Aku Pangeran

Aku Pangeran
#56 ( cake manis )


__ADS_3

" Jadi... Kalian mau makan apa "


Sbastian membuka buku menu yang berisikan kue manis kesukaan anak-anak


" Wah.. ada menu baru , boleh ngak Sean beli dua "


Sean memohon


" Nanti gigimu tambah berlubang "


Sbastian membalik buku menu


" Boleh lah papa , nanti menu barunya mau Sean kasih ke bintang "


Sean memberikan alasan logis


" Tadi bintang bilang kalau minum susu cuma kalau ayahnya punya uang , pasti bintang ngak pernah makan cake yang biasanya Sean makan , Sean mau kasih bintang pa.. boleh ya "


Sean menunjukkan wajah memohon


" Iya kak , bintang bilang ayahnya sering di pukuli jika tidak bisa membayar uang kost , ibu kost nya galak , lili ngak tega denger cerita bintang , baju bintang juga ngak kayak baju lili , apa boleh lili beliin bintang baju "


Liona menambah kalimat Sean


" Baiklah- baiklah , begini ya sayangnya papa , papa bukannya ngak boleh , tapi sesuatu yang mereka dapat sendiri dengan usaha sendiri akan menjadi lebih manis daripada di beri oleh orang lain "


Sbastian membolak balik buku menu lalu memberikannya kepada clara


" Kalau gitu biar mereka bisa ada rumah nanti kakak kasih kerjaan ke ayahnya bintang , biar mereka punya rumah "


Liona memiliki ide yang mungkin wow untuknya


" Tadi papa mampir ke kost an lili dan , ehem barang-barang mereka sudah di bakar oleh ibu kost nya , dan juga mereka sudah tidak boleh tinggal di rumah lamanya , jadi... Papa mau kasih rumah pribadi Sean yang ada di dekat kantor papa untuk mereka , jika Sean memperbolehkan , karena itu sudah atas nama Sean "


Sbastian melirik Sean


" Boleh boleh , Sean mah ngak butuh juga rumah itu , kan Sean masih kecil , papa kasih aja rumah itu ke bintang , lagian rumahnya juga masih bagus , nanti sepulang sekolah Sean bisa main ke rumah bintang "


Sean membayangkan setiap hari bermain dengan bintang di teras rumah minimalis miliknya


" Katanya mau mondok "


Sbastian menaikkan alisnya


" Mondok "


Semua orang terkejut karena kalimat Sbastian


" Oh iya , ya udah deh , kalau Sean abis mondok aja "


Sean meletakkan kepala beruang saljunya di atas meja


" Unyu... "


Lion menatap Sean gemas namun dengan muka biasa-biasa saja padahal hatinya berkata lain


" Kalau lili mau kasih baju , lili bisa beli pakek uang lili sendiri "


Sbastian memanggil pelayan cake resto


" Beneran kak "


Lili memastikan


" Iya "


Sbastian mengangguk


" Lili punya uang apa enggak "


Sbastian bertanya


" Enggak , lili ngak pernah minta uang jajan , kata mama lili ngak perlu beli yang aneh-aneh karena lili sakit "


Lili menunduk lesu


" Mulai sekarang , lili akan dapat uang saku sama dengan kak Leon , jadi lili bisa tabung uang saku lili "


Sbastian mengelus kepala liona dan tersenyum


" Beneran kak "


Liona memastikan


" Iya bener "


Sbastian mengangguk


" Ngak bohong kan kak "


Liona memastikan kembali


" Ngak "


Sbastian tersenyum


" Makasih "


Liona tersenyum lalu berdiri dari duduknya dan memeluk Sbastian


" Sama - sama "


Sbastian mencium pipi liona


" Kalian jadi pesan apa "


Sbastian menatap mereka satu persatu


" Sean mau cake cokelat sama cake barunya "


Sean bangkit dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi


" Lili mau cake rasa matcha "


Lili menyahuti dan kembali duduk


" Leon sama kayak adek "


Leon mengelus kepala liona


" Enak ya "


Sean menatap lili , liona dan Sbastian bergantian


" Apanya "


Sbastian menaikkan alisnya


" Papa punya saudara , sedangkan Sean sendiri "


Sean memonyongkan bibirnya


" Kakak lion punya adek cewek , bisa di peluk-peluk , bisa di pakein baju princess , bisa di iket-iket rambutnya , bisa di manja "


Sean menatap lion dan Sbastian iri


" Lha Sean , saudara laki-laki buat di ajak maen aja ngak ada "


Sean meletakkan wajahnya di atas meja


" Sean "


Suara lion memanggil


" Apa "


