
Sean berjalan memasuki ruangan
*Sret
Sean mengusap kepala Fleur dan berlalu menuju dapur
*Ctas.... Ctas...
Lampu kristal di dapur sudah di nyalakan oleh Sean
" Namamu Fleur kan "
Adimas memecahkan keheningan yang melanda
" Iya "
Fleur mengangguk
" Ngak nyangka kau lebih cantik dari pada di dalam fotomu "
Adimas memuji
" Terimakasih "
Fleur menunduk
" Siapa nama lengkapmu nak "
Adinda bertanya
" Fleur Lumineux "
Fleur menjawab
" Dimana orang tuamu "
Sbastian bertanya
" Papa "
Adimas terkejut
" M..me...mereka mereka "
*Sret
Air mata Fleur luruh berjatuhan
" A..anu aduh Fleur bukan begitu maksud papa aduh... Adik ipar "
Adimas kalang kabut melihat air mata Fleur luruh seketika
" Mereka... Aku... Hiks... Ayah ibuku... Hiks... Mereka "
Suara Fleur bergetar
" Mereka sudah baik baik saja di sana "
Sean tiba-tiba datang dan memeluk Fleur dari belakang
" Mereka sudah tenang di sana "
Sean mengusap air mata Fleur
" I..iya mas "
Fleur mengangguk dan memeluk erat lengan Sean yang terasa kokoh dan kekar
Sean berjalan memutari Fleur dan duduk di samping Fleur yang masih menangis dengan lirih
" Tidak apa , kan ada mas Sean , kalau Fleur sayangku sedih dan ingat ayah , Fleur bisa memeluk mas , mas ini pengganti ayah kamu.. ya sayang "
Sean mengusap air mata Fleur
" Iya hiks... Mas.. Fleur sayang sama mas "
Fleur memeluk Sean dan menumpahkan seluruh rasa sedihnya di atas dada bidang Sean
" Mas juga sayang sama istri kecil mas "
Sean mengusap kepala hingga punggung Fleur
" AW.. "
Fleur tiba-tiba memegang perutnya
" Kenapa "
Sean terkejut
" Aw... "
Fleur memegangi sisi perutnya yang lain
" Kenapa.. sayang kenapa "
Sean memegang tangan Fleur yang ada di atas perutnya
" U..udah ngak ada "
Fleur memeriksa seluruh bagian perutnya
" Apanya sayang , sayang "
Sean menatap wajah Fleur yang terlihat penasaran
" Berapa usia kandungan mu nak "
Adinda bertanya
" Enam bulan lebih lima hari "
Fleur menjawab
" Bunda.... Fleur kenapa "
Sean bertanya kepada Adinda
" Tak apa , jika kamu merasakan sesuatu menendang perutmu , maka itu calon bayinya yang sedang aktif "
Adinda tersenyum
" Beneran bunda "
Sean terkejut
" Iya , bunda juga begitu dulu... Iya kan mas "
Adinda memegang tangan Sbastian
" Iya "
Sbastian mengangguk
" Kalau begitu bayi kita nyuruh ibunya biar gak sedih sedih lagi "
Sean mengusap perut Fleur
" Iya "
Fleur tersenyum
" Aw... Bayinya nendang lagi "
Fleur memegang perut bagian bawahnya
" Aku mau lihat "
Sean meraba seluruh perut Fleur
" Ngak ada "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Coba tempelin pipimu terus ajak dia bicara"
Sbastian memberitahu
" Hum.. "
Sean mengangguk
" Sayang kecilnya ayah , tendang lagi dong "
Sean berbicara dengan nada imut sambil mengusap seluruh bagian perut Sean
Lama...
