Aku Pangeran

Aku Pangeran
#8 kejutan untuk papa


__ADS_3

Waktu itu menunjukkan pukul satu siang , biasanya Sean akan meminta sitter ataupun pak Sam untuk menelfonkan sbastian


Namun waktu itu Sean ketiduran di sofa di pangkuan azza yang sedang membacakan buku dongeng


Dan saat sbastian menelfon , yang mengangkat adalah pak Sam dan mengatakan bahwa tuan muda Sean sedang tidur


Satu jam terlewat dan Sean terbangun di pangkuan sitter azza di atas sofa


Sitter azza tersenyum kepada Sean dan mengelus rambut tipis Sean


" Jam elapa az "


(Jam berapa az)


Tanya Sean


" Sekarang pukul dua tuan muda , tadi tuan menelfon dan mengatakan bahwa tuan sudah makan siang " jelas sitter azza kepada Sean karena ia tau bahwa Sean akan menanyakan hal itu


" Enalka , aikla , ean au elsi elsi amal , alau ean elpon apapa kalang , apapa asti anyak elja "


( Benarkan , baiklah , Sean mau bersih bersih kamar , kalau sean menelfon papa sekarang , papa pasti banyak kerjaan )


Kata Sean sambil merangkak menurunkan kaki terlebih dahulu dari sofa dan tangannya membantu agar dirinya tidak terpeleset dari sofa


"Hati hati tuan muda " kata sitter azza dan membantu Sean turun dari sofa


Setelah sampai di kamar Sean yang ada di lantai tiga rumahnya , Sean segera meminta untuk di pakaikan pakaian maid miliknya


Satu jam Sean membersihkan kamarnya bersama sitter azza


Selain membersihkan kamar , Sean juga menata kembali baju baju yang dominan berwarna biru , mengelompokkan baju baju sesuai keinginan Sean , mulai dari yang memiliki ukuran terkecil hingga warna yang sama


*Tok tok tok *


Tiba tiba Terdengar suara ketukan pintu


Sean dan sitter azza saling pandang ,


lalu sitter azza berjalan membukakan pintu


"Ternyata paman , aku kira siapa , ada apa paman "


Kata azza bertanya


" Ada pa tatek "


( Ada apa kakek )


Tanya Sean dari belakang


" Itu di bawah ada Oma dan eyang anda , tuan Sean tolong segera bersiap "


Kata pak Sam formal


" A'a "


(Apa )


Sean terkejut


Dia faham , yang di maksud Oma dan eyang adalah tuan dan nyonya besar rumah ini , alias papa dan mama sbastian


Sean meminta sister azza untuk segera menemaninya turun tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu


" Tuan muda kita harus mengganti pakaian dulu "


" Ausah , ita Alus elela tulun nanti eleka alah "


( Tidak usah , kita harus segera turun nanti mereka marah )


Kata Sean sambil berlari menuju kamar ayahnya yang ada di sebelah kamarnya


" Tapi tuan muda tidak sopan memakai pakaian seperti itu "


Sitter Azza menasehati Sean agar mengganti pakaian


Namun Sean tiba tiba berhenti dan melihat sitter azza dengan tajam


" Ata tatek leih itak opan memuat tamu enundu "


(Kata kakek lebih tidak sopan membuat tamu menunggu )


Kata Sean dan berusaha memegang handel pintu kamar sbastian yang cukup tinggi baginya


" Tapi kenapa kita ke kamar tuan besar dulu "


Tanya sitter azza


" Atu mau nepon apapa"


( Aku mau nelpon papa )


Sean masih melompat-lompat berusaha meraih handel pintu


" Baik tuan muda , saya akan bantu "


Sitter azza membantu Sean membukakan pintu kamar sbastian


" Napa dak dari Adi "


( Kenapa ngak dari tadi )

__ADS_1


Gerutu Sean


Setelah sampai di atas kasur sbastian , Sean mulai mengobrak abrik tempat tidurnya


" Tuan muda cari apa "


Tanya sitter azza saat melihat Sean melempar semua yang ada di atas kasur sbastian


" Atu unya elpon endili dali apapa "


( Aku punya handphone sendiri dari papa )


Kata Sean sambil terus mengobrak-abrik kasur sbastian


" Aha , etemu "


( Aha , ketemu )


Sean tersenyum menunjukkan giginya yang hanya ada empat sambil mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya yang memegang hp miliknya


" Eh.... Sejak kapan tuan muda punya hp"


Tanya sitter azza penasaran


Pertanyaan itu tidak di gubris oleh Sean


Kini Sean hanya fokus mengotak-atik hp nya


* Tut...Tut....Tut...*


Suara hp Sean


" Halo anak papa , kenapa sayang "


