
" Makasih "
Adimas membuka bungkus makanannya dan perlahan mulai memakan makanan yang dia bawa
" Sama sama , habiskan ya kak "
Sean tersenyum
" Iya "
Adimas mengangguk
" Bunda makan juga "
Adimas menyodorkan sesuap nasi
" Makanlah dulu , kalau kamu kenyang nanti bunda makan "
Adinda tersenyum
" Bunda harus makan sekarang "
Adimas memaksa
" Iya iya bunda makan "
Adinda memakannya satu suapan
" Supermarket di depan "
Sean mengisyaratkan untuk berhenti namun dirinya masih bermain hp
" Baik "
Diablo menghentikan mobilnya di supermarket yang terlihat di depan mata
" Kalian di sini dulu , aku akan segera kembali "
Sean turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam supermarket
" Bunda makan lagi "
Adimas menyuapi adinda kembali
" Sudah.. bunda sudah kenyang , kamu habiskan semua "
Adinda menghentikan Adimas yang terus menyuapinya
" Bunda bohong "
Adimas menekuk wajahnya
" Bunda ngak bohong , makanlah sayang "
Adinda memaksa Adimas
" Adimas makan kalau bunda makan "
Adimas melipat tangannya di atas dada
" Iya tapi kamu makan ya "
Adinda tersenyum kecil melihat putranya mengangguk dan mulai kembali makan
" Ayo lanjutkan paman "
Sean masuk dan duduk dengan benar
" Baik tuan "
Diablo melanjutkan perjalanannya
" Ini kopi paman "
Sean meletakkan satu kopi panas untuk Diablo minum
" Terimakasih tuan muda tampan "
Diablo tersenyum
" Jijik "
Sean bergidik ngeri
" Hahahaha "
Diablo tertawa melihat reaksi Sean
" Bunda dan kakak ini untuk kalian "
Sean memberikan dua botol minuman
" Makasih "
Adimas menerimanya dan kembali menyuapi adinda
" Bunda... "
Adimas berbisik
" Kenapa "
Adinda menanggapi
" Adimas mau ke kamar mandi "
Adimas berbisik namun suaranya tertangkap pendengaran Sean yang tajam
" Kita berhenti di pom bensin di depan "
Sean memerintahkan
" Baik "
Diablo mempercepat laju mobilnya dan berhenti untuk mengisi bahan bakar juga membawa Adimas menuju kamar mandi
Setelah urusan masing-masing dari mereka selesai , Sean meminta melanjutkan perjalanannya dengan melewati jalan tol agar lebih cepat sampai
Perjalanan di penuhi suara Sean yang menceritakan banyak hal hingga membuat Adinda menangis bahkan terisak-isak
Pukul 10.00 malam
" Tol nya masih ada berapa paman "
Sean bertanya
" Masih satu lagi "
Diablo menjawab
" Kakak dan bunda tertidur "
Sean memperhatikan Adimas yang tertidur sambil memeluk Adinda
" Ini akan menjadi perjalanan yang panjang "
Sean mengambil selimut dari dashboard dan memakaikan selimut untuk adinda dan Adimas
" Sssttt "
Sean mengkode Adimas agar tetap tenang karena terlihat adinda yang tertidur pulas
" Makasih "
Adimas menaikkan selimut untuk adinda
" Sama-sama "
Sean tersenyum
Perjalanan di penuhi keheningan hingga kembali memasuki jalan tol yang ke dua , selama perjalanan Adinda dan Adimas tertidur namun Sean menemani Diablo sepanjang malam dengan camilan , kopi dan beberapa percakapan
Hingga waktu menunjukkan pukul 00.00
" Akhirnya keluar dari tol "
Sean menghela nafas lega
" Pekerjaan anda masih banyak tuan "
Diablo bertanya
" Sudah selesai beberapa saat yang lalu "
Sean memberitahu
" Jalanan sangat lenggang "
Diablo menggerutu
" Hati-hati paman , ini berbahaya jika malam hari "
Sean mengingatkan
" Iya "
Diablo mengangguk
" Perjalanan kali ini cukup tenang "
Sean menyadari
