
" Jawab "
Aine sedikit membentak karena mereka tidak kunjung menjawab
" Kami pengasuh "
Mereka berdua menjawab
" Apa tugas kalian "
Sean bertanya kembali
" Saya pengasuh di siang hari "
Salah satu dari mereka menjawab
" Saya di malam hari "
Yang lain menjawab
" Lalu yang lain tugasnya apa "
Sean menyisihkan beberapa barang dalam satu tempat yang berbeda
*Hening....
Tidak ada yang menjawab
" Kalau begitu kalian semua di pecat "
Sean berkata tapi tangannya masih membersihkan lantai dan barang-barang di bantu Atri
" Kalian dengar , kalian di pecat "
Aine mengulangi kalimat Sean
" Yang mulia , anda gila memecat mereka semua "
Seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengan Aine menjadi terkejut
" Dia ayahku , memang apa salahnya , apalagi kalian semua tidak becus mengerjakan tugas yang di berikan "
Aine berbalik dan membantu Sean membersihkan kamar Neve
*Bruk
Semua pelayan dan pengawal bersujud di tempatnya
" Kami mohon kasihani kami yang mulia...."
Berbagai macam kalimat permohonan untuk Aine terlontar
" Ayah minta ganti dengan pelayan dan pengawal yang lebih berpengalaman "
Sean meletakkan barang-barang kotor di depan kamar mandi
" Aine mengerti ayah "
Aine membungkuk hormat
" Bawa mereka pergi dari sini , jika kau lalai akan ku lepas kepalamu "
Aine mengancam tangan kanannya
" Baik yang mulia yang kejam dan tidak berperasaan "
Tangan kanan Aine memberi hormat
" Apa kau bilang "
Aine menoleh
*Syut
Tangan kanan Aine menghilang
" Dasar bajingan kecil "
Aine berkacak pinggang
*Plak
Sean memukul kepala Aine
" Sakit yah "
Aine memonyongkan bibirnya
" Ada anak-anak "
Sean meninggalkan Aine
Dan Aine yang terlihat sangat menurut dengan Sean membuat para maid dan penjaga yang belum di seret pergi melongo melihat Aine
" Ayah "
Aine memanggil
" Hem... "
Sean menyahuti hanya dengan deheman
" Esok ayah masih di sini kan "
Fleur membuat Sean dan Atri berhenti
" Tidak tau "
Sean melanjutkan bersih bersihnya
" Ayah "
Atri memanggil
" Hem... "
Sean menoleh
" Bagaimana jika besok ayah tiba-tiba pergi"
Atri menatap Sean
" Kalau begitu hari ini akan menjadi hari paling bahagia untuk ayah "
Sean tersenyum
" Ayah "
Suara Neve membuat Sean terkejut
" Ayah akan pergi "
Neve bertanya
" Hem... Ayah tidak tau sayang "
Sean menghampiri Neve
" Kalau besok ayah pergi , boleh Neve tidur dengan ayah hari ini "
Neve meminta
" Ayah akan selalu mendoakan Neve , jangan khawatir "
Sean membawa Neve ke dalam gendongannya
" Benarkah "
Neve memeluk leher Sean
" Benar , kalau begitu malam ini Neve harus tidur di dalam pelukan ayah "
*Srak... Klontang
Ketika Sean membuka tirai , besi dan semua perangkat tirai terlepas dari tempatnya
" Aine "
Sean memanggil
" Aine akan perbaiki , Aine janji "
Suara Aine terdengar meyakinkan
" Ayah tau kamu sudah berkeluarga , tapi setidaknya perhatikan Neve "
Sean mengusap kepala Neve yang terasa menempel di pundaknya
" Maaf ayah , akhir akhir ini kerajaan sedang tidak stabil , Aine minta maaf "
Aine menunduk
" Karena kau mengerjakan semuanya sendiri , coba kerjakan perlahan dan berikan beberapa tugas untuk adik adikmu "
Sean menasehati
" Iya ayah Aine mengerti "
Aine mengangguk
" Ayah , kursinya sudah Atri bersihkan , silahkan duduk "
Atri membawa kursi singgel untuk di duduki Sean
