Aku Pangeran

Aku Pangeran
#57 ( tragedi )


__ADS_3

Setelah menghabiskan banyak cake , Sean dan lainnya , mengajak pak Sam untuk bertemu dengan bintang dan keluarganya di rumah sakit


* Tok tok tok


Sbastian mengetuk pintu


" Silahkan masuk "


Setelah mendapat jawaban dari dalam , Sbastian masuk dan melihat bintang juga ibunya sedang tidur di atas bankar yang sama


" Tuan "


Rudi bangkit dari duduknya dan terkejut melihat Sbastian masuk


" Sssttttt "


Sean dan liona mengkode semua orang agar tidak bersuara keras


" Kalau begitu kami langsung pulang saja , ini ada makanan untuk bintang "


Sbastian memberikan satu kotak cake dan beberapa Makanan yang lain


" Rudi "


Pak Sam mengenali Rudi


" Paman Sam "


Rudi terkejut dengan keberadaan pak Sam di sana


" Ayah kenal dengan Rudi "


Sbastian bertanya


" Dia anak laki-laki yang menyelamatkanmu dulu di sungai "


Pak Sam menepuk punggung Sbastian


" Tunggu , jadi dia yang ayah ceritakan "


Sbastian terkejut


" Kau sudah sebesar ini nak , terimakasih untuk waktu itu , aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa jika tidak ada kamu waktu itu "


Pak Sam menepuk pundak Rudi


" Aku sudah lama meminta Sbastian mencarimu , tapi kau tidak kunjung di temukan , tapi sekarang kau di sini "


Pak Sam mengelus kepala Rudi


" Kalau begitu aku berterimakasih atas pertolonganmu waktu itu , kau benar-benar membawa jasa yang tidak ternilai , jika kau tidak ada waktu itu , aku tidak yakin akan bisa hidup sampai sekarang "


Sbastian memeluk Rudi


" Saya waktu itu hanya kebetulan lewat saja , tidak bermaksud yang lain "


Rudi menjawab


" Bagaimana ayah mengenalinya dengan cepat , padahal aku tidak sama sekali "


Sbastian menatap pak Sam penasaran


" Aku masih ingat , daun telinga Rudi robek dan berlubang membentuk lingkaran , itu karena dulu sobek oleh ranting pohon karena menyelamatkanmu dulu "


Pak Sam menunjuk telinga Rudi di bagian bawah atau di tempat ku di sebut cecek telinga , telinga bagian bawah yang biasanya di lubangi dan di letakkan anting di sana


" ingatan ayah sangat kuat "


Sbastian berbicara dengan bangga


" Ada apa ya "


Liona berbisik


" Ntah "


Lion menjawab


" Kenapa sih "


Sean yang penasaran persoalan apa yang di bicarakan , Sean melangkahkan kakinya menuju celana panjang Sbastian


" Papa "


Sean menarik celana panjang Sbastian


" Kenapa "


Sbastian menoleh ke bawah


" Sini "


Sean memanggil Sbastian untuk ke mendekat padanya


" Ada apa "


Sean berbisik


" Kemarilah "


Sbastian menggendong Sean


" Sebaiknya kita duduk "


Rudi duduk dan di ikuti yang lain


" Dulu papa pernah hampir tenggelam di sungai "


Sbastian memulai ceritanya


Flashback on


" Ayo ayah , tangkap Tian "


Sbastian kecil Yang kala itu berumur tiga tahun sedang berpiknik bersama pak Sam dan bi Aini juga beberapa pengawal yang senantiasa tidak pernah lepas dari Sbastian


Sbastian kecil bersama pak Sam berlarian mengelilingi Padang rumput yang tidak jauh dengan sawah yang terlihat hijau dan luas , Sbastian kecil berlari dengan semangat , namun pak Sam sudah terlihat lelah dan tidak bertenaga untuk mengimbangi permainan Sbastian kecil


" Sudah Tian , ayah lelah "


Pak Sam duduk di dekat Bi Aini yang baru selesai menggelar karpet di bantu beberapa pengawal di bawah pohon yang rindang , bi Aini yang melihat pak Sam kelelahan memberikan pak Sam sebotol air mineral


" Ayah ngak seru "


Sbastian kecil duduk dengan jengkel di samping pak Sam , tidak lama manik mata Sbastian kecil tertuju ke arah parit di sekitar sawah


" Itu apa bi "


Sbastian kecil menunjuk sebuah aliran air di dekat sawah


" Itu ada yang menyebutnya parit , ada juga yang menyebutnya kali , itu biasanya di gunakan sebagai pengairan sawah"


Bi Aini menjelaskan


" Bukannya pengairan sawah itu dari waduk ya Bi "


