Aku Pangeran

Aku Pangeran
#83 ( Examiner )


__ADS_3

" Masih tidak berhenti Mao "


Sean menyeka hidungnya dengan lengan handuk kimono ya


" Darahnya sudah tidak terlalu banyak , ini akan segera berhenti tuan "


Mao mengambil tisu dan mengusap darah Sean


" Saya akan menyiapkan kantong darah anda "


Mao membawa Sean ke dalam kamar mandi dan mengusap mimisan Sean dengan handuk coklat basah hingga mimisan Sean benar-benar berhenti


" Saya akan mencuci handuk anda nanti , anda gantilah pakaian dulu "


Mao memberikan celana dan kaos oblong putih


" Saya akan keluar "


Mao mengusap kembali bekas mimisan Sean yang masih ada di pipi dan berlalu keluar


" Perih sekali hidungku "


Sean melepas handuk kimononya dan membasuh diri dengan air dari shower , setelah itu memakai pakaian dan mencuci kain kain yang terkena mimisannya


" Baru kali ini badanku benar-benar lemas "


Sean menggantung handuknya dengan asal asalan dan keluar dari kamar mandi


" Mao , bisakah kamu ambilkan makanan , apapun itu , badanku benar-benar lemas sekali "


Sean memijit kepalanya dan menyandarkan punggungnya


" Saya pasangkan dulu kantong darah anda"


Mao memasangkan selang transfusi darah kepada Sean dan mengangkat Sean ke atas tempat tidur


" Anda istirahatlah dulu , saya akan mengambilkan makanan dan susu "


Mao memeriksa kantong darah Sean sekali lagi dan berlalu meninggalkan Sean menuju dapur


" Huft... Sakit sekali hidungku "


Sean memijit perlahan hidungnya yang terasa perih


Tidak lama Mao masuk membawa satu piring makanan dan segelas susu hangat


" Apa kamu bertemu seseorang di dapur "


Sean bertanya dengan lirih


" Saya bertemu tuan Sbastian , beliau bertanya tentang anda , lalu saya jawab anda sudah tidur , setelah itu baru saya ambilkan makanan dan susu "


Mao meletakkan nampan di atas nakas


" Saya suapi ya tuan "


Mao duduk di samping Sean


" Aku bisa sendiri "


Sean menolak


Mao membantu Sean untuk duduk dan meletakkan nampan meja di depan Sean


" Terimakasih Mao "


Sean tersenyum


Setelah makan , Sean beristirahat sejenak hingga jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam


" Mao "


Sean memanggil


" Iya tuan "


Mao mendekat


" Bisakah kamu berjaga di pintu , aku khawatir jika papa datang "


Sean memerintahkan


" Baik tuan "


Mao keluar dan berjaga di depan pintu


" tapi tuan mau apa "


Mao menyeret karpet bulu menuju pintu


" Aku ingin mengerjakan tugas "


Sean naik ke atas kursi roda dan melakukannya sambil membawa tower tempat meletakkan kantung darah miliknya menuju meja belajar


" Tapi tuan... "


Mao mencoba menghentikan Sean


" Mao... "


Sean menaikkan alisnya


" Baik tuan "


Mao menjadi macan dan merebahkan dirinya di atas karpet bulu kesukaannya


Semalaman Sean mengerjakan banyak sekali berkas-berkas kantor yang menumpuk dan berserakan hingga Mao menghentikan Sean pada pukul tiga pagi


" Kenapa Mao "


Sean menoleh


" Tuan Sbastian sudah bangun , sekarang tuan Sbastian masuk ke dalam kamar nona Aniel "


Mao membuat Sean terkejut


" Bantu aku Mao , cepat "


Sean menatap dan memasukkan semua berkas ke dalam laci dan menyingkirkan selang juga kantong transfusi darah Sean


" Ayo Mao "


Sean melajukan kursi rodanya menuju tempat tidur dan Mao membaringkan Sean di atas tempat tidur


" Tangan anda tuan "


Mao memasang hansaplas di bekas tangan jarum di tangan Sean


" Cepat keluar Mao "


Sean menaikkan selimutnya


Mao menuju balkon dan keluar tanpa lupa menutup pintu balkon


*Ckelek


Pintu terbuka


" Tatak "


