
" Aku bertanya siapa yang mendalangi semua ini "
Sean menatap Diablo dengan tatapan penuh amarah
" Anda tidak perlu memikirkannya , ini urusan tuan besar "
Diablo terlihat keheranan dengan kalimat Sean
" Hm... "
Sean mengalihkan pandangannya
" Sean cucuku "
Terdengar suara pak Sam
" Kakek "
Sean terkejut
" Apa yang terluka hm.. "
Pak Sam dengan derai air mata memeriksa seluruh tubuh Sean
" Sean baik kek.. Sean takut... Hiks.. kakek "
Sean memeluk pak Sam dan menitikkan air mata
" Dia menangis "
Diablo ternganga
" Syukurlah kamu baik baik saja "
Pak Sam terduduk di lantai sambil memeluk Sean
" Paman.. anda duduklah di atas "
Diablo membantu pak Sam duduk di atas kursi tunggu
" Bagaimana dengan papa dan adik "
Pak Sam membelai rambut Sean yang masih saja belum di potong sejak dirinya sadar dari koma
" Sean ngak tau "
Sean menggeleng dan menunduk
" Yang sabar ya sayang "
Pak Sam mencium kening Sean dan memeluknya erat
" Sean "
Sebuah suara membuat semua mengalihkan pandangannya
" Paman Kelvin "
Sean langsung masuk ke dalam gendongan Kelvin
Pak Sam dan Kelvin bertatapan mata sebentar
" A..aku akan membawanya sebentar"
Kelvin membawa Sean berlalu pergi dan membuat pak Sam terkejut namun Diablo segera menjelaskan
" Paman menangkap semua pelaku , mereka ada di markas utama "
Kelvin membawa Sean ke parkiran
" Kita ke sana sekarang "
Sean mengangguk
Kelvin dengan kecepatan tinggi membawa Sean menuju markas utama hanya dengan waktu lima belas menit
" Salam tuan Kelvin "
Penjaga gerbang utama membungkuk hormat kepada Kelvin
Kelvin membawa Sean masuk ke dalam sebuah ruangan dan terlihat di sana dua belas orang terikat di antara tiang-tiang dengan mulut tersumpal
" Salam tuan "
Semua penjaga di sana membungkuk hormat
" Duduklah "
Kelvin mendudukkan Sean di kursi yang terletak di tengah-tengah ruangan dan membuat semua orang terkejut
Kursi yang pimpinan mereka bilang hanya boleh di duduki tuan besar , kini di duduki oleh seorang anak kecil yang masih meminum susu di gelas
" Siapa yang memimpin "
Kelvin bertanya
" Ini pimpinan mereka tuan "
Salah satu dari mereka memberitahu
" Oh.. lalu siapa yang mendalangi semuanya"
Sean menyangga kepalanya dengan satu tangannya membuat semua orang keheranan
" Apakah dia yang di katakan tuan besar oleh komandan Kelvin "
Mereka membatin
" Ini berkas-berkas yang kami dapatkan "
Sean di berikan beberapa berkas yang berisi informasi tentang apa yang ingin Sean dapatkan
" Berikan aku pistol "
Sean menjulurkan tangannya
" Ini tuan "
Sean diberikan satu pistol pendek
" Hm... Menyebabkan kematian pada dua orang anak "
*Dor
Sean menembak salah satu dari mereka dan membuat seisi ruangan terkejut
" Menyebabkan satu lansia terpaksa di amputasi "
*Dor
Sean kembali menembak salah satu dari mereka..dan itu tepat di kepala membuat orang-orang menelan ludahnya kasar
" Hm... Berdoalah agar papa dan adikku baik-baik saja "
Sean meletakkan pistolnya di atas meja
" Nona Mao datang "
Salah satu dari mereka memberitahu
" Tuan apa yang anda lakukan "
Mao langsung memeriksa Sean
" Bagaimana dengan papa dan Aniel "
Sean melirik Mao
Hening...
