
" Mao "
Sbastian memanggil
" Saya tuan "
Mao menyahuti
" Apa sayangku masih lama pulangnya "
Sbastian meletakkan kepalanya di samping kepala Sean
" Besok ruangan sudah siap tuan "
Mao memberikan desain ruangan rawat Sean di rumah
" Baiklah , usahakan cepat selesai ya , Seanku agar bisa pulang ke rumah "
Sbastian mengembalikan Desai Mao dan kembali memejamkan mata
Sudah tiga hari Sean di rawat di rumah sakit , para dokter spesialis yang di datangkan oleh Sbastian saling berdebat apakah Sean boleh di pulangkan atau tidak , beberapa bilang itu boleh , namun yang lain bilang itu akan berbahaya
Sbastian yang tidak pernah semena-mena akan kekuasaannya, kini menjadi memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya semaksimal mungkin untuk Sean , Sbastian yang sebelumnya memiliki pribadi yang tegas namun lembut kini menjadi benar-benar tegas dan tidak ingin di bantah , apapun yang terbaik untuk Sean akan dia lakukan , kehilangan untuk kesekian kalinya membuatnya tidak ingin kehilangan kehidupannya yang sekarang
Hari-harinya di kantor yang sebelumnya di penuhi dengan senyuman dan nuansa cerah tiba-tiba berubah , jika sebelumnya membalas sapaan dari para karyawan menjadi hal biasa sejak hadirnya Sean , sekarang menjadi hal yang tabu untuknya , hari-hari yang berubah sejak kehadiran Sean menjadi seperti semula saat adinda dan putra pertamanya sudah pergi , Suram.. itu kalimat yang pantas untuk menggambarkan keadaan Sbastian
" Sean tidak di sini , jadi pergilah "
Sbastian menyingkirkan semua pelayan yang melayaninya sebelumnya
Jika saat Pulang ke rumah Sbastian akan di sambut banyak pelayan yang akan membawakan semua barang bawaannya , kini Sbastian akan membawanya sendiri menuju kamar pribadinya di ujung lorong lantai tiga , kamar khusus adinda , kamar yang di penuhi oleh adinda
" Sayang... Kapan kamu bangun "
Sbastian memandangi wajah Sean di ruang ICU dengan derai air mata
" Tuan "
Suara Aloe membuat Sbastian terkejut
" Kenapa Aloe "
Sbastian menyeka air matanya
" Ada tamu "
Aloe menunjuk beberapa orang di depan
" Siapa mereka "
Sbastian membenarkan pakaiannya dan menyeka air matanya
" Mereka bilang ingin menjenguk tuan muda"
Aloe menjawab
Sbastian keluar di ikuti Aloe sedangkan Mao tetap di dalam
" Lagardio "
Sbastian terkejut
" Hai... Ketika kami mendengar Sean sakit Ana langsung memintaku meluangkan waktu "
Lagardio menunjuk Ana yang berada di pelukannya
" Boleh ngak Ana masuk "
Ana meminta izin kepada Sbastian
" Boleh "
Sbastian mengangguk
" Aloe antarkan nona muda ini ya "
Sbastian berbalik
" Tapi tuan anda... "
Kalimat Aloe di potong oleh Sbastian
" Aku hanya di depan , aku akan berbicara dengan Lagardio "
Sbastian mengambil Ana dan memberikannya kepada Aloe
" Biar saya saja , Aloe tetap bersama tuan"
Mao tiba-tiba muncul di belakang Aloe
" Mari nona Ana "
Mao membawa ana ke dalam gendongannya dan memberikan Ana pakaian hijau-hijau agar bisa masuk dan menjenguk Sean
" Aku mendengar semuanya , bersabarlah"
Lagardio menepuk pundak Sbastian
" Padahal kami satu mobil , tapi kenapa harus putraku "
Air mata Sbastian luruh kembali
" Hei... Ini sudah kehendak , jangan di buat beban , berdoalah kepada tuhanmu , dia pasti mendengar suaramu "
Lagardio menepuk-nepuk punggung Sbastian
" Ayo duduk "
