
" Kamu kirim kemana para penyusup "
Sean bertanya saat mereka sudah berada di dalam lift
" Saya mengirim mereka menuju markas besar "
* Ting
Lift terbuka dan Mao membawa Sean keluar dari lift
" Ada siapa di markas besar "
Sean masuk ke dalam kamar
" Di markas besar ada tuan Diablo dan nona Matty "
Mao membantu Sean naik ke atas ranjang
" Bukannya Matty aku kirim ke London dua hari yang lalu "
Sean melepaskan sepatunya di bantu Mao
" Nona Matty baru pulang tadi pagi , dan nanti malam akan saya bawakan berkas berkas dari nona Matty , nona Matty membutuhkan tanda tangan persetujuan anda "
Mao membuat Sean terkekeh
" Padahal perusahaan ini aku bangun karena iseng , kamu harus tau itu Mao hahaha "
Sean tertawa membuat Mao terkekeh mengingat alasan tidak logis perusahaan kecil Sean di bangun
" Hahaha hanya modal gabutz dan pengen tau hahaha "
Sean terbahak-bahak mengingat masa lalunya saat mendaftarkan diri secara iseng
" Ini salah kak Yuka , siapa suruh bikin aku penasaran cara bangun perusahaan "
Sean memonyongkan bibirnya
" Tapi kak Yuka membuat banyak lapangan pekerjaan baru , dan aku suka itu , banyak orang kepercayaan yang di rekrut , meski latar belakang mereka hanyalah berandalan tapi mereka memiliki IQ tinggi , aku heran dengan perusahaanku sendiri hahaha "
Sean terbahak-bahak mengingat dirinya terkejut bukan main saat melihat proposal pengajuan perusahaannya di setujui
Flashback on
" Astaga kak Yuka gimana ini , proposal Sean di setujui ... Gimana ini , gimana ini "
Sean berjalan mengitari kamar membuat Yuka pusing tujuh keliling
" Tenanglah tuan muda "
Yuka menangkap Sean
" Aku mau membatalkan semua , tapi ini udah setengah jalan , aduh Yuka gimana ini"
Sean menepuk-nepuk pipi Yuka
" Astaga tuan muda , tenanglah saya ikut pusing ini "
Yuka melepaskan Sean dan Sean kembali mengitari kamar , kini sambil berlari
" Saya bantu tuan muda , tenanglah "
Yuka membuat Sean terjatuh
" Beneran lho ya "
Sean menunjuk Yuka
" Beneran tuan muda "
Yuka meyakinkan
Flashback off
" Apakah anda bahagia saat anda memiliki sebuah perusahaan "
Pertanyaan Mao membuat Sean terkekeh
" Maooo... Maooo... , aku ini hanya anak berusia tujuh tahun yang belum sekolah , dan malam ini akan ada beberapa berkas untuk ku kerjakan "
Sean geleng-geleng kepala melihat garis hidupnya sendiri yang unik
" Bagaimana anda bertemu dengan tuan Diablo "
Mao menyisihkan kursi roda Sean di tepi nakas
" Waktu itu aku melihat paman Diablo yang sedang mencari pekerjaan di pasar , itu terjadi tepat satu bulan sebelum aku koma "
Sean tersenyum
" Matematikawan seperti dia bekerja manjadi seorang tukang parkir yang dengan mudah menjumlahkan banyaknya pesanan seseorang di toko , dia hanyalah berandalan yang masih muda , sampai aku meminta beberapa seorang dewasa mewakiliku hanya untuk mengetes kepandaian paman Diablo , semua itu aku lakukan karena aku masih naif , aku masih kecil kala itu hahaha "
Sean terkekeh
" Lalu bagaimana anda mendapatkan kepercayaan tuan Diablo "
Mao membuat Sean berhenti tertawa
" Diablo , Matty , Lucas , Seilla , Aldo , Rendra , Amaji , Yulias , mas Artian , Ariana , Alisya , Rena , Mizaeil , Mereka semua tidak tau kalau aku masih sekecil ini , mereka berpikir aku adalah seorang pemimpin yang dewasa , baik , kejam dan tegas dalam waktu bersamaan "