" Kalian pergilah , ayah akan membersihkan ini semua "
Sean memerintahkan
" Atri akan bantu , lagipun anak anak Atri di sini "
Atri kembali memunguti pakaian dan barang-barang
" Aine akan bantu "
Aine mengikuti Atri
" Tapi nanti kakak ipar apa ngak nungguin "
Atri bertanya
" Pergilah "
Sean memerintahkan
" Ayaaaaah "
Terdengar suara anak-anak Aine
" Anak-anak "
Aine terkejut
" Hai kakek "
Kedua anak Aine melambaikan tangannya
" Kalian di sini "
Aine keluar dari kamar Neve
" Ini apa yah "
Anak anak Aine bertanya
" Kamarnya kak Neve "
Aine menjawab
" Lho kok berantakan "
Istri Aine bertanya
" Aku tidak tau sayang , saat ayah kembali ini semua sudah menjadi seperti ini "
Aine memberitahu istrinya
" Ayah "
Istri Aine memiringkan kepalanya
" Iya Bu , itu kakek "
Kedua putra Aine mengangguk
" Bukannya yang mulia raja telah meninggal"
Istri Aine mengerenyitkan keningnya
" Aku akan jelaskan "
Aine membawa istrinya menjauh
" Kakek kakek , aku mau tidur "
Ettoile meminta
" Tidur di mana "
Atri bertanya
" Sama mereka "
Ettoile menunjuk kedua anak Atri
" Iya ayo "
Atri membawa kedua putra Aine naik ke atas peraduan milik Neve
" Malam paman "
Armes menaikkan selimutnya
" Malam pangeran "
Atri tersenyum
" Ayah tidak dingin "
Atri berdiri dan menghampiri Sean
" Tidak "
Sean menjawab
" Jaga Neve "
Sean memberikan Neve yang sudah tertidur ke dalam pelukan Atri
" Ayah mau kemana "
Atri bertanya
" Ada seseorang yang datang "
Sean mengusap kepala Neve dan berjalan keluar
" Ayah kembali kan "
Atri bertanya
" Jika tidak , tolong jaga Neve "
Sean memberikan sebuah senyuman kecil
" Atri mengerti "
Atri mengangguk
*Tap.. tap... Tap...
Sean berjalan menelusuri lorong kediaman Neve dengan langkah yang amat cepat
" Ayah mau kemana "
Suara Aine tidak menghentikan langkah Sean
" Jangan mengikutiku "
*Tap...tap...tap..
Sean berlari meninggalkan Aine
" AYAH "
Aine berteriak memanggil namun Sean tetap berlari
" Aura ini sama dengan orang yang singgah di pintu utama desa Tiger "
Sean berhenti di sebuah taman yang terlihat tidak terawat
" Aku menantimu tuan Sean "
Suara seorang pria tua membuat Sean semakin waspada
" Kau bahkan mengikutiku kemari "
Sean tersenyum sinis
" Ya... Dan bahkan aku mengikutimu yang melintasi ruang dan waktu yang membuat wajahku sedikit keriput "
Suara itu menjawab
" Apa maumu "
*Tap ..tap...tap....
Sean berjalan dan duduk di pinggiran kolam teratai yang terlihat hampir mati
" Sederhana... Berikan aku pecahan batu sihir yang kau punya "
*Syut
Tiba-tiba muncul sebuah siluet hitam di hadapan Sean
" Memang apa yang akan kau gunakan dengan batu sihir ku "
Sean melipat kakinya di tepi kolam
" Tentu saja membangkitkan sesuatu "
Siluet hitam itu duduk di samping Sean
" Memangnya kau bisa cara memakainya "
Sean memejamkan matanya
" Tentu saja bisa "
*Ctas...
Terdengar suara percikan air dari belakang
" Hahaha.... Itu tidak mudah dan lagi itu membutuhkan beberapa sisik naga yang sudah mati ribuan abad yang lalu "
__ADS_1
Sean terkekeh
" Aku tau , dan aku akan kembali memutar jarum jam dan akan ku ambil sisik naga dari zaman yang kau sebut itu "
Siluet itu menjawab dengan enteng
" Hahaha kau pandai melawak HAHAHAHA"
Tawa Sean menggema dan membuat hewan-hewan kecil di sekitar sana menjadi terusik
" Aku serius tau "
*Plak...