" Mungkin di rumah cukup ramai "
Diablo memberi kemungkinan
" Hahaha aku bisa membayangkan berapa banyak orang berlalu lalang "
Sean terkekeh
" Anda sangat senang "
Diablo mencibir
" Tentu "
Sean tersenyum
Mobil melewati jalanan kota yang cukup sepi di malam itu , hingga mobil mulai memasuki area perumahan pada pukul 01.25
" Hampir pagi "
Sean memperhatikan langit yang tidak mengenakan banyak perhiasan miliknya
" Kita sampai "
Diablo berhenti dan membuka kaca jendela
Pak satpam membuka pintu gerbang dan rombongan Sean masuk ke dalam rumah
" Apa Aniel sudah tidur ya "
Sean menggerutu
" Mungkin nona tertidur "
Diablo memberikan kemungkinan yang masuk akal
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk utama
" Paman setelah ini langsung beristirahat saja "
Sean turun dari mobil
" Iya tuan "
Diablo mengangguk
*Ckelek
Sean membuka pintu belakang
" Kakak.... Kakak "
Sean mengguncang Adimas perlahan
" Ssssstttt "
Sean memberikan isyarat untuk tenang
" Biar Sean bawa bunda "
Sean berlari dan membuka pintu mobil di sebelah kanan
" Biar aku yang bawa "
Adimas menahan Sean
" Kakak baru bangun tidur , lebih baik Sean yang bawa "
Sean membawa Adinda keluar dari mobil dan Adimas mengikuti
Sean mengangkat adinda perlahan agar adinda tidak terbangun
" Bunda sangat ringan "
Sean membenarkan posisi tidur Adinda
" Woah... Ini apa "
Adimas melihat bangunan depan yang terlihat megah
" Ayo kak "
Sean menyenggol lengan Adimas
" Ah...iya "
Adimas mengikuti langkah Sean
*Kriyek
Pintu terbuka otomatis dan terlihat ruang tamu memiliki cahaya remang-remang dari arah dapur dan beberapa lampu di lantai dua
" Tidak ada siapapun "
Sean mengecek sofa
" Kak Adimas "
Sean memanggil karena Adimas masih berdiri di pintu masuk
" Jangan di lepas sendalnya , pakai saja "
Sean tersenyum
" Iya "
Adimas menginjakkan kakinya dan melihat beberapa ornament di ruang tamu dengan tatapan kagum
Sandal jepit Adimas menapak di lantai mengkilat rumah Adinda
" Ayo kak "
Sean menyadarkan Adimas
" Iya "
Adimas mengikuti langkah Sean menuju lift
*Ting
Lift terbuka
" Apa ini yang namanya lift "
Adimas menggumam
Sean membawa Adimas masuk dan pintu lift tertutup
" Bisakah kakak pencet tombol yang punya angka tiga "
Sean meminta
" Oke "
*Ting
Adimas menekan tombolnya dan pintu lift mulai tertutup
" Woah... "
Adimas terkejut saat lift di angkat ke atas
" Aku baru sadar dia lebih tinggi dariku "
Adimas memperhatikan Sean
" Badannya kecil tapi dia kuat , mungkin dia lebih tua dariku em.... Kelas dua SMA mungkin "
Adimas tenggelam di dalam pikirannya
*Ting
Lift terbuka di lantai atas
" Ayo kak "
Sean menyadarkan kekaguman Adimas
" Lewat sini "
Sean tersenyum melihat Adimas yang kagum dengan semuanya
Para pengawal hanya menunduk dan tidak mengucapkan salam ketika melihat seorang wanita di dalam gendongan tuan mudanya
" Tolong bukakan paman "
Sean meminta kamar adinda untuk di buka
" Baik tuan "
Pengawal itu membuka dan menekan sakelar lampu kamar
*Ckelek
Lampu kamar menyala dan Adimas tertarik melihat satu foto pengantin yang terpajang di sana
__ADS_1
" Itu papa dan bunda "
Sean meletakkan Adinda di atas tempat tidur yang ada di tengah ruangan , menaikkan selimut Adinda dan melepaskan peniti yang mengaitkan hijab adinda
" Inikah ayahku "
Adimas mendekati foto pernikahan adinda dan Sbastian
