Aku Pangeran

Aku Pangeran
#114 ( kamar )


__ADS_3

" Pangeran benar tuanku , bagaimana jika nyonya sakit nanti "


North membenarkan pangeran paon


" Baiklah kita akan tinggal semalam "


Terdengar Sean mengiyakan dengan sedikit berat hati


" Mari tuan "


Terdengar suara kelegaan dari nada bicara paon


" Hm... "


Sean mengganti posisi Fleur dengan menggendongnya seperti bayi koala


" Mantel anda tuan "


Terdengar suara key mendekat


" Pakaikan ke Fleur "


Terdengar suara Sean sangat lembut dan hangat


Dan Fleur merasakan sebuah selimut yang menyelimutinya dan tangan hangat yang mengusap tengkuk hingga punggungnya


" Tidurlah cintaku , aku akan bersamamu hingga kau membuka mata nanti "


Hembusan nafas hangat Sean menyentuh pundak Fleur


Terasa Fleur di letakkan di tempat yang lembut dan empuk , lalu setelah itu Fleur tidak merasakan seorangpun di sampingnya


Fleur perlahan membuka matanya dengan sedikit paksaan dan tidak terlihat siapapun di sampingnya


" Tidurlah , malam masih panjang "


Tiba-tiba terasa sentuhan hangat menyentuh kening Fleur


" Selamat malam cantik "


Terasa sebuah beban berat mendarat di atas perutnya


Sebuah sentuhan lembut dan hangat perlahan menggantikan bantal yang dia pakai dengan sesuatu yang hangat dan.. ntahlah


" Sayang "


Sebuah bisikan membangunkan Fleur yang terlelap di dalam kehangatan


" Hai "


Terlihat senyum yang sangat di sukai oleh Fleur


" Suamiku "


Fleur menggumam


" Hm... Bangunlah ini sudah siang hari , ayo kita makan dan aku akan membawamu jalan-jalan sampai kau bosan"


Sean mendudukkan dirinya


" Jangan pergi "


Fleur tiba-tiba menitikkan air mata dan memeluk Sean erat-erat


" Aku di sini "


Sean membawa Fleur ke dalam pangkuannya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur


" Apa yang terjadi tadi malam "


Fleur bertanya


" Apa ya "


Sean mengusap air mata Fleur


" Kenapa aku ngak boleh liat "


Fleur menatap Sean penasaran


" Hm... Sebaiknya kamu jangan lihat hahaha"


Sean terkekeh kecil


" Hm... "


Fleur memonyongkan bibirnya


" Kamu mau lihat "


Sean menawari


" Emang boleh "


Fleur memastikan


" Boleh dong "


Sean mengangguk


" Ngak ah... Fleur mau bobok aja "


Fleur merebahkan kepalanya di atas dada bidang Sean


Makin hari Sean makin kembali bugar di dalam perawatan Fleur , meski Fleur tidak tau yang di alami oleh Sean , tapi Fleur tau bahwa Sean sedang sakit dan butuh perhatian lebih


Karena itu Fleur selalu mencurahkan perhatian dan seluruh waktunya untuk selalu ada di dekat Sean setiap saat


" Suamiku juga tidur , nanti kita bangun sama-sama "


Fleur menutup mata Sean


" Iya sayang "


*Cup


Sean mengecup dan memeluk erat tubuh mungil Fleur


Hening.....


" Yang mulia "


Terlihat Alula datang dengan pakaian perang dari besi dengan sebuah pedang yang bertengger di pinggangnya


" Hm... "


Yang mulia raja Tian hanya berdehem pendek


" Anda menangis lagi "


Alula memberikan sebuah sapu tangan


" Kau tau kan dua kehidupanku meninggalkanku "


Raja Tian menyeka air matanya dengan sapu tangan yang di berikan oleh Alula


" Yang mulia... Yang lahir pasti akan mati , anda tau kan "


Alula memperhatikan wajah sembab yang mulia raja Tian


" Hm... Tidak bisakah aku bertemu mereka kembali "


Yang mulia raja Tian menunduk


" Saya memiliki cara , tapi cukup berbahaya"


