Aku Pangeran

Aku Pangeran
#37 { drama minum obat}


__ADS_3

Setelah turun dari lantai atas , Sbastian berjalan menuju dapur bersama asisten John dan di sana terlihat beberapa pelayan sedang memasak sesuatu


" Apa buburnya sudah selesai "


Suara Sbastian yang tiba-tiba membuat seluruh pelayan yang ada di sana terkejut


" Salam tuan "


Semua membungkuk hormat


" Buburnya sudah siap , sesuai yang anda perintahkan tuan "


Yuka menunjukkan panci yang penuh dengan bubur itu


" Siapkan buburnya , aku akan membawanya ke atas "


Sbastian duduk di meja makan menunggu bubur di siapkan


" Baik tuan "


Yuka menyiapkan bubur ayam kesukaan Sean buatan koki terbaik yang di panggil khusus oleh Sbastian


Setelah bubur siap , Sbastian meminta obat pereda demam dan membawanya ke kamar


" Sayang "


Asisten John masuk terlebih dahulu lalu di ikuti Sbastian


" Aku akan menyuapinya "


Sbastian meletakkan bubur di atas meja dan menghampiri Sean


Sitter azza berdiri dan memberikan jalan kepada Sbastian


" Nak.. makan dulu yuk "


Sbastian mengusap kening Sean dan membuat Sean terbangun


" Masih sakit ngak kepalanya "


Sbastian bertanya dan di jawab gelengan kepala oleh Sean


" Ayo makan ya "


Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya lalu membawa Sean yang di gendongnya duduk di sofa di singgel


" Kalian duduklah "


Sbastian menyuruh asisten John dan istrinya duduk


" Ini ada bubur ayam kesukaanmu "


Sbastian meniup-niup bubur itu lalu menyuapkan bubur itu kepada Sean yang di pangku seperti bayi


" Sean ngak mau makan "


Suara Sean terdengar lirih


" Makan nak... Dikit aja ngak apa "


Sbastian menyuapakan bubur


Sean menggelengkan kepalanya dan menyusupkan kepalanya di dada Sbastian


" Makan dikit sayang "


Sbastian meletakkan sendok bubur itu dan mengelus kepala Sean


" ngak mau "


Sean menggeleng dan memeluk erat Sbastian


" Dikiiiit aja "


Sbastian merayu


" Ngak mau "


Sean menggeleng kembali


" Nanti papa bawa liat danau deh , kita naik perahu "


Sbastian memberikan sebuah tawaran


" Naik perahu "


Sean menatap Sbastian


" Iya nanti kita naik perahu sama bunda sama paman juga.. mau "


Sbastian mengusap kepala Sean


" Mau "


Sean mengangguk


" Tapi makan dulu ya "


Sbastian menyuapkan sesendok bubur dan di makan oleh Sean dengan senang hati


Setelah beberapa sendok Sean menolak melanjutkan makannya


" Kalau begitu minum obat "


Sbastian mengambil botol obat


" Ngak mau "


Sean menggeleng


" Ini lho sirup , rasa strawberry lagi "


Sbastian membuka botol obat


" Ngak mau "


Sean menutup mulutnya dengan kedua tangannya


" Abis minum obat , nanti kamu tidur di temani bunda az-az "

__ADS_1


Sbastian menunjuk sitter azza yang sedang di peluk asisten John


" Ngak mau "


Sean menggeleng


" Nanti kalo adek abis minum obat kita main , mau?? "


Sbastian menutup kembali botol obatnya


" Ngak mau "


Sean menggeleng kuat


" Oh... Kita nanti beli coklat yuk "


Sbastian menegakkan badan Sean


" Ngak mau "


Sean menggeleng lalu memeluk leher Sbastian


" Nanti tuan muda mau lihat adek bayi yang ada di perut bunda ngak "


Pertanyaan sitter azza sontak membuat Sean menoleh


" Emang adek bayi nya bisa di liat "


Sean menaikkan alisnya


" Bisa lho , kalau tuan muda mau minum obat , nanti kita liat adek bayinya "


Sitter azza mengusap perutnya


" Emang bisa liat adek bayi pa "


Sean menatap Sbastian penasaran


" Bisa dong , kita nanti liat adek bayinya bareng-bareng , gimana , mau?? "


Sbastian meyakinkan Sean


" Mau "


Sean menatap perut sitter azza


" Kalau gitu adek minum obat dulu ya "


Sbastian membuka botol obat dan meminumkannya kepada Sean


" Liat adek bayinya kapan "


Sean menoleh melihat sitter azza


" Besok bunda ada jadwalnya , jadi besok bisa liat adek bayinya "


Sitter azza meyakinkan


" Ok "


Sean tersenyum lalu meletakkan kepalanya di atas pundak Sbastian


" Adek mau tidur sama papa "


" Terimakasih ya , maaf merepotkan"


Sbastian merasa tidak enak


" Tidak apa-apa tuan , lagipula ini bukan apa-apa "


Sitter azza menjawab lalu menoleh kepada asisten John


" Kami sama sekali tidak keberatan "


Asisten John menatap istrinya lalu mengecup kening istrinya


" Mungkin kita akan bertemu esok , sepertinya hari ini aku akan tidur lebih awal"


