Aku Pangeran

Aku Pangeran
#86 ( operasi )


__ADS_3

" Aku bertanya siapa yang mendalangi semua ini "


Sean menatap Diablo dengan tatapan penuh amarah


" Anda tidak perlu memikirkannya , ini urusan tuan besar "


Diablo terlihat keheranan dengan kalimat Sean


" Hm... "


Sean mengalihkan pandangannya


" Sean cucuku "


Terdengar suara pak Sam


" Kakek "


Sean terkejut


" Apa yang terluka hm.. "


Pak Sam dengan derai air mata memeriksa seluruh tubuh Sean


" Sean baik kek.. Sean takut... Hiks.. kakek "


Sean memeluk pak Sam dan menitikkan air mata


" Dia menangis "


Diablo ternganga


" Syukurlah kamu baik baik saja "


Pak Sam terduduk di lantai sambil memeluk Sean


" Paman.. anda duduklah di atas "


Diablo membantu pak Sam duduk di atas kursi tunggu


" Bagaimana dengan papa dan adik "


Pak Sam membelai rambut Sean yang masih saja belum di potong sejak dirinya sadar dari koma


" Sean ngak tau "


Sean menggeleng dan menunduk


" Yang sabar ya sayang "


Pak Sam mencium kening Sean dan memeluknya erat


" Sean "


Sebuah suara membuat semua mengalihkan pandangannya


" Paman Kelvin "


Sean langsung masuk ke dalam gendongan Kelvin


Pak Sam dan Kelvin bertatapan mata sebentar


" A..aku akan membawanya sebentar"


Kelvin membawa Sean berlalu pergi dan membuat pak Sam terkejut namun Diablo segera menjelaskan


" Paman menangkap semua pelaku , mereka ada di markas utama "


Kelvin membawa Sean ke parkiran


" Kita ke sana sekarang "


Sean mengangguk


Kelvin dengan kecepatan tinggi membawa Sean menuju markas utama hanya dengan waktu lima belas menit


" Salam tuan Kelvin "


Penjaga gerbang utama membungkuk hormat kepada Kelvin


Kelvin membawa Sean masuk ke dalam sebuah ruangan dan terlihat di sana dua belas orang terikat di antara tiang-tiang dengan mulut tersumpal


" Salam tuan "


Semua penjaga di sana membungkuk hormat


" Duduklah "


Kelvin mendudukkan Sean di kursi yang terletak di tengah-tengah ruangan dan membuat semua orang terkejut


Kursi yang pimpinan mereka bilang hanya boleh di duduki tuan besar , kini di duduki oleh seorang anak kecil yang masih meminum susu di gelas


" Siapa yang memimpin "


Kelvin bertanya


" Ini pimpinan mereka tuan "


Salah satu dari mereka memberitahu


" Oh.. lalu siapa yang mendalangi semuanya"


Sean menyangga kepalanya dengan satu tangannya membuat semua orang keheranan


" Apakah dia yang di katakan tuan besar oleh komandan Kelvin "


Mereka membatin


" Ini berkas-berkas yang kami dapatkan "


Sean di berikan beberapa berkas yang berisi informasi tentang apa yang ingin Sean dapatkan


" Berikan aku pistol "


Sean menjulurkan tangannya


" Ini tuan "


Sean diberikan satu pistol pendek


" Hm... Menyebabkan kematian pada dua orang anak "


*Dor


Sean menembak salah satu dari mereka dan membuat seisi ruangan terkejut


" Menyebabkan satu lansia terpaksa di amputasi "


*Dor


Sean kembali menembak salah satu dari mereka..dan itu tepat di kepala membuat orang-orang menelan ludahnya kasar


" Hm... Berdoalah agar papa dan adikku baik-baik saja "


Sean meletakkan pistolnya di atas meja


" Nona Mao datang "


Salah satu dari mereka memberitahu


" Tuan apa yang anda lakukan "


Mao langsung memeriksa Sean


" Bagaimana dengan papa dan Aniel "


Sean melirik Mao


Hening...


