
" Mao "
Sean memanggil
" Saya tuan "
Mao mendekat
" Kirimkan pesan ke rumah , bilang aku akan pulang nanti "
Sean menyeruput kembali kopi yang di siapkan Mao
" Baik tuan "
Mao menjauh pergi
" Dan tetua , saya akan tinggal di sini beberapa saat "
Sean memberitahu niatnya
" Saya mengerti "
Tetua mengangguk
*Drap... Drap... Drap
Di tengah-tengah percakapan terdengar suara kaki yang melangkah dengan cepat dari arah belakang
Sean berdiri dan berbalik , Sean tersenyum melihat siapa yang datang
Sean membuka tangannya lebar-lebar
" Hai "
Bibir Sean berkata tanpa suara
*Grep
Seorang wanita cantik yang setinggi dada Sean masuk ke dalam pelukan hangat Sean
" Bagaimana kabarmu sayang "
Sean membelai lembut rambut panjang yang wangi di hadapannya
" Anda lama sekali "
Wanita cantik itu menitikkan air matanya
" Maaf sayang "
*Cup
Sean mengecup kening wanita itu dan menghapus air mata wanita cantik itu
" Bagaimana kabarmu hm.. "
Sean mengusap kening sang wanita cantik
" Baik , dan saya merindukan anda "
Si wanita cantik kembali memeluk Sean dengan erat
Wanita itu memiliki postur tubuh yang kecil , pendek dan imut , rambutnya dia panjangkan hingga se panjang pan*at sesuai permintaan Sean
" Fleur sayang... kamu makin tinggi ya"
Sean terdengar mengejek
" Ah.... Tuan selalu saja "
Wanita yang di panggil Fleur itu Melepaskan pelukannya dan memalingkan wajahnya
" Hahaha "
Sean tertawa kecil
" Fleur sayang "
Sean memanggil
" Huh saya marah "
Fleur berbalik membelakangi Sean
" Istri kecilku marah "
Sean memeluk Fleur dari belakang
" Kalau tuan di perlakukan seperti itu apa tuan tidak marah "
Terdengar lirih dan bergetar suara Fleur
" Maaf cantik "
Sean terkekeh
"Hm... "
Fleur mengangguk
" Tetua saya pamit "
Sean berbicara dengan tetua
" Baik tuan , jika perlu sesuatu panggil saja saya "
Tetua yang masih muda itu berdiri dan membungkuk hormat
Tetua sendiri adalah ayah dari Mao , meski usianya paling tua di antara penduduk desa yang rata-rata umurnya seribu tahun , tetua masih memiliki wajah yang tampan dan wow
" Mari cantik "
Sean merengkuh pundak Fleur dan membawa Fleur menjauh dari sana
" Tuan "
Fleur memanggil
" Iya "
Sean menyahuti
" Bisakah anda memanggil saya seperti dulu lagi "
Fleur meminta
" Maksudmu Molle "
Sean memastikan
" Iya "
Fleur mengiyakan
" Kamu sudah masa dewasa "
Sean bertanya
" Sudah sebulan yang lalu "
Fleur mengangguk
" Kalau begitu kamu sudah tidak perlu memakai nama panggilan "
Sean meraih tangan kecil Fleur dan menggenggamnya
" Tapi saya suka jika tuan memanggil saya seperti dulu "
Fleur terdengar sedih
" Istriku "
Sean berhenti dan memutar tubuh Fleur untuk menghadap kepadanya
" Iya "
Fleur menyahuti
" Dengar ya cantik "
Sean menggenggam kedua tangan Fleur
" Fleur itu nama yang indah , apa kamu tau artinya "
Sean bertanya
" Tidak "
Fleur menggeleng
" Fleur berarti bunga , itu cocok untukmu yang pendek imut dan cantik ini , bahkan wajahmu seperti boneka "
Sean mengusap pipi Fleur
" Tapi "
Fleur menunduk
" Aku mencintaimu sayang "
*Cup
Sean tiba-tiba menyatukan bibirnya dan bibir ranum milik Fleur
*Clap...cack
Perlahan Sean ******* bibir kecil Fleur dan perlahan Sean menjadi kasar dan itu membuat Fleur sedikit merasakan perih di bibirnya
" Eum.... "
Fleur memukul kecil lengan Sean
*Clap
Sean melepaskan lumatannya
" Tuan "
