Aku Pangeran

Aku Pangeran
#85 ( peringatan )


__ADS_3

" Makasih ya paman "


Sean tersenyum


" Dengar adik kecil "


Paman itu tiba-tiba menjadi serius


" Iya "


Sean mengangguk


" Preoritaskan papamu , dia target utamanya , paman melihat bahwa sesuatu yang besar akan terjadi , jangan lengah tuan muda kecil "


Paman itu membuat Sean mengerenyitkan keningnya


" Bagaimana paman tau "


Sean terkejut


" Paman mendapatkan pengelihatan , dan sasaran utamanya adalah papamu , berhati-hatilah , adik kecilmu akan terkena imbasnya jika kamu lengah sedikit saja "


Pria itu membuat Sean mengangguk


" Paman bukan musuh , paman hanya di berikan pengelihatan dan mungkin ini bisa melenceng jauh dari yang akan terjadi nanti , kamu harus percaya kepada tuhanmu "


Paman itu tersenyum


" Sean mengerti paman , terimakasih ya "


Sean membalas senyuman si paman


" Sama-sama , paman pergi dulu ya "


Pria itu menggosok kepala Sean


" Hati hati paman "


Sean melambaikan tangannya dan di sambut oleh lambaian tangan si pria


" Babay adik kecil lucu yang imut babaaay "


Pria itu melambaikan tangannya dengan semangat seakan sosok misteriusnya tadi lenyap ntah kemana


" Babay paman "


Sean membalas lambaian tangan si paman


" Ayah ayah.. adik kecil itu lucu lho.. apa aku pernah menjadi kecil seperti adik kecil itu "


Paman itu dengan semangat berlari menghampiri ayahnya


" Mengapa nak "


Sbastian menghampiri Sean


" Paman tadi mengembalikan Bros sabuk Sean yang jatuh "


Sean menunjukkan Bros sabuknya


" Hm... Dia pria yang baik ya "


Sbastian tersenyum


" Iya "


Sean mengangguk


" Tuan , kendaraan sudah tiba , kita bisa langsung menuju hotel "


Aloe memberitahu


" Kita istirahat dulu , baru esok menuju kebun binatang "


Sbastian dan Sean berjalan beriringan menuju mobil


" Mereka tidak bertindak sama sekali "


Sean memperhatikan sekeliling dengan wajah penasaran ala anak-anak


" Wow aku tidak menyangka pengawalan akan sangat ketat "


Sean melihat Diablo menyebarkan seluruh anak buah Sean


" Mereka tim elit yang di latih paman Kelvin sendiri , sangat keren "


Sean melihat seluruh anak buahnya yang ia seleksi sendiri di bantu Yuka sebelum dirinya mengalami koma


" Wah... Ada Aldo dan Ariana , mereka siap siaga sekali haha "


Sean terkekeh melihat kedua orang di ujung stasiun sedang dalam keadaan siap siaga


" Andai mereka tau aku bosnya bagaimana ya reaksinya "


Sean mulai membayangkan


" Sean "


Sbastian membuat Sean terkejut


" Iya papa "


Sean menanggapi


" Kenapa senyum-senyum sendiri , ayo kita naik "


Sbastian masuk di dalam mobil dan setelah itu Sean di dudukkan di samping Aniel


Perjalanan menuju hotel menempuh waktu singkat , Sean langsung tertidur ketika sampai di atas lautan kapuk yang dia sukai


Esok hari pukul 07.00 pagi di restoran hotel


" Kakak mau apa "


Sbastian membuka buku menu


" Mau apa aja deh pa , terserah "


Sean sedari tadi masih sibuk bermain game dengan Aniel


" kalian makanlah "


Sbastian menatap ketiga pengawalnya yang sedari tadi hanya berdiri tanpa berkata apapun


" Kami akan makan nanti , tuan makan saja terlebih dahulu "


Mao menjawab


" Oh.. ayolah kita makan bersama sekarang"


Sbastian terlihat kesal


Mao melirik Sean dan Sean mengangguk mengisyaratkan agar mereka mengikuti perkataan Sbastian


" Terimakasih tuan "


Mao duduk di ikuti kedua saudaranya duduk satu meja bersama Sean


" Kalian mau pesan apa "


