
" Ayah telanjang "
Neve menunjuk Sean
" Hahaha kita kan sama laki-laki jadi ya ngak papa "
Sean tertawa
" Kalo sama perempuan emang ngak boleh ya"
Neve memperhatikan Sean yang sedang memakai pakaiannya
" Ngak boleh dong "
Sean mengambil pakaian Neve
" Tapi Neve masih mau mandi "
Neve menolak tangan Sean
" Ya sudah , ayah akan bersihkan ikannya dulu"
Sean kembali ke tepi sungai
Setelah membersihkan ikan di sungai dan meletakkan ikan bakar matang di samping api unggun
" Ayo Neve , nanti kamu kedinginan "
Sean menghampiri Neve
" Iya "
Neve naik ke daratan
" Dingin ya "
Sean menyambut Neve dengan handuk putih tebal
" Hehehe bebebebebe "
Neve tersenyum dan bibirnya terlihat gemetar kedinginan hingga menghasilkan suara yang lucu
" Lihat , bibirmu sudah biru "
Sean memakaikan pakaian untuk Neve
" Dingin ayah "
Neve memeluk Sean setelah pakaiannya lengkap
" Duduk di sini "
Sean mendudukkan Neve di depan api unggun
" Ayah Neve laper "
Neve memanggil
" Ayo makan "
Sean menyuapi Neve dengan ikan bakar yang masih panas
" Huaaahh.... Anas "
Neve memakan satu ikan sungai besar dengan di suapi Sean
Di tengah-tengah makan malam , terdengar suara langkah kaki mendekat
" Ayah "
Terlihat Atri mendekat dari arah kerajaan di ikuti kedua anaknya
" Kenapa kalian kesini , sudah malam lho "
Sean kembali menyuapi Neve
" Atri mau bicara dengan ayah "
Atri duduk di samping Sean di ikuti kedua anaknya
" Anak anakmu sudah makan belum "
Sean bertanya
" Belum... "
Atri menunduk dan menjawab
" Makanlah cucu kakek "
Sean memberikan masing-masing satu untuk cucunya
" Makasih kakek "
Kedua anak Atri terlihat berbinar
" Ayah "
Atri memanggil
" Makanlah , kau pasti lapar "
Sean memberikan satu ikan bakar
" Atri akan keluar dari kerajaan "
Atri memberitahu dengan sedikit terdengar agak ragu
" Bagus , jika bisa keluarlah secepatnya "
Sean membuat Atri terbelalak
" Ayah tidak terkejut "
Atri memastikan
" Dengar , kau adalah seorang pemain pedang dan orang yang bisa mengolah uang dengan benar "
Sean menjeda kalimatnya
" Kau juga ayah ajarkan mengelola serikat dagang , jadi seharusnya kau tidak kesulitan"
Sean melanjutkan kalimatnya
" Iya ayah "
Atri mengangguk
" Kau , Aine dan Neve lahir dari ibu yang sama , ibu yang hebat "
Sean mengambil satu ikan bakar dan memakannya
" Ibu ratu... Hebat... "
Neve mengerenyitkan keningnya
" Ya , ratu pertama adalah orang yang sangat hebat , dia juga cinta pertama ayah , hingga ibumu meninggal saat pemberontakan "
Sean mengusap kepala cucunya
" Tapi selir muda... "
Kalimat Atri terjeda dengan perkataan Sean
" Ya , asal kau tau Atri , ibumu sebelum menjadi seorang ratu yang hebat , dia adalah wanita yang mandiri dan kuat "
Sean tersenyum
" Tapi ayah , kenapa waktu itu ibu tidak mau menyusui Neve dan malah selir termuda yang merawat Neve "
Atri bertanya dengan sedikit emosi
" Waktu itu ibumu sakit parah dan dia bisa menularkan hal itu kepada Neve , jadi dia tidak mau menularkan penyakit itu kepada adikmu "
Sean menjawab
" Jadi karena itu ayah biasa saja saat ibu tidak mau menyusuinya "
Atri sedikit terkejut
" Ya "
Sean mengangguk
" Ayah "
Atri sedikit membentak
" Kamu adalah satu-satunya putra ayah yang benar benar bisa menguasai ilmu pedang dan perdagangan yang ayah ajarkan dengan ketat "
Sean meletakkan tulang ikan yang dia pegang
" Tapi bukankah ayah lebih mendidik saudara yang lain untuk perdagangan "
Atri mengerenyitkan keningnya
" Waktu itu ayah tidak memujimu yang pandai dalam berdagang karena kau , sudah memiliki fisik yang kuat "
Sean menunjuk Atri dengan kayu tipis yang dia pegang
