
" Ayo semuanya kita jama'ah di mushollah bawah "
Pak Sam membawa Sbastian , Sean , Clara dan singa kembar ke dalam musholla di dalam rumah Sbastian
" Iya kek "
Semuanya mengangguk patuh dan mengikuti pak Sam yang menjadi imam sholat magrib kali ini
Setelah sholat , Sean berlari ke atas mengambil beberapa Al-Qur'an dan iqro lalu berlari turun kembali
" Ini kakak lion sama kak lili "
Sean memberikan dua iqro
" Ini kakak cantik , ini papa dan ini Sean "
Sean memberikan masing-masing satu untuk Sbastian dan Clara
" Kakek yang jadi guru ngajinya "
Sean duduk di depan pak Sam yang belum selesai berzikir seusai shalat
" Nanti ngaji kek , sama bunda "
Sean duduk di pangkuan pak Sam sambil memeluk kitabnya dan foto adinda di letakkan di sakunya
Setelah berdoa seusai shalat , Sean yang sedari tadi sudah mengantri yang pertama , duduk di hadapan pak Sam yang meletakkan meja untuk mengaji di hadapannya
" Ngaji ya bunda "
Sean mengeluarkan foto adinda dan meletakkannya di sampingnya
" Baca bismillah "
Pak Sam membuka juz 30 di Al-Qur'an dan di ikuti Sbastian yang duduk bersama lion dan Clara yang duduk bersama liona
" Khususon bunda Sean , adinda Putri ayu "
Sean membaca beberapa surat dan dan di ikuti yang lain , setelah separuh juz 30 di baca , Sean berhenti
" Kenapa "
Clara bertanya
" Sekarang khususon kakak Sean , Adimas Ken Sora "
Sean melanjutkan membaca surat pendek hingga selesai dan di ikuti yang lain
Setelah mengaji juz 30 , pak Sam mengaji iqro bersama kedua singa kecil yang terlihat bersemangat , setelah usai mengaji , kebetulan azan isya' berkumandang , jadi mereka sekalian melaksanakan sholat isya' , setelah itu mereka semua berkumpul di ruang keluarga setelah makan malam yang tenang
" Clara "
Sbastian memulai pembicaraan
" Iya "
Clara yang saat itu sedang bermain dengan Sean dan liona menjadi menoleh
" Lalu sekarang apa yang kamu lakukan "
Sbastian bertanya
" Aku tidak tau , ini terlalu rumit "
Clara menyandarkan tubuhnya di sofa
" Kamu sekarang mau kemana "
Sbastian bertanya
" Ada rumah pribadiku di sini , aku masih ingin mengejar cita-cita ku untuk menjadi seorang guru , dan.. aku masih belum mau menikah "
Clara menatap Sbastian
" Hm... Begini saja , malam ini tidurlah di sini , besok pagi kami akan mengantarmu ke rumahmu "
Sbastian memberi pendapat
" Em... Sbastian "
Clara memanggil Sbastian dengan ragu
" Ya "
Sbastian menanggapi
" Ah... Tidak , lain kali saja "
Clara menggelengkan kepalanya
" Apa ijazah dan surat-suratmu yang lain kau bawa "
Sbastian tiba-tiba bertanya
" Tentu saja , aku tidak pernah meninggalkannya "
Clara mengangguk
" Kalau begitu mengajar saja di sekolahan di dekat kantorku , di sana kekurangan guru , aku akan merekomendasikanmu kepada temanku , aku yakin kau akan di terima "
Sbastian memberi usulan
" Akan ku pikirkan "
Clara mengangguk
" Bagaimana dengan Sean "
Sean menunjuk dirinya sendiri
" Papa masih banyak pekerjaan akhir-akhir ini , Minggu depan papa akan mengosongkan semua jadwal papa untukmu , papa akan bantu kamu cari Abah , papa janji "
Sbastian mengajukkan jari kelingkingnya
" janji ya "
Sean mengikat jari kelingking ayahnya dengan miliknya yang kecil
" Iya sayang "
Sbastian tersenyum
" Awas kalau ingkar janji "
Sean memperingatkan
" Iya iya "
Sbastian mengangguk
" Tuan "