Lagardio membawa Sbastian duduk di bangku tunggu
" Aku tidak pernah melihatmu hancur seperti ini , jangan buat keluargamu khawatir , kasihan keluargamu jika mereka terkena imbasnya "
Lagardio mengingatkan
" Mama bahkan tidak peduli , biarkan aku sendiri yang merawat Sean , jangan ingatkan apapun "
Sbastian menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya
" Bagaimana dengan paman Sam , dia juga sangat menyayangi Sean "
Lagardio mengingatkan
" Ayah aku suruh istirahat saja , tidak pernah aku izinkan kemari , jika kemari dan melihat Sean seperti ini aku takut papa akan drop kembali seperti kemarin "
Sbastian bercerita bahwa saat melihat Sean di pasangkan banyak alat dan selang pak Sam langsung pingsan , tidak tega melihat cucu kecilnya hingga seperti itu
" Aku dengar kau mau membawanya pulang"
Lagardio mengalihkan pembicaraan
" Iya , aku akan merawatnya di rumah , itu lebih baik "
Sbastian menyeka air matanya
" Untuk keamanannya "
Lagardio
" Aku serahkan kepada Mao , dia dokter pribadi , perawat dan juga pengawal Sean "
Sbastian menunjuk Mao yang memakai pakaian dokter
" Kau membebankan tanggung jawab sebesar itu kepada wanita itu "
Lagardio ternganga tidak percaya
" Dia bukan wanita biasa "
Sbastian menjawab dengan enteng
" Mungkin... Aku tak tau... Tapi itu berbahaya "
Lagardio seakan tidak percaya
" Ini adik sepupunya , jika mau menguji kemampuannya bilang saja "
Sbastian menunjuk Aloe yang berdiri di samping Sbastian
" Anak kecil ini "
Lagardio menatap Aloe tidak percaya
" Terserah kau saja , tapi mereka ini memang sangat kuat "
Sbastian menatap lagardio dengan tatapan mengingatkan
" Baik "
Lagardio berdiri dan berjalan ke hadapan Aloe yang memiliki tinggi sedikit lebih pendek darinya
" Siapa namamu "
Lagardio mencengkram wajah Aloe
" Berapa umurmu "
Lagardio membolak-balik wajah Aloe namun Aloe tidak bergeming dan tidak bergerak
" Jangan mengujinya , tulangmu akan patah nanti "
Sbastian melihat Aloe dan lagardio yang seperti orang semena-mena dan sebuah patung
" Pft..... "
Para penjaga berpakaian hitam yang notabenenya adalah pengawal terbaik lagardio sedikit terkekeh
" Jangan meremehkannya "
Sbastian berdiri dan masuk ke dalam ruang ICU
" Ana "
Sbastian memegang pundak Ana yang sedang duduk di kursi yang tadi di duduki Sbastian
" Iya paman "
Ana menoleh
" Apa Sean meresponmu "
Sbastian berjongkok di samping Ana
" Tidak , dari tadi Sean hanya diam "
Ana terlihat kecewa
" Lihat ini "
Sbastian meletakkan jari telunjuknya di telapak tangan Sean dan Sean merespon , Sean menggenggam jari telunjuk Sean
" Sepertinya Sean melupakanku , Sean hanya merespon paman "
Ana menatap wajah Sean yang terlihat pucat pasih
" Paman kan papanya , jadi itu wajar "
Mao menjelaskan
" Huh... Padahal Ana kesini jenguk Sean , tapi Sean ngak bangun "
Ana mendengus kesal
" Pama juga di sini setiap hari menunggu Sean bangun , tapi Sean belum bangun "
Sbastian mencium tangan Sean
" Iya , Sean nakal deh "
Ana terkekeh
" Iya , dia nakal , padahal papanya di sini , tapi tidak bangun "
Sbastian tersenyum namun air matanya kembali jatuh
" Paman jangan nangis ya , nanti Sean bangun kok , paman ngak boleh nangis "
Ana mengusap air mata Sbastian dengan lengan bajunya
" Hei... Makasih ya "
Sbastian tersenyum
" Sama sama hehehe "
Ana terkekeh
