
" Jadi... Kalian mau makan apa "
Sbastian membuka buku menu yang berisikan kue manis kesukaan anak-anak
" Wah.. ada menu baru , boleh ngak Sean beli dua "
Sean memohon
" Nanti gigimu tambah berlubang "
Sbastian membalik buku menu
" Boleh lah papa , nanti menu barunya mau Sean kasih ke bintang "
Sean memberikan alasan logis
" Tadi bintang bilang kalau minum susu cuma kalau ayahnya punya uang , pasti bintang ngak pernah makan cake yang biasanya Sean makan , Sean mau kasih bintang pa.. boleh ya "
Sean menunjukkan wajah memohon
" Iya kak , bintang bilang ayahnya sering di pukuli jika tidak bisa membayar uang kost , ibu kost nya galak , lili ngak tega denger cerita bintang , baju bintang juga ngak kayak baju lili , apa boleh lili beliin bintang baju "
Liona menambah kalimat Sean
" Baiklah- baiklah , begini ya sayangnya papa , papa bukannya ngak boleh , tapi sesuatu yang mereka dapat sendiri dengan usaha sendiri akan menjadi lebih manis daripada di beri oleh orang lain "
Sbastian membolak balik buku menu lalu memberikannya kepada clara
" Kalau gitu biar mereka bisa ada rumah nanti kakak kasih kerjaan ke ayahnya bintang , biar mereka punya rumah "
Liona memiliki ide yang mungkin wow untuknya
" Tadi papa mampir ke kost an lili dan , ehem barang-barang mereka sudah di bakar oleh ibu kost nya , dan juga mereka sudah tidak boleh tinggal di rumah lamanya , jadi... Papa mau kasih rumah pribadi Sean yang ada di dekat kantor papa untuk mereka , jika Sean memperbolehkan , karena itu sudah atas nama Sean "
Sbastian melirik Sean
" Boleh boleh , Sean mah ngak butuh juga rumah itu , kan Sean masih kecil , papa kasih aja rumah itu ke bintang , lagian rumahnya juga masih bagus , nanti sepulang sekolah Sean bisa main ke rumah bintang "
Sean membayangkan setiap hari bermain dengan bintang di teras rumah minimalis miliknya
" Katanya mau mondok "
Sbastian menaikkan alisnya
" Mondok "
Semua orang terkejut karena kalimat Sbastian
" Oh iya , ya udah deh , kalau Sean abis mondok aja "
Sean meletakkan kepala beruang saljunya di atas meja
" Unyu... "
Lion menatap Sean gemas namun dengan muka biasa-biasa saja padahal hatinya berkata lain
" Kalau lili mau kasih baju , lili bisa beli pakek uang lili sendiri "
Sbastian memanggil pelayan cake resto
" Beneran kak "
Lili memastikan
" Iya "
Sbastian mengangguk
" Lili punya uang apa enggak "
Sbastian bertanya
" Enggak , lili ngak pernah minta uang jajan , kata mama lili ngak perlu beli yang aneh-aneh karena lili sakit "
Lili menunduk lesu
" Mulai sekarang , lili akan dapat uang saku sama dengan kak Leon , jadi lili bisa tabung uang saku lili "
Sbastian mengelus kepala liona dan tersenyum
" Beneran kak "
Liona memastikan
" Iya bener "
Sbastian mengangguk
" Ngak bohong kan kak "
Liona memastikan kembali
" Ngak "
Sbastian tersenyum
" Makasih "
Liona tersenyum lalu berdiri dari duduknya dan memeluk Sbastian
" Sama - sama "
Sbastian mencium pipi liona
" Kalian jadi pesan apa "
Sbastian menatap mereka satu persatu
" Sean mau cake cokelat sama cake barunya "
Sean bangkit dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi
" Lili mau cake rasa matcha "
Lili menyahuti dan kembali duduk
" Leon sama kayak adek "
Leon mengelus kepala liona
" Enak ya "
Sean menatap lili , liona dan Sbastian bergantian
" Apanya "
Sbastian menaikkan alisnya
" Papa punya saudara , sedangkan Sean sendiri "
Sean memonyongkan bibirnya
" Kakak lion punya adek cewek , bisa di peluk-peluk , bisa di pakein baju princess , bisa di iket-iket rambutnya , bisa di manja "
Sean menatap lion dan Sbastian iri
" Lha Sean , saudara laki-laki buat di ajak maen aja ngak ada "
