
" Mama Sean harus pergi "
Sean tersenyum saat melihat ayu yang memeluk dirinya dari belakang
" Pergilah "
Ayu mempersilahkan namun tangannya tidak mau melepas pelukannya
" Sean janji akan sering ke sini "
Sean berbalik dan memeluk ayu
" Siapa yang menahanmu , pergilah hati hati di jalan "
Ayu tersenyum
" Astaga mama haha , Sean akan kembali jika ada kesempatan "
Sean menangkup pipi ayu
" Baiklah "
Ayu perlahan melepaskan Sean
" Sayang , kasihan adik kecilnya di rumah mencari anak kita , nanti kita mampir kalau ada kesempatan "
Bram menenangkan istrinya
" Mama jangan sedih ya "
Sean mengusap air mata ayu yang sudah mulai terlihat
" Sean itu sayaaang banget sama mama "
Sean tersenyum
" Mama juga sayang sama kamu "
Ayu memeluk Sean sekali lagi dan melepaskan Sean untuk pulang
" Sayang...Sean punya kehidupan sendiri "
Bram membelai lembut rambut hitam istrinya
" Ayu tau mas , tapi Sean anak kita "
Ayu memeluk Bram dan menitikkan air mata
" Jangan buat Sean keberatan karena kamu seperti ini , kasihan juga adik dan papa asuhnya "
Bram menjelaskan
" Andai waktu itu aku lebih bisa menjaga Sean "
Ayu terlihat sangat menyesal
" Jangan begitu sayang.. ini sudah tulisan , lagipula Sean juga tidak ingin berpisah dari kita , kamu dengar kan kemarin kata Diablo , dulu Sean itu sering sekali menangis dan bertanya kenapa orang tuanya meninggalkannya "
Bram membawa ayu masuk saat mobil Sean sudah keluar dari gerbang
" Hiks... "
Ayu mulai menangis dan menitikkan air mata mengingat dulu dirinya sangat lalai hingga bayi kecilnya yang ada di sampingnya , menghilang secara misterius dan hanya menyisakan keranjang bayi yang kosong
Bahkan sampai saat ini keranjang bayi Sean masih ada di dalam kamar ayu dan Bram agar ayu senantiasa mengingat putra kecil kesayangannya
" Mamaaaaa adek pulang "
Terdengar suara gadis perempuan kecil
" Anak mama pulang "
Ayu berdiri dan mengusap air matanya setelah itu di susullah ke dua anak laki-lakinya yang baru saja menginjakkan kaki di rumah
Di rumah Sean
" Hei ini kakak "
Sean mengusap kepala Aniel yang di tutup dengan selimut
" Kakak ingkar janji , kakak telat "
Terdengar suara isakan dan suara kemarahan dari mulut kecil Aniel
" Kakak minta maaf ya "
Sean membawa Aniel ke dalam pangkuannya
" Jangan marah ya sayang "
Sean membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Aniel
" Au... Humph... "
Aniel menutup kembali wajahnya
" Bagaimana kalau kakak ajak jalan-jalan hm.. "
Sean berdiri dan mengangkat gumpalan selimut yang berisi Aniel
" Mau makan apa hm.. ayo beli sekarang "
Sean membuka tirai kamar Aniel yang masih tertutup
" ngak mau "
Selimut Aniel terlihat bergerak gerak karena Aniel menggeleng di dalamnya
" Lalu kamu mau apa kakak turuti sekarang"
Sean duduk di atas sofa single berwarna pink yang ada di dekat jendela
" Ngak mau "
Aniel hanya menjawab dengan singkat
" Kalau begitu bermimpilah yang indah , ini sudah waktunya tidur siang "
Sean membenarkan posisi Aniel dan mulai meninabobokan Aniel di dalam pangkuannya
" Apa dia sudah makan siang "
Sean bertanya kepada key
" Belum tuan "
Key menjawab
" Kalau begitu siapkan makanan kesukaannya , saat bangun nanti akan aku suapi "
Sean memerintahkan
" Baik tuan "
Key membungkuk hormat dan pergi meninggalkan Sean
Sore ini pukul 13.00
" Tuan "
