Aku Pangeran

Aku Pangeran
# 30 { percakapan aneh }


__ADS_3

Di kantor


" Paman di sini sekolahnya nanti naik apa ya , kan kalau di rumah dulu Sean sering liat kakak kakak yang mau berangkat sekolah itu ada yang naik bis , ada yang naik sepeda , ada yang jalan kalau rumahnya Deket sama sekolah , terus Sean nanti naik apa paman , terus kalau pulang Sean naik apa , masa tiap hari Sean harus tunggu paman , kalau jemputnya telat gimana , terus kalau papa sama paman ngak bisa anterin Sean sekolah , nanti Sean ngak sekolah dong , terus ketinggalan pelajaran , terus nanti kalau Sean ada pulang cepat nanti Sean di jemput siapa , kan Sean ngak boleh bawa hp kalau sekolah , terus kenapa tadi ngak beli seragam ya , padahal sekolah kan pakai seragam , terus masa Sean pakek baju kayak gini buat ke sekolah , nanti Sean sepatunya gimana dong , Sean kan nanti ngak bisa sama bajunya sama temen-temen , terus nanti kalau temen-temen Sean udah pulang semua terus Sean belum pulang gimana kan repot "


Sean melemparkan pertanyaan beruntun


" Astaga satu satu tuan "


Asisten John kebingungan akan pertanyaan Sean dan membuat Sbastian yang sedang mengurus beberapa laporan kantor tertawa keras mendengan pertanyaan beruntun Sean


" Nanti tuan ngak perlu pakai seragam , kan di sini pakai baju bebas "


Sbastian memberikan foto anak-anak yang bersekolah di beberapa sekolahan di Swiss


" Lho kok baju bebas ya , nanti ada liburnya ngak paman , kan kalau di Indonesia kita libur puasa , kalau di sini libur apa "


Sean mengamati foto itu


" Di sini ada libur musim panas dan libur musim dingin "


Asisten John menunjukkan beberapa potret kegiatan musim dingin dan musim panas di Swiss


" Lho liburnya dua kali dong , nanti apa ngak ketinggalan pelajaran kalau liburnya kebanyakan "


Sean menatap Sbastian


" Haha adek adek "


Sbastian hanya geleng geleng kepala melihat Sean yang menurutnya cukup cerdas


" Papa , kan di Indonesia ada bis sekolah , nanti Sean berangkatnya naik bis sekolah kah ??"


Sean berbalik dan berdiri di atas sofa di ruang kerja Sbastian


" Di sini ada bis sekolah , adek mau naik bis sekolah kah ?? "


Sbastian kembali bertanya


" Mau dong papa , tapi nanti bayarnya pakek apa , kan kalau di Indonesia kita pakek uang biasa , apa di sini pakek kartu ya pa "


Pertanyaan Sean membuat Sbastian terkejut


" Adek emang pernah naik bis umum di Indonesia "


Sbastian bertanya


" Pernah dulu sama bi Aini , terus naik bis lagi sama paman aji karena mobilnya rusak , papa inget kan pas di Fila "


Sean mengingatkan


" Oh... Pas mau jemput papa di kantor ya "


Sbastian meletakkan bulpoin dan menutup berkas terakhir


" Iya papa inget ngak , itu kan Sean pulang sama paman aji naik bis "


Sean melihat papanya serius


" Iya papa inget , emang kamu tau dari mana bayar bis bisa pakek kartu "


Sbastian kembali bertanya


" Tau di film-film "


Sean menunjuk hp nya yang ada di atas meja


" Hahaha astaga papa kira udah pernah naik sendiri "


Sbastian tertawa


" Mau coba pakek kartu buat bayar bis "


Sbastian berdiri dan menghampiri Sean


" Mau..mau ayo pa adek mau "


Sean menjawab dengan antusias


" Ok ayo kita naik sekarang , kita pulang ke rumah pakek bis "


Sbastian memasukkan semua alat tulis Sean yang berserakan di atas meja dan memakaikan sepatu Sean


" Kamu pulang sendiri saja "


Sbastian melihat asisten John


" Papa paman John ikut aja ya "


Sean meminta dengan pupil aye


" eh... Nanti bunda az-az pasti nungguin paman "


Sbastian mencoba menolak


" Ayolah pa... Nanti bunda az-az di telfon aja ya "


Sean mengeluarkan mata imutnya lagi


" Kapan kapan aja ya "

__ADS_1


Sbastian menolak kembali


" Boleh ya pa.. "


Mata Sean yang mulai berkaca-kaca membuat Sbastian tidak tega


" Ok deh..."


