
" Kamu membawa apa kemari "
Lagardio bertanya kepada Sbastian
" Aku membawa sepeda motor , kamu ikuti dari belakang "
Sbastian memberi saran
" Boleh "
Lagardio menyetujui saran Sbastian
Sbastian memasangkan helm kepada Sean dan menaikkan Sean ke atas sepeda motor
" Adek mau duduk depan , boleh ngak pa "
Sean menatap Sbastian yang hendak menaiki sepeda motor
" Boleh "
Sbastian memindahkan Sean di depan dan menyalakan mesin motor
"Ayo pa "
Sean duduk dengan tenang dan Sbastian mulai melajukan kendaraannya di jalan raya dan di ikuti oleh mobil Lagardio
Setelah memakan waktu beberapa menit akhirnya Sbastian dan Lagardio sampai di tempat tujuan
" Papa , di sini ada cake ngak "
Sean berbicara saat dirinya di turunkan oleh Sbastian dari atas motor
" Nanti kita liat "
Sbastian melepaskan helemnya lalu melepaskan helem Sean dan meletakkannya di kaca spion motor
" Ayo masuk "
Suara Lagardio terdengar dari arah belakang
" Ok "
Sbastian menggandeng Sean dan Lagardio menggendong Ana memasuki resto family
" Ana mau pesen apa "
Sean bertanya saat dirinya di naikkan ke atas kursi dan Ana sudah duduk di sampingnya
" Terserah "
Ana mengedikkan bahu lalu meletakkan kepalanya di atas meja
" Ana ngantuk ya "
Sean ikut meletakkan kepalanya di atas meja dan jadilah Ana dan Sean saling bertatapan mata
" Iya "
Ana memalingkan wajahnya ke arah sebaliknya
" Papa... Ada ngak cakenya "
Sean menopang dagu di atas meja
" Ada , adek mau yang rasa coklat apa strawberry "
Sbastian membolak-balik halaman menu
" Mau coklat satu , bunda az-az di bawakan ya papa , kan adeknya mau lahir "
Sean meminta
" Iya , nanti kasihkan ke paman John saja ya , bunda pasti lagi istirahat "
Sbastian menasehati
" Ok papa "
Sean kembali merebahkan kepalanya namun kini berlawanan arah dari sebaliknya dan jadilah mereka berdua saling bersinggungan
" Bunda az-az itu siapa "
Lagardio bertanya
" Baby sitter Sean , namanya azza dia sedang hamil tua , jadi Sean sangat berantusias menunggu kelahiran adik bayinya "
Sbastian mengisyaratkan agar pelayan mendekat
" Oh.... Istrinya John ya "
Lagardio memastikan
" Iya , istrinya John , sebenarnya aku mau ambil baby sitter lagi , tapi Sean yang ngak mau "
Sbastian mengedikkan bahu pasrah
" Silahkan memesan tuan "
Pelayan laki-laki itu membawa buku catatan dan bulpoin di tangannya
" Aku mau pesan......... "
Sbastian memesan semua yang telah di sepakati dan menutup buku menunya
" Ada lagi tuan "
Pelayan itu memastikan
" Cukup "
Sbastian menoleh dan melihat pelayan itu dan betapa terkejutnya pelayan itu bahwa yang ada di sana adalah bosnya
Tiba-tiba
" Astaga "
Pelayan itu terlonjak kaget
" Salam tuan Sbastian , maafkan saya karena tidak mengenali anda "
Pelayan itu langsung membungkuk hormat
__ADS_1
" Eh... "
Sbastian lebih terkejut lagi karena tindakan tiba-tiba pelayan muda itu dan membuat Sean , Ana dan seisi resto ikut terkejut
Tiba-tiba semua pelayan yang ada di sana berbaris membungkuk hormat
" Sudah-sudah kembalilah bekerja , tidak perlu seperti ini "
Sbastian melambaikan tangannya dan semua pelayan mengangguk patuh
" Ada apa tadi "
Ana berbisik kepada Sean
" Mungkin ini resto papa , aku juga ngak tau"
Sean mengedikkan bahunya
Tidak lama datanglah seorang pria dengan pakaian formal membawa pesanan minuman yang Sbastian pesan
" Tuan Sbastian "
Pria muda itu membungkuk hormat dan meletakkan minuman yang ia bawa di atas nampan
" Ah... Alan , lama tidak bertemu "
Sbastian menepuk pundak Alan sang manajer resto
" Kabar saya baik tuan "
Alan menjawab dengan sopan
" Bagaimana kabar calon istrimu "
Sbastian berbasa-basi
" Kami tidak melanjutkan pertunangan tuan"
Alan menjawab dengan sopan
" Lho.. ah... Baiklah nanti bisa kita bahas , sekarang putraku ingin cake strawberry dan coklat , bisakah kamu membuatnya "
Sbastian meminta
" Dengan senang hati akan saya buatkan "
Alan membungkuk hormat lalu melenggang pergi untuk membuatkan cake pesanan tuan mudanya
" Papa.... Adek minta tolong dong , Adek mau es nya dong "
Sean meminta di ambilkan jus
" Pelan-pelan minumnya "
Sbastian memberikan jus kepada Sean
Setelah menunggu beberapa saat datanglah makanan yang di tunggu-tunggu oleh Sean
" Ana ini punyamu "
Sean memberikan pancake susu khusus Ana
" Terimakasih "
Saat Ana dan papanya makan dengan tenang , Sean mengangkat kedua tangannya di depan dadanya dan mulai berdoa