Mao memanggil Sean yang baru saja selesai beribadah tepat di samping ranjang Sbastian
" Hm.. "
Sean menoleh
" Tuan Bram datang dan bilang ingin bertemu anda "
Mao memberitahu
" Papa "
Sean berdiri dan melepaskan peci juga sarungnya
" Sean turun dulu pa "
*Cup
Sean mengecup kening Sbastian sebentar lalu keluar untuk menyambut kedatangan papa dan mamanya
" Apa hanya tuan Bram "
Sean menutup pintu kamar Sbastian
" Tidak tuan , ada dua anak laki-laki dan satu anak perempuan "
Mao menjawab
" Aniel masih tidur kan "
Sean memastikan
" Nona muda masih tidur di kamarnya "
Mao menjawab
" Kakek sedang apa "
Sean masuk ke dalam lift
" Tuan besar sedang istirahat , beliau bilang sedang tidak enak badan "
Mao menjawab
" Pasti belum makan , bawakan makanan untuk kakek , bilang ke kakek bahwa cucunya meminta kakek untuk makan agar tidak sakit "
*Ting
Lift terbuka dan terlihat keluarga tuan Bram ada di sofa ruang tamu
" Sean "
Ayu berdiri
" Mama dan papa di sini , ini kejutan "
Sean berjalan dan memeluk ayu dengan kerinduan
" Ah iya... bibi apa sudah di buatkan minuman"
Sean berjalan ke arah dapur
" Eh..eh.. nak "
Ayu memanggil Sean yang sudah berjalan menuju dapur
" Ini tuan , sebentar lagi selesai "
Beberapa maid menunjukkan beberapa gelas dan camilan yang siap di bawa
" Tolong siapkan makan malam juga ya Bi , Sean akan mengajak mereka makan malam di sini "
Sean meminta
" Baik tuan "
Para maid mengangguk dan Sean kembali ke ruang tamu
" Apa papa dan mama sudah istirahat"
Sean bertanya
" Hei hei tenanglah sayang "
Ayu terkekeh melihat kelakuan putranya yang terlihat seperti tuan rumah
" Kemari "
Ayu menarik Sean ke dalam pelukannya
" Lihat itu "
Ayu menunjuk seorang anak laki-laki yang kelihatannya lebih tua tiga tahun darinya
" Itu kakak pertamamu , namanya kak Fadlan "
Ayu tersenyum
" Ini kakak keduamu "
Ayu menunjuk anak laki-laki yang lebih tua setahun darinya
" Aku tau , namanya kak Reyhan "
Sean menebak
" Dan ini namanya mutiara "
Sean menunjuk gadis kecil yang ada di dalam pangkuan Bram
" Tepat sekali "
Ayu dan Bram terkekeh
" Anak anak , ini saudara ketiga kalian , namanya Sean "
Ayu mengelus dan mencium pucuk kepala Sean
" Hai "
Sean melambaikan tangannya kepada ketiga saudara yang menatapnya aneh
" Dia lebih tinggi dari kakak "
Reyhan menunjuk Sean
" Kak ehan benal "
Mutiara turun dari pangkuan Bram
" Ahaha "
Sean tertawa kikuk
Mutiara... Eh... Gadis yang imut dan lucu , dia tidak jauh beda dari Aniel hanya terpaut usia namun tinggi dan kalimat cadelnya tidak berbeda , itu terdengar menyenangkan di telinga orang-orang
" Kakak tinggi "
Mutiara berdiri di depan kaki Sean dan menatap Sean
" Woah.... Kakak ini sepelti papa , sangat tinggi "
Mutiara menatap Sean dengan kagum
" Hahaha... Nah mutiara "
Sean membawa Sean ke dalam gendongannya
" Umurnya kamu berapa "
Sean membuat mutiara terkejut
" Tiala umul empat "
Mutiara dengan malu-malu menjawab pertanyaan Sean
" Dia adikku.. lepaskan dia "
Reyhan berdiri dan menghampiri Sean
" Dia tinggi "
Reyhan yang masih kelas enam membatin karena Sean lebih tinggi dari kakaknya yang menginjak kelas tujuh SMP
" Hahaha iya kakak "
Sean tertawa melihat Reyhan yang hanya setinggi pundaknya
" Hei lepaskan Tiara jangan bawa adikku "
Reyhan menatap Sean dengan penuh amarah, dengki dan kebencian
" Itu adikku... Kembalikan dia "
Fadlan berdiri dan menghampiri Sean