Fleur menundukkan wajahnya dan menyentuh bibirnya yang sedikit membengkak
" Kami tau cantik "
Sean menangkup pipi Fleur
" Aku mencintaimu "
*Cup
Sean mencium kening Fleur
" Tuan.. mereka melihat kita "
Fleur menunduk malu
" Lihat apa kalian "
Sean menatap sekeliling yang terdapat banyak orang bengong di sana
Kenapa tidak , Sean bercumbu di tengah-tengah pemukiman tempat para warga bekerja dan untungnya di sana hanya terdapat beberapa orang dewasa yang bekerja
" Ah tidak tuan , kami hanya kebetulan lewat... Salam tuan "
Semua orang membungkukkan badan
" Iya , lanjutkan aktivitas kalian "
Sean membawa Fleur kembali berjalan
" Baik tuan "
Semua orang membungkuk dan pergi
" Ayo cantik kita pulang "
Sean membawa Fleur yang masih memegangi bibirnya menuju rumah
Sesampainya di sebuah rumah yang sederhana yang terbuat dari kayu , Sean langsung saja masuk dan menutup pintu dari dalam
" Aku rasa tuan Sean itu masih kecil "
Aloe menggerutu
" Jika di sini , usia tuan itu sudah seratus tahun tau , dan usia nyonya baru lima puluh tahun "
Key menarik saudaranya untuk pergi menjauh
Di dalam rumah
" Tidak berubah ya , masih saja nyaman "
Sean merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang terbuat dari kayu yang di lapisi kapas dan di tutupi oleh kain tipis
" Tentu saja , anda kemari dua tahun yang lalu , jadi saya tidak mengubah semuanya karena rasa rindu saya pada anda "
Fleur tersenyum malu
" Hm.... Benarkah "
Sean membaringkan tubuhnya dengan nyaman
" Apa tuan lapar "
Fleur bertanya
" Kemarilah "
Sean tidak menjawab
" Baik "
Fleur mendekat
" Apa kamu siap jika aku melakukannya sekarang "
Sean duduk dan mendudukkan Fleur di atas pangkuannya
" M..me..melakukan apa "
Fleur tergagap
" Hem.... Melakukan yang seharusnya di lakukan "
Sean mengecup leher jenjang Fleur
"T..tuan "
Fleur memejamkan matanya dan meremas lengan Sean
" Iya "
Sean menjilat telinga Fleur
" Pelan-pelan ya tuan "
Fleur memeluk Sean
" Hm... "
Sean membuat kaki Fleur ada di atas kedua pahanya
" Aaakkhhhh tuan "
Fleur terkejut ketika merasakan sesuatu masuk ke dalam goa sempit miliknya
" Ini hanya jariku sayang "
Sean menyadarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur
" T..ta..tapi sakit hah... Tuan "
Fleur memejamkan matanya
" Panggil aku suami "
Sean berbisik
" T..tuan... Tidak tuan jangan hah..hah.. eukh... Tuan "
Fleur terbelalak ketika merasakan jari Sean semakin masuk
" Panggil aku suami "
Sean membuat jarinya semakin masuk ke dalam dan menikmati remasan tangan Fleur di lengannya
" Ti..tidak... Tidak tuanku aaakkhhhh tuanku"
Fleur terkejut merasakan jari Sean yang bergerak gerak di sana
" Panggil aku suami "
Sean menekan tubuh kecil Fleur yang mencoba memberontak
" Iya...iya.. iya suamiku... suamiku lepaskan cukup "
Fleur berusaha memberontak namun itu tidak berhasil dan itu hanya membuat miliknya semakin penuh dengan kedua jari Sean
__ADS_1
" KYAAAAAAA TUAN... suami... Suamiku "
Fleur berteriak saat merasakan lubang kuncinya benar-benar menjadi lebar
" Hm.... Lembut sekali dan sangat kecil "
Sean memejamkan matanya dan senyuman manis tersungging di bibirnya
" Cukup... Cukup suamiku hah...hah... Tidak jangan "
Fleur masih berusaha melepaskan jari Sean yang semakin menjadi-jadi di dalam sana
" Ukh... KYAAAAAAA SUAMIKU SUAMIKU "
