
Setelah Sbastian mengambil troli belanja , Sbastian mulai berkeliling bersama Sean untuk membeli beberapa perlengkapan tulis
" Bagus kuning apa biru ya pa "
Sean berjongkok dan menunjukkan satu pensil berwarna kuning dengan hiasan ikan kecil berwarna biru dan juga satu pensil berwarna biru dengan hiasan ikan kecil berwarna kuning
" Hehe itu sama aja dek , bedanya cuma di warnanya "
Sbastian terkekeh kecil
" Adek mau yang ini pa sama ini "
Sean memasukkan satu pensil dan satu penghapus di dalam troli
" Astaghfirullah dek jangan satu sekalian dong satu kotak "
Sbastian mengambil satu kotak pensil dan satu kotak penghapus lalu di letakkan di dalam troli
" Papa apa itu "
Sean menunjuk satu barang yang ada di samping pensil yang dia ambil
" Ini pensil warna , adek mau "
Sbastian mengambil pensil warna itu dan menyodorkannya pada Sean
" Buat apa ini pa "
Sean membolak-balik kotak pensil warna itu
" Nanti papa tunjukkan , sekarang masukkan itu ke troli "
Sean melompat dan memasukkan kotak pensil warna itu ke dalam troli
" Pa ayo kesana "
Sean berlari ke arah rak yang berisi tas ransel berwarna-warni untuk anak-anak
" Iya ayo "
Sbastian mendorong troli dan mengikuti langkah Sean
* Bruk *
Sean terjatuh karena menabrak seorang wanita berhijab cantik , setelah menabrak wanita cantik itu Sean langsung berdiri dan membungkuk
" Maafkan saya nona "
Sbastian yang tadinya hendak menolong Sean , kini mengurungkan niatnya dan menjadi lega karena Sean tidak terluka
" Iya tidak apa , apa kamu terluka "
Wanita cantik itu berbicara bahasa Indonesia dengan fasih dan membuat Sbastian terkejut
" Saya minta maaf sekali lagi atas kesalahann anak saya "
Sbastian berbicara dengan bahasa baku
" Tidak apa-apa tuan "
Wanita itu berjongkok di depan Sean dan memegang bahu Sean lalu membuat Sean melihatnya
" Siapa namanya "
Wanita cantik itu bertanya dengan ramah
Sean menoleh melihat Sbastian dan di angguki oleh Sbastian
" Sean , kalau kakak cantik namanya siapa"
Pertanyaan Sean membuat Sbastian terkejut dan di sambut kekehan kecil oleh wanita itu
" Nama kakak Clara , salam kenal ya "
Clara mengulurkan tangannya
" Oh... Kakak cantik rumahnya di mana "
Sean membalas uluran tangan itu dan menciumnya mempraktekkan tata Krama yang di ajarkan Sbastian
" Kakak rumahnya Deket dari sini "
Clara mengelus kepala Sean
" Pa ayo makan eskrim sama kakak cantik , sebagai tanda permintaan maaf Sean ke kakak cantik pa "
Sean menoleh kepada Sbastian meminta persetujuan
" Eh... Ngak usah Sean , kakak abis makan tadi "
Clara menolak ajakan Sean
" Lho kakak lagi repot ya "
Sean kecewa karena ajakannya di tolak oleh Clara
" Eh.... Itu gimana ya "
Clara gelagapan karena memang dirinya sedang repot kala itu
" Adek kalo kakaknya ngak bisa jangan di paksa ya "
Sbastian mengingatkan
" Iya udah deh pa , lain kali kita makan eskrim ya kakak cantik "
Sean melihat manik mata kakak cantik
__ADS_1
" Iya , yasudah kakak pergi dulu ya "
Kakak cantik berdiri dan melihat Sbastian
" Saya permisi tuan "
Kakak cantik sedikit membungkuk
" Iya hati-hati nona "
Sbastian sedikit tersenyum
" Babay Sean "
Kakak cantik melambaikan tangan lalu pergi menjauh
" Ayo kita lanjutkan belanjanya "
Sbastian kembali mendorong troli dan membawa Sean memilih tas dan juga peralatan sekolah yang lainnya
Setelah memakan waktu yang cukup lama , Sbastian keluar dari pusat perbelanjaan menuju area parkir dengan banyaknya tas dan belanjaan yang dia bawa , bahkan Sean membawa beberapa yang ukurannya sedikit lebih kecil
" Astaga tuan , banyak sekali "
Asisten John terkejut dan hanya di balas tawa kecil Sean
" Saya tau penyebabnya "
Asisten John menatap Sean dengan aneh
" Oh... Ayolah paman , kan aku bentar lagi sekolah hm..hm..hm.."