Mao tidak menjawab


" Mao.. katakan apa yang terjadi dengan papa dan Aniel "


Sean mengambil kembali pistolnya


Lagi-lagi Mao tidak menjawab


" Pergilah Mao , pulanglah "


Sean membuat Mao terbelalak


" Tidak tuan tidak , jangan meminta saya untuk pulang , saya akan berterus terang.. saya mohon "


Mao menangkupkan kedua tangannya


" Bagaimana dengan papa "


Sean meletakkan pistolnya


" Ada sebuah peluru yang menembus kepala tuan Sbastian dan saya harus melakukan operasi kecil "


Mao berhenti


" Operasinya berhasil kan "


Sean menyentuh pipi Mao


" Iya namun... "


Mao menunduk


" Kenapa Mao "


Sean mengangkat dagu Mao


" Tuan sedang dalam keadaan koma "


Mao menatap manik mata Sean


" Apa ini tuan Sean yang aku kenal dulu , aku tidak melihat air mata kesedihan di manik mata kecil itu , kemarahan dan kebencian menutup semua "


Mao membatin


" Papaku akan koma berapa lama "


Sean melepaskan dagu Mao


" Saya tidak mengerti "


Mao menggeleng


" Lalu apa yang terjadi dengan Aniel "


Sean menyandarkan punggungnya


" Serpihan kaca menembus kelopak mata nona muda.. "


Mao berhenti


" Apa maksudmu "


Sean mencengkram erat pundak Mao


" Retina kedua mata nona muda rusak "


Mao menunjukkan hasil rontgen


" Apa yang harus ku lakukan "


Terlihat Sean mulai berkaca-kaca


" Nona muda harus menemukan pendonor mata yang cocok jika ingin mengembalikan pengelihatannya "


Mao menunjukkan hasil rontgen lainnya


" Makamkan mereka dengan layak "


Sean menjauhkan ponsel Mao


" Saya mengerti tuan "


Kelvin mengangguk dan memerintahkan


" Aku mau melihat papa dan Aniel "


Sean masuk ke dalam pelukan Mao


" Kalian semua bersiaplah , ikut denganku ke rumah sakit "


Sean memerintahkan


" Baik tuan "


Mereka semua membungkuk hormat meski sedikit tidak mengerti


Sean kembali ke rumah sakit dengan iringan banyak penjaga


Di parkiran


" Dimana kursi rodaku Mao "


Sean menahan Mao saat Mao akan mengangkatnya


" Kursi roda anda hancur saat kecelakaan "


Mao memberitahu


" Baiklah "


Sean masuk ke dalam gendongan Mao


Diablo dan yang lainnya terkejut melihat tim elit satu yang jarang terlihat dan terlibat banyak kasus


" Tim elit berkumpul di sini , dan tim elit satu sekarang datang , siapa sebenarnya keluarga tuan Sbastian ini , apa pentingnya keluarga tuan Sbastian bagi tuan besar "


Diablo mengerenyitkan keningnya


Tim elit satu di sebarkan di sekitar oleh Mao , semua orang tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruang rawat secara sembarangan


Ruangan Lao dan Aloe bersebelahan dengan ruangan Sbastian dan Aniel , dan semua penjaga terlihat siap siaga , dari segi kesiapan fisik maupun kejelian


" Tuan Luis dan tuan Arka , saya mau berbicara "


Sebelum Sean masuk ke dalam ruangan Sbastian , Sean berhenti sejenak dan memperhatikan sekitar


Luis dan Arka adalah pimpinan keamanan tim elit dan tim elit satu yang di pilih langsung oleh Sean dan Kelvin


" Baik tuan "


Mereka masuk mengikuti Sean


" Dimana kakek "


Sean menyingkap kelambu Sbastian dan terlihat di setengah badan Sbastian terbalut perban


" Tuan Sam sudah saya pulangkan , saya tidak ingin beliau drop lagi "


Mao menjawab


" Apa luka papa sangat parah "


Sean di dudukkan di atas kursi


" Cukup parah di daerah punggung karena terkena percikan api , namun daerah lainnya tidak perlu di khawatirkan "


Mao menjawab


" Maaf ya papa , Sean lalai "


Sean menggenggam tangan Sbastian


" Sean cuma bisa doa buat papa , Sean janji akan jadi lebih kuat setelah ini "


Sean meletakkan keningnya di atas punggung tangan Sbastian


" Mao , bagaimana dengan si kecil "


Sean melepaskan tangan Sbastian


" Di sebelah tuan "