Sean membuat Mao melongo tentang deretan nama nama orang kepercayaan Sean yang masih sangat banyak
" Apa mereka semua satu perusahaan "
Mao membuat Sean terkekeh
" Yang satu perusahaan hanyalah Diablo dan Matty , yang lainnya sudah aku larikan ke banyak daerah , dan aku terkejut saat aku sadar dari koma dan tanganku sudah mulai bisa memakai jam tangan komunikasi ciptaan ku dan Yuka , aku terkejut ribuan pesan kekhawatiran masuk yang tanggalnya sudah dua tahun yang lalu, aku sangat terkejut melihat mereka masih khawatir denganku yang hilang kabar selama dua tahun hahahaha "
Sean tertawa mengingat banyaknya pesan yang dia terima
" Apa tuan pernah bertemu dengan mereka"
Mao membuat Sean kembali tertawa
" Aku tidak pernah sekalipun bertemu mereka dengan nyata , hanya lewat virtual dan itu hanya tiga kali sebelum aku koma dan dua kali beberapa hari yang lalu "
Sean mengingat dia menemui mereka dengan hologram hitam putih
" Aku yakin mereka mengalami banyak kesulitan saat aku koma , tapi saat aku bertanya kata mereka perjalanannya lancar lancar saja , dan yang membuatku terkejut ternyata Yulias mampu menahan banyak hal hal mistis yang di kirimkan untuk perusahaan , mereka semua sangat berjasa dan aku hanya tiduran di sini "
Sean tersenyum dan menutup matanya
* Tuut... Tuuut
Suara jam tangan Sean berbunyi , saat Sean mengangkat telfonnya , terlihat hologram pria muda yang sangat berantakan
Sean mengeluarkan sesuatu dari sakunya yang berbentuk seperti alat bantu pendengaran yang di dekatkannya seperti mikrofon
________________________
: Kenapa Matias :
Suara Sean menjadi berat dan kaku
: TUAAAAN SAYA MENELFON ANDA BERKALI KALI :
Suara Matias membuat Sean menjauhkan jam tangannya
: Iya iya maaf , aku sedang sakit , kamu tau kan aku sedang dalam masa pemulihan :
Sean berbicara dengan lembut
: Astaga , maaf tuan saya tidak ingat , ini tuan , saya dan Yulias ada banyak berkas yang harus mendapatkan tanda tangan anda , apakah anda bisa melihat berkas berkasnya :
Kalimat Matias lebih lembut dari sebelumnya
: Katakan kepada kakakmu untuk mengurus beberapa berkas yang ringan , untuk lainnya kamu kirim saja kemari lewat kurir biasanya :
: saya mengerti tuan , saya minta maaf karena saya lancang , saya pamit undur diri:
: Jaga kesehatan kalian ya :
: Iya tuan saya mengerti :
_________________
* Tuuut...
" Apa mereka melihat hologram hitam putih juga "
Pertanyaan Mao di angguki oleh Sean
" Mereka ada di Bengkulu , aku membangun lapangan kerja baru di sana , kemarin baru aku bicarakan dengan Diablo dan dia langsung memberangkatkan Matias dan Yulias "
Sean geleng-geleng kepala
" Apa kamu pernah mengatakan bahwa aku masih anak-anak"
Sean menatap Mao
" Tidak tuan , saat saya bertemu tuan Diablo dan nona Matty , saya hanya mengatakan tuan , tidak yang lain "
Mao menggeleng
" Terimakasih Mao , harimauku sayang "
Sean meminta Mao mendekat
Dengkuran halus terdengar saat kepala Mao di elus oleh Sean
* Tuing
Keluarlah dua telinga Mao dan ekornya yang mengibas kesana kemari
" Kamu memang kepercayaanku "
Sean mengusap Mao sekali lagi dan melepaskannya
" Sean "
Terlihat Sbastian masuk sambil menggendong Aniel
" Mari saya bantu tuan "
Mao mengambil Aniel dari gendongan Sbastian dan merebahkannya di atas tempat tidur
" papa akan ganti baju dulu "