" Dia memang tinggi "
Fadlan berdiri di samping Sean dengan pandangan yang tidak suka
" Aku memang tinggi ya "
Sean terkekeh melihat Fadlan yang hanya setinggi lehernya
" Bahaya jika Tiara menyukai anak ini "
Fadlan mencoba mengambil Tiara
*Hup
Sean mengelak
" Hahahaha "
Tiara tertawa saat merasakan angin berhembus melewati wajahnya
*Jeder
" D..di..dia merebut hati adikku , mutiaraku tertawa karenanya "
Petir menyambar hati Fadlan dan Reyhan melihat adik kecilnya lebih suka dengan Sean
__ADS_1
" K..kembalikan Tiara pada kami "
Reyhan mengepalkan tangannya saat melihat Tiara tertawa senang di dalam gendongan Sean
*Syut
Tiba-tiba Reyhan datang dengan kecepatan penuh
*Grep
Hanya angin yang di tangkapnya dan terlihat Sean sudah berdiri di belakang ayu
Dan terjadilah adu mekanik antara ketiga putra ayu yang di selingi tawa putri kecilnya
" Kakak "
Suara Aniel membuat Sean berhenti
" Hai "
Sean menyerahkan Tiara kepada Bram
" Kakak tinggalin Aniel lagi "
Aniel terlihat baru saja keluar dari lift
" Tidak... Kan kakak hanya ke ruang tamu "
Sean menghampiri Aniel yang sedang di gendong oleh Mao
" Kemarilah cantik "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Aniel malah sama kakak "
Aniel terlihat menggembungkan pipinya dan itu membuat mulutnya yang kecil maju ke depan
" Maaf maaf "
Sean mencium pipi gembul Aniel
" Salim dong "
Sean mendekat ke arah ayu dan Bram
" Iya "
Aniel mengulurkan tangannya ke depan dan ayu menggenggam tangan Aniel
*Cup
Aniel mencium punggung tangan ayu dan Bram bergantian
" Tadi kan Aniel lagi bobo sama papa , makanya kakak tinggal sebentar "
Sean membawa Aniel duduk di hadapan Bram
" Nak "
Ayu memanggil
" Iya ma "
Sean mendongak dan terlihat kedua kakaknya yang terlihat sedang memelototinya seakan mereka mengatakan *ini adikku jangan di sentuh *
" Kenapa gadis kecil ini memakai penutup mata "
Ayu terlihat penasaran
" Apa papa mendengar tentang kecelakaan yang membuat papa koma secara detail "
Sean bertanya
" Papa mencari informasi namun perusahaan ternama yang bertanggung jawab tidak membiarkan papa mendapat informasi lebih lagi "
Bram mengerenyitkan keningnya
" Hehe aku memang sengaja "
Sean membatin
" Saat kecelakaan itu...pecahan kaca membuat retinanya rusak parah , dan terpaksa Sean harus menunggu sampai umurnya cukup untuk operasi cangkok "
Sean membenarkan ikat rambut Aniel
" Ikat lambut Aniel walna apa "
Aniel bertanya
" Warna pink "
Sean melepaskan ikat rambut Aniel dan memeluk Aniel dari belakang
" Kapan itu bisa di lakukan "
Bram bertanya
" Minggu depan "
Sean mencium pucuk kepala Aniel
" Anakku terlihat lebih dewasa "
Ayu memeluk Bram dan membatin
" Papa akan temani "
Bram tersenyum
" Benarkah "
Sean terkejut
" Mama akan temani "
Ayu tersenyum
" Beneran ma.. pa "
Sean terlihat tidak percaya
" Iya "
Mereka berdua mengangguk
" Huh.. dia kan sudah punya adik , kenapa harus menggendong adikku tadi "
Reyhan dan Fadlan menatap Sean dengan tidak suka
" Sepertinya aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru haha "
Sean terkekeh melihat kedua kakaknya yang sangat posesif dengan adik kecilnya
" Yaaaa... Mama sudah cerita sih "
Sean terkekeh kecil
" Kakak ketawa "
Aniel menepuk tangan Sean yang menahan tubuhnya
" Kamu tau "
Sean membuat Aniel berdiri di atas pangkuannya
" Tau bibil kakak gini "