Sbastian kecil memperhatikan


" Ada yang dari waduk , dari sungai , ada yang langsung dari sumber mata airnya langsung lho "


Bi Aini membawa Sbastian kecil ke dalam pangkuannya


" Terus bi , kalau Tian liat anak-anak yang mandi di sungai itu , memang sungai atau parit seperti itu "


Sbastian menatap bi Aini penasaran


" Kamu lihat itu "


Bi Aini berdiri lalu menggendong Sbastian dan menunjuk sebuah sungai yang letaknya agak jauh dari tempat mereka piknik


" Lihat "


Sbastian mengangguk


" Itu sungai , dan di balik sungai itu ada sumber mata air yang letaknya tepat di tengah-tengah kebun karet yang kamu lihat"


Bi Aini mendeskripsikan tempat sumber air di dekat sana


" Sumber air itu langsung dari tanah ya "


Sbastian bertanya lagi


" Kamu ingat siklus air yang bibi ajarkan "


Bi Aini kembali duduk


" Ingat "


Sbastian mengangguk


" Ketika air hujan turun ke bumi , sebagian air yang tidak terserap oleh akar pohon , akan di serap oleh tanah dan terkumpul di suatu tempat di dalam tanah , setelah itu , si air ada yang langsung melewati tanah dan sampai di sungai , ada juga yang keluar melalui tanah langsung keluar sampai di atas tanah , Kamu tau , kalau air di tempat itu terlalu banyak , maka secara otomatis akan keluar, ntah itu melalui celah bebatuan ataupun melalui celah pepohonan dan ada juga yang langsung melalui tanah "


Bi Aini menjelaskan dengan sabar


" Ngak paham "


Sbastian menggelengkan kepalanya


" Hahaha , seperti ini "


Bi Aini mengambil botol minum pak Sam yang airnya tinggal setengah


" Kenapa di lubangi "


Sbastian heran saat bi Aini melubangi bagian tengah botol dengan jarum dari kerudungnya


" Apa kamu tau apa ini "


Bi Aini memiringkan botol dan meletakkan lubang yang sudah di buat di bagian atas


" Ini angin "

__ADS_1


Sbastian menunjuk bagian atas botol yang tidak terisi air


" Ini apa "


Bi Aini menunjuk bagian bawah


" Ini air "


Sbastian menatap bi Aini heran


" Bayangkan ini lubang di bawah tanah "


Bi Aini menutup mata Sbastian sebentar


" Sudah "


Bi Aini membuka mata Sbastian kecil


" Sudah , ini air hujan yang turun dari langit dan masuk ke dalam lubang di dalam tanah"


Sbastian kecil menunjuk udara dan seolah-olah jari kecilnya adalah air yang masuk ke dalam botol


" Pandai "


Bi Aini mengusap kepala Sbastian kecil


" Jika airnya penuh , apa yang terjadi "


Bi Aini bertanya


" Jika airnya penuh , airnya akan keluar lewat lubang yang bibi buat di atas "


Sbastian memencet airnya dan keluar sedikit dari lubang sekecil jarum di bagian atas botol


" Jadi.... "


Bi Aini membiarkan Sbastian kecil mengerti sendiri


" Jadi... Oh oh , Tian ngerti "


Sbastian mengambil botol minum yang di bawa bi Aini dan berdiri


" Kalau airnya penuh dan udah sampai di lubangnya , airnya akan keluar dan jadi sumber "


Sbastian memencet botolnya dan keluarlah air dari lubang yang bi Aini buat dan airnya mancur seperti air mancur kecil di atas botol


" Anak pandai "


Bi Aini tersenyum


" Yehehehe air hujan , air hujan "


Sbastian bermain air di sekitar dan menyemprotkan air ke arah para pengawal yang berdiri tegak di sekitarnya


" Tuan muda "


Para pengawal yang sudah sering bermain bersama Sbastian kecil , mengerti apa yang Sbastian kecil inginkan


" Paman akan mandi dua kali "


Sbastian menyirami para pengawal dan mulai bermain kejar-kejaran bersama para pengawal


" Jika tuan muda bisa membasahi kami "


Para pengawal berlari dan membiarkan Sbastian kecil mengejar mereka


" Lhoooo.. Airnya habis "


Sbastian kecil memonyongkan bibirnya dengan ekspresi kecewa


" Ayo ngisi air di sungai "


Sbastian terpikirkan sungai dan hendak membawa para pengawal mengisi air di sungai


" Jangan tuan muda , di sana berbahaya "


Salah satu pengawal melarang


" Ayolah paman , ayo , ayo "


Sbastian kecil menarik narik pengawal favoritnya yang selalu bersamanya


" Pergilah , tapi jaga tuan muda , hati hati di sana "


