Aku Pangeran

Aku Pangeran
#125 ( Atri )


__ADS_3

" Ayah telanjang "


Neve menunjuk Sean


" Hahaha kita kan sama laki-laki jadi ya ngak papa "


Sean tertawa


" Kalo sama perempuan emang ngak boleh ya"


Neve memperhatikan Sean yang sedang memakai pakaiannya


" Ngak boleh dong "


Sean mengambil pakaian Neve


" Tapi Neve masih mau mandi "


Neve menolak tangan Sean


" Ya sudah , ayah akan bersihkan ikannya dulu"


Sean kembali ke tepi sungai


Setelah membersihkan ikan di sungai dan meletakkan ikan bakar matang di samping api unggun


" Ayo Neve , nanti kamu kedinginan "


Sean menghampiri Neve


" Iya "


Neve naik ke daratan


" Dingin ya "


Sean menyambut Neve dengan handuk putih tebal


" Hehehe bebebebebe "


Neve tersenyum dan bibirnya terlihat gemetar kedinginan hingga menghasilkan suara yang lucu


" Lihat , bibirmu sudah biru "


Sean memakaikan pakaian untuk Neve


" Dingin ayah "


Neve memeluk Sean setelah pakaiannya lengkap


" Duduk di sini "


Sean mendudukkan Neve di depan api unggun


" Ayah Neve laper "


Neve memanggil


" Ayo makan "


Sean menyuapi Neve dengan ikan bakar yang masih panas


" Huaaahh.... Anas "


Neve memakan satu ikan sungai besar dengan di suapi Sean


Di tengah-tengah makan malam , terdengar suara langkah kaki mendekat


" Ayah "


Terlihat Atri mendekat dari arah kerajaan di ikuti kedua anaknya


" Kenapa kalian kesini , sudah malam lho "


Sean kembali menyuapi Neve


" Atri mau bicara dengan ayah "


Atri duduk di samping Sean di ikuti kedua anaknya


" Anak anakmu sudah makan belum "


Sean bertanya


" Belum... "


Atri menunduk dan menjawab


" Makanlah cucu kakek "


Sean memberikan masing-masing satu untuk cucunya


" Makasih kakek "


Kedua anak Atri terlihat berbinar


" Ayah "


Atri memanggil


" Makanlah , kau pasti lapar "


Sean memberikan satu ikan bakar


" Atri akan keluar dari kerajaan "


Atri memberitahu dengan sedikit terdengar agak ragu


" Bagus , jika bisa keluarlah secepatnya "


Sean membuat Atri terbelalak


" Ayah tidak terkejut "


Atri memastikan


" Dengar , kau adalah seorang pemain pedang dan orang yang bisa mengolah uang dengan benar "


Sean menjeda kalimatnya


" Kau juga ayah ajarkan mengelola serikat dagang , jadi seharusnya kau tidak kesulitan"


Sean melanjutkan kalimatnya


" Iya ayah "


Atri mengangguk


" Kau , Aine dan Neve lahir dari ibu yang sama , ibu yang hebat "


Sean mengambil satu ikan bakar dan memakannya


" Ibu ratu... Hebat... "


Neve mengerenyitkan keningnya


" Ya , ratu pertama adalah orang yang sangat hebat , dia juga cinta pertama ayah , hingga ibumu meninggal saat pemberontakan "


Sean mengusap kepala cucunya


" Tapi selir muda... "


Kalimat Atri terjeda dengan perkataan Sean


" Ya , asal kau tau Atri , ibumu sebelum menjadi seorang ratu yang hebat , dia adalah wanita yang mandiri dan kuat "


Sean tersenyum


" Tapi ayah , kenapa waktu itu ibu tidak mau menyusui Neve dan malah selir termuda yang merawat Neve "


Atri bertanya dengan sedikit emosi


" Waktu itu ibumu sakit parah dan dia bisa menularkan hal itu kepada Neve , jadi dia tidak mau menularkan penyakit itu kepada adikmu "


Sean menjawab


" Jadi karena itu ayah biasa saja saat ibu tidak mau menyusuinya "


Atri sedikit terkejut


" Ya "


Sean mengangguk


" Ayah "


Atri sedikit membentak


" Kamu adalah satu-satunya putra ayah yang benar benar bisa menguasai ilmu pedang dan perdagangan yang ayah ajarkan dengan ketat "