__ADS_1


Mao mengangkat Sean dari kursinya dan membawa Sean menuju Aniel yang di letakkan di samping Sbastian


" Hai kecil "


Sean memegang tangan kiri Aniel


" Kenapa dengan tangan kanannya "


Sean melihat tangan kanan Aniel yang di perban hingga batas bahu


" Terkena api "


Mao menjawab


" Mengapa hanya matanya yang terkena kaca "


Sean mengusap lengan Aniel


" Jika saya simpulkan , kepala nona Aniel tidak terlindungi saat tuan Sbastian melindungi tubuh nona Aniel karena tuan Sbastian terlebih dahulu tertembak dan pecahan kaca tembakan langsung menuju wajah nona "


Mao mendeskripsikan


" Yah... Dan bagian mata Aniel yang paling parah "


Sean memperhatikan bahwa wajah Aniel memang terlihat sangat parah dengan banyak perban menghinggapi wajah kecilnya


" iya tuan "


Mao mengangguk


" Apa matanya bisa di selamatkan "


Sean menoleh


" Dengan donor mata , mata nona Aniel terluka dalam dan tidak bisa di selamatkan"


Mao menjawab


" Donor ya "


Sean menatap Aniel sayu


" Apa mataku bisa menggantikannya "


Sean membuat Mao terkejut


" Apa maksud anda... Saya akan mencarikan pendonor secepatnya "


Mao memegang pundak Sean


" Berapa usia yang diperlukan agar Aniel bisa di operasi "


Sean meletakkan tangan Aniel di pipinya


" Lima tahun "


Mao menjawab


" Empat tahun lagi... Lama sekali "


Sean memejamkan matanya


" Baiklah Mao , periksa apakah mataku cocok dengan Aniel "


Sean melepaskan tangan Aniel


" Tapi tuan , dalam jangka waktu itu saya akan.. "


Saat Mao berbicara Sean menghentikannya


" Periksa saja Mao "


Sean tersenyum


" Oh iya , aku melupakan paman "


Sean menatap Arka dan Luis


" Tolong jaga papa dan adikku saat aku tidak di sini "


Sean tersenyum


" Tuan.. saya minta maaf , saya lalai "


Arka membungkuk


" Tidak apa , Tujuanku sekarang hanya kesembuhan papa dan Aniel , biarkan mereka untuk sekarang , tetap awasi saja , jangan di lepas "


Sean tersenyum


" Baik tuan kami mengerti , kami permisi "


Mereka membungkuk dan pergi keluar


" Ayo Mao , kita periksa mataku "


Sean membuat Mao terdiam


" Tuan.. "


Mao berlutut di depan Sean


" Jangan tuan , saya akan meminta tuan Diablo mencari pendonor secepatnya "


Mao terlihat khawatir


" Aku akan membatalkannya jika di usia Aniel yang kelima tahun kalian menemukan pendonor , tapi jika tidak maka nanti pendonor itu untukku "


Sean menepuk pundak Mao


Dengan perdebatan kecil , akhirnya Sean meyakinkan Mao untuk memeriksa apakah Sean cocok dengan Aniel


Rumah sakit kasih sayang di dirikan oleh Sean atas nama samarannya , dengan uang yang mengalir dari perusahaan , Sean memberikan yang terbaik untuk fasilitas rumah sakit agar orang-orang yang berobat merasa nyaman


" Bagaimana Mao "


Sean menunggu hasil


"..."


Mao terdiam


" Mao "


Sean menaikkan alisnya


" Cocok tuan "


Mao dengan berat hati mengangguk


" Baguslah , tidak perlu khawatir lagi untuk pendonor mata Aniel "


Sean tersenyum lega


" Tuan "


Aniel memeluk Sean dan terdengar isakan lirih dari mulut Mao


" Hei.. kenapa kamu yang menangis di sini "


Sean mengusap kepala Mao yang terletak di atas pangkuannya


" Jangan tuan... Saya akan mencarikan solusi lain , anda jangan begini "


Mao menggeleng pelan


" Carikanlah.. setidaknya aku lega karena karena Aniel bisa di operasi secepatnya saat usianya memumpuni "


Sean mengusap kepala Mao


" Tuan.. hiks.. "


Mao menatap Sean


" Jangan menangis macan kecil "


