Aku Pangeran

Aku Pangeran
#71 ( pernikahan ku )


__ADS_3

Pagi ini Sbastian bangun terlalu awal , semalaman Sbastian tidak mampu membuat matanya tetap terjaga , mungkin akibat efek bius yang belum habis atau mungkin lelah lahir dan batin yang dia rasakan


" Hai anak papa , hari ini masih pukul empat pagi dan papa tidak bisa tidur lagi "


Sbastian duduk di kursi di samping Sean


" Papa mau siap-siap ya , bentar lagi papa..."


Sbastian tidak bisa melanjutkan kalimatnya dan hanya memandang Sean dengan tatapan berharap Sean bisa memberinya solusi seperti waktu waktu yang telah berlalu


" Tuan , tuan John ada di sini "


Aloe memberitahu


" Baik "


Sbastian mencium kening Sean lama dan pergi meninggalkan Sean dengan berat hati melangkah keluar dari kamar Sean di ikuti Aloe


" John "


Sbastian memanggil


" Mari tuan , pakaian anda sudah siap "


Asisten John memberi jalan


" Kapan akad di langsungkan "


Sbastian membuka pintu kamarnya yang tersekat satu ruangan dari kamar rawat Sean


" Tepat pukul enam pagi "


Asisten John mengikuti Sbastian masuk ke dalam kamar


" Salam tuan "


Beberapa orang yang terlihat seperti juru rias membungkuk hormat


" Aku tidak ingin memakai tuxedo hitam , pakaikan aku jas putih "


Sbastian melepaskan kaos kaki yang mulai kemarin dia pakai dan melemparkannya ke dalam tempat cucian kotor


Sbastian di rawat para juru rias sampai waktu menunjukkan pukul 04:45 , para juru rias tersenyum puas melihat penampilan Sbastian yang lebih mirip seorang model yang akan di potret , apalagi raut wajah tidak kepeduliannya sangat kentara membuatnya lebih keren


" Aku kembali ke kamar putraku , kalian jangan pergi dulu , benahi penampilanku sebelum aku pergi nanti , aku tidak ingin membuat mama bersedih "


Sbastian pergi meninggalkan mereka semua menuju kamar Sean


" Aloe , kamu bersiaplah , pakai jas hitam dengan dasi putih , aku sudah bilang kepada asisten John , aku akan tidur sebentar sambil menunggu waktu "


Sbastian masuk dan melepaskan sepatunya setelah itu tidur sambil menggenggam tangan mungil Sean


Waktu berlalu , Aloe yang sudah rapih dengan setelan yang di perintahkan Sbastian , kini membangunkan Sbastian dari tidurnya yang lelap


" Tuan... Ini sudah siang , mari kita berangkat "


Aloe mengguncang Sbastian hingga Sbastian membuka matanya


" kenapa "


Sbastian menoleh


" Mobil iringan sudah siap "


Aloe kembali berdiri dengan tegak


" Anak papa , papa berangkat dulu ya "


Sbastian mengusap wajah Sean dan mencium kening Sean dengan kasih sayang yang tertahan karena kondisi putra semata wayangnya


" Aku akan menemui ayah dulu "


Sbastian turun dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar di ikuti Aloe


Sbastian di sambut juru rias di depan kamarnya dan mereka mulai membenahi kembali penampilan Sbastian , setelah itu Sbastian turun menggunakan lift bersama Aloe


" Tuan , tinggal lima menit lagi , kita harus segera berangkat "


Asisten John menyambut Sbastian di lantai dasar


" Biar saja , ayahku lebih penting "


Sbastian menuju bangunan yang berada di belakang kastil


Sbastian berjalan masuk ke dalam bangunan sederhana yang berdiri di depan bangunan lain khusus kamar para pelayan , Sbastian masuk dan menuju lantai dua bangunan tersebut


*Tok..tok..tok..