Mao tidak menjawab
" Mao.. katakan apa yang terjadi dengan papa dan Aniel "
Sean mengambil kembali pistolnya
Lagi-lagi Mao tidak menjawab
" Pergilah Mao , pulanglah "
Sean membuat Mao terbelalak
" Tidak tuan tidak , jangan meminta saya untuk pulang , saya akan berterus terang.. saya mohon "
Mao menangkupkan kedua tangannya
" Bagaimana dengan papa "
Sean meletakkan pistolnya
" Ada sebuah peluru yang menembus kepala tuan Sbastian dan saya harus melakukan operasi kecil "
Mao berhenti
" Operasinya berhasil kan "
Sean menyentuh pipi Mao
" Iya namun... "
Mao menunduk
" Kenapa Mao "
Sean mengangkat dagu Mao
" Tuan sedang dalam keadaan koma "
Mao menatap manik mata Sean
" Apa ini tuan Sean yang aku kenal dulu , aku tidak melihat air mata kesedihan di manik mata kecil itu , kemarahan dan kebencian menutup semua "
Mao membatin
" Papaku akan koma berapa lama "
Sean melepaskan dagu Mao
" Saya tidak mengerti "
Mao menggeleng
" Lalu apa yang terjadi dengan Aniel "
Sean menyandarkan punggungnya
" Serpihan kaca menembus kelopak mata nona muda.. "
Mao berhenti
" Apa maksudmu "
Sean mencengkram erat pundak Mao
" Retina kedua mata nona muda rusak "
Mao menunjukkan hasil rontgen
" Apa yang harus ku lakukan "
Terlihat Sean mulai berkaca-kaca
" Nona muda harus menemukan pendonor mata yang cocok jika ingin mengembalikan pengelihatannya "
Mao menunjukkan hasil rontgen lainnya
" Makamkan mereka dengan layak "
Sean menjauhkan ponsel Mao
" Saya mengerti tuan "
Kelvin mengangguk dan memerintahkan
" Aku mau melihat papa dan Aniel "
Sean masuk ke dalam pelukan Mao
" Kalian semua bersiaplah , ikut denganku ke rumah sakit "
Sean memerintahkan
" Baik tuan "
Mereka semua membungkuk hormat meski sedikit tidak mengerti
Sean kembali ke rumah sakit dengan iringan banyak penjaga
Di parkiran
" Dimana kursi rodaku Mao "
Sean menahan Mao saat Mao akan mengangkatnya
" Kursi roda anda hancur saat kecelakaan "
Mao memberitahu
" Baiklah "
Sean masuk ke dalam gendongan Mao
Diablo dan yang lainnya terkejut melihat tim elit satu yang jarang terlihat dan terlibat banyak kasus
" Tim elit berkumpul di sini , dan tim elit satu sekarang datang , siapa sebenarnya keluarga tuan Sbastian ini , apa pentingnya keluarga tuan Sbastian bagi tuan besar "
Diablo mengerenyitkan keningnya
Tim elit satu di sebarkan di sekitar oleh Mao , semua orang tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruang rawat secara sembarangan
Ruangan Lao dan Aloe bersebelahan dengan ruangan Sbastian dan Aniel , dan semua penjaga terlihat siap siaga , dari segi kesiapan fisik maupun kejelian
" Tuan Luis dan tuan Arka , saya mau berbicara "
Sebelum Sean masuk ke dalam ruangan Sbastian , Sean berhenti sejenak dan memperhatikan sekitar
Luis dan Arka adalah pimpinan keamanan tim elit dan tim elit satu yang di pilih langsung oleh Sean dan Kelvin
" Baik tuan "
Mereka masuk mengikuti Sean
" Dimana kakek "
Sean menyingkap kelambu Sbastian dan terlihat di setengah badan Sbastian terbalut perban
" Tuan Sam sudah saya pulangkan , saya tidak ingin beliau drop lagi "
Mao menjawab
" Apa luka papa sangat parah "