" Kakak mau melihat papa "
Sean berdiri di samping Adimas
" Bolehkah "
Adimas menoleh
" Apanya yang tidak boleh , dia itu kan orang tua kakak "
Sean tersenyum
" Ayo kak setelah ini kakak harus istirahat "
Sean berjalan keluar ruangan di ikuti Adimas
" Tuan "
Rudi memanggil
" Perhatian "
Sean membuat semuanya menoleh
" Apa kalian sudah mendengar kabar tentang Adimas Ken Sora , putra dari papa "
Sean bertanya
" Iya tuan "
Mereka semua mengangguk
" Ini adalah Adimas Ken Sora kakakku dan Aniel , aku harap kalian memperlakukan kakak dan bunda maksudku wanita yang tadi aku bawa , kalian harus menghormatinya sama seperti papa dan aku juga Aniel "
Sean berbicara dengan berbelit-belit
" Ahahaha kami mengerti tuan "
Rudi terkekeh
" Aku bingung paman "
Sean menyipitkan matanya
" Kami mengerti tuan "
Semua penjaga sepanjang lorong membungkuk hormat
" Salam tuan muda Adimas "
Mereka semua berbicara dengan serempak
" Ah.. iya "
Adimas terlihat terkejut
" Ayo kakak "
Sean menarik Adimas menuju kamar rawat Sbastian
*Ckelek
Pintu terbuka dan Sean masuk di susul oleh Adimas
" Itu papa "
Sean menutup pintu
" Ini ayahku "
Adimas mendekati Sbastian
" Iya... Kakak sangat mirip dengan papa "
Sean mencium kening Sbastian
" Lalu dia "
Adimas menunjuk gadis kecil yang tertidur di sana
" Dia adik kakak , namanya Alinda tapi papa sering memanggilnya Aniel "
Sean duduk di samping Aniel
*Tes
Air mata Adimas mengalir
" Kemarilah kak "
Sean mendudukkan Adimas di samping Sbastian
" Papa sering bilang kalau papa sangat sayang sama kakak "
Sean membawa Aniel ke tempat tidur satunya
" Boleh aku memeluknya "
Adimas meminta
" Tentu "
Sean membenarkan posisi tangan Sbastian
" Berbaringlah di sini "
Sean memberikan tempat
" Dia ayahku "
Adimas mensejajarkan kepalanya dengan kepala Sbastian
" Kakak istirahatlah "
Sean menaikkan selimut untuk Adimas
" Tunggu "
Adimas menahan lengan Sean
" Iya "
Sean menoleh
" Terimakasih "
Adimas tersenyum dengan air mata yang terus mengalir
" Iya... Kakak istirahatlah , Sean akan menunjukkan banyak hal besok "
Sean tersenyum
" Dia ayahku... Kata bunda ayah itu orang yang pemberani dan keren "
Adimas menatap wajah Sbastian yang terlihat pucat dengan pipi yang tirus
" Kakak "
Aniel membuka matanya
" Kakak di sini , tidurlah "
Sean meninabobokan Aniel
" Kakak lama hiks... Aniel mau kakak "
Aniel mendudukkan dirinya dan jatuh ke dalam pelukan Sean
" Maaf tadi macet "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Aniel mau kakak hiks..kakak jangan pergi lagi hiks... Hiks.. kakak "
Aniel memeluk Sean dengan erat
" Tidurlah sayang ini masih malam "
Sean berdiri dan membawa Aniel menuju jendela kamar
*Srek
Sean membuka jendela kamar rawat
" Hm...hm...hm... "
Sean bersenandung kecil dan mengayunkan Aniel agar kembali tertidur
" Dia sangat dewasa "
Adimas membatin
Adimas yang sedang memeluk lengan Sbastian dan meletakkan kepalanya di atas pundak Sbastian memperhatikan Sean dengan penuh kekaguman
" Ini masih malam kak , istirahatlah "
Sean menyadarkan lamunan Adimas
" Iya "
Adimas menyeka air matanya dan memeluk lengan Sbastian
" Kakak pasti sudah lama menginginkan kasih sayang papa , maaf ya kak Sean baru bisa temuin kakak sekarang "
Sean membatin dan menaikkan selimut Adimas
Hangat