Sean meletakkan tulang ikan yang dia pegang


" Tapi bukankah ayah lebih mendidik saudara yang lain untuk perdagangan "


Atri mengerenyitkan keningnya


" Waktu itu ayah tidak memujimu yang pandai dalam berdagang karena kau , sudah memiliki fisik yang kuat "


Sean menunjuk Atri dengan kayu tipis yang dia pegang


" A..ayaaah "


Atri terlihat terkejut , itu bukan jawaban yang dia mau


" Ayah mendidik kalian semua sesuai bakat kalian , tapi hanya kau dan Aine yang benar-benar menguasai banyak hal "


Sean berdiri


" Apa karena itu ayah memilih kak Aine untuk menjadi seorang penerus "


Atri menebak


" Tidak , kakak tertuamu itu memiliki sesuatu yang tidak di miliki saudaramu yang lain "


Sean mengambil beberapa ranting kering dari pohon di dekat sana


" Apa itu "


Atri penasaran


" Wibawa seorang raja "


Sean meletakkan kayu bakarnya di samping Atri


" Wibawa... Wibawa dari kakek "


Atri mengerenyitkan keningnya


" Ayah pernah cerita bahwa salah satu putra ayah akan mewarisi sifat seorang raja dari kakek "


Atri mengingat ingat


" Jika kau bisa membuka matamu , kau akan melihat sebuah aura mencekam yang mendiami tubuh Aine "


Sean kembali duduk


" Atri tidak pernah melihatnya "


Atri menggeleng


" Hal itu tumbuh setiap saat , dan hanya saudara keduamu yang bisa mengetahui hal itu walau hanya sedikit "


Sean melirik Atri


" Tapi ayah... "


Kalimat Atri kembali terjeda


" Cukup Atri , jadilah sesuatu yang kau inginkan , ayah juga mengajarimu banyak hal , dan jika kau benar-benar mau keluar , ayah akan membantumu "


Sean membungkam Atri


" Aku... "


Kalimat Atri kembali terjeda


" Jika kau keluar , jaga Neve untuk ayah hingga dia dewasa "


Sean memotong kalimat Atri


" Tapi ayah... "


Kalimat Atri kembali terjeda


" Ayah tidak bisa lama-lama di sini "


Sean mengeluarkan selimut dan menyelimuti kedua cucunya


" Ayah dengar Atri "


Atri sedikit berteriak


" Apa "


Sean menoleh


" Atri akan pergi malam ini "


Atri membuat Sean berhenti sejenak


*Nguuung...


Cicak terbang di tembok


" HAHAHAHA "


Sean terduduk dan terbahak bahak


" AYAH "


Atri berdiri dan berteriak


" Kau tidak kasihan dengan anakmu , tetaplah di sini hingga esok "


Sean berhenti tertawa


" Tidak.. Atri sudah bertekad , dan Atri akan membawa anak-anak Atri ke rumah yang Atri siapkan "


Atri menatap Sean dengan serius


" Haissss... Baiklah ayo pulang "


Sean berdiri


" Kemana "


Atri bertanya


" Ayah akan membawamu pulang ke tempat ayah "


Sean mengeluarkan beberapa mantel bulu


" Tempat ayah "


Atri mengerenyitkan keningnya


" Ya , ayah pikir-pikir kalian berdua itu terancam tidak bisa hidup meski kalian keluar dari kerajaan "


Sean mengangguk


" Kenapa "


Atri bertanya


" Karena kalian berdua adalah keturunan murni dari Hantian Rudeus dan hanya kalian berdua yang menyandang gelar Rudeus tapi kalian begitu lemah lembut "


Sean menyindir


" Maksud ayah "


Atri mengerenyitkan keningnya


" Dari semua keturunan Rudeus mulai raja Rudeus pertama , hanya kalian berdua yang memiliki sisi manusiawi terhadap anak-anak kalian "


Sean menjelaskan


" Tapi kan kakak kakak... "


Kalimat Atri terjeda


" Saudara saudaramu mendidik anaknya untuk perebutan kekuasaan , meski tidak terlihat , tapi Aine juga sama "


Sean menjelaskan


" Iya kan Aine "


Sean berbalik dan menatap pepohonan


Atri berdiri dan menghampiri Sean


" Iya... Ayah "


Aine keluar dari balik pohon yang rindang


" Kakak menguping "