Salah satu maid mendekat
" Kenapa "
Sbastian menolah
" Mobil nyonya dan tuan besar sudah memasuki halaman rumah "
Maid itu memberitahu
" Baiklah , kalian bertiga masuklah ke dalam kamar papa , tidurlah sekarang "
Sbastian memerintahkan dan mereka bertiga mengangguk
" Bawa nona Clara masuk ke dalam kamar tamu "
Sbastian memerintahkan maid yang masih ada di dekatnya
" Baik tuan "
Maid itu mengiyakan
" Maaf Clara "
Sbastian menatap Clara tidak enak
" Aku mengerti , ini masalah kalian "
Clara berdiri dan mengikuti maid yang membawanya ke kamar tamu
" Ayah akan masuk "
Pak Sam berdiri dan meninggalkan Sbastian di ruang tamu sendiri
Sbastian mengambil koran dan meminta kopi untuk dirinya
" Sbastian "
Papa Sbastian masuk bersama mamanya
" Dimana anak-anak "
Papa Sbastian bertanya
" Sudah tidur pa , papa dan mama agak telat , mereka sudah tidur dari tadi "
Sbastian meletakkan korannya
" Ini belum waktu tidur liona "
Mama Sbastian mengerenyitkan keningnya
" Seharian Sbastian mengajak mereka beraktivitas , hari ini liona juga melakukan pemeriksaan , jadi setelah makan malam mereka langsung masuk ke dalam kamar dan tidur "
Sbastian menjelaskan
" Mama tidak percaya "
Mama Sbastian melipat tangannya di atas dada
" Mereka ada di kamar Sbastian di lantai atas , tolong jangan bangunkan liona , biarkan dia istirahat "
Sbastian berdiri dan membawa orang tuanya naik ke atas menggunakan lift
*Ting
Lift terbuka di lantai atas
" Mana kamarmu "
Mama Sbastian menatap jejeran pintu di lantai atas
" Ada di tengah "
Sbastian membawa orang tuanya masuk ke dalam kamarnya dan di sana Sean dan kedua singa kembar sudah tertidur di dalam selimut tebal biru laut milik Sbastian
" Kenapa anak ini tidur dengan anakku "
Mama Sbastian tidak suka jika kedua anaknya memeluk Sean di tengah-tengah
" Aku tidak tau , mereka bertiga hanya izin tidur di sini dan aku tidak memperhatikan bagaimana mereka tidur "
Sbastian menjawab dengan enteng
" Semoga liona benar-benar tidur "
Suara Hati Sbastian berbicara , Sbastian tidak khawatir dengan Sean , dia raja berpura-pura tidur terbaik , dan lion akan langsung hilang saat kepalanya menyentuh bantal , dan hanya saudarinya yang sangat sulit untuk berpura-pura dan tidur dengan cepat
" Liona "
Mama Sbastian mengguncang pelan liona
" Ma.. biarkan dia istirahat "
Sbastian melarang
" Liona "
Mama Sbastian mengguncang liona lagi
" Dia sudah tidur ma "
Sbastian membiarkan mamanya mengguncang liona sedikit
Terdengar suara dengkuran halus dari mulut liona yang sedikit terbuka , tangan liona yang sedikit berkedut membuat mama percaya bahwa liona sudah benar-benar tidur
" Apa Sbastian bilang , mereka sudah tidur "
Sbastian tersenyum tipis
" Baiklah , papa akan menjemput mereka besok , tapi papa bisanya malam , karena besok pagi papa harus meeting , bagaimana jika mama yang menjemput "
Papa Sbastian memberikan solusi
" Mama juga besok ada arisan , mama ngak bisa jemput , biar papa aja yang jemput "
Mama Sbastian berlalu keluar ruangan di ikuti papa Sbastian
" Iya "
Sbastian mengikuti mereka dan menutup pintu kamarnya
" Bohong tuh dosa , tapi we tau kalau demi kebaikan ntuh ngak dosa "
Sbastian mengelus dadanya sendiri
" Kakek dan nenek udah pergi ya "
Sean duduk dan menatap Sbastian
" Bagaimana di bisa tidur dengan cepat "