Ana menawari


Mao kembali melirik Sean dan Sean mengangguk


" Samakan saja tuan "


Mao memberi pendapat


" Baiklah... "


Sbastian memanggil pelayan dan memesan makanan


" Mao Mao "


Sean memanggil


" Iya tuan muda "


Mao mendekat


" Apa itu "


Sean menunjuk sebuah lukisan besar yang terpajang di dinding restoran


" Itu lukisan sayang "


Sbastian menjawab


" Tau pa.. tapi lukisan apa , cantik itu lukisannya "


Sean membuat Sbastian terkekeh


" Apanya yang cantik "


Sbastian menyangga kepalanya di atas meja


" Itu bingkainya cantik , lukisannya juga cantik , kalau ada dua Sean mau satu , pasti keren kalau di taruh di kamar Sean "


Sean mengagumi lukisan seorang wanita yang terlihat memiliki sayap peri dan berpakaian cukup terbuka


" Astagaaaaa nanti kamu lukis sendiri aja di rumah , papa belikan alat lukisnya "


Sbastian geleng-geleng kepala


" Oh... Aku mengerti maksud tuan "


Mao membatin


Setelah Mao memperhatikan lukisan di sana , Mao melihat dua kamera kecil yang di pasang khusus agar tidak mudah terlihat , dan jika Mao perhatikan ternyata ada satu sampai tiga CCTV kecil untuk setiap meja


" Tuan sangat jeli "


Mao mengeluarkan hp nya


" Saya permisi sebentar "


Mao berdiri dan agak menjauh dari meja


__________________


: Halo Diablo :


Mao menelfon Diablo


: Iya nona , ada apa :


Diablo menjawab


: Tuan besar bilang bahwa di dalam restoran ini di pasang banyak sekali CCTV , dan bisakah anda mengirim seseorang untuk mengamankan porsi makanan yang aman di bawa untuk tuan Sbastian sekeluarga :


Mao meminta


: Saya akan mengirim Aldo :


Diablo mengiyakan


: Baiklah.. tolong benar-benar berhati hati , saya takut akan terjadi sesuatu yang buruk:


Mao


: Saya mengerti :


Diablo


: Saya tutup :


Tanpa persetujuan dari Diablo , Mao menutup telfon dan kembali menuju mejanya


________________


" Kamu menelfon siapa Mao "


Sbastian bertanya


" Mampus... "


Mao membatin


" Saya menelfon tuan Sam , memberitahu bahwa kita mungkin akan pulang agak terlambat dari jadwal "


Mao memberi alasan dan membuat Sean tepuk jidat


" Oh.. baiklah "


Sbastian mengangguk


" Percaya begitu saja... Kau keren Mao "


Sean membatin


Setelah sarapan pagi , Sbastian membawa anak-anaknya menuju kebun binatang yang di janjikannya


" Wah... Keren komodonya besar "


Sean memperhatikan patung komodo besar yang di letakkan di tugu utama


" Tatak tatak , apa tu "


( Kakak kakak , apa itu )


Aniel menunjuk sebuah patung kupu-kupu yang sangat besar


" Itu kupu-kupu , cantik ya "


Sean menerangkan


" Iya.. tayak iel "


( Iya.. kayak Aniel )


Aniel meletakkan telunjuknya di kedua pipinya


" Adek kakak emang cantik "


Sean tersenyum


" Bi ao bi ao , tu pa "


( Bi Lao bi Lao , itu apa )


Aniel menunjuk orang-orang yang berjualan di depan tugu masuk


" Itu orang-orang yang sedang menjual banyak hal , apa nona mau melihat "


Lao menawari


" Sean ikut "


Sean mengangkat tangannya


" Biar papa sama Aloe yang beli tiket , kita jalan-jalan aja "


Sean memberikan usul yang menyesatkan


" Ote ote , iel da au iat tu "


( Oke oke , Aniel juga mau lihat itu )


Aniel memberi jempol

__ADS_1


Lao menghampiri Sbastian untuk mengatakan bahwa Sean dan Aniel mau berkeliling melihat banyak barang dagangan yang di jajakan di depan tugu pintu masuk


" Apa boleh "


Sean menatap Lao


" Boleh asalkan tidak terlalu jauh "


Lao menjawab


" Yes "


