
Setelah turun dari lantai atas , Sbastian berjalan menuju dapur bersama asisten John dan di sana terlihat beberapa pelayan sedang memasak sesuatu
" Apa buburnya sudah selesai "
Suara Sbastian yang tiba-tiba membuat seluruh pelayan yang ada di sana terkejut
" Salam tuan "
Semua membungkuk hormat
" Buburnya sudah siap , sesuai yang anda perintahkan tuan "
Yuka menunjukkan panci yang penuh dengan bubur itu
" Siapkan buburnya , aku akan membawanya ke atas "
Sbastian duduk di meja makan menunggu bubur di siapkan
" Baik tuan "
Yuka menyiapkan bubur ayam kesukaan Sean buatan koki terbaik yang di panggil khusus oleh Sbastian
Setelah bubur siap , Sbastian meminta obat pereda demam dan membawanya ke kamar
" Sayang "
Asisten John masuk terlebih dahulu lalu di ikuti Sbastian
" Aku akan menyuapinya "
Sbastian meletakkan bubur di atas meja dan menghampiri Sean
Sitter azza berdiri dan memberikan jalan kepada Sbastian
" Nak.. makan dulu yuk "
Sbastian mengusap kening Sean dan membuat Sean terbangun
" Masih sakit ngak kepalanya "
Sbastian bertanya dan di jawab gelengan kepala oleh Sean
" Ayo makan ya "
Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya lalu membawa Sean yang di gendongnya duduk di sofa di singgel
" Kalian duduklah "
Sbastian menyuruh asisten John dan istrinya duduk
" Ini ada bubur ayam kesukaanmu "
Sbastian meniup-niup bubur itu lalu menyuapkan bubur itu kepada Sean yang di pangku seperti bayi
" Sean ngak mau makan "
Suara Sean terdengar lirih
" Makan nak... Dikit aja ngak apa "
Sbastian menyuapakan bubur
Sean menggelengkan kepalanya dan menyusupkan kepalanya di dada Sbastian
" Makan dikit sayang "
Sbastian meletakkan sendok bubur itu dan mengelus kepala Sean
" ngak mau "
Sean menggeleng dan memeluk erat Sbastian
" Dikiiiit aja "
Sbastian merayu
" Ngak mau "
Sean menggeleng kembali
" Nanti papa bawa liat danau deh , kita naik perahu "
Sbastian memberikan sebuah tawaran
" Naik perahu "
Sean menatap Sbastian
" Iya nanti kita naik perahu sama bunda sama paman juga.. mau "
Sbastian mengusap kepala Sean
" Mau "
Sean mengangguk
" Tapi makan dulu ya "
Sbastian menyuapkan sesendok bubur dan di makan oleh Sean dengan senang hati
Setelah beberapa sendok Sean menolak melanjutkan makannya
" Kalau begitu minum obat "
Sbastian mengambil botol obat
" Ngak mau "
Sean menggeleng
" Ini lho sirup , rasa strawberry lagi "
Sbastian membuka botol obat
" Ngak mau "
Sean menutup mulutnya dengan kedua tangannya
" Abis minum obat , nanti kamu tidur di temani bunda az-az "
__ADS_1
Sbastian menunjuk sitter azza yang sedang di peluk asisten John
" Ngak mau "
Sean menggeleng
" Nanti kalo adek abis minum obat kita main , mau?? "
Sbastian menutup kembali botol obatnya
" Ngak mau "
Sean menggeleng kuat
" Oh... Kita nanti beli coklat yuk "
Sbastian menegakkan badan Sean
" Ngak mau "
Sean menggeleng lalu memeluk leher Sbastian
" Nanti tuan muda mau lihat adek bayi yang ada di perut bunda ngak "
Pertanyaan sitter azza sontak membuat Sean menoleh
" Emang adek bayi nya bisa di liat "
Sean menaikkan alisnya
" Bisa lho , kalau tuan muda mau minum obat , nanti kita liat adek bayinya "
Sitter azza mengusap perutnya
" Emang bisa liat adek bayi pa "
Sean menatap Sbastian penasaran
" Bisa dong , kita nanti liat adek bayinya bareng-bareng , gimana , mau?? "
Sbastian meyakinkan Sean
" Mau "
Sean menatap perut sitter azza
" Kalau gitu adek minum obat dulu ya "
Sbastian membuka botol obat dan meminumkannya kepada Sean
" Liat adek bayinya kapan "
Sean menoleh melihat sitter azza
" Besok bunda ada jadwalnya , jadi besok bisa liat adek bayinya "
Sitter azza meyakinkan
" Ok "
Sean tersenyum lalu meletakkan kepalanya di atas pundak Sbastian
" Adek mau tidur sama papa "
" Terimakasih ya , maaf merepotkan"
Sbastian merasa tidak enak
" Tidak apa-apa tuan , lagipula ini bukan apa-apa "
Sitter azza menjawab lalu menoleh kepada asisten John
" Kami sama sekali tidak keberatan "
Asisten John menatap istrinya lalu mengecup kening istrinya
" Mungkin kita akan bertemu esok , sepertinya hari ini aku akan tidur lebih awal"
Sbastian mengusap punggung Sean
