Aku Pangeran

Aku Pangeran
#31 { bersama kakak cantik }


__ADS_3

" Papa bisnya kapan sampai ke rumah "


Sean melihat ke luar jendela


" Bentar lagi dek , kamu duduk aja yang tenang "


Sbastian mendudukkan Sean yang sedari tadi berkali-kali berdiri dan melihat keluar


" Iya ya , perasaan bisnya ngak jalan dari tadi"


Clara melihat keluar bis


" Masa sih "


Sbastian bergumam dan menoleh ke arah kaca bis lalu melihat ke depan


" Adek mau liat "


Sean berdiri


" Sini "


Clara memberikan tempat untuk Sean mengintip keluar


" Woah keren , mobilnya ngak ada yang jalan"


Sean menempelkan wajahnya di kaca bis


" Gitu kok keren , astaga anakku "


Sbastian menggelengkan kepalanya


" Kenapa ngak ada yang jalan pa "


Sean menoleh kepada Sbastian ingin meminta penjelasan


" Lho papa kemana "


Sean celingukan mencari papanya lalu menoleh ke bangku belakang


" Paman , papa kemana "


Sean bertanya kepada asisten John yang sedang sibuk mendengar musik


" Lho , ya ndak tau kok tanya saya "


Asisten John menjawab asal , namun jawaban asal asisten John itu membuat Sean kesal


" Paman kok ngeselin sih , paman mirip siapa sih , kayak ayahnya paman , enggak , kayak ibunya paman , juga enggak "


Sean melihat asisten John dengan sinis


" Ya ndak tau , kok tanya saya , tanya sama bapak saya dong "


Asisten John menaik turunkan alisnya


" Serah "


Sean memutar matanya malas lalu kembali duduk dengan tenang


Tak lama Sbastian kembali duduk di samping Sean


" Papa dari mana "


Tanpa menunggu lama Sbastian di berikan pertanyaan oleh Sean


" Dari pak supir "


Sbastian menjawab


" Ngapain pa "


Sean bertanya lagi


" Beli es krim "


Sbastian menjawab asal


" Sean mau , mana es krim nya "


Sean mengulurkan tangannya


" Nih "


Sbastian memberikan hp dengan potret es krim berbagai warna


" Sean kira es krim beneran "


Sean memanyunkan bibirnya namun tidak mengembalikan hp milik Sbastian


" Sean anak nya ceria ya "


Clara mengelus rambut Sean

__ADS_1


" Ntahlah , biasanya jika bertemu orang asing dia akan memberikan tatapan maut miliknya , seolah itu mengatakan , jangan sentuh aku , saya heran , kenapa saat bertemu anda Sean menjadi ramah "


Sbastian melihat Sean heran


" Benarkah "


Clara tidak percaya akan ucapan Sbastian


" Bahkan saya pernah mempertemukan Sean dengan kakeknya , dia tidak seramah ini , pernah juga bertemu sahabat saya , namun dia tidak bisa di kategorikan ramah meskipun saat di tanya dia menjawab dengan senyuman , saya terkadang juga heran dengan anak saya "


Sbastian menatap Sean aneh


" Terkadang anak anak akan ramah kepada seseorang yang di sukainya atau yang sudah di kenalnya lama "


Clara memberikan sedikit penjelasan


" Kata dokter anak saya , juga seperti itu , namun Sean sendiri bukan tipe anak yang cepat akrab dan mudah di rayu , bahkan saya sendiri suka kewalahan dengan sikapnya , terkadang nakal , terkadang jahil , terkadang dia berbicara seperti orang dewasa , bahkan terkadang seperti anak kecil pada umumnya yang manja , jika di dalam rumah Sean akan menjadi kucing kecil yang manis , namun jika di luar rumah , astaga....dia akan menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk di dekati "


Sbastian berhenti berbicara sejenak lalu membenarkan kerah kemeja Sean setelah itu sbastian menyambung kembali kalimatnya


" Sean tidak sekali dua kali menasehati saya untuk berbagai hal yang membuat saya terpuruk , bahkan memberikan ide-ide bagus untuk usaha saya dan membuat usaha saya berkembang pesat , jika anak-anak umumnya di usia seperti Sean ini , mereka sedang gemar membaca buku bergambar , bermain dengan teman sebaya dan hal-hal yang dilakukan anak kecil lainnya , namun Sean tidak , dia lebih memilih membaca buku tebal milik saya , permainannya di rumah itu berkutat dengan alat dapur , benar benar alat dapur , bahkan dia akan membuat sebuah bangunan unik dari kubus yang saya belikan , bahkan dia pernah membuat menara Eiffel mini dari tanah liat di belakang rumah "


Sbastian menjelaskan dengan nada yang sulit di keluarkan


" Apa sebaiknya tidak di periksakan IQ milik Sean "


Clara memberikan pendapat


" Sudah pernah dua kali , namun IQ miliknya normal seperti anak-anak pada umumnya , itu yang membuat saya heran , bahkan pernah saya bawa ke dokter psikologi anak , dan hasilnya mengatakan bahwa Sean normal , saya bahkan kesulitan jika kepandaian Sean keluar "


Sbastian mengerenyitkan keningnya seolah dirinya sendiri tidak percaya dengan yang dikatakannya