Pak Sam memperbolehkan


" Makasih ayah "


Sbastian kecil menarik satu pengawal tersebut dan penjaga yang lain mengikuti mereka


" Biar saya gendong tuan muda "


Salah satu pengawal menggendong Sbastian kecil dan membawanya ke arah sungai


Sbastian dan lima pengawal menuju sungai sesuai permintaan tuan muda mereka


" Apakah tidak apa-apa paman "


Bi Aini bertanya


Pak Sam berdiri dan berjalan menuju sungai yang terlihat lumayan jauh


Setelah beberapa saat , pak Sam dan bi Aini sampai di sungai dan melihat para pengawal berlarian kesana kemari


" Ada apa ini "


Pak Sam bertanya


" Tuan muda tergelincir ke dalam sungai "


Salah satu pengawal memberitahu


" Kenapa kalian diam saja , cepat cari "


Pak Sam mulai panik


" Sudah paman , tiga pengawal sudah saya minta untuk masuk ke dalam sungai dan saya juga dia menunggu di darat "


Pengawal itu memberitahu


" Pergi ke hulu , cari di sana , cepat "


Pak Sam melepas pakaiannya dan ikut masuk ke dalam air


" Aini , ikut ke hulu , mungkin tuan muda di sana "


Pak Sam memerintahkan dan bi Aini cepat cepat berlari ke hulu sungai


" SBASTIAN , SBASTIAN "


Pak Sam , bi Aini dan Lina pengawal mencari Sbastian kecil di sepanjang jalur sungai


Setelah beberapa saat , mereka semua berkumpul di satu tempat


" Anakku "


Pak Sam meneteskan air mata dan mulai kedinginan


" Pakai ini paman "


Salah satu pengawal yang tidak ikut masuk ke dalam air memberikan jasnya


" Tenanglah paman , kami akan mencari lagi "


Para pengawal mencari lagi di seluruh bagian sungai


Hingga setelah beberapa saat , muncullah seorang anak kecil yang berlari menuju pak Sam dan bi Aini


" Permisi paman "


Anak kecil itu memanggil


" Kenapa nak "


Bi Aini menanggapi


" Apa paman mengenal sepatu ini "


Anak itu menunjukkan sepasang sepatu


" Sepatu Sbastian "


Pak Sam langsung mengambil sepatu yang di bawa anak itu


" Dimana dia "


Pak Sam memegang pundak anak kecil itu


" Di sana paman , ayo ikut aku "


Anak kecil itu menarik pak Sam masuk ke dalam hutan karet yang arahnya menyamping dari sungai


" Kenapa ke sini "


Pak Sam mulai was was


" Apa itu anak paman "


mungkin karena anak kecil itu tau bahwa pak Sam ragu dengannya , dari kejauhan anak laki-laki itu menunjuk seorang anak kecil yang sedang duduk dengan memuntahkan banyak air


" Sbastian "


Pak Sam berlari menuju Sbastian kecil yang duduk di sangga oleh anak laki-laki yang menyelamatkannya


" Sbastian "


Pak Sam duduk di depan Sbastian dan langsung memberikan jaket pengawal yang di berikan kepadanya tadi


" Ayah , maafkan Tian , Tian nakal "


Sbastian kecil memeluk pak Sam yang sudah terlihat lemas

__ADS_1


" Ayah sangat menghawatirkanmu , ayah takut terjadi sesuatu yang tidak ayah inginkan "


Pak Sam memeluk dan mengelus punggung Sbastian


" Kalian yang menyelamatkan putraku "


Pak Sam bertanya kepada lima anak kecil yang berada di sana


" Tidak , dia yang menyelamatkan putra paman , kami hanya menunggu di tepi "


Anak yang membawanya kesana menjawab


" Telingamu berdarah "


Pak Sam melihat darah di telinga anak kecil yang membantu Sbastian


" Biar aku obati "


Bi Aini menyobek ujung kain pakaiannya dan mengusap darah anak itu


" Bagaimana bisa sampai di sini , ini cukup jauh dari sungai "


Pak Sam menoleh ke sekitar dan terdapat danau kecil di sana


" Di depan sungai ada celah sempit untuk air lewat , jadi badan putra paman yang kecil ini bisa melewatinya dan agak tersangkut , saya di sini sedang mencari ranting kayu bersama mereka dan saya melihat putra tuan , jadi saya berfikir akan berbahaya jika terlalu menelan banyak air , dan saya membawanya kemari "


Anak kecil itu menjelaskan


" Kita harus segera membawanya ke rumah sakit "


Pak Sam berbicara dengan bi Aini


" Saya sudah melakukan CPR , jadi tidak perlu khawatir "


Anak kecil itu menjelaskan


" CPR "