Sbastian menghampiri liona yang benar-benar sudah tertidur
__ADS_1
" Dengan sedikit bantuan "
Sean menunjuk gorden dan keluarlah Mao dari sana
" Saya selalu siap tuan "
Mao membungkuk hormat
" Terimakasih , kamu bisa kembali "
Sen tersenyum
" Saya pamit "
Mao membuka pintu balkon dan menutupnya kembali lalu menghilang bersama angin malam
" Papa benar-benar kagum dengan Mao , dia benar-benar setia dan hebat "
Sbastian duduk di ranjang dan Sean duduk di pangkuannya
" Tentu saja , dia kan aku yang bawa "
Sean berkata dengan bangga
" Heh sombong "
Sbastian menatap Sean sinis
" Biar "
Sean menatap Sbastian sinis
" Sebaiknya kamu tidur "
Sbastian meletakkan Sean di tengah-tengah adik kembarnya dan menyelimutinya
" Sean mau cerita "
Sean menolak selimut yang sudah naik sebahunya
" Cerita apa "
Sbastian mengambil Sean kembali
" Mau cerita tentang bunda , ceritain "
Sean menatap Sbastian dengan tatapan memohon
" Cerita yang gimana "
Sbastian membuat Sean tidur seperti adik bayi di pangkuannya
" Bagaimana saat bunda dan papa belum nikah dulu "
Sean menaikkan alisnya sebelah
" Kata papa bunda dulu menikah saat masih sekolah , terus apa yang papa dan bunda lakukan dulu sebelum menikah "
Sean memperjelas pertanyaannya
" Bundamu dulu selalu memakai rok berwarna hitam kemanapun dia pergi dengan atasan yang berwarna cerah yang panjangnya selutut "
Sbastian mulai menceritakan
Flashback on
Masa-masa sekolah
" Permisi kak "
Adinda muda , dengan seragam biru putih memasuki ruang OSIS
" Adinda "
Sbastian muda menatap adinda dengan terkejut
" Ekhem "
Asisten John muda berdehem
" I..ini , saya di suruh Bu arta memberikan berkas ini kepada kakak OSIS , saya tidak tau harus di berikan kepada siapa "
Adinda menunjukkan setumpuk kertas putih di tangannya
" Sini , biar aku periksa , oh ya kamu duduk dulu , saya mau titip kertas kertas ini ke Bu arta juga "
John muda mengambil setumpuk kertas yang di bawa oleh adinda muda dan memberikannya kepada Sbastian
" Cek ini tuan muda , aku mau ambil kertas untuk Bu arta "
John muda meletakkan setumpuk kertas yang berisi laporan-laporan kegiatan yang harus OSIS kerjakan
Bukannya menanggapi John muda , Sbastian malah sibuk menatap adinda muda yang terlihat cantik dengan hijab putihnya , kepalanya menunduk memainkan jarinya dan wajahnya yang terlihat agak pucat membuat tempat tersendiri di hati Sbastian
" Adinda "
Sbastian berdiri membawa beberapa kertas
" Berkas untuk Bu arta tidak ada di sini , bisakah kamu ikut aku ke ruang guru , berkas untuk Bu arta di sana , aku tidak bisa mengantarkan berkasnya karena aku punya urusan "
Sbastian berdiri di depan adinda dengan wajah tanpa ekspresi yang sering ia perlihatkan kepada semua spesies manusia , ya... Mungkin karena itu adinda tidak pernah mengerti perasaan Sbastian yang sebenarnya
" I..iya kak "
Adinda muda mengikuti Sbastian yang memakai baju abu putih dengan bed OSIS di sakunya
Adinda muda mengikuti Sbastian melangkah menuju ruang guru yang agak jauh dari ruang OSIS , perjalanan mereka cukup hening , di temani dengan bisik ricuh dari setiap kelas yang memiliki kegiatan masing-masing
" Ekhem "
Sbastian berdehem
" Kenapa kak "
Adinda bertanya dengan nada yang lirih
" Oh.. ngak "
Sbastian menggeleng
" Bodoh bodoh bodoh , ngomong dong "
Sbastian membatin