Sbastian berlalu menuju etalase pakaian
" Saya pamit undur diri "
Mao keluar dan menutup pintu
" Sean mau ganti baju "
Sbastian yang baru selesai ganti baju menghampiri Sean
" Iya pa "
Sean mengangguk dan Sbastian membawa Sean mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur
" Tidurlah sayang , papa akan mengerjakan berkas saat ini "
Sbastian meninabobokan Sean lalu menyelimuti kedua buah hatinya
" Baca doa sebelum tidur sayang "
Sbastian mengingatkan Sean
" Sudah pa "
Sean tersenyum
" Anak baik , tidurlah sayang "
Sbastian mencium kening Sean dan berlalu pergi
" Aniel... Kamu tenang saja , kakakmu ini akan membalas semua yang mamamu lakukan padamu , kakak janji "
Sean memeluk Aniel dan memejamkan matanya
Pukul 03.00 sore , Sean sedang berjamaah sholat ashar bersama Sean , Aniel dan si duo kembar , setelah itu mengajari dan mengajari si duo kembar beberapa ilmu agama
" Saatnya bermain sore "
Liona melepaskan mukenanya dan memakai hijabnya
" Paan sih , Sean laper mau makan , ayo adek "
Sean meminta Aniel mendekat
" Tak ean aut tatan "
( Kak Sean mau makan )
Aniel meletakkan tangan di atas paha kecil Sean
" Iya , Kaka mau makan , kamu ikut ngak "
Sean mengusap kepala Aniel yang tertutupi oleh hijab kecil rancangan Sbastian
" Mau , iel apel "
( Mau Aniel laper )
Aniel memegangi perutnya
" Apa... Aniel mau apel , emangnya Aniel bisa makan apel "
Liona berlutut di samping Aniel
__ADS_1
" Laper kak bukan apel "
Sean melirik liona
" Oh... Kalau gitu ayo makan "
Liona membawa lili ke dalam gendongannya
" Au ma tak ean "
( Mau sama kak Sean )
Aniel menggeliat di dalam gendongan liona
" Ngomong apa sih "
Liona mempertahankan Aniel yang hampir jatuh
" Dia tuh maunya sama Sean , ngak sama kamu , iya kan sayang kecil "
Lion membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Tak ean "
( Kak Sean )
Aniel masih memberontak di dalam gendongan Leon
" Duduklah "
Sbastian mengambil Aniel dan meletakkan Aniel di samping Sean
" Dak au , iel au ngku tak ean "
( Ngak mau , Aniel mau di pangku kak Sean )
Aniel duduk di atas paha Sean
" Okey , kita makan let's go "
Sean melajukan kursi rodanya dengan santai
" Tan apa tak ean "
( Makan apa kak Sean )
Aniel mendongak ke atas
" Ntah , ayam mungkin "
* Tok..tok
Sean mengetuk pintu dan pintu telah di bukakan oleh para penjaga
" Bukannya ada remote pintu ya "
Liona mengedipkan matanya
" Dah lah "
Lion dan Sbastian meninggalkan liona yang masih loading
" Lao "
Sean memanggil Lao yang akan berjalan menuruni tangga
" Dimana Mao "
Sean berhenti
" Kakak ada di bawah , apa saya perlu memanggilnya "
Lao naik ke atas dan menjauhkan Sean dari ujung tangga
" Tidak perlu , aku juga mau turun "
Sean menolak
" Biar saya temani "
Lao menemani Sean menggunakan lift
" Mao "
Sean memanggil begitu lift baru terbuka di lantai bawah
" Saya tuan muda "
Mao mendekat dengan membawa satu paket besar
" Apa ini "
Sean menunjuk paketnya
" Iya tuan , bukan kurir yang mengantarkan , namun beberapa orang yang berpakaian khusus "
Mao menunjukkan foto mereka sambil berbisik
" Ini anak buah Diablo , masukkan ke dalam lab "
Sean berbisik dan tersenyum
" Saya pamit "
Mao membawa satu kotak besar ke dalam lab sebelum Sbastian mengetahuinya
" Sean "
Suara pak Sam memanggil
" Kakek "
Sean menoleh
" Paket apa tadi "
Pak Sam mendekat