Sean di dudukkan di atas kursi
" Cukup parah di daerah punggung karena terkena percikan api , namun daerah lainnya tidak perlu di khawatirkan "
Mao menjawab
" Maaf ya papa , Sean lalai "
Sean menggenggam tangan Sbastian
" Sean cuma bisa doa buat papa , Sean janji akan jadi lebih kuat setelah ini "
Sean meletakkan keningnya di atas punggung tangan Sbastian
" Mao , bagaimana dengan si kecil "
Sean melepaskan tangan Sbastian
" Di sebelah tuan "
__ADS_1
Mao mengangkat Sean dari kursinya dan membawa Sean menuju Aniel yang di letakkan di samping Sbastian
" Hai kecil "
Sean memegang tangan kiri Aniel
" Kenapa dengan tangan kanannya "
Sean melihat tangan kanan Aniel yang di perban hingga batas bahu
" Terkena api "
Mao menjawab
" Mengapa hanya matanya yang terkena kaca "
Sean mengusap lengan Aniel
" Jika saya simpulkan , kepala nona Aniel tidak terlindungi saat tuan Sbastian melindungi tubuh nona Aniel karena tuan Sbastian terlebih dahulu tertembak dan pecahan kaca tembakan langsung menuju wajah nona "
Mao mendeskripsikan
" Yah... Dan bagian mata Aniel yang paling parah "
Sean memperhatikan bahwa wajah Aniel memang terlihat sangat parah dengan banyak perban menghinggapi wajah kecilnya
" iya tuan "
Mao mengangguk
" Apa matanya bisa di selamatkan "
Sean menoleh
" Dengan donor mata , mata nona Aniel terluka dalam dan tidak bisa di selamatkan"
Mao menjawab
" Donor ya "
Sean menatap Aniel sayu
" Apa mataku bisa menggantikannya "
Sean membuat Mao terkejut
" Apa maksud anda... Saya akan mencarikan pendonor secepatnya "
Mao memegang pundak Sean
" Berapa usia yang diperlukan agar Aniel bisa di operasi "
Sean meletakkan tangan Aniel di pipinya
" Lima tahun "
Mao menjawab
" Empat tahun lagi... Lama sekali "
Sean memejamkan matanya
" Baiklah Mao , periksa apakah mataku cocok dengan Aniel "
Sean melepaskan tangan Aniel
" Tapi tuan , dalam jangka waktu itu saya akan.. "
Saat Mao berbicara Sean menghentikannya
" Periksa saja Mao "
Sean tersenyum
" Oh iya , aku melupakan paman "
Sean menatap Arka dan Luis
" Tolong jaga papa dan adikku saat aku tidak di sini "
Sean tersenyum
" Tuan.. saya minta maaf , saya lalai "
Arka membungkuk
" Tidak apa , Tujuanku sekarang hanya kesembuhan papa dan Aniel , biarkan mereka untuk sekarang , tetap awasi saja , jangan di lepas "
Sean tersenyum
" Baik tuan kami mengerti , kami permisi "
Mereka membungkuk dan pergi keluar
" Ayo Mao , kita periksa mataku "
Sean membuat Mao terdiam
" Tuan.. "
Mao berlutut di depan Sean
" Jangan tuan , saya akan meminta tuan Diablo mencari pendonor secepatnya "
Mao terlihat khawatir
" Aku akan membatalkannya jika di usia Aniel yang kelima tahun kalian menemukan pendonor , tapi jika tidak maka nanti pendonor itu untukku "
Sean menepuk pundak Mao
Dengan perdebatan kecil , akhirnya Sean meyakinkan Mao untuk memeriksa apakah Sean cocok dengan Aniel
Rumah sakit kasih sayang di dirikan oleh Sean atas nama samarannya , dengan uang yang mengalir dari perusahaan , Sean memberikan yang terbaik untuk fasilitas rumah sakit agar orang-orang yang berobat merasa nyaman
" Bagaimana Mao "
Sean menunggu hasil
"..."
