
Siang itu sbastian menyelesaikan meeting nya dengan cepat , sbastian berencana untuk pergi makan siang bersama Sean di restoran anak yang berada dekat dengan kantornya
" Dek udah selesai belum "
Sbastian memasuki ruangan dan menuju meja kerjanya untuk merapihkan susunan berkas yang agak berserakan
" Belum pa , Sean bingung "
Sean masih membolak-balik gambar perlengkapan sekolah yang di berikan kepadanya
" Ayo cepat , kita makan siang di cake resto"
Sbastian menghampiri Sean dan berjongkok di depannya
" Beneran pa , kita makan kue "
Sean meletakkan semua gambar yang dia bawa dan menatap tajam mata Sbastian
" Beneran , makanya ayo cepetan "
Sbastian berbalik mengambil tas kantornya
" Yey...... "
Sean segera memasukkan semua gambar yang dia pilih ke dalam tasnya dan membiarkan gambar yang tidak di sukainya di atas meja
" Tunggu pa "
Sean memasukkan semua alat tulis miliknya dan bergegas memakai sepatu selop miliknya
" Iya ayo sini cepetan "
Sbastian berjongkok di pintu dan membuka tangannya mengisyaratkan agar Sean masuk ke dalam pelukannya
" YEEEEEY .... "
Sean bersorak riang dan berhambur memeluk Sbastian
" Ayo pa , kita makan kue stoberi besar "
Sean merentangkan kedua tangannya seakan menggambarkan besarnya kue yang akan dia makan
" Iya iya "
Sbastian segera berdiri dan berjalan mendekati asisten John
" Kamu handle ya sisanya , saya sudah menyuruh Andri kesini "
Sbastian berbicara dengan asisten John
" Baik tuan "
Asisten John dan asisten Nia membungkuk memberi hormat
Sbastian berjalan mendekati lift dan memencet tombol lift agar terbuka,
Saat pintu lift terbuka Sbastian masuk dan sedikit berjongkok agar Sean bisa memencet tombol untuk menuju lantai bawah kantor
" Pa nanti boleh ngak Sean bawa kue buat bunda az-az sama buat dek bayi "
Sean memegang pipi papanya
" Iya boleh "
Sbastian mengambil dan mencium telapak tangan Sean
" Yey sayang papa "
Sean memeluk leher Sbastian dan mencium kedua pipi Sbastian
* TING *
Pintu lift terbuka , Sbastian melangkah keluar dan di iringi oleh para karyawan yang membungkuk memberi hormat
__ADS_1
Tiba - tiba
" Sbastian "
Sebuah suara wanita memanggil Sbastian dan membuat Sbastian juga Sean menoleh menuju asal suara yang berasal dari pintu masuk kantor
" Siapa dia , berani beraninya memanggil tuan dengan nama "
Salah satu resepsionis baru berbisik-bisik
" Hah... Astaga itu kan nona Angelina "
Salah satu resepsionis lama terkejut melihat manusia yang sudah lama tidak terlihat itu kini muncul
" SBASTIAN "
Wanita yang bernama Angelina itu berlari dan berhambur memeluk Sbastian tanpa menghiraukan adanya Sean di gendong Sbastian
" Lepaskan "
Sbastian mencoba melepaskan pelukan wanita itu namun bukannya terlepas malah pelukan itu semakin erat
" Lepaskan "
Nada bicara Sbastian naik satu oktaf dan tangannya mencengkram kuat bahu Angelina
Karena Sean melihat papanya tidak menyukai seseorang yang tiba-tiba memeluk papanya dengan erat , muncullah sebuah adegan sinetron yang pernah dia lihat
Tiba tiba
" Aaa.... "
Angelina berteriak ketika merasakan sesuatu yang menarik rambutnya
" Lepasin papaku , dia bukan papamu "
Sean menarik rambut Angelina dengan kuat hingga rambut Angelina mengeluarkan suara *kratak*
" Lepaskan...Lepaskan "
" AW... "
Angelina mundur beberapa langkah lalu memegang rambutnya dan merasakan ada beberapa helai rambutnya yang patah karena tarikan Sean kecil
" ASTAGA RAMBUTKU "
Angelina berteriak saat melihat banyaknya jumlah rambut yang terlepas dari kepalanya
" APA "
Sean berkata dengan galak layaknya ibu-ibu yang sedang menagih uang kost , bahkan lebih galak
Karena mendapat pelototan dari Angelina, Sean merosot dari gendongan Sbastian dan berdiri sendiri di lantai
" ANAK KECIL "
Angelina menghentakkan kakinya dan berteriak kepada Sean
Saat Sbastian akan maju untuk melindungi putranya , namun hal mengejutkan terjadi
