Aku Pangeran

Aku Pangeran
#124 ( hukuman )


__ADS_3

" Jawab "


Aine sedikit membentak karena mereka tidak kunjung menjawab


" Kami pengasuh "


Mereka berdua menjawab


" Apa tugas kalian "


Sean bertanya kembali


" Saya pengasuh di siang hari "


Salah satu dari mereka menjawab


" Saya di malam hari "


Yang lain menjawab


" Lalu yang lain tugasnya apa "


Sean menyisihkan beberapa barang dalam satu tempat yang berbeda


*Hening....


Tidak ada yang menjawab


" Kalau begitu kalian semua di pecat "


Sean berkata tapi tangannya masih membersihkan lantai dan barang-barang di bantu Atri


" Kalian dengar , kalian di pecat "


Aine mengulangi kalimat Sean


" Yang mulia , anda gila memecat mereka semua "


Seorang laki-laki yang terlihat seumuran dengan Aine menjadi terkejut


" Dia ayahku , memang apa salahnya , apalagi kalian semua tidak becus mengerjakan tugas yang di berikan "


Aine berbalik dan membantu Sean membersihkan kamar Neve


*Bruk


Semua pelayan dan pengawal bersujud di tempatnya


" Kami mohon kasihani kami yang mulia...."


Berbagai macam kalimat permohonan untuk Aine terlontar


" Ayah minta ganti dengan pelayan dan pengawal yang lebih berpengalaman "


Sean meletakkan barang-barang kotor di depan kamar mandi


" Aine mengerti ayah "


Aine membungkuk hormat


" Bawa mereka pergi dari sini , jika kau lalai akan ku lepas kepalamu "


Aine mengancam tangan kanannya


" Baik yang mulia yang kejam dan tidak berperasaan "


Tangan kanan Aine memberi hormat


" Apa kau bilang "


Aine menoleh


*Syut


Tangan kanan Aine menghilang


" Dasar bajingan kecil "


Aine berkacak pinggang


*Plak


Sean memukul kepala Aine


" Sakit yah "


Aine memonyongkan bibirnya


" Ada anak-anak "


Sean meninggalkan Aine


Dan Aine yang terlihat sangat menurut dengan Sean membuat para maid dan penjaga yang belum di seret pergi melongo melihat Aine


" Ayah "


Aine memanggil


" Hem... "


Sean menyahuti hanya dengan deheman


" Esok ayah masih di sini kan "


Fleur membuat Sean dan Atri berhenti


" Tidak tau "


Sean melanjutkan bersih bersihnya


" Ayah "


Atri memanggil


" Hem... "


Sean menoleh


" Bagaimana jika besok ayah tiba-tiba pergi"


Atri menatap Sean


" Kalau begitu hari ini akan menjadi hari paling bahagia untuk ayah "


Sean tersenyum


" Ayah "


Suara Neve membuat Sean terkejut


" Ayah akan pergi "


Neve bertanya


" Hem... Ayah tidak tau sayang "


Sean menghampiri Neve


" Kalau besok ayah pergi , boleh Neve tidur dengan ayah hari ini "


Neve meminta


" Ayah akan selalu mendoakan Neve , jangan khawatir "


Sean membawa Neve ke dalam gendongannya


" Benarkah "


Neve memeluk leher Sean


" Benar , kalau begitu malam ini Neve harus tidur di dalam pelukan ayah "


*Srak... Klontang


Ketika Sean membuka tirai , besi dan semua perangkat tirai terlepas dari tempatnya


" Aine "


Sean memanggil


" Aine akan perbaiki , Aine janji "


Suara Aine terdengar meyakinkan


" Ayah tau kamu sudah berkeluarga , tapi setidaknya perhatikan Neve "


Sean mengusap kepala Neve yang terasa menempel di pundaknya


" Maaf ayah , akhir akhir ini kerajaan sedang tidak stabil , Aine minta maaf "


Aine menunduk


" Karena kau mengerjakan semuanya sendiri , coba kerjakan perlahan dan berikan beberapa tugas untuk adik adikmu "


Sean menasehati


" Iya ayah Aine mengerti "


Aine mengangguk


" Ayah , kursinya sudah Atri bersihkan , silahkan duduk "


Atri membawa kursi singgel untuk di duduki Sean


" Kalian pergilah , ayah akan membersihkan ini semua "


