Aku Pangeran

Aku Pangeran
#64 ( terlalu banyak )


__ADS_3

Setelah membeli banyak sekali barang , mobil Sbastian dan Clara beriringan menuju ke rumah sakit , di dalam mobil Clara , ada Sean dan liona yang duduk di bangku samping kemudi , Sean di sana di panvku oleh liona


Sedangkan di dalam mobil Sbastian ada John yang bertugas sebagai sopir , sedangkan Sbastian dan lion berbicara banyak tentang perusahaan di bangku belakang


" Oh ya kak cantik , di sini kak cantik kerja di mana "


Sean mulai kepo


" Kakak kerja di perusahaan , emang kenapa , kepo banget kayaknya "


Clara melihat Sean sekilas


" Ya.... Kepo aja hehehe "


Sean tertawa


Setelah pertanyaan Sean , akhirnya terjadilah percakapan antara wanita yang malas untuk di dengarkan , setelah beberapa saat , akhirnya mobil Clara dan Sbastian berhenti di tempat parkir rumah sakit


" Papa papa papa "


Sean menunggu pintu mobil di buka sambil berteriak-teriak papanya yang parkir di sebelahnya


" Iya iya "


Sbastian menghampiri Sean dan membuka pintu mobil , di sana terlihat liona yang sedang melepas sabuk pengamannya


" Sini sini "


Sbastian mengambil Sean dari pangkuan liona


" Kalian pergilah ke kamar ibu bintang dulu , aku mau mengantar lili untuk kemo "


Sbastian merangkul liona dan membawanya masuk duluan


" Lion ikut kak "


Lion berlari mensejajarkan langkahnya dengan saudaranya


" Tinggal kita deh "


Clara berbicara dengan asisten John yang masih ada di dalam mobil


" Aku masih sibuk dengan istriku , kamu duluan saja "


Asisten John berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar gepengnya


" Aku sendiri deh "


Clara mengambil barang-barang yang dia beli untuk putri


" Apa dokter Brian ada di kantornya "


Sbastian bertanya kepada resepsionis


" Ada tuan "


Resepsionis menjawab dengan sopan


" Ayo lili "


Sbastian mengandeng liona dan lion mengikuti dari belakang


" Kak , apa ini akan menjadi kemo terakhir lili "


Liona menatap Sbastian


" Kakak ngak bisa janji , tapi dokter bilang kan ini kemo terakhir kamu "


Sbastian tersenyum


" Lili takut "


Liona memeluk pinggang Sbastian


" Jangan takut kak , kan ada Sean "


Sean menepuk pelan kepala liona


" Iya iya "


Liona tersenyum dan mencium telapak tangan Sean


" Kakak lucu deh "


Sean mencubit gemas hidung liona


" Brian "


Sbastian memanggil dokter Brian yang kebetulan lewat di depannya


" Lho , kalian ngapain ke sini "


Dokter Brian menghampiri


" Ini mau kemo "


Sbastian mengusap kepala liona


" Hm.... Ini liona ya , dan ini lion si jagoan kecil "


Dokter Brian menepuk pundak lion


" Aku udah besar "


Lion menyisihkan tangan dokter Brian


" Hahaha , dokter spesialis mu ada di ruangannya "


Brian berjalan terlebih dahulu lalu di ikuti Sbastian dan lainnya


" Ayo kita periksa kesehatan juga "


Sean memberi usulan


" Boleh , lili mau tau apa kak lion yang kurus ini berat badannya nambah "


Liona menunjuk liona


" Hei hei "


Lion mencubit pipi liona


" hehehe "


Liona terkekeh


" Ayo masuk "


Sbastian masuk terlebih dahulu bersama Sean dan di ikuti singa kembar


" Wah... Rombongan nih "


Dokter pribadi liona menyambut


" Mau periksa kesehatan "


Sean menjawab pertanyaan dokter pribadi liona


" Hahaha jadi siapa dulu nih "


Bu dokter berdiri dan mengambil alat alat pemeriksaan


" Sean Sean sama kak lion "


Sean melompat kegirangan di atas pangkuan Sbastian


" Boleh , ayo kesini "


Bu dokter membawa Sean dan lion masuk ke ruangan pemeriksaan


" Berat badan kak lion berat badan kak lion"