" A..ayaaah "
Atri terlihat terkejut , itu bukan jawaban yang dia mau
" Ayah mendidik kalian semua sesuai bakat kalian , tapi hanya kau dan Aine yang benar-benar menguasai banyak hal "
Sean berdiri
" Apa karena itu ayah memilih kak Aine untuk menjadi seorang penerus "
Atri menebak
" Tidak , kakak tertuamu itu memiliki sesuatu yang tidak di miliki saudaramu yang lain "
Sean mengambil beberapa ranting kering dari pohon di dekat sana
" Apa itu "
Atri penasaran
" Wibawa seorang raja "
Sean meletakkan kayu bakarnya di samping Atri
" Wibawa... Wibawa dari kakek "
Atri mengerenyitkan keningnya
" Ayah pernah cerita bahwa salah satu putra ayah akan mewarisi sifat seorang raja dari kakek "
Atri mengingat ingat
" Jika kau bisa membuka matamu , kau akan melihat sebuah aura mencekam yang mendiami tubuh Aine "
Sean kembali duduk
" Atri tidak pernah melihatnya "
Atri menggeleng
" Hal itu tumbuh setiap saat , dan hanya saudara keduamu yang bisa mengetahui hal itu walau hanya sedikit "
Sean melirik Atri
" Tapi ayah... "
Kalimat Atri kembali terjeda
" Cukup Atri , jadilah sesuatu yang kau inginkan , ayah juga mengajarimu banyak hal , dan jika kau benar-benar mau keluar , ayah akan membantumu "
Sean membungkam Atri
" Aku... "
Kalimat Atri kembali terjeda
" Jika kau keluar , jaga Neve untuk ayah hingga dia dewasa "
Sean memotong kalimat Atri
" Tapi ayah... "
Kalimat Atri kembali terjeda
" Ayah tidak bisa lama-lama di sini "
Sean mengeluarkan selimut dan menyelimuti kedua cucunya
" Ayah dengar Atri "
Atri sedikit berteriak
" Apa "
Sean menoleh
" Atri akan pergi malam ini "
Atri membuat Sean berhenti sejenak
*Nguuung...
Cicak terbang di tembok
" HAHAHAHA "
Sean terduduk dan terbahak bahak
" AYAH "
Atri berdiri dan berteriak
" Kau tidak kasihan dengan anakmu , tetaplah di sini hingga esok "
Sean berhenti tertawa
" Tidak.. Atri sudah bertekad , dan Atri akan membawa anak-anak Atri ke rumah yang Atri siapkan "
Atri menatap Sean dengan serius
" Haissss... Baiklah ayo pulang "
Sean berdiri
" Kemana "
Atri bertanya
" Ayah akan membawamu pulang ke tempat ayah "
Sean mengeluarkan beberapa mantel bulu
" Tempat ayah "
Atri mengerenyitkan keningnya
" Ya , ayah pikir-pikir kalian berdua itu terancam tidak bisa hidup meski kalian keluar dari kerajaan "
Sean mengangguk
" Kenapa "
Atri bertanya
" Karena kalian berdua adalah keturunan murni dari Hantian Rudeus dan hanya kalian berdua yang menyandang gelar Rudeus tapi kalian begitu lemah lembut "
Sean menyindir
" Maksud ayah "
Atri mengerenyitkan keningnya
" Dari semua keturunan Rudeus mulai raja Rudeus pertama , hanya kalian berdua yang memiliki sisi manusiawi terhadap anak-anak kalian "
Sean menjelaskan
" Tapi kan kakak kakak... "
Kalimat Atri terjeda
" Saudara saudaramu mendidik anaknya untuk perebutan kekuasaan , meski tidak terlihat , tapi Aine juga sama "
Sean menjelaskan
" Iya kan Aine "
Sean berbalik dan menatap pepohonan
Atri berdiri dan menghampiri Sean
" Iya... Ayah "
Aine keluar dari balik pohon yang rindang
" Kakak menguping "
Atri terkejut
" Tidak... Dia sudah ada sejak awal "
Sean berbalik dan menghampiri ketiga anak-anak yang masih sibuk makan
" Neve udah "
Neve mengangkat tangannya
" Aku juga udah "
Kedua anak Atri mengikuti perilaku Neve
" Kalau sudah sekarang kita cuci tangan "
Sean membawa anak anak itu pergi ke sungai
Setelah mencuci tangan dan kembali
" Ayo kita pergi "
Sean meletakkan cucu perempuannya di atas pundaknya dan menggandeng kedua anak laki-laki di sana untuk berjalan
" Ayah... Aine masih membutuhkan ayah di sini "