Atri terkejut


" Tidak... Dia sudah ada sejak awal "


Sean berbalik dan menghampiri ketiga anak-anak yang masih sibuk makan


" Neve udah "


Neve mengangkat tangannya


" Aku juga udah "


Kedua anak Atri mengikuti perilaku Neve


" Kalau sudah sekarang kita cuci tangan "


Sean membawa anak anak itu pergi ke sungai


Setelah mencuci tangan dan kembali


" Ayo kita pergi "


Sean meletakkan cucu perempuannya di atas pundaknya dan menggandeng kedua anak laki-laki di sana untuk berjalan


" Ayah... Aine masih membutuhkan ayah di sini "


Aine mengejar Sean


" Sejak awal ayah seharusnya tidak di sini , kau harus adil dan bijaksana Aine , itu pesan ayah "


Sean berjalan tanpa menoleh dan Aine masih mengikuti langkah Sean


" Kalian akan ikut dengan ayah , tapi karena itu kalian tidak akan di ingat apapun yang ada di sini , apa kalian siap "

__ADS_1


Sean memperingatkan ke empat orang di sana


" Neve ikut ayah hehe "


Neve memeluk kaki Sean


" Ayah... Aine akan merawat Neve , biarkan Neve di sini "


Aine menahan tangan Sean


" Kau sudah tua dan sudah melalui banyak hal , kau itu kebanggaan Hantian Rudeus , dan jadilah seperti itu "


Sean menepuk pundak Aine


" Atri siap , anak-anak Atri juga siap "


Atri terlihat meyakinkan


" Kau yakin "


Sean bertanya kembali


" Atri yakin "


Atri mengangguk


" Ayah jangan bawa adik adik "


Aine menggenggam lengan Sean


" Tak apa , mereka siap "


Sean melepaskan tangan Aine


" Ayah... Aine mohon "


Aine menggenggam tangan Sean


*Syut... Bugh


Sean mendaratkan Bogeman untuk Aine dan Aine menangkisnya


" Lari ke pantai , naik ke atas perahu di sana"


Sean memerintahkan anak anaknya


" Ayo anak-anak , ayo Neve "


Atri menggendong anak anaknya dan berlari di ikuti Neve


" Ayah... Aine mohon "


*Wush...


Aine melesat melewati Sean dan Sean menghadang Aine untuk mendekati Atri juga Neve


" Kau tidak pernah memperhatikan mereka"


*Syut... Bugh..


Sean menarik kerah Aine dan pukulan Sean mengenai wajah Aine


" ATRI KEMBALI "


Aine berteriak dan berusaha menyusul Atri yang sudah mulai berlayar


" Jangan kejar mereka Aine "


*Syut... Bugh...


Pukulan telak mendarat tepat di punggung Aine


" KYUUUUUNG... "


Terdengar suara Kyung mendekat


" Lari Kyung... Ayo "


Sean berlari meninggalkan Aine yang terlihat memegangi punggungnya dan terlihat sedikit kesakitan


" AINE... APAPUN YANG TERJADI KAU TETAP PUTRA AYAH "


Sean berteriak sambil berlari mendekati laut


*Syut.... Wush...


Sean membawa Kyung dan melesat dengan cepat hingga sampai di perahu


" Ayah "


*Pluk


Neve langsung memeluk kaki Sean


" Ayo kita pergi "


Sean membawa Neve untuk duduk di samping Kyung dan dirinya mendayung dengan cepat hingga sekiranya Aine tidak bisa mengejar


" Ayah "


Atri memanggil


"Hm... "


Sean menyahuti


" Biar Atri yang dayung "


Atri meminta


" Dayung yang lurus saja "


Sean memberikan dayungnya kepada Atri dan mengeluarkan beberapa jaket tebal untuk kedua anak Atri


" Kemari "


Sean memanggil Terre putri Atri


" Iya kakek "


Terre mendekat


" Hangatkan tubuhmu "


Sean memakaikan jaket bulu dan syal untuk Terre


" Jaga adik "


Sean memberikan Terre kepada Neve


" Kemari "


Sean memanggil putra Atri


" Iya "


Cieux mendekat


" Jangan jadi seperti pamanmu , dia orang yang serakah "


Sean mengenakan syal dan jaket untuk putra Atri


" Iya , Cieux mengerti "