" Kok adeknya ngak mau "
Sean masih terus mencari kaki anaknya
" Coba Fleur "
Fleur mengusap perutnya
*Dut
Sebuah tendangan langsung ada di telapak tangan Fleur
" Hahaha anak kita nendang lho mas "
Fleur terkekeh
" Aku kok ngak ada "
Sean duduk di lantai dan melipat tangannya di atas dada
" Mungkin anak kita ngak suka sama ayahnya hahaha "
Fleur terkekeh
" Ngak mungkin , dia anakku jadi ngak mungkin ngak suka sama aku "
Sean mengerucutkan bibirnya
" Sini "
Fleur meraih tangan Sean dan menuntunnya menyentuh perut buncitnya
*Dut
Tendangan bebas tiba-tiba terasa di atas telapak tangan Sean
" Woah.... Dia nendang "
Sean menempelkan pipinya
" Adimas juga begitu dulu , waktu papamu yang nyari ngak ada , kalau bunda yang pegang langsung nendang di semua tempat"
Adinda tersenyum
" Woah... Gimana kak Dimas nih , dari bayi udah nakal "
Sean menggelengkan kepalanya
" Dari pada kamu , masa ngidam mau makan di Paris "
Adimas berkacak pinggang
" Oh iya dong , Sean kan berkelas "
Sean menyibakkan rambut panjangnya dengan bangga
" Ih apaan Sampek di Paris makan satu suap udah "
Adimas melanjutkan kalimatnya
" Dari pada kakak , ngidam kok mau minum air laut "
Sean menyipitkan matanya
" Ekhem... Mas aku habis minum air laut lho"
Fleur mengingatkan
" Oh iya , kan kamu abis minum air laut "
Sean menyipitkan matanya
" Hahahaha "
Semua orang menertawakan kekonyolan Sean
" Sean "
Sbastian memanggil
" Iya "
Sean menoleh
" Papa mau dengar ceritanya "
Sbastian meminta
" Nanti ya pa "
Sean tersenyum
" Papa tunggu "
Sbastian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi
" Ayo , Sean akan tunjukan kamar mandi dan kamar tidur papa "
Sean berdiri
" Cintaku mau makan apa hari ini "
Sean membantu Fleur berdiri
" Apa saja "
Fleur berdiri
" Ayo pa "
Sean berjalan terlebih dahulu bersama Fleur di ikuti Sbastian dan lainnya
" Ini kamar Sean dan Fleur "
Sean menunjuk kamarnya
" Kamar papa dan bunda mau di lantai atas apa bawah "
Sean menawari
" Bawah saja , mamamu ini udah tua "
Sbastian menjawab
*Plak
" Enak aja "
Adinda memukul lengan Sbastian
" Hahahaha kalau begitu ini kamar bunda dan papa "
Sean menunjuk kamar di sebelah kamarnya
" Kakak bebas pilih kamar , di atas ada tiga kamar , terus nanti biar Aniel juga milih "
Sean melanjutkan perjalanan
" Ini dapur , di sini sama kayak di rumah pakek kompor , tapi di sini pakeknya batu sihir bukan bul gas "
Sean menjelaskan
" Gimana itu "
Adinda bertanya
" Seperti ini "
Sean mendekati kompor yang di letakkan di atas meja yang terbuat dari kayu dengan lapisan batu ringan
Sean mengambil satu batu energi kecil dan memasukannya ke dalam kompor yang desainnya sama dengan kompor kita
Setelah itu Sean memberikan sedikit percikan api menggunakan batu sihir lainnya dan
*Bul
Api kecil menyala dengan warna merah darah
" Ini agar mengecilkan dan membesarkan volume api "
Sean memutar sebuah batu sihir dan api menjadi kecil dan besar
" Ho keren "
Adimas mendekati Sean
" Dan itu kamar mandi "
Sean mematikan kompor
" Kamar mandinya ada dua , di sini dan di belakang "
Sean menunjuk dua kamar mandi
" Aku mau lihat "
Adimas berlari masuk ke dalam kamar mandi
" Dan papa juga bunda , jika malam jangan keluar , di luar udara akan sangat dingin "
Sean mengingatkan
" Hm... Sedingin itukah "
Adinda bertanya
" Iya bunda "
Sean mengangguk
" Lalu di dalam juga dingin "
Sbastian bertanya