Aine mengejar Sean
" Sejak awal ayah seharusnya tidak di sini , kau harus adil dan bijaksana Aine , itu pesan ayah "
Sean berjalan tanpa menoleh dan Aine masih mengikuti langkah Sean
" Kalian akan ikut dengan ayah , tapi karena itu kalian tidak akan di ingat apapun yang ada di sini , apa kalian siap "
__ADS_1
Sean memperingatkan ke empat orang di sana
" Neve ikut ayah hehe "
Neve memeluk kaki Sean
" Ayah... Aine akan merawat Neve , biarkan Neve di sini "
Aine menahan tangan Sean
" Kau sudah tua dan sudah melalui banyak hal , kau itu kebanggaan Hantian Rudeus , dan jadilah seperti itu "
Sean menepuk pundak Aine
" Atri siap , anak-anak Atri juga siap "
Atri terlihat meyakinkan
" Kau yakin "
Sean bertanya kembali
" Atri yakin "
Atri mengangguk
" Ayah jangan bawa adik adik "
Aine menggenggam lengan Sean
" Tak apa , mereka siap "
Sean melepaskan tangan Aine
" Ayah... Aine mohon "
Aine menggenggam tangan Sean
*Syut... Bugh
Sean mendaratkan Bogeman untuk Aine dan Aine menangkisnya
" Lari ke pantai , naik ke atas perahu di sana"
Sean memerintahkan anak anaknya
" Ayo anak-anak , ayo Neve "
Atri menggendong anak anaknya dan berlari di ikuti Neve
" Ayah... Aine mohon "
*Wush...
Aine melesat melewati Sean dan Sean menghadang Aine untuk mendekati Atri juga Neve
" Kau tidak pernah memperhatikan mereka"
*Syut... Bugh..
Sean menarik kerah Aine dan pukulan Sean mengenai wajah Aine
" ATRI KEMBALI "
Aine berteriak dan berusaha menyusul Atri yang sudah mulai berlayar
" Jangan kejar mereka Aine "
*Syut... Bugh...
Pukulan telak mendarat tepat di punggung Aine
" KYUUUUUNG... "
Terdengar suara Kyung mendekat
" Lari Kyung... Ayo "
Sean berlari meninggalkan Aine yang terlihat memegangi punggungnya dan terlihat sedikit kesakitan
" AINE... APAPUN YANG TERJADI KAU TETAP PUTRA AYAH "
Sean berteriak sambil berlari mendekati laut
*Syut.... Wush...
Sean membawa Kyung dan melesat dengan cepat hingga sampai di perahu
" Ayah "
*Pluk
Neve langsung memeluk kaki Sean
" Ayo kita pergi "
Sean membawa Neve untuk duduk di samping Kyung dan dirinya mendayung dengan cepat hingga sekiranya Aine tidak bisa mengejar
" Ayah "
Atri memanggil
"Hm... "
Sean menyahuti
" Biar Atri yang dayung "
Atri meminta
" Dayung yang lurus saja "
Sean memberikan dayungnya kepada Atri dan mengeluarkan beberapa jaket tebal untuk kedua anak Atri
" Kemari "
Sean memanggil Terre putri Atri
" Iya kakek "
Terre mendekat
" Hangatkan tubuhmu "
Sean memakaikan jaket bulu dan syal untuk Terre
" Jaga adik "
Sean memberikan Terre kepada Neve
" Kemari "
Sean memanggil putra Atri
" Iya "
Cieux mendekat
" Jangan jadi seperti pamanmu , dia orang yang serakah "
Sean mengenakan syal dan jaket untuk putra Atri
" Iya , Cieux mengerti "
Cieux mengangguk
Atri diam saja dan terus mendayung sambil mendengarkan banyak kalimat dari Sean untuk putra putrinya
" Ada apa ini ayah "
Atri terkejut melihat jari tangannya tiba-tiba memudar di ujung
" Lihat pulau itu , kita ke sana "
Sean menunjuk sebuah pulau di sana
" Tangan Terre kenapa "
Terre melihat kedua tangannya
" Kemarikan "
Sean menurunkan putra Atri dari pangkuannya dan mengambil dayung yang di bawa Atri
" Ayah... Kenapa dengan anak-anak Atri "
Atri terkejut melihat perlahan wajah anak-anaknya memudar dengan sendirinya
" Diamlah "
Sean mendayung dengan cepat
" Tangan Neve juga "
Neve angkat suara
Sean tidak menjawab dan mendayung menuju pulau lebih cepat
Setelah sampai di pulau
" Ayo cepat "
*Byur
Sean masuk ke dalam air yang sudah se dangkal pahanya
" Ayo ayo cepat "
*Byur.. byur... Byur...