Sbastian akhirnya menyerah


" Yey sayang papa "


Sean memeluk Sbastian


" Yaudah ayo turun "


Sbastian menggendong Sean dan keluar kantor di ikuti asisten John


" Kamu handel ya sisanya , sebagian banyak sudah di kerjakan oleh asisten John "


Sbastian berbicara dengan asisten perempuannya


" Baik tuan "


Asisten itu mengangguk mengerti


" Lho kok kakaknya bisa bahasa Indonesia pa "


Setelah menjauh Sean bertanya sambil berbisik


" Dia orang Indonesia nak , tapi dia pindah ke sini karena pekerjaan "


Sbastian menjelaskan


" Banyak ya pa orang Indonesia di sini "


Sean mengelus janggut kecilnya


" Haha ngak banyak cuma beberapa doang "


Sbastian menunjuk tiga karyawan yang berasal dari Indonesia


" Woooow keren "


Sean mengagumi papanya yang menurutnya bisa menjawab semua pertanyaannya


" Ok sekarang kita tunggu bisanya datang "


Sbastian membawa Sean duduk di halte bis yang tidak jauh dari kantor


Setelah beberapa waktu terlihat bis dari kejauhan yang mulai mendekat ke arah halte


Sean meloncat riang di atas tempat duduk halte


" Hahaha dengar ya nanti di dalam bis Sean ngak boleh ramai , mengerti "


Sbastian memberikan penjelasan


" Siap bos "


Sean memberikan hormat kepada Sbastian layaknya anak buah dan bosnya


" Mari tuan "


Asisten John mempersilahkan Sbastian dan Sean terlebih dahulu


" Woah.... Terus gimana pa "


Sean melihat pembatas di atas tangga yang membatasinya untuk duduk di kursi di dalam bis


" Nih mau coba "


Sbastian memberikan kartu bis kepada Sean


" Mau "


Sean menggosokkan kartu itu sesuai interaksi Sbastian


" Ucapkan salam kepada pak supir "


Sbastian berhenti di belakang pak supir dan membuat pak supir menoleh


"guten nacmittag "


Sean memberikan hormat kepada pak supir


" Hahaha guten nacmittag tuan muda "


Pak supir itu berbicara dengan bahasa Indonesia dan membuat Sean terkejut


" Woah.... Pak supir kereeen "


Sean memberikan tepuk tangan dan membuat penumpang bis tertawa melihat kelucuan Sean


" Silahkan menikmati perjalanan tuan "


Supir itu berbicara dengan bahasa Indonesia baku


" Terimakasih paman "

__ADS_1


Sean melambaikan tangan


" Mari duduk "


Sbastian membawa Sean duduk di kursi bis yang tersusun dengan tiga kursi di kanan dan kiri


" Udah penuh paman , paman duduk di belakang "


Sean duduk di samping seseorang yang membaca buku


" Baik tuan muda "


Asisten John duduk di belakang sendirian


" Permisi nona "


Sbastian berbicara dengan bahasa Jerman


" Oh... Silahkan "


Orang itu menutup bukunya dan menoleh kepada Sbastian


" Lho anda "


Wanita itu terkejut


" Nona Clara "


Sbastian juga terkejut melihat wanita itu


Sean yang kebingungan melihat mereka berdua lalu berdiri dan membuat Sbastian juga Clara kebingungan karena Sean


" Lho kakak cantik , kok bisa di sini , kakak cantik ngapain "


Sean berdiri dan Sbastian memegangi Sean


" Basa basi anda lebih bermutu tuan muda "


Asisten John yang mendengarkan dari belakang mengomentari tuan mudanya


" Kakak cantik mau kemana "


Sean kembali bertanya


" Mau ke sekolahan "


Clara memencet hidung kecil Sean


" Lho kakak guru "


Sean memegang tangan Clara yang ada di hidungnya


" Hahaha iya "


Clara terkekeh kecil


" Kakak masih sibuk ngak "


Sean duduk kembali


" Iya Sean , kakak masih sibuk , kapan kapan saja ya "


Clara mengelus rambut Sean


" Ok deh "


Sean duduk diam dan membuat suasana di dalam bis menjadi canggung


" Kak kan kakak guru , nanti kalau sekolah di sini pulangnya pakek apa pakek bis apa pakek Mobil apa jalan kaki "


Sean melontarkan pertanyaan kepada Clara


" Astaga dek , papa belin aja ya sekolahnya biar ngak ribet "


Sbastian mulai kesal dengan Sean


" Ngak usah pa , makasih "


Sean menolak tawaran papanya


" Papa beliin sekalian sama bisnya ya , biar ngak banyak tanya kamu anak nakal"


Sbastian memencet hidung Sean


Namun percakapan itu membuat Clara ternganga


Di balik layar


Clara : "astaga percakapan kalian ngak ada di dalam naskah deh"


Sbastian : " hehehe ya itu naskah dadakan dari author "


Sbastian : "ya kan Thor"


Author : " Hm.... "


Sean : " kak Sean mau coklat dong "


Author : "nih buat besok juga jangan kebanyakan nanti bolong kamu punya gigi "

__ADS_1


Sean : " Yey makasih "


__ADS_2