Sbastian mengetuk pintu dan membukanya


" Ayah "


Sbastian melihat pak Sam yang termenung di kursi goyang dekat jendela


" Ayah "


Sbastian menghampiri pak Sam dan duduk bersimpuh di hadapannya


" Kenapa "


Pak Sam tidak mengalihkan pandangannya


" Tian akan menikah , Tian tidak tau siapa dia , Tian takut , Tian tidak siap , tapi ini juga demi mama , Tian sayang dan sangat menghormati mama , apa yang harus Tian lakukan "


Sbastian meletakkan kepalanya di atas pangkuan pak Sam


" Lakukanlah , jika itu jalanmu semuanya akan lancar "


Pak Sam membelai kepala Sbastian


Hening...


Sbastian memeluk pinggang pak Sam dan pak Sam membelai lembut kepala Sbastian , luruh sudah air mata yang sudah mengering beberapa hari ini


" Kenapa kamu menangis "


Pak Sam menghentikan tangannya


" Tidak tau "


Sbastian memeluk erat pak Sam


" Kamu laki-laki jangan cengeng "


Pak Sam menepuk-nepuk pelan kepala Sbastian


" Berangkatlah , mereka menunggumu "


Pak Sam melepas tangan Sbastian dari pinggangnya


" Apa Tian sudah benar "


Sbastian menatap pak Sam


" Tenanglah nak , ini ujianmu "


Pak Sam mencium kening Sbastian


" Hanya ayah yang mengerti Tian "


Sbastian memeluk pak Sam lama


" Berangkatlah "


Pak Sam memberikan sedikit senyuman


" Sbastian berangkat , mohon doa restu ayah agar menyertai Sbastian "


Sbastian mencium tangan pak Sam


" Aku selalu mendoakanmu "


Pak Sam menepuk kepala Sbastian


Sbastian keluar dari kamar dan di sambut Aloe juga asisten John , dalam perjalanan menuju rumah utama tempat pernikahan di laksanakan , Sbastian hanya terdiam tanpa banyak bicara , dirinya hanya sibuk dengan email-email yang masuk ke dalam teman gepengnya


" Tuan , kita hampir sampai "


Asisten John memberitahu


" Hm.. "


Sbastian hanya berdehem


Setelah beberapa saat , mobil iringan sudah terparkir di depan pintu utama kediaman utama , di sana Sbastian di sambut dengan keluarga besarnya , seluruh saudaranya ada di sana , mulai dari paman , bibi sampai sepupu jauh berkumpul , sepertinya mama tidak main-main dengan acara pernikahan ini


" Sbastian kamu lama sekali "


Saat Sbastian menginjakkan kaki di tanah , mama menyambutnya dengan ocehan panjang


" Mama berisik "


Lion menutup telinganya


" Bagaimana "


Sbastian menatap lion


" Lebih baik "


Lion memberikan jempol dan senyuman manis


" Kamu tidak mendengarkan mama dan berbicara dengan lion "


Mama berkacak pinggang


" Iya mama "


Sbastian mendekati mamanya


" Kenapa kamu terlambat "


Mama menjewer telinga Sbastian , namun Sbastian hanya memberikan wajah jutek


" Apa ini sudah tidak sakit "


Mama semakin menjewer


" Nanti telinga Sbastian putus , sudahlah mama , ayo laksanakan pernikahannya , Sbastian tidak punya banyak waktu "


Sbastian melepaskan tangan mamanya dan menciumnya


" Kamu tidak sabar ya "


Para wanita di sana menggoda Sbastian


" Aku mau menemui Sean , cepatlah "


Sbastian membatin dan memandang mereka datar


Sbastian melangkah masuk ke dalam rumah utama yang sudah dua tahun terakhir tidak menginjakkan kaki di sana , kini dia datang melihat banyak orang yang terlihat bahagia , ntah kenapa Sbastian hanya merasa dirinya seperti sebuah lampu yang mati di antara lampu-lampu yang menyala


Sbastian duduk di depan pak penghulu di ikuti Aloe yang duduk di dekat Sbastian , di sana Sbastian melihat wanita memakai gaun pernikahan mewah duduk di sampingnya dengan aura kebahagiaan yang terpancar