" Itu kata Mao beberapa piring , Sean tidak tau , mungkin piring di belakang sudah habis "
Sean mengedikkan bahunya
" Baiklah , sekarang cucu cucu kakek mau ngapain "
Kakek mengambil Aniel dari pangkuan Sean
" Apel , iel au kan "
( Laper , Aniel mau makan )
Aniel menunjuk perutnya
" Baiklah , ayo Lao , kita ke dapur "
" Makan apa sayang "
Pak Sam meletakkan Aniel di atas kursi khusus Sean dulu
" Au tak ean "
( Mau kak Sean )
Aniel menunjuk Sean yang sedang di bantu Lao duduk di atas kursi khusus
" Baiklah , kak Sean mau makan apa "
Pak Sam menawari Sean
" Mau ayam , sambelnya kakek sama sayur bening "
Sean menunjuk beberapa makanan yang di pilihnya
" Iel au ja , yam , bel Tek ma yul nin "
( Aniel mau juga , ayam , sambel kek sama sayur bening )
Aniel mengikuti kalimat Sean
" Adek emang mau sambel "
Sean menoel pipi gembul Aniel
" Au , lau tak ean uka , iel ja uka "
( Mau , kalau kak Sean suka , Aniel juga suka )
Aniel menunjukkan Gigi putihnya yang masih ada dua
Setelah Aniel dan Sean menyelesaikan makannya sambil di tunggui oleh pak Sam , Aniel mengajak Sean berjalan jalan keliling taman belakang dan taman depan rumah
" Ayo tak "
Aniel yang sudah di atas kursi roda Sean tertawa senang saat Sean mulai melakukan kursi rodanya perlahan
" Unga unga ungaa teil , unga unga unga unga "
( Bunga bunga bunga kecil , bunga bunga bunga bunga )
Aniel menyanyikan apapun yang dia lihat , mulai bunga sampai air mancur
" Ayo te ana "
( Ayo ke sana )
Aniel menunjuk gerbang masuk
" Boleh "
Sean melajukan kursi roda menuju gerbang depan dan tiba-tiba muncullah ketiga pengawal yang selalu ada
" Mao "
Sean memanggil
" Ya tuan "
Mao mendekat
" Apa saja isi paket tadi "
Sean melajukan kursi rodanya agak pelan
" Ada beberapa berkas dan perlengkapan makan nona muda yang di pesan dari keramik , foto foto keluarga juga pakaian dan piring hias "
Mao menjawab
" Soalnya tadi kakek tanya , apa saja yang ada di dalam kotak tadi "
Sean memberitahu alasannya
" Oh.... "
Mao hanya manggut-manggut
" Kamu letakkan di mana berkasnya "
" Saya letakkan di kamar tuan muda , di dalam laci seperti biasanya , jika pakaian nona dan perlengkapan lainnya saya letakkan pada tempatnya "
" Terimakasih ya Mao "
Sean melajukan kembali kursi rodanya dengan cepat
" Yey yey hahaha "
Aniel tertawa saat Sean mempercepat laju kursi rodanya
Sean membawa Aniel berkeliling seluruh halaman yang sudah mirip seperti landasan pesawat yang di hiasi banyak sekali ornamen ornamen yang khas dunia Disney princess
" Iel tuk "
( Aniel ngantuk )
Aniel merebahkan kepalanya di atas dada Sean
" Tidurlah "
Sean melajukan kursi rodanya dengan lambat hingga Aniel benar benar tertidur
" Sean "
Sbastian menghampiri
" Sssttttt adek tidur "
Sean mengkode Sbastian
" Okey "
Sbastian mengerti
" Ayo kemari sayaaaang "
Sbastian mengambil Aniel dari atas pangkuan Sean dan meminta Mao mendorong kursi roda Sean menuju ruang tamu
" Sean sayang "
Sbastian memulai pembicaraan
" Iya pa "
Sean yang sedang sibuk dengan TV nya dan cemilan sorenya menyahuti papanya sebentar
__ADS_1
" Kamu dua hari lagi sudah sekolah , papa mendaftarkan kamu di sekolah dasar di dekat kantor papa , apa kamu mau di sana "
Sbastian membelai rambut Sean
" Iya pa , terserah papa aja "
Sean mengangguk
" Tapi nak , kamu "
Sbastian menghentikan kalimatnya