Sean memerintahkan


" Atri akan bantu , lagipun anak anak Atri di sini "


Atri kembali memunguti pakaian dan barang-barang


" Aine akan bantu "


Aine mengikuti Atri


" Tapi nanti kakak ipar apa ngak nungguin "


Atri bertanya


" Pergilah "


Sean memerintahkan


" Ayaaaaah "


Terdengar suara anak-anak Aine


" Anak-anak "


Aine terkejut


" Hai kakek "


Kedua anak Aine melambaikan tangannya


" Kalian di sini "


Aine keluar dari kamar Neve


" Ini apa yah "


Anak anak Aine bertanya


" Kamarnya kak Neve "


Aine menjawab


" Lho kok berantakan "


Istri Aine bertanya


" Aku tidak tau sayang , saat ayah kembali ini semua sudah menjadi seperti ini "


Aine memberitahu istrinya


" Ayah "


Istri Aine memiringkan kepalanya


" Iya Bu , itu kakek "


Kedua putra Aine mengangguk


" Bukannya yang mulia raja telah meninggal"


Istri Aine mengerenyitkan keningnya


" Aku akan jelaskan "


Aine membawa istrinya menjauh


" Kakek kakek , aku mau tidur "


Ettoile meminta


" Tidur di mana "


Atri bertanya


" Sama mereka "


Ettoile menunjuk kedua anak Atri


" Iya ayo "


Atri membawa kedua putra Aine naik ke atas peraduan milik Neve


" Malam paman "


Armes menaikkan selimutnya


" Malam pangeran "


Atri tersenyum


" Ayah tidak dingin "


Atri berdiri dan menghampiri Sean


" Tidak "


Sean menjawab


" Jaga Neve "


Sean memberikan Neve yang sudah tertidur ke dalam pelukan Atri


" Ayah mau kemana "


Atri bertanya


" Ada seseorang yang datang "


Sean mengusap kepala Neve dan berjalan keluar


" Ayah kembali kan "


Atri bertanya


" Jika tidak , tolong jaga Neve "


Sean memberikan sebuah senyuman kecil


" Atri mengerti "


Atri mengangguk


*Tap.. tap... Tap...


Sean berjalan menelusuri lorong kediaman Neve dengan langkah yang amat cepat


" Ayah mau kemana "


Suara Aine tidak menghentikan langkah Sean


" Jangan mengikutiku "


*Tap...tap...tap..


Sean berlari meninggalkan Aine


" AYAH "


Aine berteriak memanggil namun Sean tetap berlari


" Aura ini sama dengan orang yang singgah di pintu utama desa Tiger "


Sean berhenti di sebuah taman yang terlihat tidak terawat


" Aku menantimu tuan Sean "


Suara seorang pria tua membuat Sean semakin waspada


" Kau bahkan mengikutiku kemari "


Sean tersenyum sinis


" Ya... Dan bahkan aku mengikutimu yang melintasi ruang dan waktu yang membuat wajahku sedikit keriput "


Suara itu menjawab


" Apa maumu "


*Tap ..tap...tap....


Sean berjalan dan duduk di pinggiran kolam teratai yang terlihat hampir mati


" Sederhana... Berikan aku pecahan batu sihir yang kau punya "


*Syut


Tiba-tiba muncul sebuah siluet hitam di hadapan Sean


" Memang apa yang akan kau gunakan dengan batu sihir ku "


Sean melipat kakinya di tepi kolam


" Tentu saja membangkitkan sesuatu "


Siluet hitam itu duduk di samping Sean


" Memangnya kau bisa cara memakainya "


Sean memejamkan matanya


" Tentu saja bisa "


*Ctas...


Terdengar suara percikan air dari belakang


" Hahaha.... Itu tidak mudah dan lagi itu membutuhkan beberapa sisik naga yang sudah mati ribuan abad yang lalu "

__ADS_1


Sean terkekeh


" Aku tau , dan aku akan kembali memutar jarum jam dan akan ku ambil sisik naga dari zaman yang kau sebut itu "


Siluet itu menjawab dengan enteng


" Hahaha kau pandai melawak HAHAHAHA"


Tawa Sean menggema dan membuat hewan-hewan kecil di sekitar sana menjadi terusik


" Aku serius tau "


*Plak...


