
" Apa kalian tau tentang orang tuaku "
Sean bertanya dengan semangat
" Ya.. kami tau tuan , orang tua kami adalah orang kepercayaan yang mulia raja Tian , beliau adalah ayah anda "
" Apa kalian benar-benar tau darimana asalku "
Sean bertanya dengan intens
" Kami tidak tau tuan , namun kami hanya tau hanya beberapa saat sebelum kami di tempatkan di sini "
Suara itu meyakinkan
" Baiklah... Aku akan mencari kalian"
Sean berdiri lalu berjalan dengan ragu mendekati lubang di pohon itu
" Aku harus yakin "
Sean mengepalkan tangan kecilnya dan berjalan memasuki gua kecil itu
" ASTAGA... Aku kira tempatnya kecil "
Sean ternganga melihat sebuah ruangan yang sangat besar berada di dalam gua itu
" Ini kayak penjara di film-film "
Sean berjalan dan melihat sekeliling yang memiliki banyak jeruji besi di samping kiri dan kanannya yang setiap ruangannya di dekat oleh dinding tebal dari batu
" Ya Allah lindungi Sean "
Sean berbicara di dalam hati
" Penjaranya kotor "
Sean menghampiri salah satu jeruji besi yang terlihat lebih kecil dari yang lainnya
" Ini lebih kecil dan gelap "
Sean memegang besi penjara itu yang berkarat dan kotor
" Siapa kamu "
Sebuah suara orang tua memasuki pendengaran Sean dan membuat Sean terkejut
" Apa ada orang di dalam "
Sean memastikan
" Siapa kamu "
Orang itu mengulangi pertanyaannya
" Aku Sean , putra Sbastian "
Sean menjawab pertanyaan tersebut
" Bagaimana..uhuk..uhuk... kamu bisa sampai di sini "
Suara laki-laki tua itu semakin lirih
" Apa anda baik-baik saja tuan "
Sean menajamkan pengelihatannya dan dia melihat siluet seseorang di sudut penjara
" Saya tidak apa... Uhuk... Saya baik "
Suara itu menjawab dengan terbatuk-batuk
" Boleh saya bertanya "
Siluet itu mendekat kepada Sean dan betapa terkejutnya Sean bahwa yang ada di dalam saya adalah seorang pria tua dengan rambut putih dan Jenggot yang panjang
" Astagfirullah apa anda baik-baik saja pak tua "
Sean bertanya karena melihat tubuh pria itu kurus kering dan dia hanya memakai celana se panjang lutut
" Sebentar saya akan mencoba membuka tempat ini "
Sean menoleh mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk membuka sel tahanan tersebut
" Tuan anda lama sekali "
Suara anak laki-laki itu tiba-tiba memasuki pendengaran Sean
" Kamu ada dimana "
Sean berhenti mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk membuka sel tahanan dan berfokus kepada suara anak laki-laki itu
" Tuan apakah anda sudah memasuki penjara besi "
Suara anak perempuan itu menyahuti
" Sudah "
Sean menjawab dengan cepat
" Tuan hanya perlu lurus , jika tuan sudah menemukan ujung penjara , maka tuan hanya perlu memasuki pintu penjara dan kami ada di sana "
Suara anak perempuan itu menjelaskan dengan sempurna
" Baiklah "
Sean mengangguk
" Pak tua tunggu saya sebentar... Saya akan mencari cara mengeluarkan anda dari sini"
Sean berlari mengikuti arahan kedua suara anak-anak itu
" Eh.... Tunggu anak muda "
Pria tua itu mencoba menghentikan Sean namun Sean tidak mendengar dan terlalu fokus mencari keberadaan kedua suara itu
" Hahaha... Anda sangat baik , yang mulia "
Pria tua itu terkekeh kecil
" Dimana ujung penjara ini , kenapa tidak sampai-sampai "
Karena Sean berlari sudah cukup lama , Sean menggerutu namun terus berlari mencari ujung penjara tahanan tersebut
Setelah beberapa saat , Sean menemukan ujung penjara yang di maksudkan oleh kedua suara itu
" Apa ini tempatnya "
Sean mendekati penjara yang paling besar yang di tempatkan di ujung ruangan
" Dimana pintunya "
