
" Makasih ya paman "
Sean tersenyum
" Dengar adik kecil "
Paman itu tiba-tiba menjadi serius
" Iya "
Sean mengangguk
" Preoritaskan papamu , dia target utamanya , paman melihat bahwa sesuatu yang besar akan terjadi , jangan lengah tuan muda kecil "
Paman itu membuat Sean mengerenyitkan keningnya
" Bagaimana paman tau "
Sean terkejut
" Paman mendapatkan pengelihatan , dan sasaran utamanya adalah papamu , berhati-hatilah , adik kecilmu akan terkena imbasnya jika kamu lengah sedikit saja "
Pria itu membuat Sean mengangguk
" Paman bukan musuh , paman hanya di berikan pengelihatan dan mungkin ini bisa melenceng jauh dari yang akan terjadi nanti , kamu harus percaya kepada tuhanmu "
Paman itu tersenyum
" Sean mengerti paman , terimakasih ya "
Sean membalas senyuman si paman
" Sama-sama , paman pergi dulu ya "
Pria itu menggosok kepala Sean
" Hati hati paman "
Sean melambaikan tangannya dan di sambut oleh lambaian tangan si pria
" Babay adik kecil lucu yang imut babaaay "
Pria itu melambaikan tangannya dengan semangat seakan sosok misteriusnya tadi lenyap ntah kemana
" Babay paman "
Sean membalas lambaian tangan si paman
" Ayah ayah.. adik kecil itu lucu lho.. apa aku pernah menjadi kecil seperti adik kecil itu "
Paman itu dengan semangat berlari menghampiri ayahnya
" Mengapa nak "
Sbastian menghampiri Sean
" Paman tadi mengembalikan Bros sabuk Sean yang jatuh "
Sean menunjukkan Bros sabuknya
" Hm... Dia pria yang baik ya "
Sbastian tersenyum
" Iya "
Sean mengangguk
" Tuan , kendaraan sudah tiba , kita bisa langsung menuju hotel "
Aloe memberitahu
" Kita istirahat dulu , baru esok menuju kebun binatang "
Sbastian dan Sean berjalan beriringan menuju mobil
" Mereka tidak bertindak sama sekali "
Sean memperhatikan sekeliling dengan wajah penasaran ala anak-anak
" Wow aku tidak menyangka pengawalan akan sangat ketat "
Sean melihat Diablo menyebarkan seluruh anak buah Sean
" Mereka tim elit yang di latih paman Kelvin sendiri , sangat keren "
Sean melihat seluruh anak buahnya yang ia seleksi sendiri di bantu Yuka sebelum dirinya mengalami koma
" Wah... Ada Aldo dan Ariana , mereka siap siaga sekali haha "
Sean terkekeh melihat kedua orang di ujung stasiun sedang dalam keadaan siap siaga
" Andai mereka tau aku bosnya bagaimana ya reaksinya "
Sean mulai membayangkan
" Sean "
Sbastian membuat Sean terkejut
" Iya papa "
Sean menanggapi
" Kenapa senyum-senyum sendiri , ayo kita naik "
Sbastian masuk di dalam mobil dan setelah itu Sean di dudukkan di samping Aniel
Perjalanan menuju hotel menempuh waktu singkat , Sean langsung tertidur ketika sampai di atas lautan kapuk yang dia sukai
Esok hari pukul 07.00 pagi di restoran hotel
" Kakak mau apa "
Sbastian membuka buku menu
" Mau apa aja deh pa , terserah "
Sean sedari tadi masih sibuk bermain game dengan Aniel
" kalian makanlah "
Sbastian menatap ketiga pengawalnya yang sedari tadi hanya berdiri tanpa berkata apapun
" Kami akan makan nanti , tuan makan saja terlebih dahulu "
Mao menjawab
" Oh.. ayolah kita makan bersama sekarang"
Sbastian terlihat kesal
Mao melirik Sean dan Sean mengangguk mengisyaratkan agar mereka mengikuti perkataan Sbastian
" Terimakasih tuan "
Mao duduk di ikuti kedua saudaranya duduk satu meja bersama Sean
" Kalian mau pesan apa "
Ana menawari
Mao kembali melirik Sean dan Sean mengangguk