Mao terdiam
" Mao "
Sean menaikkan alisnya
" Cocok tuan "
Mao dengan berat hati mengangguk
" Baguslah , tidak perlu khawatir lagi untuk pendonor mata Aniel "
Sean tersenyum lega
" Tuan "
Aniel memeluk Sean dan terdengar isakan lirih dari mulut Mao
" Hei.. kenapa kamu yang menangis di sini "
Sean mengusap kepala Mao yang terletak di atas pangkuannya
" Jangan tuan... Saya akan mencarikan solusi lain , anda jangan begini "
Mao menggeleng pelan
" Carikanlah.. setidaknya aku lega karena karena Aniel bisa di operasi secepatnya saat usianya memumpuni "
Sean mengusap kepala Mao
" Tuan.. hiks.. "
Mao menatap Sean
" Jangan menangis macan kecil "
Sean mengusap air mata Mao
" Jangan ya tuan "
" Tenanglah Mao haha "
Sean terkekeh
" Kapan kira-kira papa dan Aniel siuman "
Sean mengusap kepala Mao
" Hiks.. saya tidak tau hiks.. mungkin esok untuk nona muda , namun untuk tuan Sbastian saya tidak bisa memastikan , beliau saat ini sedang keadaan tidak stabil"
Mao mengusap air matanya
" Baiklah... Lakukan apapun untuk papa , pisahkan kamar papa dan Aniel , sekarang ayo kita pulang dulu , aku mau istirahat "
Sean mengusap kepala Mao dan Mao mengangguk
" Tuan belum makan siang ini , kita makan dulu ya "
Mao membawa Sean ke dalam gendongannya
" Aku ngak laper Mao , kita ke papa dulu "
Sean memeluk leher Mao
Mao membawa Sean menuju Sbastian dan mendudukkan Sean di samping Sbastian
" Papa doakan Sean ya "
Sean meletakkan keningnya di atas tangan Sbastian
Setelah itu Sean pulang bersama Mao dan Diablo , selama perjalanan pulang , Sean terdiam ,melihat keluar jendela mobil dengan tatapan kosong selama perjalanan hingga sampai di rumah impian
" Tuan muda.. apa tuan baik-baik saja , bibi khawatir sekali "
Bi Aini langsung membawa Sean ke dalam gendongannya dan memeriksa seluruh tubuh Sean
" Sean baik bi , jangan khawatir "
Sean tersenyum
" Tuan muda "
Terlihat sitter azza berlari bersama asisten John
" Apa yang terjadi "
Sitter azza mengambil Sean dari gendongan bi Aini dan memeluknya
" Hiks.. bunda "
Sean memeluk sitter azza dan mulai meluruhkan air matanya yang sedari tadi tidak ada
" Tidur di rumah bunda ya "
Sitter azza memeluk Sean
" Sean mau istirahat di sini saja "
Sean menolak
" Bunda antar ya "
Sitter azza mendudukkan Sean di atas sofa
" Tidak bunda , Sean mau sendiri "
Sean menggeleng
" Lagipun ada Mao di sini "
Sean tersenyum
" Baiklah.. kamu baik-baik ya sayang "
Sitter azza memeluk Sean dan membiarkan Sean di bawa oleh Mao
" Babay bunda "
Sean melambaikan tangannya
" Hei.. dia baik-baik saja , kamu tenang saja"
Asisten John merangkul sitter azza
" Kasihan Sean kecilku "
Sitter azza memeluk asisten John
" Kamu pulanglah , aku akan sibuk akhir akhir ini , aku akan mengatur banyak hal untuk tuan dan nona muda , tunggu aku di rumah "
Asisten John mencium kening sitter azza
" Baiklah "
Sitter azza mengangguk
Di kamar Sean
" Tinggalkan aku sendiri "
Sean di baringkan di atas tempat tidur
" Tapi tuan "
Mao terlihat keberatan
" Aku akan istirahat , tenanglah "
Sean mengusap kepala Mao
" Baiklah "
Mao berjalan keluar dan menutup pintu
" Dimana obatku "
Sean membuka laci bagian atas dan mengambil satu kotak obat buatan Mao
" Aku harus sembuh "
*Glup
Sean memakan lima pil buatan Mao
" Huh... Dadaku sesak "
Sean mencengkram erat dadanya
*Bruk
Sean terjatuh dari atas tempat tidurnya
" Uhuk..uhuk "
Sean mulai batuk batuk dan mengeluarkan darah hitam kental
" Darahnya banyak "
Sean mengusap mimisan yang mulai keluar dari hidungnya