( Kakak )


Suara Aniel memasuki pendengaran


" Papa sama Aniel nih "


Sean membatin


" Tatak tatak "


( Kakak kakak )


Suara Aniel semakin keras


" Tatak tatak tatak "


( Kakak kakak kakak )


Suara Aniel membuat Sean mengerenyitkan keningnya , suaranya nyaring dan melengking memekakkan telinga Sean


*Grep


Sesuatu memegang tangan Sean


" Aniel "


Sean membuka matanya dan melihat Aniel di depannya sedang memegang pisau


" PAPAAAA PAPAAAAAA "


Sean berteriak dan menarik dirinya mundur


" Kakiku bergerak "


Sean melihat kakinya bisa di gerakkan dengan normal


" Ada apa "


Sean terkejut


" Tidak mungkin ini mimpi "


Sean berlari menuju pintu


" Pintunya tidak bisa di buka , bangun Sean bangun "


Sean menepuk-nepuk pipinya dengan keras


" Tatak "


Terdengar suara Aniel yang lain , suara yang dikenali Sean


" Aniel "


Sean melihat Aniel di atas tempat tidur sedang di peluk oleh bintang


" Lalu dia siapa "


Sean mengerenyitkan keningnya melihat Aniel yang perlahan berubah menjadi pucat dengan rupa yang buruk


*Jlep


Terlihat punggung bintang di tusuk tusuk oleh Aniel jelek dan Aniel yang asli di peluk oleh bintang


" Ini mimpi , mimpi "


Sean berlari menendang punggung Aniel jelek hingga membuat Aniel jelek terpental


" Punggungmu berdarah "


Begitu Sean menyentuh punggung bintang , punggung bintang kembali seperti semula


" Aku baik-baik saja "


Bintang mundur ke belakang dan memeluk Aniel erat


" Jaga Aniel "


Sean berdiri di depan bintang


" Tatak "


Aniel menatap Sean namun memeluk erat bintang


" Jangan takut , ada kak bintang "


Bintang menutup mata Aniel


" Aku harus segera bangun "


Sean berdiri dengan tegak di depan Aniel jelek


" Kyahahaha "


Aniel jelek menjadi lebih jelek dari sebelumnya


" Memang iblis "


Sean menendang kepala Aniel jelek hingga putus


* Slup


Hitam semua pandangan Sean


" Papa "


Sean membuka matanya


" Tuan , anda mengigau "


Mao berlutut di samping Sean


" Ini makanan anda , sudah saya bilang tuan , anda istirahat saja , mengapa anda malah ke meja belajar "


Mao memberikan satu porsi nasi dan segelas susu hangat


" Ini pukul berapa Mao "


Sean menoleh


" Masih pukul delapan malam tuan "


Mao menunjuk jam dinding


" hm... Aku mimpi , tapi tadi nyata sekali "


Sean membatin


" Mari istirahat tuan , saya bantu "


Mao berdiri


" Aku makan di sini saja "


Sean menghentikan Mao


" Apa yang kau bawa "


Sean menerima seporsi makanan


" Saya membawakan stek untuk anda , dan juga menyiapkan nasi "


Mao menyiapkan makanan Sean


" Ini susu vanila "


Mao memletakkan semua yang di bawa di atas meja belajar Sean


" aku akan makan , kalau kamu mau melakukan sesuatu tinggalkan saja aku "


Sean mulai berdoa dan memakan hidangannya


" Saya akan berjaga di luar , akan saya ingatkan nanti jika sudah memasuki tengah malam "


Mao meninggalkan Sean


" Sepertinya harus mengerjakan semua sebelum Mao masuk "


Sean cepat-cepat memakan makanannya


Setelah menghabiskan makan malamnya , Sean membuka satu persatu berkas yang menggunung di hadapannya


" Tuan "


Mao masuk


" Kenapa Mao "


Sean menoleh


" Ada beberapa orang di bawah yang menunggu anda , mereka memakai setelan kantor "


Mao membuat Sean mengerenyitkan keningnya


" Apa tidak mencari papa "


Sean memastikan


" Beliau bilang mencari tuan besar Sean "


Mao membuat Sean terlihat berpikir


" Berapa orang "