Suara deru air terdengar semakin pelan
" Duduk "
Sean mendudukkan Neve dan putra Atri agak jauh dari lautan
" Pipi Neve "
Neve memegang tangan Sean
" Ayah tau , tenanglah "
Sean mengeluarkan sebuah kotak dari dalam dimensi miliknya
" Tuanku "
Terdengar suara seorang laki-laki dari arah hutan
" Kau datang , ayo bantu "
Sean membuka kotak itu dan mengeluarkan liontin bayi miliknya
" Apa yang harus saya bantu "
Pria itu mendekat
" Siapkan api unggun di sana "
Sean menunjuk tempat yang agak jauh dari tempatnya
" Ayah tangan Terre hilang "
Terdengar suara Terre gemetaran
" Tangan Cieux juga "
Cieux terdengar terkejut
" Kemari "
Sean mengambil Terre dan menggosokkan liontin miliknya di kening Terre
*Criiing
Tangan Terre kembali dan tiba-tiba Terre pingsan
" Ayah "
Atri terkejut
" Ayo Cieux "
Sean meletakkan Terre di tanah dan memanggil Cieux
Hal yang sama terjadi pada Cieux dan tiba-tiba Cieux pingsan
" Ayo Neve "
Sean mengusap kening Neve dan terjadi hal yang sama lalu Neve pingsan
" Ayah... Apa ini "
Atri menahan tangan Sean
" Kakak kakakmu mencoba membunuh kalian , ayah hanya melakukan yang harus di lakukan sebagai ayah "
*Criiing... Pluk
Sean mengusap kening Atri dan Atri pingsan
" Apinya siap tuan "
Laki-laki dewasa itu menghampiri Sean
" Bawa anak anakku berbaring di sana "
Sean berdiri dan membawa Terre dan Neve ke dalam pelukannya
" Baik "
Pria itu membawa Atri dengan entengnya
" Kyung... Kyuuung... Kyung... "
Kyung berusaha menaikkan Cieux ke atas punggungnya dan membawa Cieux mengikuti Sean
Setelah sampai di dekat api unggun
" Makasih Roux "
Sean meletakkan Cieux di samping Terre
" Tuan "
Pria di sana memanggil Sean
" Hm.. "
Sean yang masih sibuk dengan urusannya kini menyahuti
" Mereka ini siapa "
Pria itu bertanya
" Anak anakku "
Sean memberitahu
" Kyuung "
Roux mendekati pria itu
" Kau merindukan ayah ya "
Pria itu membawa Roux ke dalam gendongannya
" Ngomong ngomong siapa namamu , sejak awal kau membantuku tapi aku tidak tau namamu "
Sean bertanya
" Saya Gerde dan pasangan saya Chasse "
Pria itu menjawab
" Kenapa kau tau kalau aku di sini "
Sean duduk dengan benar
" Dari dalam goa , saya merasakan ada jiwa yang aneh , tidak lama setelah saya keluar jiwa aneh itu tidak terasa "
Gerde menjeda kalimatnya
"Dan tiba-tiba cahaya batu biru yang saya kenal mendekat dan juga bau tubuh anda membuat saya pergi ke pantai "
Gerde menjawab
" Oke "
Sean mengangguk
Malam berlalu dan pagi menjemput
" Ugh... "
Suara lenguhan dari Atri membuat Sean terkejut
" Kamu sudah sadar nak "
Sean menghampiri Atri
" Dimana ini "
Atri memegangi kepalanya
" Jangan di pikirkan , istirahatlah dulu "
Sean memberitahu
" Ayah "
Neve terbangun dan mendudukkan dirinya
" Hai "
Sean datang dan mengusap kepala Neve
" Neve laper "
Neve memeluk Sean
" Kita makan "
Sean tersenyum dan membawa Neve ke dalam gendongannya
" Ayah masak apa "
Neve bertanya
" Ayah belum masak , Neve mau bantu ayah"
__ADS_1
Sean bertanya
" Mau "
Neve mengangguk
Sean mempersiapkan tunggu di atas api unggun dengan beberapa batu bata yang di susun di antara api dan tungku