" Tidak , di sini akan lebih hangat karena batu sihir yang Sean gunakan untuk lampu penerangan , yah meski cahanya ngak seterang lampu tapi ini cukup hangat "
Sean menjawab
" Oke deh nanti kalau malam , bunda akan pakek selimut yang tebal "
Adinda mengangguk
__ADS_1
" Hahaha , Fleur sudah siapkan satu lemari selimut di dalam kamar "
Fleur memberitahu
" WOAAAAAAHHH SEAN SEAN , KENAPA LUBANG WC NYA KAYAK GINI "
Terdengar suara gema dari kamar mandi
Lubang WC di desa Tiger langsung terlihat air laut dan bisa melihat ikan di laut yang berenang bebas
Namun itu untuk rumah yang tidak di bangun di atas mesin penggerak pulau Tiger
" Kan ini ngambang di laut kak "
Sean menjawab
" Ngambang ?? "
Adimas tidak mengerti
" Akan Sean perlihatkan , ayo ikut "
Sean berjalan menuju ruang tamu
" Lihat apa "
Adimas menyusul Sean
" Sesuatu "
*Grieeet
Sean menggeser meja di ruang tamu dan terlihat tangga yang menuju ruang bawah tanah
" Apa itu "
Adimas bertanya
" Sayang mau ikut "
Sean mengulurkan tangannya
" Iya "
Fleur perlahan mengikuti Sean menuruni tangga secara perlahan di ikuti yang lainnya
" Woah... Laut lho "
Adimas mengagumi kaca transparan yang di pasang di sana
" Ini bukan kaca lho "
Sean memberitahu
" Lha terus "
Adimas menyentuh benda transparan yang ada di sepanjang tangga menuju lantai bawah
" Ini kayu transparan , kayu ini cuma ada di desa Tiger "
Sean memberitahu
" Kereeeeen "
Adimas terlihat bersemangat
Setelah puas menjelajahi seisi rumah dengan semangat dan penuh energi , akhirnya waktu makan malam pun tiba
" Aniel "
Sean membangunkan Aniel
" Iya "
Aniel membuka matanya
" Ayo makan , habis itu minum obat "
Sean mengusap keringat Aniel
" Ngak mau "
Aniel kembali memeluk Roux yang ntah sejak kapan ada di sana
" Makan dulu ya , nanti kakak temenin tidurnya"
Sean mengusap punggung Aniel
" Mas "
Fleur masuk ke dalam kamar
" Sayang "
Sean menyambut Fleur dengan tangannya yang terlihat kokoh dan kuat di mata Fleur
" Adik kecil ngak mau bangun "
Fleur menerima uluran tangan Sean dan duduk di hadapan Sean
" Iya , dia selalu susah di bangunkan "
Sean menjawab
" Biar Fleur coba "
Fleur mengusap kepala Aniel
" Sayang kecil , bisakah bibi makan bersamamu "
Fleur mengusap dan menggenggam tangan Aniel
" Kamu siapa "
Aniel menggosok matanya
" Aku bibi Fleur "
Fleur menjawab
" Siapa bibi Fleur "
Aniel mengerenyitkan keningnya
" Bisakah adik kecil makan dengan bibi , adik bayi yang ada di perut bibi mau makan dengan adik "
Fleur mengusap perutnya
" Adik bayi "
Aniel mendudukkan dirinya
" Iya , ini adik bayinya kakak "
Sean mengusap kepala Aniel
" Beneran "
Aniel menatap Sean
" iya "
Sean mengangguk
" Kalau gitu Aniel mau punya adek bayi "
Aniel mendekati Sean
" Iya "
Sean mengangguk
" Boleh Aniel pegang "
Aniel menatap Fleur
" Boleh "
Fleur mengangguk
" Wah adek bayinya di sini ya "
Aniel mengusap perut Fleur
*Dut
Aniel merasakan sesuatu menyentuh tangannya
" Apa itu tadi "
Aniel mengerucutkan bibirnya
" Itu tadi kakinya adek bayi "
Sean menjawab
" Beneran "
Aniel menatap Fleur
" Iya "
Fleur mengangguk
" Keren "
Fleur kembali menyentuh perut Fleur
Sean mengangkat Aniel ke dalam gendongannya
" Gamau mau pegang adek bayi "
Aniel memberontak
" Eits... Kamu tau kalau ibunya adek bayi belum makan , nanti adek bayinya laper juga lho "
Sean menjauhkan Aniel dari Fleur
" Beneran "
Aniel menatap Fleur
" Iya "
Fleur mengangguk
" Kalau begitu ayo makan sama Aniel aja "
Aniel mengulurkan tangannya untuk Fleur
" Boleh "
Fleur menyambut uluran tangan Aniel
