Aku Pangeran

Aku Pangeran
#29 { kakak cantik }


__ADS_3

Setelah Sbastian mengambil troli belanja , Sbastian mulai berkeliling bersama Sean untuk membeli beberapa perlengkapan tulis


" Bagus kuning apa biru ya pa "


Sean berjongkok dan menunjukkan satu pensil berwarna kuning dengan hiasan ikan kecil berwarna biru dan juga satu pensil berwarna biru dengan hiasan ikan kecil berwarna kuning


" Hehe itu sama aja dek , bedanya cuma di warnanya "


Sbastian terkekeh kecil


" Adek mau yang ini pa sama ini "


Sean memasukkan satu pensil dan satu penghapus di dalam troli


" Astaghfirullah dek jangan satu sekalian dong satu kotak "


Sbastian mengambil satu kotak pensil dan satu kotak penghapus lalu di letakkan di dalam troli


" Papa apa itu "


Sean menunjuk satu barang yang ada di samping pensil yang dia ambil


" Ini pensil warna , adek mau "


Sbastian mengambil pensil warna itu dan menyodorkannya pada Sean


" Buat apa ini pa "


Sean membolak-balik kotak pensil warna itu


" Nanti papa tunjukkan , sekarang masukkan itu ke troli "


Sean melompat dan memasukkan kotak pensil warna itu ke dalam troli


" Pa ayo kesana "


Sean berlari ke arah rak yang berisi tas ransel berwarna-warni untuk anak-anak


" Iya ayo "


Sbastian mendorong troli dan mengikuti langkah Sean


* Bruk *


Sean terjatuh karena menabrak seorang wanita berhijab cantik , setelah menabrak wanita cantik itu Sean langsung berdiri dan membungkuk


" Maafkan saya nona "


Sbastian yang tadinya hendak menolong Sean , kini mengurungkan niatnya dan menjadi lega karena Sean tidak terluka


" Iya tidak apa , apa kamu terluka "


Wanita cantik itu berbicara bahasa Indonesia dengan fasih dan membuat Sbastian terkejut


" Saya minta maaf sekali lagi atas kesalahann anak saya "


Sbastian berbicara dengan bahasa baku


" Tidak apa-apa tuan "


Wanita itu berjongkok di depan Sean dan memegang bahu Sean lalu membuat Sean melihatnya


" Siapa namanya "


Wanita cantik itu bertanya dengan ramah


Sean menoleh melihat Sbastian dan di angguki oleh Sbastian


" Sean , kalau kakak cantik namanya siapa"


Pertanyaan Sean membuat Sbastian terkejut dan di sambut kekehan kecil oleh wanita itu


" Nama kakak Clara , salam kenal ya "


Clara mengulurkan tangannya


" Oh... Kakak cantik rumahnya di mana "


Sean membalas uluran tangan itu dan menciumnya mempraktekkan tata Krama yang di ajarkan Sbastian


" Kakak rumahnya Deket dari sini "


Clara mengelus kepala Sean


" Pa ayo makan eskrim sama kakak cantik , sebagai tanda permintaan maaf Sean ke kakak cantik pa "


Sean menoleh kepada Sbastian meminta persetujuan


" Eh... Ngak usah Sean , kakak abis makan tadi "


Clara menolak ajakan Sean


" Lho kakak lagi repot ya "


Sean kecewa karena ajakannya di tolak oleh Clara


" Eh.... Itu gimana ya "


Clara gelagapan karena memang dirinya sedang repot kala itu


" Adek kalo kakaknya ngak bisa jangan di paksa ya "


Sbastian mengingatkan


" Iya udah deh pa , lain kali kita makan eskrim ya kakak cantik "


Sean melihat manik mata kakak cantik

__ADS_1


" Iya , yasudah kakak pergi dulu ya "


Kakak cantik berdiri dan melihat Sbastian


" Saya permisi tuan "


Kakak cantik sedikit membungkuk


" Iya hati-hati nona "


Sbastian sedikit tersenyum


" Babay Sean "


Kakak cantik melambaikan tangan lalu pergi menjauh


" Ayo kita lanjutkan belanjanya "


Sbastian kembali mendorong troli dan membawa Sean memilih tas dan juga peralatan sekolah yang lainnya


Setelah memakan waktu yang cukup lama , Sbastian keluar dari pusat perbelanjaan menuju area parkir dengan banyaknya tas dan belanjaan yang dia bawa , bahkan Sean membawa beberapa yang ukurannya sedikit lebih kecil


" Astaga tuan , banyak sekali "


Asisten John terkejut dan hanya di balas tawa kecil Sean


" Saya tau penyebabnya "


Asisten John menatap Sean dengan aneh


" Oh... Ayolah paman , kan aku bentar lagi sekolah hm..hm..hm.."