Tanya sbastian dengan nada yang lembut


" Alo , apapa ada etutan uat papa , apapa pulang cekalang ya "


( Halo , papa ada kejutan buat papa , papa pulang sekarang ya )


Kata Sean dengan nada yang keras


" Kejutan apa sayang "


Tanya sbastian heran


" Potota , apapa ulang cekalang , etutana ahaya apa , awat apa etutana Isa eletus "


( Pokoknya , papa pulang sekarang , kejutannya bahaya pa , gawat pa kejutannya bisa meletus )


Kata Sean keras


Setelah itu Sean mematikan telefon dan langsung berlari ke bawah untuk menemui tuan dan nyonya besar


Setelah sampai di bawah Sean melihat dua orang itu duduk di sofa dan berbincang bersama pak Sam yang sedang berdiri dan menjawab semua pertanyaan dengan sopan


Setelah sitter azza menginjakkan kakinya di lantai dasar , Sean meminta untuk di turunkan


Dan


" Alam tuan tan ona esal "


( Salam tuan dan nyonya besar )


Kata Sean sedikit membungkuk


Semua orang menoleh kepada sean


Sebenarnya Sean menirukan salam yang di berikan sitter azza kepada tuan dan nyonya besar


" Anak ini lagi "


Gerutu mama sbastian


Tiba tiba


*Brak*


Suara pintu di tabrak dengan kencang


" apapa , apapa gapapa "


(Papa , papa gapapa )


Tanya Sean khawatir kepada sbastian yang berjongkok sambil mengelus kening nya yang memerah menabrak pintu


Sean berjalan menghampiri sbastian dan mengusap kening sbastian pelan sambil meniup niup kening sbastian


" Gapapa apapa , ataknya udah lali , anan nanis "


( Gapapa papa , katak nya udah lari , jangan nangis )


Kata Sean sambil mengusap pelan kening sbastian


" Muah "


Sean mencium kening sbastian dan mengatakan


" anan nanis , apapa tan anak intal "


(Jangan nangis , papa kan anak pintar)

__ADS_1


Kata sbastian sambil kembali mencium hidung


" Hahahaha "


Karena perlakuan Sean yang imut sbastian yang tadinya jongkok kini terduduk di lantai dan tertawa dengan keras sambil memegangi perutnya yang sudah mulai terasa sakit


" Apapa nenapa "


( Papa kenapa )


Tanya Sean khawatir melihat sbastian tertawa dengan kencang sambil memegangi perutnya


Sbastian menghentikan tawanya dan melihat ke arah Sean


" Papa ngak papa . kemari "


Jawab sbastian dan merentangkan tangannya menandakan agar Sean masuk ke dalam pelukannya


"Siapa yang mengajarimu seperti tadi? "


Tanya sbastian kepada Sean yang kini sudah duduk di pangkuannya


"Tatek , az uga seling tayak tadi talo ean atoh "


( Kakek , az juga sering kayak tadi kalo Sean jatoh )


Kata Sean sambil menunjuk tuan Sam dan sitter azza secara bergantian


"Oh...... Jadi kakek dan sitter azza yang mengajarimu seperti itu ? "


Kata sbastian bertanya kembali


"Iya apapa "


Kata Sean mengangguk beberapa kali


" Anak pintar "


Sbastian mengelus dan mencium pipi dan hidung sbastian


Sean juga melakukan hal yang sama


Itu rutinitas setiap Sean menyambut kepulangan sbastian dari rumah


Namun


" Sbastian , sudah berapa kali mama bilang mama ngak suka dia di sini "


Kata mama sbastian dengan suara yang keras


" Dia bukan anak kandungmu sbastian , menikahlah , usiamu masih muda , kamu masih punya waktu banyak "


Sambung papa sbastian


" Setiap pulang ke sini papa dan mama selalu saja mengungkit hal itu , apa papa dan mama ngak capek " sbastian mengatakan itu dengan tenang dan berdiri mengambil tas kerjanya dan menggendong Sean di dalam pelukannya


Tas sbastian di sambut oleh para maid yang sudah terbiasa dan melenggang pergi meletakkan benda benda itu di tempat asalnya


" Sudah satu tahun dia bersama ku , dia sudah ku jadikan putraku , dan aku tidak akan pernah melepaskannya meski mama dan papa berbuat sesuatu yang buruk kepada kami " kata sbastian sambil berjalan melenggang pergi dari ruang tamu


" Sbastian , mama sudah sabar dengan kamu ya , jangan salahkan mama jika mama mengambil semua kekayaan yang kamu miliki saat ini dan kamu tidak akan mendapat warisan sedikitpun " kata mama sbastian berteriak dan menunjuk nunjuk ke arah sbastian


