
" Masih tidak berhenti Mao "
Sean menyeka hidungnya dengan lengan handuk kimono ya
" Darahnya sudah tidak terlalu banyak , ini akan segera berhenti tuan "
Mao mengambil tisu dan mengusap darah Sean
" Saya akan menyiapkan kantong darah anda "
Mao membawa Sean ke dalam kamar mandi dan mengusap mimisan Sean dengan handuk coklat basah hingga mimisan Sean benar-benar berhenti
" Saya akan mencuci handuk anda nanti , anda gantilah pakaian dulu "
Mao memberikan celana dan kaos oblong putih
" Saya akan keluar "
Mao mengusap kembali bekas mimisan Sean yang masih ada di pipi dan berlalu keluar
" Perih sekali hidungku "
Sean melepas handuk kimononya dan membasuh diri dengan air dari shower , setelah itu memakai pakaian dan mencuci kain kain yang terkena mimisannya
" Baru kali ini badanku benar-benar lemas "
Sean menggantung handuknya dengan asal asalan dan keluar dari kamar mandi
" Mao , bisakah kamu ambilkan makanan , apapun itu , badanku benar-benar lemas sekali "
Sean memijit kepalanya dan menyandarkan punggungnya
" Saya pasangkan dulu kantong darah anda"
Mao memasangkan selang transfusi darah kepada Sean dan mengangkat Sean ke atas tempat tidur
" Anda istirahatlah dulu , saya akan mengambilkan makanan dan susu "
Mao memeriksa kantong darah Sean sekali lagi dan berlalu meninggalkan Sean menuju dapur
" Huft... Sakit sekali hidungku "
Sean memijit perlahan hidungnya yang terasa perih
Tidak lama Mao masuk membawa satu piring makanan dan segelas susu hangat
" Apa kamu bertemu seseorang di dapur "
Sean bertanya dengan lirih
" Saya bertemu tuan Sbastian , beliau bertanya tentang anda , lalu saya jawab anda sudah tidur , setelah itu baru saya ambilkan makanan dan susu "
Mao meletakkan nampan di atas nakas
" Saya suapi ya tuan "
Mao duduk di samping Sean
" Aku bisa sendiri "
Sean menolak
Mao membantu Sean untuk duduk dan meletakkan nampan meja di depan Sean
" Terimakasih Mao "
Sean tersenyum
Setelah makan , Sean beristirahat sejenak hingga jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam
" Mao "
Sean memanggil
" Iya tuan "
Mao mendekat
" Bisakah kamu berjaga di pintu , aku khawatir jika papa datang "
Sean memerintahkan
" Baik tuan "
Mao keluar dan berjaga di depan pintu
" tapi tuan mau apa "
Mao menyeret karpet bulu menuju pintu
" Aku ingin mengerjakan tugas "
Sean naik ke atas kursi roda dan melakukannya sambil membawa tower tempat meletakkan kantung darah miliknya menuju meja belajar
" Tapi tuan... "
Mao mencoba menghentikan Sean
" Mao... "
Sean menaikkan alisnya
" Baik tuan "
Mao menjadi macan dan merebahkan dirinya di atas karpet bulu kesukaannya
Semalaman Sean mengerjakan banyak sekali berkas-berkas kantor yang menumpuk dan berserakan hingga Mao menghentikan Sean pada pukul tiga pagi
" Kenapa Mao "
Sean menoleh
" Tuan Sbastian sudah bangun , sekarang tuan Sbastian masuk ke dalam kamar nona Aniel "
Mao membuat Sean terkejut
" Bantu aku Mao , cepat "
Sean menatap dan memasukkan semua berkas ke dalam laci dan menyingkirkan selang juga kantong transfusi darah Sean
" Ayo Mao "
Sean melajukan kursi rodanya menuju tempat tidur dan Mao membaringkan Sean di atas tempat tidur
" Tangan anda tuan "
Mao memasang hansaplas di bekas tangan jarum di tangan Sean
" Cepat keluar Mao "
Sean menaikkan selimutnya
Mao menuju balkon dan keluar tanpa lupa menutup pintu balkon