Siluet itu memukul lengan Sean
" Haissss... Kau itu berbahaya ya "
Sean memandangi langit malam yang terlihat mengenakan semua perhiasan miliknya
" Ya begitulah , aku bisa mengambil apapun yang kau miliki "
Siluet itu menyombongkan dirinya
" Hahaha memang kau tuhan hahaha "
Sean terbahak-bahak mendengar perkataan siluet itu
" Aku bisa membunuh anak-anak mu sekarang"
*Syut..
Siluet itu melesat meninggalkan Sean
" Jangan harap "
* Syut...
Sean berdiri dan melesat mengikuti langkah siluet itu
Sean berlari dan melompat mengikuti langkah cepat siluet itu yang terlihat menuju kamar tidur Neve
" Kau harus pergi "
*Sring....
Sean mengeluarkan pedangnya dan berlari lebih cepat menyusul langkah siluet itu
" Pergilah BAJING*N "
Sean melompat dan melesat dengan pedangnya yang dia arahkan ke atas leher siluet itu
*Tak... Sring...
Siluet itu menangkis pedang panjang Sean dan menahan pedang pendek yang Sean pegang di tangan kanan
" Pergilah "
Sean mendorong pria itu dan membuat sebuah suara di atas atap yang cukup berisik
" Aku masih belum mendapatkan batu milikku "
*Srrriiiinggg.....
Pedang panjang siluet itu menggesek pedang pendek yang Sean miliki
*Tak...
Akhirnya pedang pendek Sean berakhir di pegangan pedang siluet itu
" Itu bukan milikmu , sebentar lagi itu akan musnah "
*Sring... Tak...
Pedang panjang yang di pegang Sean di ayunkan ke atas dan di tahan oleh sarung pedang milik siluet itu
" Aku akan mencegah agar itu tidak musnah"
*Sring...
Siluet itu mendorong Sean dan berdiri tegak di ujung atap yang cukup lebar
* Tak... Tak...
Sean terdorong mundur sebanyak dua langkah dan berdiri dengan siaga di ujung yang lain
" Kau tidak akan mendapat benda berbahaya itu , pergilah "
*Sring...
Sean memasukkan pedangnya
" Heh... Kau benar , aku tidak bisa mengambil batu itu di sini "
*Sring...
Siluet itu memasukkan pedang
" Aku pergi "
*Syut....
Siluet itu melompati setiap atap dan menghilang di telan kegelapan malam
" Dia akan pergi ke dunia modern , dia akan mengambil semua kesempatan yang ada untuk mencari batu itu "
Sean bergumam
" Kakek... Aku percayakan semua yang di sana kepada mu "
Sean memandangi langit tanpa mengedipkan mata
" Mungkin harus tahajud... Ayo tidur sebentar "
Sean memejamkan matanya
Esok pagi
" Ayah ayah ayah "
Suara teriakan Neve membangunkan Sean yang terlelap beberapa jam yang lalu
" Iya iya "
Sean yang tidur di atas sofa langsung membawa Neve ke dalam dekapannya
" Pagi ayah "
Neve tersenyum lebar hingga menunjukkan satu gigi gingsulnya yang menonjol di bagian kanan
" Pagi Neve "
Sean mengusap matanya
" Ayah masih ngantuk ya "
Neve menyangga kepalanya dengan kedua tangannya
" Iya , ayah baru saja tidur "
Sean mengangguk
" Kalau gitu ayah tidur lagi aja , Neve akan tungguin ayah "
Neve mengusap mata Sean
" Tunggu bentar ya "
Sean memejamkan matanya dan seketika tenggelam di dalam dunia mimpinya
" Ayah ayah "
Terdengar suara Neve tepat di samping telinga Sean
" Iya "
Sean membuka matanya
" Ayah ngak laper "
Neve bertanya
" Emang Neve belum makan "
Sean berbalik dan melihat wajah Neve ada di depannya
" Udah , makanya Neve tanya ke ayah , ayah laper ngak "
Neve kembali bertanya
" Ini udah siang kah "
Sean mengusap kepala Neve
" Bukan ayah "
Neve menggeleng
" Lha terus "
Sean mendudukkan dirinya
" Ini mataharinya mau tenggelam "
Neve menunjuk jendela kamarnya
" Oh... Ayah tidur sangat lama ya , maaf ya "
Sean mengusap kepala Neve
Neve memanjat sofa dan naik ke atas pangkuan Sean
" Iya iya , sekarang kamu sudah mandi "
Sean bertanya
" Sudah tadi siang , tapi sorenya belum "
Neve menggeleng
" Mau mandi dengan ayah "
Sean berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian yang ada di sudut ruangan
" Mau mau "
Neve mengangguk dengan cepat
" Hem... Ayah ingat di sini perlu di siapkan air dan peralatan mandi "
Sean mengambil beberapa kain dari dalam lemari
" Ayah tau ada kakak kakak banyak lho di luar "
Neve memberitahu
" Kakak pelayan "
Sean meletakkan kain yang dia ambil di lantai
" Ngak tau "
Neve menjawab
" Kalau begitu ayah akan siapkan air untuk kita mandi , Neve bantu ya "
Sean menurunkan Neve dari gendongannya
" Iya , ayo ayah kita mandi "
Neve membantu Sean membawa pakaian dan beberapa kain ke dalam kamar mandi
" Mau mandi pakek wangi apa "
Sean berjalan menuju kamar mandi yang berlawanan dengan arah tempat tidur
" Wangi itu apa yah "
Neve bertanya
" Hem.... Nanti ayah tunjukkan "
*Griet....
