Aku Pangeran

Aku Pangeran
#98 ( Bunda & kakak )


__ADS_3

" Makasih "


Adimas membuka bungkus makanannya dan perlahan mulai memakan makanan yang dia bawa


" Sama sama , habiskan ya kak "


Sean tersenyum


" Iya "


Adimas mengangguk


" Bunda makan juga "


Adimas menyodorkan sesuap nasi


" Makanlah dulu , kalau kamu kenyang nanti bunda makan "


Adinda tersenyum


" Bunda harus makan sekarang "


Adimas memaksa


" Iya iya bunda makan "


Adinda memakannya satu suapan


" Supermarket di depan "


Sean mengisyaratkan untuk berhenti namun dirinya masih bermain hp


" Baik "


Diablo menghentikan mobilnya di supermarket yang terlihat di depan mata


" Kalian di sini dulu , aku akan segera kembali "


Sean turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam supermarket


" Bunda makan lagi "


Adimas menyuapi adinda kembali


" Sudah.. bunda sudah kenyang , kamu habiskan semua "


Adinda menghentikan Adimas yang terus menyuapinya


" Bunda bohong "


Adimas menekuk wajahnya


" Bunda ngak bohong , makanlah sayang "


Adinda memaksa Adimas


" Adimas makan kalau bunda makan "


Adimas melipat tangannya di atas dada


" Iya tapi kamu makan ya "


Adinda tersenyum kecil melihat putranya mengangguk dan mulai kembali makan


" Ayo lanjutkan paman "


Sean masuk dan duduk dengan benar


" Baik tuan "


Diablo melanjutkan perjalanannya


" Ini kopi paman "


Sean meletakkan satu kopi panas untuk Diablo minum


" Terimakasih tuan muda tampan "


Diablo tersenyum


" Jijik "


Sean bergidik ngeri


" Hahahaha "


Diablo tertawa melihat reaksi Sean


" Bunda dan kakak ini untuk kalian "


Sean memberikan dua botol minuman


" Makasih "


Adimas menerimanya dan kembali menyuapi adinda


" Bunda... "


Adimas berbisik


" Kenapa "


Adinda menanggapi


" Adimas mau ke kamar mandi "


Adimas berbisik namun suaranya tertangkap pendengaran Sean yang tajam


" Kita berhenti di pom bensin di depan "


Sean memerintahkan


" Baik "


Diablo mempercepat laju mobilnya dan berhenti untuk mengisi bahan bakar juga membawa Adimas menuju kamar mandi


Setelah urusan masing-masing dari mereka selesai , Sean meminta melanjutkan perjalanannya dengan melewati jalan tol agar lebih cepat sampai


Perjalanan di penuhi suara Sean yang menceritakan banyak hal hingga membuat Adinda menangis bahkan terisak-isak


Pukul 10.00 malam


" Tol nya masih ada berapa paman "


Sean bertanya


" Masih satu lagi "


Diablo menjawab


" Kakak dan bunda tertidur "


Sean memperhatikan Adimas yang tertidur sambil memeluk Adinda


" Ini akan menjadi perjalanan yang panjang "


Sean mengambil selimut dari dashboard dan memakaikan selimut untuk adinda dan Adimas


" Sssttt "


Sean mengkode Adimas agar tetap tenang karena terlihat adinda yang tertidur pulas


" Makasih "


Adimas menaikkan selimut untuk adinda


" Sama-sama "


Sean tersenyum


Perjalanan di penuhi keheningan hingga kembali memasuki jalan tol yang ke dua , selama perjalanan Adinda dan Adimas tertidur namun Sean menemani Diablo sepanjang malam dengan camilan , kopi dan beberapa percakapan


Hingga waktu menunjukkan pukul 00.00


" Akhirnya keluar dari tol "


Sean menghela nafas lega


" Pekerjaan anda masih banyak tuan "


Diablo bertanya


" Sudah selesai beberapa saat yang lalu "


Sean memberitahu


" Jalanan sangat lenggang "


Diablo menggerutu


" Hati-hati paman , ini berbahaya jika malam hari "


Sean mengingatkan


" Iya "


Diablo mengangguk


" Perjalanan kali ini cukup tenang "


Sean menyadari


" Mungkin di rumah cukup ramai "


Diablo memberi kemungkinan


" Hahaha aku bisa membayangkan berapa banyak orang berlalu lalang "


Sean terkekeh


" Anda sangat senang "