Fleur terkejut merasakan jari Sean masuk dan keluar dengan sangat cepat
*Sret
Sean mengeluarkan jarinya dan langsung membaringkan Fleur di depannya dengan kaki yang terbuka lebar
* Jlep... Srot... Srot
Sean kembali memasukkan dan mengeluarkan jarinya dengan cepat
" KYAAAAAAA SUAMIKU TIDAK AAAKKHHHH... "
Fleur berusaha melepaskan tangan Sean dari pinggangnya
*****
Fleur langsung merasa lemas saat sesuatu keluar dari dalam tubuhnya dengan porsi yang banyak
" Hm... Sepertinya ini pertama kalinya kamu seperti ini "
Sean menjilati cairan putih kental yang keluar dari tubuh Fleur
" Suamiku "
Suara Fleur terdengar lirih
" Iya "
Sean masih sibuk dengan lidahnya
" Tubuh ini milik mu "
Fleur membuka pakaiannya
" Kau pandai menggodaku ya "
Sean menindih tubuh kecil Fleur hingga Sean merasakan dada kecil Fleur menempel di tubuhnya
" Anda berat tuanku "
Fleur berbisik
" Hm.... Milikku ini besar lho sayang "
Sean melepaskan seluruh pakaiannya
" Saya akan menahannya untuk anda "
Fleur tersenyum
" Lihat "
Sean menunjukkan belalai nya yang besar
Terlihat Fleur ternganga
" Hahaha "
Sean tertawa
" Bersiaplah cantik "
Sean memeluk Fleur dan perlahan memasukkan belalainya ke dalam lubang kunci Fleur
" S..suamiku akh... Sakit "
Fleur terbelalak merasakan sesuatu yang sangat besar mendorong masuk ke dalam tubuhnya
Sean menahan tubuh Fleur agar tidak ikut terangkat saat Sean memaksakan miliknya masuk ke dalam milik Fleur yang kecil , sempit dan becek
" Sempit sekali sayang "
Sean berbisik di telinga Fleur
" CUKUP... AAAKKHHHH HENTIKAN.. UUHHH CUKUP "
Saat Sean semakin dalam , Fleur berteriak dan mencakar rata punggung Sean
" Hampir sampai sayang "
Sean dengan lembut menenangkan Fleur yang terlihat benar-benar kesakitan
" KYAAAAAAA SEAN SEAN "
Fleur berteriak ketika selaput penjaga miliknya di robek dengan paksa
" Uukkhh hm.... "
Sean memejamkan matanya menikmati apa yang dia rasakan
" Bertahanlah cantik "
Sean berhenti sejenak dan kembali mendorong Fleur perlahan
Berjam-jam kemudian
" Suamiku "
Terdengar suara lirih dari mulut Fleur
" Hm... "
Sean membelai lembut kepala Fleur dan Sean merasakan tangan Fleur yang tadinya mencakar punggungnya kini menjadi lemas tak berdaya
" Sakit "
Fleur menitikkan air matanya
" Maaf "
Sean menenggelamkan wajahnya di atas pundak Fleur
" Pelan pelan "
Fleur berbisik
" Iya , aku akan sangat lembut "
Sean mulai mendorong kembali miliknya
" Uuuggh penuh penuh cukup "
Fleur memegangi paha Sean berharap Sean berhenti memasukkannya kembali
" Tidak sayang , ini masih bisa masuk "
Sean memasukkan miliknya sepenuhnya dan membuat Fleur benar-benar berteriak
Sean mengeluarkan miliknya perlahan dan membuat Sean merasakan banyak cairan yang mengalir keluar secara paksa
Sean terus memeluk Fleur tanpa melepaskannya , berkali-kali Sean membuat Fleur berteriak kesakitan hingga Fleur tidak bisa kembali memberontak dan berteriak
" Sayang "
Sean berbisik
" Kamu pingsan "
Sean menatap wajah Fleur
Terlihat sedikit terbuka kelopak mata Fleur dan air mata Fleur tidak berhenti mengalir
" Aku kira kau pingsan "
Sean menjilat air mata Fleur dan kembali melanjutkan aktivitasnya hingga malam menjemput meski Fleur tidak menunjukkan banyak respon
" Uuuggh penuhnya "
Sean mengeluarkan semua cairannya di dalam rahim Fleur
" Aku harap kita segera memiliki malaikat kecil "
