
Setelah membeli banyak sekali barang , mobil Sbastian dan Clara beriringan menuju ke rumah sakit , di dalam mobil Clara , ada Sean dan liona yang duduk di bangku samping kemudi , Sean di sana di panvku oleh liona
Sedangkan di dalam mobil Sbastian ada John yang bertugas sebagai sopir , sedangkan Sbastian dan lion berbicara banyak tentang perusahaan di bangku belakang
" Oh ya kak cantik , di sini kak cantik kerja di mana "
Sean mulai kepo
" Kakak kerja di perusahaan , emang kenapa , kepo banget kayaknya "
Clara melihat Sean sekilas
" Ya.... Kepo aja hehehe "
Sean tertawa
Setelah pertanyaan Sean , akhirnya terjadilah percakapan antara wanita yang malas untuk di dengarkan , setelah beberapa saat , akhirnya mobil Clara dan Sbastian berhenti di tempat parkir rumah sakit
" Papa papa papa "
Sean menunggu pintu mobil di buka sambil berteriak-teriak papanya yang parkir di sebelahnya
" Iya iya "
Sbastian menghampiri Sean dan membuka pintu mobil , di sana terlihat liona yang sedang melepas sabuk pengamannya
" Sini sini "
Sbastian mengambil Sean dari pangkuan liona
" Kalian pergilah ke kamar ibu bintang dulu , aku mau mengantar lili untuk kemo "
Sbastian merangkul liona dan membawanya masuk duluan
" Lion ikut kak "
Lion berlari mensejajarkan langkahnya dengan saudaranya
" Tinggal kita deh "
Clara berbicara dengan asisten John yang masih ada di dalam mobil
" Aku masih sibuk dengan istriku , kamu duluan saja "
Asisten John berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar gepengnya
" Aku sendiri deh "
Clara mengambil barang-barang yang dia beli untuk putri
" Apa dokter Brian ada di kantornya "
Sbastian bertanya kepada resepsionis
" Ada tuan "
Resepsionis menjawab dengan sopan
" Ayo lili "
Sbastian mengandeng liona dan lion mengikuti dari belakang
" Kak , apa ini akan menjadi kemo terakhir lili "
Liona menatap Sbastian
" Kakak ngak bisa janji , tapi dokter bilang kan ini kemo terakhir kamu "
Sbastian tersenyum
" Lili takut "
Liona memeluk pinggang Sbastian
" Jangan takut kak , kan ada Sean "
Sean menepuk pelan kepala liona
" Iya iya "
Liona tersenyum dan mencium telapak tangan Sean
" Kakak lucu deh "
Sean mencubit gemas hidung liona
" Brian "
Sbastian memanggil dokter Brian yang kebetulan lewat di depannya
" Lho , kalian ngapain ke sini "
Dokter Brian menghampiri
" Ini mau kemo "
Sbastian mengusap kepala liona
" Hm.... Ini liona ya , dan ini lion si jagoan kecil "
Dokter Brian menepuk pundak lion
" Aku udah besar "
Lion menyisihkan tangan dokter Brian
" Hahaha , dokter spesialis mu ada di ruangannya "
Brian berjalan terlebih dahulu lalu di ikuti Sbastian dan lainnya
" Ayo kita periksa kesehatan juga "
Sean memberi usulan
" Boleh , lili mau tau apa kak lion yang kurus ini berat badannya nambah "
Liona menunjuk liona
" Hei hei "
Lion mencubit pipi liona
" hehehe "
Liona terkekeh
" Ayo masuk "
Sbastian masuk terlebih dahulu bersama Sean dan di ikuti singa kembar
" Wah... Rombongan nih "
Dokter pribadi liona menyambut
" Mau periksa kesehatan "
Sean menjawab pertanyaan dokter pribadi liona
" Hahaha jadi siapa dulu nih "
Bu dokter berdiri dan mengambil alat alat pemeriksaan
" Sean Sean sama kak lion "
Sean melompat kegirangan di atas pangkuan Sbastian
" Boleh , ayo kesini "
Bu dokter membawa Sean dan lion masuk ke ruangan pemeriksaan
" Berat badan kak lion berat badan kak lion"