Diablo mencibir


" Tentu "


Sean tersenyum


Mobil melewati jalanan kota yang cukup sepi di malam itu , hingga mobil mulai memasuki area perumahan pada pukul 01.25


" Hampir pagi "


Sean memperhatikan langit yang tidak mengenakan banyak perhiasan miliknya


" Kita sampai "


Diablo berhenti dan membuka kaca jendela


Pak satpam membuka pintu gerbang dan rombongan Sean masuk ke dalam rumah


" Apa Aniel sudah tidur ya "


Sean menggerutu


" Mungkin nona tertidur "


Diablo memberikan kemungkinan yang masuk akal


Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk utama


" Paman setelah ini langsung beristirahat saja "


Sean turun dari mobil


" Iya tuan "


Diablo mengangguk


*Ckelek


Sean membuka pintu belakang


" Kakak.... Kakak "


Sean mengguncang Adimas perlahan


" Ssssstttt "


Sean memberikan isyarat untuk tenang


" Biar Sean bawa bunda "


Sean berlari dan membuka pintu mobil di sebelah kanan


" Biar aku yang bawa "


Adimas menahan Sean


" Kakak baru bangun tidur , lebih baik Sean yang bawa "


Sean membawa Adinda keluar dari mobil dan Adimas mengikuti


Sean mengangkat adinda perlahan agar adinda tidak terbangun


" Bunda sangat ringan "


Sean membenarkan posisi tidur Adinda


" Woah... Ini apa "


Adimas melihat bangunan depan yang terlihat megah


" Ayo kak "


Sean menyenggol lengan Adimas


" Ah...iya "


Adimas mengikuti langkah Sean


*Kriyek


Pintu terbuka otomatis dan terlihat ruang tamu memiliki cahaya remang-remang dari arah dapur dan beberapa lampu di lantai dua


" Tidak ada siapapun "


Sean mengecek sofa


" Kak Adimas "


Sean memanggil karena Adimas masih berdiri di pintu masuk


" Jangan di lepas sendalnya , pakai saja "


Sean tersenyum


" Iya "


Adimas menginjakkan kakinya dan melihat beberapa ornament di ruang tamu dengan tatapan kagum


Sandal jepit Adimas menapak di lantai mengkilat rumah Adinda


" Ayo kak "


Sean menyadarkan Adimas


" Iya "


Adimas mengikuti langkah Sean menuju lift


*Ting


Lift terbuka


" Apa ini yang namanya lift "


Adimas menggumam


Sean membawa Adimas masuk dan pintu lift tertutup


" Bisakah kakak pencet tombol yang punya angka tiga "


Sean meminta


" Oke "


*Ting


Adimas menekan tombolnya dan pintu lift mulai tertutup


" Woah... "


Adimas terkejut saat lift di angkat ke atas


" Aku baru sadar dia lebih tinggi dariku "


Adimas memperhatikan Sean


" Badannya kecil tapi dia kuat , mungkin dia lebih tua dariku em.... Kelas dua SMA mungkin "


Adimas tenggelam di dalam pikirannya


*Ting


Lift terbuka di lantai atas


" Ayo kak "


Sean menyadarkan kekaguman Adimas


" Lewat sini "


Sean tersenyum melihat Adimas yang kagum dengan semuanya


Para pengawal hanya menunduk dan tidak mengucapkan salam ketika melihat seorang wanita di dalam gendongan tuan mudanya


" Tolong bukakan paman "


Sean meminta kamar adinda untuk di buka


" Baik tuan "


Pengawal itu membuka dan menekan sakelar lampu kamar


*Ckelek


Lampu kamar menyala dan Adimas tertarik melihat satu foto pengantin yang terpajang di sana

__ADS_1


" Itu papa dan bunda "


Sean meletakkan Adinda di atas tempat tidur yang ada di tengah ruangan , menaikkan selimut Adinda dan melepaskan peniti yang mengaitkan hijab adinda


" Inikah ayahku "


Adimas mendekati foto pernikahan adinda dan Sbastian


" Kakak mau melihat papa "


Sean berdiri di samping Adimas


" Bolehkah "


Adimas menoleh


" Apanya yang tidak boleh , dia itu kan orang tua kakak "


Sean tersenyum


" Ayo kak setelah ini kakak harus istirahat "


Sean berjalan keluar ruangan di ikuti Adimas


" Tuan "


Rudi memanggil


" Perhatian "