Sean mengeluarkan miliknya dan langsung saja membersihkan kaki dan tubuh Fleur yang berlumur lumpur putih dengan lidahnya... Ntah apa saja yang di lakukan Sean
" Terimakasih cantik "
Sean membenarkan posisi Fleur dan memakaikan Fleur pakaian baru
" Suamiku "
" Iya sayang "
Sean mendekat
" Jangan pergi "
Fleur menyentuh pipi Sean dengan tenaga yang tersisa
" Iya "
Sean menaikkan selimut baru untuk Fleur dan membawa Fleur ke dalam pelukannya
Saat tengah malam
*Tok..tok..tok
Suara ketukan pintu membangunkan Sean
Sean perlahan melepaskan diri dari Fleur dan berjalan menuju pintu masuk dengan hanya mengenakan celana panjang tanpa baju
*Ckelek
Sean membuka pintu rumah dan terlihat Mao berdiri di sana membelakanginya
" Mao "
Sean keluar dan menutup pintu
" Salam tuan "
Mao membungkuk hormat
" Ada apa "
Sean duduk di kursi depan rumah di ikuti Mao
" Tuan Sbastian memberikan surat untuk anda "
Mao memberikan secarik kertas
__________
Putraku , papa tidak tau kamu di mana , papa sangat menyayangimu dan akan selalu menunggumu , kami di sini akan menunggumu pulang , jangan lupakan rumahmu nak
Cepat pulang nak , bunda , mama , kakak dan adik menunggumu setiap saat
Tertanda :
Sbastian / Bram
______________
" Hm.... Sepertinya urusan kita harus di percepat "
Sean menutup kertasnya
" Tuan boleh saya bertanya "
Mao menerima surat yang di berikan Sean
" Kenapa "
Sean menoleh
" Jika anda pulang , bagaimana dengan nyonya "
Mao memaksudkan Fleur
" Istriku ya istriku "
Sean menjawab dengan singkat
" Bukan begitu tuan "
Mao mengerti bahwa Sean tidak akan mencampakkan Fleur
" Lalu "
Sean menaikkan alisnya
" Bukankah nyonya akan sendiri nanti jika anda kembali "
Mao mengutarakan maksudnya
" Tidak , waktu di sini dan di sana berbeda , waktu di sini lebih lama di banding di sana , jadi ya mungkin aku akan meninggalkan Fleur di sini bersama anakku nanti "
Sean tersenyum
" Jadi nyonya tidak akan sendiri "
Mao menebak
" Hm... Istriku akan menungguku di sini bersama anakku nanti "
Sean mengangguk
" Dan Mao "
Sean berdiri
" Saya tuan "
Mao berdiri
" Kamu tau kan setelah ini akan berangkat ke mana "
Sean membuka pintu rumahnya
" Saya mengerti tuan "
Mao mengangguk
" Bagus "
Sean masuk dan menutup pintu
Esok hari , saat cahaya fajar menjemput , desa Tiger sudah ramai dengan aktivitas para penduduk , namun terlihat Fleur tidak terusik sama sekali dengan suara di luar
" Pulas sekali istriku hahaha "
Sean tertawa melihat Fleur yang kembali tidur setelah dia mandikan tadi
" Sayang "
Sean memencet hidung Fleur
" Ugh... "
Fleur menyingkirkan tangan Sean dan kembali tidur
" Makan dulu dong , baru tidur lagi "
Sean membelai lembut kepala Fleur
*Glodak..glodak
Terdengar sebuah suara yang cukup keras dari luar dan terasa sedikit guncangan membuat Fleur terusik
" Kenapa "
Fleur terbangun
" Tidak tau sayang , aku akan lihat "
Sean turun dari ranjang
" Ikut "
Fleur menahan tangan Sean
" Pelan-pelan "
Sean membantu Fleur turun dari atas tempat tidur
" Masih sakit "
Sean melihat Fleur meringis kesakitan
" Iya tapi mau ikut "
Fleur mengangguk
__ADS_1
" ugh... Imutnya istriku "
Sean memegang dadanya yang tidak kuat dengan keimutan Fleur
" Baiklah "
Sean keluar dan kembali masuk sambil membawa seekor macan
" Naiklah "
Sean mendudukkan Fleur di atas macan yang cukup besar dan berjalan keluar