Sbastian mengusap punggung Sean


" Kalau begitu kami undur diri tuan "


Asisten John membungkuk hormat lalu keluar kamar


Setelah itu Sbastian merasakan kantuk yang luar biasa dan memutuskan untuk mengikuti Sean dan bangun nanti sebelum magrib , Sbastian merebahkan dirinya lalu menyusul Sean ke alam mimpi


" Hai "


Suara seorang wanita mengejutkan Sbastian


" Dimana ini "


Sbastian melihat sekeliling dan menyadari bahwa dirinya tidak di kamarnya


" Ini... Pantai "


Sbastian melihat ombak yang besar menepi di pasir pantai


" Selamat siang , sudah lama ya tidak berjumpa "


Seorang wanita dengan rambut berwarna biru menyapa dirinya


" Kamu... Alula "


Sbastian terkejut melihat wajah yang bertahun-tahun silam sudah ia lupakan


" Iya ini aku , aku ingin berbicara duduklah "


Alula menunjuk sebuah batu besar di pantai


" Kamu berjalan "


Sbastian melotot melihat kaki alula


" Hehehe aku sudah bisa merubah ekorku menjadi kaki , jangan terkejut seperti itu "


Alula melambaikan tangan keatas dan kebawah


" Ada apa kamu mau menemuiku "

__ADS_1


Sbastian duduk di batu yang ditunjuk oleh alula lalu alula duduk di atas batu di sebelah Sbastian


" Aku punya kabar buruk dan mungkin kabar baik"


Alula menatap Sbastian dengan tenang


" Maksudmu... Ini tentang Sean "


Sbastian menatap alula penasaran


" Ya... Ini tentang pangeran kecilku "


Alula menempatkan duduknya


" Mengapa dengannya "


Sbastian mulai berbicara dengan serius


" aku tidak tau... Namun ada ramalan di tempatku "


Alula menatap Sbastian dan membuat Sbastian mengerenyitkan keningnya


" Ramalan itu mengatakan bahwa pangeran negri akan kembali tidak lama lagi , jadi... Saya meminta agar kotak dan liontin pangeran segera di berikan saat pangeran berusia tujuh tahun "


Alula berkata dengan tegas


" Kenapa.. itu terlalu cepat "


Sbastian berdiri dan berbicara dengan dengan nada tinggi


" Pangeran tidak akan kembali secepat itu , namun biarkan pangeran mempelajari banyak hal , aku tidak tau pasti namun... Seperti akan ada banyak hal yang menarik yang menjemput pangeran , saya tidak bisa menjelaskan namun saya mohon jangan terlalu mengekang pangeran "


Alula kesulitan untuk menjelaskan


" Aku mengerti.......... Argh "


Sbastian duduk kembali dan mengusap rambutnya frustasi


" Jangan terlalu di fikirkan tuan , nikmati masa anda bersama pangeran saja "


Alula menenangkan Sbastian


" Baiklah "


Sbastian menatap lautan dengan tatapan kosong


" Tenangkan dirimu , pangeran tidak akan meninggalkan anda semudah itu "


Alula mencoba menenangkan


" Aku mengerti "


Sbastian berdiri lalu menelusuri pantai dan alula mengikuti Sbastian di belakang


" Aku tau apa yang kamu fikirkan , namun... Jangan terlalu di fikirkan "


Alula menasehati Sbastian dari belakang


" Aku tau "


Sbastian berdiri menatap laut dengan tatapan kosong


Setelah beberapa saat Sbastian berjalan di tepi pantai memikirkan tentang Sean kecilnya


" Papa "


Sebuah suara memasuki pendengaran Sbastian dan alula


" Pangeran sepertinya sudah bangun , kembalilah "


Alula menatap Sbastian


" Baiklah.... Tapi bagaimana cara kembali"


Sbastian menatap alula kebingungan


" Tutup matamu "


Alula mendekati Sbastian


" Oke "


Sbastian menutup matanya , Sbastian merasakan sesuatu yang mengejutkan dirinya


" Astagfirullah "


Sbastian terduduk di atas tempat tidur dengan keringat dingin bercucuran lalu menoleh kepada Sean yang menangis kecil dalam tidurnya


" Adek... Kenapa sayang "


Sbastian menyentuh kening Sean


" Astagfirullah kamu demam tinggi , dek bangun dek anak papa bangun "


Sbastian menepuk-nepuk pipi Sean pelan


" Sean bangun Sean , sayang "


Sbastian mulai mengguncang Sean dengan kuat


" Astagfirullah anakku "


Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya lalu berlari turun dari lantai atas


" Ayah.... Ayah "


Sbastian berteriak dan berlari keluar rumah


" Siapkan mobil "


Sbastian berteriak panik melupakan semuanya


" Ada apa "


Pak Sam berlari dari dalam rumah


" Sean demam tinggi , kita ke rumah sakit sekarang "


Sbastian menunggu mobil sambil duduk di bangku dengan gemetar dan hatinya tidak tenang

__ADS_1


" CEPAT "


Suara Sbastian menggelar hingga membuat semua orang bertanya-tanya


__ADS_2