" Sean masih bisa sendiri pa , papa ngak perlu khawatir , di sana bintang juga ada kan "
Sean menoleh
" Iya , bintang juga di sana "
Sbastian mengangguk
" Oke , Sean ngak mau ribet deh , papa aja yang ngurus "
Sean melanjutkan menonton filmnya sambil makan makanan ringannya
Malam harinya
" Sean , papa ada urusan mendadak ke luar kota "
Sbastian memasuki kamar Sean dengan penampilan yang sudah rapih
" Kok mendadak sih pa "
Sean yang awalnya membaca buku kini menutupnya
" Iya sayang , papa ngak bangunin Aniel , mungkin akan pulang esok , kalian baik baik ya "
Sbastian mencium kening Sean
" Hati-hati ya pa "
Sean memeluk Sbastian
" Iya , papa berangkat sama Aloe sedangkan Lao juga Mao di sini buat kalian "
Sbastian memberikan handphone kepada Sean dan mencium kening Sean sekali lagi
" Papa berangkat assalamualaikum "
Sbastian bergegas pergi keluar
" Wa'alaikum salam "
Sean tersenyum
" Mao Mao "
Sean berteriak dan datanglah Mao
" Apa papa sudah berangkat "
Sean meletakkan bukunya
" Baru saja menaiki lift "
Mao menjawab
" Setelah papa berangkat kumpulkan semua prajurit yang tadi pagi bertugas , aku tau mereka belum pulang aku akan menanyakan sesuatu kepada mereka "
Sean menyingkap selimutnya
" Biar saya bantu "
Mao membantu Sean naik ke atas kursi roda
" Saya akan menyiapkan mereka "
Mao undur diri dan Sean mulai melakukan kursi rodanya dengan santai hingga lantai bawah
" Sean "
Suara lion membuat Sean berhenti
" Mau kemana "
Lion mendorong kursi roda Sean
" Ke halaman depan "
Sean menunjuk pintu utama
" Aku antar "
Lion mendorong kursi roda Sean hingga keluar dari pintu utama
" Salam tuan muda "
Semuanya serempak mengucap salam di pimpin oleh ke lima pimpinan yang tersisa di sana
" Yang tadi pagi mengikutiku dan papa menuju rumah sakit silahkan berdiri di belakang "
Sean menunjuk belakangnya
" Baik "
Mereka semua terlihat terpisah pisah , dua puluh orang berbaris di belakang Sean termasuk ke enam pimpinan dan menyisakan sekitar enam puluh lebih penjaga yang berdiri bersama Lao yang ikut andil bagian dalam kelalaian menjaga satu anak kecil
" Aku mau bertanya "
Sean menyenderkan tubuhnya
" Mengapa para penyusup bisa masuk ke dalam kamar Aniel , sedangkan biasanya mereka mengincarku atau papa "
Sean membuat para penjaga berbisik
" Maaf tuan kami tidak tau , tapi menurut kami para penyusup hari ini lebih handal dari pada yang sebelumnya "
Salah satu penjaga yang paling depan menjawab
" Oh... Seperti itu , bawa para penyusup itu kemari "
Sean memerintahkan dan Mao datang dengan membawa dua puluh penyusup yang sudah babak belur tak terbentuk
" Mereka hanya dua puluh dan di kategorikan dalam level rendah dan kalian tidak bisa menangkap satupun dari mereka"
Sean membuat separuh para penjaga kembali berbisik namun Lao dan separuh penjaga menunduk
" Maaf tuan muda , saya bersalah , anda dapat menghukum saya "
Lao dan Mao berlutut di depan Sean di ikuti separuh penjaga yang memisahkan diri dan ikut berlutut dengan satu kaki di belakang Lao
" Mereka ini wanita dan mau mengakui kesalahannya , kenapa kalian para pria tidak memiliki jiwa kepemimpinan sama sekali , kalian ini imam lho "
Sean membuat pernyataan yang menohok untuk para penjaga
" Maaf tuan , kami bersalah "
Para penjaga yang tersisa serempak membungkuk
