
" Papa bisnya kapan sampai ke rumah "
Sean melihat ke luar jendela
" Bentar lagi dek , kamu duduk aja yang tenang "
Sbastian mendudukkan Sean yang sedari tadi berkali-kali berdiri dan melihat keluar
" Iya ya , perasaan bisnya ngak jalan dari tadi"
Clara melihat keluar bis
" Masa sih "
Sbastian bergumam dan menoleh ke arah kaca bis lalu melihat ke depan
" Adek mau liat "
Sean berdiri
" Sini "
Clara memberikan tempat untuk Sean mengintip keluar
" Woah keren , mobilnya ngak ada yang jalan"
Sean menempelkan wajahnya di kaca bis
" Gitu kok keren , astaga anakku "
Sbastian menggelengkan kepalanya
" Kenapa ngak ada yang jalan pa "
Sean menoleh kepada Sbastian ingin meminta penjelasan
" Lho papa kemana "
Sean celingukan mencari papanya lalu menoleh ke bangku belakang
" Paman , papa kemana "
Sean bertanya kepada asisten John yang sedang sibuk mendengar musik
" Lho , ya ndak tau kok tanya saya "
Asisten John menjawab asal , namun jawaban asal asisten John itu membuat Sean kesal
" Paman kok ngeselin sih , paman mirip siapa sih , kayak ayahnya paman , enggak , kayak ibunya paman , juga enggak "
Sean melihat asisten John dengan sinis
" Ya ndak tau , kok tanya saya , tanya sama bapak saya dong "
Asisten John menaik turunkan alisnya
" Serah "
Sean memutar matanya malas lalu kembali duduk dengan tenang
Tak lama Sbastian kembali duduk di samping Sean
" Papa dari mana "
Tanpa menunggu lama Sbastian di berikan pertanyaan oleh Sean
" Dari pak supir "
Sbastian menjawab
" Ngapain pa "
Sean bertanya lagi
" Beli es krim "
Sbastian menjawab asal
" Sean mau , mana es krim nya "
Sean mengulurkan tangannya
" Nih "
Sbastian memberikan hp dengan potret es krim berbagai warna
" Sean kira es krim beneran "
Sean memanyunkan bibirnya namun tidak mengembalikan hp milik Sbastian
" Sean anak nya ceria ya "
Clara mengelus rambut Sean
__ADS_1
" Ntahlah , biasanya jika bertemu orang asing dia akan memberikan tatapan maut miliknya , seolah itu mengatakan , jangan sentuh aku , saya heran , kenapa saat bertemu anda Sean menjadi ramah "
Sbastian melihat Sean heran
" Benarkah "
Clara tidak percaya akan ucapan Sbastian
" Bahkan saya pernah mempertemukan Sean dengan kakeknya , dia tidak seramah ini , pernah juga bertemu sahabat saya , namun dia tidak bisa di kategorikan ramah meskipun saat di tanya dia menjawab dengan senyuman , saya terkadang juga heran dengan anak saya "
Sbastian menatap Sean aneh
" Terkadang anak anak akan ramah kepada seseorang yang di sukainya atau yang sudah di kenalnya lama "
Clara memberikan sedikit penjelasan
" Kata dokter anak saya , juga seperti itu , namun Sean sendiri bukan tipe anak yang cepat akrab dan mudah di rayu , bahkan saya sendiri suka kewalahan dengan sikapnya , terkadang nakal , terkadang jahil , terkadang dia berbicara seperti orang dewasa , bahkan terkadang seperti anak kecil pada umumnya yang manja , jika di dalam rumah Sean akan menjadi kucing kecil yang manis , namun jika di luar rumah , astaga....dia akan menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk di dekati "
Sbastian berhenti berbicara sejenak lalu membenarkan kerah kemeja Sean setelah itu sbastian menyambung kembali kalimatnya
" Sean tidak sekali dua kali menasehati saya untuk berbagai hal yang membuat saya terpuruk , bahkan memberikan ide-ide bagus untuk usaha saya dan membuat usaha saya berkembang pesat , jika anak-anak umumnya di usia seperti Sean ini , mereka sedang gemar membaca buku bergambar , bermain dengan teman sebaya dan hal-hal yang dilakukan anak kecil lainnya , namun Sean tidak , dia lebih memilih membaca buku tebal milik saya , permainannya di rumah itu berkutat dengan alat dapur , benar benar alat dapur , bahkan dia akan membuat sebuah bangunan unik dari kubus yang saya belikan , bahkan dia pernah membuat menara Eiffel mini dari tanah liat di belakang rumah "
Sbastian menjelaskan dengan nada yang sulit di keluarkan
" Apa sebaiknya tidak di periksakan IQ milik Sean "
Clara memberikan pendapat
" Sudah pernah dua kali , namun IQ miliknya normal seperti anak-anak pada umumnya , itu yang membuat saya heran , bahkan pernah saya bawa ke dokter psikologi anak , dan hasilnya mengatakan bahwa Sean normal , saya bahkan kesulitan jika kepandaian Sean keluar "