Siluet itu memukul lengan Sean


" Haissss... Kau itu berbahaya ya "


Sean memandangi langit malam yang terlihat mengenakan semua perhiasan miliknya


" Ya begitulah , aku bisa mengambil apapun yang kau miliki "


Siluet itu menyombongkan dirinya


" Hahaha memang kau tuhan hahaha "


Sean terbahak-bahak mendengar perkataan siluet itu


" Aku bisa membunuh anak-anak mu sekarang"


*Syut..


Siluet itu melesat meninggalkan Sean


" Jangan harap "


* Syut...


Sean berdiri dan melesat mengikuti langkah siluet itu


Sean berlari dan melompat mengikuti langkah cepat siluet itu yang terlihat menuju kamar tidur Neve


" Kau harus pergi "


*Sring....


Sean mengeluarkan pedangnya dan berlari lebih cepat menyusul langkah siluet itu


" Pergilah BAJING*N "


Sean melompat dan melesat dengan pedangnya yang dia arahkan ke atas leher siluet itu


*Tak... Sring...


Siluet itu menangkis pedang panjang Sean dan menahan pedang pendek yang Sean pegang di tangan kanan


" Pergilah "


Sean mendorong pria itu dan membuat sebuah suara di atas atap yang cukup berisik


" Aku masih belum mendapatkan batu milikku "


*Srrriiiinggg.....


Pedang panjang siluet itu menggesek pedang pendek yang Sean miliki


*Tak...


Akhirnya pedang pendek Sean berakhir di pegangan pedang siluet itu


" Itu bukan milikmu , sebentar lagi itu akan musnah "


*Sring... Tak...


Pedang panjang yang di pegang Sean di ayunkan ke atas dan di tahan oleh sarung pedang milik siluet itu


" Aku akan mencegah agar itu tidak musnah"


*Sring...


Siluet itu mendorong Sean dan berdiri tegak di ujung atap yang cukup lebar


* Tak... Tak...


Sean terdorong mundur sebanyak dua langkah dan berdiri dengan siaga di ujung yang lain


" Kau tidak akan mendapat benda berbahaya itu , pergilah "


*Sring...


Sean memasukkan pedangnya


" Heh... Kau benar , aku tidak bisa mengambil batu itu di sini "


*Sring...


Siluet itu memasukkan pedang


" Aku pergi "


*Syut....


Siluet itu melompati setiap atap dan menghilang di telan kegelapan malam


" Dia akan pergi ke dunia modern , dia akan mengambil semua kesempatan yang ada untuk mencari batu itu "


Sean bergumam


" Kakek... Aku percayakan semua yang di sana kepada mu "


Sean memandangi langit tanpa mengedipkan mata


" Mungkin harus tahajud... Ayo tidur sebentar "


Sean memejamkan matanya


Esok pagi


" Ayah ayah ayah "


Suara teriakan Neve membangunkan Sean yang terlelap beberapa jam yang lalu


" Iya iya "


Sean yang tidur di atas sofa langsung membawa Neve ke dalam dekapannya


" Pagi ayah "


Neve tersenyum lebar hingga menunjukkan satu gigi gingsulnya yang menonjol di bagian kanan


" Pagi Neve "


Sean mengusap matanya


" Ayah masih ngantuk ya "


Neve menyangga kepalanya dengan kedua tangannya


" Iya , ayah baru saja tidur "


Sean mengangguk


" Kalau gitu ayah tidur lagi aja , Neve akan tungguin ayah "


Neve mengusap mata Sean


" Tunggu bentar ya "


Sean memejamkan matanya dan seketika tenggelam di dalam dunia mimpinya


" Ayah ayah "


Terdengar suara Neve tepat di samping telinga Sean


" Iya "


Sean membuka matanya


" Ayah ngak laper "


Neve bertanya


" Emang Neve belum makan "


Sean berbalik dan melihat wajah Neve ada di depannya


" Udah , makanya Neve tanya ke ayah , ayah laper ngak "


Neve kembali bertanya


" Ini udah siang kah "


Sean mengusap kepala Neve


" Bukan ayah "


Neve menggeleng


" Lha terus "


Sean mendudukkan dirinya


" Ini mataharinya mau tenggelam "


Neve menunjuk jendela kamarnya


" Oh... Ayah tidur sangat lama ya , maaf ya "


Sean mengusap kepala Neve


Neve memanjat sofa dan naik ke atas pangkuan Sean


" Iya iya , sekarang kamu sudah mandi "