" Uhuk.. uhuk.. huh... Telingaku berdarah "
Sean mengusap darah yang mulai keluar dari telinganya
" Telingaku berdenging , sakit sekali "
Sean memukul kecil kepalanya dan membuat telinga nya semakin banyak mengeluarkan darah
" Huek.. papa.. huh... Sakit sekali dadaku"
Sean memukul mukul dadanya
__ADS_1
" Ini demi papa dan Aniel , aku harus bertahan "
Sean menyeka air matanya
Darah Sean mulai perlahan berhenti setelah karpet bulu kesayangan Mao berlumuran darah
Di luar kamar
" Kenapa nona Mao "
Rudi bertanya saat Mao mulai mengendus pintu kamar Sean
" Bau pil "
Mao membuka pintu kamar dan terlihat Sean sedang menyeka darah yang keluar dari hidungnya
" Apa yang anda lakukan tuan "
Mao berlari dan dengan cekatan Mao menggunakan pakaiannya untuk mengusap darah yang bercucuran dari hidung dan telinga Sean
" Mao.. telingaku berdenging "
Sean mencengkram erat lengan Mao
" Ambilkan tiga kantong darah , cepat "
Mao berteriak
Mao melepas pakaian Sean dan memandikan Sean hingga darah yang keluar dari tubuh Sean berhenti mengalir
" Ini nona "
Para pengawal memberikan tiga kantong darah dan beberapa selang transfusi
" Minta bi Aini siapkan satu gelas susu , dan satu porsi makanan penambah darah , ingat jangan orang lain "
Mao berteriak dari kamar mandi
" Baik nona "
Salah satu dari mereka turun ke bawah
" Kenapa anda melakukan ini "
Mao dengan sedikit mengomel , membawa Sean keluar dari kamar mandi
" Apa racunnya sudah keluar semua "
Sean dengan genggaman yang lemah menatap Mao
" Racun anda memang sudah keluar semua , tapi nyawa anda taruhannya , tolong jangan seperti ini lagi tuan "
Mao memasangkan mentransfusi darah untuk Sean
Tidak lama dua maid datang untuk membersihkan darah Sean yang masih tercecer di lantai
" Buang saja karpetnya , bakar di belakang , dan dimana susu tuan muda "
Mao memakaikan pakaian untuk Sean
" Makanan sebentar lagi datang , saya akan membakar ini di belakang "
Maid itu pergi keluar dengan karpet bulu yang penuh dengan darah Sean
" Ikuti maid itu , pastikan dia membakar karpet itu "
Mao berbisik dengan penjaga pintu
" Baik nona "
Penjaga pintu itu mengikuti sang pelayan
" Nona Mao "
Maid yang ada di dalam memanggil dan Mao menutup pintu
" Ya "
Mao menoleh
*Bug
Sebuah pukulan keras menghantam Mao
" Apa apaan kamu "
Mao memegangi keningnya yang berdarah
" Sialan "
Mao merubah dirinya menjadi macan dan membuat pelayan itu ketakutan
" A..apa kamu siapa tau "
Pelayan itu mulai gelagapan
" Pelayan ini sepertinya tidak bisa berbicara dengan benar "
Mao terkekeh
" A..ampun "
Pelayan itu terlihat sangat pucat
" Kesalahan yang besar nona muda "
*Krak
Mao mencakar wajah pelayan itu dan kembali menjadi manusia
" Pengawal "
Mao berteriak dan satu pengawal masuk
" Nona "
Luga masuk dan melihat Mao memegangi keningnya yang berdarah
" Mengapa ada penyusup di sini "
Mao menghampiri Sean dan memeriksanya
" Saya akan membawanya menuju tuan Diablo "
Luga membawa wanita itu pergi keluar
" Sialan "
Mao menyeka keningnya dan membenarkan selang transfusi Sean
" Keamanan "
Mao berteriak
" Kenapa nona "
Ramlan masuk dengan tergesa-gesa
" Periksa semua orang di sini , kenapa ada satu penyusup bisa masuk ke dalam rumah , mulai sekarang jangan izinkan satupun pelayan masuk ke sini ataupun naik ke lantai tiga "
Mao memerintahkan
" Baik nona "
Ramlan mengangguk dan berjalan keluar
" Kenapa Mao "
Suara Sean terdengar lirih
" Tuan.. anda baik-baik saja kan "
Mao menyentuh kening Sean
" Aku baik "
Sean tersenyum
*Tok..tok
Terdengar suara pintu diketuk