Sean benar-benar antusias dengan pemeriksaan mereka
" Kak lion gemuk hahaha kak lion gemuk "
Sean tertawa melihat berat badan lion enam puluh sembilan hampir tujuh puluh
" Kok aku bisa gemuk "
Lion berlutut dan melihat angka timbangannya
" Kak lion jadi elephant hahaha "
Sean terbahak-bahak melihat Leon yang tidak terima anakan berat badannya
" Aku ini lion bukan elephant "
Lion melirik Sean tajam
" Hahahaha "
Sean terbahak-bahak hingga membuat Sbastian dan liona masuk ke dalam ruang pemeriksaan
" Kenapa ini "
Sbastian masuk bersama liona
" Kak lion jadi elephant hahaha "
Sean tertawa
" Apa sih ubur-ubur "
Lion menggelitik perut Sean
" Ngak geli ble... "
Sean menjulurkan lidahnya
" Sudah sudah , memangnya kenapa kok jadi elephant "
Sbastian mengangkat Sean ke dalam pelukannya
" Berat badan kak lion enam puluh sembilan"
Sean memberitahu berat badan Sean dengan semangat
" Wah... Berat sekali kamu hahaha "
Sbastian tertawa
" Sekarang detak jantung ya "
Bu dokter mengeluarkan stetoskop miliknya
" Sean mau dengar "
Sean menarik tangan Bu dokter
" Boleh "
Bu dokter menempelkan kedua alat dengar di telinga Sean
" Wah.... Duk Duk Duk Duk jantungnya kak lion Duk Duk Duk Duk "
Sean mendengarkan irama jantung lion dengan seksama
" Kalau kak lili gimana "
Sean mengarahkan stetoskop miliknya ke jantung lili
" Di sini "
Bu dokter membenarkan
" Wah... Jantung kak lili kayak mau lari , cepet banget Duk Duk nya "
Sean terkagum kagum
" Hahahaha "
Lili tertawa
" Sudah sudah , ayo lanjutkan "
Sbastian membawa Sean ke dalam pangkuannya sambil melihat Leon di periksa
Setelah pemeriksaan berjalan , Sbastian membawa Sean dan lion keluar dari ruangan dan di sambut oleh dokter Brian di depan ruang pemeriksaan
" Dimana liona "
Brian bertanya
" Di dalam "
Sean menjawab
" Hai kalian , sekarang kalian bisa pergi , nanti akan aku antar liona "
Brian duduk berseberangan dengan Sbastian
" Aku tidak percaya padamu , lebih baik aku tunggu liona "
Sbastian menatap Brian sinis
" Hei hei terserah kau saja "
Brian mengedikkan bahunya
" Bagaimana kabar Sisil "
Sbastian mengusap usap kepala Sean
" Masih satu bulan "
Brian menjawab
" Sudah USG "
Sbastian bertanya lagi
" Sudah "
Brian mengangguk
" Apa ngidam pertamanya "
Sbastian mengeluarkan hp nya
" Anakku ngak macam macam , cuman mau di suapin tiap pagi , ngak kayak anak mu dulu "
Brian menaik turunkan alisnya
__ADS_1
" Hahaha kau belum tau rasanya istri ngidam yang aneh-aneh , tunggu aja setelah satu bulan "
Sbastian terkekeh misterius
" Emang ngidam tuh apa sih pa "
Sean menatap papanya
" Ngidam tuh biasanya buat ibu-ibu yang hamil muda , kadang minta macem-macem yang buat suaminya kewalahan "
Leon menjelaskan
" Lagi hamil muda...... Oh.... Usianya masih muda gitu "
Sean memiringkan kepalanya
" Papa lupa pelajaran ini ngak ada di buku hahaha "
Sbastian tertawa
" Bukan dek , hamil muda itu usia adek bayinya yang di dalam perut masih beberapa bulan , belum enam bulan ke atas"
Lion menjelaskan
" Oh.... Sean ngerti "
Sean mengangguk angguk
" Emang dulu waktu bunda ngidam itu gimana "
Sean mulai kepo
Flashback on
Kandungan adinda waktu itu masih satu bulan kurang dua hari
" Mas... Mas Tian maaaaas "
Pukul dua malam , adinda membangunkan Sbastian yang tertidur di sofa kamar
" Kenapa sayang "
Sbastian membuka matanya dan membelai rambut panjang adinda yang terurai
"Adeknya laper , Adin mau makan mas , ayo makan "