Cieux mengangguk


Atri diam saja dan terus mendayung sambil mendengarkan banyak kalimat dari Sean untuk putra putrinya


" Ada apa ini ayah "


Atri terkejut melihat jari tangannya tiba-tiba memudar di ujung


" Lihat pulau itu , kita ke sana "


Sean menunjuk sebuah pulau di sana


" Tangan Terre kenapa "


Terre melihat kedua tangannya


" Kemarikan "


Sean menurunkan putra Atri dari pangkuannya dan mengambil dayung yang di bawa Atri


" Ayah... Kenapa dengan anak-anak Atri "


Atri terkejut melihat perlahan wajah anak-anaknya memudar dengan sendirinya


" Diamlah "


Sean mendayung dengan cepat


" Tangan Neve juga "


Neve angkat suara


Sean tidak menjawab dan mendayung menuju pulau lebih cepat


Setelah sampai di pulau


" Ayo cepat "


*Byur


Sean masuk ke dalam air yang sudah se dangkal pahanya


" Ayo ayo cepat "


*Byur.. byur... Byur...


Suara deru air terdengar semakin pelan


" Duduk "


Sean mendudukkan Neve dan putra Atri agak jauh dari lautan


" Pipi Neve "


Neve memegang tangan Sean


" Ayah tau , tenanglah "


Sean mengeluarkan sebuah kotak dari dalam dimensi miliknya


" Tuanku "


Terdengar suara seorang laki-laki dari arah hutan


" Kau datang , ayo bantu "


Sean membuka kotak itu dan mengeluarkan liontin bayi miliknya


" Apa yang harus saya bantu "


Pria itu mendekat


" Siapkan api unggun di sana "


Sean menunjuk tempat yang agak jauh dari tempatnya


" Ayah tangan Terre hilang "


Terdengar suara Terre gemetaran


" Tangan Cieux juga "


Cieux terdengar terkejut


" Kemari "


Sean mengambil Terre dan menggosokkan liontin miliknya di kening Terre


*Criiing


Tangan Terre kembali dan tiba-tiba Terre pingsan


" Ayah "


Atri terkejut


" Ayo Cieux "


Sean meletakkan Terre di tanah dan memanggil Cieux


Hal yang sama terjadi pada Cieux dan tiba-tiba Cieux pingsan


" Ayo Neve "


Sean mengusap kening Neve dan terjadi hal yang sama lalu Neve pingsan


" Ayah... Apa ini "


Atri menahan tangan Sean


" Kakak kakakmu mencoba membunuh kalian , ayah hanya melakukan yang harus di lakukan sebagai ayah "


*Criiing... Pluk


Sean mengusap kening Atri dan Atri pingsan


" Apinya siap tuan "


Laki-laki dewasa itu menghampiri Sean


" Bawa anak anakku berbaring di sana "


Sean berdiri dan membawa Terre dan Neve ke dalam pelukannya


" Baik "


Pria itu membawa Atri dengan entengnya


" Kyung... Kyuuung... Kyung... "


Kyung berusaha menaikkan Cieux ke atas punggungnya dan membawa Cieux mengikuti Sean


Setelah sampai di dekat api unggun


" Makasih Roux "


Sean meletakkan Cieux di samping Terre


" Tuan "


Pria di sana memanggil Sean


" Hm.. "


Sean yang masih sibuk dengan urusannya kini menyahuti


" Mereka ini siapa "


Pria itu bertanya


" Anak anakku "


Sean memberitahu


" Kyuung "


Roux mendekati pria itu


" Kau merindukan ayah ya "


Pria itu membawa Roux ke dalam gendongannya


" Ngomong ngomong siapa namamu , sejak awal kau membantuku tapi aku tidak tau namamu "


Sean bertanya


" Saya Gerde dan pasangan saya Chasse "


Pria itu menjawab


" Kenapa kau tau kalau aku di sini "


Sean duduk dengan benar


" Dari dalam goa , saya merasakan ada jiwa yang aneh , tidak lama setelah saya keluar jiwa aneh itu tidak terasa "


Gerde menjeda kalimatnya


"Dan tiba-tiba cahaya batu biru yang saya kenal mendekat dan juga bau tubuh anda membuat saya pergi ke pantai "


Gerde menjawab


" Oke "


Sean mengangguk


Malam berlalu dan pagi menjemput


" Ugh... "


Suara lenguhan dari Atri membuat Sean terkejut


" Kamu sudah sadar nak "