Alula membuat raja Tian menoleh


" Tapi anda harus mengorbankan setengah nyawa anda untuk satu nyawa "


Alula melanjutkan kalimatnya


" Benarkah "


Raja Tian terkejut


" Jika anda siap , maka dia akan lahir kembali dan kemungkinan kecil anda bisa kembali lahir dan melihat kehidupan yang anda inginkan "


Alula membuat senyum di bibir pucat raja Tian kembali bersemi


" Apa yang harus aku lakukan , ayo lakukan sekarang Alula "


Raja Tian berdiri dari duduknya


" Anda yakin "


Alula ikut berdiri


" Ayo Alula ayo "


Raja Tian berlari menarik tangan Alula menuju tenda pengungsian


" Ayahanda "


Seorang anak laki-laki berbadan kecil namun tinggi memanggil raja Tian


" Kumpulkan semua saudaramu "


Raja Tian memerintahkan


" Baik ayahanda "


Anak laki-laki itu berlari meninggalkan raja Tian


Raja Tian menarik tangan Alula menuju sebuah kumpulan tenda yang di gunakan untuk pelarian dari istana


" Salam yang mulia "


Para prajurit penjaga pintu masuk membungkuk hormat


" Kumpulan semua panglima di tendaku"


Raja Tian memerintahkan


" Baik yang mulia "


Prajurit itu membungkuk dan meninggalkan raja Tian


Raja Tian menarik Alula menuju tenda yang paling besar di tengah-tengah tenda-tenda kecil


Setelah masuk ke dalam tenda , raja Tian duduk di kursi yang telah di siapkan


Setelah itu banyak orang masuk termasuk lima remaja dan satu anak balita juga tiga anak-anak kecil yang langsung menghampiri raja Tian


" Kemarilah pangeranku sayang "


Raja Tian melambaikan tangannya kepada anak-anak di sana


" Kita mau pindah lagi "


Seorang anak yang berumur tujuh tahun bertanya kepada raja Tian


" Iya , kita akan langsung menuju tempat tujuan "


Raja Tian mengangguk


Raja Tian mendudukkan ke tiga anak kecil di atas kursi dan satu balita di tempat tidur yang sudah di siapkan


" Bagaimana kabar dari paman "


Raja Tian bertanya


" Paman sudah sampai di perbatasan kerajaan , dan sebentar lagi akan sampai kemari , kira-kira dalam waktu dua hari "


Seorang pria dengan penampilan yang acak-acakan menjawab


" Kalian semua bersiaplah , kita akan pindah , setelah ini kabarkan kepada rakyat kita akan kembali berjalan "


Raja Tian memerintahkan kepada para perdana menteri


" Siap yang mulia "


Para perdana Mentri memberi hormat


" Kalian memang panglima perang , tapi sekarang aku mempercayakan keselamatan dan kesejahteraan rakyat kepada kalian "


Raja Tian menyentuh pundak salah satu dari mereka


" Saya siap yang mulia raja "


Semua orang di sana memberikan hormat dan beranjak pergi


" Ada apa gerangan ayahanda mengumpulkan kami semua di sini "


Salam satu pangeran tertua bertanya


" Putraku yang pertama dan yang tertua "


Raja Tian menghampiri pangeran pertama dan putranya yang paling di percayainya


" Iya ayah "


Pangeran pertama menyahuti


" Berjanji lah pada ayah , kamu akan menjaga saudara saudaramu "


Raja Tian menggenggam tangan putra pertamanya


" Apa maksud ayah , masih ada ayah di sini dan aku tidak mau berjanji "


Pangeran pertama menepis tangan raja Tian


" Berjanjilah fils aine Rudeus , berjanjilah pada ayah bahwa kau akan menjaga semua adikmu "


Raja Tian menyebut nama lengkap putranya


" Tidak... Ayah ada di sini... Kenapa aku harus berjanji seakan ayah akan meninggalkan aku "


Aine menitikkan air mata


" Aku berjanji ayah , putra keduamu Fils deuxième Rudeus akan menjaga kakak dan semua adik "


Dengan gagah pangeran kedua deux mengucap janji kepada raja Tian


" Bagus... Putra kedua Rudeus memang sangat tegas "


