Aku Pangeran

Aku Pangeran
#58 ( mama dan papa )


__ADS_3

" Ayo semuanya kita jama'ah di mushollah bawah "


Pak Sam membawa Sbastian , Sean , Clara dan singa kembar ke dalam musholla di dalam rumah Sbastian


" Iya kek "


Semuanya mengangguk patuh dan mengikuti pak Sam yang menjadi imam sholat magrib kali ini


Setelah sholat , Sean berlari ke atas mengambil beberapa Al-Qur'an dan iqro lalu berlari turun kembali


" Ini kakak lion sama kak lili "


Sean memberikan dua iqro


" Ini kakak cantik , ini papa dan ini Sean "


Sean memberikan masing-masing satu untuk Sbastian dan Clara


" Kakek yang jadi guru ngajinya "


Sean duduk di depan pak Sam yang belum selesai berzikir seusai shalat


" Nanti ngaji kek , sama bunda "


Sean duduk di pangkuan pak Sam sambil memeluk kitabnya dan foto adinda di letakkan di sakunya


Setelah berdoa seusai shalat , Sean yang sedari tadi sudah mengantri yang pertama , duduk di hadapan pak Sam yang meletakkan meja untuk mengaji di hadapannya


" Ngaji ya bunda "


Sean mengeluarkan foto adinda dan meletakkannya di sampingnya


" Baca bismillah "


Pak Sam membuka juz 30 di Al-Qur'an dan di ikuti Sbastian yang duduk bersama lion dan Clara yang duduk bersama liona


" Khususon bunda Sean , adinda Putri ayu "


Sean membaca beberapa surat dan dan di ikuti yang lain , setelah separuh juz 30 di baca , Sean berhenti


" Kenapa "


Clara bertanya


" Sekarang khususon kakak Sean , Adimas Ken Sora "


Sean melanjutkan membaca surat pendek hingga selesai dan di ikuti yang lain


Setelah mengaji juz 30 , pak Sam mengaji iqro bersama kedua singa kecil yang terlihat bersemangat , setelah usai mengaji , kebetulan azan isya' berkumandang , jadi mereka sekalian melaksanakan sholat isya' , setelah itu mereka semua berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam yang tenang


" Clara "


Sbastian memulai pembicaraan


" Iya "


Clara yang saat itu sedang bermain dengan Sean dan liona menjadi menoleh


" Lalu sekarang apa yang kamu lakukan "


Sbastian bertanya


" Aku tidak tau , ini terlalu rumit "


Clara menyandarkan tubuhnya di sofa


" Kamu sekarang mau kemana "


Sbastian bertanya


" Ada rumah pribadiku di sini , aku masih ingin mengejar cita-cita ku untuk menjadi seorang guru , dan.. aku masih belum mau menikah "


Clara menatap Sbastian


" Hm... Begini saja , malam ini tidurlah di sini , besok pagi kami akan mengantarmu ke rumahmu "


Sbastian memberi pendapat


" Em... Sbastian "


Clara memanggil Sbastian dengan ragu


" Ya "


Sbastian menanggapi


" Ah... Tidak , lain kali saja "


Clara menggelengkan kepalanya


" Apa ijazah dan surat-suratmu yang lain kau bawa "


Sbastian tiba-tiba bertanya


" Tentu saja , aku tidak pernah meninggalkannya "


Clara mengangguk


" Kalau begitu mengajar saja di sekolahan di dekat kantorku , di sana kekurangan guru , aku akan merekomendasikanmu kepada temanku , aku yakin kau akan di terima "


Sbastian memberi usulan


" Akan ku pikirkan "


Clara mengangguk


" Bagaimana dengan Sean "


Sean menunjuk dirinya sendiri


" Papa masih banyak pekerjaan akhir-akhir ini , Minggu depan papa akan mengosongkan semua jadwal papa untukmu , papa akan bantu kamu cari Abah , papa janji "


Sbastian mengajukkan jari kelingkingnya


" janji ya "


Sean mengikat jari kelingking ayahnya dengan miliknya yang kecil


" Iya sayang "