Itu perasaan yang di rasakan Adimas , sesuatu yang sudah lama ingin dia rasakan dari dulu , kasih sayang ayah yang selalu di impikan kini dia bisa merasakannya walau tidak sepenuhnya
" Aku harap ini bukan mimpi , jika mimpi jangan pernah berakhir "
Adimas memeluk lengan Sbastian dengan perasaan yang bahagia dan semua yang dia rasakan
" Kakak... Kakak "
Suara Sean memasuki pendengaran Adimas
" Iya "
Adimas membuka matanya
" Ini sudah siang , kakak makan dulu baru lanjut istirahat "
Terlihat Sean berdiri di depannya
" Siang "
Adimas menggosok matanya
" Ini pukul sepuluh siang , kakak belum makan "
Sean membiarkan Adimas mengumpulkan nyawanya
" Bunda "
Adimas menoleh ke kanan dan ke kiri
" Bunda sedang mandi , kakak ayo mandi lalu makan "
Sean membantu Adimas berdiri
" Pagi papa "
*Cup
Sean mencium kening Sbastian
" Boleh aku melakukannya "
Adimas meminta
" Boleh"
Sean mengangguk
*Cup
Adimas tersenyum saat dirinya mencium kening Sbastian
" Adimas akan kembali lagi ayah , Adimas mandi dulu "
Adimas berdiri dan mengikuti langkah kaki Sean
*Ckelek
Sean membuka pintu kamar rawat
" Bunda "
Adimas terkejut melihat Adinda memakai jubah yang sangat cantik
" Bunda cantik "
Adimas kagum
" Pakaian ini dulu ayahmu yang belikan , jadi bunda rindu memakainya "
Adinda tersenyum dengan ujung mata yang berkilau
" Bunda sudah ketemu ayah "
Adimas bertanya
" bunda suka melihat kamu tidur dengan ayah , kalian memang mirip "
*Cup
Adinda mencium kening Adimas dan itu membuat air matanya meleleh
" Bunda "
Adimas memeluk Adinda
" Bunda tunggu kamu di sini , kamu mandilah dulu kamu bau acem "
Adinda melepaskan pelukannya
" Hehehe "
Adimas tertawa
" Ayo kak "
Sean menepuk pundak Adimas
" Sean "
Adinda memanggil
" Iya "
Sean menatap adinda
" Terimakasih banyak "
Adinda tiba-tiba memeluk Sean
" Sean sudah bilang , akan Sean lakukan apapun untuk keluarga Sean "
Sean membalas pelukan Adinda
" Babay bunda "
Adimas melambaikan tangannya saat Sean membimbing jalan dan adinda masuk ke dalam ruang rawat
" Halo mas "
Adinda duduk di samping Sbastian
*Cup
Adinda mencium bibir pucat Sbastian
" Rasanya masih manis ya "
Adinda menatap Sbastian dengan tatapan kerinduan
" Adinda ngak tau kalau bakal kayak gini jadinya "
Adinda meletakkan keningnya di atas pundak Sbastian
Adinda mencurahkan seluruh kerinduannya dengan merawat Sbastian , Adinda menyeka Sbastian , memakaikan pakaian Sbastian yang terbatas dan menunggu Adimas hingga selesai mandi di samping Sbastian
Sedangkan di kamar Adimas yang sudah di siapkan Sean , yang letaknya tepat ada di samping kamar Sean
" Ayolah kakak pakai semuanya jangan begini "
Sean memijit keningnya saat melihat Adimas yang benar-benar keras kepala tidak ingin memakai pakaian di lemari yang di siapkan oleh Sean sebelumnya
" Ini bukan pakaianku "
Adimas yang masih memakai handuk sebatas pinggang tidak mau menyentuh pakaian di lemari sama sekali
" Kembalikan tas ranselku "
Adimas meminta
" Astaga kakak "
Sean berdiri dan berjalan keluar dari kamar Adimas
Sean masuk ke dalam kamarnya dan mengambil dua tas milik Adimas lalu kembali ke kamar Adimas
" Ini tasnya "
Sean memberikan tas ransel dan tas kecil Adimas
" Aku akan mengganti pakaian , kamu keluarlah "
__ADS_1
Adimas meminta
" Oh kakak ini ada ruang ganti "
Sean dengan gemas menunjukkan ruang gantinya