" Apa anda sudah siap tuan Sbastian "


Pak penghulu menjabat tangan Sbastian dan mulai melangsungkan akad nikah , di sana Sbastian baru tahu , nama wanita di sampingnya adalah Stella Amanda ruru


" Nama yang aneh "


Sbastian membatin


Setelah akad nikah , Sbastian bersama para pengiring di bawa menuju gedung pernikahan milik keluarga , di sana banyak sekali yang di undang , teman-teman Sbastian , para wartawan , teman berkelas mama dan banyak orang yang tidak di kenal Sbastian


Sbastian menggandeng tangan wanita yang sudah menjadi istri sah nya dengan enggan melewati karpet merah yang di kelilingi wartawan , bahkan Sbastian tidak terlalu memperhatikan wajah Stella


" Sebagian mereka teman bisnis , sebagai lagi tidak aku kenal "


Sbastian hanya menatap para tamu dengan bosan


Acara berlangsung sampai matahari sudah tertancap di atas kepala

__ADS_1


" Ini waktunya sholat Dzuhur dan para tamu tidak ada yang pergi , sungguh membosankan "


Sbastian membatin dan menatap para tamu tidak suka


" Aku kan harus berdoa untuk anak-anak dan istriku "


Sbastian berdiri


" Mau kemana "


Stella memegang tangan Sbastian


" Aku mau ibadah , apa kamu ikut "


Sbastian menawari dengan enggan


" Tidak , aku tidak beribadah "


Stella menggeleng


" Aku pergi dulu "


Sbastian melepaskan tangan Stella dan berlalu pergi membuat para tamu menatap aneh


" Kemana kamu "


Mama menghampiri Sbastian


" Mau sholat "


Sbastian menjawab dengan singkat


" Mau ikut ikut "


Liona menggeret lion menghampiri Sbastian


" Papa ikut , apa mama juga "


Papa berdiri di samping Sbastian


" Mama ngak sholat "


Mama menggeleng


" Yasudah tetaplah di sini "


Papa mencium kening mama mengikuti Sbastian yang sudah pergi bersama anak kembarnya


Sbastian menuju kamar pengantin yang sudah di siapkan dan berjamaah dengan papa dan kedua adiknya


Setelah salam dan berdoa , papa dan si kembar berdiri namun tidak dengan Sbastian , Sbastian kembali bersujud dan berdoa dengan khusuk , papa memandang Sbastian dengan tatapan kagum , putranya yang telah membuka mata hatinya benar-benar tegar hari ini


Setelah cukup lama akhirnya Sbastian kembali duduk dan mengusap wajahnya


" Ayo pa "


Sbastian berdiri


" Kakak tadi doa apa "


Liona menggandeng tangan Sbastian


" Doa untuk Sean "


Sbastian tersenyum


" Bersabarlah nak , cucuku pasti segera sadar "


Papa memberi semangat


" Iya papa , Sbastian yakin "


Sbastian mengangguk


Sbastian kembali duduk di pelaminan dan merenung di sana


" Suamiku.. "


Stella menyentuh pundak Sbastian


" Hm.. "


Sbastian menoleh dan membelalakkan matanya , dia baru sadar , wanita di sampingnya memakai pakaian yang cukup seksi dan terbuka


" Kenapa kamu memakai pakaian seperti ini"


Sbastian menatap Stella tidak suka


" Aku menyukainya , apa kamu tidak suka "


Stella menatap gaunnya


" Apa selalu memakai pakaian seperti ini"


Sbastian menatap Stella tidak suka


" Iya lah , kan kalau gini lebih cantik "


Stella membanggakan diri


" Terserah padamu "


Sbastian memutar matanya malas


" Aku mau ketemu teman-teman ku dulu dah "


Stella melambaikan tangannya dan berlalu dari pelaminan dengan gaya berjalan bak model


" Seperti badut saja , Sean tidak akan menyukainya "


Sbastian menatap Stella datar lalu mengeluarkan teman gepengnya


" Halo Mao , aku mau melihat anakku "