Sean menaik turunkan alisnya


" Huh dasar tuan muda "


Asisten John pasrah dengan tuan mudanya dan memasukkan belanjanya ke dalam jok mobil


" Baiklah sudah ada klien yang menunggu di kantor , ayo kita berangkat sekarang "


Sbastian mematikan telefon genggamnya lalu menggendong Sean memasuki mobil lalu mengambil laptop miliknya untuk mengecek beberapa laporan dari perusahaan


" Pa kapan Sean sekolah "


Sean mengeluarkan permen dari tas kecilnya


" Tidak lama lagi Sean sekolah , mohon sedikit bersabar tuan muda "


Sbastian menjawab dengan sedikit candaan namun matanya masih sibuk dengan laptop miliknya


" Yah... Masih lama dong "


Sean merebahkan dirinya di atas kursi mobil


" Memangnya tuan muda tidak mau menghabiskan masa anak-anak tuan muda , masa bermain itu sebentar lho "


" huuh...Sean pengen cepat besar paman "


Sean menghela nafas panjang


" Memangnya tuan muda mau jadi apa kalau besar "


Asisten John menyalakan mesin mobil dan mulai keluar dari area parkir


" Aku mau buat papa senyum kayak di foto sama bunda Adin , bundanya kak Dimas"


Sontak jawaban Sean membuat Sbastian menoleh seketika dan menatap lekat Sean , sedangkan asisten John melihat raut wajah terkejut yang di tunjukkan Sbastian dari kaca mobil


" Tuan muda tau , senyuman itu kembali saat tuan muda hadir di sini "


Asisten John mencairkan suasana


" Benarkah , Sean merasa senyuman papa lebih cantik di foto itu "


Sean menatap langit-langit mobil


" Senyum papa di foto itu seperti lebih bersinar aja , Sean pengen papa kayak gitu lagi "


Sean mengatakan semua isi hatinya yang muncul saat itu , namun perkataan Sean membuat suasana di mobil semakin canggung


" Sean "


Suara Sbastian terdengar sedikit serak dan berat


" Iya pa "


Sean duduk dengan benar dan melihat papanya yang menunduk


" Darimana kamu mempelajari kata-kata itu "


Sbastian bertanya dengan serius


" Sean cuman ngerasa kayak gitu pa , Sean mau papa senyum kayak di foto itu , semua beban papa , papa lepaskan di senyum itu pa , papa lebih tampan di situ , papa lebih keren , Sean pengen liat papa yang kayak gitu "


Sean menatap Sbastian dengan lekat


" Kamu tau , papa mencoba melupakan itu"


Sbastian berbicara dengan Sean seolah berbicara dengan orang dewasa yang mengerti banyak hal , dan itu cukup membuat asisten John terkejut


" Sean tau papa masih mengingat itu "


Sean mulai menyangkal perkataan papanya


Asisten John memperlambat laju mobil dan berhenti di tepi jalan


" Kamu tau , papa tidak mau membicarakan itu "

__ADS_1


Sbastian menyangkal kembali perkataan Sean


" Sean tau papa rindu sama bunda "


Sean mulai menitikkan air mata


" Papa ngak suka kamu bahas itu lagi "


Sbastian mulai menaikkan nada bicaranya


" Sean tau , papa rindu sama bunda , papa belum ikhlas sama perginya kak Dimas"


Sean menatap Sbastian


" Cukup Sean "


Sbastian melepaskan laptopnya hingga membuat laptop itu terjatuh dan menatap Sean tajam


" Papa , papa jangan gitu , Sean juga anak papa , papa boleh nangis di sini "


Sean menepuk bahu kecilnya


" Papa tau ngak , Sean suka sedih kalau liat papa nangis di malam hari , Sean ngak suka papa kayak gitu "


Sean menatap lekat-lekat manik mata Sbastian


" Sean sayang sama papa "


Sean berdiri memeluk leher Sbastian lalu menarik kepala Sbastian dan meletakkan di pundak kecilnya


" Papa.... Sean sayaaang sama papa "


Sean mengelus rambut Sbastian


" Hm... "


Sbastian hanya berdehem dan membawa Sean ke dalam pelukannya lalu mengeluarkan semua air mata yang sedari tadi ditahannya


" Sean sayang sama papa "


Sean memeluk erat Sbastian dan di balas beberapa anggukan kecil oleh Sbastian


Sedangkan asisten John menunduk dan menghapus air matanya yang ikut keluar menyaksikan semua itu


Setelah beberapa saat , Sbastian melepaskan Sean dan mengambil laptopnya , menutup laptopnya lalu meletakkan laptopnya di jok belakang dan meletakkan Sean di dalam pangkuannya


" Terimakasih "


Sbastian mencium pucuk kepala Sean dan menghapus air mata Sean yang masih berbekas


" Ayo lanjutkan perjalanan "


Sbastian memerintahkan asisten John dengan semangat untuk menuju ke kantor


" Papa mau permen "


Sean menyodorkan permen coklat dari dalam tasnya


" Terimakasih "


Sbastian menerima permen itu lalu memakannya


" Papa rindu bunda ya "


Sean menatap Sbastian


" Iya papa rindu bunda sama kakak "


Sbastian merunduk dan kembali memeluk erat Sean


" Tapi karena ada kamu , rindunya menghilang deh "


Sbastian tersenyum lalu memeluk erat Sean dan mencium seluruh wajah Sean hingga Sean tertawa geli


" Papa geli papa hahaha jangan papa geli hahaha "


Sean menahan wajah Sbastian meskipun itu sia-sia belaka


Dann dalam sekejap terciptalah suasana hangat yang menyelimuti kesedihan dan luka yang mendalam tadi


DI BELAKANG LAYAR


Sean \= "gimana Sean jago akting kan "


Author \= "serah "


Sbastian \= " heh jangan gitu sama anak kecil ya"


Author \= " ya ya ya aku capek , kalian maen sana , jangan lupa makan "


Sbastian \= " mau kemana Thor "


Author \= " tidur "


Mas John \= " lha terus naskah selanjutnya apa "


Author \= " nanti ku pikirkan "


Mas John \= " Nanti telat lagi "


Author \= " bawel ah "


Sean \= " nanti Sean di kasih coklat yang banyak ya kak "


Author \= " nanti kakak usahain , sekarang kakak mau tidur dulu bay "


Sean \= " babay kak "

__ADS_1


__ADS_2