" Sebentar ya "
Mao berjalan membuka pintu
" Ini susu untuk tuan muda "
Terlihat Ramlan memberikan sebuah nampan
" Terimakasih "
Mao menerima dan menutup pintu
" Tuan.. mari kita makan "
Mao mengambil kursi dan duduk di samping Sean
" Anda harus mengembalikan tenaga anda "
Mao mulai menyuapi Sean perlahan
" Mao.. "
Sean memanggil
" Iya tuan "
Mao mengusap pipi Sean yang tertinggal sebutir nasi
" Dimana penyaring mimpiku "
Sean memakan satu suapan terakhir
" Benda itu masih dalam perjalanan "
Mao menjawab
" Tolong segera lakukan penyelidikan untuk wanita kemarin "
Sean memejamkan matanya
" Saya mengerti tuan "
Mao mengangguk
" Aku akan istirahat "
Sean memeluk guling Aniel yang memang ada di dalam kamarnya
Mao menunggu Sean hingga kembali bangun dari tidurnya agar Sean tidak melakukan banyak hal yang macam-macam seperti tadi
Pukul sembilan malam
" Mao "
Sean membuka matanya
" Saya di sini tuan "
Mao menghampiri Sean
" Ayo kita ke rumah sakit Mao "
Sean mendudukkan dirinya
" Aku bisa merasakan kakiku Mao "
Sean tersenyum
" Iya tuan , namun kondisi anda kurang stabil , kita di rumah dulu , setelah anda baikan nanti baru ke rumah sakit "
Mao membenahi kantong darah Sean
" Kita pergi sekarang Mao "
Sean menurunkan kakinya dari atas tempat tidur
" Tapi tuan , kondisi anda kurang stabil "
Mao menahan Sean
" Kita berangkat "
Sean menyisihkan tangan Mao dari pundaknya
" Tapi tuan "
Mao menahan Sean
" Kalau kau tidak mau mengantarku , aku bisa berangkat sendiri "
Sean melirik Mao
" Baik baik , kita berangkat "
Setelah Mao melepaskan selang transfusi darah Sean , Mao membawa Sean menuju lemari dan mengambil jaket bulu Sean
Mao membawa Sean menuju lantai bawah dan di sana sudah di sambut sekeluarga besar yang tidak ada habis-habisnya mengoceh
" Sean kamu baik-baik saja kan "
Liona menghampiri Sean dan memegang pipi Sean
" Sean baik , istirahat saja di atas , kalian pasti lelah "
Sean menepis tangan liona
" PASTI KAMU YANG MENYEBABKAN PUTRAKU SEPERTI INI , KENAPA HANYA KAMU YANG SELAMAT , SEHARUSNYA KAMU MATI SAJA DI SANA "
Terdengar nafas memburu dan sedikit isakan kecil dari mulut mama Sbastian
" Mama , Sean ini masih kecil , dia tidak bersalah "
Papa memeluk mama
" ENGGAK PA , KAMU LIAT PA..KENAPA CUMA ANAK BUANGAN INI YANG SELAMAT , KENAPA BUKAN DIA YANG MATI DI SANA , DIA EMANG ANAK PEMBAWA SIAL "
Mama seakan tidak terima jika papa tidak membelanya
" Iya ya Mao , kenapa cuma aku ya yang selamat "
Kalimat Sean membuat semua orang di sana terkejut bukan main
" Tuan jangan berbicara seperti itu , seharusnya anda bersyukur bahwa anda selamat , dengan ini anda bisa merawat tuan Sbastian dan nona muda "
Mao membawa Sean keluar dan menghiraukan keluarga Sbastian
" Tapi nenek benar , kenapa hanya aku yang selamat "
Sean membuat semua orang iba tentangnya , bagaimana bisa seorang anak kecil berpikir tentang itu
" Tapi Mao... Ini benar-benar janggal , kenapa hanya aku yang selamat "
Sean membuat langkah Mao terhenti
" Maksud anda "
Mao menatap Sean
" Ini tidak benar Mao , kenapa mereka menembak dan membakar setelah aku keluar dari mobil "
Sean menatap Mao balik
" Anda benar , kenapa hanya anda yang selamat "
Mao mengerenyitkan keningnya
" Kita ke rumah sakit sekarang , aku yakin terjadi sesuatu di sana , kita pergi Mao... Ayo "
Sean memukul-mukul pundak Mao dan Mao berlari menuju garasi melewati pintu samping
__ADS_1
" kita akan berangkat tuan "
Mao mendudukkan Sean di kursi belakang dan mengenakan sabuk pengaman untuk Sean