" Aku baru melihatmu akhir akhir ini , apa kamu baru masuk sekolah sekarang "
Sbastian mencoba memulai pembicaraan
" Iya , saya sakit , jadi saya izin "
Adinda menjawab dengan sangat sopan
" Oh.. "
" Tunggu di sini "
Sbastian membuat adinda berhenti di pintu depan dan Sbastian masuk seorang diri
" Permisi "
Sbastian membuka pintu
" Iya , kenapa Sbastian "
Seorang guru olah raga yang sedang berbincang dengan kepala sekolah menyahuti Sbastian
" Ini laporan OSIS untuk kegiatan Minggu lalu , dan saya mau mengambil buku laporan milik Bu arta yang ada di mejanya , bukunya berwarna merah dengan gambar pohon oranye di tengahnya "
Sbastian berbicara dengan sopan
" Oh... "
Pak guru olahraga berdiri dan mengambil kertas di tangan Sbastian , meletakkan di meja utama dan mengambil buku yang di maksud Sbastian
" Apa ini "
Pak guru olahraga memberikan sebuah buku besar yang persis seperti deskripsi Sbastian
" Iya pak , terimakasih "
Sbastian menerimanya dan membungkuk lalu pergi
" Ini berikan kepada Bu arta "
Sbastian memberikan buku itu kepada adinda
" Terimakasih kak saya permisi "
Adinda menerimanya dan berlalu pergi
" Lu bener bener bodoh Tian , ada kesempatan kenapa ngak di embat "
Sbastian memukul mukul kecil kepalanya dan berlalu pergi
" Hei , kecewa ya "
Asisten John muda memukul punggung Sbastian
" Kau mengikutiku sedari tadi "
Sbastian menatap tajam asisten John muda
" Hehehehe "
John hanya cengengesan
" ayo ke kantin , aku lapar "
Sbastian yang seharusnya berjalan lurus , menarik John menuju kantin di belokan lorong sebelah kanan
" Tumben , biasanya kalau ngak jam istirahat ngak akan ke kantin "
John meledek
" Otakku lapar "
Sbastian menarik John lebih cepat
" Hei hei "
John berhenti mendadak dan membuat Sbastian hampir jatuh ke belakang
" Napasih "
Sbastian menatap tajam John
" Lihat itu "
John membawa Sbastian mengintip di balik dinding
" Itu kan adinda "
Sbastian membatin
" Ada apa ya "
Sbastian mulai penasaran
Di sana Adinda di kelilingi banyak wanita yang terlihat aneh aneh di mata Sbastian , adinda memegang erat lengan sahabatnya bella , adinda terlihat bersembunyi di belakang bella yang memiliki perawakan tinggi dan badannya terlhat agak kekar , bukan seperti gadis pada umumnya yang akan berlomba-lomba untuk terlihat anggun , Bella justru bertolak belakang dengan mereka
Bella menggulung lengannya dan menyembunyikan adinda di belakangnya membuat Sbastian penasaran
" Kenapa ya "
Sbastian memperhatikan dengan seksama
" Itu para gadis yang paling populer di sekolah"
John mengenali para gadis populer itu dalam sekejap mata
" Apa yang membuat mereka populer "
Sbastian memiringkan kepalanya
" Astaga... Tentu karena cantik "
John menjawab dengan malas
" Lebih cantik adinda dari pada mereka , mereka seperti ondel-ondel , bedaknya setebal beton "
Sbastian menjawab seandanya dan membuat John memicingkan matanya
" Matamu itu sudah buta dengan adinda , makanya kau tidak bisa melihat gadis cantik "
John menonyor kepala Sbastian
" Apaan sih "
Sbastian menginjak kaki John
" Lihat , adinda mau di apakan "
John menunjuk adinda yang terlihat memegang erat pakaian bela
*Bug
Terdengar suara sesuatu yang terpukul dengan keras
*Bug
Bella , teman adinda terlihat jatuh ke samping dan seorang wanita membawa balok kayu yang sangat besar