Sean menggumam dan memegang setiap besi sel dan mendorongnya , siapa tau itu adalah pintu penjara
" Ini pintunya "
Sean menemukan pintu sel itu di ujung kanan sel penjara
" Bagaimana cara membukanya "
Sean mencari kunci untuk membuka sel tersebut
" Tuan , anda tidak perlu mencari kuncinya , anda hanya perlu menggeser pintu besi itu "
Suara anak perempuan itu memberitahu
" Menggeser "
Sean mencoba menarik pintu ke kanan dan ke kiri
" Menggeser itu sama seperti menarik pintu ke arah berlawanan kan , tapi kenapa tidak bisa "
__ADS_1
Sean menggaruk kepalanya yang gatal
" Pintu di Jepang hanya perlu di geser , karena pintu itu tidak berat , jika pintu seperti ini.... "
Sean meletakkan telunjuknya di dagunya
" Mungkin di dorong lalu di geser , baiklah... Mari kita coba "
Sean mendorong pintu itu dan menggesernya ke arah kiri
" Kenapa ngak bisa ya , mungkin ke arah sebaliknya , namun ini kan dinding... Argh... Sudahlah di coba saja "
Sean mendorong pintu ke arah berlawanan dan pintu perlahan tergeser
" Astagaaa bisa dong "
Sean terkejut dan mendorong pintu itu lebih kuat lagi
" Ayo dong dikit lagi "
Sean semakin mengerahkan tenaganya dan pintu itu berhasil di buka
" Huh... Sean emang hebat "
Sean menepuk-nepuk otot lengannya dengan bangga
" Woah.... "
Sean terkejut bukan main saat melihat penjara kotor yang ia lihat tadi berubah menjadi sebuah ruangan berwarna putih dengan yang di penuhi banyak batu berkilau yang berserakan
" Jiji pernah bilang , jika suatu tempat yang menarik akan memiliki banyak misteri "
Sean menggumam dan memperhatikan sekeliling
" Kalian di mana "
Sean berteriak dengan keras
" Apa anda sudah sampai di ruangan putih tuan "
Suara gadis kecil itu bertanya
" Sudah , tapi ruangannya mencurigakan "
Sean menjawab apa adanya
" Tidak ada apa-apa di ruangan ini tuan , anda masuk saja , kami ada di dalam kotak di tengah ruangan "
Makhluk itu memberitahu lokasinya
" Baiklah "
Sean menatap sebuah meja yang yang ada di tengah ruangan dan di atas meja itu terdapat kotak peti harta Karun kecil yang sangat indah
" Apa isinya emas ya khekhekhe "
Sean terkekeh jahat dan mulai melangkah mendekati kotak itu lalu membukanya perlahan
" Lho katanya kalian di sini , kok cuma ada telor ... Dasar penipu "
Karena kesal Sean menutup kotak itu dengan sangat keras hingga menimbulkan suara yang menggema di ruangan itu
" ASTAGA TUAN TELINGA KAMI SAKIT"
Suara gadis kecil itu terdengar sangat nyaring di telinga Sean
" APA.. KATANYA ADA DI KOTAK , SEKARANG MANA KALIAN "
Sean marah marah sambil menggebrak meja
" Buang-buang waktu saja , sudah aku mau pulang "
Sean berbalik hendak meninggalkan tempat itu namun kedua suara itu menghentikannya
" Kenapa "
Sean menyahuti dengan malas
Suara anak perempuan itu memberitahu
" Heh.. tidak percaya , mana bisa telur bersuara "
Sean melipat tangannya di atas dada
" Bawa kami pulang tuan huhuhu... "
Kedua suara itu memohon
" Kami tidak mau di sini tuan , tolong kami "
Suara memohon anak laki-laki itu terdengar sangat menyedihkan
" Okeh okeh "
Karena Sean merasa kasihan , maka dia membawa peti itu keluar
" Eh... Petinya ringan , kukira berat "
Sean mulai melangkah keluar dan berjalan menjauh menuju jalan keluar
Setelah berjalan dalam waktu yang cukup lama Sean merasa ada yang mengganjal hatinya
" Hm... "
Sean meletakkan peti itu di tanah lalu menoleh ke kanan dan ke kiri
" Astaga aku lupa , pak tua itu pasti sudah menunggu "
Sean mengambil peti itu lalu berlari menuju tempat pak tua itu di kurung
" Pak tua... Maaf aku lupa..hah..hah.."
