengkap sedangkan sbastian hanya memakai handuk kimono miliknya
" Papa akan memakai baju dulu "
Sbastian meletakkan Sean di atas tempat tidur dan melenggang pergi untuk berganti pakaian
Sean memandang sebentar orang orang itu dan menuruni tangga kecil miliknya , mengikuti sbastian sambil menyeret boneka berang berang miliknya
" Kenapa Sean " tanya sbastian
" Eleka enyelaman "
( Mereka menyeramkan )
Kata Sean memandangi sbastian
" Baiklah "
Sbastian hanya mengiyakan perkataan Sean
Setelah mengganti pakaian sbastian , Sean di gandeng menuju sofa yang ada di dekat pintu
Sean di angkat dan di dudukkan di atas sofa
Boneka berang-berang itu di peluk oleh Sean di pangkuannya
Sbastian duduk di samping Sean dan melipat kedua kakinya di atas sofa dan mengambil camilan kue yang ada di atas meja lalu memberikannya kepada Sean
( Terimakasih papa )
Sean memakan kue itu dengan tenang
" Kalian sudah kembali "
Sbastian mengawali perbincangan
" Iya kak "
Adik laki laki sbastian yang menjawab
"Apa kamu sudah sembuh lili "
Tanya sbastian kepada adik perempuannya
" Masih dalam tahap kemo kak "
Jawab lili
"Lalu kalian mau apa ke sini "
Tanya sbastian kembali
" Aku mau lili melanjutkan kemo nya di sini"
Kata Lion adik laki laki sbastian
" Kenapa kalian mau melanjutkan di sini "
Tanya sbastian
" Lili yang meminta "
Jawab Lion
" Jawab lili "
Kata sbastian dengan nada berat
" Itu kak , aku mau tinggal sama kakak , boleh ya kak "
Lili mengeluarkan jurusnya yang tidak pernah bisa di tolak sbastian
__ADS_1
" Tidak "
Sbastian tidak mengizinkan
" Ayolah kak , boleh ya "
Mata lili semakin berbinar
" Tidak , jika kalian di sini maka kedua orang itu akan disini "
Kata sbastian memalingkan muka menghadap Sean yang sedang asik memakan kuenya
" Ayolah kak "
Pinta lili dengan mata yang semakin berbinar hingga sbastian tidak bisa menolak
" Argh.... Kalian kembar yang menyusahkan"
Kata sbastian geram
" Yey ... Sayang kakak "
Lili melompat memeluk sbastian
Sean langsung menoleh saat melihat papanya di peluk orang lain
" Itu apapa ku "
Kata Sean mencoba melepaskan pelukan lili yang melingkar di perut sbastian
" Hah "
Lili bingung dengan perkataan Sean
" Dia memintamu untuk melepaskan pelukan mu " jelas sbastian
Terlihat senyum jahil di wajah lili
" Tidak mau "
Lili semakin mempererat pelukan dan merebahkan kepalanya di kaki sbastian
" Apapa , leskan apapa , ia apapa ean "
( Papa , lepaskan papa , dia papa Sean )
Mata Sean mulai berkaca kaca mencoba melepaskan pelukan orang asing itu dari tubuh ayahnya
" Sudah sudah , kalian kembalilah ke kamar kalian . Dan Sean waktunya tidur siang "
Sbastian melerai mereka dan menggendong Sean untuk tidur di atas kasur
" Ayo anak papa , kita tidur "
Sbastian menggendong Sean dan mengambil boneka yang ada di sofa dan mulai menggiring kedua orang asing itu keluar dari kamarnya
" Apapa ciapa ereka "
( Papa siapa mereka )
Tanya Sean penasaran
" Mereka adik kembar papa "
Sbastian memberi penjelasan
"Oh..... "
Sean hanya memberikan oh yang panjang
" Sean tau apa itu saudara kembar "
Sbastian terkejut
" Tembal itu lahil di hali ang ama api aktunya belbda "
( Kembar itu lahir di hari yang sama tapi waktunya berbeda )
Jelas Sean kepada sbastian
" Dari mana kamu tau "
Tanya sbastian
" Dali buku "
( Dari buku )
" Putraku sangat hebat "
Gumam sbastian
sbastian mulai menaiki ranjang dan tidur di samping kanan Sean
__ADS_1
" waktunya tidur "
Sbastian menepuk-nepuk punggung Sean sampai Sean tertidur dan sbastian mulai mengikuti Sean ke alam mimpi