Sean benar-benar antusias dengan pemeriksaan mereka


" Kak lion gemuk hahaha kak lion gemuk "


Sean tertawa melihat berat badan lion enam puluh sembilan hampir tujuh puluh


" Kok aku bisa gemuk "


Lion berlutut dan melihat angka timbangannya


" Kak lion jadi elephant hahaha "


Sean terbahak-bahak melihat Leon yang tidak terima anakan berat badannya


" Aku ini lion bukan elephant "


Lion melirik Sean tajam


" Hahahaha "


Sean terbahak-bahak hingga membuat Sbastian dan liona masuk ke dalam ruang pemeriksaan


" Kenapa ini "


Sbastian masuk bersama liona


" Kak lion jadi elephant hahaha "


Sean tertawa


" Apa sih ubur-ubur "


Lion menggelitik perut Sean


" Ngak geli ble... "


Sean menjulurkan lidahnya


" Sudah sudah , memangnya kenapa kok jadi elephant "


Sbastian mengangkat Sean ke dalam pelukannya


" Berat badan kak lion enam puluh sembilan"


Sean memberitahu berat badan Sean dengan semangat


" Wah... Berat sekali kamu hahaha "


Sbastian tertawa


" Sekarang detak jantung ya "


Bu dokter mengeluarkan stetoskop miliknya


" Sean mau dengar "


Sean menarik tangan Bu dokter


" Boleh "


Bu dokter menempelkan kedua alat dengar di telinga Sean


" Wah.... Duk Duk Duk Duk jantungnya kak lion Duk Duk Duk Duk "


Sean mendengarkan irama jantung lion dengan seksama


" Kalau kak lili gimana "


Sean mengarahkan stetoskop miliknya ke jantung lili


" Di sini "


Bu dokter membenarkan


" Wah... Jantung kak lili kayak mau lari , cepet banget Duk Duk nya "


Sean terkagum kagum


" Hahahaha "


Lili tertawa


" Sudah sudah , ayo lanjutkan "


Sbastian membawa Sean ke dalam pangkuannya sambil melihat Leon di periksa


Setelah pemeriksaan berjalan , Sbastian membawa Sean dan lion keluar dari ruangan dan di sambut oleh dokter Brian di depan ruang pemeriksaan


" Dimana liona "


Brian bertanya


" Di dalam "


Sean menjawab


" Hai kalian , sekarang kalian bisa pergi , nanti akan aku antar liona "


Brian duduk berseberangan dengan Sbastian


" Aku tidak percaya padamu , lebih baik aku tunggu liona "


Sbastian menatap Brian sinis


" Hei hei terserah kau saja "


Brian mengedikkan bahunya


" Bagaimana kabar Sisil "


Sbastian mengusap usap kepala Sean


" Masih satu bulan "


Brian menjawab


" Sudah USG "


Sbastian bertanya lagi


" Sudah "


Brian mengangguk


" Apa ngidam pertamanya "


Sbastian mengeluarkan hp nya


" Anakku ngak macam macam , cuman mau di suapin tiap pagi , ngak kayak anak mu dulu "


Brian menaik turunkan alisnya

__ADS_1


" Hahaha kau belum tau rasanya istri ngidam yang aneh-aneh , tunggu aja setelah satu bulan "


Sbastian terkekeh misterius


" Emang ngidam tuh apa sih pa "


Sean menatap papanya


" Ngidam tuh biasanya buat ibu-ibu yang hamil muda , kadang minta macem-macem yang buat suaminya kewalahan "


Leon menjelaskan


" Lagi hamil muda...... Oh.... Usianya masih muda gitu "


Sean memiringkan kepalanya


" Papa lupa pelajaran ini ngak ada di buku hahaha "


Sbastian tertawa


" Bukan dek , hamil muda itu usia adek bayinya yang di dalam perut masih beberapa bulan , belum enam bulan ke atas"


Lion menjelaskan


" Oh.... Sean ngerti "


Sean mengangguk angguk


" Emang dulu waktu bunda ngidam itu gimana "


Sean mulai kepo


Flashback on


Kandungan adinda waktu itu masih satu bulan kurang dua hari


" Mas... Mas Tian maaaaas "


Pukul dua malam , adinda membangunkan Sbastian yang tertidur di sofa kamar


" Kenapa sayang "