" Lihat lihat , kakak itu membuat papa Ana jatuh "
Ana membuat Sbastian menoleh ke belakang dan terlihat seluruh pengawal Lagardio terikat lalu tangan dan kaki Lagardio sudah terkunci oleh Aloe
" Ayo keluar "
Sbastian melepaskan genggaman Sean dan membawa ana keluar
" Aloe sudah , lepaskan paman itu "
Sbastian menurunkan Ana dan melepaskan pakaian hijau-hijau milik Ana
__ADS_1
" Baik tuan "
Aloe melepaskan Lagardio dan berdiri di samping Sbastian
" Sudah ku bilang kan , jangan mencobanya"
Sbastian membantu Lagardio berdiri
" Ssshhh... Ini sakit , padahal dia tidak memukulku , apa apaan anak itu , padahal badannya kecil "
Lagardio duduk dan menggosok lengannya
" Kakak kakak , kakak hebat lhoooo "
Ana menatap Aloe dengan kagum
" Benarkah , terimakasih "
Aloe berlutut dan tersenyum
" Kakak bisa kalahkan papa Ana , kakak hebat "
Ana memberikan jempolnya
" Papa masa di kalahin sama kakak ini , papa Cemen deh "
Ana memberikan jempol yang mengarah ke bawah kepada Lagardio
*Jeder
Lagardio terkejut melihat putrinya yang lebih suka Aloe
" Hahaha putrimu lebih menyukai Aloe "
Sbastian terkekeh dan menepuk-nepuk punggung Lagardio
" Paman paman , ini namanya kakak siapa "
Ana melompat-lompat kegirangan
" Namanya Aloe "
Sbastian menjawab
" Kak Aloe mau ngelatih Ana biar kayak kakak ngak "
Ana menatap Aloe
" Tapi saya harus menjaga tuan Sbastian , saya tidak bisa melatih anda "
Aloe menjawab dengan lembut
" Yah... Ana kira bisa "
Ana menunduk lesu
" Lagipula anda kan wanita , lebih baik mencari guru wanita , atau anda bisa mencari yang lebih tua dari saya "
Aloe memberi saran
" Kakak benar , aku akan cari guru wanita saja "
Ana membuat keputusan
" Ayo papa kita pulang , Ana akan cari guru wanita , biar bisa pamer ke Sean "
Ana menarik-narik celana papanya
" Lepaskan mereka Aloe "
Sbastian meminta Aloe melepaskan pasukan lagardio yang di ikat dengan erat oleh Aloe
" Baik tuan "
Aloe melepaskan pasukan lagardio
" Kami pulang saudaraku "
Lagardio menepuk punggung Sbastian
" Hati-hati di jalan "
Sbastian mengangguk
Esok harinya Sean sudah bisa di pindahkan agar bisa di rawat di rumah , Mao dan asisten John di bantu asisten Nia sibuk dengan peralatan medis Sean
" Hati hati "
Mao membantu para pekerja memindahkan alat medis Sean melalui lift
" Kakak "
Lili datang dan berlari memeluk Sbastian yang berdiri dengan tatapan kosong melihat para pekerja
" Lili "
Sbastian mengusap kepala liona
" Kakak jangan sedih dong , lili yakin nanti Sean pasti cepet bangun ,kakak jangan kek gini "
Liona mencoba menghibur Sbastian
" Kakak "
Lion datang
" Kemari lion "
Sbastian melambaikan tangannya dan lion mendekat
" Minggu depan kamu akan berangkat "
Sbastian yang masih memeluk liona seorang sekarang menarik lion ke dalam pelukannya
" Kak lion mau berangkat , terus liona sama siapa "
Liona berkata dengan sedih
" Kakak ngak lama kok "
Lion memeluk liona
" Kakak cepet balik ya "
Liona memeluk lion erat
" Kalian cepatlah sembuh "
Sbastian memeluk adik adiknya erat
" Kakak "
" Sbastian "
Pak Sam datang
" Ayo duduk kak "
Lion mendudukkan Sbastian di atas sofa
" Jangan sakit lagi setelah ini "
Sbastian memeluk lion dan liona
" Apa ayah sudah sembuh "
Sbastian menatap pak Sam
" Ayah lebih baik "
Pak Sam tersenyum
" Ntahlah , semuanya seperti ini "