" Yang menyakiti andinda dan temannya harus di musnahkan "
Sbastian menyingkirkan John yang ada di depannya dan berjalan mendekat
__ADS_1
Sbastian tidak melakukan apapun , dia hanya menatap tajam para gadis centil di depan adinda sambil berjalan menuju mereka semua
" S.. Sbastian "
Para gadis centil menurunkan balok kayunya dan menatap Sbastian kagum
" Ada apa ini "
Sbastian terlihat menyeramkan
" Ng..ngak ngak papa , cuma main aja "
Para gadis centil dengan rok se lutut dan rambut yang di gerai tersenyum menatap Sbastian
" Kau tidak apa "
Sbastian menatap adinda dan betapa terkejutnya Sbastian melihat darah mengalir dari hidung adinda
" Ayo ke UKS "
Saat Sbastian ingin menarik tangan adinda , adinda tiba-tiba terjatuh saat mau berjalan menuju UKS
" Bawa Bella "
Sbastian meminta kepada John
" Ok ok "
John mendekat dan menggendong Bella yang sudah pingsan di lantai
" Cepat John "
Sbastian dan John membawa mereka berdua ke UKS , melewati lorong-lorong kelas yang ramai
" Lho , kenapa ini "
Penjaga UKS terkejut melihat dua gadis yang di gendong oleh dua pria terkenal di sekolahnya
" Ini , dia mimisan dan dia pingsan "
John meletakkan Bella di bankar dan membiarkan perawat merawatnya dan Sbastian merawat sendiri adinda yang terlihat sangat pucat
" Apa yang kau rasakan "
Sbastian bertanya saat mimisan adinda berhenti
" Kepalaku sangat pusing "
Adinda menjawab dengan lirih
" Kenapa dengan Bella "
Adinda bertanya
" Bella sedang di periksa oleh suster , kau tenang saja "
Sbastian menenangkan adinda sambil membersihkan mimisan adinda yang terkadang keluar sedikit
" Aku bisa sendiri "
Adinda mencoba mengambil kapas yang di bawa Sbastian , namun kapas itu langsung terjatuh saat adinda memegangnya
" Kau sedang sakit , biar aku saja "
Sbastian tersenyum dan membuat mimisan adinda keluar kembali
" Aduh , masih keluar darahnya "
Sbastian mengusap kembali darah adinda
Setelah beberapa saat , suasana canggung menyerang
" Oh ya , Bella "
Sbastian baru ingat
" Kenapa dengannya "
Sbastian membuka gorden pembatas saat melihat adinda yang mencoba membuka gorden pembatas dan melihat Bella yang sedang di periksa oleh suster
" Ini luka serius , harus segera ke rumah sakit "
Suster itu berkata dengan panik
" Maksudnya "
Adinda terkejut
" Sepertinya dia di pukul dengan benda yang berat , ini harus segera di bawa ke rumah sakit "
Suster itu menatap mereka semua
" I..iya Bella di pukul dengan balok kayu "
Pengakuan adinda membuat semua orang terkejut
" Kenapa tidak bilang dari awal "
Sbastian mengguncang adinda sedikit
" Bawa ke mobilku "
Sbastian meminta kepada John
" Aku mau ikut "
Adinda menahan Sbastian yang hendak pergi
" Tidak perlu "
Sbastian melarang
" Tapi dia temanku , aku mohon "
Adinda memohon
" Baiklah "
Sbastian menggendong adinda menuju mobilnya yang sudah ada John di sana
" Duduk dan sangga kepala Bella seperti ini sampai di rumah sakit , apa kau bisa "
Sbastian meletakkan leher bela yang sebelah kanan di atas pangkuan adinda dan leher kiri yang memar di bagian atas
" Iya , aku mengerti "
Adinda mengangguk
" Mana kuncinya "
Sbastian meminta kunci mobilnya yang selalu di bawa John saat mereka sekolah
" Urus yang ada di sini , berikan rekaman cctv-nya kepada guru BK , jangan sampai mereka semua lolos "
Sbastian masuk ke dalam mobil menutup pintu mobilnya