Sean meletakkan wajahnya di atas meja
" Sean "
Suara lion memanggil
" Apa "
Sean mengangkat wajahnya dan melihat lion mengelus kepala lili dan Sbastian yang tersenyum mengejek sambil memencet mencet pipi lili
" Heumm... Papaaaaa Sean pengen punya adek cewek "
Sean menatap papanya jengkel
" Ngak ada mamanya "
Sbastian berhenti mengejek
" Kan ada Bu guru Clara "
Sean menunjuk Clara
" Sembarangan "
Sbastian menutup kupluk beruang Sean hingga menutup wajahnya
" Bleee "
Sean menjulurkan lidahnya
__ADS_1
" Pokoknya mau adek , mau adek , mau adek "
Sean menghentakkan kakinya kesal di atas kursi
" Ngak "
Sbastian menolak
" Papa jahat "
Sean menatap Sbastian tajam
" Biar bleee "
Sbastian menjulurkan lidahnya
" Sudah-sudah , kak Clara udah nentuin tuh mau pesen apa , sini Sean sama kak lili "
Lili melerai mereka dan memanggil Sean untuk mendekat
" Bleee "
Sean turun dari kursi dan mendekati liona
" Dia kakak ku "
Sean memeluk kaki liona
" Dia adikku "
Sbastian dan lion berbicara secara bersamaan
" Ngak peduli "
Sean di angkat ke atas pangkuan liona oleh liona sendiri
" Lho , Sean di sini "
Clara menoel pipi Sean
" Hahaha "
Sean tersenyum sinis
" Mama "
Sean berteriak hingga suaranya menggema di seluruh ruangan dan membuat semua orang menoleh
" Mama , Sean mau adek , adek cewek ya , tapi kata papa adek cewek itu merepotkan "
Sean sengaja membuat suaranya terdengar oleh semua orang
" Hah "
Clara memiringkan kepalanya
" Iya ma , papa tuh nakal , katanya ngak mau kasih Sean adek , padahal Sean mau adek "
Sean menjulurkan tangannya kepada Clara dan Clara memangku Sean
" Adek "
Clara masih tidak mengerti
" Iya ma , papa tuh jahat "
Sean memeluk leher Clara yang tertutup hijab
" Wah.. padahal mau adek , kalau aku yang di minta sama anakku ya mau mau aja "
Bisik salah satu pembeli
" Kalau aku mah bisa enak enak sama istri dan anak ngak bakal mengganggu "
Pelanggan lainnya mulai saling berbisik-bisik dan tertawa
" Sudah sudah "
Clara melerai
" Aku mau pesan jus alpukat saja "
Clara menyelesaikan pertengkaran ayah dan anak yang tidak akan pernah selesai
" Dan juga bungkuskan cake cokelat dan cake barunya "
" Cake rasa melon satu "
Sbastian meletakkan tangannya di atas meja
" Apa tidak ada yang lain tuan "
Pelayan menawari
" Mau jus buah naga "
Sean mengangkat tangan
" Lili dan kak Leon mau jus jeruk "
Liona mewakili Leon
" Baiklah , cake cokelat , cake bintang , cake matcha 2 , dua jus alpukat , jus buah naga , dua jus jeruk "
Pelayan mengulangi pesanan
" Pesanan untuk di bawa pulang , cake cokelat dan cake bintang "
Pelayan membalikkan halaman dan mengulangi pesanan untuk di bawa pulang
" Cukup , itu saja "
Sbastian mengangguk
" Baik tuan "
Pelayan membungkuk dan pergi membawa banyak pesanan
" Sebaiknya kau cerita , bagaimana kau sampai di sini dengan cepat "
Sbastian menyilangkan kakinya dan menatap Clara datar
" Hei , ayolah aku mengejarmu dengan jet pribadi milikku , apa itu tidak cukup "
Clara menaikkan kedua alisnya
" Aku benci dengan pria itu , apa apaan ayah dan ibu menjodohkan aku lagi "
Clara mendengus kesal
" Memangnya kenapa "
Sbastian menaikkan alisnya
" Aku benci dengan pria yang memandang harta , apalagi dia itu sombong , suka ngaku-ngaku , sok nganteng , padahal enggak , aku benci sama cowok kek gitu "
Clara mengeluarkan suara hatinya
" Terus mama mau yang kayak gimana "
Sean bertanya
" Mau yang kayak Sean aja ngak papa "
Clara mencium pipi gembul Sean
" Papa Sean ada , kan Sean sama kayak papa "
Sean menunjuk Sbastian
" Uhuk uhuk "
Sbastian tersedak ludah sendiri
" Papa keselek cinta ya "
Sean menggoda
