Aku Pangeran

Aku Pangeran
#41 { mau pulang dong }


__ADS_3

" Lihatlah telurnya "


Pak tua itu menunjuk telur yang mulai retak


" Woah... Telurnya pecah "


Sean mendekati telur itu dan menunggu makhluk apa yang keluar dari telur itu


" Cit..cit.. "


Keluar dari kedua telur itu secara bersamaan satu yang seperti kadal dan satunya lagi mirip seperti anak ayam


" Woah..... "


Mata Sean berbinar saat melihat kedua makhluk kecil itu membuka matanya


" Tuan "


Kedua makhluk kecil itu menghampiri Sean


" Eh.... Suaranya mirip sama.... Astaga kalian suara anak-anak itu ya "


Sean terkejut


" Iya tuan "


Suara anak perempuan itu mengiyakan


" Terus yang anak perempuan yang mana"


Sean memandang kedua makhluk yang hanya sebesar kadal dan anak ayam itu


" Saya yang perempuan tuan "


Sang anak ayam itu berjalan mendekat


" Dan saya anak laki-laki itu "


Kadal itu ikut mendekati Sean


" Hahahaha kalian lucu "


Sean mengambil mereka berdua lalu menunjukkannya pada pak tua yang tersenyum melihatnya


" Baiklah , saatnya kita pulang "


Pak tua berdiri dan menyadarkan Sean bahwa papanya sedang menunggunya


" Ayo pulang pak tua , papaku sudah menungguku "


Sean mengambil kotak harta Karun itu lalu memasukkan kedua hewan itu ke dalamnya


" Apa kamu ingat dimana tempat kamu masuk ke sini "


Pak tua itu mengelus rambut Sean


" Tau , Sean masih inget kok , ayo pak tua "


Sean mengandeng pak tua dan menuntunnya melewati jalan yang tadi ia lewati


Setelah berjalan di tengah-tengah salju dalam waktu yang cukup lama , akhirnya Sean dan pak tua sampai di tempat dimana Sean tadi masuk ke dalam dimensi itu


" Tadi di sini Sean kasih robekan baju Sean , jadi Sean ngak akan lupa tempat awal Sean muncul , sebentar ya "


Sean menggali salju yang tebal itu hingga dirinya menemukan robekan bajunya yang ia tanam di situ


" Kamu sangat cerdas "


Pak tua mengelus rambut Sean dan membawa Sean maju beberapa langkah ke depan


" Kenapa ke sana "


Sean bertanya dengan penasaran


" Pintu keluarnya ada di sana "


Pak tua menarik Sean yang membawa kotak kecil itu lalu sedikit mendorongnya memasuki pintu keluar yang mungkin tidak Sean sadari


Saat Sean memasuki pintu itu Sean merasakan cahaya yang sangat terang memasuki pengelihatannya hingga membuat Sean menutup matanya


" Buka matamu "


Suara pak tua memerintah kepada Sean


Saat Sean membuka matanya perlahan , dia melihat kebun bunga yang tadi sebelum ia masuk ke dalam lapangan salju


" Woah.... Kita kembali "


Sean melihat dengan takjub dan tidak percaya akan apa yang terjadi pada dirinya tadi


" Pak tua aku... "


Saat Sean menoleh , Sean melihat makhluk aneh yang membawanya terbang memeluk pak tua sambil menangis tersedu-sedu


" Pak tua "


Sean menarik celana pak tua dan membuat pak tua menoleh


" Iya "


Pak tua melepaskan pelukannya dan berjongkok di depan Sean


" Kenapa makhluk besar itu memeluk pak tua "

__ADS_1


Sean bertanya dengan penasaran


" Dia adalah murid ku , dan juga anak buah ku "


Pak tua menjelaskan dengan sabar


" Oh...... Jadi yang di maksud tuan sama makhluk besar ini.. pak tuaaaa.. oh...."


Sean mengerti siapa yang di maksud tuan oleh makhluk besar itu


" Makhluk besar "


Pak tua itu tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Sean


" Kenapa makhluk kecil ini selalu memberikan nama seenaknya , kamu tau aku punya nama ya "


Makhluk besar itu berkacak pinggang


" Hehehehe "


Sean hanya tertawa kecil lalu bersembunyi di balik pak tua


" Sudah-sudah , dia namanya dragon "


Pak Sean mengangkat Sean untuk duduk di depannya


" Oh.... "


Sean hanya ber oh ria


" Sepertinya papamu mencarimu "


Pak tua memandang langit


" Oh iya... Papaku , aku lupa , aku mau pulang dong pak tua "


Sean memandang pak tua


" Baiklah , pulanglah , biarkan mereka ada di sini "


Pak tua menunjuk kotak yang berisi para makhluk kecil itu


" Tolong ya pak tua "


Sean turun dari gendongan pak tua lalu menghampiri kotak itu dan menyerahkannya kepada pak tua