Sean membuat semuanya menoleh


" Apa kalian sudah mendengar kabar tentang Adimas Ken Sora , putra dari papa "


Sean bertanya


" Iya tuan "


Mereka semua mengangguk


" Ini adalah Adimas Ken Sora kakakku dan Aniel , aku harap kalian memperlakukan kakak dan bunda maksudku wanita yang tadi aku bawa , kalian harus menghormatinya sama seperti papa dan aku juga Aniel "


Sean berbicara dengan berbelit-belit


" Ahahaha kami mengerti tuan "


Rudi terkekeh


" Aku bingung paman "


Sean menyipitkan matanya


" Kami mengerti tuan "


Semua penjaga sepanjang lorong membungkuk hormat


" Salam tuan muda Adimas "


Mereka semua berbicara dengan serempak


" Ah.. iya "


Adimas terlihat terkejut


" Ayo kakak "


Sean menarik Adimas menuju kamar rawat Sbastian


*Ckelek


Pintu terbuka dan Sean masuk di susul oleh Adimas


" Itu papa "


Sean menutup pintu


" Ini ayahku "


Adimas mendekati Sbastian


" Iya... Kakak sangat mirip dengan papa "


Sean mencium kening Sbastian


" Lalu dia "


Adimas menunjuk gadis kecil yang tertidur di sana


" Dia adik kakak , namanya Alinda tapi papa sering memanggilnya Aniel "


Sean duduk di samping Aniel


*Tes


Air mata Adimas mengalir


" Kemarilah kak "


Sean mendudukkan Adimas di samping Sbastian


" Papa sering bilang kalau papa sangat sayang sama kakak "


Sean membawa Aniel ke tempat tidur satunya


" Boleh aku memeluknya "


Adimas meminta


" Tentu "


Sean membenarkan posisi tangan Sbastian


" Berbaringlah di sini "


Sean memberikan tempat


" Dia ayahku "


Adimas mensejajarkan kepalanya dengan kepala Sbastian


" Kakak istirahatlah "


Sean menaikkan selimut untuk Adimas


" Tunggu "


Adimas menahan lengan Sean


" Iya "


Sean menoleh


" Terimakasih "


Adimas tersenyum dengan air mata yang terus mengalir


" Iya... Kakak istirahatlah , Sean akan menunjukkan banyak hal besok "


Sean tersenyum


" Dia ayahku... Kata bunda ayah itu orang yang pemberani dan keren "


Adimas menatap wajah Sbastian yang terlihat pucat dengan pipi yang tirus


" Kakak "


Aniel membuka matanya


" Kakak di sini , tidurlah "


Sean meninabobokan Aniel


" Kakak lama hiks... Aniel mau kakak "


Aniel mendudukkan dirinya dan jatuh ke dalam pelukan Sean


" Maaf tadi macet "


Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya


" Aniel mau kakak hiks..kakak jangan pergi lagi hiks... Hiks.. kakak "


Aniel memeluk Sean dengan erat


" Tidurlah sayang ini masih malam "


Sean berdiri dan membawa Aniel menuju jendela kamar


*Srek


Sean membuka jendela kamar rawat


" Hm...hm...hm... "


Sean bersenandung kecil dan mengayunkan Aniel agar kembali tertidur


" Dia sangat dewasa "


Adimas membatin


Adimas yang sedang memeluk lengan Sbastian dan meletakkan kepalanya di atas pundak Sbastian memperhatikan Sean dengan penuh kekaguman


" Ini masih malam kak , istirahatlah "


Sean menyadarkan lamunan Adimas


" Iya "


Adimas menyeka air matanya dan memeluk lengan Sbastian


" Kakak pasti sudah lama menginginkan kasih sayang papa , maaf ya kak Sean baru bisa temuin kakak sekarang "


Sean membatin dan menaikkan selimut Adimas


Hangat


Itu perasaan yang di rasakan Adimas , sesuatu yang sudah lama ingin dia rasakan dari dulu , kasih sayang ayah yang selalu di impikan kini dia bisa merasakannya walau tidak sepenuhnya


" Aku harap ini bukan mimpi , jika mimpi jangan pernah berakhir "


Adimas memeluk lengan Sbastian dengan perasaan yang bahagia dan semua yang dia rasakan


" Kakak... Kakak "


Suara Sean memasuki pendengaran Adimas


" Iya "


Adimas membuka matanya


" Ini sudah siang , kakak makan dulu baru lanjut istirahat "