" Samakan saja tuan "
Mao memberi pendapat
" Baiklah... "
Sbastian memanggil pelayan dan memesan makanan
" Mao Mao "
Sean memanggil
" Iya tuan muda "
Mao mendekat
" Apa itu "
Sean menunjuk sebuah lukisan besar yang terpajang di dinding restoran
" Itu lukisan sayang "
Sbastian menjawab
" Tau pa.. tapi lukisan apa , cantik itu lukisannya "
Sean membuat Sbastian terkekeh
" Apanya yang cantik "
Sbastian menyangga kepalanya di atas meja
" Itu bingkainya cantik , lukisannya juga cantik , kalau ada dua Sean mau satu , pasti keren kalau di taruh di kamar Sean "
Sean mengagumi lukisan seorang wanita yang terlihat memiliki sayap peri dan berpakaian cukup terbuka
" Astagaaaaa nanti kamu lukis sendiri aja di rumah , papa belikan alat lukisnya "
Sbastian geleng-geleng kepala
" Oh... Aku mengerti maksud tuan "
Mao membatin
Setelah Mao memperhatikan lukisan di sana , Mao melihat dua kamera kecil yang di pasang khusus agar tidak mudah terlihat , dan jika Mao perhatikan ternyata ada satu sampai tiga CCTV kecil untuk setiap meja
" Tuan sangat jeli "
Mao mengeluarkan hp nya
" Saya permisi sebentar "
Mao berdiri dan agak menjauh dari meja
__________________
: Halo Diablo :
Mao menelfon Diablo
: Iya nona , ada apa :
Diablo menjawab
: Tuan besar bilang bahwa di dalam restoran ini di pasang banyak sekali CCTV , dan bisakah anda mengirim seseorang untuk mengamankan porsi makanan yang aman di bawa untuk tuan Sbastian sekeluarga :
Mao meminta
: Saya akan mengirim Aldo :
Diablo mengiyakan
: Baiklah.. tolong benar-benar berhati hati , saya takut akan terjadi sesuatu yang buruk:
Mao
: Saya mengerti :
Diablo
: Saya tutup :
Tanpa persetujuan dari Diablo , Mao menutup telfon dan kembali menuju mejanya
________________
" Kamu menelfon siapa Mao "
Sbastian bertanya
" Mampus... "
Mao membatin
" Saya menelfon tuan Sam , memberitahu bahwa kita mungkin akan pulang agak terlambat dari jadwal "
Mao memberi alasan dan membuat Sean tepuk jidat
" Oh.. baiklah "
Sbastian mengangguk
" Percaya begitu saja... Kau keren Mao "
Sean membatin
Setelah sarapan pagi , Sbastian membawa anak-anaknya menuju kebun binatang yang di janjikannya
" Wah... Keren komodonya besar "
Sean memperhatikan patung komodo besar yang di letakkan di tugu utama
" Tatak tatak , apa tu "
( Kakak kakak , apa itu )
Aniel menunjuk sebuah patung kupu-kupu yang sangat besar
" Itu kupu-kupu , cantik ya "
Sean menerangkan
" Iya.. tayak iel "
( Iya.. kayak Aniel )
Aniel meletakkan telunjuknya di kedua pipinya
" Adek kakak emang cantik "
Sean tersenyum
" Bi ao bi ao , tu pa "
( Bi Lao bi Lao , itu apa )
Aniel menunjuk orang-orang yang berjualan di depan tugu masuk
" Itu orang-orang yang sedang menjual banyak hal , apa nona mau melihat "
Lao menawari
" Sean ikut "
Sean mengangkat tangannya
" Biar papa sama Aloe yang beli tiket , kita jalan-jalan aja "
Sean memberikan usul yang menyesatkan
" Ote ote , iel da au iat tu "
( Oke oke , Aniel juga mau lihat itu )
Aniel memberi jempol
__ADS_1
Lao menghampiri Sbastian untuk mengatakan bahwa Sean dan Aniel mau berkeliling melihat banyak barang dagangan yang di jajakan di depan tugu pintu masuk
" Apa boleh "
Sean menatap Lao
" Boleh asalkan tidak terlalu jauh "
Lao menjawab
" Yes "
Sean terlihat senang