Sbastian tersenyum


" Awas kalau ingkar janji "


Sean memperingatkan


" Iya iya "


Sbastian mengangguk


" Tuan "


Salah satu maid mendekat


" Kenapa "


Sbastian menolah


" Mobil nyonya dan tuan besar sudah memasuki halaman rumah "


Maid itu memberitahu


" Baiklah , kalian bertiga masuklah ke dalam kamar papa , tidurlah sekarang "


Sbastian memerintahkan dan mereka bertiga mengangguk


" Bawa nona Clara masuk ke dalam kamar tamu "


Sbastian memerintahkan maid yang masih ada di dekatnya


" Baik tuan "


Maid itu mengiyakan


" Maaf Clara "


Sbastian menatap Clara tidak enak


" Aku mengerti , ini masalah kalian "


Clara berdiri dan mengikuti maid yang membawanya ke kamar tamu


" Ayah akan masuk "


Pak Sam berdiri dan meninggalkan Sbastian di ruang tamu sendiri


Sbastian mengambil koran dan meminta kopi untuk dirinya


" Sbastian "


Papa Sbastian masuk bersama mamanya


" Dimana anak-anak "


Papa Sbastian bertanya


" Sudah tidur pa , papa dan mama agak telat , mereka sudah tidur dari tadi "


Sbastian meletakkan korannya


" Ini belum waktu tidur liona "


Mama Sbastian mengerenyitkan keningnya


" Seharian Sbastian mengajak mereka beraktivitas , hari ini liona juga melakukan pemeriksaan , jadi setelah makan malam mereka langsung masuk ke dalam kamar dan tidur "


Sbastian menjelaskan


" Mama tidak percaya "


Mama Sbastian melipat tangannya di atas dada


" Mereka ada di kamar Sbastian di lantai atas , tolong jangan bangunkan liona , biarkan dia istirahat "


Sbastian berdiri dan membawa orang tuanya naik ke atas menggunakan lift


*Ting


Lift terbuka di lantai atas


" Mana kamarmu "


Mama Sbastian menatap jejeran pintu di lantai atas


" Ada di tengah "


Sbastian membawa orang tuanya masuk ke dalam kamarnya dan di sana Sean dan kedua singa kembar sudah tertidur di dalam selimut tebal biru laut milik Sbastian


" Kenapa anak ini tidur dengan anakku "


Mama Sbastian tidak suka jika kedua anaknya memeluk Sean di tengah-tengah


" Aku tidak tau , mereka bertiga hanya izin tidur di sini dan aku tidak memperhatikan bagaimana mereka tidur "


Sbastian menjawab dengan enteng


" Semoga liona benar-benar tidur "


Suara Hati Sbastian berbicara , Sbastian tidak khawatir dengan Sean , dia raja berpura-pura tidur terbaik , dan lion akan langsung hilang saat kepalanya menyentuh bantal , dan hanya saudarinya yang sangat sulit untuk berpura-pura dan tidur dengan cepat


" Liona "


Mama Sbastian mengguncang pelan liona


" Ma.. biarkan dia istirahat "


Sbastian melarang


" Liona "


Mama Sbastian mengguncang liona lagi


" Dia sudah tidur ma "


Sbastian membiarkan mamanya mengguncang liona sedikit


Terdengar suara dengkuran halus dari mulut liona yang sedikit terbuka , tangan liona yang sedikit berkedut membuat mama percaya bahwa liona sudah benar-benar tidur


" Apa Sbastian bilang , mereka sudah tidur "


Sbastian tersenyum tipis


" Baiklah , papa akan menjemput mereka besok , tapi papa bisanya malam , karena besok pagi papa harus meeting , bagaimana jika mama yang menjemput "


Papa Sbastian memberikan solusi


" Mama juga besok ada arisan , mama ngak bisa jemput , biar papa aja yang jemput "


Mama Sbastian berlalu keluar ruangan di ikuti papa Sbastian


" Iya "


Sbastian mengikuti mereka dan menutup pintu kamarnya


" Bohong tuh dosa , tapi we tau kalau demi kebaikan ntuh ngak dosa "