" Ah baiklah "
Adimas masuk ke dalam ruang ganti meninggalkan Sean yang duduk di atas tempat tidur yang katanya milik Adimas
Setelah beberapa saat , akhirnya Adimas keluar dengan celana pendek dan kaos oblong putih miliknya sendiri yang terlihat sedikit lusuh
" Ayo kak , pasti kakak lapar "
Sean berdiri dan berjalan keluar di ikuti Adimas
*Ckelek
Sean membuka pintu kamar rawat dan terlihat Adinda memegang tangan Sbastian dan dia letakkan di pipinya
" Bunda "
Adimas menghampiri Adinda
" Kapan ayahmu sadar , katanya dia sangat mencintai ibu , tapi saat ibu di sini ayahmu tidak kunjung membuka matanya "
Terdengar suara Adinda yang sedikit bergetar
" Oh ibu "
Adimas memeluk Adinda
*Tok..tok..tok
Terdengar suara ketukan pintu
" Permisi "
Mao tersenyum
" Maaf tapi nona muda menunggu tuan Sean di bawa , dan yang lainnya menunggu nyonya dan tuan muda di bawah "
Mao menyandarkan tubuhnya di pintu kamar
" Bunda... Ini adalah Mao , pengasuh , pengawal , dan dokter pribadi Sean dulu "
Sean memperkenalkan Mao
" Mao juga merawat papa selama ini "
Sean tersenyum
" Terimakasih atas bantuanmu selama ini "
Adinda berdiri dan menyeka air matanya
" Tidak perlu seperti itu nyonya , saya suka melayani keluarga Ken Sora "
Mao membungkukkan badannya
" Dan ya , kumpulkan semua penjaga , maid dan bereskan mata tajam pengintai "
Sean mengedipkan matanya
" Sesuai perintah anda "
Mao membungkuk dan berbalik pergi
" Mari bunda em... Bolehkah saya memanggil anda seperti itu "
Sean terlihat ragu-ragu
" Tentu saja "
Adinda tersenyum
" Terimakasih "
Sean tersenyum
" Kau ini lebih tua atau lebih muda dariku "
Adimas bertanya
" Aku pergi dulu suamiku "
Adinda mencium kening Sbastian dan berlalu mengikuti Adimas dan Sean yang sudah keluar dari kamar rawat
" Perhatian semua "
Sean meminta perhatian kembali karena para penjaga sudah berganti shift
" Kalian sudah di beri tahu tentang nyonya dan tuan muda Adimas "
Sean bertanya
" Sudah tuan "
Mereka semua mengangguk
" Ini adalah tuan muda Adimas "
Sean memegang bahu Adimas
" Salam tuan muda Adimas "
Mereka semua membungkuk hormat
" Dan ini adalah nyonya Adinda "
Sean menunjuk Adinda
" Salam nyonya "
Mereka semua membungkuk
" Tidak perlu seperti ini "
Adinda terlihat canggung
" Mari bunda , kita sarapan "
Sean menunjukkan jalan
" Ah iya "
Adinda mengikuti Sean dan Adimas menggandeng tangan Adinda karena dirinya masih asing dengan sesuatu seperti ini
" Bunda bisa lewat tangga atau lewat lift , tapi sekarang kita lewat lift saja agar lebih cepat "
Sean membawa Adinda dan Adimas menuju lift
*Ting
Lift terbuka
" Mari bunda "
Sean mempersilahkan
Pintu lift tertutup dan Sean menekan lantai paling bawa
" Ini lantai dua , di lantai dua ada kamar kakek , kamar bi Aini dan deretan kamar tamu "
Sean memberitahu
" Bi Aini "
Adinda memegang lengan Sean
" Iya , pasti bi Aini menunggu kita di dapur , dan ya... Ini kejutan hanya penjaga di lantai tiga yang tau keberadaan bunda dan kakak , jadi ini kejutan besar untuk bi Aini dan kakek Sam "
Sean tersenyum
" Maksudmu ayah Sam "
Terlihat kilau bening di sudut mata adinda
" Iya "
Sean tersenyum
*Ting
Lift terbuka
" Selamat pagi tuan "
Semua maid membungkuk
" Pagi semua "
Sean keluar dari lift
" KAKAAAAAK "
Aniel berteriak dan berlari memeluk Sean