Sean mengusap air mata Mao


" Jangan ya tuan "


" Tenanglah Mao haha "


Sean terkekeh


" Kapan kira-kira papa dan Aniel siuman "


Sean mengusap kepala Mao


" Hiks.. saya tidak tau hiks.. mungkin esok untuk nona muda , namun untuk tuan Sbastian saya tidak bisa memastikan , beliau saat ini sedang keadaan tidak stabil"


Mao mengusap air matanya


" Baiklah... Lakukan apapun untuk papa , pisahkan kamar papa dan Aniel , sekarang ayo kita pulang dulu , aku mau istirahat "


Sean mengusap kepala Mao dan Mao mengangguk


" Tuan belum makan siang ini , kita makan dulu ya "


Mao membawa Sean ke dalam gendongannya


" Aku ngak laper Mao , kita ke papa dulu "


Sean memeluk leher Mao


Mao membawa Sean menuju Sbastian dan mendudukkan Sean di samping Sbastian


" Papa doakan Sean ya "


Sean meletakkan keningnya di atas tangan Sbastian


Setelah itu Sean pulang bersama Mao dan Diablo , selama perjalanan pulang , Sean terdiam ,melihat keluar jendela mobil dengan tatapan kosong selama perjalanan hingga sampai di rumah impian


" Tuan muda.. apa tuan baik-baik saja , bibi khawatir sekali "


Bi Aini langsung membawa Sean ke dalam gendongannya dan memeriksa seluruh tubuh Sean


" Sean baik bi , jangan khawatir "


Sean tersenyum


" Tuan muda "


Terlihat sitter azza berlari bersama asisten John


" Apa yang terjadi "


Sitter azza mengambil Sean dari gendongan bi Aini dan memeluknya


" Hiks.. bunda "


Sean memeluk sitter azza dan mulai meluruhkan air matanya yang sedari tadi tidak ada


" Tidur di rumah bunda ya "


Sitter azza memeluk Sean


" Sean mau istirahat di sini saja "


Sean menolak


" Bunda antar ya "


Sitter azza mendudukkan Sean di atas sofa


" Tidak bunda , Sean mau sendiri "


Sean menggeleng


" Lagipun ada Mao di sini "


Sean tersenyum


" Baiklah.. kamu baik-baik ya sayang "


Sitter azza memeluk Sean dan membiarkan Sean di bawa oleh Mao


" Babay bunda "


Sean melambaikan tangannya


" Hei.. dia baik-baik saja , kamu tenang saja"


Asisten John merangkul sitter azza


" Kasihan Sean kecilku "


Sitter azza memeluk asisten John


" Kamu pulanglah , aku akan sibuk akhir akhir ini , aku akan mengatur banyak hal untuk tuan dan nona muda , tunggu aku di rumah "


Asisten John mencium kening sitter azza


" Baiklah "


Sitter azza mengangguk


Di kamar Sean


" Tinggalkan aku sendiri "


Sean di baringkan di atas tempat tidur


" Tapi tuan "


Mao terlihat keberatan


" Aku akan istirahat , tenanglah "


Sean mengusap kepala Mao


" Baiklah "


Mao berjalan keluar dan menutup pintu


" Dimana obatku "


Sean membuka laci bagian atas dan mengambil satu kotak obat buatan Mao


" Aku harus sembuh "


*Glup


Sean memakan lima pil buatan Mao


" Huh... Dadaku sesak "


Sean mencengkram erat dadanya


*Bruk


Sean terjatuh dari atas tempat tidurnya


" Uhuk..uhuk "


Sean mulai batuk batuk dan mengeluarkan darah hitam kental


" Darahnya banyak "


Sean mengusap mimisan yang mulai keluar dari hidungnya


" Uhuk.. uhuk.. huh... Telingaku berdarah "


Sean mengusap darah yang mulai keluar dari telinganya


" Telingaku berdenging , sakit sekali "


Sean memukul kecil kepalanya dan membuat telinga nya semakin banyak mengeluarkan darah


" Huek.. papa.. huh... Sakit sekali dadaku"


Sean memukul mukul dadanya

__ADS_1


" Ini demi papa dan Aniel , aku harus bertahan "


Sean menyeka air matanya


Darah Sean mulai perlahan berhenti setelah karpet bulu kesayangan Mao berlumuran darah