Sbastian mengelus dadanya sendiri


" Kakek dan nenek udah pergi ya "


Sean duduk dan menatap Sbastian


" Bagaimana di bisa tidur dengan cepat "


Sbastian menghampiri liona yang benar-benar sudah tertidur

__ADS_1


" Dengan sedikit bantuan "


Sean menunjuk gorden dan keluarlah Mao dari sana


" Saya selalu siap tuan "


Mao membungkuk hormat


" Terimakasih , kamu bisa kembali "


Sen tersenyum


" Saya pamit "


Mao membuka pintu balkon dan menutupnya kembali lalu menghilang bersama angin malam


" Papa benar-benar kagum dengan Mao , dia benar-benar setia dan hebat "


Sbastian duduk di ranjang dan Sean duduk di pangkuannya


" Tentu saja , dia kan aku yang bawa "


Sean berkata dengan bangga


" Heh sombong "


Sbastian menatap Sean sinis


" Biar "


Sean menatap Sbastian sinis


" Sebaiknya kamu tidur "


Sbastian meletakkan Sean di tengah-tengah adik kembarnya dan menyelimutinya


" Sean mau cerita "


Sean menolak selimut yang sudah naik sebahunya


" Cerita apa "


Sbastian mengambil Sean kembali


" Mau cerita tentang bunda , ceritain "


Sean menatap Sbastian dengan tatapan memohon


" Cerita yang gimana "


Sbastian membuat Sean tidur seperti adik bayi di pangkuannya


" Bagaimana saat bunda dan papa belum nikah dulu "


Sean menaikkan alisnya sebelah


" Kata papa bunda dulu menikah saat masih sekolah , terus apa yang papa dan bunda lakukan dulu sebelum menikah "


Sean memperjelas pertanyaannya


" Bundamu dulu selalu memakai rok berwarna hitam kemanapun dia pergi dengan atasan yang berwarna cerah yang panjangnya selutut "


Sbastian mulai menceritakan


Flashback on


Masa-masa sekolah


" Permisi kak "


Adinda muda , dengan seragam biru putih memasuki ruang OSIS


" Adinda "


Sbastian muda menatap adinda dengan terkejut


" Ekhem "


Asisten John muda berdehem


" I..ini , saya di suruh Bu arta memberikan berkas ini kepada kakak OSIS , saya tidak tau harus di berikan kepada siapa "


Adinda menunjukkan setumpuk kertas putih di tangannya


" Sini , biar aku periksa , oh ya kamu duduk dulu , saya mau titip kertas kertas ini ke Bu arta juga "


John muda mengambil setumpuk kertas yang di bawa oleh adinda muda dan memberikannya kepada Sbastian


" Cek ini tuan muda , aku mau ambil kertas untuk Bu arta "


John muda meletakkan setumpuk kertas yang berisi laporan-laporan kegiatan yang harus OSIS kerjakan


Bukannya menanggapi John muda , Sbastian malah sibuk menatap adinda muda yang terlihat cantik dengan hijab putihnya , kepalanya menunduk memainkan jarinya dan wajahnya yang terlihat agak pucat membuat tempat tersendiri di hati Sbastian


" Adinda "


Sbastian berdiri membawa beberapa kertas


" Berkas untuk Bu arta tidak ada di sini , bisakah kamu ikut aku ke ruang guru , berkas untuk Bu arta di sana , aku tidak bisa mengantarkan berkasnya karena aku punya urusan "


Sbastian berdiri di depan adinda dengan wajah tanpa ekspresi yang sering ia perlihatkan kepada semua spesies manusia , ya... Mungkin karena itu adinda tidak pernah mengerti perasaan Sbastian yang sebenarnya


" I..iya kak "


Adinda muda mengikuti Sbastian yang memakai baju abu putih dengan bed OSIS di sakunya


Adinda muda mengikuti Sbastian melangkah menuju ruang guru yang agak jauh dari ruang OSIS , perjalanan mereka cukup hening , di temani dengan bisik ricuh dari setiap kelas yang memiliki kegiatan masing-masing