" Okey , kakak masak apa "
Aniel menatap Sean
" Masak banyak banget , papa sama bunda sama kakak udah nungguin Aniel dari tadi"
Sean menoel hidung Aniel
" Kalau gitu ayo "
Aniel merosot dari gendongan Sean
" Ayo sayang "
Sean membantu Fleur berdiri
" Roux , kamu mau makan ngak "
Sean memanggil
" Kyung... "
Roux langsung berdiri dan menghampiri Aniel
" Kyung.. "
Roux menggosokkan kepalanya di bahu kecil Aniel
" Kyung Kyung bangun "
Aniel memeluk Roux erat
" Kyung makannya apa kak "
Aniel bertanya
" Semuanya , kalau Aniel kasih makan daging juga mau , sayur juga "
Sean menjawab
" Kalau begitu nanti Kyung makan satu piring sama Aniel ya hehe "
Aniel berjalan terlebih dahulu di ikuti Roux
*Hup
Sean mengangkat Aniel dan mendudukkan Aniel di atas punggung Kyung
" Emang boleh "
Aniel menatap Sean
" Boleh , Kyung itu kuat "
Sean tersenyum
" Wah Aniel suka Kyung "
Aniel memeluk leher Roux dan membuat Aniel tengkurap di atas punggung Roux
" Kyuung.. "
Roux menjadi sedikit lebih besar agar Aniel tidak terjatuh dari punggungnya
Di dapur
" Papa papa lihat Kyung "
Aniel memanggil Sbastian
" Astaga adek itu bahaya "
Sbastian mengangkat Aniel dari atas punggung Roux
" Ngak apa apa , jika Aniel naik Roux ngak akan jatuh "
Sean mendudukkan Fleur di kursinya
" Papa , Kyung tadi tidur sama Aniel "
Aniel terlihat bersemangat dan tidak terlihat bekas sakit sama sekali
" Lalu Aniel tadi tidur berapa lama "
Adinda membawa Aniel ke dalam pangkuannya
" Lamaaaaa banget , sampai Aniel ngak mau bangun "
Aniel bercerita dengan semangat
" Kalau bukan istriku , Aniel gak akan bangun"
Sean membanggakan Fleur
" Hahaha Aniel ini memang ya "
Adimas mulai bermain bersama Aniel dan melupakan Fleur yang sedang makan bersama Sean
" Mas mau makan yang mana , biar Fleur ambilkan "
Fleur menawari
" Yang mana aja "
Sean tersenyum
" Fleur ambilkan "
Fleur berdiri dan mengambil piring Sean
Tiba-tiba Fleur berhenti melakukan aktivitasnya
" Kenapa sayang "
Sean memegang tangan Fleur
" Kepala Fleur pusing "
Fleur mendudukkan dirinya di atas kursi
" Kita makan sedikit lalu istirahat "
Sean mengambilkan makanan untuk Fleur dan menyuapinya sedikit
Setelah beberapa sendok makanan masuk ke dalam mulut Fleur
" Sudah ya mas "
Fleur menghentikan tangan Sean
" Sedikit lagi ya sayang "
Sean mengusap keringat Fleur
" Aku mau istirahat mas "
Fleur meminta
" Iya "
Sean mengangkat Fleur ke dalam gendongannya
" Nanti Sean balik pa "
Sean meninggalkan keluarganya di meja makan
Di dalam kamar
" Istirahatlah "
Sean menidurkan Fleur di tengah-tengah tempat tidur
" Mas , jangan tinggalin Fleur "
Fleur menarik tangan Sean
__ADS_1
" Mas di sini , tidurlah "
Sean berbaring di samping Fleur
" Mas kepala Fleur makin pusing "
Fleur berbisik
" Kamu demam "
Sean menyentuh kening Fleur
" Mas ambilkan kompres dulu "
Sean beranjak dari tempat tidur
Dengan cepat Sean berlari menuju dapur
" Kenapa nak "
Sbastian bertanya
" Badan Fleur panas pa "
Sean mengambil air dingin dan handuk tipis yang sudah di siapkan di lemari
Sean langsung kembali ke kamar
" Mau kemana sayang "
Sean terkejut melihat Fleur berdiri
" Mas kemana "
Fleur mendudukkan dirinya
" Mas ambilkan kompres tadi "
Sean membaringkan Fleur
" Jangan tinggalin Fleur "
Fleur menggenggam tangan Sean
" Iya , sekarang kita kompres dulu ya "
Sean melepaskan tangan Fleur dan mengambil kain yang sudah dia celupkan ke dalam air dan dia peras
" Tidurlah cintaku "