Sean terlihat senang


Lao dan Mao membawa Sean dan Aniel melihat banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya di sepanjang trotoar


" Wah... Hahaha neka sal net "


( Wah... Hahaha bonekanya besar banget )


Aniel tertawa melihat tingkah badut badut hewan yang bertingkah lucu


" Ayo kesana "


Sean menunjuk toko aksesoris


" Apa tu "


Aniel menatap toko aksesoris yang di tunjuk Sean dengan penasaran


" Adek sini sini , kakak pangku "


Sean melambaikan tangannya dan menepuk pahanya


" Jangan tuan muda , nanti tuan muda lelah , biar saya gendong saja "


Lao menolak


" Iya tuan muda , bukankah syaraf anda mulai bisa merasakan "


Mao ikut mengingatkan


" Iya sih.. Sean udah bisa ngerasain kalau di cubit, tapi gapapa ini kan adeknya Sean "


Sean mengulurkan tangannya


" Baiklah jika tuan memaksa "


Lao mendudukkan Aniel di atas pangkuan Sean


" Mao "


Sean membenarkan hijab Aniel yang terlihat agak berantakan


" Saya tuan "


Mao mendorong kursi roda Sean


" Siapa saja yang ada di dekat papa "


Sean memeluk Aniel


" Tuan Diablo ada di sana , saya memerintahkan agar dia tidak meninggalkan tuan Sbastian "


Mao menjawab


" Baiklah "


Sean mengangguk


" Tak tak.. apa tu "


( Kak kak.. apa itu )


Aniel menunjuk toko boneka


" Itu boneka yang kayak di kamar Aniel "


Sean menjelaskan


" Oh... Iel au ya "


( Oh... Aniel mau ya )


Aniel menatap Sean dengan tatapan memohon


" Kan di kamar Aniel masih banyak "


Sean mengelus kepala Aniel


" Ote eh... Pan pan ja "


( Oke deh... Kapan kapan aja )


Aniel menunduk lesu


" Hei... Kamu tau mereka "


Sean menunjuk beberapa anak kecil yang sedang memakan satu porsi nasi bersama


" Ya "


Aniel mengangguk


" Kamu tau beberapa dari mereka ngak punya boneka kayak kamu "


Sean membuat Aniel terbelalak


" Pi ya papa nak til yak iel tu unya inan inan uat ain "


( Tapi kata papa anak kecil kayak Aniel itu punya mainan mainan buat bermain )


Aniel seakan tidak setuju dengan perkataan Sean


" Kakak tau , tapi ngak semua papa mereka bisa belikan mereka mainan , papa mereka juga pengen belikan mereka mainan , tapi papa mereka ngak bisa , ngak kayak papa Aniel , jadi Aniel tidak boleh serakah "


Sean menjelaskan dengan sabar


" ya tak "


( Iya kak )


Aniel mengangguk


" Wah.. kita sampai "


Sean membuat Aniel menoleh ke depan


" Lihat ini , ini cantik "


Sean menunjuk sebuah gantungan dinding yang indah


" Ini namanya penyaring mimpi "


Suara seorang perempuan membuat Sean terkejut


" Katanya ini bisa membuat mimpi buruk kamu ngak bisa masuk ke dalam mimpimu dan hanya akan membiarkan mimpi indah yang masuk "


Seorang gadis kecil terlihat menunjukkan sebuah senyuman


" Benarkah "


Sean menatap sebuah penyaring mimpi berbentuk bulan sabit


" Itu kata ibuku "


Gadis itu mengangguk


" Kalau begitu kami beli tiga "


Sean membuat gadis itu tersenyum senang


Gadis kecil itu berlari masuk ke dalam ruangan di sana dan kembali bersama seseorang wanita berhijab yang cantik


*Deg


Sean terkejut melihat wajah ibu dari gadis kecil itu


" Adik mau beli yang mana "


Wanita itu tersenyum membuat Sean tersadar


" Maaf.. saya mau membeli penyaring mimpi ini tiga "


Sean menunjuk beberapa penyaring mimpi


" Tu pa tak "


( Itu apa kak )


Aniel menunjuk sebuah kotak


" Ini kotak musik , putra bibi yang membuatnya "