Raja Tian menepuk pundak putra keduanya dengan bangga


" KAU MEMANGNYA TAU APA YANG DI KATAKAN AYAH "


Pangeran Aine mencengkram kuat kerah pangeran Deux


" Tau.. karena itu aku berjanji dan tidak akan membuat ayah khawatir "

__ADS_1


Pangeran Deux menunjukkan deretan gigi putihnya


*Grep


Pangeran Aine langsung memeluk raja Tian


" Jangan tinggalkan kami ayah "


Pangeran Aine berbisik dengan suara yang berat


" Ayah harus pergi "


Raja Tian membalas pelukan putra pertamanya


" Dengar ayah Aine , kau itu putra pertama karena itu kau ayah namakan Aine , ayah berharap kau bisa memimpin rakyat dan semua orang menuju tempat yang aman"


Raja Tian menatap putranya


" Aku mohon ayah , adik masih kecil "


Pangeran lainnya mendekat


" Berjanjilah pada ayah Fils troisième Rudeus , kau harus menjamin kebahagiaan saudara kecilmu , kau harus menjadi ayah dan ibu baginya "


Raja tidak melepaskan putra pertamanya dan memegang pundak putra ketiganya


" Apa ayah akan benar-benar pergi "


Pangeran Trois melirihkan suaranya


" Ini juga demi kalian "


Raja Tian mengangguk


" Baik ayah , aku pangeran ketiga Trois berjanji akan menjadi ibu dan ayah untuk adik kecil "


Pangeran Trois berjanji dengan suara yang lirih


" Jangan menangis , kau tidak malu di lihat adikmu "


Raja Tian mengusap air mata pangeran Aine


" Kemarilah Fils quatrième Rudeus "


Raja Tian melambaikan tangan


" Saya ayahanda "


Pangeran ke empat mendekat


" Atri kamu itu putra ayah yang paling tenang , bisakah kamu pastikan saudaramu makan dan tinggal dengan benar "


Raja Tian mengusap kepala pangeran Atri


" Tapi itu tugas kak Trois kan ayah "


Pangeran Atri tidak mengerti


" Kak Trois itu bertugas untuk menjadi ayah dan ibu yang penuh kasih sayang , dan kamu ayah minta untuk menjadi orang yang bertanggung jawab atas tempat tidur dan makanan "


Raja Tian menjelaskan


" Ayahanda , Atri berjanji akan melaksanakan tugas ayahanda dengan segenap jiwa raga "


Pangeran Atri berjanji dengan kalimat yang lembut


" Bagus "


Raja Tian tersenyum lega


" Dan Fils cinquieme Rudeus kemarilah "


Raja Tian memanggil


" Saya ayahanda "


Pangeran ke lima mendekat


" Kamu tau kan kalau adikmu itu suka mainan , suka membaca , suka melukis.. "


Kalimat raja Tian terpuruk


" Hahaha saya mengerti ayahanda , saya pastikan mereka belajar dengan benar "


Pangeran cinqu terkekeh kecil


" Ayah bangga pada kalian semua "


Raja Tian memeluk semua putranya dengan perasaan yang berat untuk meninggalkan mereka


" Anak-anak ayo tidur dengan ayah "


Raja Tian melepaskan putranya dan membawa semua putra kecilnya menuju kamar tidurnya sendiri


Esok hari saat matahari sudah di tengah kepala , semua tenda sudah rapih di kemas, rakyat dan prajurit sudah berjalan terlebih dahulu atas perintah raja Tian


" Ayah akan datang kan nanti "


Putra ke tujuh raja Tian bertanya


" Dengarkan ayah eta , jaga saudaramu untuk ayah , kau mengerti "


Raja Tian memeluk dan mencium putra ke tujuhnya


" Eta mengerti ayah , tapi ayah nanti kembali kan "


Pangeran eta bertanya


" Ayah tidak berjanji "


Raja Tian menggeleng


" Ayo eta "


Pangeran cinqu membawa eta menjauh setelah memeluk raja Tian untuk memberikan ruang yang lainnya


" Ayah "


Pangeran ke enam sixième mendekat


" Putraku , kamu ayah andalkan.. mengerti kan "