Sean melihat orang-orang yang bergerombol di ujung pulau Tigre yang berbentuk kotak besar
" Ada apa ini "
Begitu suara Sean terdengar , orang-orang mulai memberi jalan
" Ini tuan , ada sebuah perahu yang karam "
Mao menjawab
" Orang dari mana yang karam "
Sean melihat dari kejauhan para penduduk mulai membawa beberapa orang dari kapal yang karam di sana
" Suku merak "
Mao menjawab
" Suamiku "
Fleur memanggil
" Iya sayang "
Sean menoleh
" Saya dengar kalau suku merak itu memiliki wanita wanita yang cantik "
Fleur membuat Sean terkejut dan kemudian terkekeh
" Kamu takut kalau nanti aku terpikat dengan mereka "
Sean menoel pipi Fleur
" Tidak "
Fleur menunduk
" Hahaha oh cantik ayolah "
Sean mencubit pipi Fleur
Saat regu penyelamat mulai mendekat , Sean membantu para regu penyelamat menaikkan orang-orang yang berenang mendekat
Setelah semua suku merak di pastikan ada di atas pulau Tiger , mulailah penyelamatan barang-barang yang di miliki suku merak yang masih ada di dalam kapal
Semua orang memberikan beberapa perawatan yang di perlukan untuk membantu suku merak
Suku merak di letakkan di suatu bangunan yang luas tanpa dinding , lalu suku merak di berikan makanan dan selimut untuk menghangatkan badan
Fleur turun perlahan dari macan yang dia tunggangi dan mulai membantu nyonya Lusi untuk memasak di dapur
Sedangkan Sean saat ini ada bersama tetua dan pemimpin kapal suku merak
" Kami berterimakasih atas bantuan anda semua "
Seorang laki-laki muda membungkuk di dalam duduknya
" Memangnya anda ini mau kemana "
Sean bertanya
" Kami akan kembali ke kampung halaman kami , kami ini baru saja dari kekaisaran dan kapal kami menabrak batu karang kecil , beruntungnya anda ada di dekat kami"
Laki-laki itu menjawab
" Hm.... Dimana kampung halaman kalian "
Sean bertanya
" Ada di Utara setelah bukit bunga alfrus "
Laki-laki itu menjawab
" Siapa namamu "
Sean bertanya
" Saya paon "
Dia menjawab
" Baiklah paon kami akan mengantarmu ke rumah "
Sean memberitahu
" Benarkah tuan "
Paon tidak percaya
" Ya , dan lagi tujuan kami ada setelah menyebrangi desamu , jadi itu juga lebih baik jika kami melihat desamu sebentar "
Mao menjawab
" Terimakasih , rajaku pasti sangat berterimakasih kepada kalian "
Paon tersenyum senang
Tidak lama datanglah para wanita membawakan minuman dan makanan
" Kamu kembalilah dan istirahat , aku akan menyusul "
Sean menghentikan Fleur
" Baik , tapi jangan lama-lama ya "
Fleur meminta
" Iya "
Sean mengangguk
Setelah beberapa percakapan , akhirnya Sean memutuskan untuk kembali pulang
" Saya pamit "
Sena berdiri
" Baik tuan , akan saya urus yang di sini "
Tetua dan lainnya ikut berdiri
" Saya permisi "
Sean melangkah keluar dari tempat rapat dan melangkah pulang
Di tengah-tengah perjalanan pulang , beberapa orang menghentikan langkah Sean
" Tuan "
Beberapa orang mendekat dan memberikan sesuatu
Sean pulang dengan tangan yang penuh dengan barang bawaan
" Sayang aku pulang "
Sean membuka pintu dengan kakinya dan terlihat Fleur menunggunya di kursi ruang tamu
" Bawa apa itu suamiku "
Fleur bertanya
" Beberapa warga memberiku barang-barang ini "
Sean meletakkan barang bawaannya di atas meja
" Hm... Saya akan memasaknya "
Fleur berdiri perlahan
" Biar aku masak sendiri sayang , akan aku tunjukkan kalau aku ini jago masak "
Sean membusungkan dadanya
