
" Kamu terlihat pucat sekali "
Sbastian memperhatikan adinda yang sedang di peluk ayahnya
" Ayo "
Saat adinda melepaskan pelukan ayahnya , tiba-tiba Sbastian membawa adinda ke dalam gendongannya dan berjalan keluar rumah
" Aku terkejut "
Ayah adinda mengelus dada
" Ayo ke depan "
Papa Sbastian dan yang lainnya berjalan mengikuti Sbastian dari belakang
" Bisakah aku memeluk ibu lagi "
Pinta adinda saat mereka akan memasuki mobil
Sbastian berbalik dan menurunkan adinda di depan ibunya
" Kalian mau kemana "
Ayah adinda berdiri
" Ayah "
Adinda memeluk ayahnya dengan erat
" Kami akan kembali ke Indonesia "
Sbastian menjawab
" Jaga anakku "
Mata tajam ayah adinda menyorot kepada Sbastian
" Tentu "
Sbastian menyalami satu persatu orang tua yang ada di sana dan berakhir di adik kecilnya yang menyalami tangannya
" Kembali lagi ya kak "
Liona meminta
" Nanti kakak bawakan martabak kesukaan lili "
Sbastian mengelus kepala liona lembut
" Hmph.. "
Lion melipat tangannya di atas dada
" Iya iya , mainanmu juga "
Sbastian mengelus kepala lion dengan keras
" Kakak "
Lion menghentakkan kakinya geram
" Hahahaha , babay monster kecil "
Sbastian menghampiri adinda yang kelihatannya baru selesai menyalami semua orang
" Ayo "
Sbastian menarik lengan adinda lembut
" Iya "
Adinda mengikuti tarikan tangan Sbastian
Sbastian membawa adinda masuk ke dalam mobil
" Babay ayah , babay ibu "
Adinda melambaikan tangannya kepada ayah dan ibunya
" Tidurlah "
Sbastian menutup kaca mobil saat mobil sudah menjauh
" Ba..baik "
Adinda menutup matanya dan merasakan sebuah tangan menyentuh kepalanya
" Ke..kenapa "
Adinda bertanya saat melihat Sbastian merangkulnya lalu menuntun adinda , agar kepalanya bersandar di bahu Sbastian
" Tidak , tidurlah "
Sbastian mendekatkan dirinya dengan adinda dan memeluknya dengan hangat
" Em.. "
Adinda menatap Sbastian yang menatap lurus ke depan
" Apa kau lapar "
Sbastian bertanya
" Tidak "
Adinda menggeleng
*Krucuk
Suara perut adinda berbunyi dan membuat Sbastian tersenyum kecil
" Hehehe "
Adinda tertawa kikuk
" Jangan menunda waktu makan "
Sbastian melepaskan adinda dan maju ke depan
" Ke resto biasanya , dan lakukan sesuai rencana "
Sbastian berbisik kepada pak supir yang membawanya
__ADS_1
" Baik tuan "
Pak supir mengangguk mengerti
" Mau makan apa "
Sbastian kembali duduk dengan tenang
" Terserah "
Adinda menjawab lirih
" Kalau begitu terserah aku "
Sbastian menatap ke arah luar kaca mobil
Tak lama mobil berhenti di depan sebuah restoran yang terlihat sepi
" Ayo turun "
Sbastian turun terlebih dahulu
Adinda turun dari pintu sebelah kanan mengikuti Sbastian dan mobil melaju ke arah parkiran
" Kenapa restonya sepi "
Adinda menggumam
" Ntahlah "
Sbastian menjawab gumaman adinda dan jalan terlebih dahulu ke depan
Adinda mengikuti Sbastian dari belakang untuk memasuki restoran
Saat sampai di dalam restoran , adinda langsung duduk tanpa menunggu Sbastian dan meletakkan kepalanya di atas meja
" Kenapa "
Sbastian duduk di sampingnya
" Tidak "
Adinda menoleh dan terlihat wajahnya semakin pucat
" Jangan menunda makan "
Sbastian membenarkan duduknya
Tidak lama , datanglah banyak makanan yang memang sudah di siapkan oleh Sbastian , di sana juga ada cake cokelat dengan toping coklat stroberi kesukaan adinda
" I..ini "
Adinda memandang Sbastian sambil tersenyum
" Kenapa "
Sbastian melirik adinda
" Terimakasih "
Adinda memberikan senyum terbaiknya
" Hm "
" Cantik sekali "
Sbastian membatin , namun air matanya sedikit mengalir dan Sbastian cepat cepat menghapusnya
" Makanlah perlahan "
Sbastian mengusap nasi yang menempel di pipi adinda
" Permisi nyonya "