Adinda mengguncang Sbastian
" Mau makan apa hm.. "
Sbastian tersenyum
" Mau di masakin cap Cai , ayo mas.... Adek bayinya mau makan sekarang "
Adinda mengguncang Sbastian yang kembali memejamkan matanya
" Iya iya ayo "
Sbastian berdiri dan berjalan bersama adinda menuju dapur dengan gaya mabuk karena matanya masih sulit di buka
" Mau makan apa tadi "
Sbastian memakai celemeknya
" Mau cap Cai , mas yang masak cap cainya"
Adinda meletakkan kepalanya di atas meja
" Itu sudah malam sayang , kita masak yang lain ya"
Sbastian mencoba bernegosiasi
" Ngak mau , adek maunya cap Cai , adek bayinya juga mau cap Cai "
Adinda mengguncang lengan Sbastian
" Adin sayang , ini udah malem , masak cap cai itu lama banget , besok aja ya , malem ini mas buatkan makanan yang lain "
Sbastian menangkup pipi adinda
" Tapi adek mau cap Cai "
Adinda mulai menitikkan air matanya
" Mau nasi goreng , mas buatkan "
Sbastian mengusap pipi adinda
" Mau cap Cai "
Air mata adinda mengalir lagi
" Apa mau mie instan "
Sbastian tersenyum
" Emang boleh "
Adinda menatap Sbastian dengan tatapan berbinar
" Sesekali boleh dong "
Sbastian membelai rambut adinda
" Tapi besok makan cap Cai ya "
Adinda mengajukan jari kelingkingnya
" Besok mas ngak ke kantor , mas buatin adinda cap Cai besok "
Sbastian menautkan jari kelingkingnya
" Janji ya "
Adinda tersenyum
" Janji sayang "
Sbastian mencium kening adinda
Flashback off
" Wah... Minta cap Cai malem-malem "
Sean terkekeh geli
" Masih ada yang lebih parah "
Sbastian terkekeh kecil
" Apa emang "
Leon menatap Sbastian
" Minta sate kambing jam dua belas malem hahahaha satenya kambing muda lagi "
Sbastian tertawa
" Astaga se serem itu ya "
Brian mulai membayangkan jika istrinya akan ngidam sesuatu yang wow
"Kakak "
Liona datang dengan wajah berbinar
Sbastian berdiri
" Kata dokter kemoterapi nya udah selesai , tinggal minum obat vitamin aja "
Liona memeluk Sbastian
" Bagus , kalau begitu mana resepnya "
Sbastian membelai kepala liona yang tertutup hijab
" Masih di dokter , kata dokter kak Lion atau kak Sbastian yang ambil "
Liona melepaskan pelukannya
" Kakak akan ambil "
Sbastian mendudukkan liona dan masuk ke dalam ruangan
" Apa kamu senang "
Lion membelai kepala liona
" Banget , nanti lili udah boleh makan camilan banyak-banyak deh , ngak perlu ada jatah dua hari sekali "
Liona tersenyum senang
" Meski begitu , liona ngak boleh sering-sering makan camilan ya , liona harus sering makan sayur sayuran "
Dokter Brian menyela
" Iya dokter , lili paham "
Liona tersenyum
" Ayo kita ambil resepnya "
Sbastian menghampiri dan membawa Sean ke dalam gendongannya
" Aku pergi dulu "
Sbastian melenggang pergi di ikuti liona dan lion yang sedang asyik bercanda ria
" Papa kenapa "
Sean menyentuh pipi Sbastian
" Papa ngak kenapa-kenapa "
Sbastian mencoba tersenyum
" Kita bisa bicara di roof top kok , biar kak lili ke kamar bintang "
Sean memeluk leher Sbastian
" Kalian duluan saja , kakak mau ambil obat liona "
Sbastian berbalik dan tersenyum
" Iya kak , kami duluan "
Lion membawa liona yang tidak berhenti mengoceh
" Ayo pa "
Sean menyadarkan Sbastian
Sbastian membawa Sean menuju atap rumah sakit dan duduk di sana di temani semilir angin dan terik matahari , Sbastian duduk dengan kepala yang di sangga oleh tangan , tangannya di sangga oleh kaki , sedangkan Sean duduk selonjoran di samping kiri Sbastian sambil memakan beberapa coklat