" Ekhem "


Sbastian berdehem


" Kenapa kak "


Adinda bertanya dengan nada yang lirih


" Oh.. ngak "


Sbastian menggeleng


" Bodoh bodoh bodoh , ngomong dong "


Sbastian membatin


" Aku baru melihatmu akhir akhir ini , apa kamu baru masuk sekolah sekarang "


Sbastian mencoba memulai pembicaraan


" Iya , saya sakit , jadi saya izin "


Adinda menjawab dengan sangat sopan


" Oh.. "


" Tunggu di sini "


Sbastian membuat adinda berhenti di pintu depan dan Sbastian masuk seorang diri


" Permisi "


Sbastian membuka pintu


" Iya , kenapa Sbastian "


Seorang guru olah raga yang sedang berbincang dengan kepala sekolah menyahuti Sbastian


" Ini laporan OSIS untuk kegiatan Minggu lalu , dan saya mau mengambil buku laporan milik Bu arta yang ada di mejanya , bukunya berwarna merah dengan gambar pohon oranye di tengahnya "


Sbastian berbicara dengan sopan


" Oh... "


Pak guru olahraga berdiri dan mengambil kertas di tangan Sbastian , meletakkan di meja utama dan mengambil buku yang di maksud Sbastian


" Apa ini "


Pak guru olahraga memberikan sebuah buku besar yang persis seperti deskripsi Sbastian


" Iya pak , terimakasih "


Sbastian menerimanya dan membungkuk lalu pergi


" Ini berikan kepada Bu arta "


Sbastian memberikan buku itu kepada adinda


" Terimakasih kak saya permisi "


Adinda menerimanya dan berlalu pergi


" Lu bener bener bodoh Tian , ada kesempatan kenapa ngak di embat "


Sbastian memukul mukul kecil kepalanya dan berlalu pergi


" Hei , kecewa ya "


Asisten John muda memukul punggung Sbastian


" Kau mengikutiku sedari tadi "


Sbastian menatap tajam asisten John muda


" Hehehehe "


John hanya cengengesan


" ayo ke kantin , aku lapar "


Sbastian yang seharusnya berjalan lurus , menarik John menuju kantin di belokan lorong sebelah kanan


" Tumben , biasanya kalau ngak jam istirahat ngak akan ke kantin "


John meledek


" Otakku lapar "


Sbastian menarik John lebih cepat


" Hei hei "


John berhenti mendadak dan membuat Sbastian hampir jatuh ke belakang


" Napasih "


Sbastian menatap tajam John


" Lihat itu "


John membawa Sbastian mengintip di balik dinding


" Itu kan adinda "


Sbastian membatin


" Ada apa ya "


Sbastian mulai penasaran


Di sana Adinda di kelilingi banyak wanita yang terlihat aneh aneh di mata Sbastian , adinda memegang erat lengan sahabatnya bella , adinda terlihat bersembunyi di belakang bella yang memiliki perawakan tinggi dan badannya terlhat agak kekar , bukan seperti gadis pada umumnya yang akan berlomba-lomba untuk terlihat anggun , Bella justru bertolak belakang dengan mereka


Bella menggulung lengannya dan menyembunyikan adinda di belakangnya membuat Sbastian penasaran


" Kenapa ya "


Sbastian memperhatikan dengan seksama


" Itu para gadis yang paling populer di sekolah"


John mengenali para gadis populer itu dalam sekejap mata


" Apa yang membuat mereka populer "


Sbastian memiringkan kepalanya


" Astaga... Tentu karena cantik "


John menjawab dengan malas


" Lebih cantik adinda dari pada mereka , mereka seperti ondel-ondel , bedaknya setebal beton "


Sbastian menjawab seandanya dan membuat John memicingkan matanya


" Matamu itu sudah buta dengan adinda , makanya kau tidak bisa melihat gadis cantik "


John menonyor kepala Sbastian


" Apaan sih "


Sbastian menginjak kaki John


" Lihat , adinda mau di apakan "


