Aku Pangeran

Aku Pangeran
# 52 ( asisten sialan )


__ADS_3

" Kamu terlihat pucat sekali "


Sbastian memperhatikan adinda yang sedang di peluk ayahnya


" Ayo "


Saat adinda melepaskan pelukan ayahnya , tiba-tiba Sbastian membawa adinda ke dalam gendongannya dan berjalan keluar rumah


" Aku terkejut "


Ayah adinda mengelus dada


" Ayo ke depan "


Papa Sbastian dan yang lainnya berjalan mengikuti Sbastian dari belakang


" Bisakah aku memeluk ibu lagi "


Pinta adinda saat mereka akan memasuki mobil


Sbastian berbalik dan menurunkan adinda di depan ibunya


" Kalian mau kemana "


Ayah adinda berdiri


" Ayah "


Adinda memeluk ayahnya dengan erat


" Kami akan kembali ke Indonesia "


Sbastian menjawab


" Jaga anakku "


Mata tajam ayah adinda menyorot kepada Sbastian


" Tentu "


Sbastian menyalami satu persatu orang tua yang ada di sana dan berakhir di adik kecilnya yang menyalami tangannya


" Kembali lagi ya kak "


Liona meminta


" Nanti kakak bawakan martabak kesukaan lili "


Sbastian mengelus kepala liona lembut


" Hmph.. "


Lion melipat tangannya di atas dada


" Iya iya , mainanmu juga "


Sbastian mengelus kepala lion dengan keras


" Kakak "


Lion menghentakkan kakinya geram


" Hahahaha , babay monster kecil "


Sbastian menghampiri adinda yang kelihatannya baru selesai menyalami semua orang


" Ayo "


Sbastian menarik lengan adinda lembut


" Iya "


Adinda mengikuti tarikan tangan Sbastian


Sbastian membawa adinda masuk ke dalam mobil


" Babay ayah , babay ibu "


Adinda melambaikan tangannya kepada ayah dan ibunya


" Tidurlah "


Sbastian menutup kaca mobil saat mobil sudah menjauh


" Ba..baik "


Adinda menutup matanya dan merasakan sebuah tangan menyentuh kepalanya


" Ke..kenapa "


Adinda bertanya saat melihat Sbastian merangkulnya lalu menuntun adinda , agar kepalanya bersandar di bahu Sbastian


" Tidak , tidurlah "


Sbastian mendekatkan dirinya dengan adinda dan memeluknya dengan hangat


" Em.. "


Adinda menatap Sbastian yang menatap lurus ke depan


" Apa kau lapar "


Sbastian bertanya


" Tidak "


Adinda menggeleng


*Krucuk


Suara perut adinda berbunyi dan membuat Sbastian tersenyum kecil


" Hehehe "


Adinda tertawa kikuk


" Jangan menunda waktu makan "


Sbastian melepaskan adinda dan maju ke depan


" Ke resto biasanya , dan lakukan sesuai rencana "


Sbastian berbisik kepada pak supir yang membawanya

__ADS_1


" Baik tuan "


Pak supir mengangguk mengerti


" Mau makan apa "


Sbastian kembali duduk dengan tenang


" Terserah "


Adinda menjawab lirih


" Kalau begitu terserah aku "


Sbastian menatap ke arah luar kaca mobil


Tak lama mobil berhenti di depan sebuah restoran yang terlihat sepi


" Ayo turun "


Sbastian turun terlebih dahulu


Adinda turun dari pintu sebelah kanan mengikuti Sbastian dan mobil melaju ke arah parkiran


" Kenapa restonya sepi "


Adinda menggumam


" Ntahlah "


Sbastian menjawab gumaman adinda dan jalan terlebih dahulu ke depan


Adinda mengikuti Sbastian dari belakang untuk memasuki restoran


Saat sampai di dalam restoran , adinda langsung duduk tanpa menunggu Sbastian dan meletakkan kepalanya di atas meja


" Kenapa "


Sbastian duduk di sampingnya


" Tidak "


Adinda menoleh dan terlihat wajahnya semakin pucat


" Jangan menunda makan "


Sbastian membenarkan duduknya


Tidak lama , datanglah banyak makanan yang memang sudah di siapkan oleh Sbastian , di sana juga ada cake cokelat dengan toping coklat stroberi kesukaan adinda


" I..ini "


Adinda memandang Sbastian sambil tersenyum


" Kenapa "


Sbastian melirik adinda


" Terimakasih "


Adinda memberikan senyum terbaiknya


" Hm "


" Cantik sekali "


Sbastian membatin , namun air matanya sedikit mengalir dan Sbastian cepat cepat menghapusnya


" Makanlah perlahan "