Sean meletakkan kompres di atas kening Fleur lalu memijat pelan kepala Fleur
Sean terus berada di samping Fleur hingga cahaya bulan tengah malam menyambut
Sean melangkah keluar dengan hati-hati agar Fleur tidak terbangun
*Kriyet
Sean menutup pintu kamar
" Papa "
Sean terkejut melihat Sbastian yang masih duduk di ruang tamu
" Papa tidak bisa tidur "
Sbastian tidak menatap Sean , Sbastian menatap keluar jendela rumah
" Kenapa kamu tidak mengatakannya kepada papa "
Sbastian bertanya
" Haha papa marah ya "
Sean duduk di samping Sbastian
" Papa ini kan orang tuamu , ya bagaimana papa tidak khawatir "
Sbastian tetap tidak menoleh
" Karena itu Sean masih suka manja sama papa "
Sean menyandarkan punggungnya di tubuh Sbastian
" Kamu ini "
*Tak
Sbastian menyentil telinga Sean
" Papa mungkin ngak akan percaya kalau Sean cerita "
Sean merosot dan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Sbastian
" Cerita apa memangnya "
Sbastian mengusap kepala Sean
" Cerita apa ya "
Sean melipat tangannya di atas dada dan membuat kaki kanannya bertumpu di atas lutut kirinya
" Haisss kamu ini "
*Plak
Sbastian memukul kening Sean
" Hehe "
Sean menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapih
" Papa harus percaya kalau Fleur itu belahan jiwa Sean "
Sean memejamkan matanya
" Bundamu juga belahan jiwa papa "
Sbastian membuka mata Sean
" Bukan pa tch... Papa ini "
Sean berdecak kesal
" Betul lha "
*Plak
Sbastian memukul mulut Sean
" Kita bicara di luar saja , nanti ada yang dengar "
Sean berdiri
" Di mana "
Sbastian menaikkan alisnya
" Di luar rumah "
Sean mengambil dua mantel bulu yang ada di gantungan mantel dekat pintu
" Kenapa memangnya "
Sbastian memakai mantel yang di berikan Sean
" Mereka Tidak boleh tau "
Sean membuka pintu rumah
*Wuuusss
Berhembus kencang angin yang terasa sangat dingin dan bau laut malam yang khas
" Ayo pa "
Sean mempersilahkan Sbastian
Setelah Sbastian keluar , Sean keluar dan mengunci pintu
" Kenapa anginnya seperti ini "
Sbastian memegangi mantelnya yang berhembus mengikuti arah angin
" Ini laut pa "
Sean berjalan meninggalkan Sbastian
" Bukankah ini pulau "
Sbastian mengikuti langkah Sean
" Iya , tapi pulau ini berjalan mengikuti arus laut setiap saat , dan di saat-saat tertentu kami akan berlabuh dan mengendalikan pulau Tiger ini "
Sean berhenti tepat di ujung pulau
" Astaga "
Sbastian terkejut dengan laut yang bergemuruh hebat di depannya
" Hari ini sangat dingin karena badai menerjang di luar "
*Ngung...ngung
Sean menyentuh penghalang yang transparan dan membuat air laut tidak memasuki pulau
" Apa ini Sean "
Sbastian menyentuh penghalang yang Sean pegang
Saat menyentuhnya terasa seperti sebuah tembok baja yang kokoh dengan dengungan kecil seperti seekor lebah
" Pulau ini ada sekitar seratus tahun yang lalu "
Sean menurunkan tangannya
" Seratus "
Sbastian terkejut
" Apa papa pernah mendengar tentang raja Hantian Rudeus "
Sean menatap laut dengan wajah syahdu
" Tidak "
Sbastian menggeleng
" Raja Hantian Rudeus adalah raja dari ribuan abad yang lalu "
Sean menghela nafasnya
" Raja yang sangat kejam , seperti namanya Rudeus yang berarti kekejam "
Sean berhenti
" Lalu "
Sbastian mulai tertarik
" Alkisah raja Rudeus memiliki tujuh putra dan satu putri dari delapan ibu yang berbeda "
Sean berhenti berbicara
" Dia raja , jadi pantas memiliki banyak istri , dan di kisah manapun raja akan bersikap adil kepada semua istrinya "