Sean melajukan kursi rodanya


" Hanya tiga orang tuan "


Mao membukakan pintu


" Apa papa tau "


Sean berhenti di depan pintu kamar Sbastian


" Tidak tuan , tuan Sbastian tidak tau apapun "

__ADS_1


Mao menjawab


* Ting


Lift terbuka dan Sean masuk ke dalam lift


" Apa salah satu dari fefteen trust "


Sean memaksudkan ke-lima belas tangan kanannya


" Tidak salah satu dari mereka "


Mao menggeleng


*Ting


Lift terbuka


" Mereka ada di ruang tamu "


Mao mengikuti Sean


" Pimpin jalan "


Sean membuat Mao berjalan di depannya


" Bagaimana dengan CCTV nya "


Sean melihat ke arah CCTV


" Sudah saya alihkan tuan "


Mao menjawab


" Permisi tuan "


Mao membuat ketiga orang di ruang tamu berdiri


" Salam tuan besar Sean "


Dua orang membungkuk hormat namun salah satu dari mereka tersenyum


" Paman "


Sean terkejut


" Paman , Sean merindukanmu "


Sean merentangkan tangannya


" Paman juga merindukanmu "


Pria itu memeluk Sean dengan erat


" Bagaimana keadaanmu bos kecil "


Paman itu mencolek hidung Sean


" Baik paman "


Sean mengangguk


" Lalu bagaimana dengan kakimu ini "


Paman menepuk paha Sean pelan


" lebih baik paman , Sean sudah meminum penawar racun buatan Mao "


Sean menunjuk Mao


" Hm... Sepertinya Mao ini belum pernah paman temui "


Paman berdiri


" Ini adalah pengasuh , penjaga , dokter sekaligus teman dekat Sean "


Sean membuat Mao tersenyum


" Perkenalkan dirimu "


Sean memerintahkan


" Mao "


Mao menyodorkan tangannya


" Kelvin "


Paman itu menyebutkan namanya


" Namanya unik "


Paman terkekeh


" Namanya Maozi Azalea "


Sean membuat paman mengangguk


" Kita bisa bicara di lab saja "


Sean tersenyum


" Baiklah pangeran kecil , sesuai keinginanmu "


Paman membawa Sean ke dalam gendongannya


" Mari saya antarkan "


Mao memimpin jalan


Lab berada di luar rumah impian Adinda , rumah yang lumayan besar di samping kanan rumah impian Adinda yang terhubung dengan pintu rahasia di balik pepohonan besar di halaman rumah


" Hm... Anda benar-benar misterius bos kecil "


Kelvin mengagumi desain tempat persembunyian Sean


" Terimakasih tuan hahaha "


Sean terkekeh


" Tuan muda "


Terlihat Rudi dan luga menghampiri Sean , tidak lama pimpinan enam dan lima menghampiri Sean


" Paman jangan katakan apapun pada papa , ini pamannya Sean "


Sean tersenyum


" Tapi tuan , anda... "


Luga hendak berbicara namun Sean menghentikan


" Paman , tolong jangan bilang ke papa , minta teman-teman paman juga ya "


Sean mengedipkan matanya


" Huh... Aku tidak pernah bisa menolak permintaan tuan muda "


Luga menghentakkan kakinya


" Hehehe , makasih paman , sayang deh "


Sean terkekeh


" Tapi tuan muda ini mau kemana "


Rudi menaikkan alisnya


" Sean mau kesana , rahasiakan ya paman paman sekalian "


Sean tersenyum manis


" Siap tuan muda "


Semuanya menjawab dengan serempak


"Sssttttt nanti papa bangun "


Sean meletakkan telunjuknya di bibirnya


" Hahahaha "


Para penjaga terkekeh


" Babay paman paman "


Sean melambaikan tangannya


" Tatak "


( Kakak )


" Astaga Aniel , aduh gimana ini "


Sean menggaruk kepalanya


" Nona muda "


Lao memanggil dan Aniel menoleh ke belakang


" Ayo ayo cepat tuan "


Mao memberi kode


" Nona muda melihat apa "


Lao berlutut di hadapan Aniel


" Tatak "


( Kakak )


Aniel berbalik dan menunjuk halaman


" Lho tatak di itu "


( Lho kakak tadi di situ )