Sean bertanya


" Sudah tadi siang , tapi sorenya belum "


Neve menggeleng


" Mau mandi dengan ayah "


Sean berdiri dan berjalan menuju lemari pakaian yang ada di sudut ruangan


" Mau mau "


Neve mengangguk dengan cepat


" Hem... Ayah ingat di sini perlu di siapkan air dan peralatan mandi "


Sean mengambil beberapa kain dari dalam lemari


" Ayah tau ada kakak kakak banyak lho di luar "


Neve memberitahu


" Kakak pelayan "


Sean meletakkan kain yang dia ambil di lantai


" Ngak tau "


Neve menjawab


" Kalau begitu ayah akan siapkan air untuk kita mandi , Neve bantu ya "


Sean menurunkan Neve dari gendongannya


" Iya , ayo ayah kita mandi "


Neve membantu Sean membawa pakaian dan beberapa kain ke dalam kamar mandi


" Mau mandi pakek wangi apa "


Sean berjalan menuju kamar mandi yang berlawanan dengan arah tempat tidur


" Wangi itu apa yah "


Neve bertanya


" Hem.... Nanti ayah tunjukkan "


*Griet....


Sean membuka pintu kamar mandi


*Wush.....


Bak mandi yang terlihat sangat besar kini terlihat kotor dan kosong tanpa air


" Neve "


Sean berjalan dan meletakkan kain yang dia bawa di atas sebuah meja berdebu


" Iya ayah "


Neve mengikuti Sean


" Neve mau bantu bersih-bersih "


Sean menunjuk bak mandinya


" Mau mau "


Neve mengangguk


" Nah... Neve pakai ini "


Sean memakaikan celemek kecil dan ikat kepala merah di atas kepala Neve


" Astaga putraku sangat imut "


Sean memalingkan wajahnya


" Apa ini pa "


Neve memandangi celemek yang di pakaikan Sean


" Ini agar baju Neve gak kotor "


Sean membenarkan ikat kepala Neve


" Tapi nanti kan ganti baju "


Neve memberitahu Sean


" Oh iya.... Yah nanti biar yang nyuci ngak terlalu ngotot hahaha "


Sean tertawa mengingat bajunya yang kotor dulu dan bi Aini benar-benar mencucinya hingga tangan bi Aini keram


" Otot "


Neve memiringkan kepalanya


" Dengar cerita ayah "


Sean mendudukkan dirinya dan membawa Neve ke atas pangkuannya


Flashback


" Bi Aini "


Sean umur empat tahun menghampiri bi Aini


" Iya tuan muda sayang "


Bi Aini yang sibuk memasak hanya menyahuti


" Baju Sean kotor "


Sean menarik rok bi Aini


" Iya nanti biar bibi cuci "


Bi Aini masih tidak menoleh


" Emang bisa di cuci "


Sean bertanya


" Bisa tuan "


Bi Aini masih tidak menoleh


" Eum... Tapi kata paman penjaga , bajunya mungkin ngak bisa di cuci , tapi ini baju kesayangan Sean "


Sean memeluk kaki bi Aini


" Coba bibi lihat "


Bi Aini mematikan kompor dan menoleh


" ASTAGA TUAN MUDA DARI MANA "


Bi Aini terkejut sampai berteriak teriak


" Habis main pohon di belakang "


Sean menjawab


" Pohon apa "


Bi Aini memeriksa pakaian Sean


" Sean cuma main daunnya terus warnanya merah... Terus terus Sean ngak sengaja bikin bajunya kayak gini "


Sean menjelaskan


" Iya ngak papa , biar bibi cucikan , ayo mandi"


Bi Aini mengandeng Sean menuju kamar mandi di dekat dapur


Setelah Sean mandi , Sean hanya memakai handuk di tubuhnya karena pakaian Sean belum datang


" Bisa di cuci ya Bi "


Sean bertanya saat melihat bi Aini menuangkan detergen ke atas baju Sean


" Bisa tuan muda "


Bi Aini tersenyum


" Kalau ngak bisa ngak apa apa kok , nanti tangan bi Aini capek "


Sean yang berdiri di tengah pintu memberitahu


" Bisa tuan muda , hanya saja karena bajunya putih jadi takut nanti malah jadi merah kalau di masukkan ke dalam mesin cuci "