Wanita itu mengambil kotak musik dan berlutut di depan Sean menunjukkan isi kotak musik


Di sana kotak musik terbuka , terlihat dua orang , laki-laki dan perempuan yang terlihat sedang berdansa bersama di iringi lagu bintang kecil yang terdengar merdu


" Ibu "


Terdengar suara seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua beberapa tahun dari Sean keluar dari dalam toko


" Kakak "


Anak perempuan itu berlari memeluk anak laki-laki yang baru keluar dari toko


" Ibu.. sudah kakak bilang kalau kotak musik ini tidak di jual "


Anak laki-laki itu terlihat tidak suka


" Iya.. gadis kecil ini hanya ingin melihat saja "


Wanita itu terlihat tersenyum


*Glup


Sean menelan ludahnya kasar


" Apa apaan ini.. "


Sean mengingat bahwa senyuman itu sangat familiar untuknya


" Tuan muda "


Mao mengguncang Sean


" Ah.. iya "


Sean tersadar


" Tuan mengapa melamun , apa tuan kurang enak badan "


Mao memegang kening Sean


" Tidak.. aku baik "


Sean menyisihkan tangan Mao


" Maaf bibi.. apa Sean boleh melihat kotak musik itu lebih dekat "


Sean meminta dengan sopan


" Tentu "


Bibi itu menyerahkan kotak musik kepada Sean


" Wah.. saya baru sadar jika ukirannya sangat detail , dan si wanita memakai hijab yang sangat cantik "


Sean mengagumi keindahan ukiran kedua patung yang terlihat sangat detail


" Lambang apa ini "


Sean memperhatikan di jubah yang di kenakan sang wanita memiliki ukiran yang sangat unik


" Sangat indah ya Aniel "


Sean mengusap kepala Aniel


" Ya.. ni tak papa "


( Iya.. ini kayak papa )


Aniel menunjuk patung sang laki-laki


" Astagaaaaa nanti papa nyariin "


Sean menepuk jidatnya


" Ini bibi terimakasih , dan saya mau membeli lima gelang yang kayu yang berbeda "


Sean mengeluarkan uangnya


" Baiklah "


Bibi itu menutup kotak musiknya dan mengemasi semua yang di pesan oleh Sean


" Babay.. lain kali jika ada kesempatan saya akan kembali "


Sean dan Aniel melambaikan tangannya dan di balas lambaian tangan oleh ketiga orang di sana


" Ibu kenapa "


Anak laki-laki itu memegang tangan sang ibu


" Ibu merasa gadis kecil itu sangat mirip dengan.... "


Wanita itu berhenti


" Mirip siapa Bu "


Anak perempuannya mengguncang ibunya


" Tidak.. sekarang kita makan ya "


Si ibu membawa kedua anaknya masuk ke dalam toko


" Mao "


Sean mengalihkan pandangannya dari keluarga di sana


" Saya tuan "


Mao sedikit mendekat


" Aku memasang GPS di cincin ada pada kotak musik tadi , cari tau siapa mereka "


Sean memerintahkan


" Saya mengerti "


Mao mengangguk


" Kau harus mengorek semua informasi , dan buka kasus sepuluh tahun yang lalu , aku ingin informasi sedetail mungkin "


Sean terlihat masih tegang


" Saya mengerti tuan , akan saya minta tuan Diablo memeriksa setelah masalah ini "


Mao membuat Sean lebih tenang

__ADS_1


" Papaaaa tu papa iel , agi tan pa iel au "


( Papaaaa itu papa Aniel , lagi makan apa Aniel mau )


Aniel menunjuk Sbastian yang sedang memakan bakso di sebuah kedai


" Di mata orang mehong ini adalah hal langka "


Sean terkekeh


" Kalian beli apa "


Sbastian menghampiri Sean dan Aniel


" Anyaaaaak net , tatak eli uan nini , esaaaal anet "


( Banyaaaak banget , kakak beli kayak gini , besaaar banget )


Aniel terlihat sangat bersemangat menceritakan apa yang dia lihat kepada Sbastian


" Kita makan bakso terus kita masuk ke dalam "


Sbastian membawa Aniel masuk dan menyuapi kedua anaknya bergantian


Setelah kenyang dengan bakso , Sbastian dan kedua anaknya masuk ke dalam kebun binatang