*Ckelek
Pintu terbuka
" Tatak "
( Kakak )
Suara Aniel memasuki pendengaran
" Papa sama Aniel nih "
Sean membatin
" Tatak tatak "
( Kakak kakak )
Suara Aniel semakin keras
" Tatak tatak tatak "
( Kakak kakak kakak )
Suara Aniel membuat Sean mengerenyitkan keningnya , suaranya nyaring dan melengking memekakkan telinga Sean
*Grep
Sesuatu memegang tangan Sean
" Aniel "
Sean membuka matanya dan melihat Aniel di depannya sedang memegang pisau
" PAPAAAA PAPAAAAAA "
Sean berteriak dan menarik dirinya mundur
" Kakiku bergerak "
Sean melihat kakinya bisa di gerakkan dengan normal
" Ada apa "
Sean terkejut
" Tidak mungkin ini mimpi "
Sean berlari menuju pintu
" Pintunya tidak bisa di buka , bangun Sean bangun "
Sean menepuk-nepuk pipinya dengan keras
" Tatak "
Terdengar suara Aniel yang lain , suara yang dikenali Sean
" Aniel "
Sean melihat Aniel di atas tempat tidur sedang di peluk oleh bintang
" Lalu dia siapa "
Sean mengerenyitkan keningnya melihat Aniel yang perlahan berubah menjadi pucat dengan rupa yang buruk
*Jlep
Terlihat punggung bintang di tusuk tusuk oleh Aniel jelek dan Aniel yang asli di peluk oleh bintang
" Ini mimpi , mimpi "
Sean berlari menendang punggung Aniel jelek hingga membuat Aniel jelek terpental
" Punggungmu berdarah "
Begitu Sean menyentuh punggung bintang , punggung bintang kembali seperti semula
" Aku baik-baik saja "
Bintang mundur ke belakang dan memeluk Aniel erat
" Jaga Aniel "
Sean berdiri di depan bintang
" Tatak "
Aniel menatap Sean namun memeluk erat bintang
" Jangan takut , ada kak bintang "
Bintang menutup mata Aniel
" Aku harus segera bangun "
Sean berdiri dengan tegak di depan Aniel jelek
" Kyahahaha "
Aniel jelek menjadi lebih jelek dari sebelumnya
" Memang iblis "
Sean menendang kepala Aniel jelek hingga putus
* Slup
Hitam semua pandangan Sean
" Papa "
Sean membuka matanya
" Tuan , anda mengigau "
Mao berlutut di samping Sean
" Ini makanan anda , sudah saya bilang tuan , anda istirahat saja , mengapa anda malah ke meja belajar "
Mao memberikan satu porsi nasi dan segelas susu hangat
" Ini pukul berapa Mao "
Sean menoleh
" Masih pukul delapan malam tuan "
Mao menunjuk jam dinding
" hm... Aku mimpi , tapi tadi nyata sekali "
Sean membatin
" Mari istirahat tuan , saya bantu "
Mao berdiri
" Aku makan di sini saja "
Sean menghentikan Mao
" Apa yang kau bawa "
Sean menerima seporsi makanan
" Saya membawakan stek untuk anda , dan juga menyiapkan nasi "
Mao menyiapkan makanan Sean
" Ini susu vanila "
Mao memletakkan semua yang di bawa di atas meja belajar Sean
" aku akan makan , kalau kamu mau melakukan sesuatu tinggalkan saja aku "
Sean mulai berdoa dan memakan hidangannya
" Saya akan berjaga di luar , akan saya ingatkan nanti jika sudah memasuki tengah malam "
Mao meninggalkan Sean
" Sepertinya harus mengerjakan semua sebelum Mao masuk "
Sean cepat-cepat memakan makanannya
Setelah menghabiskan makan malamnya , Sean membuka satu persatu berkas yang menggunung di hadapannya
" Tuan "
Mao masuk
" Kenapa Mao "
Sean menoleh
" Ada beberapa orang di bawah yang menunggu anda , mereka memakai setelan kantor "
Mao membuat Sean mengerenyitkan keningnya
" Apa tidak mencari papa "
Sean memastikan
" Beliau bilang mencari tuan besar Sean "
Mao membuat Sean terlihat berpikir
" Berapa orang "