Sean mengangkat wajahnya dan melihat lion mengelus kepala lili dan Sbastian yang tersenyum mengejek sambil memencet mencet pipi lili


" Heumm... Papaaaaa Sean pengen punya adek cewek "


Sean menatap papanya jengkel


" Ngak ada mamanya "


Sbastian berhenti mengejek


" Kan ada Bu guru Clara "


Sean menunjuk Clara


" Sembarangan "


Sbastian menutup kupluk beruang Sean hingga menutup wajahnya


" Bleee "


Sean menjulurkan lidahnya

__ADS_1


" Pokoknya mau adek , mau adek , mau adek "


Sean menghentakkan kakinya kesal di atas kursi


" Ngak "


Sbastian menolak


" Papa jahat "


Sean menatap Sbastian tajam


" Biar bleee "


Sbastian menjulurkan lidahnya


" Sudah-sudah , kak Clara udah nentuin tuh mau pesen apa , sini Sean sama kak lili "


Lili melerai mereka dan memanggil Sean untuk mendekat


" Bleee "


Sean turun dari kursi dan mendekati liona


" Dia kakak ku "


Sean memeluk kaki liona


" Dia adikku "


Sbastian dan lion berbicara secara bersamaan


" Ngak peduli "


Sean di angkat ke atas pangkuan liona oleh liona sendiri


" Lho , Sean di sini "


Clara menoel pipi Sean


" Hahaha "


Sean tersenyum sinis


" Mama "


Sean berteriak hingga suaranya menggema di seluruh ruangan dan membuat semua orang menoleh


" Mama , Sean mau adek , adek cewek ya , tapi kata papa adek cewek itu merepotkan "


Sean sengaja membuat suaranya terdengar oleh semua orang


" Hah "


Clara memiringkan kepalanya


" Iya ma , papa tuh nakal , katanya ngak mau kasih Sean adek , padahal Sean mau adek "


Sean menjulurkan tangannya kepada Clara dan Clara memangku Sean


" Adek "


Clara masih tidak mengerti


" Iya ma , papa tuh jahat "


Sean memeluk leher Clara yang tertutup hijab


" Wah.. padahal mau adek , kalau aku yang di minta sama anakku ya mau mau aja "


Bisik salah satu pembeli


" Kalau aku mah bisa enak enak sama istri dan anak ngak bakal mengganggu "


Pelanggan lainnya mulai saling berbisik-bisik dan tertawa


" Sudah sudah "


Clara melerai


" Aku mau pesan jus alpukat saja "


Clara menyelesaikan pertengkaran ayah dan anak yang tidak akan pernah selesai


" Dan juga bungkuskan cake cokelat dan cake barunya "


" Cake rasa melon satu "


Sbastian meletakkan tangannya di atas meja


" Apa tidak ada yang lain tuan "


Pelayan menawari


" Mau jus buah naga "


Sean mengangkat tangan


" Lili dan kak Leon mau jus jeruk "


Liona mewakili Leon


" Baiklah , cake cokelat , cake bintang , cake matcha 2 , dua jus alpukat , jus buah naga , dua jus jeruk "


Pelayan mengulangi pesanan


" Pesanan untuk di bawa pulang , cake cokelat dan cake bintang "


Pelayan membalikkan halaman dan mengulangi pesanan untuk di bawa pulang


" Cukup , itu saja "


Sbastian mengangguk


" Baik tuan "


Pelayan membungkuk dan pergi membawa banyak pesanan


" Sebaiknya kau cerita , bagaimana kau sampai di sini dengan cepat "


Sbastian menyilangkan kakinya dan menatap Clara datar


" Hei , ayolah aku mengejarmu dengan jet pribadi milikku , apa itu tidak cukup "


Clara menaikkan kedua alisnya


" Aku benci dengan pria itu , apa apaan ayah dan ibu menjodohkan aku lagi "


Clara mendengus kesal


" Memangnya kenapa "


Sbastian menaikkan alisnya


" Aku benci dengan pria yang memandang harta , apalagi dia itu sombong , suka ngaku-ngaku , sok nganteng , padahal enggak , aku benci sama cowok kek gitu "


Clara mengeluarkan suara hatinya


" Terus mama mau yang kayak gimana "


Sean bertanya


" Mau yang kayak Sean aja ngak papa "


Clara mencium pipi gembul Sean


" Papa Sean ada , kan Sean sama kayak papa "


Sean menunjuk Sbastian


" Uhuk uhuk "


Sbastian tersedak ludah sendiri


" Papa keselek cinta ya "


Sean menggoda


" Ini apa , masih bayi cinta cinta , dah Clara jangan di ladeni , dasar anak nakal "