Sbastian memeluk pangeran ixi


" Rahasia kita kan ayah "


Pangeran ixi memastikan


" Kau tau hm.. "


Sbastian memeluknya kembali dan memberikannya kepada pangeran pertama


" Ayah ayah aku juga "


Pangeran huitième masuk ke dalam pelukan raja Tian


" Aku sayang ayah lho "


Pangeran tie mencium pipi raja Tian dan memeluknya erat


" Kamu tau tugasmu "


Raja Tian bertanya


Pangeran tie memastikan


" Pintar sekali hahaha "


Raja Tian tertawa di ikuti putranya yang lain


" Kemarilah putra kecilku "


Raja Tian memberikan pangeran tie kepada putra ke empatnya dan mengambil putranya yang paling kecil


" Putraku neuvième , kakak kakakmu sangat menyayangimu , ayah menyayangi kalian semua "


Raja Tian mengeluarkan beberapa kalung liontin dengan mata kristal berwarna biru dan liontin yang berbeda


" Ini untuk kalian semua "


Raja Tian membagikan liontin untuk putranya


" Itu akan terus mengikat kalian dengan ayah , ayah juga memakai yang sama dengan pangeran kecil , jaga adikmu ini , dia yang masih paling butuh kasih sayang "


Raja Tian memberikan putra kecilnya kepada pangeran ke tiga


" Pergilah anakku "


Raja Tian memerintahkan


" Kami akan merindukanmu ayah "


Semua pangeran memeluk raja Tian dan pergi menaiki kuda mereka sambil menggendong para pengeran kecil


Para pengeran pergi meninggalkan raja Tian seorang diri di sana


Setelah sehari semalam raja Tian menghabiskan waktu , datanglah seseorang berbadan monster yang haus akan darah dan kekuasaan


" Aku menemukanmu adikku "


Suara menggelegar yang menakutkan menyambut


" Hahaha paman , aku sudah menunggumu sangat lama "


Raja Tian berdiri dan mengambil pedangnya


" Anda siap tuan "


Sebuah suara memasuki pendengaran raja Tian


" Lakukan Alula "


Raja Tian mulai menyerang


Pertarungan sengit berlangsung antara raja Tian dan pamannya yang berusaha menghabisi darah murni kerajaan


Selama pertarungan berlangsung , raja Tian merasakan kehidupannya tersedot keluar hingga batasnya


* Jlep


Tusukan terakhir dari kedua manusia di sana berhasil mengenai jantung masing-masing dari mereka


" Kau kalah "


Raja Tian terjatuh ke tanah


" Aku mati , tapi aku akan kembali "


Kalimat terakhir dari paman membuat raja Tian bahagia


*Cring


Muncul cahaya di atas raja Tian , dan keluarlah dua kuncup bunga dengan warna yang berbeda


" Istriku... Putriku... Aku menunggu untuk bertemu kalian "


Raja Tian menerima dua kuncup bunga di telapak tangannya yang berlumuran darah


*Cup..cup


Kedua kuncup bunga di hadapannya di cium dengan lembut olehnya dan perlahan menghilang di udara bersamaan dengan hilangnya kesadaran raja Tian


" Suamiku "


Terdengar suara Fleur memanggil


" Hah "


Sean terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin dan wajah yang pucat


" Suamiku kenapa , mimpi buruk apa "


Fleur mengusap keringat dingin Sean


" Aku bermimpi indah "


Sean tersenyum dan memeluk erat Fleur


" Jangan membuatku takut "


Fleur mengusap punggung Sean


" Maaf "


Sean berbisik


" Sudah lama aku tidak mimpi seperti tadi , bagaimana ya keadaan putraku setelah ku tinggal "


Sean membatin


" Suamiku melamun lagi "


Fleur mengusap pipi Sean


" Maaf cantik , kamu mau makan "


Sean menawari


" Ayo deh "


Fleur mengajak Sean untuk makan


" Wow banyak nya "


Fleur terkejut melihat meja penuh makanan


" Makanlah sayang "


Sean duduk di ikuti Fleur


Suara batin Sean


" Sejak kecil , aku selalu merawat kuncup putri dan istriku hingga aku koma waktu itu , saat koma aku menyaksikan kelahiran kuncup istriku dengan indah "