Sean melajukan kursi rodanya
" Hanya tiga orang tuan "
Mao membukakan pintu
" Apa papa tau "
Sean berhenti di depan pintu kamar Sbastian
" Tidak tuan , tuan Sbastian tidak tau apapun "
__ADS_1
Mao menjawab
* Ting
Lift terbuka dan Sean masuk ke dalam lift
" Apa salah satu dari fefteen trust "
Sean memaksudkan ke-lima belas tangan kanannya
" Tidak salah satu dari mereka "
Mao menggeleng
*Ting
Lift terbuka
" Mereka ada di ruang tamu "
Mao mengikuti Sean
" Pimpin jalan "
Sean membuat Mao berjalan di depannya
" Bagaimana dengan CCTV nya "
Sean melihat ke arah CCTV
" Sudah saya alihkan tuan "
Mao menjawab
" Permisi tuan "
Mao membuat ketiga orang di ruang tamu berdiri
" Salam tuan besar Sean "
Dua orang membungkuk hormat namun salah satu dari mereka tersenyum
" Paman "
Sean terkejut
" Paman , Sean merindukanmu "
Sean merentangkan tangannya
" Paman juga merindukanmu "
Pria itu memeluk Sean dengan erat
" Bagaimana keadaanmu bos kecil "
Paman itu mencolek hidung Sean
" Baik paman "
Sean mengangguk
" Lalu bagaimana dengan kakimu ini "
Paman menepuk paha Sean pelan
" lebih baik paman , Sean sudah meminum penawar racun buatan Mao "
Sean menunjuk Mao
" Hm... Sepertinya Mao ini belum pernah paman temui "
Paman berdiri
" Ini adalah pengasuh , penjaga , dokter sekaligus teman dekat Sean "
Sean membuat Mao tersenyum
" Perkenalkan dirimu "
Sean memerintahkan
" Mao "
Mao menyodorkan tangannya
" Kelvin "
Paman itu menyebutkan namanya
" Namanya unik "
Paman terkekeh
" Namanya Maozi Azalea "
Sean membuat paman mengangguk
" Kita bisa bicara di lab saja "
Sean tersenyum
" Baiklah pangeran kecil , sesuai keinginanmu "
Paman membawa Sean ke dalam gendongannya
" Mari saya antarkan "
Mao memimpin jalan
Lab berada di luar rumah impian Adinda , rumah yang lumayan besar di samping kanan rumah impian Adinda yang terhubung dengan pintu rahasia di balik pepohonan besar di halaman rumah
" Hm... Anda benar-benar misterius bos kecil "
Kelvin mengagumi desain tempat persembunyian Sean
" Terimakasih tuan hahaha "
Sean terkekeh
" Tuan muda "
Terlihat Rudi dan luga menghampiri Sean , tidak lama pimpinan enam dan lima menghampiri Sean
" Paman jangan katakan apapun pada papa , ini pamannya Sean "
Sean tersenyum
" Tapi tuan , anda... "
Luga hendak berbicara namun Sean menghentikan
" Paman , tolong jangan bilang ke papa , minta teman-teman paman juga ya "
Sean mengedipkan matanya
" Huh... Aku tidak pernah bisa menolak permintaan tuan muda "
Luga menghentakkan kakinya
" Hehehe , makasih paman , sayang deh "
Sean terkekeh
" Tapi tuan muda ini mau kemana "
Rudi menaikkan alisnya
" Sean mau kesana , rahasiakan ya paman paman sekalian "
Sean tersenyum manis
" Siap tuan muda "
Semuanya menjawab dengan serempak
"Sssttttt nanti papa bangun "
Sean meletakkan telunjuknya di bibirnya
" Hahahaha "
Para penjaga terkekeh
" Babay paman paman "
Sean melambaikan tangannya
" Tatak "
( Kakak )
" Astaga Aniel , aduh gimana ini "
Sean menggaruk kepalanya
" Nona muda "
Lao memanggil dan Aniel menoleh ke belakang
" Ayo ayo cepat tuan "
Mao memberi kode
" Nona muda melihat apa "
Lao berlutut di hadapan Aniel
" Tatak "
( Kakak )
Aniel berbalik dan menunjuk halaman
" Lho tatak di itu "
( Lho kakak tadi di situ )
Aniel memperhatikan sekeliling dan tidak melihat apapun
" Tidak ada siapapun nona , coba anda perhatikan "