Sbastian mengejek Sean


" Aku nakal , papa juga nakal , kan papa yang ngajarin aku "


Sean menjawab dengan enteng


" Papa dulu seumuran kamu ngak nakal ya "

__ADS_1


Sbastian mengelak


" Ngak per-ca-ya "


Sean menggelengkan kepalanya tiga kali sambil mengeja kalimat percaya


" Ya udah , papa tuh dulu anak baik , pendiam , ngak suka nyusahin orang "


Sbastian membanggakan diri


" Papamu memang seperti itu dulu "


Suara seorang pria menyahuti


" Kakek "


Sean tersenyum senang


" Mau gendong kek "


Sean menjulurkan tangannya kepada pak Sam yang baru saja tiba


" Sini cucu kakek "


Sean di gendong oleh pak Sam


" Ayah mencari kami "


Sbastian mencoba mengalihkan pembicaraan


" Kalian ngak pulang pulang , ayah cari ke sini , kan ini tempat kesukaan cucu kakek "


Kakek duduk di samping Clara , di bangku Sean yang tadi


" Kakek , apa papa dulu nakal "


Sean bertanya


" Ndak , papamu dulu anak yang ramah , pendiam , baik "


Pak Sam menghitung Kalimatnya


" Tuh denger , papa dulu anak baik , ngak kayak kamu "


Sbastian membanggakan diri


" Iya , saking baiknya papamu, ada tikus mati aja di tangisin , katanya kasian , pasti belom makan "


Pak Sam tersenyum melirik Sbastian


" Ayah , jangan di ceritakan "


Sbastian melarang pak Sam


" Terus terus "


Sean mendengar dengan serius


Flashback on


" Ayah , Tian mau minta gula satu sendok "


Sbastian kecil menengadahkan tangannya kepada pak Sam yang saat itu sedang ada di dapur dengan para maid


" Buat apa "


Pak Sam jongkok di depan Sbastian kecil


" Mau kasih makan semut , kasian semutnya pasti laper "


Sbastian menjawab pak Sam


" Baiklah "


Pak Sam meletakkan satu sendok teh gula di atas piring kecil


" Makasih ayah "


Sbastian kecil menerima piring yang berisikan gula lalu berlari keluar dari dapur


Tidak lama setelah itu


" Pak Sam , tuan muda menangis di taman "


Salah satu penjaga berlari memanggil pak Sam


" Lho kenapa "


Pak Sam yang saat itu sedang mengambilkan makan siang Sbastian , langsung meletakkan piringnya dan berlari mengikuti penjaga tersebut


" Tian "


Pak Sam melihat Sbastian kecil


" Ayah "


Sbastian kecil menoleh dan terlihat wajahnya yang penuh dengan lumpur dan air matanya membersihkan garis lumpur di pipinya


" Kenapa nak , kamu kotor sekali "


Pak Sam mengeluarkan sapu tangan dan meminta salah satu maid menyalakan keran air


" kenapa "


Pak Sam membasuh wajah Sbastian dan maid yang lain mengambil handuk untuk Sbastian


" Itu ayah hiks.. semutnya yang mau Tian kasih makan , di injek sama paman ini "


Tian mengadukan salah satu penjaga yang terlihat merasa bersalah kepada Sbastian


" Sa.. saya minta maaf tuan muda , saya tidak sengaja , mata paman agak rabun , jadi ngak ngeliat kalau ada semut "


Penjaga itu kalang kabut mencari alasan


" Tapi kenapa tadi paman injek lagi "


Sbastian kecil menyalahkan paman penjaga


" Nak.. kamu sudah belajar siklus alam kan"


Pak Sam bertanya


" Sudah "


Sbastian mengangguk


" Makhluk alam memang akan ada saatnya untuk mati seperti semut ini , jadi Tian ngak perlu nangis gini "


Pak Sam mengusap tangan penuh lumpur Sbastian


" Tapi , kasian semutnya yah "


Tian menatap semut semut dengan iba


Flashback off


" Jadi papa nangis cuma gara-gara semut mati "


Sean menatap papanya yang menurutnya sangat cengeng


" Ayah "


Sbastian merajuk


" Memang begitu kan "


Pak Sam mengangkat bahunya


" Papa cengeng "


Sean menatap Sbastian sinis


" Yah.. kali ini papa kalah "


Sbastian mengalah


" Hehehe "


Sean tertawa senang


" Selesaikan makan cakenya , setelah itu kita pulang , kalian sudah melewatkan waktu ashar "


Pak Sam menatap mereka tajam


" Iya kakek "


Semuanya menuruti apa kata pak Sam

__ADS_1


__ADS_2