Di luar kamar


" Kenapa nona Mao "


Rudi bertanya saat Mao mulai mengendus pintu kamar Sean


" Bau pil "


Mao membuka pintu kamar dan terlihat Sean sedang menyeka darah yang keluar dari hidungnya


" Apa yang anda lakukan tuan "


Mao berlari dan dengan cekatan Mao menggunakan pakaiannya untuk mengusap darah yang bercucuran dari hidung dan telinga Sean


" Mao.. telingaku berdenging "


Sean mencengkram erat lengan Mao


" Ambilkan tiga kantong darah , cepat "


Mao berteriak


Mao melepas pakaian Sean dan memandikan Sean hingga darah yang keluar dari tubuh Sean berhenti mengalir


" Ini nona "


Para pengawal memberikan tiga kantong darah dan beberapa selang transfusi


" Minta bi Aini siapkan satu gelas susu , dan satu porsi makanan penambah darah , ingat jangan orang lain "


Mao berteriak dari kamar mandi


" Baik nona "


Salah satu dari mereka turun ke bawah


" Kenapa anda melakukan ini "


Mao dengan sedikit mengomel , membawa Sean keluar dari kamar mandi


" Apa racunnya sudah keluar semua "


Sean dengan genggaman yang lemah menatap Mao


" Racun anda memang sudah keluar semua , tapi nyawa anda taruhannya , tolong jangan seperti ini lagi tuan "


Mao memasangkan mentransfusi darah untuk Sean


Tidak lama dua maid datang untuk membersihkan darah Sean yang masih tercecer di lantai


" Buang saja karpetnya , bakar di belakang , dan dimana susu tuan muda "


Mao memakaikan pakaian untuk Sean


" Makanan sebentar lagi datang , saya akan membakar ini di belakang "


Maid itu pergi keluar dengan karpet bulu yang penuh dengan darah Sean


" Ikuti maid itu , pastikan dia membakar karpet itu "


Mao berbisik dengan penjaga pintu


" Baik nona "


Penjaga pintu itu mengikuti sang pelayan


" Nona Mao "


Maid yang ada di dalam memanggil dan Mao menutup pintu


" Ya "


Mao menoleh


*Bug


Sebuah pukulan keras menghantam Mao


" Apa apaan kamu "


Mao memegangi keningnya yang berdarah


" Sialan "


Mao merubah dirinya menjadi macan dan membuat pelayan itu ketakutan


" A..apa kamu siapa tau "


Pelayan itu mulai gelagapan


" Pelayan ini sepertinya tidak bisa berbicara dengan benar "


Mao terkekeh


" A..ampun "


Pelayan itu terlihat sangat pucat


" Kesalahan yang besar nona muda "


*Krak


Mao mencakar wajah pelayan itu dan kembali menjadi manusia


" Pengawal "


Mao berteriak dan satu pengawal masuk


" Nona "


Luga masuk dan melihat Mao memegangi keningnya yang berdarah


" Mengapa ada penyusup di sini "


Mao menghampiri Sean dan memeriksanya


" Saya akan membawanya menuju tuan Diablo "


Luga membawa wanita itu pergi keluar


" Sialan "


Mao menyeka keningnya dan membenarkan selang transfusi Sean


" Keamanan "


Mao berteriak


" Kenapa nona "


Ramlan masuk dengan tergesa-gesa


" Periksa semua orang di sini , kenapa ada satu penyusup bisa masuk ke dalam rumah , mulai sekarang jangan izinkan satupun pelayan masuk ke sini ataupun naik ke lantai tiga "


Mao memerintahkan


" Baik nona "


Ramlan mengangguk dan berjalan keluar


" Kenapa Mao "


Suara Sean terdengar lirih


" Tuan.. anda baik-baik saja kan "


Mao menyentuh kening Sean


" Aku baik "


Sean tersenyum


*Tok..tok


Terdengar suara pintu diketuk


" Sebentar ya "


Mao berjalan membuka pintu


" Ini susu untuk tuan muda "


Terlihat Ramlan memberikan sebuah nampan


" Terimakasih "


Mao menerima dan menutup pintu


" Tuan.. mari kita makan "


Mao mengambil kursi dan duduk di samping Sean


" Anda harus mengembalikan tenaga anda "