" Baiklah... Saatnya pulang "


Pak tua menutup mata Sean dan membuat Sean merasakan keheningan sesaat hingga dirinya merasakan guncangan yang membuatnya terkejut


" Papa.. "


Sean membuka matanya dan melihat orang berpakaian hitam berdiri di depannya


Sean berteriak dan membuat orang itu panik dan langsung mengeluarkan benda tajam dan hendak menikam Sean


" Jangan sakiti putraku "


Tiba-tiba terdengar suara Sbastian dan orang itu terjatuh dan beberapa orang yang berpakaian pengawal langsung memegangi orang mencurigakan itu


" Kamu ngak papa nak "


Sbastian membawa Sean kedalam gendongannya dan membawa Sean menjauh dari orang-orangnya


" Papa "


Sean memeluk leher Sbastian dengan erat


" Bawa dia ke dalam markas , aku akan mengurusnya nanti , panggilkan dokter Brian dan dokter Sisil "


Sbastian menenangkan Sean dan mengelus punggung Sean


Setelah beberapa saat Sean kecil hampir terlelap karena elusan tangan Sean


" Tuan "


Terdengar suara beberapa orang masuk ke dalam ruangan hingga membuat Sean terkejut


" Kalian sudah sampai , dan kalian membuatnya terbangun "


Sbastian meletakkan Sean di tempat tidur rumah sakit kembali dan membiarkan Sisil memeriksanya


" Apa tuan mudaku merasakan sakit di beberapa bagian "


Sisil mengelus kepala Sean


" Enggak... Sean mau papa "


Sean berbicara dengan lesu


" Iya-iya anak papa , papa di sini "


Sbastian menghampiri Sean dan mengelus rambutnya


" Sean mau tidur sama papa "


Sean mengulurkan tangannya


" Nanti saja sil , kamu pergilah dulu "


Sbastian mengambil kursi dan duduk di sebelah Sean


" Papa di sini , tidurlah "

__ADS_1


Sbastian mengelus kepala Sean namun tangannya di tarik oleh Sean dan di jadikan guling oleh Sean


" Jangan kemana-mana ya pa "


Sean menyamping menghadap Sbastian


" Iya sayang "


Sbastian membiarkan Sean tidur dan ikut merebahkan kepalanya di samping tubuh Sean


Setelah beberapa hari , Sean sudah di perbolehkan pulang namun tetap dalam pantauan dokter Sisil


" Papa , kita pulang ya hari ini "


Sean duduk dan melihat papanya yang mengambil baju dari tas yang di bawakan Yuka


Beberapa maid memasuki ruangan dan mengemasi beberapa barang yang selama ini mendiami rumah sakit bersama


" Iya... Kita pulang hari ini "


Sbastian menghampiri Sean hendak menggantikan baju Sean


" Eh... Infusnya udah habis , kita panggil pak dokter dulu ya "


Sbastian memencet tombol nurse di samping bankar


" Ayo kita lepas dulu bajunya "


Sbastian melepaskan pakaian atas Sean


" Tunggu papa "


Sean menahan bajunya saat akan lepas


" Kenapa "


Sbastian terkejut karena ulah Sean


" Banyak kakak cewek , Sean malu "


Wajah Sean memerah lalu menurunkan kembali bajunya


" Hahahaha "


Tawa para maid memenuhi ruangan karena tingkah lucu Sean


" PAPAAAAAA "


Sean memeluk Sbastian dan menenggelamkan wajahnya di perut Sbastian


" Hahaha sudah-sudah "


Sbastian menghentikan tawa para maid


" Guten nacmittag "


Seorang suster memasuki ruangan dengan membawa stetoskop dan beberapa kertas


" Guten nacmittag "


Semua orang membalas sapaan suster itu


Suster itu memeriksa Sean dan melepaskan infus Sean setelah itu suster itu bercakap-cakap dengan Sbastian tentang apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh untuk Sean


" Bagaimana kabar pak tua dan yang lain ya"


Sean membatin dan menatap papanya


" Tapi... Sean senang Sean bisa ketemu papa lagi , makasih udah rawat Sean ya pa "


Sean memeluk Sbastian dengan erat


" Kenapa "


Sbastian yang merasakan pelukan Sean semakin erat menjadi khawatir


" Ngak , ngak apa-apa "


Sean menunjukkan gigi putihnya yang rapih


" Baiklah , kita bisa pulang "


Sbastian membawa Sean ke dalam kamar mandi dan menggantikan baju Sean di sana


" Papa "


Sean mengeluarkan suaranya


" Kenapa "


Sbastian menyahuti Sean


" Mau cake dong "


Mata Sean berbinar-binar


" Boleh dong "


Sbastian mengelus dan mencium rambut Sean


" Hahahaha "


Suara tawa yang di rindukan kembali menggema di telinga Sbastian

__ADS_1


__ADS_2