Terlihat Sean berdiri di depannya


" Siang "


Adimas menggosok matanya


" Ini pukul sepuluh siang , kakak belum makan "


Sean membiarkan Adimas mengumpulkan nyawanya


" Bunda "


Adimas menoleh ke kanan dan ke kiri


" Bunda sedang mandi , kakak ayo mandi lalu makan "


Sean membantu Adimas berdiri


" Pagi papa "


*Cup


Sean mencium kening Sbastian


" Boleh aku melakukannya "


Adimas meminta


" Boleh"


Sean mengangguk


*Cup


Adimas tersenyum saat dirinya mencium kening Sbastian


" Adimas akan kembali lagi ayah , Adimas mandi dulu "


Adimas berdiri dan mengikuti langkah kaki Sean


*Ckelek


Sean membuka pintu kamar rawat


" Bunda "


Adimas terkejut melihat Adinda memakai jubah yang sangat cantik


" Bunda cantik "


Adimas kagum


" Pakaian ini dulu ayahmu yang belikan , jadi bunda rindu memakainya "


Adinda tersenyum dengan ujung mata yang berkilau


" Bunda sudah ketemu ayah "


Adimas bertanya


" bunda suka melihat kamu tidur dengan ayah , kalian memang mirip "


*Cup


Adinda mencium kening Adimas dan itu membuat air matanya meleleh


" Bunda "


Adimas memeluk Adinda


" Bunda tunggu kamu di sini , kamu mandilah dulu kamu bau acem "


Adinda melepaskan pelukannya


" Hehehe "


Adimas tertawa


" Ayo kak "


Sean menepuk pundak Adimas


" Sean "


Adinda memanggil


" Iya "


Sean menatap adinda


" Terimakasih banyak "


Adinda tiba-tiba memeluk Sean


" Sean sudah bilang , akan Sean lakukan apapun untuk keluarga Sean "


Sean membalas pelukan Adinda


" Babay bunda "


Adimas melambaikan tangannya saat Sean membimbing jalan dan adinda masuk ke dalam ruang rawat


" Halo mas "


Adinda duduk di samping Sbastian


*Cup


Adinda mencium bibir pucat Sbastian


" Rasanya masih manis ya "


Adinda menatap Sbastian dengan tatapan kerinduan


" Adinda ngak tau kalau bakal kayak gini jadinya "


Adinda meletakkan keningnya di atas pundak Sbastian


Adinda mencurahkan seluruh kerinduannya dengan merawat Sbastian , Adinda menyeka Sbastian , memakaikan pakaian Sbastian yang terbatas dan menunggu Adimas hingga selesai mandi di samping Sbastian


Sedangkan di kamar Adimas yang sudah di siapkan Sean , yang letaknya tepat ada di samping kamar Sean


" Ayolah kakak pakai semuanya jangan begini "


Sean memijit keningnya saat melihat Adimas yang benar-benar keras kepala tidak ingin memakai pakaian di lemari yang di siapkan oleh Sean sebelumnya


" Ini bukan pakaianku "


Adimas yang masih memakai handuk sebatas pinggang tidak mau menyentuh pakaian di lemari sama sekali


" Kembalikan tas ranselku "


Adimas meminta


" Astaga kakak "


Sean berdiri dan berjalan keluar dari kamar Adimas


Sean masuk ke dalam kamarnya dan mengambil dua tas milik Adimas lalu kembali ke kamar Adimas


" Ini tasnya "


Sean memberikan tas ransel dan tas kecil Adimas


" Aku akan mengganti pakaian , kamu keluarlah "

__ADS_1


Adimas meminta


" Oh kakak ini ada ruang ganti "


Sean dengan gemas menunjukkan ruang gantinya


" Ah baiklah "


Adimas masuk ke dalam ruang ganti meninggalkan Sean yang duduk di atas tempat tidur yang katanya milik Adimas


Setelah beberapa saat , akhirnya Adimas keluar dengan celana pendek dan kaos oblong putih miliknya sendiri yang terlihat sedikit lusuh


" Ayo kak , pasti kakak lapar "


Sean berdiri dan berjalan keluar di ikuti Adimas


*Ckelek


Sean membuka pintu kamar rawat dan terlihat Adinda memegang tangan Sbastian dan dia letakkan di pipinya


" Bunda "


Adimas menghampiri Adinda


" Kapan ayahmu sadar , katanya dia sangat mencintai ibu , tapi saat ibu di sini ayahmu tidak kunjung membuka matanya "