" Sudahlah , Mao , jika mereka masih menganggap bahwa kita di sini lemah , tolong pulangkan saja mereka , kirim pesan kepada pimpinan mereka bahwa tuan rumah sudah tidak membutuhkan mereka lagi "
Sean meninggalkan mereka dan masuk di ikuti Leon
" Tunggu tuan Sean , tolong jangan , kami meminta maaf atas kelalaian yang kami buat "
Para pemimpin empat , lima dan enam mengejar Sean yang sudah masuk ke dalam rumah
" Hahaha "
Suara khas yang di kenal para prajurit yang bukan dari perusahaan Sbastian membuat mereka terkejut
Sebuah hologram besar muncul dengan gambar seorang pria bertopi membuat mereka terkejut
" Kalian benar-benar membuat Sean kecilku marah ya "
Suara tuan Coce yang sangat mereka kenal membuat mereka terkejut
" kami mohon maaf tuan "
Separuh dari para penjaga yang berdiri di belakang Lao dan Mao tiba-tiba berlutut
" Kamu Mao dan Lao ya , terimakasih ya kalian menjaga Sean "
Suara tuan Coce yang imut membuat dua puluh penjaga yang berbaris sedikit terkekeh
" Beberapa dari kalian bukanlah pasukanku , tapi aku yakin kalau kalian sudah mendengarkan banyak hal tentangku , aku minta tolong jaga keluarga Sean kecilku , sekian , hukuman kalian aku hilangkan "
Suara tuan Coce berhenti
" Terimakasih tuan "
Setengah dari mereka menunduk hormat dan hologram hitam itu menghilang
Dua hari berlalu , kali ini Sean sudah siap untuk pergi ke sekolah , tapi halangan terbesarnya adalah Aniel yang tidak mau melepaskannya
" Kakak mau berangkat "
Sean yang sudah rapih dengan seragam merah putih mencoba melepaskan Aniel dari kursi rodanya
" Dak au dak au HUAAAA "
( Ngak mau ngak mau HUAAAAAA )
Aniel menangis dengan kencang membuat Sbastian kewalahan
" Hiks... Hiks... Aniel jahat "
Sean mulai menitikkan air matanya membuat Sbastian memijit kepalanya
" Tak ean anis "
( Kak Sean nangis )
Aniel berhenti menangis dan memegangi kaki Sean
" Aniel jahat , kakak ngak boleh sekolah , terus nanti kakak ketinggalan pelajaran , Aniel jahat "
Sean menutup wajahnya dengan kedua tangannya
" Aaf iel dak tal agi , tak ean nan anis "
( Aniel maaf ngak nakal lagi , kak Sean jangan nangis )
Aniel yang masih penuh dengan ingus dan air mata , mencoba menaiki kursi roda Sean
" Iel aaf "
( Aniel maaf )
Aniel di dudukkan Sbastian di atas pangkuan Sean
" Hm... Janji ya gak nangis "
Sean memberikan jari kelingkingnya
" Iya "
Aniel mengangguk
" Nanti tunggu kak Sean pulang ya , jam dua belas , di sini "
Sean menunjuk sofa single ruang tamu
" Iya , api tak ean ji ulang am lalas ya "
( Iya , tapi kak Sean janji pulang jam dua belas ya )
Aniel menarik kelingking Sean
" Janji janji "
Sean mengangguk
" Kakak berangkat dulu ya "
Sean mencium pipi Aniel
" Ya , babay "
Aniel melambaikan tangannya saat Sbastian menggendong Aniel
" Papa berangkat dulu ya sayang "
Sbastian mencium kening Aniel dan memberikan Aniel kepada Lao
" Pet ulang ya papa "
( Cepetan pulang ya papa )
Aniel melambaikan tangannya dan di balas lambaian tangan oleh Sbastian dan Sean
" Ribet "
Sean memonyongkan bibirnya
" Namanya juga anak kecil "
Sbastian terkekeh
" Ini uang jajannya ya "
Sbastian memberikan uang sebesar Rp 10.000
__ADS_1
" papa mau kamu bisa menyimpan uang dari yang papa kasih , ntah itu Lima ratus atau seribu , asal kamu tiap hari nabung , nanti papa siapkan tempat menyimpan uang dan buku tabungan "
Sbastian menaikkan Sean ke dalam mobil