Sean membuka pintu kamar mandi
*Wush.....
Bak mandi yang terlihat sangat besar kini terlihat kotor dan kosong tanpa air
" Neve "
Sean berjalan dan meletakkan kain yang dia bawa di atas sebuah meja berdebu
" Iya ayah "
Neve mengikuti Sean
" Neve mau bantu bersih-bersih "
Sean menunjuk bak mandinya
" Mau mau "
Neve mengangguk
" Nah... Neve pakai ini "
Sean memakaikan celemek kecil dan ikat kepala merah di atas kepala Neve
" Astaga putraku sangat imut "
Sean memalingkan wajahnya
" Apa ini pa "
Neve memandangi celemek yang di pakaikan Sean
" Ini agar baju Neve gak kotor "
Sean membenarkan ikat kepala Neve
" Tapi nanti kan ganti baju "
Neve memberitahu Sean
" Oh iya.... Yah nanti biar yang nyuci ngak terlalu ngotot hahaha "
Sean tertawa mengingat bajunya yang kotor dulu dan bi Aini benar-benar mencucinya hingga tangan bi Aini keram
" Otot "
Neve memiringkan kepalanya
" Dengar cerita ayah "
Sean mendudukkan dirinya dan membawa Neve ke atas pangkuannya
Flashback
" Bi Aini "
Sean umur empat tahun menghampiri bi Aini
" Iya tuan muda sayang "
Bi Aini yang sibuk memasak hanya menyahuti
" Baju Sean kotor "
Sean menarik rok bi Aini
" Iya nanti biar bibi cuci "
Bi Aini masih tidak menoleh
" Emang bisa di cuci "
Sean bertanya
" Bisa tuan "
Bi Aini masih tidak menoleh
" Eum... Tapi kata paman penjaga , bajunya mungkin ngak bisa di cuci , tapi ini baju kesayangan Sean "
Sean memeluk kaki bi Aini
" Coba bibi lihat "
Bi Aini mematikan kompor dan menoleh
" ASTAGA TUAN MUDA DARI MANA "
Bi Aini terkejut sampai berteriak teriak
" Habis main pohon di belakang "
Sean menjawab
" Pohon apa "
Bi Aini memeriksa pakaian Sean
" Sean cuma main daunnya terus warnanya merah... Terus terus Sean ngak sengaja bikin bajunya kayak gini "
Sean menjelaskan
" Iya ngak papa , biar bibi cucikan , ayo mandi"
Bi Aini mengandeng Sean menuju kamar mandi di dekat dapur
Setelah Sean mandi , Sean hanya memakai handuk di tubuhnya karena pakaian Sean belum datang
" Bisa di cuci ya Bi "
Sean bertanya saat melihat bi Aini menuangkan detergen ke atas baju Sean
" Bisa tuan muda "
Bi Aini tersenyum
" Kalau ngak bisa ngak apa apa kok , nanti tangan bi Aini capek "
Sean yang berdiri di tengah pintu memberitahu
" Bisa tuan muda , hanya saja karena bajunya putih jadi takut nanti malah jadi merah kalau di masukkan ke dalam mesin cuci "
Bi Aini menjelaskan
" Hem.... Maaf ya Bi "
Sean terdengar merasa bersalah
__ADS_1
" Iya tuan muda "
Bi Aini tersenyum
" Kenapa ini "
Terdengar suara Sbastian dari belakang
" Itu papa , Sean ngerusakin baju putih kesukaan Sean "
Sean berbalik dan mengadukan kesalahannya sendiri kepada Sbastian
" Hem... Itu baju putih "
Sbastian melihat bi Aini