Sbastian mengangguk
" Tidak , raja Rudeus hanya memiliki satu wanita yang paling di cintanya seumur hidup "
Sean menyangkal pendapat Sbastian
" Semua istri yang dimiliki raja Rudeus hanyalah permainan politik dan paksaan dari semua orang "
Sean melirik Sbastian
" Lalu apa hubungannya dengan semua ini "
Sbastian menatap Sean penasaran
" Raja Hantian Rudeus kehilangan dua orang berharganya yang membuatnya menjadi seperti orang gila "
Sean tersenyum kecut
" Hingga akhirnya setelah berpuasa dan mengabdikan hidupnya untuk tuhan , raja Rudeus di beri tahu bahwa dia bisa bertemu kembali dengan kedua malaikatnya "
Sean menatap langit
" Hal semacam itu apa benar ada "
Sbastian mengerenyitkan keningnya
" Hahaha , tapi imbalannya nyawanya saat itu juga , dan nyawanya dia berikan untuk menebus kedua nyawa yang berharga untuknya "
Sean tersenyum manis
" Maksudnya "
Sbastian tidak mengerti
" Raja Rudeus mengorbankan nyawanya agar kedua malaikatnya kembali lahir , raja Rudeus meninggalkan ketujuh putranya, yang salah satunya masih bayi "
Sean berbalik
" Itu dia lakukan juga untuk menyelamatkan semua nyawa putranya dari kekejaman iblis yang haus akan nyawa... Pamannya sendiri"
Sean menatap rumahnya
" Hingga raja Rudeus kembali di lahirkan dengan nama Irsyad Aldo Bramasta..."
Sean berbalik dan menatap Sbastian
" Dan kembali di beri nama Sean Ken Sora "
Sean menaikkan sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman hangat
" Papa tidak mengerti "
Sbastian mengerenyitkan keningnya
" Dan , dua belahan jiwa yang di tebus nyawa oleh raja Rudeus kembali lahir menjadi Fleur Lumineux "
Sean berhenti berkata
" Lalu , belahan jiwa lainnya "
Sbastian penasaran
" Terlahir menjadi Alinda kena Sora "
Sean membuat Sbastian terbelalak
" Papa tidak percaya "
Sbastian mengerenyitkan keningnya
" Raja Rudeus waktu itu hanya memiliki kemungkinan nol koma lima persen agar bisa berkumpul kembali dengan dua malaikat tercintanya "
Sean berjalan meninggalkan Sbastian
" Hingga raja Rudeus kembali terlahir menjadi Sean "
*Kriyet
Sean membuka pintu rumahnya
" Sean , kamu bercanda "
Sbastian menghentikan langkah kaki Sean
" Sean akan tunjukkan sesuatu "
*Klak... Klak...
Sean mempersilahkan Sbastian masuk dan mengunci pintu dari dalam
" Istri Sean , Fleur Lumineux adalah istri kecil kesayangan raja Hantian Rudeus dulu"
*Kriyet
Sean membuka pintu kamar
" Sean , papa bener bener ngak ngerti "
Sbastian menghentikan langkah Sean untuk kesekian kalinya
" Papa lihat saja "
Sean mendekati Fleur
*Tap
Sean meletakkan ujung jarinya di atas kening Fleur
*Cring
Muncul sebuah ukiran bunga teratai dengan warna perak dan akar teratai yang menyebar ke seluruh wajah Fleur
" Apa itu "
Sbastian terkejut
" Tanda bahwa dia adalah yang di pilih raja Rudeus dengan mengorbankan nyawa"
Sean mengeluarkan batu berharganya dari dalam sakunya
*Sring
Keluar sebuah cahaya dari batu blue milik Sean , dan itu membuatnya seperti sebuah televisi transparan
Di dalam rekaman memori
" Tuanku "
Seorang wanita muda datang ke dalam pelukan raja Tian
" Hati-hati sayang jangan lari-lari "
Raja Tian mengusap lembut kepala wanita muda itu
" Papaaaaaa adek lapel "
Seorang gadis kecil yang cantik terlihat dari kejauhan
" Hm... Kita makan sama kakak ya "
Raja Tian menyambut gadis kecil itu dengan senyuman lebar
" Ayah "
__ADS_1
Terlihat semua putra raja Tian datang dengan makhluk kecil di gendongan putra pertama raja Tian