Sbastian menelfon


Mao mengganti mode telfon dengan vc lalu menunjukkan Sean yang masih sama , tetap terpejam sejak awal hingga hampir satu jam Sbastian memandangi putranya hingga mama menghampiri


" Kenapa tidak menyapa teman-temanmu"


" Tidak ma , Sbastian sedang agak tidak enak badan , bisakah Sbastian duduk dan diam di sini "


Sbastian mematikan hp nya


" Ayolah nak , hormati para tamu "


Mama menggeret Sbastian membuat Sbastian ikut dengan langkah gontai dan penuh paksaan


" Tuan Sbastian , selamat ya "


Banyak teman bisnis Sbastian yang menjabat tangan Sbastian dan hanya di balas Sbastian dengan anggukan


Pesta di gelar hingga malam , saat hp nya berbunyi Sbastian akan pergi dan melaksanakan tugas hariannya bersama Aloe hingga para tamu pulang dan hilang


Malam itu Sbastian membawa Stella kembali ke kastil , kini mau tidak mau Stella adalah istri sah Sbastian


" Wah.... Besar sekali "


Stella di buat terkagum kagum dengan nuansa rumah Sbastian , mulai gerbang utama sampai kediamannya


" Ini rumah adinda , kamu tidak boleh mengubah apapun seenaknya , benda-benda di seluruh ruangan tidak boleh di geser sedikitpun , aku tidak suka jika kamu menyentuhnya "


Sbastian memberikan jas putihnya kepada salah satu pelayan dan berlalu pergi di ikuti Sbastian yang selalu menempel di belakangnya


" Ayo masuk "


Sbastian membawa Stella masuk ke dalam lift


" Kenapa dia ikut dari tadi , bahkan dia semobil dengan kita "


Stella memandang Aloe tidak suka


" Dia pengawal pribadiku , tidak usah di permasalahkan "


Sbastian menjawab dengan enteng


" Lho , kita ini suami istri , aku tidak suka jika ada orang lain di antara kita saat kita sedang berdua "


Stella menaikkan nada bicaranya


" DIAM , KAMU BISAKAH TIDAK BANYAK BERBICARA , AKU TIDAK SUKA WANITA YANG BANYAK BICARA SEPERTIMU , MENYEBALKAN "


Sbastian berteriak tepat di depan wajah Stella membuat Stella terkejut


" Tuan , mohon tenang "


Aloe memegang lengan Sbastian


*Ting


Lift yang di tumpangi Sbastian tiba di lantai dua , kamar untuk Stella ada di sana


" B...bu..bukannya ada lantai tiga "


Stella menghentikan langkah Sbastian saat akan keluar dari lift


" Lantai tiga itu milikku pribadi , jangan sampai kamu pergi ke lantai tiga "


Sbastian menarik lengan Stella hingga sampai di dalam kamar khusus Stella


" Wah... "


Stella terkagum-kagum dengan nuansa hitam putih kamar barunya


" Tempatmu di sini "


Sbastian membuka pintu hendak keluar namun di depan pintu , selain ada Aloe , di sana ada banyak pelayan yang membawa banyak barang


" Ini barang-barang milik nyonya "


Pelayan di sana memberitahu


" Oh masukkan "


Sbastian memberi jalan


" Bolehkan kita berbicara sebentar "


Stella memegang lengan Sbastian


" Hm... "


Sbastian melepaskan tangan Stella dan duduk di sofa lalu mengeluarkan teman gepengnya


Setelah para maid keluar , akhirnya Stella duduk di depan Sbastian


" Apakah kita tidak melakukannya "


Stella bertanya dengan percaya diri


" Tidak , aku tidak minat dengan tubuhmu"


Sbastian menyandarkan punggungnya


" Kamu bisa bilang jika kamu menginginkan sesuatu dariku , aku akan melakukannya "


Stella berdiri dan duduk di samping Sbastian


" Aku ada urusan "


Sbastian berdiri


" Apa yang kurang dariku "


Stella berdiri dan memeluk Sbastian dari belakang


" Banyak "