Aniel menunjukkan sebuah senyuman kecil
" Kakak ngak ketawa begitu tau "
Sean mengelak
" Iya Aniel tau "
Aniel terlihat memonyongkan bibirnya
" Baik baik Aniel memang pandai "
Sean mencium pipi gembul Aniel
" Nak "
Ayu memanggil
" Iya mama "
Sean merespon
" Boleh mama menggendongnya "
" Sean sarankan jangan ma , Aniel tidak akan mau di gendong atau di dekati orang-orang yang tidak di kenalnya , bahkan dia akan merajuk dan berteriak jika bukan Sean yang membangunkan dari tidur "
Sean terlihat berbicara dengan ayu namun tangannya masih sibuk meladeni Aniel
" Ini minumannya tuan "
Beberapa maid membawa empat gelas susu , satu gelas teh dan dua gelas kopi di temani beberapa camilan kue kering
" Tamunya ada... Satu... Dua... Tiga.. "
Aniel terlihat menghitung satu persatu orang di sana
" Kamu tau hm.. "
Sean menyingkirkan rambut ikal Aniel
" Aniel cuma menebak , udala di sini belbeda jika ada olang "
Aniel terlihat masih sibuk menghitung jumlah orang di ruang tamu
" Kamu memang hebat "
Sean membelai dan membiarkan Aniel bermain dengan imajinasinya
" Kakak "
Terdengar suara Tiara yang memanggil dan itu membuat Aniel berhenti menghitung
" Ada anak kecil pelempuan "
Aniel tersenyum
" Iya ada yang seusia kamu "
Sean mengiyakan
" Boleh Aniel ajak main "
Aniel bertanya
" Nah.. Tiara bisa kemari "
Sean berdiri dan menurunkan Aniel di samping meja
" Iya "
Dengan antusias Tiara turun dari atas sofa di bantu Bram dan berjalan mendekati Sean
" Nah adek , dia namanya Alinda tapi sering di panggil Linda "
Sean membelai kepala Tiara
" Lina "
Tiara melafalkan nama Aniel
" Hahaha namaku Linda bukan Lina "
Aniel tertawa
" Linda "
Tiara kembali melafalkan nama Aniel
" Iya benal sekali "
Aniel terlihat senang dan tertawa
" Susah namanya aku ngak suka.. aku panggil alin aja ya "
Tiara memberi nama panggilan
" Telselah kamu deh "
Aniel menjawab
" Oke "
Tiara memberikan jempol
" Nah adek dia ini namanya mutiara , dia di panggil Tiara "
Sean memberitahu
" Tiala "
Aniel melafalkan nama Tiara
" Ngak suka kalena ada l nya , aku panggil Tia aja ya "
Aniel memberi nama panggilan
" Kamu alin aku Tia... Ok haha "
Tiara tertawa senang melihat Aniel yang tidak jauh beda darinya
" Ayo main ke sana "
Sean menggandeng tangan Aniel dan Tiara menuju kotak mainan Aniel
" Eh... Kakak juga mau ikut "
Sean menatap kedua kakaknya yang tiba-tiba ada di belakangnya
" kami hanya mengikuti Tiara jadi jangan GR"
Mereka berdua terlihat tidak suka
" Baik baik terserah kakak "
Sean terkekeh
" Nah... Kalian main di sini ya dan ini namanya kakak key , dia akan mengawasi kalian saat bermain "
Sean menunjuk key yang baru tiba
" Okey "
Aniel dan Tiara memberi jempol
" Anak pandai "
*Cup
Sean mencium kening Aniel dan Tiara dan itu membuat kedua kakaknya terbelalak
" Dia adik kami "
Fadlan dan Reyhan menatap Sean tajam
" Baik baik kak aku akan duduk bersama mama dan papa "
Sean tertawa kikuk dan berlalu pergi
Sean berbincang dengan Bram dan ayu hingga magrib menjemput
" Sudah magrib... Ma pa Sean mau sholat "
Sean berdiri
" Ayo jamaah "
Bram mengajak keluarganya untuk berjamaah magrib
" Kakek datang "
Aniel berteriak
" Kakek "
Semua orang menoleh ke arah tangga
" Kakek "
Sean tersenyum melihat kakek keluar dari kamarnya dan berjalan mendekati lift
" Papa mama , ini kakek Sam , kakek sudah merawat Sean dan papa dari kecil "