Sean menaik turunkan alisnya
" Huh dasar tuan muda "
Asisten John pasrah dengan tuan mudanya dan memasukkan belanjanya ke dalam jok mobil
" Baiklah sudah ada klien yang menunggu di kantor , ayo kita berangkat sekarang "
Sbastian mematikan telefon genggamnya lalu menggendong Sean memasuki mobil lalu mengambil laptop miliknya untuk mengecek beberapa laporan dari perusahaan
" Pa kapan Sean sekolah "
Sean mengeluarkan permen dari tas kecilnya
" Tidak lama lagi Sean sekolah , mohon sedikit bersabar tuan muda "
Sbastian menjawab dengan sedikit candaan namun matanya masih sibuk dengan laptop miliknya
" Yah... Masih lama dong "
Sean merebahkan dirinya di atas kursi mobil
" Memangnya tuan muda tidak mau menghabiskan masa anak-anak tuan muda , masa bermain itu sebentar lho "
" huuh...Sean pengen cepat besar paman "
Sean menghela nafas panjang
" Memangnya tuan muda mau jadi apa kalau besar "
Asisten John menyalakan mesin mobil dan mulai keluar dari area parkir
" Aku mau buat papa senyum kayak di foto sama bunda Adin , bundanya kak Dimas"
Sontak jawaban Sean membuat Sbastian menoleh seketika dan menatap lekat Sean , sedangkan asisten John melihat raut wajah terkejut yang di tunjukkan Sbastian dari kaca mobil
" Tuan muda tau , senyuman itu kembali saat tuan muda hadir di sini "
Asisten John mencairkan suasana
" Benarkah , Sean merasa senyuman papa lebih cantik di foto itu "
Sean menatap langit-langit mobil
" Senyum papa di foto itu seperti lebih bersinar aja , Sean pengen papa kayak gitu lagi "
Sean mengatakan semua isi hatinya yang muncul saat itu , namun perkataan Sean membuat suasana di mobil semakin canggung
" Sean "
Suara Sbastian terdengar sedikit serak dan berat
" Iya pa "
Sean duduk dengan benar dan melihat papanya yang menunduk
" Darimana kamu mempelajari kata-kata itu "
Sbastian bertanya dengan serius
" Sean cuman ngerasa kayak gitu pa , Sean mau papa senyum kayak di foto itu , semua beban papa , papa lepaskan di senyum itu pa , papa lebih tampan di situ , papa lebih keren , Sean pengen liat papa yang kayak gitu "
Sean menatap Sbastian dengan lekat
" Kamu tau , papa mencoba melupakan itu"
Sbastian berbicara dengan Sean seolah berbicara dengan orang dewasa yang mengerti banyak hal , dan itu cukup membuat asisten John terkejut
" Sean tau papa masih mengingat itu "
Sean mulai menyangkal perkataan papanya
Asisten John memperlambat laju mobil dan berhenti di tepi jalan
" Kamu tau , papa tidak mau membicarakan itu "
__ADS_1
Sbastian menyangkal kembali perkataan Sean
" Sean tau papa rindu sama bunda "
Sean mulai menitikkan air mata
" Papa ngak suka kamu bahas itu lagi "
Sbastian mulai menaikkan nada bicaranya
" Sean tau , papa rindu sama bunda , papa belum ikhlas sama perginya kak Dimas"
Sean menatap Sbastian
" Cukup Sean "
Sbastian melepaskan laptopnya hingga membuat laptop itu terjatuh dan menatap Sean tajam
" Papa , papa jangan gitu , Sean juga anak papa , papa boleh nangis di sini "
Sean menepuk bahu kecilnya
" Papa tau ngak , Sean suka sedih kalau liat papa nangis di malam hari , Sean ngak suka papa kayak gitu "
Sean menatap lekat-lekat manik mata Sbastian
" Sean sayang sama papa "
Sean berdiri memeluk leher Sbastian lalu menarik kepala Sbastian dan meletakkan di pundak kecilnya
" Papa.... Sean sayaaang sama papa "
Sean mengelus rambut Sbastian
" Hm... "
Sbastian hanya berdehem dan membawa Sean ke dalam pelukannya lalu mengeluarkan semua air mata yang sedari tadi ditahannya
" Sean sayang sama papa "
Sean memeluk erat Sbastian dan di balas beberapa anggukan kecil oleh Sbastian
Sedangkan asisten John menunduk dan menghapus air matanya yang ikut keluar menyaksikan semua itu
Setelah beberapa saat , Sbastian melepaskan Sean dan mengambil laptopnya , menutup laptopnya lalu meletakkan laptopnya di jok belakang dan meletakkan Sean di dalam pangkuannya
" Terimakasih "
Sbastian mencium pucuk kepala Sean dan menghapus air mata Sean yang masih berbekas
" Ayo lanjutkan perjalanan "
Sbastian memerintahkan asisten John dengan semangat untuk menuju ke kantor
" Papa mau permen "
Sean menyodorkan permen coklat dari dalam tasnya
" Terimakasih "
Sbastian menerima permen itu lalu memakannya
" Papa rindu bunda ya "
Sean menatap Sbastian
" Iya papa rindu bunda sama kakak "
Sbastian merunduk dan kembali memeluk erat Sean
" Tapi karena ada kamu , rindunya menghilang deh "
Sbastian tersenyum lalu memeluk erat Sean dan mencium seluruh wajah Sean hingga Sean tertawa geli
" Papa geli papa hahaha jangan papa geli hahaha "
Sean menahan wajah Sbastian meskipun itu sia-sia belaka
Dann dalam sekejap terciptalah suasana hangat yang menyelimuti kesedihan dan luka yang mendalam tadi
DI BELAKANG LAYAR
Sean \= "gimana Sean jago akting kan "
Author \= "serah "
Sbastian \= " heh jangan gitu sama anak kecil ya"
Author \= " ya ya ya aku capek , kalian maen sana , jangan lupa makan "
Sbastian \= " mau kemana Thor "
Author \= " tidur "
Mas John \= " lha terus naskah selanjutnya apa "
Author \= " nanti ku pikirkan "
Mas John \= " Nanti telat lagi "
Author \= " bawel ah "
Sean \= " nanti Sean di kasih coklat yang banyak ya kak "
Author \= " nanti kakak usahain , sekarang kakak mau tidur dulu bay "
Sean \= " babay kak "
__ADS_1