Lao membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Eh... Ya , dak da "
( Eh... Iya ngak ada )
Aniel terlihat berpikir
" Pi di eil iat "
( Tapi tadi Aniel lihat )
Aniel Keukeh
" Tapi tidak ada siapapun "
Lao melompat turun ke bawah sambil menggendong Aniel
" Di nini , da tatak "
( Tadi di sini , ada kakak )
Aniel menunjuk tempat Lao berdiri
" Benar-benar gadis kecil yang jeli "
Kelvin mengagumi Aniel
" Dia namanya Alinda yang sering Sean ceritakan , dia anaknya cerdas , tapi karena masih kecil dia sering membuat masalah karena kecerdasannya "
Sean membuat Kelvin kembali mengagumi Aniel
" Ayo paman kita masuk "
Sean menunjuk Mao yang sudah berjalan terlebih dahulu bersama kedua pria yang tadi bersama Kelvin
Kelvin
Pria muda yang sangat dekat dengan Sean saat di Swiss , kira kira masih berumur dua puluh lima tahun
Tanpa sepengetahuan Sbastian , Sean yang menjalankan usaha di bantu beberapa orang kepercayaan dan salah satunya adalah Kelvin
" paman "
Sean menyandarkan kepalanya di atas bahu Kelvin
" Kamu mengantuk "
Kelvin membeli kepala Sean
" Sean tiba-tiba pusing "
Sean membuat Mao berbalik
" Mari saya periksa tuan "
Mao mengambil alih Sean
Mereka semua masuk melalui pintu depan dan duduk di atas sofa
" Salam tuan "
Banyak orang di sana membungkuk hormat saat Sean masuk
" Jangan ganggu tuan , tuan sedang lelah "
Mao menghentikan mereka yang hendak memberikan beberapa laporan
Mao duduk di sofa bersama Kelvin dan kedua anak buahnya
" Tuan , sudah saya bilang anda harus istirahat "
Mao mengomeli Sean
" Mao.. diam aaah "
Sean duduk di atas pangkuan Mao
" Hahaha kemarilah , paman sangat merindukanmu"
Kelvin mengambil alih Sean
" Aku lapar "
Sean memegangi perutnya
" Kalian dengar , ambilkan makanan dan segelas susu "
Mao berdiri dan beberapa orang berlari ke dapur
Rumah di sini adalah lab penelitian Sean yang di gunakan meneliti berbagai produk makanan dan obat perusahaan
" Apa kakek tidak pernah kemari "
Kelvin bertanya kepada Sean
" Kakek jarang sekali kesini , apalagi sekarang kakek harus banyak istirahat , papa tiap hari mengomel karena kakek yang selalu saja bersih-bersih dan masak , kata papa kakek itu nakal "
Sean membuat Kelvin tertawa
" Ini makanannya tuan "
Para pelayan memberikan satu porsi makanan dan segelas susu
" Ini obat penambah darah untuk anda "
Mao memberikan kapsul penambah darah
Setelah Sean makan di atas pangkuan Kelvin , Sean menandatangani banyak sekali berkas-berkas persetujuan untuk pemeriksaan lebih lanjut tentang beberapa produk makanan dan minuman baru yang akan di ajukan ke BPOM esok
" Apa sudah selesai "
Sean meletakkan penanya
" Ini untuk pameran desain pakaian baru yang akan di adakan Minggu depan "
Sean di berikan beberapa desain pakaian
" Siapa yang akan mewakili "
Sean meletakkan beberapa kertas yang di pegangnya
" Yang akan berangkat nyonya Alisya dan nyonya Rena "
Mereka menjawab
" Telfon mereka berdua "
Sean berbicara dengan nada sedikit tersimpan rasa ketersinggungan yang besar
" Sebenarnya ada masalah apa hingga kau marah kepada mereka seperti ini "
Kelvin membuat Sean meliriknya
__ADS_1
" Mereka menyinggungku , aku tidak suka , seakan-akan mereka ini mampu segalanya seorang diri , aku muak dengan orang-orang seperti itu "
Sean mengalihkan pandangannya