John menunjuk adinda yang terlihat memegang erat pakaian bela


*Bug


Terdengar suara sesuatu yang terpukul dengan keras


*Bug


Bella , teman adinda terlihat jatuh ke samping dan seorang wanita membawa balok kayu yang sangat besar


" Yang menyakiti andinda dan temannya harus di musnahkan "


Sbastian menyingkirkan John yang ada di depannya dan berjalan mendekat

__ADS_1


Sbastian tidak melakukan apapun , dia hanya menatap tajam para gadis centil di depan adinda sambil berjalan menuju mereka semua


" S.. Sbastian "


Para gadis centil menurunkan balok kayunya dan menatap Sbastian kagum


" Ada apa ini "


Sbastian terlihat menyeramkan


" Ng..ngak ngak papa , cuma main aja "


Para gadis centil dengan rok se lutut dan rambut yang di gerai tersenyum menatap Sbastian


" Kau tidak apa "


Sbastian menatap adinda dan betapa terkejutnya Sbastian melihat darah mengalir dari hidung adinda


" Ayo ke UKS "


Saat Sbastian ingin menarik tangan adinda , adinda tiba-tiba terjatuh saat mau berjalan menuju UKS


" Bawa Bella "


Sbastian meminta kepada John


" Ok ok "


John mendekat dan menggendong Bella yang sudah pingsan di lantai


" Cepat John "


Sbastian dan John membawa mereka berdua ke UKS , melewati lorong-lorong kelas yang ramai


" Lho , kenapa ini "


Penjaga UKS terkejut melihat dua gadis yang di gendong oleh dua pria terkenal di sekolahnya


" Ini , dia mimisan dan dia pingsan "


John meletakkan Bella di bankar dan membiarkan perawat merawatnya dan Sbastian merawat sendiri adinda yang terlihat sangat pucat


" Apa yang kau rasakan "


Sbastian bertanya saat mimisan adinda berhenti


" Kepalaku sangat pusing "


Adinda menjawab dengan lirih


" Kenapa dengan Bella "


Adinda bertanya


" Bella sedang di periksa oleh suster , kau tenang saja "


Sbastian menenangkan adinda sambil membersihkan mimisan adinda yang terkadang keluar sedikit


" Aku bisa sendiri "


Adinda mencoba mengambil kapas yang di bawa Sbastian , namun kapas itu langsung terjatuh saat adinda memegangnya


" Kau sedang sakit , biar aku saja "


Sbastian tersenyum dan membuat mimisan adinda keluar kembali


" Aduh , masih keluar darahnya "


Sbastian mengusap kembali darah adinda


Setelah beberapa saat , suasana canggung menyerang


" Oh ya , Bella "


Sbastian baru ingat


" Kenapa dengannya "


Sbastian membuka gorden pembatas saat melihat adinda yang mencoba membuka gorden pembatas dan melihat Bella yang sedang di periksa oleh suster


" Ini luka serius , harus segera ke rumah sakit "


Suster itu berkata dengan panik


" Maksudnya "


Adinda terkejut


" Sepertinya dia di pukul dengan benda yang berat , ini harus segera di bawa ke rumah sakit "


Suster itu menatap mereka semua


" I..iya Bella di pukul dengan balok kayu "


Pengakuan adinda membuat semua orang terkejut


" Kenapa tidak bilang dari awal "


Sbastian mengguncang adinda sedikit


" Bawa ke mobilku "


Sbastian meminta kepada John


" Aku mau ikut "


Adinda menahan Sbastian yang hendak pergi


" Tidak perlu "


Sbastian melarang


" Tapi dia temanku , aku mohon "


Adinda memohon


" Baiklah "


Sbastian menggendong adinda menuju mobilnya yang sudah ada John di sana


" Duduk dan sangga kepala Bella seperti ini sampai di rumah sakit , apa kau bisa "


Sbastian meletakkan leher bela yang sebelah kanan di atas pangkuan adinda dan leher kiri yang memar di bagian atas


" Iya , aku mengerti "


Adinda mengangguk


" Mana kuncinya "


Sbastian meminta kunci mobilnya yang selalu di bawa John saat mereka sekolah


" Urus yang ada di sini , berikan rekaman cctv-nya kepada guru BK , jangan sampai mereka semua lolos "