" Wah... Pa tu "


Aniel menunjuk banyak burung yang menyambut pengunjung di langkah pertama setelah lorong masuk


" Burungnya cantik "


Dengan semangat Sbastian menunjukkan berbagai spesies burung yang mungkin baru di lihat oleh putri kecilnya


Setelah berjalan cukup lama akhirnya mereka sampai di daerah kandang mamalia berbadan besar


" Can.. can "


( Macan.. macan )


Aniel menunjuk seekor macan tutul yang terlihat sedang beristirahat


" Cana auh.. iel au tet "


( Macannya jauh.. Aniel mau deket )


Aniel terlihat kecewa


" Macannya lagi tidur sayang , lihat deh dia lagi bobok sama anaknya "


Sbastian menunjukkan bahwa sang macan sedang menjilati bulu macan kecil di sampingnya


" Wah... Ya , tu yak iel , oel net "


( Wah.. iya , itu kayak Aniel , comel banget )


Aniel terlihat berbinar


" Nona mau macannya kesini ngak "


Mao menawari


" Emang bisa "


Sbastian menaikkan alisnya


" Saya ini macan lho tuan "


Mao menggerutu


Mao terlihat memfokuskan pengelihatannya kepada sang macan , perlahan sang macan bangkit dan berjalan mendekati Sbastian di ikuti ketiga macan kecil lainnya


" Wah... Lihat lihat macannya mendekat "


Para pengunjung dan Aniel terlihat sangat heboh saat macannya mulai mendekat


" Aku ingin melihat bayi jerapah , pasti lucu jika lehernya cukup panjang seperti induknya "


Sean menggumam


Setelah puas melihat macan yang bermain-main dengan anaknya , Sbastian membawa anak-anaknya menuju kandang gajah dan Aniel di beri kesempatan untuk menaiki gajah untuk berjalan-jalan mengelilingi arena sebentar


Terlihat Aniel berteriak kegirangan saat si gajah mulai berjalan , setelah turun Aniel terlihat mengoceh panjang di dalam gendongan Sbastian


" Kita lihat monyet yuk "


Sbastian membawa kedua anaknya menghampiri kandang kandang monyet dan sejenisnya yang berjejer rapih


" Hahaha itu monyet "


Sean tertawa melihat seekor monyet yang berlarian bersama teman-temannya


" Tan.. tu ela '


( Bukan.. itu kera )


Aniel menggeleng saat mendengar pendapat Sean


" Bukan dek , itu monyet "


Sean tidak mau kalah


" Ela "


( Kera )


Aniel berkacak pinggang


" Bukan bukan , itu orang hutan "


Sbastian ikut dalam perdebatan kedua anaknya


Perdebatan berlangsung panjang hingga seorang penjaga kandang menghampiri


" Permisi.. ini namanya Kukang "


Sang penjaga memberi tahu


" Hah... Hahahaha "


Terdengar gelak tawa yang membuat banyak orang menoleh


" Astagaaaaa kita tidak ada gunanya berdebat "


Sean menyeka air matanya


" Terimakasih ya paman , kami baru tau haha "


Sbastian tertawa


" Haha... Jangan sungkan untuk bertanya lagi nanti , saya pamit dulu , selamat tinggal"


Paman itu melambaikan tangannya


Setelah puas menyapa teman-teman dari hutan , Sbastian membawa anak-anaknya menuju kandang jerapah yang bersebelahan dengan kandang rusa dan sejenisnya


" Wah... Ini kenapa rusanya masuk ke sini "


Sean menunjuk rusa kecil yang sedang memakan rumput di kandang jerapah


" Lho.. ini anak jerapah sayang "


Sbastian menjelaskan


" Kalau ibunya lehernya panjang kenapa anaknya enggak "


Sean menunjuk jerapah yang lehernya sangat panjang


" Iya.. kalau anaknya lehernya ikut panjang kasihan nanti kalau baru lahir , kesusahan berdirinya "


Sbastian menjelaskan


" Oh... Sean baru tau lho , tak kira anak jerapah lehernya juga panjang haha "


Sean terkekeh


" Sama seperti anak rusa dan anak hewan bertanduk , mereka ngak akan punya tanduk saat lahir , nanti itu akan tumbuh seiring waktu "