Sbastian menyandarkan kepalanya di bahu liona
" Tuan "
Mao mendekat
" Apa sudah selesai Mao "
Sbastian bangkit
" Sudah tuan , dan tuan Sean sedang dalam perjalanan kesini di kawal oleh banyak orang-orang yang dikirim oleh anda "
Mao memberitahu
" Baiklah "
Sbastian berusaha berdiri di bantu Leon dan berjalan menuju pintu masuk
" Buka lebar-lebar pintunya , putraku pulang"
Sbastian membuat para maid membuka pintu yang besar itu lebar-lebar
Satu jam berlalu namun Sbastian tetap berdiri di pintu masuk tak bergeming menunggu Sean , itu membuat semua orang panik
" Itu mereka "
Mao membuat para staf rumah sakit yang sudah datang sejak tadi untuk bersiap menyambut Sean berlari menuju ambulance melewati Sbastian
Mobil ambulance sudah terparkir rapih di depan pintu kediaman Sbastian
" Hati-hati , awas selangnya "
Para staf mulai sibuk dengan Sean yang memakai selang oksigen
" Jangan sampai terlalu terguncang "
Para staf memastikan Sean tidak terlalu banyak terguncang
" Hai anak papa , kamu sudah pulang , papa menunggumu sejak tadi , kenapa kamu telat "
Sbastian membatin sambil memandangi Sean yang sedang di atasi para staf
Terlihat orang-orang yang berjas hitam berbaris mengelilingi Sean dan para staf seakan melindungi mereka dari amukan masa yang datang
" Rudi "
Sbastian mendekati Rudi yang telah menjadi kepala pemimpin bodyguard Sean
" Salam tuan "
Rudi sedikit membungkuk
" Sebarkan mereka di segala penjuru untuk pergantian aku serahkan padamu "
Sbastian menepuk pundak Rudi
" Saya siap tuan "
Rudi mengangguk
" Salam tuan "
Dua pria berbadan besar dan berpakaian seperti Rudi membungkuk memberi hormat
" Kami semua sudah berkumpul "
Dua pria itu menunjuk anak buah mereka yang berbaris rapih di belakang
" Rudi , ini adalah luga dan Ramlan , mereka rekan rekanmu , jabatannya setara denganmu , apa kalian bertiga melihat wanita berpakaian dokter dan memakai ikat rambut strawberry itu "
Sbastian menunjuk Mao
" Iya tuan "
Mereka bertiga mengangguk
" Dia kepala pimpinan keamanan , jika ada apa-apa diskusikan dengannya "
Sbastian berbalik hendak pergi
" Tunggu tuan "
Ramlan menghentikan langkah Sbastian
" ada apa "
Sbastian menoleh ke belakang
" Apa tuan serius "
Luga mempertanyakan kalimat Sbastian
" Iya , jika tidak percaya datangi dia "
Sbastian meninggalkan mereka bertiga
" Apa yang tuan Sbastian pilih , itu sudah di seleksi terlebih dahulu , jangan ragu "
Rudi membuat seluruh anak buahnya yang kurang lebih tiga puluh orang menyebar di seluruh penjuru rumah dan halaman juga taman belakang
" Apa kalian luga dan Ramlan "
Mao mendekati mereka berdua yang masih berdebat sejak setengah jam yang lalu
__ADS_1
" Iya "
Mereka berdua menjawab dengan angkuh
" Oh... Kata paman Rudi kalian meragukan aku "
Mao bertanya dengan angkuh juga , membalas keangkuhan seseorang yang merasa hebat itu menyenangkan , Mao suka itu
" Apa yang bisa di lakukan wanita "
Luga tersenyum sinis
" Mau mencoba "
Mao menunjukkan genggaman tangannya
" Anak buahku cukup , aku tidak perlu angkat tangan "
Ramlan melipat tangannya di atas dada
" Sungguh mencari masalah kepada orang yang salah "
Para maid yang kebetulan lewat menggelengkan kepalanya
" Aloe , dimana Mao "
Sbastian masuk ke dalam lift di ikuti Aloe