" Ini apa , masih bayi cinta cinta , dah Clara jangan di ladeni , dasar anak nakal "
Sbastian mengejek Sean
" Aku nakal , papa juga nakal , kan papa yang ngajarin aku "
Sean menjawab dengan enteng
" Papa dulu seumuran kamu ngak nakal ya "
__ADS_1
Sbastian mengelak
" Ngak per-ca-ya "
Sean menggelengkan kepalanya tiga kali sambil mengeja kalimat percaya
" Ya udah , papa tuh dulu anak baik , pendiam , ngak suka nyusahin orang "
Sbastian membanggakan diri
" Papamu memang seperti itu dulu "
Suara seorang pria menyahuti
" Kakek "
Sean tersenyum senang
" Mau gendong kek "
Sean menjulurkan tangannya kepada pak Sam yang baru saja tiba
" Sini cucu kakek "
Sean di gendong oleh pak Sam
" Ayah mencari kami "
Sbastian mencoba mengalihkan pembicaraan
" Kalian ngak pulang pulang , ayah cari ke sini , kan ini tempat kesukaan cucu kakek "
Kakek duduk di samping Clara , di bangku Sean yang tadi
" Kakek , apa papa dulu nakal "
Sean bertanya
" Ndak , papamu dulu anak yang ramah , pendiam , baik "
Pak Sam menghitung Kalimatnya
" Tuh denger , papa dulu anak baik , ngak kayak kamu "
Sbastian membanggakan diri
" Iya , saking baiknya papamu, ada tikus mati aja di tangisin , katanya kasian , pasti belom makan "
Pak Sam tersenyum melirik Sbastian
" Ayah , jangan di ceritakan "
Sbastian melarang pak Sam
" Terus terus "
Sean mendengar dengan serius
Flashback on
" Ayah , Tian mau minta gula satu sendok "
Sbastian kecil menengadahkan tangannya kepada pak Sam yang saat itu sedang ada di dapur dengan para maid
" Buat apa "
Pak Sam jongkok di depan Sbastian kecil
" Mau kasih makan semut , kasian semutnya pasti laper "
Sbastian menjawab pak Sam
" Baiklah "
Pak Sam meletakkan satu sendok teh gula di atas piring kecil
" Makasih ayah "
Sbastian kecil menerima piring yang berisikan gula lalu berlari keluar dari dapur
Tidak lama setelah itu
" Pak Sam , tuan muda menangis di taman "
Salah satu penjaga berlari memanggil pak Sam
" Lho kenapa "
Pak Sam yang saat itu sedang mengambilkan makan siang Sbastian , langsung meletakkan piringnya dan berlari mengikuti penjaga tersebut
" Tian "
Pak Sam melihat Sbastian kecil
" Ayah "
Sbastian kecil menoleh dan terlihat wajahnya yang penuh dengan lumpur dan air matanya membersihkan garis lumpur di pipinya
" Kenapa nak , kamu kotor sekali "
Pak Sam mengeluarkan sapu tangan dan meminta salah satu maid menyalakan keran air
" kenapa "
Pak Sam membasuh wajah Sbastian dan maid yang lain mengambil handuk untuk Sbastian
" Itu ayah hiks.. semutnya yang mau Tian kasih makan , di injek sama paman ini "
Tian mengadukan salah satu penjaga yang terlihat merasa bersalah kepada Sbastian
" Sa.. saya minta maaf tuan muda , saya tidak sengaja , mata paman agak rabun , jadi ngak ngeliat kalau ada semut "
Penjaga itu kalang kabut mencari alasan
" Tapi kenapa tadi paman injek lagi "
Sbastian kecil menyalahkan paman penjaga
" Nak.. kamu sudah belajar siklus alam kan"
Pak Sam bertanya
" Sudah "
Sbastian mengangguk
" Makhluk alam memang akan ada saatnya untuk mati seperti semut ini , jadi Tian ngak perlu nangis gini "
Pak Sam mengusap tangan penuh lumpur Sbastian
" Tapi , kasian semutnya yah "
Tian menatap semut semut dengan iba
Flashback off
" Jadi papa nangis cuma gara-gara semut mati "
Sean menatap papanya yang menurutnya sangat cengeng
" Ayah "
Sbastian merajuk
" Memang begitu kan "
Pak Sam mengangkat bahunya
" Papa cengeng "
Sean menatap Sbastian sinis
" Yah.. kali ini papa kalah "
Sbastian mengalah
" Hehehe "
Sean tertawa senang
" Selesaikan makan cakenya , setelah itu kita pulang , kalian sudah melewatkan waktu ashar "
Pak Sam menatap mereka tajam
" Iya kakek "
Semuanya menuruti apa kata pak Sam
__ADS_1