Bi Aini menjelaskan


" Hem.... Maaf ya Bi "


Sean terdengar merasa bersalah

__ADS_1


" Iya tuan muda "


Bi Aini tersenyum


" Kenapa ini "


Terdengar suara Sbastian dari belakang


" Itu papa , Sean ngerusakin baju putih kesukaan Sean "


Sean berbalik dan mengadukan kesalahannya sendiri kepada Sbastian


" Hem... Itu baju putih "


Sbastian melihat bi Aini


" Bi Aini pasti capek .. hiks... Maafin Sean bi"


Sean mengusap air matanya


" Ngak papa tuan muda , beneran "


Bi Aini memberitahu


" Hiks... Maaf bi ... Sean salah... Huaaaaaa"


Sean menangis dan Sbastian menenangkan Sean di dalam pelukannya


End


" Terus bajunya ayah jadi warna apa "


Neve bertanya


" Jadi warna merah , karena bajunya putih dan warna merahnya malah nyebar kemana mana saat di keringkan "


Sean menjawab


" Terus ayah nangis "


Neve memastikan


" Iya , tapi ayah malah suka sama warnanya"


Sean mengangguk


" Ayah dulu nakal ya haha "


Neve terkekeh


" Hahaha anak ayah ini ya "


Sean memeluk dan mencium pipi Neve


" Oh iya ayah , habis bersih-bersih ayo mandi di sungai "


Neve mengajak


" Kalau kita bersih-bersih , nanti selesainya malam , jadi kita mandi di sungai besok "


Sean berdiri dan mengeluarkan banyak alat bersih-bersih dari dimensinya


" Em... Tapi nanti kita telat makan malam sama kakak kakak "


Neve mengingatkan


" Biar saja nanti kita makan sendiri "


Sean memberitahu


" Tapi kalau telat makan malam nanti kita ngak bisa makan "


Neve menunduk


" Kan ada ayah... Neve lupa ya "


Sean tersenyum


" Oh iya , hehe Neve Saaayang ayah "


Neve memeluk kaki Sean


" Hahaha dasar anak ayah "


Sean mengusap kepala Neve


Setelah itu Sean mulai membersihkan bak mandi yang sebesar kolam renang di rumah Adinda


Setelah bebersih


" Ayah... Neve lapar "


Neve memegangi perutnya


" Iya , ayo cari makan di dapur "


Sean melepaskan celemeknya dan celemek milik Neve


" Sekarang dimana dapurnya "


Sean menggendong Neve dan berjalan keluar kamar


" Di sana "


Neve menunjukkan arah dapur di kediamannya


Selama perjalanan , Sean tidak menemukan seorangpun penjaga maupun pelayan yang lewat ataupun berdiri di sana


Setelah beberapa saat berjalan


" Ini dapur "


Sean menunjuk sebuah pintu dari kayu


" Iya "


Neve mengangguk


" Oke ayo masuk "


*Griet....


Sean membuka pintu dapur


" Salam tuan "


Tak di sangka semua pekerja yang ada di sana terkejut dan membungkuk hormat


" Ingat Neva , orang-orang ini bukanlah orang orangmu , lakukan semua sendiri dan jangan biarkan mereka ada di dekatmu "


Sean memberitahu


" Neve mengerti "


Neve mengangguk


Sean mendudukkan Neve di atas meja dan Sean membuka seluruh lemari makanan


" Hem... Tidak ada apapun yang bisa di makan "


Sean menggumam


" Neve mau bantu ayah nyari bahan makanan ngak "


Sean berbalik


" Mau "


Neve mengangguk


" Mungkin karena sudah biasa , jadi dia bisa menahan lapar hingga malam "


Sean membatin


" Kita makan apa "


Neve bertanya


" Kita makan ikan bakar , mau "


Sean menawari


" Mau mau "


Neve mengangguk dengan cepat


" Kita ke sungai "


Sean berjalan keluar sambil menggendong Neve


" Ayah "


Neve memanggil


" hm.. "


*Syut... tap.. tap..