" Kak lili kenapa "
Sean menyentuh lengan Sbastian
" Dia baik "
Sbastian semakin menunduk
" Apa ada yang salah "
Sean mengupas satu coklat koinnya
" Iya "
Sbastian mengangguk
" Tentang apa "
Sean memakan coklatnya
" Lion "
Sbastian menyelonjorkan kakinya
" Kak lion sakit "
Sean menebak
" Kangker paru-paru , stadium awal "
Sbastian mulai meneteskan air mata
" Bukankah bisa di obati "
Sean memakan satu coklat koinnya lagi
" Iya "
Sbastian mengangguk
" Papa takut kak lion tinggalin kak lili "
Sean menebak
" Sangat "
Sbastian mengangguk lagi
" Kakak lion tau kah "
Sean mengeluarkan coklatnya lagi
" Tidak "
Sbastian menggeleng
" Apa nenek dan kakek tau "
Sean memakan coklatnya lagi
" Jangan biarkan mereka tau "
Sbastian mendongak ke atas , dia menutup matanya dan membiarkan air matanya mengalir begitu saja
" Bagaimana dengan kakek Sam "
Sean mengemasi coklatnya
" Mungkin harus tau "
__ADS_1
Sbastian mulai merosot dari sandarannya
" Apa yang bisa Sean bantu "
Sean berdiri
" Papa tidak tau "
Sbastian akhirnya merebahkan dirinya di atas atap yang panas
" Mao Mao "
Sean berteriak
" Saya tuan muda "
Mao datang di sana
" Kakak Lion ku terkena kangker paru paru , apa yang harus di lakukan , tapi jangan sampai yang lain tau "
Sean berdiri membelakangi Mao
" Saya akan rencanakan , mohon tuan dan tuan muda menenangkan diri "
Mao membungkuk lalu pergi
" Papa jangan khawatir "
Sean menghampiri Sbastian
" Dia adik papa "
Sbastian menyamping
" Dia kakak Sean "
Sean duduk dan bersandar di punggung Sbastian
" Beritahu kak lion saja , dia harus tau tentang tubuhnya "
Sean memberi usul
" Papa setuju , tapi papa tidak siap jika yang lain tau "
Sbastian berbalik dan memeluk Sean
" Tidak usah memberitahu yang lain , papa jangan sedih begini , papa ngak boleh keliatan sedih di depan kak lili yang baru sembuh "
Sean mengusap air mata Sbastian
" Papa tau "
Sbastian meringkuk dan memeluk erat Sean kecil
" Ayo turun nanti yang lain tungguin papa sama Sean "
Sean membelai lembut kepala Sbastian
" Iya "
Sbastian berdiri dan membawa Sean ke dalam pelukannya
" Ayo turun "
Sbastian mencium pipi gembul Sean dan mengusap air matanya
" Papa papa , papa itu udah tua ngak boleh nangis nangis "
Sean mencium pipi Sbastian
" Hahaha iya iya "
Sbastian memeluk Sean erat
Sbastian membawa Sean turun menuju tempat menebus obat , setelah itu Sbastian membawa Sean mengambil barang-barang yang akan di bawa ke kamar ibu bintang
" Adek bisa kan jalan sendiri "
Sbastian membawa dua kantong plastik besar dan Sean membawa dua kantong plastik kecil
" Bisa pa , Sean di depan ya "
Sean berjalan terlebih dahulu lalu di ikuti Sbastian dari belakang
" Adududuh lucunya , lihat-lihat ada bos kecil lewat , dia pakai jas lho rambutnya juga rapih "
Kata salah satu pengunjung rumah sakit
" Lihat lihat kakinya pakek sepatu lucu , bisa bisanya ada ikannya , makin lucu deh "
Di sahuti oleh pengunjung rumah sakit yang lain
" Anakku benar-benar populer "
Sbastian tersenyum
" Kyaaaaaaa papanya ganteng "
Seketika Sean berhenti dan menoleh ke belakang , melihat Sbastian yang sedang tersenyum manis melihat ke arahnya
" Jangan senyum pa "
Sean menatap papanya tajam
" Emang kenapa "
Sbastian menaikkan kedua alisnya
" Senyumnya buat bunda aja , jangan buat yang lain "
Sean semakin tajam menatap Sbastian
" Hahaha iya iya "