Lao dan Mao membawa Sean dan Aniel melihat banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya di sepanjang trotoar
" Wah... Hahaha neka sal net "
( Wah... Hahaha bonekanya besar banget )
Aniel tertawa melihat tingkah badut badut hewan yang bertingkah lucu
" Ayo kesana "
Sean menunjuk toko aksesoris
" Apa tu "
Aniel menatap toko aksesoris yang di tunjuk Sean dengan penasaran
" Adek sini sini , kakak pangku "
Sean melambaikan tangannya dan menepuk pahanya
" Jangan tuan muda , nanti tuan muda lelah , biar saya gendong saja "
Lao menolak
" Iya tuan muda , bukankah syaraf anda mulai bisa merasakan "
Mao ikut mengingatkan
" Iya sih.. Sean udah bisa ngerasain kalau di cubit, tapi gapapa ini kan adeknya Sean "
Sean mengulurkan tangannya
" Baiklah jika tuan memaksa "
Lao mendudukkan Aniel di atas pangkuan Sean
" Mao "
Sean membenarkan hijab Aniel yang terlihat agak berantakan
" Saya tuan "
Mao mendorong kursi roda Sean
" Siapa saja yang ada di dekat papa "
Sean memeluk Aniel
" Tuan Diablo ada di sana , saya memerintahkan agar dia tidak meninggalkan tuan Sbastian "
Mao menjawab
" Baiklah "
Sean mengangguk
" Tak tak.. apa tu "
( Kak kak.. apa itu )
Aniel menunjuk toko boneka
" Itu boneka yang kayak di kamar Aniel "
Sean menjelaskan
" Oh... Iel au ya "
( Oh... Aniel mau ya )
Aniel menatap Sean dengan tatapan memohon
" Kan di kamar Aniel masih banyak "
Sean mengelus kepala Aniel
" Ote eh... Pan pan ja "
( Oke deh... Kapan kapan aja )
Aniel menunduk lesu
" Hei... Kamu tau mereka "
Sean menunjuk beberapa anak kecil yang sedang memakan satu porsi nasi bersama
" Ya "
Aniel mengangguk
" Kamu tau beberapa dari mereka ngak punya boneka kayak kamu "
Sean membuat Aniel terbelalak
" Pi ya papa nak til yak iel tu unya inan inan uat ain "
( Tapi kata papa anak kecil kayak Aniel itu punya mainan mainan buat bermain )
Aniel seakan tidak setuju dengan perkataan Sean
" Kakak tau , tapi ngak semua papa mereka bisa belikan mereka mainan , papa mereka juga pengen belikan mereka mainan , tapi papa mereka ngak bisa , ngak kayak papa Aniel , jadi Aniel tidak boleh serakah "
Sean menjelaskan dengan sabar
" ya tak "
( Iya kak )
Aniel mengangguk
" Wah.. kita sampai "
Sean membuat Aniel menoleh ke depan
" Lihat ini , ini cantik "
Sean menunjuk sebuah gantungan dinding yang indah
" Ini namanya penyaring mimpi "
Suara seorang perempuan membuat Sean terkejut
" Katanya ini bisa membuat mimpi buruk kamu ngak bisa masuk ke dalam mimpimu dan hanya akan membiarkan mimpi indah yang masuk "
Seorang gadis kecil terlihat menunjukkan sebuah senyuman
" Benarkah "
Sean menatap sebuah penyaring mimpi berbentuk bulan sabit
" Itu kata ibuku "
Gadis itu mengangguk
" Kalau begitu kami beli tiga "
Sean membuat gadis itu tersenyum senang
Gadis kecil itu berlari masuk ke dalam ruangan di sana dan kembali bersama seseorang wanita berhijab yang cantik
*Deg
Sean terkejut melihat wajah ibu dari gadis kecil itu
" Adik mau beli yang mana "
Wanita itu tersenyum membuat Sean tersadar
" Maaf.. saya mau membeli penyaring mimpi ini tiga "
Sean menunjuk beberapa penyaring mimpi
" Tu pa tak "
( Itu apa kak )
Aniel menunjuk sebuah kotak
" Ini kotak musik , putra bibi yang membuatnya "
Wanita itu mengambil kotak musik dan berlutut di depan Sean menunjukkan isi kotak musik