Lamunan Sean terhenti karena suapan dari Fleur


" Kuncup istriku lahir dengan sangat cantik dan aku menamainya Fleur , aku menitipkannya di desa Tiger agar dia di rawat "


Sean tersenyum saat Fleur menyuapinya kembali


" Dua tahun di dunia manusia sama saja dengan empat puluh tahun di desa Tiger , makanya sebelum aku pulang , aku memutuskan untuk menikahi Fleur "


Sean terkekeh kecil melihat Fleur

__ADS_1


" Saat aku sadar , aku di sambut dengan kuncup kecil putriku yang cantik , Aniel tersenyum padaku saat aku sadar , karena itu aku sangat sayang dengannya "


Sean menerima kembali suapan dari Fleur


" Rasanya berbunga-bunga hatiku saat ini , Fleur ku sayang dan Aniel , dua kehidupan yang aku tunggu-tunggu saat aku mati , terimakasih Tuhanku "


Sean benar-benar bersyukur


Hati Sean end


" Kenapa suamiku cengar-cengir dari tadi "


Fleur kembali menyuapi Sean


" Kenapa ya "


Sean meletakkan dagunya di atas pundak Fleur


" Geli suamiku "


Fleur menyisihkan kepala Fleur


" Hm... Enak nih "


Sean membuka gaun tidur Fleur yang dia pakaian tadi malam


" Pelan-pelan jangan kasar "


Fleur mengingatkan


" Iya sayang "


*Jlep


Langsung saja Sean memasukkan tiang listriknya tanpa aba-aba


Fleur hari ini sangat aneh , meminta Sean bermain kasar dan tanpa henti di berbagai tempat , Sean memang sedikit merasa aneh namun itu di tepisnya karena dia merasakan kenikmatan surga dunia


" Lebih cepat suamiku "


Fleur meminta


" Iya sayang "


Sean melajukan miliknya lebih cepat hingga decakan becek dari sana terdengar lebih jelas


Setiap lima kali perjalanan , Fleur akan meminta agar berganti tempat , setelah di meja rias , Fleur meminta melakukannya di kamar mandi hingga matahari tenggelam


" Kamu lelah "


Sean bertanya


" Enggak , aku mau lagi... Lagi "


Fleur terlihat kelelahan namun dia tidak mau berhenti


" Di tempat tidur saja sayang "


Sean membawa Fleur ke atas tempat tidur


Sean membuat Fleur langsung tepar setelah permainan yang benar-benar kasar seperti permintaan Fleur


" Makasih sayang , aku puas sekali "


Sean memeluk Fleur dari belakang dan menancapkan miliknya meski Fleur sudah tertidur


Setelah malam berganti pagi , Sean sudah rapih dengan pakaian yang sudah di siapkan


" Bagaimana suamiku , cantik tidak "


Fleur keluar dari kamar ganti memakai gaun se panjang mata kaki dengan rambut panjangnya yang di ikat setengah


" Tunggu "


Sean mengeluarkan sesuatu dari dalam portal kecilnya


" Apa itu "


Fleur penasaran


" Tadaaaaa "


Sean mengeluarkan sebuah hiasan rambut yang terbuat dari berlian merah yang indah


" Indahnya "


Fleur menatap perhiasan yang di bawa Sean dengan berbinar


" Akan aku pakaikan "


Sean membawa Fleur menuju meja rias


Sean melepas ikatan rambut Fleur dan melilitkan rantai hiasan Fleur di rambut Fleur dengan teliti


*Jeng..jeng


Hiasan rambut Fleur menjadi seperti mahkota tipis yang mengelilingi kepalanya dengan mata berlian merah yang tergantung di dahi Fleur


" Tambah cantik deh hahaha "


Sean terkekeh senang


" Suamiku dapat dari mana ini "


Fleur menyentuh mata berlian yang dia pakai


" Rahasia "


Sean memeluk Fleur dari belakang


" Aku tidak menyangka kau masih sangat menyukai perhiasan yang aku hadiahkan dulu hahaha "


Batin Sean merasa senang


" Apa kamu suka "


Sean berbisik


" Suka sekali "