" Allahumma bariklana fimarozaktana wakina azabannar "
Sean membaca doa mau makan dan membuat Ana dan ayahnya terdiam
" Amiiin "
Sean mengaminkan dan Sbastian ikut mengaminkan
" Itu tadi apa "
Ana bertanya kepada Sean
" Itu doa mau makan , papa yang mengajarkan "
Sean menunjuk Sbastian
" Papa... Kenapa kita tidak berdoa seperti Sean "
Ana dengan polos bertanya kepada Lagardio
" Nak... Agama kita berbeda , apa kamu tadi sudah berterimakasih kepada Tuhan Yesus atas makananmu "
Lagardio bertanya kepada Ana
" Sudah "
Ana mengangguk
" Nah... Sean berdoa kepada Tuhannya sendiri , sedangkan kita juga berdoa kepada Tuhan kita sendiri "
Lagardio menjelaskan
" Oh.... Jadi seperti itu , baik papa "
Ana menyelesaikan rasa penasarannya dan melanjutkan makannya
Setelah beberapa saat Alan datang dan membawa dua kotak yang berisikan cake pesanan Sean
" Terimakasih kakak "
Sean memberikan sedikit senyumannya
" Sama-sama tuan muda "
Alan menjawab dengan ramah
" Alhamdulillah , Papa... Sean udah selesai makannya "
Sean memberikan piringnya kepada Sbastian
" Anak pinter makannya abis "
Sbastian mengelus kepala Sean
" Paaa ana juga sudah selesai "
__ADS_1
Ana menyodorkan piringnya kepada papanya
" Minumlah pelan-pelan "
Lagardio mengambil piring Ana lalu memberikAn jus buah Ana
" Terimakasih pa "
Ana meminum jus itu pelan-pelan lalue memberikan kembali jus itu kepada papanya
" Apa Sean sudah selesai "
Ana bertanya
" Sudah "
Sean menjawab
" Tadi ana lihat ada rak buku di ujung sana , apa Sean mau ikut melihat "
Ana menawari
" Boleh "
Sean menjawab
" Papa , Sean mau melihat buku di sana dengan Ana , boleh ya"
Sean meminta
" Tapi jangan sampai keluar resto lho ya "
Sbastian memberi batasan
" Baik pa "
Sean memberi hormat lalu turun dari atas kursi di ikuti Ana
" Itu rak bukunya , ayo Sean "
Ana menarik Sean mendekati rak buku yang besar
" Sepertinya ini bukan rak buku yang aku inginkan "
Ana melihat seluruh buku yang di dominasi novel dan komik
" Hahahaha apapun bukunya akan aku baca"
Sean tertawa senang namun tidak dengan Ana
Sean mengambil buku yang ada di rak paling bawah secara random
" Wah.... Komik "
Sean membuka komik itu dan ternyata komik dari serial Detektif Conan yang paling di sukainya
" Ayo Ana , ambil satu lalu kita baca di sana"
Sean menunjuk tempat lesehan dan beberapa meja kecil untuk membaca
" Baik-baik "
Ana mengambil satu buku secara random dan membawanya mengikuti Sean
" Lepas sepatu "
Sean membaca peraturan yang tertempel di dinding
" Lepas ana , sepatunya "
Sean duduk di ujung karpet lalu melepaskan sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu yang di sediakan
" Buku apa yang kamu ambil "
Sean melihat komik yang di ambil ana
" Wah.... Ini kan Dr.stone , ini keren , coba kamu baca "
Sean menarik ana duduk di sebelahnya dan Sean mulai membuka satu-persatu halaman buku dengan tenang dan menghayati
" Aneh ceritanya , mana ada dunia jadi batu semua "
Komentar ana terdengar oleh Sean , namun Sean mengabaikannya
Tidak lama terdengar kembali komentar ana
" Kalo hewan dan tumbuhan ngak jadi batu , kenapa manusianya jadi batu , kan sama-sama makhluk hidup "
Ana memberikan komentar kembali namun Sean hanya meliriknya sekilas
Tidak lama lagi terdengar komentar ana
" Apaan , manusia kok ngitung gituan Sampek beribu-ribu angkanya , ini ceritanya ngak masuk akal deh "
Ana mengomel namun matanya tetap di atas gambaran Hitam-Putih yang ada di atas kertas
Tidak lama terdengar kembali komentar ana
" Idih.... Primata terkuat , ini kan manusia bukan primata , kalo primata itu kera , ngak masuk akal deh ceritanya "
Komentar ana kali ini membuat Sean menutup bukunya
" Bisakah anda diam nona muda , saya sedang membaca "
Sean memberi peringatan
" Eh...eh... Baik-baik maaf "
Ana menutup mulutnya dan membuat Sean kembali membaca komik miliknya
Tidak lama suara ana membuat Sean memejamkan matanya
" Astagaaaaa kalo bumi se isinya jadi batu , terus dia siapa , kenapa ada cewek rambut kuning dan ngak ada retakan di tubuhnya kayak senku "
Ana memelototi buku yang di bawanya namun pelototan Sean terhadap ana sangatlah kejam
" Nona ana , tolong "
Sean menekan semua kalimatnya
" Eh...baik baik maafkan aku "
__ADS_1
Ana menutup wajahnya dengan buku karena pelototan tajam dari Sean