" Ini papa lagi di suapi bunda apa "


Sean memotong percakapan Sbastian dan menyodorkan sebuah foto di hp Sbastian


" Oh.... Itu lagi makan martabak isi ayam "


Sbastian menunjukkan foto yang lain


" Sean mau , buatin juga ya papa "


Sean menatap Sbastian dengan tatapan berharap


" Iya iya , papa cari resepnya di buku bunda nanti "


Sbastian mengiyakan permintaan Sean


" Ok pa , kira-kira masakan papa seenak masakan bunda ngak ya "


" Emang pernah ngerasain masakan bunda "


Sbastian bertanya dengan heran


" Enggak pernah hehehehe "


Sean menggeleng pelan


" Dasar "


Sbastian mencubit pipi Sean gemas


" Kenapa ngak langsung minta di buatkan bunda "


Clara bertanya dengan heran


" Bunda udah tidur sama kakak "


Sean menjawab dengan polos


" Tidur ?? "


Clara heran dengan jawaban Sean


" Iya , kata kakek orang yang tidur itu berarti sakitnya sudah hilang , Sean bersyukur bunda sudah tidur , jadi... Bunda ngak ngerasain sakit lagi , dan lagi , di sana bunda di temani kakak "


Sean mengatakannya dengan nada polos tidak berdosa


" Maaf kakak ngak bermaksud "


Clara berbicara dengan nada tidak enak karena membahas sebuah kenangan


" Ngak papa , kalau Sean pengen ketemu bunda , Sean bisa , tiap malem saat Sean tidur , Sean di ajak mainan sama kakak , terus habis itu cerita cerita sama bunda , Sean juga sering di ingetin bunda , buat jaga bayi besar kata bunda "


Sean berkata dengan nada sedikit berbisik


" Kamu tau , yang bayi di sini itu kamu "


Sbastian mencubit pipi Sean


" Adududuh sakit tau pa "


Sean mengelus pipi gembulnya

__ADS_1


" Papa tuh jahat tau kak "


Sean kembali berbisik dengan Clara


" Hah "


Clara mengangkat satu alisnya pertanda dirinya tidak faham


" Iya , kalo Sean nakal , semua coklat Sean di ambil sama papa , nakal kan "


Sean mengatakan itu dengan penuh keyakinan


" Papa denger lho "


Sbastian sedikit menyindir


" Hehehe sayang papa "


Sean memeluk pinggang Sbastian dan mendongakkan kepalanya melihat Sbastian, sambil di lengkapi bumbu senyum khas miliknya


" Pa Sean ngantuk "


Sean mengembalikan hp milik Sbastian dan meletakkan kepalanya di pangkuan Sbastian


" Tumben udah ngantuk "


Sbastian mengangkat Sean dan membuatnya tidur di pangkuannya


" Maaf nona , anda itu berasal dari mana"


Sbastian mencoba berbasa-basi


" Saya asli Indonesia tuan , kelahiran saya di sana "


Clara menjawab


" Ah... Maaf apa anda mempunyai darah campuran em... Maksud saya blasteran "


Sbastian bertanya dengan hati-hati


" Iya , ibu saya asli Indonesia namun ayah saya asli Swiss "


Clara menunjukkan foto orangtuanya


" Apakah ibu anda orang Jawa asli "


Sbastian bertanya karena melihat foto pernikahan orang tua Clara yang memakai pakaian adat Jawa


" Ya , ibuku asli Jawa , saya lahir di Jawa , dan menempuh pendidikan di Jawa lalu kuliah di sini , rencana setelah saya lulus kuliah , saya akan kembali ke Indonesia , karena ayah dan ibu masih ada di sana "


Clara menjelaskan dengan gamblang


" Saya juga asli Jawa , saya kemari karena pekerjaan dan karena tidak bisa meninggalkan Sean , jadi saya membawanya "


Sbastian melepaskan sepatu Sean dan meletakkannya di bawah


" Tuan , jika kita terus seperti ini , maka kita akan sampai rumah pada malam hari "


Asisten John menyela pembicaraan


" Ada apa memangnya di depan , kalau berhenti seperti ini , aku yakin , kita akan melewatkan makan malam , dan istrimu akan mengamuk "


Sbastian terkekeh kecil


" Astaga tuan , emang tuan nanti ngak di marahin sama ayah , aku yakin tuan akan di marahi lebih dari pada diri saya sendiri hehehehe "


Asisten John membalas ejekan Sbastian dengan tawa jahatnya


DI BALIK LAYAR


Sbastian : "Thor anak ku tidur nih , ambilin selimut dong"


Author :" anda siapa"


Sbastian : " astaga Thor kasian nih "


Author : "ya ya "


Clara : " eh asisten John , kamu ngak pulang"


Asisten John : " ngak , kan dia masih di sini"


Clara : "hehehe babu "


Asisten John : " liat aja , nanti siapa yang jadi babu "


Clara : "babay gue mau pulang "


Author :" nih selimutnya "


Sbastian : "makasih Thor "


Author : " kalian tidur di rumah aja , azza udah ku kabarin "

__ADS_1


Asisten John : " woow kamu hebat Thor "


Author : "hm.."


__ADS_2