Sbastian membuka matanya dan membelai rambut panjang adinda yang terurai


"Adeknya laper , Adin mau makan mas , ayo makan "


Adinda mengguncang Sbastian


" Mau makan apa hm.. "


Sbastian tersenyum


" Mau di masakin cap Cai , ayo mas.... Adek bayinya mau makan sekarang "


Adinda mengguncang Sbastian yang kembali memejamkan matanya


" Iya iya ayo "


Sbastian berdiri dan berjalan bersama adinda menuju dapur dengan gaya mabuk karena matanya masih sulit di buka


" Mau makan apa tadi "


Sbastian memakai celemeknya


" Mau cap Cai , mas yang masak cap cainya"


Adinda meletakkan kepalanya di atas meja


" Itu sudah malam sayang , kita masak yang lain ya"


Sbastian mencoba bernegosiasi


" Ngak mau , adek maunya cap Cai , adek bayinya juga mau cap Cai "


Adinda mengguncang lengan Sbastian


" Adin sayang , ini udah malem , masak cap cai itu lama banget , besok aja ya , malem ini mas buatkan makanan yang lain "


Sbastian menangkup pipi adinda


" Tapi adek mau cap Cai "


Adinda mulai menitikkan air matanya


" Mau nasi goreng , mas buatkan "


Sbastian mengusap pipi adinda


" Mau cap Cai "


Air mata adinda mengalir lagi


" Apa mau mie instan "


Sbastian tersenyum


" Emang boleh "


Adinda menatap Sbastian dengan tatapan berbinar


" Sesekali boleh dong "


Sbastian membelai rambut adinda


" Tapi besok makan cap Cai ya "


Adinda mengajukan jari kelingkingnya


" Besok mas ngak ke kantor , mas buatin adinda cap Cai besok "


Sbastian menautkan jari kelingkingnya


" Janji ya "


Adinda tersenyum


" Janji sayang "


Sbastian mencium kening adinda


Flashback off


" Wah... Minta cap Cai malem-malem "


Sean terkekeh geli


" Masih ada yang lebih parah "


Sbastian terkekeh kecil


" Apa emang "


Leon menatap Sbastian


" Minta sate kambing jam dua belas malem hahahaha satenya kambing muda lagi "


Sbastian tertawa


" Astaga se serem itu ya "


Brian mulai membayangkan jika istrinya akan ngidam sesuatu yang wow


"Kakak "


Liona datang dengan wajah berbinar


Sbastian berdiri


" Kata dokter kemoterapi nya udah selesai , tinggal minum obat vitamin aja "


Liona memeluk Sbastian


" Bagus , kalau begitu mana resepnya "


Sbastian membelai kepala liona yang tertutup hijab


" Masih di dokter , kata dokter kak Lion atau kak Sbastian yang ambil "


Liona melepaskan pelukannya


" Kakak akan ambil "


Sbastian mendudukkan liona dan masuk ke dalam ruangan


" Apa kamu senang "


Lion membelai kepala liona


" Banget , nanti lili udah boleh makan camilan banyak-banyak deh , ngak perlu ada jatah dua hari sekali "


Liona tersenyum senang


" Meski begitu , liona ngak boleh sering-sering makan camilan ya , liona harus sering makan sayur sayuran "


Dokter Brian menyela


" Iya dokter , lili paham "


Liona tersenyum


" Ayo kita ambil resepnya "


Sbastian menghampiri dan membawa Sean ke dalam gendongannya


" Aku pergi dulu "


Sbastian melenggang pergi di ikuti liona dan lion yang sedang asyik bercanda ria


" Papa kenapa "


Sean menyentuh pipi Sbastian


" Papa ngak kenapa-kenapa "


Sbastian mencoba tersenyum


" Kita bisa bicara di roof top kok , biar kak lili ke kamar bintang "


Sean memeluk leher Sbastian


" Kalian duluan saja , kakak mau ambil obat liona "


Sbastian berbalik dan tersenyum


" Iya kak , kami duluan "


Lion membawa liona yang tidak berhenti mengoceh


" Ayo pa "


Sean menyadarkan Sbastian


Sbastian membawa Sean menuju atap rumah sakit dan duduk di sana di temani semilir angin dan terik matahari , Sbastian duduk dengan kepala yang di sangga oleh tangan , tangannya di sangga oleh kaki , sedangkan Sean duduk selonjoran di samping kiri Sbastian sambil memakan beberapa coklat