Sean berlari dengan melompati bangunan dan pohon untuk mencari sungai terdekat


" Nanti Neve bisa ngak kayak ayah "


Neve bertanya


" Bisa sayang , asalkan Neve banyak berlatih , Neve bisa kayak ayah "


Sean menjawab


" Kalau Neve ikut ayah boleh ngak "


Sean bertanya


" Itu akan sulit , lagipun dunia kita sudah berbeda "


Sean menjawab


" Padahal Neve mau ikut ayah aja , Neve ngak suka di sini "


Neve memeluk Sean dengan erat


" Setelah ini ayah akan mengajarkan banyak hal untuk Neve , jadi Neve harus mandiri "


Sean berhenti di sebuah ranting pohon


" Belajar apa "


Neve bertanya


" Banyak , nanti ayah juga ajarin pedang "


*Syut... Tap


Sean berhenti di sebuah sungai yang terlihat sangat indah dengan sedikit Kilauan cahaya bulan yang baru datang


" Neve biasa mandi di sini "


Neve memberitahu


" Hem... Kalau gitu kita mandi aja sekalian "


Sean melepaskan pakaian Neve


" Emang ngak papa ayah , kata ayah ini sudah malem "


Neve mengingatkan


" Ayah akan siapkan api unggun , jadi nanti habis mandi kita langsung bisa hangatin tubuh "


Sean memberitahu


" Yeeeey Neve ngak pernah mandi malem hahaha"


*Byur


Neve langsung masuk ke dalam air


" Ayah cari api unggun ya , jangan jauh-jauh"


Sean sedikit berteriak


" Iya "


Neve mengiyakan


Setelah beberapa saat


" Ayah "


Neve melambaikan tangan kepada Sean yang baru datang dengan banyak kayu bakar


" Sudah belum "


Sean menghampiri Neve


" Belum hehe "


Neve menggeleng


" Ayah akan nyalakan api ya "


Sean berbalik dan menatap kayu bakar


" Emang kalau begitu bisa yah "


Neve yang tanpa busana menghampiri Sean


" Bisa dong "


Sean tersenyum


*Ctas


Sean memukulkan dua batu dan api menjadi terpercik lalu membuat kayu dan daun kering di sana terbakar


" Sekarang ayo cari ikan "


Sean menggendong putranya menuju sungai dengan membawa sebuah tongkat kecil


" Kita cari pakai apa yah "


Neve bertanya


" Pakai kayu ini "


Sean menunjukkan tongkat yang dia bawa


" Emang bisa "


Neve memiringkan kepalanya


" Kalau kamu sudah biasa pasti bisa "


Sean tersenyum


Sean melepaskan pakaiannya dan masuk ke dalam sungai yang dingin di ikuti Neve


" Perhatikan ayah "


Sean mencari ikan yang mungkin lewat di sana


*Syut...jlep..


Sean langsung melemparkan kayu lancip miliknya dan saat Sean mengangkatnya terlihat seekor ikan sungai yang cukup besar sudah di tangkapnya


" Cobalah "


Sean melepaskan ikan yang dia punya dan memberikan kayunya kepada Neve


" Ngak bisa "


Neve menggeleng


" Perhatikan ikannya , saat ikannya sudah tenang cobalah melempar tongkatmu sekuat tenaga "


Sean menjelaskan


" Iya "


Neve mengangguk


Saat ikan datang dan terlihat ikan menjadi tenang dan tidak terganggu


*Syut... Byur


Neve terpeleset dan ikannya kabur


" Yaaaaaa... Ikanku hilang "


Neve terlihat kecewa


" Ngak papa , ayo coba lagi "


Sean membuat Neve berdiri dan membiarkan Neve mencoba beberapa kali


Selama Neve mencoba menangkap ikan , Sean menangkap ikan yang lain untuk makan malam


" Ayah aku dapat satu "


Neve memanggil Sean


" Coba ayah lihat "


*Doeng...


Anak ikan kecil tertancap di ujung runcing kayu


" Hebat sekali , nanti kita masak "


Sean mengambil ikan Neve


" Emang bisa di makan "


Neve bertanya


" Bisa dong "


Sean tersenyum


" Neve pikir ngak bisa soalnya ikannya kecil"


" Sekarang ayo naik dulu "


Sean membawa Neve ke atas dan dirinya ikut naik


" Ayah telanjang "


Neve menunjuk Sean


" Hahaha kita kan sama laki-laki jadi ya ngak papa "


Sean tertawa


" Kalo sama perempuan emang ngak boleh ya"

__ADS_1


Neve memperhatikan Sean yang sedang memakai pakaiannya


__ADS_2