" Apa kamu suka dengan mainannya "
Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya
" Adinda "
Terdengar suara bi Aini yang bergetar tidak percaya
" Mbak Aini "
Adinda berlari memeluk bi Aini
" Sean "
Bi Aini menatap Sean
" Ini Adimas , kakak Adimas "
Sean memperkenalkan Adimas
" Apa itu putramu "
Bi Aini menyita perhatian
" Iya.. kemarilah Adimas "
Adinda memanggil
" Iya Bunda "
Adimas mendekat
" Mirip sekali dengan Sbastian "
Bi Aini menangkup wajah Adimas
" Maaf "
Adimas melepaskan tangan bi Aini
" Adinda "
Suara pak Sam terdengar
" Ayah "
Adinda memeluk pak Sam yang baru saja turun dari lift
" Kamu Adinda , katakan kamu Adinda "
Pak Sam memeluk Adinda dengan erat
" Adin rindu sama ayah "
Terdengar lirih isakan kecil dari mulut Adinda
" Kamu kemana saja nak , Sbastian benar-benar tersiksa tanpamu "
Pak Sam mengusap air mata Adinda
" Maaf ayah , Adinda benar-benar tidak bisa kembali "
Adinda menggenggam tangan pak Sam
" Dan ini putraku Adimas "
Adinda menunjuk Adimas
" Kemari nak , ini kakek "
Adinda melambaikan tangannya dan Adimas mendekat
" Seperti yang dikatakan Sean , kamu mirip Sbastian "
Pak Sam mencium kening Adimas
" Perhatian semua "
Sean menarik perhatian para pelayan dan penjaga
" Kalian tau nyonya Adinda dan tuan muda Adimas "
Sean bertanya
" Iya tuan "
Mereka semua mengangguk
" Ini adalah nyonya Adinda dan ini tuan muda Adimas , kalian tau kan apa yang harus di lakukan "
Sean tersenyum
" Salam tuan muda Adimas , salam nyonya Adinda "
Mereka semua membungkuk hormat
" Ah bunda "
Adimas berdiri di belakang Adinda
" Tidak perlu takut "
Adinda tersenyum
" Mari kita makan "
Sean meminta
" Ah... Baik "
Adimas dan Adinda mengikuti Sean
" Bunda lihat , papa memajang foto bunda dan kakak "
Sean menunjukkan foto besar di ruang tamu
" Lihat itu kamu "
Adinda menunjuk foto seorang bayi di sana
" Dan itu ayah "
Adimas menunjuk foto Sbastian bersama Sean dan Aniel
" Kapan aku bisa begini "
Adimas memperhatikan foto Sean dan Sbastian
" Setelah papa sadar "
Sean tersenyum
*Grep
Adimas memeluk Sean tiba-tiba
" Makasih "
Adimas menitikkan air mata dan itu membuat Sean terkejut
" Ini memang hak kakak "
Sean membalas pelukan Adimas
" Dia memang bukan putra kandung suamiku , tapi dia sangat baik , apa dia bisa menjadi putraku "
Adinda membatin
" Mari kak "
Sean membawa Adimas dan Adinda ke meja makan
Setelah sesi makan yang menyenangkan , Sean membawa Adinda dan Adimas berkeliling rumah
" Papa pernah bilang kalau rumah ini di bangun sesuai apa yang bunda harapkan "
Sean membuat Adinda berhenti melangkah
" Bahkan dia mengingat permintaan tidak masuk akal ku "
Adinda kembali menitikkan air matanya
" Papa bilang bunda sangat suka air mancur dan negri dongeng , jadi papa membuatkan halaman yang mirip seperti taman istana di film film negri dongeng "
Sean tersenyum
" Bahkan se detail itu "
Adinda mendudukkan dirinya di tepi air mancur
" Ini semua akan lebih indah jika malam hari , papa memperhitungkan semuanya dengan matang "
Sean berdiri di samping Adinda
" Mari ikut Sean "
Sean membawa adinda berkeliling dari gerbang utama sampai halaman belakang tempat mansion para penjaga dan para maid
Setelah puas berkeliling , Sean membawa adinda kembali ke kamar rawat Sbastian dan terlihat di sana Adimas yang sudah tertidur lelap
__ADS_1