Di sana kotak musik terbuka , terlihat dua orang , laki-laki dan perempuan yang terlihat sedang berdansa bersama di iringi lagu bintang kecil yang terdengar merdu
" Ibu "
Terdengar suara seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua beberapa tahun dari Sean keluar dari dalam toko
" Kakak "
Anak perempuan itu berlari memeluk anak laki-laki yang baru keluar dari toko
" Ibu.. sudah kakak bilang kalau kotak musik ini tidak di jual "
Anak laki-laki itu terlihat tidak suka
" Iya.. gadis kecil ini hanya ingin melihat saja "
Wanita itu terlihat tersenyum
*Glup
Sean menelan ludahnya kasar
" Apa apaan ini.. "
Sean mengingat bahwa senyuman itu sangat familiar untuknya
" Tuan muda "
Mao mengguncang Sean
" Ah.. iya "
Sean tersadar
" Tuan mengapa melamun , apa tuan kurang enak badan "
Mao memegang kening Sean
" Tidak.. aku baik "
Sean menyisihkan tangan Mao
" Maaf bibi.. apa Sean boleh melihat kotak musik itu lebih dekat "
Sean meminta dengan sopan
" Tentu "
Bibi itu menyerahkan kotak musik kepada Sean
" Wah.. saya baru sadar jika ukirannya sangat detail , dan si wanita memakai hijab yang sangat cantik "
Sean mengagumi keindahan ukiran kedua patung yang terlihat sangat detail
" Lambang apa ini "
Sean memperhatikan di jubah yang di kenakan sang wanita memiliki ukiran yang sangat unik
" Sangat indah ya Aniel "
Sean mengusap kepala Aniel
" Ya.. ni tak papa "
( Iya.. ini kayak papa )
Aniel menunjuk patung sang laki-laki
" Astagaaaaa nanti papa nyariin "
Sean menepuk jidatnya
" Ini bibi terimakasih , dan saya mau membeli lima gelang yang kayu yang berbeda "
Sean mengeluarkan uangnya
" Baiklah "
Bibi itu menutup kotak musiknya dan mengemasi semua yang di pesan oleh Sean
" Babay.. lain kali jika ada kesempatan saya akan kembali "
Sean dan Aniel melambaikan tangannya dan di balas lambaian tangan oleh ketiga orang di sana
" Ibu kenapa "
Anak laki-laki itu memegang tangan sang ibu
" Ibu merasa gadis kecil itu sangat mirip dengan.... "
Wanita itu berhenti
" Mirip siapa Bu "
Anak perempuannya mengguncang ibunya
" Tidak.. sekarang kita makan ya "
Si ibu membawa kedua anaknya masuk ke dalam toko
" Mao "
Sean mengalihkan pandangannya dari keluarga di sana
" Saya tuan "
Mao sedikit mendekat
" Aku memasang GPS di cincin ada pada kotak musik tadi , cari tau siapa mereka "
Sean memerintahkan
" Saya mengerti "
Mao mengangguk
" Kau harus mengorek semua informasi , dan buka kasus sepuluh tahun yang lalu , aku ingin informasi sedetail mungkin "
Sean terlihat masih tegang
" Saya mengerti tuan , akan saya minta tuan Diablo memeriksa setelah masalah ini "
Mao membuat Sean lebih tenang
__ADS_1
" Papaaaa tu papa iel , agi tan pa iel au "
( Papaaaa itu papa Aniel , lagi makan apa Aniel mau )
Aniel menunjuk Sbastian yang sedang memakan bakso di sebuah kedai
" Di mata orang mehong ini adalah hal langka "
Sean terkekeh
" Kalian beli apa "
Sbastian menghampiri Sean dan Aniel
" Anyaaaaak net , tatak eli uan nini , esaaaal anet "
( Banyaaaak banget , kakak beli kayak gini , besaaar banget )
Aniel terlihat sangat bersemangat menceritakan apa yang dia lihat kepada Sbastian
" Kita makan bakso terus kita masuk ke dalam "
Sbastian membawa Aniel masuk dan menyuapi kedua anaknya bergantian
Setelah kenyang dengan bakso , Sbastian dan kedua anaknya masuk ke dalam kebun binatang
" Wah... Pa tu "