Sbastian melepaskan pelukan Stella namun Stella malah mengeratkan pelukannya


" Aku akan memperbaikinya "

__ADS_1


Stella meraba dada Sbastian yang tertutup kemeja


" Hm... "


Sbastian hanya berdehem pendek


*Sring


Sbastian merasakan sengatan listrik di seluruh tubuhnya


" Wanita ini berani sekali "


Sbastian menatap tangan Stella yang memegang singkong miliknya yang sudah bangun saat di sentuh olehnya


" Aku laki-laki normal , tapi aku tidak pernah merasa sangat terangsang lebih dari aku menyaksikan tubuh polos adinda yang imut , ouch... itu sangat indah "


Sbastian tersenyum membayangkan tubuh polos adinda dan membuat miliknya semakin mengeras , namun Stella menyalah artikan itu semua


" Suamiku ternyata menyukai sentuhan ku "


Stella berjalan dan memeluk Sbastian dari depan


" Suamiku "


Stella mencium leher jenjang Sbastian


*Grep


Sbastian memegang pinggang Stella


" Suamiku "


Stella mencoba meraih bibir Sbastian


" Kamu mau melayaniku "


Sbastian membelai wajah Stella


" Iya "


Stella menjilat leher Sbastian


*Krak


Sbastian merobek seluruh pakaian Stella yang tidak di sukainya


" S..suamiku "


Stella terkejut saat ini dirinya sudah telanjang bulat karena Sbastian


" Menurut data yang aku peroleh , kamu sering bermain dengan laki-laki yang bermacam-macam di luar sana yang akan membuatmu terlena , berteriak dan mendesah "


Sbastian membuat Stella terkejut bukan main


" Darimana kamu tau itu "


Stella mendorong Sbastian menjauh


" Rahasia terbesarmu sudah aku temukan nona muda "


Sbastian mencengkram erat lengan Stella


" Kamu salah masuk kandang , setelah masuk ke dalam sini , kamu tidak akan bisa melakukan hal yang paling kamu suka "


Sbastian menjatuhkan Stella ke atas kasur dengan kasar


" Tanggung semua yang kamu lakukan dulu Stella "


Sbastian melepaskan seluruh pakaiannya dan membuat singkong besarnya terlihat , ukuran king size membuat Stella terbelalak


Sbastian menindih Stella di atas tempat tidur dan meremas gunung kembar Stella yang cukup besar dengan kasar


" Aaakkhhhh.... "


Stella terkejut dan mengeluarkan suara yang sepertinya tidak enak saat masuk ke dalam pendengaran Sbastian


" Lebih imut milik adinda , dan lebih lucu suara adinda "


Sbastian menatap Stella tidak suka


" Kyaaaaaaa.... "


Berteriak saat Sbastian memasukkan miliknya secara tiba-tiba


" Aku akan membuatmu hamil anakku "


Sbastian melakukannya dengan kasar hingga Stella benar-benar berteriak dan mendesah


Sbastian terus bermain hingga Stella pingsan dan tidak sadarkan diri , Sbastian menumpahkan seluruh benihnya di dalam Stella


" Kamu tidak lebih baik dari adinda "


Sbastian memakai pakaiannya dan berjalan membuka pintu kamar Stella


" Tuan "


Semua penjaga di setiap pintu membungkuk memberi hormat


" Ayo Aloe , aku merindukan putraku "


Sbastian berjalan menaiki tangga hingga sampai di depan kamar Sean


" Adinda "


Sbastian tersenyum dan memasuki kamar khusus barang-barang adinda


" Assalamualaikum sayang "


Sbastian masuk dan duduk di sofa singgel kesukaan adinda dulu


" Kamu wanita , dia wanita , mama wanita , liona wanita , kalian semua wanita , aku benar-benar menghormati seorang wanita , namun wanita seperti itu tidak perlu aku hormati , dia hanya wanita murahan yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan uang , dan aku benci dengan orang seperti itu "


Sbastian memejamkan matanya


" Aloe "