Sean menghampiri Atri


" Dimana ini "


Atri memegangi kepalanya


" Jangan di pikirkan , istirahatlah dulu "


Sean memberitahu


" Ayah "


Neve terbangun dan mendudukkan dirinya


" Hai "


Sean datang dan mengusap kepala Neve


" Neve laper "


Neve memeluk Sean


" Kita makan "


Sean tersenyum dan membawa Neve ke dalam gendongannya


" Ayah masak apa "


Neve bertanya


" Ayah belum masak , Neve mau bantu ayah"

__ADS_1


Sean bertanya


" Mau "


Neve mengangguk


Sean mempersiapkan tunggu di atas api unggun dengan beberapa batu bata yang di susun di antara api dan tungku


" Ayah tadi ke hutan , terus ayah Nemu wortel "


Sean mendudukkan Neve tidak jauh dari tungku dan menunjukkan beberapa wortel


" Kayaknya enak "


Neve memperhatikan wortel yang di bawa Sean


" Neve pernah makan ini "


Sean mengeluarkan belati kecil dari pinggangnya


" Enggak "


Neve menggeleng


" Kalau gitu , kita makan sup daging "


Sean tersenyum


" Kayaknya enak "


Neve mengangguk


" Ayah masak dulu ya "


Sean berdiri


" Iya "


Neve mengangguk


" Ku kira anak-anak akan kehilangan ingatannya sesuai yang di katakan Alula , tapi syukurlah ternyata tidak "


Sean membatin


Setelah memasak


" Ayah "


Neve memanggil


" Iya "


Sean menoleh


" Ada yang datang "


Neve menunjuk arah hutan


" Hem... Itu teman ayah "


Sean memberitahu


" Ayah "


Suara Atri memanggil


" Kau sudah bangun "


Sean tersenyum


" Anak anak Atri kenapa "


Atri bertanya saat melihat anak anaknya tidur di atas sebuah kain


" Mereka sudah bangun , hanya tidur saja "


Sean menjawab


" Kita akan kemana sebentar lagi "


Atri bertanya


" Ke sebuah tempat yang akan aman untuk kalian "


Sean menjawab


" Dimana itu "


Atri mengerenyitkan keningnya


" Kamu ingat kan kalau ayah memiliki beberapa koneksi perdagangan besar di pasar gelap "


Sean bertanya


" Iya "


Atri mengangguk


" Ayah akan mengantar kalian kesana hingga Aine menyerah mencari kalian "


Sean menjawab


" Kata ayah akan membawa kami menuju rumah ayah "


Neve bertanya


" Tidak jadi , ayah akan membawamu dan anak anakmu ke tempat yang lebih baik "


Sean memberitahu


" Baik ayah , Atri menurut "


Atri mengangguk


" Tuan "


Gerde datang dengan beberapa anak kecil di ikuti Chasse dengan membawa sebuah perahu


" Kalian sudah bersusah payah , terimakasih"


Sean tersenyum


" Tidak tuan , ini sudah tugas kami "


Gerde menolak


" Kyung "


Roux datang dengan menjadi tunggangan untuk beberapa anak kecil di sana


" Ini anak anakmu "


Sean bertanya


" Iya tuan , kami sangat bahagia saat mereka menetas dan mengingatkan kami kepada anda "


Gerde mengusap kepala anak anaknya


" Kemarilah anak-anak , ayo makan "


Sean memanggil


" Mau mau "


Semua anak anak Gerde datang dengan semangat dan duduk dengan rapih


" Ayah "


Anak anak Atri datang dan memeluk kaki Atri


" Anak anak , ayo makan "


Atri duduk di ikuti anak anaknya


" Satu satu ya "


Sean membagikan makanan dan semua anak memakannya dengan tenang


" Hem... Bagus , kalian sangat tenang "


Chasse memuji anak anaknya


" Kami melatih mereka agar tidak makan seperti kami , dan mereka bisa melakukan itu"


Gerde tersenyum


" Hahaha kerja bagus "


Sean menepuk pundak Gerde


" Boleh aku bertanya "


Sean duduk dan mulai makan di samping Neve


" Iya "


Gerde mengangguk


" Kenapa hanya putrimu Roux yang tidak menjadi beastman seperti yang lain "


Sean bertanya


" Roux lahir dalam kecacatan , tapi juga dalam keberuntungan "