Aniel menunjuk banyak burung yang menyambut pengunjung di langkah pertama setelah lorong masuk
" Burungnya cantik "
Dengan semangat Sbastian menunjukkan berbagai spesies burung yang mungkin baru di lihat oleh putri kecilnya
Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka sampai di daerah kandang mamalia berbadan besar
" Can.. can "
( Macan.. macan )
Aniel menunjuk seekor macan tutul yang terlihat sedang beristirahat
" Cana auh.. iel au tet "
( Macannya jauh.. Aniel mau deket )
Aniel terlihat kecewa
" Macannya lagi tidur sayang , lihat deh dia lagi bobok sama anaknya "
Sbastian menunjukkan bahwa sang macan sedang menjilati bulu macan kecil di sampingnya
" Wah... Ya , tu yak iel , oel net "
( Wah.. iya , itu kayak Aniel , comel banget )
Aniel terlihat berbinar
" Nona mau macannya kesini ngak "
Mao menawari
" Emang bisa "
Sbastian menaikkan alisnya
" Saya ini macan lho tuan "
Mao menggerutu
Mao terlihat memfokuskan pengelihatannya kepada sang macan , perlahan sang macan bangkit dan berjalan mendekati Sbastian di ikuti ketiga macan kecil lainnya
" Wah... Lihat lihat macannya mendekat "
Para pengunjung dan Aniel terlihat sangat heboh saat macannya mulai mendekat
" Aku ingin melihat bayi jerapah , pasti lucu jika lehernya cukup panjang seperti induknya "
Sean menggumam
Setelah puas melihat macan yang bermain-main dengan anaknya , Sbastian membawa anak-anaknya menuju kandang gajah dan Aniel di beri kesempatan untuk menaiki gajah untuk berjalan-jalan mengelilingi arena sebentar
Terlihat Aniel berteriak kegirangan saat si gajah mulai berjalan , setelah turun Aniel terlihat mengoceh panjang di dalam gendongan Sbastian
" Kita lihat monyet yuk "
Sbastian membawa kedua anaknya menghampiri kandang kandang monyet dan sejenisnya yang berjejer rapih
" Hahaha itu monyet "
Sean tertawa melihat seekor monyet yang berlarian bersama teman-temannya
" Tan.. tu ela '
( Bukan.. itu kera )
Aniel menggeleng saat mendengar pendapat Sean
" Bukan dek , itu monyet "
Sean tidak mau kalah
" Ela "
( Kera )
Aniel berkacak pinggang
" Bukan bukan , itu orang hutan "
Sbastian ikut dalam perdebatan kedua anaknya
Perdebatan berlangsung panjang hingga seorang penjaga kandang menghampiri
" Permisi.. ini namanya Kukang "
Sang penjaga memberi tahu
" Hah... Hahahaha "
Terdengar gelak tawa yang membuat banyak orang menoleh
" Astagaaaaa kita tidak ada gunanya berdebat "
Sean menyeka air matanya
" Terimakasih ya paman , kami baru tau haha "
Sbastian tertawa
" Haha... Jangan sungkan untuk bertanya lagi nanti , saya pamit dulu , selamat tinggal"
Paman itu melambaikan tangannya
Setelah puas menyapa teman-teman dari hutan , Sbastian membawa anak-anaknya menuju kandang jerapah yang bersebelahan dengan kandang rusa dan sejenisnya
" Wah... Ini kenapa rusanya masuk ke sini "
Sean menunjuk rusa kecil yang sedang memakan rumput di kandang jerapah
" Lho.. ini anak jerapah sayang "
Sbastian menjelaskan
" Kalau ibunya lehernya panjang kenapa anaknya enggak "
Sean menunjuk jerapah yang lehernya sangat panjang
" Iya.. kalau anaknya lehernya ikut panjang kasihan nanti kalau baru lahir , kesusahan berdirinya "
Sbastian menjelaskan
" Oh... Sean baru tau lho , tak kira anak jerapah lehernya juga panjang haha "
Sean terkekeh
" Sama seperti anak rusa dan anak hewan bertanduk , mereka ngak akan punya tanduk saat lahir , nanti itu akan tumbuh seiring waktu "