" Senior Mao sedang berkelahi di depan dengan banyak orang yang berpakaian serba hitam "
Mao menunjukkan fotonya
" Kapan kamu memotretnya "
Sbastian melihat potret Mao di handphone Aloe
" Tuan Rudi mengirimkan foto ini beberapa menit yang lalu , mungkin sekarang senior Mao sudah memberi mereka pelajaran "
Aloe menerima kembali hp nya
Sbastian berjalan menelusuri lorong lantai tiga hingga sampai di ujung lorong , di sana ada dua kamar yang berdampingan , satu pintu bergambar ikan dan pintu yang lain bergambar mawar merah
*Ckelek
Sbastian membuka pintu
" Salam tuan "
Para dokter dan staf rumah sakit memberi hormat
" Bagaimana putraku "
Sbastian menghampiri Sean
" Seluruh alatnya sudah terpasang dengan baik "
Para dokter spesialis yang di datangkan Sbastian menjelaskan satu persatu , kira-kira Sbastian mendatangkan dua puluh spesialis dan lebih dari lima belas staf , namun ruangan itu masih terasa luas
" Terimakasih ya , kalian silahkan makan hidangan di bawah yang sudah di siapkan , aku masih ingin di sini "
Sbastian duduk di kursi di samping Sean
" Kami permisi "
Para dokter dan para staf turun ke bawah dan meninggalkan Aloe yang berdiri di samping Sbastian yang menatap Sean sendu
Alat kedokteran Sean ditata serapih mungkin agar Sbastian bisa berbaring di sisi kiri Sean meski Sbastian tidak di perbolehkan untuk memeluk Sean karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk di peluk
" Hai sayang "
Sbastian meletakkan kepalanya di atas tangannya sambil menatap Sean tidak lama air mata Sbastian kembali luruh
" Kenapa kamu tidak kunjung bangun "
Sbastian memejamkan matanya sejenak hingga alarm ibadah ashar membangunkannya
" Papa sholat dulu ya "
Sbastian beranjak dari duduknya dan melaksanakan ibadahnya
Malam harinya Sbastian menunggu Sean sambil mengerjakan tugasnya di sofa kamar rawat Sean di temani Mao dan Aloe
" tuan "
Mao memanggil
" Kami izin untuk istirahat "
Mao meminta izin
" Oh... Astaga aku lupa , aku belum memasangkan tempat tidur untuk kalian di sini "
Sbastian menepuk jidatnya
" Eh... Saya ingin menunjukkan sesuatu"
Mao membuat Sbastian menoleh
" Apa "
Sbastian memiringkan kepalanya
*Syut
Mao dan Aloe berubah menjadi macan putih dengan ukuran tubuh yang agak besar dari macan biasanya
" Lho.. tuan "
Mao tidak melihat Sbastian di sofa yang tadi dia duduki , padahal hanya di tinggal berubah sebentar
" Kak Mao "
Aloe menoel pundak macan Mao membuat Mao menoleh ke belakang
" Pergi atau ku bunuh kalian "
Sbastian terlihat mengacungkan pistol di depan Sean
*Syut
Mao dan Aloe kembali ke bentuk manusia mereka
" Tuan jangan panik , kami di sini dikirim oleh ayah dari pangeran Sean "
Mao menjelaskan
" Aku ayahnya "
Sbastian sudah bersiap menarik pelatuk pistol yang dia bawa
" Nona Alula yang meminta kami menjaga tuan muda "
Aloe memberikan suara
" Kalian para siluman tidak pernah bisa di percaya "
Sbastian mengambil satu pistol lagi dari balik jas nya
" Hana , jiji keluarlah "
Mao berbicara dan membuat dua cahaya keluar dari balik tempat tidur Sean
" Kakek tua , keluarlah "
Mao memanggil kakek tua , dan muncullah kakek tua dan Dragon , si naga murid pak tua
" Ada apa ini "
Pak tua terkejut melihat Sbastian menodongkan sebuah tongkat pendek yang terlihat berbahaya