Sean memperkenalkan pak Sam
" Kakek sudah baikan "
Sean menghampiri pak Sam
" Sudah "
Pak Sam tersenyum
" Kakek ini papa dan mama "
__ADS_1
Sean berjalan beriringan dengan pak Sam menghampiri ayu dan Bram
Dan sedikit percakapan terjadi hingga tempat beribadah , Setelah itu di lanjutkan dengan bermain kembali hingga waktu makan malam datang
" Ayo makan "
Sean mengambil Aniel dari dalam kotak dan Tiara di ambil alih oleh Bram
" Sean meminta makanan kesukaan kalian kepada bibi , seperti yang di katakan mama , Sean sudah tau semua "
Sean duduk di ikuti yang lain
" Kamu mau lauk apa "
Sean menawari
" Sama kayak kakak "
Aniel menjawab
Sean di sana menyuapi Aniel , Fadlan terlihat makan dengan penuh kesopanan , Reyhan terlihat makan dengan rakus eh... Memang anak-anak dan itu membuat Sean terkekeh , ayu menyuapi Tiara dan Bram juga pak Sam terlihat makan dengan tenang
" Jika papa di sini pasti akan menatap mereka dengan waspada haha "
Sean membatin
" Kakak ketawa lagi "
Aniel menunjuk Sean
" Memang "
*Cup
Sean mencium telunjuk Aniel yang ada di depannya
Setalah makam malam dan berbincang bincang
" Mama dan papa ngak jadi nginap "
Sean memeluk ayu dan Bram bergantian
" Maaf sayang , pekerjaan menelfon papa "
Bram menjawab
" Sean tau rasanya pa , apa Tiara tidak menginap "
Sean membuat kedua saudaranya terbelalak
" Tidak boleh "
Reyhan memeluk Tiara yang terlihat masih berbincang dengan Aniel dan Farhan terlihat bersiap menyerang
" Baik baik Sean hanya tanya kak "
Sean menenangkan Reyhan
" Huh... Menyebalkan "
Reyhan membawa Tiara pergi tanpa berpamitan di ikuti Farhan
" Hahahaha "
Sean tertawa kecil melihat tingkah laku posesif kedua saudaranya
" Mereka selalu saja "
Ayu geleng-geleng kepala melihat kedua putranya
" Namanya juga anak-anak "
Bram tersenyum
" Tapi Sean tidak "
Ayu memeluk Sean kembali
" Hahaha mama jangan mengatakan itu di depan kakak , Sean takut mereka akan cemburu "
Sean tersenyum
" Iyaaaa memang "
Ayu mengangguk
" Nah Aniel sayang...salim ya "
Sean membuat Aniel mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan ayu dan Bram
" Mama pulang , jangan telat makan jangan begadang , jangan telat mandi , jangan... "
Ayu memberikan ceramah yang panjang dan itu di dengarkan oleh Sean dengan sabar hingga ayu menyelesaikan kalimatnya
" Cuma kamu yang tidak menghentikan kalimat mama "
Bram geleng-geleng kepala
" Hahaha "
Sean terkekeh
" Dia kan anakku "
Ayu mengecup kening Sean
" Selamat tinggal , babay "
Tiara mengeluarkan tubuhnya dan melambaikan tangannya kepada Sean
Setelah itu ayu dan Bram berpamitan kepada pak Sam
" Tia lucu ya kak haha "
Aniel tertawa
" Iya "
Sean mengiyakan
" Sudah sudah , waktunya tidur kalian jangan begadang "
Pak Sam menggiring kedua cucunya masuk ke dalam rumah
" Selamat malam kakek "
Sean menurunkan Aniel dan memeluk pak Sam
" Iya "
Pak Sam mencium kening Sean
" Malam kakek "
Aniel tersenyum
" Selamat malam gadis cantik "
Pak Sam membawa Aniel ke dalam gendongannya dan menciumi Aniel hingga Aniel tertawa geli
" Kakek jangan begadang lho "
Sean memperingatkan
" Kamu yang jangan begadang anak nakal "
Pak Sam memukul pundak Sean
" Hehehe "
Sean membawa Aniel dan berlari menaiki tangga
" Jangan begadang Sean "
Pak Sam sedikit berteriak
" Iya kek.... Mungkin "
Sean membalas teriakan pak Sam