Sbastian menjelaskan
" Oh... Sean mengerti hahaha "
Sean tertawa
Setelah puas berkeliling , Sbastian membawa anak-anaknya menuju musholla setelah bertanya kepada beberapa pekerja di kebun binatang
Setelah mereka beribadah , Sbastian membawa anak-anaknya untuk makan berbagai makanan yang di sediakan di sana , terlihat Aniel lebih memilih banyak makanan manis dari pada makanan berat untuk mengisi perut
Setelah puas bermain dan berkeliling , Sbastian membawa anak-anaknya pulang pukul dua belas siang
Di dalam mobil menuju bandara
" Kita pulang naik pesawat aja ya , papa ada kerjaan "
Sbastian membenarkan posisi Aniel yang tertidur di pangkuannya
" Iya pa "
Sean mengangguk
" Apa kakak ngantuk "
Sbastian mengusap kepala Sean
" Iya "
Sean mengangguk
" Apa tuan muda mau saya pangku "
Mao menawari
" Iya... "
Sean mengangguk
Sbastian dan Mao masing-masing duduk di samping jendela , sedangkan di depan di isi dengan Aloe dan Lao
" Saya tadi di hubungi oleh tuan Sam , beliau bilang harus langsung pulang ke rumah "
Mao memberitahu
" Kalau begitu aku akan ke kantor setelah dari rumah "
Sbastian mengangguk
Perjalanan berlangsung cepat , setelah tiba di bandara , Sbastian langsung landing meninggalkan bandara
Setelah sampai di bandara pukul lima sore
" Kita langsung ke rumah , barang-barang nanti tolong di antar ke rumah "
Sbastian masuk ke dalam mobil
Sean dan Aniel tidur sepanjang perjalanan , hingga mereka harus berhenti di SPBU untuk mengisi bensin
" Dimana ini "
Sean membuka matanya
" Di pom bensin "
Sbastian menjawab
" Sean mau pipis "
Sean menggosok matanya
" Ayo sama papa "
Sbastian membenarkan posisi Aniel
" Jangan pa , sama Mao aja , adek lagi tidur"
Sean menolak
" Baiklah "
Sbastian mengangguk
Mao keluar dari mobil menuju kamar mandi umum , setelah dekat dengan kamar mandi
" Mao "
Sean memegangi dadanya
" Tuan kenapa "
Mao panik
" Perasaanku tidak enak "
Nafas Sean mulai tidak beraturan
" Kembali Mao , papaku Mao , adikku kembali kembali ke mobil "
Sean memukul pundak Mao
* Dum
Ledakan besar membuat Sean terbelalak
" Selamatkan papaku , adikku di sana Mao , selamatkan mereka "
Sean terlihat panik dan di sana terlihat banyak sekali pasukan Sean yang membawa alat pemadam untuk memadamkan api
" PAPAAAA PAPAKU BAWA PAPAKU KELUAR , BAWA ADIKKU KELUAR , MEREKA DI DALAM MOBIL "
Sean berteriak dengan histeris membuat semua pasukan elitnya mengerti apa maksud dari Sean
Sean mencengkram erat lengan Mao yang memeluknya , nafas Sean memburu , terlihat wajahnya memerah dan air matanya tidak berhenti mengalir
Ambulance menyusuri jalan , membawa sang raja dan sang putri menuju rumah sakit terdekat
" Bagaimana dengan Aloe dan lao "
Sean tersadar
" Mereka juga mengalami luka yang serius"
Pak supir yang notabenenya adalah kepala pengawal elite Sean memberitahu
" Bodoh bodoh.. aku lalai bodoh , papamu jadi seperti ini , bodoh kau Sean bodoh "
Sean memukuli kepalanya sendiri dengan kuat membuat Mao terkejut
" Tenanglah tuan , tenang "
Mao memeluk Sean dengan erat
Setelah sampai di rumah sakit , Sbastian dan Aniel masuk ke dalam ruang operasi selama dua jam
" Siapa pelakunya "
Sean dengan tatapan kosong bertanya kepada Diablo yang sedari tadi memeluk dirinya saat Mao ikut di dalam operasi
" Apa tuan "
Diablo terkejut
__ADS_1