" Kau tidak bisa memaafkan mereka "
Kelvin bertanya
" Hm.. aku masih marah "
Sean melipat tangannya di atas dada
" Bagaimanapun kau memang anak kecil yang lucu hahaha "
Kelvin tertawa dan memeluk Sean dengan erat
" Paman tch.. aku jijik tau "
Sean menjauhkan wajah Kelvin yang hendak mencium pipinya
" hahaha sini kamu "
Kelvin bercanda dengan Sean hingga mengundang gelak tawa orang-orang di sana
Di lab terdapat kurang lebih dua puluh orang yang di sebut examiner yang berarti penguji , mereka tau tentang Sean dan sebagian yang Sean lakukan
Para examiner masuk dengan ujian-ujian yang sudah di tentukan oleh Sean dalam skala tertentu hingga bisa masuk dalam kategori Examiner
" Tuan muda , ini sudah tersambung dengan nyonya Alisya dan nyonya Rena "
Salah satu dari mereka meletakkan hologram di atas meja
" Ini sudah dalam mode penyamaran "
Mao memberikan mikrofon penyamaran kepada Sean
" Salam tuan "
Terlihat mereka berdua ada di dalam ruang kerja mereka
" Aku dengar kalian yang akan mewakili pertunjukan dress Minggu depan "
Sean berbicara dengan tenang
" Iya tuan , kami yang akan pergi "
Alisya mengangguk
" Apa kalian yang mengubah konsep yang aku tentukan untuk hal ini "
Sean membuat mereka berdua terkejut
" Tidak tuan , kami mengikuti arahan tuan , kami minta maaf atas kejadian yang terakhir kalinya "
Alisya dan Rena terlihat membungkukkan badan
" ini kesempatan terakhir kalian , aku tidak ingin ada orang orang yang tidak pernah bisa di percaya "
Sean membuat mereka berdua terkejut
" Kami mengerti tuan , kami akan melakukannya dengan sebaik mungkin "
Mereka berdua terlihat senang
" Ingat , ini terakhir kalinya aku memberi kesempatan kepada kalian , jangan mengecewakanku , apa kalian mengerti "
Sean membuat mereka tersenyum lebar
" Kami benar-benar berterimakasih , kami akan melakukan yang terbaik "
Alisya mengangguk dengan antusias
" Kami minta maaf hiks... Kami bersalah hiks... "
Rena terlihat menangis terisak
" saya..hiks.. akan berusaha hiks.. "
Rena menyeka air matanya yang mengalir dengan deras
" Hei "
Sean membuat mereka berdua menoleh
" Berjuanglah.. aaarrrgggg aku masih lapar"
Sean membuat mereka yang ada di sana tertawa
" Kalian makanlah , dan tidur sana , aku mau puding Mao "
Sean memerintahkan kepada kedua wanita yang sedang meneleponnya
" Terimakasih tuan "
Mereka berdua membungkuk dan Sean mematikan sambungannya
" Mao , ayo kembali , urusan di sini sudah selesai , paman cuma rindu kan , kalau begitu Sean mau balik lalu tidur "
Sean mengangkat tangannya mengisyaratkan agar Mao menggendongnya
" Hei aku punya laporan tau "
Kelvin menahan Sean
" Laporan apa sih paman "
Sean menatap Kelvin malas
" Besok kamu terapi kan "
Kelvin melepaskan mikrofon Sean
" Lalu "
Sean memiringkan kepalanya
" Lihat ini "
Kelvin mengambil kertas yang berisikan beberapa laporan
" Apa ini paman "
Sean menatap Kelvin dengan tatapan penasaran
" Lihat aja , jangan kayak di pilm-pilm ga jelas "
Kelvin mengusap mata Sean
" Hehehe "
Sean cengengesan
Sean membuka dan membaca berkas yang di bawa Kelvin
" Kapan ini paman "
Sean menutup berkas yang dia baca
" Esok , paman sudah mengatur beberapa pengawasan dan keamanan , jangan sampai ketiga pengawal kalian meninggalkan masing-masing dari kalian "
Kelvin mengingatkan
" Iya paman "
Sean mengangguk