" Kami adalah orang-orang dari ayah tuan Sean , kami di kirim untuk menjaga tuan Sean , kami akan setia kepada keluarga tuan Sean , jasa kakek dari tuan Sean tidak akan pernah kami lupakan "
Kalimat Mao membuat kakek tua dan Dragon mengerti bahwa Sbastian merasa bahwa mereka ancaman
" Dari mana aku percaya "
Sbastian masih saja menodongkan pistolnya
" Keselamatan keluarga tuan muda adalah prioritas utama kami , perkataan tuan muda adalah mutlak "
Para makhluk itu berlutut di depan Sbastian membuat Sbastian terkejut
" kenapa kalian mau menurutiku "
Sbastian perlahan menurunkan pistolnya
" Anda adalah keluarga tuan muda , tidak mungkin kami melanggar perintah dan janji kami "
Kakek tua berjalan ke depan dan membungkuk tepat di depan Sbastian membuat Sbastian kembali waspada
" Apa buktinya "
Sbastian mulai tenang
" Kami siap mati "
Mereka semua bersujud kepada Sbastian kecuali kakek tua
" saya manusia , saya akan bertanggung jawab atas semuanya , saya sama dengan anda hanya saja saya memiliki sedikit kelebihan "
Kakek tua berdiri
" Kami bersumpah di hadapan tuhan kami , akan selalu setia kepada keluarga tuan muda yang menurut kami baik di mata kami , kami bersumpah "
Mereka semua bersumpah di hadapan Sbastian
" Kalian pikir sumpah itu ringan "
Sbastian menatap mereka sinis
" Jika anda masih perlu bukti , saya akan datangkan "
Mao menutup matanya
" Ayah handa , kakek suku harimau , Mao cucumu membutuhkan kalian "
Mao menggumam
* Crying
Terbuka sebuah pintu gerbang di sudut ruangan , di sana terlihat banyak sekali macam putih yang membuat Sbastian ternganga
" ah... Aku mengerti , apa namamu Sbastian"
Orang tua yang yang memakai jubah compang-camping dengan rambut putih yang panjang berjalan dipapah oleh laki-laki yang lebih muda
" I..iya aku Sbastian "
Sbastian sedikit terkejut
" Hahaha kau sudah sebesar ini , aku ingat saat aku menggendongnya dulu dia mengompol di bajuku "
Kakek tua itu tertawa terbahak bahak
*Tak
Sbastian menjatuhkan pistolnya
" A..an..anda tau masa kecilku "
Sbastian terkejut bukan main
" Aku bahkan membuat ayahmu pingsan saat kau dan saudaramu lahir hahahaha jika tidak maka anak nakal itu akan membuat kerusuhan karena panik hahahaha "
Kakek tua terbahak-bahak membuat semua orang terkejut
" An..anda tau orang tuaku "
Sbastian bergetar
" Belum saatnya kau tau , yang harus kau tau mereka benar-benar setia pada anak laki-laki mu itu "
Kakek tua itu menghentikan tawanya
" Bawa aku kesana anak kecil "
Kakek itu memukul pria di sampingnya
" iya iya "
Pria di sampingnya memapah kakek tua dengan perlahan
" Wah..wah... Kamu memang sudah saatnya istirahat , badan kecilmu belum mampu menanggung beban yang berat "
Kakek tua membuat Sbastian menyingkir dari tempatnya dan duduk di samping Sean
" Kakek ini tidak pernah bertemu denganmu , tapi aku mengenalimu sekali bertemu , cucu cucuku selalu bercerita tentangmu hahaha "
Kakek tua mengusap dahi Sean
" Retakan di kepalanya sudah sembuh , hanya membutuhkan waktu agar dia kembali sadar , dan aku tidak berhak tentang itu , kau harus banyak berdoa "
Kakek tua menepuk pundak Sbastian
" Percayalah kepada mereka , aku yakin pria itu bangga padamu "
Kakek tua kembali di papah menuju gerbang yang ada di sudut ruangan , Sbastian tidak sempat menanyakan semua yang ingin dia tanyakan , ini kejutan besar , khususnya untuk Sbastian
__ADS_1