Aniel memperhatikan sekeliling dan tidak melihat apapun


" Tidak ada siapapun nona , coba anda perhatikan "


Lao membawa Aniel ke dalam gendongannya


" Eh... Ya , dak da "


( Eh... Iya ngak ada )


Aniel terlihat berpikir


" Pi di eil iat "


( Tapi tadi Aniel lihat )


Aniel Keukeh


" Tapi tidak ada siapapun "


Lao melompat turun ke bawah sambil menggendong Aniel


" Di nini , da tatak "


( Tadi di sini , ada kakak )


Aniel menunjuk tempat Lao berdiri


" Benar-benar gadis kecil yang jeli "


Kelvin mengagumi Aniel


" Dia namanya Alinda yang sering Sean ceritakan , dia anaknya cerdas , tapi karena masih kecil dia sering membuat masalah karena kecerdasannya "


Sean membuat Kelvin kembali mengagumi Aniel


" Ayo paman kita masuk "


Sean menunjuk Mao yang sudah berjalan terlebih dahulu bersama kedua pria yang tadi bersama Kelvin


Kelvin


Pria muda yang sangat dekat dengan Sean saat di Swiss , kira kira masih berumur dua puluh lima tahun


Tanpa sepengetahuan Sbastian , Sean yang menjalankan usaha di bantu beberapa orang kepercayaan dan salah satunya adalah Kelvin


" paman "


Sean menyandarkan kepalanya di atas bahu Kelvin


" Kamu mengantuk "


Kelvin membeli kepala Sean


" Sean tiba-tiba pusing "


Sean membuat Mao berbalik


" Mari saya periksa tuan "


Mao mengambil alih Sean


Mereka semua masuk melalui pintu depan dan duduk di atas sofa


" Salam tuan "


Banyak orang di sana membungkuk hormat saat Sean masuk


" Jangan ganggu tuan , tuan sedang lelah "


Mao menghentikan mereka yang hendak memberikan beberapa laporan


Mao duduk di sofa bersama Kelvin dan kedua anak buahnya


" Tuan , sudah saya bilang anda harus istirahat "


Mao mengomeli Sean


" Mao.. diam aaah "


Sean duduk di atas pangkuan Mao


" Hahaha kemarilah , paman sangat merindukanmu"


Kelvin mengambil alih Sean


" Aku lapar "


Sean memegangi perutnya


" Kalian dengar , ambilkan makanan dan segelas susu "


Mao berdiri dan beberapa orang berlari ke dapur


Rumah di sini adalah lab penelitian Sean yang di gunakan meneliti berbagai produk makanan dan obat perusahaan


" Apa kakek tidak pernah kemari "


Kelvin bertanya kepada Sean


" Kakek jarang sekali kesini , apalagi sekarang kakek harus banyak istirahat , papa tiap hari mengomel karena kakek yang selalu saja bersih-bersih dan masak , kata papa kakek itu nakal "


Sean membuat Kelvin tertawa


" Ini makanannya tuan "


Para pelayan memberikan satu porsi makanan dan segelas susu


" Ini obat penambah darah untuk anda "


Mao memberikan kapsul penambah darah


Setelah Sean makan di atas pangkuan Kelvin , Sean menandatangani banyak sekali berkas-berkas persetujuan untuk pemeriksaan lebih lanjut tentang beberapa produk makanan dan minuman baru yang akan di ajukan ke BPOM esok


" Apa sudah selesai "


Sean meletakkan penanya


" Ini untuk pameran desain pakaian baru yang akan di adakan Minggu depan "


Sean di berikan beberapa desain pakaian


" Siapa yang akan mewakili "


Sean meletakkan beberapa kertas yang di pegangnya


" Yang akan berangkat nyonya Alisya dan nyonya Rena "


Mereka menjawab


" Telfon mereka berdua "


Sean berbicara dengan nada sedikit tersimpan rasa ketersinggungan yang besar


" Sebenarnya ada masalah apa hingga kau marah kepada mereka seperti ini "


Kelvin membuat Sean meliriknya

__ADS_1


" Mereka menyinggungku , aku tidak suka , seakan-akan mereka ini mampu segalanya seorang diri , aku muak dengan orang-orang seperti itu "