Sean berhenti mendadak sambil terengah-engah dan membuat peti itu terlepas dari genggaman tangan Sean
" Astaga "
Sean terkejut lalu mengambil kedua telur yang sebesar telur burung unta itu dan meletakkannya di dalam peti kembali
" Hahahaha tidak apa-apa tuan muda "
Pria tua itu tertawa pelan
" Aku belum menemukan benda untuk mengeluarkan anda "
Sean menggaruk kepalanya kebingungan
" Aha "
Sean melihat peti itu dan membukanya
" Ini bisa di pakek "
Sean mengeluarkan kedua telur itu lalu meletakkannya di tanah
" Siapa namamu "
Pak tua itu bertanya
" Namaku Sean , aku putra Sbastian , aku kan sudah bilang tadi "
Sean mengambil peti itu lalu mendekat ke arah pintu penjara
" Penjara yang tadi cuma perlu di geser , kalo ini di geser ngak ya "
Sean meletakkan kotak itu lalu mencoba menggeser pintu besi itu ke arah kanan dan kiri
" Ngak bisa sih "
Sean menggaruk kepalanya frustasi
__ADS_1
" Coba... "
Sean mendorong pintu itu dan pintunya terbuka
" Terus... Astaga "
Sean memelototi pintu itu dan berjalan menghampiri pak tua namun pandangannya tidak lepas dari pintu
" Mari keluar pak tua "
Sean membantu pak tua berdiri
" Anda hebat bisa membuka pintu itu anak muda , aku sudah berkali-kali mencoba membukanya tapi tidak pernah bisa "
Pak tua itu berdiri perlahan lalu mengikuti tarikan Sean untuk keluar dari penjara
" Benarkah.. kan Sean cuma dorong pintunya pelan "
Sean membawa pria tua itu berjalan perlahan-lahan hingga keluar dari sel tahanan tersebut
Sean melepaskan genggaman tangannya dan mengambil kedua telur itu lalu meletakkannya di dalam kotak kembali
" Ayo kita keluar pak tua "
Sean membawa kotak di tangan kirinya dan tangan kanannya menggenggam tangan pak tua itu perlahan
" Kenapa anda ada di sini pak tua "
Sean bertanya dengan penasaran
" Nanti akan saya ceritakan di luar , sekarang kita keluar dulu "
Pak tua dan Sean mulai mendekati pintu keluar yang hanya sebesar badan Sean
" Apa pak tua bisa keluar "
Sean menoleh kepada pak tua
" Kamu keluarlah dulu "
Pak tua melepaskan gandengan tangan Sean dan mendorong Sean keluar terlebih dahulu
Setelah Sean keluar , Sean meletakkan kotak itu di luar lalu melihat pak tua merangkak perlahan keluar dari lubang gua itu
" Hati-hati pak tua "
Sean membantu pak tua keluar dan membantu pak tua duduk bersandar di pohon persik itu
" Sekarang aku akan menjawab pertanyaanmu "
Pak tua mengisyaratkan agar Sean duduk di depannya
" baiklah... Bagaimana ceritanya pak tua"
Sean bertanya dengan tidak sabar
" Hahaha... Tenanglah "
Pak tua membenarkan posisi duduknya lalu duduk bersila
" Dulu tempat ini di bangun oleh raja Tian , raja dari negri tirani , penjara ini di gunakan untuk memenjarakan para penjahat dengan kekuatan besar , penjara ini menghisap kekuatan berlebih dari para penjahat itu , namun tidak sampai mencelakai mereka , dan hingga waktu itu , saat kerajaan di ambil alih secara paksa oleh pangeran ke dua , pangeran zafir , adik dari raja Tian . aku di letakkan di sini, karena aku di anggap mampu merusak rencananya , aku di kurung di dalam penjara ini sudah sangat lama hingga pakaianku seperti ini hahahaha "
Pak tua itu tertawa terbahak-bahak hingga terbatuk-batuk
" Jadi anda sudah berapa lama di sini pak tua "
Sean bertanya dengan penasaran
" Mungkin lebih dari seratus tahun "
Pak tua menjawab dengan menerka-nerka
" Kok mungkin sih "
Sean memiringkan kepalanya
" Iya... Karena hari di dalam dimensi ini berbeda dari hari di dunia asli "
Pak tua itu memberikan penjelasan
" Oh.... Sean ngak paham "
Sean menunjukkan gigi putihnya yang rapih
" Hahaha sudahlah , nanti kamu akan faham jika sudah saatnya "
Pak tua menggosok kepala Sean gemas
" Sekarang pecahkan telur itu "
Pak tua menunjuk kotak harta itu
" Telur itu "
Sean menatap kotak itu
" Iya... Pecahkan anak muda "
Pak tua itu mengiyakan
" Baiklah "
Sean berdiri lalu mengambil kotak itu dan membawanya mendekati pak tua
" Bagaimana... Apa langsung di pecahkan "
Sean membolak-balik telur itu
" Teteskan darah anda "
Ungkapan kalimat pak tua itu membuat Sean terkejut
" Maksudnya pak tua "
Sean tidak mengerti
" Lukai tangan anda lalu oleskan darah anda di atas telur itu "
Pak tua memberikan penjelasan
" Emang harus gitu "
Sean menaikkan alisnya
" Cobalah "
Pak tua mengangguk
" Okeh "
Sean menggigit jari telunjuknya hingga berdarah
" Sakit tau "
Sean memonyongkan bibirnya lalu mengoleskan darahnya di atas kedua telur itu
" Sakit pak tua "
Sean menyodorkan jarinya
" Kemarilah "
Pak tua mengulurkan tangannya dan Sean meletakkan tangannya di atas tangan pak tua
Pak tua menutup tangan kecil Sean dengan tangannya yang besar , lalu dia memejamkan matanya , dan keluarlah sedikit cahaya dari tangannya dan menghilang dalam sekejap
" Apa itu tadi "
Sean menarik tangannya dan melihat jarinya sudah sembuh
__ADS_1
" Kapan-kapan akan saya ajarkan "
Pak tua itu terkekeh