Sbastian memanggil


" Saya tuan "


Aloe masuk


" Minta Mao turun dan memeriksa wanita itu , kamu paham kan "


Sbastian menoleh ke belakang


" Baik tuan "


Aloe membungkuk dan pergi


" Huft... Aku lelah "


Sbastian melihat jam tangannya dan terlihat di sana pukul satu malam


Sbastian berdiri dan keluar dari kamar adinda , setelah itu Sbastian masuk ke dalam kamar Sean


" Hai anak papa , papa lelah sekali hari ini "


Sbastian melepas sepatunya dan merebahkan dirinya di samping Sean


Satu bulan berlalu , Sbastian melakukan semuanya seperti biasanya , hanya saja yang berbeda adalah Sbastian akan melakukan sesuatu dengan Stella di malam hari yang membuat Stella kian tersiksa


Pagi ini Sbastian sarapan di dalam kamar Sean sambil memandang laptopnya yang tidak pernah dia lupakan


" Ini sudah telat anak papa , papa mau berangkat dulu ya "


Sbastian mencium kening Sean lama , dan luruh kembali air matanya


" Cepatlah sadar putraku , papa menunggumu "


Sbastian membelai lembut pipi Sean


* Tok..tok...tok...


Suara ketukan pintu membuat Aloe dan Mao yang masih tidur menjadi terbangun


" Saya akan membukanya tuan "


Mao berdiri dan membuka pintu


" Nyonya Stella pingsan di dapur "


Salah satu maid memberitahu dengan panik


" Periksa dia Mao "


Sbastian memerintahkan


" Saya permisi "


Mao membungkuk dan pergi meninggalkan ruangan Sean


" Kenapa lagi orang itu "


Sbastian mencium kening dan tangan mungil Sean dan berlalu pergi di ikuti Aloe


" Dimana wanita itu "


Sbastian bertanya kepada salah satu penjaga


" Akan saya cari tahu "


Penjaga itu berlalu pergi


Sbastian masuk ke dalam kamarnya mengambil bulpoin baru miliknya dan berlalu bersama Aloe


" Nyonya ada di kamarnya tuan "


Penjaga tadi yang berlari mencari tahu kini sudah kembali


" Oh... "


Sbastian berlalu meninggalkan pengawal itu menuju kamar Stella


" Kenapa dengannya Mao "


Sbastian masuk dan melihat kamar Stella yang berantakan


" Nyonya stres , dan saat ini nyonya sedang mengandung , usianya masih satu Minggu , tolong jangan kekang nyonya untuk calon bayinya , kasihan bayinya "


Mao memberi ceramah panjang yang membuat Sbastian senyum senyum sendiri


" Hahaha aku tau , anak ini adalah anakku , dia akan aku rawat sebaik mungkin , dan Sean akan menjadi kakak "


Sbastian terkekeh dan membelai perut Stella lembut


" Aku berangkat , siapkan satu penjaga untuknya , pastikan dia tidak melukai calon anakku , biarkan dia melakukan apapun yang dia suka , tapi jangan sampai melanggar peraturan rumah , jika mau belanja ini rekeningnya "


Sbastian melempar kartu ATM kepada Mao


" Aku mengandalkanmu Mao "


Sbastian tersenyum dan berlalu pergi


Sbastian turun menggunakan lift sampai ke lantai bawah


" Ayah "


Sbastian terkejut melihat pak Sam duduk di sofa ruang tamu


" Apa ayah sudah baikan , apa ada yang sakit "


Sbastian berlari dan berlutut di depan pak Sam


" Ayah lebih Baik hari ini , bagaimana cucuku "


Pak Sam membelai rambut Sbastian yang sudah panjang se bahu


" Dia lebih baik dan lebih baik, aku bahagia dan ayah tau , ayah akan mendapatkan satu cucu lagi "


Sbastian memeluk pak Sam erat

__ADS_1


" Hahaha , kamu bahagia sekali "


Pak Sam melihat senyum di wajah Sbastian setelah sekian lama senyum itu hilang


__ADS_2