" Ayah tadi ke hutan , terus ayah Nemu wortel "
Sean mendudukkan Neve tidak jauh dari tungku dan menunjukkan beberapa wortel
" Kayaknya enak "
Neve memperhatikan wortel yang di bawa Sean
" Neve pernah makan ini "
Sean mengeluarkan belati kecil dari pinggangnya
" Enggak "
Neve menggeleng
" Kalau gitu , kita makan sup daging "
Sean tersenyum
" Kayaknya enak "
Neve mengangguk
" Ayah masak dulu ya "
Sean berdiri
" Iya "
Neve mengangguk
" Ku kira anak-anak akan kehilangan ingatannya sesuai yang di katakan Alula , tapi syukurlah ternyata tidak "
Sean membatin
Setelah memasak
" Ayah "
Neve memanggil
" Iya "
Sean menoleh
" Ada yang datang "
Neve menunjuk arah hutan
" Hem... Itu teman ayah "
Sean memberitahu
" Ayah "
Suara Atri memanggil
" Kau sudah bangun "
Sean tersenyum
" Anak anak Atri kenapa "
Atri bertanya saat melihat anak anaknya tidur di atas sebuah kain
" Mereka sudah bangun , hanya tidur saja "
Sean menjawab
" Kita akan kemana sebentar lagi "
Atri bertanya
" Ke sebuah tempat yang akan aman untuk kalian "
Sean menjawab
" Dimana itu "
Atri mengerenyitkan keningnya
" Kamu ingat kan kalau ayah memiliki beberapa koneksi perdagangan besar di pasar gelap "
Sean bertanya
" Iya "
Atri mengangguk
" Ayah akan mengantar kalian kesana hingga Aine menyerah mencari kalian "
Sean menjawab
" Kata ayah akan membawa kami menuju rumah ayah "
Neve bertanya
" Tidak jadi , ayah akan membawamu dan anak anakmu ke tempat yang lebih baik "
Sean memberitahu
" Baik ayah , Atri menurut "
Atri mengangguk
" Tuan "
Gerde datang dengan beberapa anak kecil di ikuti Chasse dengan membawa sebuah perahu
" Kalian sudah bersusah payah , terimakasih"
Sean tersenyum
" Tidak tuan , ini sudah tugas kami "
Gerde menolak
" Kyung "
Roux datang dengan menjadi tunggangan untuk beberapa anak kecil di sana
" Ini anak anakmu "
Sean bertanya
" Iya tuan , kami sangat bahagia saat mereka menetas dan mengingatkan kami kepada anda "
Gerde mengusap kepala anak anaknya
" Kemarilah anak-anak , ayo makan "
Sean memanggil
" Mau mau "
Semua anak anak Gerde datang dengan semangat dan duduk dengan rapih
" Ayah "
Anak anak Atri datang dan memeluk kaki Atri
" Anak anak , ayo makan "
Atri duduk di ikuti anak anaknya
" Satu satu ya "
Sean membagikan makanan dan semua anak memakannya dengan tenang
" Hem... Bagus , kalian sangat tenang "
Chasse memuji anak anaknya
" Kami melatih mereka agar tidak makan seperti kami , dan mereka bisa melakukan itu"
Gerde tersenyum
" Hahaha kerja bagus "
Sean menepuk pundak Gerde
" Boleh aku bertanya "
Sean duduk dan mulai makan di samping Neve
" Iya "
Gerde mengangguk
" Kenapa hanya putrimu Roux yang tidak menjadi beastman seperti yang lain "
Sean bertanya
" Roux lahir dalam kecacatan , tapi juga dalam keberuntungan "
Gerde menjawab
" Maksudnya "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Saat dia lahir , ukuran telurnya tidak sebesar saudaranya yang lain "
Gerde menjawab
" Ah kau benar , telurnya hanya seukuran telur burung puyuh "
Sean mengangguk