" Kak lili kenapa "


Sean menyentuh lengan Sbastian


" Dia baik "


Sbastian semakin menunduk


" Apa ada yang salah "


Sean mengupas satu coklat koinnya


" Iya "


Sbastian mengangguk


" Tentang apa "


Sean memakan coklatnya


" Lion "


Sbastian menyelonjorkan kakinya


" Kak lion sakit "


Sean menebak


" Kangker paru-paru , stadium awal "


Sbastian mulai meneteskan air mata


" Bukankah bisa di obati "


Sean memakan satu coklat koinnya lagi


" Iya "


Sbastian mengangguk


" Papa takut kak lion tinggalin kak lili "


Sean menebak


" Sangat "


Sbastian mengangguk lagi


" Kakak lion tau kah "


Sean mengeluarkan coklatnya lagi


" Tidak "


Sbastian menggeleng


" Apa nenek dan kakek tau "


Sean memakan coklatnya lagi


" Jangan biarkan mereka tau "


Sbastian mendongak ke atas , dia menutup matanya dan membiarkan air matanya mengalir begitu saja


" Bagaimana dengan kakek Sam "


Sean mengemasi coklatnya


" Mungkin harus tau "

__ADS_1


Sbastian mulai merosot dari sandarannya


" Apa yang bisa Sean bantu "


Sean berdiri


" Papa tidak tau "


Sbastian akhirnya merebahkan dirinya di atas atap yang panas


" Mao Mao "


Sean berteriak


" Saya tuan muda "


Mao datang di sana


" Kakak Lion ku terkena kangker paru paru , apa yang harus di lakukan , tapi jangan sampai yang lain tau "


Sean berdiri membelakangi Mao


" Saya akan rencanakan , mohon tuan dan tuan muda menenangkan diri "


Mao membungkuk lalu pergi


" Papa jangan khawatir "


Sean menghampiri Sbastian


" Dia adik papa "


Sbastian menyamping


" Dia kakak Sean "


Sean duduk dan bersandar di punggung Sbastian


" Beritahu kak lion saja , dia harus tau tentang tubuhnya "


Sean memberi usul


" Papa setuju , tapi papa tidak siap jika yang lain tau "


Sbastian berbalik dan memeluk Sean


" Tidak usah memberitahu yang lain , papa jangan sedih begini , papa ngak boleh keliatan sedih di depan kak lili yang baru sembuh "


Sean mengusap air mata Sbastian


" Papa tau "


Sbastian meringkuk dan memeluk erat Sean kecil


" Ayo turun nanti yang lain tungguin papa sama Sean "


Sean membelai lembut kepala Sbastian


" Iya "


Sbastian berdiri dan membawa Sean ke dalam pelukannya


" Ayo turun "


Sbastian mencium pipi gembul Sean dan mengusap air matanya


" Papa papa , papa itu udah tua ngak boleh nangis nangis "


Sean mencium pipi Sbastian


" Hahaha iya iya "


Sbastian memeluk Sean erat


Sbastian membawa Sean turun menuju tempat menebus obat , setelah itu Sbastian membawa Sean mengambil barang-barang yang akan di bawa ke kamar ibu bintang


" Adek bisa kan jalan sendiri "


Sbastian membawa dua kantong plastik besar dan Sean membawa dua kantong plastik kecil


" Bisa pa , Sean di depan ya "


Sean berjalan terlebih dahulu lalu di ikuti Sbastian dari belakang


" Adududuh lucunya , lihat-lihat ada bos kecil lewat , dia pakai jas lho rambutnya juga rapih "


Kata salah satu pengunjung rumah sakit


" Lihat lihat kakinya pakek sepatu lucu , bisa bisanya ada ikannya , makin lucu deh "


Di sahuti oleh pengunjung rumah sakit yang lain


" Anakku benar-benar populer "


Sbastian tersenyum


" Kyaaaaaaa papanya ganteng "


Seketika Sean berhenti dan menoleh ke belakang , melihat Sbastian yang sedang tersenyum manis melihat ke arahnya


" Jangan senyum pa "


Sean menatap papanya tajam


" Emang kenapa "


Sbastian menaikkan kedua alisnya


" Senyumnya buat bunda aja , jangan buat yang lain "