Sbastian terkekeh melihat Sean yang persis seperti adinda saat marah
" Awas ya "
Sean berbalik dan melanjutkan perjalanannya
Setelah melewati beberapa lantai , akhirnya Sbastian dan Sean sampai di kamar rawat ibu bintang
" Assalamualaikum "
Sean masuk saat pintunya di buka oleh Sbastian
" Wa'alaikum salam "
Semua orang menjawab dengan serempak
" Hai bintang , ini Sean bawa es krim , ayo makan bareng yok "
Sean berlari menghampiri bintang yang kelihatannya bermain dengan liona
" Ayah "
Bintang menatap ayahnya
" Boleh "
Ayah bintang mengangguk
" Ayo ayo "
Sean meletakkan semua es krim yang dia beli di atas meja dan memilih satu
" Bintang juga pilih "
Sean menarik tangan bintang
" Bintang mau es krim bintang "
Bintang mengambil es krim cup dengan bungkus gambar langit penuh bintang
" Ayo makan di balkon , Sean juga beli banyak makanan "
Sean membuka tas nya
" Ayah "
Bintang menoleh
" Iya "
Rudi mengangguk
" Yey "
Setelah mendapat persetujuan dari Rudi Sean menarik bintang menuju balkon
" Tunggu "
Bintang berhenti
" Kenapa "
Sean ikut berhenti
" Sebentar "
Bintang melepaskan pegangan tangannya dan berlari ke bankar ibunya
" Ibu mau es krim ngak "
Bintang berbicara dari bawah
" Kelihatannya enak "
Ibu bintang tersenyum
" Bintang mau makan sama ibu boleh "
Bintang menatap ayahnya
" ibu jangan di kasih banyak banyak ya , ibu kan lagi sakit "
Rudi mengangkat bintang ke atas bankar ibunya
" Ibuuu ini bintang kupas dulu "
Bintang membuka es krim berbentuk cup
" Aaaaaa ibu aaaa "
Bintang menyendok es krimnya dan menyiapkan suapan pertama Kepada ibunya
" Enak ngak Bu "
Bintang menyuapkan suapan kedua kepada dirinya sendiri
" Enak sayang "
Ibu bintang tersenyum
Liona menatap mereka iri , dirinya menggenggam tangan lion yang berada di samping nya , matanya memerah tanda bisa tumpah kapan saja
" Hei hei "
Lion mengusap kepala liona
*Klotak
Sean menjatuhkan es krimnya dan membuat semua mengalihkan pandangannya pada Sean
" Hiks... Papaaaaa "
Sean menutup matanya dengan lengannya namun isakan darinya mulai terdengar
" Kenapa sayang "
Sbastian berdiri dan menghampiri Sean
" Kenapa bunda ninggalin papa , kenapa Sean ngak punya bunda papaaaa"
Sean terduduk dan menatap Sbastian dengan air mata , bibirnya bergetar tanda dia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi
" Sssttt "
Sbastian menutup mulut Sean dengan telunjuknya
" Jangan bilang gitu dong , kan ada papa di sini "
Sbastian membawa Sean ke dalam pelukannya
" Adek wafi punya bunda.. hiks.. papa sama kak kembar punya bunda hiks.. bintang juga punya hiks.. Sean pengen ketemu bunda Sean papaaaa "
Sean memeluk Sbastian erat dan menumpahkan semua kesedihannya
" Jangan bilang gitu sayang , jangan ya "
Sbastian membawa Sean duduk di kursi
" jangan bicara yang aneh-aneh , papa ngak suka "
Sbastian mengusap air mata Sean
" Kenapa pa , kenapa "
Sean menatap Sbastian dengan tatapan penuh kesedihan
" Karena kita sama "
Sbastian berbisik dan menyatukan dahinya dengan dahi Sean
" Papa "
Sean menghapus air matanya dan memeluk Sbastian
" Iya "
Sbastian meletakkan Sean di pangkuannya seperti adik bayi dan meninabobokan Sean
" Tidurlah "
Sbastian menepuk-nepuk punggung Sean
" Hehemm... "
Sean menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di atas dada Sbastian
" Lihat , Sean lebih dari kamu "
Lion memeluk liona
__ADS_1
" Iya kak "
Liona mengangguk