" Anda kan yang menolong pasangan saya melahirkan , anda tau kan ukuran telurnya "
Gerde memberitahu
" Hem... Oh astaga , benar juga ya , telur kalian itu sebesar telur angsa "
Sean mengangguk
" Iya , dan dulu saat Roux lahir dengan saudara-saudaranya , hanya dia yang selamat dari gempa bumi yang menghancurkan goa kami "
Gerde menunduk
" Saya tidak bisa menyelamatkan dua puluh telur kami , dan karena ukurannya kecil jadi dia terselamatkan di antara telur telur kakaknya "
Gerde menatap Roux yang makan dengan lahap
" Maaf , aku bertanya seperti itu "
Sean meminta maaf
" Tidak apa apa tuan , lagipun Tuhan sudah menggantikan anak anak kami yang meninggal dengan mereka "
Gerde mengusap anak kecil yang ada di sampingnya
" Hem... Kau benar "
Sean tersenyum
" Ayah , Neve kenyang "
Neve memberikan mangkoknya yang kosong
" Mau tambah "
Sean menawari
" Ngak mau "
Neve menggeleng
" Hari ini kita akan lanjut berlayar "
Sean membuka obrolan
" Melewati ruang kembali akan sedikit berbahaya "
Gerde menyahuti Sean
" Iya , tapi tidak ada cara lain , hanya Neve yang cocok dengan jiwaku , tapi Atri menunjukkan banyak perbedaan , itu lebih berbahaya "
Sean menjelaskan
" Setelah ini Atri akan menjadi lebih baik , untuk melindungi anak-anak Atri "
Atri bertekad
" ayah bangga padamu "
Sean menepuk pundak Atri
" Kalau Neve "
Neve menunjuk dirinya sendiri
" Ayah sayang sama Neve "
Sean membawa Neve ke dalam gendongannya
" Hehe Neve sayang sama ayah "
Neve memeluk Sean dengan erat
Setelah beberapa percakapan dan sedikit kegiatan , akhirnya Sean membawa anak anaknya kembali berlayar
" Roux kalau mau tinggal di sini boleh , nanti aku jemput saat perjalanan kembali "
Sean memberi kesempatan
" KYUUUUUNG "
Roux mengangguk dengan semangat
" Baiklah kalau begitu , kami berangkat "
Sean naik ke atas perahu dan ombak mulai membawa Sean menjauh dari pulau
" Kita ke arah mana "
Atri bertanya
" Selatan "
Sean menjawab
" Baik ayah "
Atri mulai mendayung dan mengarahkan layar perahu ke arah selatan
" Kemari anak anak "
Sean memanggil
" Iya "
Terre dan Cieux mendekat
" Pakai ini "
Sean memakaikan sebuah topeng untuk menutupi mata kanan Cieux
" Harus pakai ini "
Cieux bertanya
" Dan Terre pakai ini "
Sean memakaikan topeng di mata kiri Terre
" Terre suka hehe "
Terre terkekeh senang
" Neve "
Neve menunjuk dirinya
" Neve pakai ini "
Sean memakaikan topeng yang hanya menunjukkan bibir Neve
" Kok Neve beda "
Neve bertanya
" Iya , soalnya sudah banyak orang di sana yang tau wajah kamu "
Sean memakaikan sebuah tudung kepada Neve
" Lho... Kok gitu "
Neve memonyongkan bibirnya
" Hahaha sudahlah sayang jangan murung "
Sean mengusap kepala Neve
" Memang kita kemana ayah "
Atri bertanya
" Kita akan menemui nenek kalian "
Sean memberitahu
" Nenek "
Atri mengerenyitkan keningnya
" Hahaha teruslah berlayar "
Sean tertawa
Setelah mendarat di suatu pulau
" Tetaplah pakai topeng kalian , jangan di lepas "
Sean membenarkan topeng Terre
" Baik kakek "
Cieux mengangguk
__ADS_1
Sean membawa anak anaknya menuju sebuah pasar yang tidak jauh dari pantai