Sean semakin tajam menatap Sbastian


" Hahaha iya iya "


Sbastian terkekeh melihat Sean yang persis seperti adinda saat marah


" Awas ya "


Sean berbalik dan melanjutkan perjalanannya


Setelah melewati beberapa lantai , akhirnya Sbastian dan Sean sampai di kamar rawat ibu bintang


" Assalamualaikum "


Sean masuk saat pintunya di buka oleh Sbastian


" Wa'alaikum salam "


Semua orang menjawab dengan serempak


" Hai bintang , ini Sean bawa es krim , ayo makan bareng yok "


Sean berlari menghampiri bintang yang kelihatannya bermain dengan liona


" Ayah "


Bintang menatap ayahnya


" Boleh "


Ayah bintang mengangguk


" Ayo ayo "


Sean meletakkan semua es krim yang dia beli di atas meja dan memilih satu


" Bintang juga pilih "


Sean menarik tangan bintang


" Bintang mau es krim bintang "


Bintang mengambil es krim cup dengan bungkus gambar langit penuh bintang


" Ayo makan di balkon , Sean juga beli banyak makanan "


Sean membuka tas nya


" Ayah "


Bintang menoleh


" Iya "


Rudi mengangguk


" Yey "


Setelah mendapat persetujuan dari Rudi Sean menarik bintang menuju balkon


" Tunggu "


Bintang berhenti


" Kenapa "


Sean ikut berhenti


" Sebentar "


Bintang melepaskan pegangan tangannya dan berlari ke bankar ibunya


" Ibu mau es krim ngak "


Bintang berbicara dari bawah


" Kelihatannya enak "


Ibu bintang tersenyum


" Bintang mau makan sama ibu boleh "


Bintang menatap ayahnya


" ibu jangan di kasih banyak banyak ya , ibu kan lagi sakit "


Rudi mengangkat bintang ke atas bankar ibunya


" Ibuuu ini bintang kupas dulu "


Bintang membuka es krim berbentuk cup


" Aaaaaa ibu aaaa "


Bintang menyendok es krimnya dan menyiapkan suapan pertama Kepada ibunya


" Enak ngak Bu "


Bintang menyuapkan suapan kedua kepada dirinya sendiri


" Enak sayang "


Ibu bintang tersenyum


Liona menatap mereka iri , dirinya menggenggam tangan lion yang berada di samping nya , matanya memerah tanda bisa tumpah kapan saja


" Hei hei "


Lion mengusap kepala liona


*Klotak


Sean menjatuhkan es krimnya dan membuat semua mengalihkan pandangannya pada Sean


" Hiks... Papaaaaa "


Sean menutup matanya dengan lengannya namun isakan darinya mulai terdengar


" Kenapa sayang "


Sbastian berdiri dan menghampiri Sean


" Kenapa bunda ninggalin papa , kenapa Sean ngak punya bunda papaaaa"


Sean terduduk dan menatap Sbastian dengan air mata , bibirnya bergetar tanda dia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi


" Sssttt "


Sbastian menutup mulut Sean dengan telunjuknya


" Jangan bilang gitu dong , kan ada papa di sini "


Sbastian membawa Sean ke dalam pelukannya


" Adek wafi punya bunda.. hiks.. papa sama kak kembar punya bunda hiks.. bintang juga punya hiks.. Sean pengen ketemu bunda Sean papaaaa "


Sean memeluk Sbastian erat dan menumpahkan semua kesedihannya


" Jangan bilang gitu sayang , jangan ya "


Sbastian membawa Sean duduk di kursi


" jangan bicara yang aneh-aneh , papa ngak suka "


Sbastian mengusap air mata Sean


" Kenapa pa , kenapa "


Sean menatap Sbastian dengan tatapan penuh kesedihan


" Karena kita sama "


Sbastian berbisik dan menyatukan dahinya dengan dahi Sean


" Papa "


Sean menghapus air matanya dan memeluk Sbastian


" Iya "


Sbastian meletakkan Sean di pangkuannya seperti adik bayi dan meninabobokan Sean


" Tidurlah "


Sbastian menepuk-nepuk punggung Sean


" Hehemm... "


Sean menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di atas dada Sbastian


" Lihat , Sean lebih dari kamu "


Lion memeluk liona

__ADS_1


" Iya kak "


Liona mengangguk


__ADS_2