Gerde menjawab


" Maksudnya "


Sean mengerenyitkan keningnya


" Saat dia lahir , ukuran telurnya tidak sebesar saudaranya yang lain "


Gerde menjawab


" Ah kau benar , telurnya hanya seukuran telur burung puyuh "


Sean mengangguk


" Anda kan yang menolong pasangan saya melahirkan , anda tau kan ukuran telurnya "


Gerde memberitahu


" Hem... Oh astaga , benar juga ya , telur kalian itu sebesar telur angsa "


Sean mengangguk


" Iya , dan dulu saat Roux lahir dengan saudara-saudaranya , hanya dia yang selamat dari gempa bumi yang menghancurkan goa kami "


Gerde menunduk


" Saya tidak bisa menyelamatkan dua puluh telur kami , dan karena ukurannya kecil jadi dia terselamatkan di antara telur telur kakaknya "


Gerde menatap Roux yang makan dengan lahap


" Maaf , aku bertanya seperti itu "


Sean meminta maaf


" Tidak apa apa tuan , lagipun Tuhan sudah menggantikan anak anak kami yang meninggal dengan mereka "


Gerde mengusap anak kecil yang ada di sampingnya


" Hem... Kau benar "


Sean tersenyum


" Ayah , Neve kenyang "


Neve memberikan mangkoknya yang kosong


" Mau tambah "


Sean menawari


" Ngak mau "


Neve menggeleng


" Hari ini kita akan lanjut berlayar "


Sean membuka obrolan


" Melewati ruang kembali akan sedikit berbahaya "


Gerde menyahuti Sean


" Iya , tapi tidak ada cara lain , hanya Neve yang cocok dengan jiwaku , tapi Atri menunjukkan banyak perbedaan , itu lebih berbahaya "


Sean menjelaskan


" Setelah ini Atri akan menjadi lebih baik , untuk melindungi anak-anak Atri "


Atri bertekad


" ayah bangga padamu "


Sean menepuk pundak Atri


" Kalau Neve "


Neve menunjuk dirinya sendiri


" Ayah sayang sama Neve "


Sean membawa Neve ke dalam gendongannya


" Hehe Neve sayang sama ayah "


Neve memeluk Sean dengan erat


Setelah beberapa percakapan dan sedikit kegiatan , akhirnya Sean membawa anak anaknya kembali berlayar


" Roux kalau mau tinggal di sini boleh , nanti aku jemput saat perjalanan kembali "


Sean memberi kesempatan


" KYUUUUUNG "


Roux mengangguk dengan semangat


" Baiklah kalau begitu , kami berangkat "


Sean naik ke atas perahu dan ombak mulai membawa Sean menjauh dari pulau


" Kita ke arah mana "


Atri bertanya


" Selatan "


Sean menjawab


" Baik ayah "


Atri mulai mendayung dan mengarahkan layar perahu ke arah selatan


" Kemari anak anak "


Sean memanggil


" Iya "


Terre dan Cieux mendekat


" Pakai ini "


Sean memakaikan sebuah topeng untuk menutupi mata kanan Cieux


" Harus pakai ini "


Cieux bertanya


" Dan Terre pakai ini "


Sean memakaikan topeng di mata kiri Terre


" Terre suka hehe "


Terre terkekeh senang


" Neve "


Neve menunjuk dirinya


" Neve pakai ini "


Sean memakaikan topeng yang hanya menunjukkan bibir Neve


" Kok Neve beda "


Neve bertanya


" Iya , soalnya sudah banyak orang di sana yang tau wajah kamu "


Sean memakaikan sebuah tudung kepada Neve


" Lho... Kok gitu "


Neve memonyongkan bibirnya


" Hahaha sudahlah sayang jangan murung "


Sean mengusap kepala Neve


" Memang kita kemana ayah "


Atri bertanya


" Kita akan menemui nenek kalian "


Sean memberitahu


" Nenek "


Atri mengerenyitkan keningnya


" Hahaha teruslah berlayar "


Sean tertawa


Setelah mendarat di suatu pulau


" Tetaplah pakai topeng kalian , jangan di lepas "


Sean membenarkan topeng Terre


" Baik kakek "


Cieux mengangguk

__ADS_1


Sean membawa anak anaknya menuju sebuah pasar yang tidak jauh dari pantai


__ADS_2