Sean mengalihkan pandangannya


" Kau tidak bisa memaafkan mereka "


Kelvin bertanya


" Hm.. aku masih marah "


Sean melipat tangannya di atas dada


" Bagaimanapun kau memang anak kecil yang lucu hahaha "


Kelvin tertawa dan memeluk Sean dengan erat


" Paman tch.. aku jijik tau "


Sean menjauhkan wajah Kelvin yang hendak mencium pipinya


" hahaha sini kamu "


Kelvin bercanda dengan Sean hingga mengundang gelak tawa orang-orang di sana


Di lab terdapat kurang lebih dua puluh orang yang di sebut examiner yang berarti penguji , mereka tau tentang Sean dan sebagian yang Sean lakukan


Para examiner masuk dengan ujian-ujian yang sudah di tentukan oleh Sean dalam skala tertentu hingga bisa masuk dalam kategori Examiner


" Tuan muda , ini sudah tersambung dengan nyonya Alisya dan nyonya Rena "


Salah satu dari mereka meletakkan hologram di atas meja


" Ini sudah dalam mode penyamaran "


Mao memberikan mikrofon penyamaran kepada Sean


" Salam tuan "


Terlihat mereka berdua ada di dalam ruang kerja mereka


" Aku dengar kalian yang akan mewakili pertunjukan dress Minggu depan "


Sean berbicara dengan tenang


" Iya tuan , kami yang akan pergi "


Alisya mengangguk


" Apa kalian yang mengubah konsep yang aku tentukan untuk hal ini "


Sean membuat mereka berdua terkejut


" Tidak tuan , kami mengikuti arahan tuan , kami minta maaf atas kejadian yang terakhir kalinya "


Alisya dan Rena terlihat membungkukkan badan


" ini kesempatan terakhir kalian , aku tidak ingin ada orang orang yang tidak pernah bisa di percaya "


Sean membuat mereka berdua terkejut


" Kami mengerti tuan , kami akan melakukannya dengan sebaik mungkin "


Mereka berdua terlihat senang


" Ingat , ini terakhir kalinya aku memberi kesempatan kepada kalian , jangan mengecewakanku , apa kalian mengerti "


Sean membuat mereka tersenyum lebar


" Kami benar-benar berterimakasih , kami akan melakukan yang terbaik "


Alisya mengangguk dengan antusias


" Kami minta maaf hiks... Kami bersalah hiks... "


Rena terlihat menangis terisak


" saya..hiks.. akan berusaha hiks.. "


Rena menyeka air matanya yang mengalir dengan deras


" Hei "


Sean membuat mereka berdua menoleh


" Berjuanglah.. aaarrrgggg aku masih lapar"


Sean membuat mereka yang ada di sana tertawa


" Kalian makanlah , dan tidur sana , aku mau puding Mao "


Sean memerintahkan kepada kedua wanita yang sedang meneleponnya


" Terimakasih tuan "


Mereka berdua membungkuk dan Sean mematikan sambungannya


" Mao , ayo kembali , urusan di sini sudah selesai , paman cuma rindu kan , kalau begitu Sean mau balik lalu tidur "


Sean mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Mao menggendongnya


" Hei aku punya laporan tau "


Kelvin menahan Sean


" Laporan apa sih paman "


Sean menatap Kelvin malas


" Besok kamu terapi kan "


Kelvin melepaskan mikrofon Sean


" Lalu "


Sean memiringkan kepalanya


" Lihat ini "


Kelvin mengambil kertas yang berisikan beberapa laporan


" Apa ini paman "


Sean menatap Kelvin dengan tatapan penasaran


" Lihat aja , jangan kayak di pilm-pilm ga jelas "


Kelvin mengusap mata Sean


" Hehehe "


Sean cengengesan


Sean membuka dan membaca berkas yang di bawa Kelvin


" Kapan ini paman "


Sean menutup berkas yang dia baca


" Esok , paman sudah mengatur beberapa pengawasan dan keamanan , jangan sampai ketiga pengawal kalian meninggalkan masing-masing dari kalian "


Kelvin mengingatkan


" Iya paman "


Sean mengangguk


" Paman akan ada di sekitar kalian , kamu sebaiknya mengikuti rencana paman , paman sudah menyusunnya di sini "