Sbastian menjelaskan


" Oh... Sean mengerti hahaha "


Sean tertawa


Setelah puas berkeliling , Sbastian membawa anak-anaknya menuju musholla setelah bertanya kepada beberapa pekerja di kebun binatang


Setelah mereka beribadah , Sbastian membawa anak-anaknya untuk makan berbagai makanan yang di sediakan di sana , terlihat Aniel lebih memilih banyak makanan manis dari pada makanan berat untuk mengisi perut


Setelah puas bermain dan berkeliling , Sbastian membawa anak-anaknya pulang pukul dua belas siang


Di dalam mobil menuju bandara


" Kita pulang naik pesawat aja ya , papa ada kerjaan "


Sbastian membenarkan posisi Aniel yang tertidur di pangkuannya


" Iya pa "


Sean mengangguk


" Apa kakak ngantuk "


Sbastian mengusap kepala Sean


" Iya "


Sean mengangguk


" Apa tuan muda mau saya pangku "


Mao menawari


" Iya... "


Sean mengangguk


Sbastian dan Mao masing-masing duduk di samping jendela , sedangkan di depan di isi dengan Aloe dan Lao


" Saya tadi di hubungi oleh tuan Sam , beliau bilang harus langsung pulang ke rumah "


Mao memberitahu


" Kalau begitu aku akan ke kantor setelah dari rumah "


Sbastian mengangguk


Perjalanan berlangsung cepat , setelah tiba di bandara , Sbastian langsung landing meninggalkan bandara


Setelah sampai di bandara pukul lima sore


" Kita langsung ke rumah , barang-barang nanti tolong di antar ke rumah "


Sbastian masuk ke dalam mobil


Sean dan Aniel tidur sepanjang perjalanan , hingga mereka harus berhenti di SPBU untuk mengisi bensin


" Dimana ini "


Sean membuka matanya


" Di pom bensin "


Sbastian menjawab


" Sean mau pipis "


Sean menggosok matanya


" Ayo sama papa "


Sbastian membenarkan posisi Aniel


" Jangan pa , sama Mao aja , adek lagi tidur"


Sean menolak


" Baiklah "


Sbastian mengangguk


Mao keluar dari mobil menuju kamar mandi umum , setelah dekat dengan kamar mandi


" Mao "


Sean memegangi dadanya


" Tuan kenapa "


Mao panik


" Perasaanku tidak enak "


Nafas Sean mulai tidak beraturan


" Kembali Mao , papaku Mao , adikku kembali kembali ke mobil "


Sean memukul pundak Mao


* Dum


Ledakan besar membuat Sean terbelalak


" Selamatkan papaku , adikku di sana Mao , selamatkan mereka "


Sean terlihat panik dan di sana terlihat banyak sekali pasukan Sean yang membawa alat pemadam untuk memadamkan api


" PAPAAAA PAPAKU BAWA PAPAKU KELUAR , BAWA ADIKKU KELUAR , MEREKA DI DALAM MOBIL "


Sean berteriak dengan histeris membuat semua pasukan elitnya mengerti apa maksud dari Sean


Sean mencengkram erat lengan Mao yang memeluknya , nafas Sean memburu , terlihat wajahnya memerah dan air matanya tidak berhenti mengalir


Ambulance menyusuri jalan , membawa sang raja dan sang putri menuju rumah sakit terdekat


" Bagaimana dengan Aloe dan lao "


Sean tersadar


" Mereka juga mengalami luka yang serius"


Pak supir yang notabenenya adalah kepala pengawal elite Sean memberitahu


" Bodoh bodoh.. aku lalai bodoh , papamu jadi seperti ini , bodoh kau Sean bodoh "


Sean memukuli kepalanya sendiri dengan kuat membuat Mao terkejut


" Tenanglah tuan , tenang "


Mao memeluk Sean dengan erat


Setelah sampai di rumah sakit , Sbastian dan Aniel masuk ke dalam ruang operasi selama dua jam


" Siapa pelakunya "


Sean dengan tatapan kosong bertanya kepada Diablo yang sedari tadi memeluk dirinya saat Mao ikut di dalam operasi


" Apa tuan "


Diablo terkejut

__ADS_1


__ADS_2