Seorang pria dengan setelan rapih datang menghampiri dengan membawa sebuah kotak besar berwarna merah muda dengan pita merah darah di tengahnya
" Ini untuk nyonya "
Pelayan itu memberikan kotak itu
" Dari siapa "
Adinda bertanya
" Em... Di sini tertulis dari orang yang mencintai nyonya "
Pria itu mengeja note yang ada di atas kotak
" Tolong katakan padanya , aku sudah punya suami "
Adinda berbicara dengan tegas
" Baik nyonya "
Pria itu membungkuk hormat
Pria itu berjalan memutari meja satu kali lalu memberikan kotak itu kepada Sbastian
" Kata nyonya , nyonya sudah punya suami "
Pria itu berbicara tanpa beban
" Tuan "
Asisten John melihat Sbastian yang terlihat geram
Tiba-tiba Sbastian berdiri dan
* Bug
Sebuah pukulan mendarat di lengan pria itu
" Asisten sialan "
Sbastian menginjak injak kaki pria itu yang ternyata asisten John berkali kali
" Adududuh sakit tuan "
Asisten John mengaduh
" Jika kau minta di bunuh katakan saja sialan "
Sbastian melempar sepatunya dan tepat mengenai kepala asisten John
__ADS_1
" Ampun tuan "
Asisten John berlari sambil melindungi kotak kado yang ia bawa dan Sbastian mengejar kotak kado yang asisten John bawa
" hahahaha "
Adinda tertawa saat melihat suaminya yang terengah-engah mengejar asisten John dan asisten John yang tiba-tiba duduk di depan adinda
" Hmph "
Sbastian duduk dengan kasar dan mendorong kursi asisten John menjauh
" Jangan tertawa gadis muda "
Sbastian memperingatkan
" Hahaha maaf "
Adinda menghentikan tawanya yang ingin di dengarkan oleh Sbastian namun tawa kecilnya masih tidak berhenti
" Diam gadis muda "
Sbastian memeluk adinda dan menggigit pipi adinda yang terlihat agar besar
" Mas "
Adinda terkejut
" Lanjutkan tawamu "
Sbastian berbicara namun masih menggigit pipi adinda
" Ti..tidak maaf "
Adinda menghentikan tawanya dan menunduk
" Bukalah "
Sbastian mengambil paksa kotak kado yang di bawa asisten John
" Ini untukku "
Adinda menatap Sbastian
" Iya sayang "
Sbastian mencium kening adinda lama
" Mas "
Adinda menitikkan air matanya
" Ke..kenapa "
Sbastian terkejut
" Maaf mas , adinda takut dengan pernikahan ini , adinda takut mas masih mencintai Bella "
Adinda berbicara dengan lirih dan memeluk jadi dari Sbastian dengan erat
" Apa kamu berfikir aku menyukai Bella "
Sbastian memastikan
" Apa mas tidak menyukainya "
Adinda bertanya
" Sepertinya sayangku ini salah mengartikan semuanya "
Sbastian memeluk adinda dan mencium keningnya lama
" Maaf , adinda kira mas mencintai Bella , adinda kira mas terpaksa menikah dengan adinda , adinda kira mas tidak mencintai adinda "
Adinda memeluk erat Sbastian dan menelusup kan wajahnya di dada bidang Sbastian
" Aku mencintaimu , aku hanya takut akan sesuatu , kau tau , cincin pernikahan ini sudah aku siapkan setahun yang lalu , hanya saja aku belum siap melamarmu sayang "
Sbastian mengelus punggung adinda
Flashback off
" Yah... Kira kira seperti itu papa bertemu bunda "
Sbastian melihat manik mata Sean yang masih terlihat segar
" Hem.... Lalu papa sangat menyayangi bunda setelah itu "
Sean menebak
" Sangat , seperti papa menyayangimu "
Sbastian menggulingkan Sean dari atas dadanya
" Tidurlah , besok sekolah "
Sbastian menaikkan selimutnya
" Iya pa "
Sean memejamkan matanya
" Sean pengen ke pesantren "
Sean mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Sbastian terkejut
" Apa nak "
Sbastian mengguncang Sean yang ternyata sudah tertidur pulas
" Hais... "
Sbastian menghela nafas panjang dan memeluk Sean yang sudah masuk isekai lain
" Papa merindukanmu Adimas "
Sbastian mencium kening Sean dengan sayang
" Apakah kalian juga masih merindukanku disana "
Sbastian menerawang jauh
" Papa harap kamu baik-baik saja "
__ADS_1
Sbastian menaikkan selimut lalu ikut menyusul Sean ke alam mimpi