Fleur tersenyum senang


" Baguslah jika kamu suka "


Sean menelusupkan wajahnya di pundak Fleur


*Tok...tok...tok


Suara ketukan pintu mengusik Sean


" Sebentar "


Dengan dongkol Sean berjalan menuju pintu kamar dan membukanya


" Maaf tuan , bukankah kita sudah punya janji untuk menuju ruang potret hari ini "


Pangeran paon dan beberapa orang lainnya terlihat takut


" Baiklah , sayangku ayo kita pergi "


Sean menghampiri Fleur


" Kemana "


Fleur bertanya


" Kita jalan-jalan "


Sean membawa Fleur keluar dari kamar


" Mari tuan "


Pangeran paon menunjukkan jalan


Pangeran paon membawa Sean menuju ruangan yang cukup jauh dari kamar yang Sean tempati


" Kamu lelah "


Sean bertanya


" Tidak "


Fleur menggeleng


" Istriku aneh , biasanya dia akan lelah jika berjalan terlalu jauh "


Sean menggumam


" Kenapa "


Fleur menoleh kepada Sean


" Ngak ada "


Sean menggeleng


".... Fils aine Rudeus seorang raja yang sangat di hormati "


Nama yang di sebutkan pangeran paon membuat Sean menoleh


" Coba ulangi "


Sean meminta


" Ini adalah tongkat peninggalan dari raja Fils Aine Rudeus seorang raja yang di hormati "


Pangeran paon mengulangi kalimatnya


" Kau punya potretnya "


Sean bertanya


" Itu "


Pangeran paon menunjuk sebuah lukisan


" Sejarah bilang bahwa tahta yang kosong itu untuk mendiang raja Hantian Rudeus yang mengorbankan nyawa demi menyelamatkan rakyat agar terlepas dari genggaman paman raja Tian "


Pangeran paon menjelaskan


" Aku tau "


Sean mendekati lukisan sembilan putranya


" Apa lagi yang dikatakan sejarah "


Sean mulai mendengarkan dengan seksama


" Setelah pelarian tanpa raja Tian , di tuliskan bahwa pengeran terkecil terus menangis setiap pagi hari dan akan tenang ketika matahari mulai meninggi"


Pangeran paon menghentikan ceritanya


" Lalu kenapa barang yang di tinggalkan mereka ada di sini "


Sean bertanya


" Karena tempat tinggal terakhir raja Fils pertama beserta semua pangeran saat hari tua itu di paviliun ini , bahkan di ceritakan paviliun ini di bangun oleh pangeran Fils pertama karena kerinduannya kepada ayahandanya "


Pangeran paon menjelaskan


" Lalu mereka di makamkan di mana "


Sean menoleh


" Ada di belakang bangunan ini "


Pangeran paon menjawab


" Benarkah "


Sean terkejut


" Iya tuan "


Pangeran paon mengangguk


" Aku mau lihat "


Sean meminta


" Mari tuan "


Paon menunjukkan jalan


Sean berjalan dengan cepat di iringi paon dan meninggalkan Fleur di belakang bersama key dan pangeran lainnya


Setelah sampai di tempat tujuan


" Ini makamnya "


Paon menunjukkan sembilan makam yang berjejer


" Hai "


Sean duduk di samping salah satu makam


" Kalian sudah menjalankan tugas dengan baik , ayah bangga dengan kalian semua "


Sean mengusap salah satu nisan yang bertuliskan ` Raja Fils Aine Rudeus `


Sean memandang semua batu nisan yang memiliki nama masing-masing pangeran hingga pangeran ke sembilan


" Apa mereka menikah "


Sean bertanya


" Hanya raja Fils yang menikah , makam istri dan putra raja Fils tidak di ketahui hingga sekarang , namun ada yang mengatakan bahwa istri dan putra raja Fils masih belum meninggal "


Paon menjawab


Sean duduk di sana dengan waktu yang lama , Fleur setia menunggu di temani key di bawah pohon mangga di dekat makam


" Key "


Fleur memanggil


" Saya "


Key menyahuti


" Apa kamu tau siapa yang di makamkan di sini "


Fleur bertanya

__ADS_1


__ADS_2