" Bi Aini pasti capek .. hiks... Maafin Sean bi"
Sean mengusap air matanya
" Ngak papa tuan muda , beneran "
Bi Aini memberitahu
" Hiks... Maaf bi ... Sean salah... Huaaaaaa"
Sean menangis dan Sbastian menenangkan Sean di dalam pelukannya
End
" Terus bajunya ayah jadi warna apa "
Neve bertanya
" Jadi warna merah , karena bajunya putih dan warna merahnya malah nyebar kemana mana saat di keringkan "
Sean menjawab
" Terus ayah nangis "
Neve memastikan
" Iya , tapi ayah malah suka sama warnanya"
Sean mengangguk
" Ayah dulu nakal ya haha "
Neve terkekeh
" Hahaha anak ayah ini ya "
Sean memeluk dan mencium pipi Neve
" Oh iya ayah , habis bersih-bersih ayo mandi di sungai "
Neve mengajak
" Kalau kita bersih-bersih , nanti selesainya malam , jadi kita mandi di sungai besok "
Sean berdiri dan mengeluarkan banyak alat bersih-bersih dari dimensinya
" Em... Tapi nanti kita telat makan malam sama kakak kakak "
Neve mengingatkan
" Biar saja nanti kita makan sendiri "
Sean memberitahu
" Tapi kalau telat makan malam nanti kita ngak bisa makan "
Neve menunduk
" Kan ada ayah... Neve lupa ya "
Sean tersenyum
" Oh iya , hehe Neve Saaayang ayah "
Neve memeluk kaki Sean
" Hahaha dasar anak ayah "
Sean mengusap kepala Neve
Setelah itu Sean mulai membersihkan bak mandi yang sebesar kolam renang di rumah Adinda
Setelah bebersih
" Ayah... Neve lapar "
Neve memegangi perutnya
" Iya , ayo cari makan di dapur "
Sean melepaskan celemeknya dan celemek milik Neve
" Sekarang dimana dapurnya "
Sean menggendong Neve dan berjalan keluar kamar
" Di sana "
Neve menunjukkan arah dapur di kediamannya
Selama perjalanan , Sean tidak menemukan seorangpun penjaga maupun pelayan yang lewat ataupun berdiri di sana
Setelah beberapa saat berjalan
" Ini dapur "
Sean menunjuk sebuah pintu dari kayu
" Iya "
Neve mengangguk
" Oke ayo masuk "
*Griet....
Sean membuka pintu dapur
" Salam tuan "
Tak di sangka semua pekerja yang ada di sana terkejut dan membungkuk hormat
" Ingat Neva , orang-orang ini bukanlah orang orangmu , lakukan semua sendiri dan jangan biarkan mereka ada di dekatmu "
Sean memberitahu
" Neve mengerti "
Neve mengangguk
Sean mendudukkan Neve di atas meja dan Sean membuka seluruh lemari makanan
" Hem... Tidak ada apapun yang bisa di makan "
Sean menggumam
" Neve mau bantu ayah nyari bahan makanan ngak "
Sean berbalik
" Mau "
Neve mengangguk
" Mungkin karena sudah biasa , jadi dia bisa menahan lapar hingga malam "
Sean membatin
" Kita makan apa "
Neve bertanya
" Kita makan ikan bakar , mau "
Sean menawari
" Mau mau "
Neve mengangguk dengan cepat
" Kita ke sungai "
Sean berjalan keluar sambil menggendong Neve
" Ayah "
Neve memanggil
" hm.. "
*Syut... tap.. tap..