" Astaga anak itu "
Pak Sam geleng-geleng kepala mengingat kekerasan kepala Sean
" Hahaha tuan muda kan memang seperti itu paman , sekarang anda harus istirahat "
Bi Aini menertawakan pak Sam
" Iya iya "
Pak Sam masuk ke dalam kamarnya
Di dalam kamar Aniel
" Mau tidur sama papa atau sama kakak "
Sean menawari saat mengantikan pakaian tidur Aniel
" Mau papa "
Aniel menjawab
" Kalau begitu kakak tinggal ngerjain tugas ya "
Sean membawa Aniel ke dalam pelukan Sbastian
" Iya , jangan lama-lama "
Aniel menyamankan dirinya dan Sean menaikkan selimut Aniel
" Iya "
Sean mencium kening Aniel dan Sbastian lalu pergi menuju ruang kerjanya
" Apa tadi sore papa terapi "
Sean bertanya
" Saya menerapi tuan tadi pagi dan sore , kan siang tadi anda sendiri "
Mao menjawab
" Oh iya haha "
Sean terkekeh
" Tugasnya banyak ya "
Sean melihat tumpukan berkas yang menggunung di atas meja
" Hahaha apa perlu saya bantu "
Mao menawari
" Tidak perlu aku akan mengatasinya sebelum matahari terbit "
Sean mulai duduk dan membersihkan isi mejanya hingga fajar menyingsing
Pukul 05.00 pagi
" Huft lelahnya "
Sean dengan gontai berjalan ke kamar rawat Sbastian dan menidurkan dirinya sendiri di atas karpet bulu di lantai
" Bangunkan aku saat Aniel bangun "
Sean meminta
" Iya tuan "
Mao dan key menjawab
Pukul 07.00
" Kakak "
Aniel mulai bangun dari tidurnya
" Nona muda saya di sini "
Key memegang tangan Aniel
" Kakak mana "
Aniel masih terlihat memeluk erat tangan Sbastian
" Tuan Sean masih istirahat di karpet bulu"
Key menjawab
" Jam belapa kakak tidul "
Aniel bertanya
" Eh... Jam lima pagi "
Key menjawab
" Kakak balu tidul ya huh... Kan udah di bilang kakek ngak boleh bebang "
Aniel mengomel
" Begadang nona , bukan bebang "
Key membenarkan kalimat Aniel
" Huuuh... Aku kesel sama kakak , ayo ke kakek "
Key mengulurkan tangannya dan key membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Iya nona "
Key membawa Aniel menuju pak Sam
Di lantai dasar
" Kakeeeeek "
Aniel berteriak
" Iya iya kamu tau saja kakek di sini "
Terdengar suara pak Sam dari arah depan
" Kakak begadang lho kek "
Aniel mengadukan kelakuan Sean
" Apa kamu ikut begadang hm.. "
Pak Sam mengambil alih Aniel dari key
" Tidaaaak Aniel kan pintar "
Aniel membanggakan dirinya sendiri
" Iya iya "
Pak Sam membawa Aniel menuju meja makan
" Kamu sudah mandi "
Pak Sam mendudukkan Aniel di atas kursinya
" Beloom... Dan sekalaaaang Aniel makan "
Aniel terlihat sangat bersemangat
" Iya iya kita makan ya "
Pak Sam mulai menyuapi Aniel dan dirinya sendiri hingga selesai
" Tinggal satu ini haaa "
Pak Sam menyuapkan sesendok terakhir makanan kepada Aniel
" Aem.... Enyak "
Aniel mengunyah makanannya perlahan
" Ini minum pelan pelan "
Pak Sam memberikan segelas susu kepada Aniel
" Makasih kakek "
Aniel meminum segelas susunya perlahan hingga tandas tak tersisa
" Sekarang kamu mau apa hm.. "
Pak Sam membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Mau denger musik "
Aniel menjawab
" Baiklah kita denger musik di ruang tamu "
Pak Sam membawa Aniel ke ruang tamu dan mendudukkan Aniel di dalam kotak mainannya yang sebesar ruang kelas sekolahmu
Aniel mendengarkan musik sangat lama hingga matahari hampir setinggi kepala dan sif para penjaga sudah berganti bahkan Sbastian sudah terapi listrik untuk kedua kalinya hari ini
__ADS_1