Sbastian mengusap nasi yang menempel di pipi adinda


" Permisi nyonya "


Seorang pria dengan setelan rapih datang menghampiri dengan membawa sebuah kotak besar berwarna merah muda dengan pita merah darah di tengahnya


" Ini untuk nyonya "


Pelayan itu memberikan kotak itu


" Dari siapa "


Adinda bertanya


" Em... Di sini tertulis dari orang yang mencintai nyonya "


Pria itu mengeja note yang ada di atas kotak


" Tolong katakan padanya , aku sudah punya suami "


Adinda berbicara dengan tegas


" Baik nyonya "


Pria itu membungkuk hormat


Pria itu berjalan memutari meja satu kali lalu memberikan kotak itu kepada Sbastian


" Kata nyonya , nyonya sudah punya suami "


Pria itu berbicara tanpa beban


" Tuan "


Asisten John melihat Sbastian yang terlihat geram


Tiba-tiba Sbastian berdiri dan


* Bug


Sebuah pukulan mendarat di lengan pria itu


" Asisten sialan "


Sbastian menginjak injak kaki pria itu yang ternyata asisten John berkali kali


" Adududuh sakit tuan "


Asisten John mengaduh


" Jika kau minta di bunuh katakan saja sialan "


Sbastian melempar sepatunya dan tepat mengenai kepala asisten John

__ADS_1


" Ampun tuan "


Asisten John berlari sambil melindungi kotak kado yang ia bawa dan Sbastian mengejar kotak kado yang asisten John bawa


" hahahaha "


Adinda tertawa saat melihat suaminya yang terengah-engah mengejar asisten John dan asisten John yang tiba-tiba duduk di depan adinda


" Hmph "


Sbastian duduk dengan kasar dan mendorong kursi asisten John menjauh


" Jangan tertawa gadis muda "


Sbastian memperingatkan


" Hahaha maaf "


Adinda menghentikan tawanya yang ingin di dengarkan oleh Sbastian namun tawa kecilnya masih tidak berhenti


" Diam gadis muda "


Sbastian memeluk adinda dan menggigit pipi adinda yang terlihat agar besar


" Mas "


Adinda terkejut


" Lanjutkan tawamu "


Sbastian berbicara namun masih menggigit pipi adinda


" Ti..tidak maaf "


Adinda menghentikan tawanya dan menunduk


" Bukalah "


Sbastian mengambil paksa kotak kado yang di bawa asisten John


" Ini untukku "


Adinda menatap Sbastian


" Iya sayang "


Sbastian mencium kening adinda lama


" Mas "


Adinda menitikkan air matanya


" Ke..kenapa "


Sbastian terkejut


" Maaf mas , adinda takut dengan pernikahan ini , adinda takut mas masih mencintai Bella "


Adinda berbicara dengan lirih dan memeluk jadi dari Sbastian dengan erat


" Apa kamu berfikir aku menyukai Bella "


Sbastian memastikan


" Apa mas tidak menyukainya "


Adinda bertanya


" Sepertinya sayangku ini salah mengartikan semuanya "


Sbastian memeluk adinda dan mencium keningnya lama


" Maaf , adinda kira mas mencintai Bella , adinda kira mas terpaksa menikah dengan adinda , adinda kira mas tidak mencintai adinda "


Adinda memeluk erat Sbastian dan menelusup kan wajahnya di dada bidang Sbastian


" Aku mencintaimu , aku hanya takut akan sesuatu , kau tau , cincin pernikahan ini sudah aku siapkan setahun yang lalu , hanya saja aku belum siap melamarmu sayang "


Sbastian mengelus punggung adinda


Flashback off


" Yah... Kira kira seperti itu papa bertemu bunda "


Sbastian melihat manik mata Sean yang masih terlihat segar


" Hem.... Lalu papa sangat menyayangi bunda setelah itu "


Sean menebak


" Sangat , seperti papa menyayangimu "


Sbastian menggulingkan Sean dari atas dadanya


" Tidurlah , besok sekolah "


Sbastian menaikkan selimutnya


" Iya pa "


Sean memejamkan matanya


" Sean pengen ke pesantren "


Sean mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Sbastian terkejut


" Apa nak "


Sbastian mengguncang Sean yang ternyata sudah tertidur pulas


" Hais... "


Sbastian menghela nafas panjang dan memeluk Sean yang sudah masuk isekai lain


" Papa merindukanmu Adimas "


Sbastian mencium kening Sean dengan sayang


" Apakah kalian juga masih merindukanku disana "


Sbastian menerawang jauh


" Papa harap kamu baik-baik saja "

__ADS_1


Sbastian menaikkan selimut lalu ikut menyusul Sean ke alam mimpi


__ADS_2