Sean berlari dengan melompati bangunan dan pohon untuk mencari sungai terdekat
" Nanti Neve bisa ngak kayak ayah "
Neve bertanya
" Bisa sayang , asalkan Neve banyak berlatih , Neve bisa kayak ayah "
Sean menjawab
" Kalau Neve ikut ayah boleh ngak "
Sean bertanya
" Itu akan sulit , lagipun dunia kita sudah berbeda "
Sean menjawab
" Padahal Neve mau ikut ayah aja , Neve ngak suka di sini "
Neve memeluk Sean dengan erat
" Setelah ini ayah akan mengajarkan banyak hal untuk Neve , jadi Neve harus mandiri "
Sean berhenti di sebuah ranting pohon
" Belajar apa "
Neve bertanya
" Banyak , nanti ayah juga ajarin pedang "
*Syut... Tap
Sean berhenti di sebuah sungai yang terlihat sangat indah dengan sedikit Kilauan cahaya bulan yang baru datang
" Neve biasa mandi di sini "
Neve memberitahu
" Hem... Kalau gitu kita mandi aja sekalian "
Sean melepaskan pakaian Neve
" Emang ngak papa ayah , kata ayah ini sudah malem "
Neve mengingatkan
" Ayah akan siapkan api unggun , jadi nanti habis mandi kita langsung bisa hangatin tubuh "
Sean memberitahu
" Yeeeey Neve ngak pernah mandi malem hahaha"
*Byur
Neve langsung masuk ke dalam air
" Ayah cari api unggun ya , jangan jauh-jauh"
Sean sedikit berteriak
" Iya "
Neve mengiyakan
Setelah beberapa saat
" Ayah "
Neve melambaikan tangan kepada Sean yang baru datang dengan banyak kayu bakar
" Sudah belum "
Sean menghampiri Neve
" Belum hehe "
Neve menggeleng
" Ayah akan nyalakan api ya "
Sean berbalik dan menatap kayu bakar
" Emang kalau begitu bisa yah "
Neve yang tanpa busana menghampiri Sean
" Bisa dong "
Sean tersenyum
*Ctas
Sean memukulkan dua batu dan api menjadi terpercik lalu membuat kayu dan daun kering di sana terbakar
" Sekarang ayo cari ikan "
Sean menggendong putranya menuju sungai dengan membawa sebuah tongkat kecil
" Kita cari pakai apa yah "
Neve bertanya
" Pakai kayu ini "
Sean menunjukkan tongkat yang dia bawa
" Emang bisa "
Neve memiringkan kepalanya
" Kalau kamu sudah biasa pasti bisa "
Sean tersenyum
Sean melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam sungai yang dingin di ikuti Neve
" Perhatikan ayah "
Sean mencari ikan yang mungkin lewat di sana
*Syut...jlep..
Sean langsung melemparkan kayu lancip miliknya dan saat Sean mengangkatnya terlihat seekor ikan sungai yang cukup besar sudah di tangkapnya
" Cobalah "
Sean melepaskan ikan yang dia punya dan memberikan kayunya kepada Neve
" Ngak bisa "
Neve menggeleng
" Perhatikan ikannya , saat ikannya sudah tenang cobalah melempar tongkatmu sekuat tenaga "
Sean menjelaskan
" Iya "
Neve mengangguk
Saat ikan datang dan terlihat ikan menjadi tenang dan tidak terganggu
*Syut... Byur
Neve terpeleset dan ikannya kabur
" Yaaaaaa... Ikanku hilang "
Neve terlihat kecewa
" Ngak papa , ayo coba lagi "
Sean membuat Neve berdiri dan membiarkan Neve mencoba beberapa kali
Selama Neve mencoba menangkap ikan , Sean menangkap ikan yang lain untuk makan malam
" Ayah aku dapat satu "
Neve memanggil Sean
" Coba ayah lihat "
*Doeng...
Anak ikan kecil tertancap di ujung runcing kayu
" Hebat sekali , nanti kita masak "
Sean mengambil ikan Neve
" Emang bisa di makan "
Neve bertanya
" Bisa dong "
Sean tersenyum
" Neve pikir ngak bisa soalnya ikannya kecil"
" Sekarang ayo naik dulu "
Sean membawa Neve ke atas dan dirinya ikut naik
" Ayah telanjang "
Neve menunjuk Sean
" Hahaha kita kan sama laki-laki jadi ya ngak papa "
Sean tertawa
" Kalo sama perempuan emang ngak boleh ya"
__ADS_1
Neve memperhatikan Sean yang sedang memakai pakaiannya