Sbastian mengerenyitkan keningnya seolah dirinya sendiri tidak percaya dengan yang dikatakannya
" Ini papa lagi di suapi bunda apa "
Sean memotong percakapan Sbastian dan menyodorkan sebuah foto di hp Sbastian
" Oh.... Itu lagi makan martabak isi ayam "
Sbastian menunjukkan foto yang lain
" Sean mau , buatin juga ya papa "
Sean menatap Sbastian dengan tatapan berharap
" Iya iya , papa cari resepnya di buku bunda nanti "
Sbastian mengiyakan permintaan Sean
" Ok pa , kira-kira masakan papa seenak masakan bunda ngak ya "
" Emang pernah ngerasain masakan bunda "
Sbastian bertanya dengan heran
" Enggak pernah hehehehe "
Sean menggeleng pelan
" Dasar "
Sbastian mencubit pipi Sean gemas
" Kenapa ngak langsung minta di buatkan bunda "
Clara bertanya dengan heran
" Bunda udah tidur sama kakak "
Sean menjawab dengan polos
" Tidur ?? "
Clara heran dengan jawaban Sean
" Iya , kata kakek orang yang tidur itu berarti sakitnya sudah hilang , Sean bersyukur bunda sudah tidur , jadi... Bunda ngak ngerasain sakit lagi , dan lagi , di sana bunda di temani kakak "
Sean mengatakannya dengan nada polos tidak berdosa
" Maaf kakak ngak bermaksud "
Clara berbicara dengan nada tidak enak karena membahas sebuah kenangan
" Ngak papa , kalau Sean pengen ketemu bunda , Sean bisa , tiap malem saat Sean tidur , Sean di ajak mainan sama kakak , terus habis itu cerita cerita sama bunda , Sean juga sering di ingetin bunda , buat jaga bayi besar kata bunda "
Sean berkata dengan nada sedikit berbisik
" Kamu tau , yang bayi di sini itu kamu "
Sbastian mencubit pipi Sean
" Adududuh sakit tau pa "
Sean mengelus pipi gembulnya
__ADS_1
" Papa tuh jahat tau kak "
Sean kembali berbisik dengan Clara
" Hah "
Clara mengangkat satu alisnya pertanda dirinya tidak faham
" Iya , kalo Sean nakal , semua coklat Sean di ambil sama papa , nakal kan "
Sean mengatakan itu dengan penuh keyakinan
" Papa denger lho "
Sbastian sedikit menyindir
" Hehehe sayang papa "
Sean memeluk pinggang Sbastian dan mendongakkan kepalanya melihat Sbastian, sambil di lengkapi bumbu senyum khas miliknya
" Pa Sean ngantuk "
Sean mengembalikan hp milik Sbastian dan meletakkan kepalanya di pangkuan Sbastian
" Tumben udah ngantuk "
Sbastian mengangkat Sean dan membuatnya tidur di pangkuannya
" Maaf nona , anda itu berasal dari mana"
Sbastian mencoba berbasa-basi
" Saya asli Indonesia tuan , kelahiran saya di sana "
Clara menjawab
" Ah... Maaf apa anda mempunyai darah campuran em... Maksud saya blasteran "
Sbastian bertanya dengan hati-hati
" Iya , ibu saya asli Indonesia namun ayah saya asli Swiss "
Clara menunjukkan foto orangtuanya
" Apakah ibu anda orang Jawa asli "
Sbastian bertanya karena melihat foto pernikahan orang tua Clara yang memakai pakaian adat Jawa
" Ya , ibuku asli Jawa , saya lahir di Jawa , dan menempuh pendidikan di Jawa lalu kuliah di sini , rencana setelah saya lulus kuliah , saya akan kembali ke Indonesia , karena ayah dan ibu masih ada di sana "
Clara menjelaskan dengan gamblang
" Saya juga asli Jawa , saya kemari karena pekerjaan dan karena tidak bisa meninggalkan Sean , jadi saya membawanya "
Sbastian melepaskan sepatu Sean dan meletakkannya di bawah
" Tuan , jika kita terus seperti ini , maka kita akan sampai rumah pada malam hari "
Asisten John menyela pembicaraan
" Ada apa memangnya di depan , kalau berhenti seperti ini , aku yakin , kita akan melewatkan makan malam , dan istrimu akan mengamuk "
Sbastian terkekeh kecil
" Astaga tuan , emang tuan nanti ngak di marahin sama ayah , aku yakin tuan akan di marahi lebih dari pada diri saya sendiri hehehehe "
Asisten John membalas ejekan Sbastian dengan tawa jahatnya
DI BALIK LAYAR
Sbastian : "Thor anak ku tidur nih , ambilin selimut dong"
Author :" anda siapa"
Sbastian : " astaga Thor kasian nih "
Author : "ya ya "
Clara : " eh asisten John , kamu ngak pulang"
Asisten John : " ngak , kan dia masih di sini"
Clara : "hehehe babu "
Asisten John : " liat aja , nanti siapa yang jadi babu "
Clara : "babay gue mau pulang "
Author :" nih selimutnya "
Sbastian : "makasih Thor "
Author : " kalian tidur di rumah aja , azza udah ku kabarin "
__ADS_1
Asisten John : " woow kamu hebat Thor "
Author : "hm.."