Pak Sam terkejut


" Itu yang sudah di ajarkan dokter desa kepada saya , jika ada yang tenggelam , maka harus langsung melakukan CPR jika sudah ada di darat dan tidak boleh telat "


Anak kecil itu tersenyum


" Kamu benar , pengetahuanmu sangat luas nak "


Bi Aini tersenyum


" Kamu sangat berani "


Pak Sam mengelus kepala anak itu


" Aku di ajarkan oleh ayahku untuk tidak pernah takut apapun "


Anak itu menjawab dengan berani


" Siapa namamu nak "


Pak Sam bertanya


" Nama saya Rudi "


Anak itu menjawab


" Baiklah , telingamu berlubang , tapi darahnya akan segera berhenti "


Bi Aini selesai mengobati luka anak itu dengan daun-daun khusus di sekitarnya , karena mereka ada di dekat sungai , bi Aini tidak sulit menemukan daun Bidara dan daun binahong untuk mengobati Rudi


" Tidak apa bibi , ini tidak sakit "


Rudi kecil tersenyum


" Pasti terkena ranting di dalam air "


Teman Rudi melihat telinga Rudi yang penuh dengan dedaunan yang sudah di haluskan


" Iya... Ngak tau "


Rudi tersenyum


Flashback off


" Oh.... Jadi papa dulu sering buat jantung kakek Dag Dig Dug Der "


Sean terkekeh kecil


" Itu dulu "


Sbastian mengelus kepala Sean


" Bukannya sekarang sama aja "


Sean menatap Sbastian sinis


" Terserah "


Sbastian memberikan Sean kepada liona yang duduk tidak jauh darinya


" Sbastian "


Pak Sam memanggil


" Berikan pekerjaan dan tempat untuk Rudi , ini sebagai balas Budi bertahun-tahun yang lalu , ayah bahkan tidak ingat kapan itu terjadi "


Pak Sam menyambung kalimatnya


" Iya ayah , Sbastian sudah atur semuanya "


Sbastian mengangguk


" Ti..tidak perlu paman , itu berlebihan "


Rudi tergagap


" Lagi pula saya tidak pantas untuk ini semua "


Rudi merendah


" Semua makhluk seperti kalian itu sama di mata Allah , yah... Kakek baru ingat sudah waktu sholat magrib , dan kalian berdua , singa kecil , ayo mengaji , kakek sendiri yang akan mengajarkan "


Pak Sam berdiri dan di ikuti yang lain


" Nah.. Rudi , jangan tinggalkan sholatmu , paman tau siapa kamu dan apa peranmu di dunia , kamu harus mempertahankan gelar itu sebaik mungkin , anggap saja itu semua untuk orang tuamu , terdahulumu dan keturunanmu nanti "


Pak Sam memberikan nasihat yang mungkin hanya Rudi yang mengerti


" Saya mengerti paman , saya akan melaksanakan semua dengan ikhlas , setidaknya saya mencoba "


Rudi mengangguk patuh


" Kalau begitu kami pulang dulu "


Pak Sam menepuk pundak Rudi dan Rudi menyalami dan mencium punggung tangan pak Sam


" Ayo pulang "


Sbastian bersalaman dengan Rudi dan di ikuti yang lain


" Saatnya mengaji monster kecil "


Sbastian menggedong Sean dan membawanya keluar kamar rawat di ikuti Clara dan kedua singa kembar


" Terimakasih untuk semuanya "


Rudi mengantar mereka semua sampai di pintu keluar


" Mas "


Terdengar suara istri Rudi memanggil


" Mawar "


Rudi menghampiri istrinya


" Apa yang sakit , apa yang tidak enak "


Rudi mengelus kening istrinya


" Mas.. "


Istri Rudi mulai mengeluarkan air matanya


" Kamu masih memikirkannya "


Rudi tersenyum


" Kamu pasti sembuh , percayalah , aku akan meminta "


Rudi mengecup kening istrinya lama


" Mas... Aku takut "


Istri Rudi memeluk putri kecilnya


" Jangan takut , mas yakin akan semuanya , kamu akan sembuh , percayalah , mas akan meminta "


Rudi mengelus kepala putri kecilnya


" Tapi mas , jika aku.. "


Kalimat mawar berhenti saat manik matanya berpapasan dengan manik mata suaminya


" Jika terjadi sesuatu padamu , aku berjanji akan selalu ada untuk putri kecil kita , itu kan yang kamu mau "


Rudi menatap istrinya sayu


" Mas selalu mengerti isi hatiku "


Mawar tersenyum manis


" Muach aku sangat menyayangimu "

__ADS_1


Rudi mencium kening mawar dan berlalu menuju kamar mandi


__ADS_2