Mao mulai menyuapi Sean perlahan


" Mao.. "


Sean memanggil


" Iya tuan "


Mao mengusap pipi Sean yang tertinggal sebutir nasi


" Dimana penyaring mimpiku "


Sean memakan satu suapan terakhir


" Benda itu masih dalam perjalanan "


Mao menjawab


" Tolong segera lakukan penyelidikan untuk wanita kemarin "


Sean memejamkan matanya


" Saya mengerti tuan "


Mao mengangguk


" Aku akan istirahat "


Sean memeluk guling Aniel yang memang ada di dalam kamarnya


Mao menunggu Sean hingga kembali bangun dari tidurnya agar Sean tidak melakukan banyak hal yang macam-macam seperti tadi


Pukul sembilan malam


" Mao "


Sean membuka matanya


" Saya di sini tuan "


Mao menghampiri Sean


" Ayo kita ke rumah sakit Mao "


Sean mendudukkan dirinya


" Aku bisa merasakan kakiku Mao "


Sean tersenyum


" Iya tuan , namun kondisi anda kurang stabil , kita di rumah dulu , setelah anda baikan nanti baru ke rumah sakit "


Mao membenahi kantong darah Sean


" Kita pergi sekarang Mao "


Sean menurunkan kakinya dari atas tempat tidur


" Tapi tuan , kondisi anda kurang stabil "


Mao menahan Sean


" Kita berangkat "


Sean menyisihkan tangan Mao dari pundaknya


" Tapi tuan "


Mao menahan Sean


" Kalau kau tidak mau mengantarku , aku bisa berangkat sendiri "


Sean melirik Mao


" Baik baik , kita berangkat "


Setelah Mao melepaskan selang transfusi darah Sean , Mao membawa Sean menuju lemari dan mengambil jaket bulu Sean


Mao membawa Sean menuju lantai bawah dan di sana sudah di sambut sekeluarga besar yang tidak ada habis-habisnya mengoceh


" Sean kamu baik-baik saja kan "


Liona menghampiri Sean dan memegang pipi Sean


" Sean baik , istirahat saja di atas , kalian pasti lelah "


Sean menepis tangan liona


" PASTI KAMU YANG MENYEBABKAN PUTRAKU SEPERTI INI , KENAPA HANYA KAMU YANG SELAMAT , SEHARUSNYA KAMU MATI SAJA DI SANA "


Terdengar nafas memburu dan sedikit isakan kecil dari mulut mama Sbastian


" Mama , Sean ini masih kecil , dia tidak bersalah "


Papa memeluk mama


" ENGGAK PA , KAMU LIAT PA..KENAPA CUMA ANAK BUANGAN INI YANG SELAMAT , KENAPA BUKAN DIA YANG MATI DI SANA , DIA EMANG ANAK PEMBAWA SIAL "


Mama seakan tidak terima jika papa tidak membelanya


" Iya ya Mao , kenapa cuma aku ya yang selamat "


Kalimat Sean membuat semua orang di sana terkejut bukan main


" Tuan jangan berbicara seperti itu , seharusnya anda bersyukur bahwa anda selamat , dengan ini anda bisa merawat tuan Sbastian dan nona muda "


Mao membawa Sean keluar dan menghiraukan keluarga Sbastian


" Tapi nenek benar , kenapa hanya aku yang selamat "


Sean membuat semua orang iba tentangnya , bagaimana bisa seorang anak kecil berpikir tentang itu


" Tapi Mao... Ini benar-benar janggal , kenapa hanya aku yang selamat "


Sean membuat langkah Mao terhenti


" Maksud anda "


Mao menatap Sean


" Ini tidak benar Mao , kenapa mereka menembak dan membakar setelah aku keluar dari mobil "


Sean menatap Mao balik


" Anda benar , kenapa hanya anda yang selamat "


Mao mengerenyitkan keningnya


" Kita ke rumah sakit sekarang , aku yakin terjadi sesuatu di sana , kita pergi Mao... Ayo "


Sean memukul-mukul pundak Mao dan Mao berlari menuju garasi melewati pintu samping

__ADS_1


" kita akan berangkat tuan "


Mao mendudukkan Sean di kursi belakang dan mengenakan sabuk pengaman untuk Sean


__ADS_2