" Kalau begitu kami undur diri tuan "
Asisten John membungkuk hormat lalu keluar kamar
Setelah itu Sbastian merasakan kantuk yang luar biasa dan memutuskan untuk mengikuti Sean dan bangun nanti sebelum magrib , Sbastian merebahkan dirinya lalu menyusul Sean ke alam mimpi
" Hai "
Suara seorang wanita mengejutkan Sbastian
" Dimana ini "
Sbastian melihat sekeliling dan menyadari bahwa dirinya tidak di kamarnya
" Ini... Pantai "
Sbastian melihat ombak yang besar menepi di pasir pantai
" Selamat siang , sudah lama ya tidak berjumpa "
Seorang wanita dengan rambut berwarna biru menyapa dirinya
" Kamu... Alula "
Sbastian terkejut melihat wajah yang bertahun-tahun silam sudah ia lupakan
" Iya ini aku , aku ingin berbicara duduklah "
Alula menunjuk sebuah batu besar di pantai
" Kamu berjalan "
Sbastian melotot melihat kaki alula
" Hehehe aku sudah bisa merubah ekorku menjadi kaki , jangan terkejut seperti itu "
Alula melambaikan tangan keatas dan kebawah
" Ada apa kamu mau menemuiku "
__ADS_1
Sbastian duduk di batu yang ditunjuk oleh alula lalu alula duduk di atas batu di sebelah Sbastian
" Aku punya kabar buruk dan mungkin kabar baik"
Alula menatap Sbastian dengan tenang
" Maksudmu... Ini tentang Sean "
Sbastian menatap alula penasaran
" Ya... Ini tentang pangeran kecilku "
Alula menempatkan duduknya
" Mengapa dengannya "
Sbastian mulai berbicara dengan serius
" aku tidak tau... Namun ada ramalan di tempatku "
Alula menatap Sbastian dan membuat Sbastian mengerenyitkan keningnya
" Ramalan itu mengatakan bahwa pangeran negri akan kembali tidak lama lagi , jadi... Saya meminta agar kotak dan liontin pangeran segera di berikan saat pangeran berusia tujuh tahun "
Alula berkata dengan tegas
" Kenapa.. itu terlalu cepat "
Sbastian berdiri dan berbicara dengan dengan nada tinggi
" Pangeran tidak akan kembali secepat itu , namun biarkan pangeran mempelajari banyak hal , aku tidak tau pasti namun... Seperti akan ada banyak hal yang menarik yang menjemput pangeran , saya tidak bisa menjelaskan namun saya mohon jangan terlalu mengekang pangeran "
Alula kesulitan untuk menjelaskan
" Aku mengerti.......... Argh "
Sbastian duduk kembali dan mengusap rambutnya frustasi
" Jangan terlalu di fikirkan tuan , nikmati masa anda bersama pangeran saja "
Alula menenangkan Sbastian
" Baiklah "
Sbastian menatap lautan dengan tatapan kosong
" Tenangkan dirimu , pangeran tidak akan meninggalkan anda semudah itu "
Alula mencoba menenangkan
" Aku mengerti "
Sbastian berdiri lalu menelusuri pantai dan alula mengikuti Sbastian di belakang
" Aku tau apa yang kamu fikirkan , namun... Jangan terlalu di fikirkan "
Alula menasehati Sbastian dari belakang
" Aku tau "
Sbastian berdiri menatap laut dengan tatapan kosong
Setelah beberapa saat Sbastian berjalan di tepi pantai memikirkan tentang Sean kecilnya
" Papa "
Sebuah suara memasuki pendengaran Sbastian dan alula
" Pangeran sepertinya sudah bangun , kembalilah "
Alula menatap Sbastian
" Baiklah.... Tapi bagaimana cara kembali"
Sbastian menatap alula kebingungan
" Tutup matamu "
Alula mendekati Sbastian
" Oke "
Sbastian menutup matanya , Sbastian merasakan sesuatu yang mengejutkan dirinya
" Astagfirullah "
Sbastian terduduk di atas tempat tidur dengan keringat dingin bercucuran lalu menoleh kepada Sean yang menangis kecil dalam tidurnya
" Adek... Kenapa sayang "
Sbastian menyentuh kening Sean
" Astagfirullah kamu demam tinggi , dek bangun dek anak papa bangun "
Sbastian menepuk-nepuk pipi Sean pelan
" Sean bangun Sean , sayang "
Sbastian mulai mengguncang Sean dengan kuat
" Astagfirullah anakku "
Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya lalu berlari turun dari lantai atas
" Ayah.... Ayah "
Sbastian berteriak dan berlari keluar rumah
" Siapkan mobil "
Sbastian berteriak panik melupakan semuanya
" Ada apa "
Pak Sam berlari dari dalam rumah
" Sean demam tinggi , kita ke rumah sakit sekarang "
Sbastian menunggu mobil sambil duduk di bangku dengan gemetar dan hatinya tidak tenang
__ADS_1
" CEPAT "
Suara Sbastian menggelar hingga membuat semua orang bertanya-tanya