Sbastian masuk ke dalam mobil menutup pintu mobilnya


" Aku mengerti "


John mengangguk faham


" Bertahanlah , kita akan sampai dalam lima belas menit "


Sbastian melajukan mobilnya perlahan hingga sampai di gerbang masuk


" Pak satpam "


Sbastian membunyikan klakson hingga pak satpam keluar dari posnya


" Mau kemana , bolos ya "


Pak satpam menatap tajam Sbastian


" Dia harus segera di bawa ke rumah sakit , tolong buka gerbang "


Sbastian membuka jendela belakang dan pak satpam melihat Bella yang memar di lehernya


" Astaga , iya saya buka "


Pak satpam membuka gerbang dan keluar dari gerbang sekolah


" Pegangi kepalanya , jangan sampai berpindah posisi "


Sbastian berbicara dengan adinda meski tidak mendapat sahutan dari adinda


Sbastian melajukan mobil dengan kecepatan penuh hingga adinda hanya memohon agar selamat selama di perjalanan , Sbastian berkali-kali membunyikan klakson agar para mobil lainnya menyingkir dari jalannya


*Priiit


Suara peluit menghentikan mobil Sbastian


*Tok tok tok


Kaca mobil Sbastian di ketuk


" Adek tau kecepatan penuh dan kebut kebutan itu di larang , dan saya terkejut bahwa anda masih sekolah "


Pak polisi menatap Sbastian tajam


" Pak , tolong biarkan saya lewat , teman saya sedang dalam keadaan darurat "


Sbastian membuka kaca pintu belakang


" Astaga , kenapa ini "


Pak polisi terkejut melihat dua gadis yang terlihat sama-sama pucat


" Kami harus segera ke rumah sakit , ini benar-benar darurat "


Sbastian menunjukkan memar di leher Bella


" Ah.. begini saja , ini SIM , KTP dan STNK saya , nanti saya akan mengambilnya di kantor polisi dan ini alamat saya "


Sbastian memberikan semua surat suratnya dan alamat rumahnya


" Baiklah , saya tunggu di kantor polisi , saya brigadir Yudi "


Polisi itu memberikan nomor HP nya


" Terimakasih pak "


Sbastian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh tidak lama


*Ckit


Mobil di rem , benar-benar hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah sakit


" Dokter "


Sbastian berhenti di depan pintu rumah sakit dan langsung berteriak memanggil bantuan


" Tuan muda "


Para perawat keluar


" Tolong dia , lehernya terluka "


Sbastian membuka pintu


" Ambilkan bankar "


Para staf rumah sakit dengan teman tuan muda mereka yang memar di lehernya


" Ayo , hati-hati "


Setelah Bella di bawa masuk , Sbastian membantu adinda yang masih lemas


" Kamu di periksa juga ya "


Sbastian membawa adinda yang masih lemas


" Dokter "


Sbastian membawa adinda masuk ke dalam ruang pemeriksaan dokter pribadi keluarganya


" Lho nona adinda "


Dokter terkejut melihat adinda yang di bawa oleh Sbastian


" Paman kenal dengan adinda "


Sbastian mendudukkan adinda di sofa


" Biar dia di periksa oleh suster "


Dokter mengambil beberapa alat pemeriksaan dan memeriksa adinda lalu memanggil suster untuk mengambilkan obat suntik


" Sudah "


Dokter sudah selesai memeriksa dan mengobati adinda yang mimisan


" Apa nona adinda tidak membawa obat "


Dokter bertanya


" Tidak , obat saya ada di sekolahan "


Adinda menjawab dengan sopan


" Kenapa bisa di sini "


Dokter duduk di samping Sbastian yang duduk berseberangan dengan adinda


" Ada teman kami yang terluka , jadi aku langsung membawanya kemari bersama adinda , dan dokter tau , aku tadi di cegat polisi dan surat-suratku di tahan , dan aku harus kesana sepulang sekolah "


Sbastian memanyunkan bibirnya

__ADS_1


__ADS_2