" Aku mengerti "
John mengangguk faham
" Bertahanlah , kita akan sampai dalam lima belas menit "
Sbastian melajukan mobilnya perlahan hingga sampai di gerbang masuk
" Pak satpam "
Sbastian membunyikan klakson hingga pak satpam keluar dari posnya
" Mau kemana , bolos ya "
Pak satpam menatap tajam Sbastian
" Dia harus segera di bawa ke rumah sakit , tolong buka gerbang "
Sbastian membuka jendela belakang dan pak satpam melihat Bella yang memar di lehernya
" Astaga , iya saya buka "
Pak satpam membuka gerbang dan keluar dari gerbang sekolah
" Pegangi kepalanya , jangan sampai berpindah posisi "
Sbastian berbicara dengan adinda meski tidak mendapat sahutan dari adinda
Sbastian melajukan mobil dengan kecepatan penuh hingga adinda hanya memohon agar selamat selama di perjalanan , Sbastian berkali-kali membunyikan klakson agar para mobil lainnya menyingkir dari jalannya
*Priiit
Suara peluit menghentikan mobil Sbastian
*Tok tok tok
Kaca mobil Sbastian di ketuk
" Adek tau kecepatan penuh dan kebut kebutan itu di larang , dan saya terkejut bahwa anda masih sekolah "
Pak polisi menatap Sbastian tajam
" Pak , tolong biarkan saya lewat , teman saya sedang dalam keadaan darurat "
Sbastian membuka kaca pintu belakang
" Astaga , kenapa ini "
Pak polisi terkejut melihat dua gadis yang terlihat sama-sama pucat
" Kami harus segera ke rumah sakit , ini benar-benar darurat "
Sbastian menunjukkan memar di leher Bella
" Ah.. begini saja , ini SIM , KTP dan STNK saya , nanti saya akan mengambilnya di kantor polisi dan ini alamat saya "
Sbastian memberikan semua surat suratnya dan alamat rumahnya
" Baiklah , saya tunggu di kantor polisi , saya brigadir Yudi "
Polisi itu memberikan nomor HP nya
" Terimakasih pak "
Sbastian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh tidak lama
*Ckit
Mobil di rem , benar-benar hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di rumah sakit
" Dokter "
Sbastian berhenti di depan pintu rumah sakit dan langsung berteriak memanggil bantuan
" Tuan muda "
Para perawat keluar
" Tolong dia , lehernya terluka "
Sbastian membuka pintu
" Ambilkan bankar "
Para staf rumah sakit dengan teman tuan muda mereka yang memar di lehernya
" Ayo , hati-hati "
Setelah Bella di bawa masuk , Sbastian membantu adinda yang masih lemas
" Kamu di periksa juga ya "
Sbastian membawa adinda yang masih lemas
" Dokter "
Sbastian membawa adinda masuk ke dalam ruang pemeriksaan dokter pribadi keluarganya
" Lho nona adinda "
Dokter terkejut melihat adinda yang di bawa oleh Sbastian
" Paman kenal dengan adinda "
Sbastian mendudukkan adinda di sofa
" Biar dia di periksa oleh suster "
Dokter mengambil beberapa alat pemeriksaan dan memeriksa adinda lalu memanggil suster untuk mengambilkan obat suntik
" Sudah "
Dokter sudah selesai memeriksa dan mengobati adinda yang mimisan
" Apa nona adinda tidak membawa obat "
Dokter bertanya
" Tidak , obat saya ada di sekolahan "
Adinda menjawab dengan sopan
" Kenapa bisa di sini "
Dokter duduk di samping Sbastian yang duduk berseberangan dengan adinda
" Ada teman kami yang terluka , jadi aku langsung membawanya kemari bersama adinda , dan dokter tau , aku tadi di cegat polisi dan surat-suratku di tahan , dan aku harus kesana sepulang sekolah "
Sbastian memanyunkan bibirnya
__ADS_1