" Paman akan ada di sekitar kalian , kamu sebaiknya mengikuti rencana paman , paman sudah menyusunnya di sini "
Kelvin memberikan satu buku kecil kepada Sean
" Terimakasih , Sean juga akan menyiapkan sesuatu "
Sean menerima buku dari Kelvin
" Ayo kita kembali , kamu harus istirahat "
Kelvin berdiri
" Selamat kembali tuan "
Para Examiner membungkuk hormat
Di gerbang utama
" Paman hati-hati ya , Sean akan merindukan paman "
Sean memeluk Kelvin
" Paman tidak mau bertemu kakek dulu "
Sean menawari
" Paman akan bertemu kakek jika sudah saatnya , kamu jaga kakek ya , jangan sampai kakek kelelahan "
Kelvin mencium pipi Sean yang terlihat sedikit tirus
" iya paman "
Sean memeluk Kelvin
" Hati-hati paman "
Sean melambaikan tangannya hingga mobil Kelvin benar-benar menghilang dari pandangan
" Apa papa masih istirahat "
Sean bertanya
" Tuan masih istirahat , belum beranjak dari tempatnya "
Mao menjawab
" Ayo kembali , beberapa berkas sudah menungguku "
Sean kembali ke kamar dan mengerjakan beberapa berkas kantor yang tersisa
Waktu menunjukkan pukul dua belas malam
" Tuan , ini sudah lewat tengah malam , anda sebaiknya istirahat sebentar "
Mao mengingatkan
" Aku selesai "
Sean menutup berkas-berkasnya dan merapihkan semua di dalam kotak yang siap di kirim untuk kantor pusat
" Mari saya bantu "
Mao mengangkat Sean dari kursi rodanya dan membaringkannya di atas tempat tidur
* Cklek
Pintu terbuka
" Papa "
Sean terkejut
" Kamu belum tidur "
Sbastian menghampiri Sean
" Eh... Itu tadi "
Sean gelagapan
" Tuan muda dari kamar mandi , tuan muda baru saja selesai buang air besar "
Mao membantu menjelaskan
" Oh.. papa kira belum tidur "
Sbastian duduk di samping Sean
" Kamu bisa pergi "
Sbastian mengisyaratkan kepada Mao
" saya permisi "
Mao keluar dari kamar Sean
" Papa "
Sean memegang lengan Sbastian
" Kenapa hm.. kamu terlihat sedikit pucat , dan kenapa lampu kamar tidak di matikan "
Sbastian memperhatikan bahwa kamar Sean masih terang benderang
" Ini gara-gara papa masuknya terlalu cepat , coba kalau nanti , kan Sean udah tidur "
Sean membatin
" Sean tadi tidur di temani Mao , Sean mimpi buruk , papa bawa Sean ke kamar papa aja , Sean takut "
Sean memeluk tangan Sbastian yang ada di sampingnya
" Apa kamu masih memikirkan kejadian tadi"
Sbastian membawa Sean ke dalam gendongannya
" Sean takut "
Sean memeluk Sbastian erat
" Kalau gitu kita tidur dengan adik saja "
Sbastian berdiri
" Tunggu papa "
Sean menghentikan
" Kenapa "
Sbastian menaikkan alisnya
" Lumba-lumba Sean ketinggalan "
Sean menunjuk boneka Lumba-lumbanya yang ada di atas tempat tidur
" Wah.. ternyata anak papa masih suka dengan boneka "
Sbastian mengambil Lumba-lumba Sean dan membawanya keluar menuju kamarnya
" Iya "
Sean mengangguk
" Lihat adek , lelap banget "
Sbastian meletakkan Sean di samping Aniel
" Sean mau tidur di tengah , jangan pergi pa"
Sean menahan tangan Sbastian
" Kenapa "
Sbastian mengusap keringat Sean
" Sean takut , jangan pergi pa "
Sean menahan Sbastian
" Sayang , papa mau ke kamar mandi sebentar "
Sbastian berdiri dan meninggalkan Sean
*Tuuut
Sean menyalakan jam tangannya
Masangger
___________
Anda:
Diablo ✓✓
Diablo:
Siap tuan ✓✓
Diablo membalas dengan cepat
Anda:
Apa kau tau rencana untuk esok ✓✓
Diablo:
Tuan Kelvin sudah menghubungi kami , kami akan bersiap ✓✓
__ADS_1
_______