" Aku tidak peduli lagi dengan harta , sesuai perkataanku dari awal , aku akan merawat perusahaan sampai mereka mampu mengelolanya sendiri dan setelah itu aku akan pergi bersama Sean dan ayah ke tempat yang jauh hingga kalian tidak akan melihat anakku lagi dan hingga kalian tidak akan melihatku lagi aku tidak pernah main main dengan perkataan yang aku keluarkan dan harusnya kalian tau itu " kata sbastian tanpa jeda dengan nada yang keras


Tangan sbastian memegangi kepala Sean yang bersandar di pundaknya


" Sbastian apa papa pernah mengajarimu berkata seperti itu kepada mama mu"


Geram papa sbastian


" Iya , aku salah , aku tidak akan pernah menuruti kata kata kalian setelah Andin meninggalkan aku , bukankah karena aku menuruti perkataan kalian aku kehilangan Andin , mulai sekarang jangan mengatur hidupku lagi , aku bisa sendiri " kata sbastian lebih tenang setelah merasakan tubuh Sean yang bergetar karena ketakutan


" Lancang kamu sbastian , tau apa kamu tentang pahitnya dunia , kamu itu masih bau kencur , apa kamu tidak tau usaha kami untuk membuatmu merasakan harta yang banyak ini dan kamu tidak berterimakasih " teriak mama sbastian


" Pahitnya dunia mama bilang . usaha mama bilang . apa mama tau aku hampir mati bunuh diri jika bukan ayah yang ada untukku , di mana papa dan mama saat itu , dimana papa dan mama saat aku beruasaha membangun kembali perusahan yang hampir hancur , orang orang yang mama dan papa percaya mengkorupsi dana perusahaan hingga milyaran , aku lembur ma , hingga tidak tidur , di saat itu apa papa membantuku untuk membangun kembali perusahaan , dimana mama saat aku tertidur dia atas tumpukan berkas yang tinggi , di mana kalian saat aku membutuhkan kalian . Hanya ayah yang ada untukku ayah menyelimutiku di saat malam aku tertidur di atas tumpukan berkas , ayah yang menungguku pulang meski sampai larut malam , ayah yang bersedia membantuku kapanpun aku membutuhkan bahkan jika aku tidak meminta , saat aku sakit ayah yang ada , saat aku bersedih mengingat adinda ayah yang ada , ayah selalu menjadi sandaranku saat aku terpuruk , apa papa dan mama pernah menelfonku dan bertanya apa aku sudah makan , apa aku tidur dengan cukup , saat aku merindukan papa dan mama aku hanya memandang foto kalian , aku tidak menelfon kalian karena aku tau jika aku menelfon kalian kalian hanya akan bertanya bagaimana perkembangan perusahaan , apa kalian tau itu sakit ma , aku di sini tiga tahun sendiri , bahkan mama dan papa tidak pernah menjengukku atau menelfon untuk menanyakan kabarku , dan sekarang saat ada Sean yang menemani aku , dia di usir , mengusir seseorang yang aku masukkan ke dalam rumahku sama saja dengan mengusirku " mata sbastian mulai berkaca kaca mengingat semuanya , tangannya mengelus rambut Sean , tubuhnya bergetar


" Papa dan mama di sana merawat adik mu , mereka membutuhkan mama "


Kata mama sbastian mulai meluluh


" Ya , kalian mengurus kedua anak itu dan kalian melupakan anakmu di sini yang menderita bahkan hampir mati " sbastian mengatakan itu dengan sinis dan menatap mereka dengan tajam


" Bukan begitu nak " mama sbastian mulai berjalan mendekati sbastian


" Sudahlah , aku sudah tidak peduli " kata sbastian melenggang pergi menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai tiga


Sebenarnya bisa memakai lift namun sbastian melupakan lift itu karena kemarahannya


Lalu


" Kakak " dari aarah dapur terdengar suara perempuan yang manis memanggil sbastian dengan sebutan kakak


Sbastian berhenti dan menoleh ke arah dapur


" Kakak " perempuan itu mulai mengeluarkan suara yang bergetar dan mata yang mulai berkaca kaca


" Maafkan aku kak " sambung perempuan itu kembali


" Kalian ikut aku ke kamar " sbastian memerintahkan agar mereka mengikutinya ke dalam kamar


Mereka mengikuti sbastian ke kamar melewati tangga

__ADS_1


Perempuan itu memegang tangan seorang pria yang berjalan beriringan di sampingnya


" Benar benar sebuah kejutan yang bisa meledak " gumam sbastian tersenyum kecil dan mengelus lembut kepala Sean yang masih bersandar di pundaknya


__ADS_2