" Hahaha baiklah suamiku sayang "
Fleur tertawa
" Baik sayang "
Sean masuk ke dalam dapur dan mulai memasak
Setelah sarapan pagi , Sean membawa Fleur keluar dari rumah
" Apa kamu mau menanam bunga "
Sean menawari
" Bisakah "
Fleur terkejut
" Bisa dong "
Sean membawa Fleur ke dalam gendongannya dan berjalan menuju ujung pulau yang masih kosong
Sean terlihat membuka sebuah portal dan keluarlah sebuah makhluk kecil bersayap
" Salam tuanku , ada apakan gerangan anda memanggil hamba "
Peri kecil itu bernama fee
" Bisakah kau munculkan tanah di sini "
Sean menunjuk ujung pulau
" Sebanyak yang anda mau tuan "
Fee memunculkan satu petak tanah
" Makasih fee "
Fleur tersenyum senang
" Sekarang kita bisa tanam banyak hal "
Sean mengeluarkan banyak biji bunga , tunas sayuran bahkan beberapa pohon kecil yang sudah siap tanam
" Ini apa "
Fleur menunjuk sebuah tunas kecil
" Itu jika kita tanam , nanti akan tumbuh menjadi sesuatu yang enak untuk di makan"
Sean mengambil tunas buah mangga dan menunjukkannya pada Fleur
" Wow... Aku mau tanam ini "
Fleur terdengar bersemangat
" Nah sekarang pakai perlengkapan dulu ya"
*Jeng..jeng
Sean memakaikan sarung tangan karet berwarna pink dan celemek agar pakaian Fleur tidak kotor karena tanah
" Apa ini "
Fleur melihat semua alat kebun yang Sean siapkan
" Ini alat untuk berkebun "
Sean menunjukkan satu persatu fungsi alat yang dia keluarkan
Setelah beberapa saat , akhirnya kebun mini milik Fleur sudah jadi , di tambah dengan sedikit hiasan beberapa bunga yang tidak pernah Fleur lihat
Beberapa hari berlalu
Suku merak mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya , Mao bilang butuh sekitar dua Minggu dengan kecepatan normal untuk mencapai desa suku merak
Hari ini sudah menginjak delapan hari saat Sean ada di desa Tigre , dan hari-hari itu tidak pernah menjadi hari yang suram bagi Sean dan Fleur
" Sayang "
Sean saat ini sedang berbaring di atas paha kecil istrinya di dalam kamar
" Iya "
Fleur yang sedari tadi sibuk dengan rambut panjang Sean , kini menyahuti
" Kamu suka dedek bayi cewek apa cowok"
Sean menggenggam tangan Fleur
" Apapun asal dia sehat "
Fleur menjawab
" Hm.... Kapan ya kamu hamil "
Sean berbalik dan menelusupkan wajahnya di atas perut Fleur
" Bersabarlah suamiku "
Fleur membelai lembut kepala Sean
" Sayang "
Sean memanggil kembali
" Iya "
Fleur menyahuti
" Kamu pernah lihat desa merak "
Sean bertanya
" Tidak , aku hanya pernah mendengarnya dari paman paman yang suka berkelana "
Fleur menjawab
" Hm..... Aku mau cari Mao "
Sean mendudukkan dirinya
" Mau apa "
Fleur melepaskan kepangan rambut Sean
" Akan aku suruh dia pulang ke rumah , aku yakin situasi di rumah sekarang tidak baik-baik saja "
Sean berdiri
" Ikut "
Fleur menarik tangan Sean
" Ayo "
Sean menggandeng tangan Fleur dan berjalan keluar rumah
" Suamiku "
Fleur memeluk pinggang Sean
" Iya sayang "
Sean merengkuh pundak Fleur
" Bagaimana orang tua suamiku"
Fleur bertanya
" Hm.... Bagaimana ya "
Sean mengusap janggutnya
" Aku punya dua ayah dan dua ibu "
Sean menjawab
" Banyak nya "
Fleur terkejut
" Iya... Aku punya tiga kakak laki-laki dan dua adik perempuan "
Sean berbelok menuju rumah tinggal Mao
" Wow saudara suami banyak sekali "
Fleur terlihat kagum
__ADS_1
" Tuan "
Mao terkejut melihat Sean berdiri di depan rumahnya