" APA HAH , NGAK TERIMA , DIA TUH PAPAKU BUKAN PAPAMU , LAGIAN KAMU TUH SIAPA PELUK-PELUK ORANG SEMBARANGAN , KAMU PERNAH NGAJI NGAK , KALO PELUK ORANG YANG BERLAWANAN JENIS DAN BUKAN KELUARGA ITU NGAK BOLEH , KALO KAMU NGAK TAU SEKOLAH SANA , NGAJI YANG BENER , bajunya aja bolong-bolong gimana ngajinya coba "
Sean berteriak-teriak kepada Angelina persis seperti ibu-ibu yang lagi nagih utang
" KAMU ANAK KECIL JANGAN SOK TAU YA"
Angelina menunjuk-nunjuk Sean kecil yang sedang melipat tangannya di atas dada
" APA , KATA PAK USTADZ KALO TERIAK KE CEWEK ITU SALAH , TAPI KALO CEWEKNYA KAYAK GINI YA SEAN YANG BENER "
Sean memukul kecil dadanya bangga
" ANAK KECIL , KAMU ITU CUMA ANAK PUNGUT , BEBAN BUAT SBASTIAN "
__ADS_1
Angelina berteriak sambil menunjuk nunjuk Sean
Mendengar kalimat itu Sbastian mulai naik pitam , wajahnya memerah , Sbastian mengepalkan tangannya dan hendak maju namun tawa Sean kecil menghentikannya
" HAHAHA , MASIH MENDING AKU ANAK PUNGUT DI SAYANG PAPA , DARI PADA KAMU , UDAH DI TOLAH , NGAK DI ANGGAP LAGI , HAHAHAHA "
Sean kecil tertawa dan di iringi gelak tawa manusia yang ada di sana
" ANAK KECIL "
Angelina hendak maju namun suara Sbastian menghentikan langkahnya
" Sebaiknya kamu pergi , aku tidak suka kamu di sini "
Sbastian berbicara dengan nada datar dan membuat semua orang yang tadinya tertawa kini terdiam
" Tapi sbastian , aku tuh masih sayang sama kamu , lagian kan istrimu udah ngak ada , kita bisa balikan lagi "
Wanita itu maju mendekati sbastian namun suara Sbastian kembali menghentikan langkahnya
" Kamu tidak berhak berbicara seperti itu "
Sbastian semakin naik pitam
" HAHAHAHA "
Suara tawa Sean kecil membuat semua orang mengalihkan perhatian padanya
" KAMU ITU NGAK ADA APA-APANYA SAMA BUNDA AKU , BUNDA AKU TUH CANTIK , DI SEMUA FOTO ALBUM BUNDA KU , SEMUANYA BUNDAKU PAKEK JILBAB , NGAK KAYAK KAMU , lagian bundaku ngak pernah pakek semen , kamu semennya tebel banget "
Sean berbicara dengan nada bangga
" APA KAMU BILANG "
Angelina memelototi Sean
" Emang bener , bundaku tuh bajunya panjang semua , bajunya itu nutup kaki atas bunda , bunda tuh yang keliatan cuma telapak tangannya doang , lha kamu pakek kaos jelek kayak gitu , mana ada papaku terima , papa ku tuh suka yang kayak bunda , bibirnya merah muda ngak kayak kamu , bibirnya kayak habis minum darah , kayak di film-film vampir tuh , eh salah kamu tuh kayak Falak "
Nada bicara Sean mulai merendah
Samua perkataan yang Sean keluarkan dengan bangga membuat semua orang menertawai Angelina yang menyedihkan , bisa bisanya kalah debay sama anak kecil
Namun dengan semua perkataan mengejutkan Sean , Sbastian menjadi terharu , padahal putranya tidak pernah bertemu dengan istrinya namun membela istrinya hingga seperti ini , hingga pada akhirnya Sbastian memutuskan untuk menyudahi perdebatan mereka yang mungkin tidak akan ada habisnya
" Sudah-sudah , ayo kita makan kue strawberry "
Sbastian tiba-tiba mengangkat Sean dan membuat Sean terkejut
" Apa apapa "
Sean kecil melihat Papanya
" Kita sudahi ini , kita tinggalkan dia dan kita makan kue strawberry , Sean mau ?? "
Sbastian mengusap peluh yang menempel di dahi Sean karena perdebatan sengit tadi
" Ayo papa , kita makan kue coklat juga ya pa "
Sean memeluk leher Sbastian
" Kita makan strawberry besar "
Sean berjingkrak riang di pelukan sbastian, kini tingkah laku dewasa Sean tadi seakan lenyap di telan oleh perilaku lucu Sean kecil
Dan wanita itu kini terbengkalai di tengah-tengah kantor melihat interaksi Sean dan papanya yang memang seperti anak kecil pada umumnya
" Sbastian "
Angelina memanggil nama Sbastian dengan cukup keras saat melihat Sbastian sudah hendak keluar dari kantor
" Lebih baik kamu pergi dari sini "
Sbastian memperingatkan
__ADS_1
Sesampainya di cake resto , Sean kecil langsung saja membuka buku menu di atas meja dan memilih semua yang dia suka
dan meja penuh dengan hidangan khusus untuk Sean