Kelvin memberikan satu buku kecil kepada Sean


" Terimakasih , Sean juga akan menyiapkan sesuatu "


Sean menerima buku dari Kelvin


" Ayo kita kembali , kamu harus istirahat "


Kelvin berdiri


" Selamat kembali tuan "


Para Examiner membungkuk hormat


Di gerbang utama


" Paman hati-hati ya , Sean akan merindukan paman "


Sean memeluk Kelvin


" Paman tidak mau bertemu kakek dulu "


Sean menawari


" Paman akan bertemu kakek jika sudah saatnya , kamu jaga kakek ya , jangan sampai kakek kelelahan "


Kelvin mencium pipi Sean yang terlihat sedikit tirus


" iya paman "


Sean memeluk Kelvin


" Hati-hati paman "


Sean melambaikan tangannya hingga mobil Kelvin benar-benar menghilang dari pandangan


" Apa papa masih istirahat "


Sean bertanya


" Tuan masih istirahat , belum beranjak dari tempatnya "


Mao menjawab


" Ayo kembali , beberapa berkas sudah menungguku "


Sean kembali ke kamar dan mengerjakan beberapa berkas kantor yang tersisa


Waktu menunjukkan pukul dua belas malam


" Tuan , ini sudah lewat tengah malam , anda sebaiknya istirahat sebentar "


Mao mengingatkan


" Aku selesai "


Sean menutup berkas-berkasnya dan merapihkan semua di dalam kotak yang siap di kirim untuk kantor pusat


" Mari saya bantu "


Mao mengangkat Sean dari kursi rodanya dan membaringkannya di atas tempat tidur


* Cklek


Pintu terbuka


" Papa "


Sean terkejut


" Kamu belum tidur "


Sbastian menghampiri Sean


" Eh... Itu tadi "


Sean gelagapan


" Tuan muda dari kamar mandi , tuan muda baru saja selesai buang air besar "


Mao membantu menjelaskan


" Oh.. papa kira belum tidur "


Sbastian duduk di samping Sean


" Kamu bisa pergi "


Sbastian mengisyaratkan kepada Mao


" saya permisi "


Mao keluar dari kamar Sean


" Papa "


Sean memegang lengan Sbastian


" Kenapa hm.. kamu terlihat sedikit pucat , dan kenapa lampu kamar tidak di matikan "


Sbastian memperhatikan bahwa kamar Sean masih terang benderang


" Ini gara-gara papa masuknya terlalu cepat , coba kalau nanti , kan Sean udah tidur "


Sean membatin


" Sean tadi tidur di temani Mao , Sean mimpi buruk , papa bawa Sean ke kamar papa aja , Sean takut "


Sean memeluk tangan Sbastian yang ada di sampingnya


" Apa kamu masih memikirkan kejadian tadi"


Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya


" Sean takut "


Sean memeluk Sbastian erat


" Kalau gitu kita tidur dengan adik saja "


Sbastian berdiri


" Tunggu papa "


Sean menghentikan


" Kenapa "


Sbastian menaikkan alisnya


" Lumba-lumba Sean ketinggalan "


Sean menunjuk boneka Lumba-lumbanya yang ada di atas tempat tidur


" Wah.. ternyata anak papa masih suka dengan boneka "


Sbastian mengambil Lumba-lumba Sean dan membawanya keluar menuju kamarnya


" Iya "


Sean mengangguk


" Lihat adek , lelap banget "


Sbastian meletakkan Sean di samping Aniel


" Sean mau tidur di tengah , jangan pergi pa"


Sean menahan tangan Sbastian


" Kenapa "


Sbastian mengusap keringat Sean


" Sean takut , jangan pergi pa "


Sean menahan Sbastian


" Sayang , papa mau ke kamar mandi sebentar "


Sbastian berdiri dan meninggalkan Sean


*Tuuut


Sean menyalakan jam tangannya


Masangger


___________


Anda:


Diablo ✓✓


Diablo:


Siap tuan ✓✓


Diablo membalas dengan cepat


Anda:


Apa kau tau rencana untuk esok ✓✓


Diablo:


Tuan Kelvin sudah menghubungi kami , kami akan bersiap ✓✓

__ADS_1


_______


__ADS_2