Terdengar suara Adinda yang sedikit bergetar


" Oh ibu "


Adimas memeluk Adinda


*Tok..tok..tok


Terdengar suara ketukan pintu


" Permisi "


Mao tersenyum


" Maaf tapi nona muda menunggu tuan Sean di bawa , dan yang lainnya menunggu nyonya dan tuan muda di bawah "


Mao menyandarkan tubuhnya di pintu kamar


" Bunda... Ini adalah Mao , pengasuh , pengawal , dan dokter pribadi Sean dulu "


Sean memperkenalkan Mao


" Mao juga merawat papa selama ini "


Sean tersenyum


" Terimakasih atas bantuanmu selama ini "


Adinda berdiri dan menyeka air matanya


" Tidak perlu seperti itu nyonya , saya suka melayani keluarga Ken Sora "


Mao membungkukkan badannya


" Dan ya , kumpulkan semua penjaga , maid dan bereskan mata tajam pengintai "


Sean mengedipkan matanya


" Sesuai perintah anda "


Mao membungkuk dan berbalik pergi


" Mari bunda em... Bolehkah saya memanggil anda seperti itu "


Sean terlihat ragu-ragu


" Tentu saja "


Adinda tersenyum


" Terimakasih "


Sean tersenyum


" Kau ini lebih tua atau lebih muda dariku "


Adimas bertanya


" Aku pergi dulu suamiku "


Adinda mencium kening Sbastian dan berlalu mengikuti Adimas dan Sean yang sudah keluar dari kamar rawat


" Perhatian semua "


Sean meminta perhatian kembali karena para penjaga sudah berganti shift


" Kalian sudah di beri tahu tentang nyonya dan tuan muda Adimas "


Sean bertanya


" Sudah tuan "


Mereka semua mengangguk


" Ini adalah tuan muda Adimas "


Sean memegang bahu Adimas


" Salam tuan muda Adimas "


Mereka semua membungkuk hormat


" Dan ini adalah nyonya Adinda "


Sean menunjuk Adinda


" Salam nyonya "


Mereka semua membungkuk


" Tidak perlu seperti ini "


Adinda terlihat canggung


" Mari bunda , kita sarapan "


Sean menunjukkan jalan


" Ah iya "


Adinda mengikuti Sean dan Adimas menggandeng tangan Adinda karena dirinya masih asing dengan sesuatu seperti ini


" Bunda bisa lewat tangga atau lewat lift , tapi sekarang kita lewat lift saja agar lebih cepat "


Sean membawa Adinda dan Adimas menuju lift


*Ting


Lift terbuka


" Mari bunda "


Sean mempersilahkan


Pintu lift tertutup dan Sean menekan lantai paling bawa


" Ini lantai dua , di lantai dua ada kamar kakek , kamar bi Aini dan deretan kamar tamu "


Sean memberitahu


" Bi Aini "


Adinda memegang lengan Sean


" Iya , pasti bi Aini menunggu kita di dapur , dan ya... Ini kejutan hanya penjaga di lantai tiga yang tau keberadaan bunda dan kakak , jadi ini kejutan besar untuk bi Aini dan kakek Sam "


Sean tersenyum


" Maksudmu ayah Sam "


Terlihat kilau bening di sudut mata adinda


" Iya "


Sean tersenyum


*Ting


Lift terbuka


" Selamat pagi tuan "


Semua maid membungkuk


" Pagi semua "


Sean keluar dari lift


" KAKAAAAAK "


Aniel berteriak dan berlari memeluk Sean


" Apa kamu suka dengan mainannya "


Sean membawa Aniel ke dalam gendongannya


" Adinda "


Terdengar suara bi Aini yang bergetar tidak percaya


" Mbak Aini "


Adinda berlari memeluk bi Aini


" Sean "


Bi Aini menatap Sean


" Ini Adimas , kakak Adimas "


Sean memperkenalkan Adimas


" Apa itu putramu "


Bi Aini menyita perhatian


" Iya.. kemarilah Adimas "


Adinda memanggil


" Iya Bunda "


Adimas mendekat


" Mirip sekali dengan Sbastian "


Bi Aini menangkup wajah Adimas


" Maaf "


Adimas melepaskan tangan bi Aini


" Adinda "


Suara pak Sam terdengar


" Ayah "


Adinda memeluk pak Sam yang baru saja turun dari lift


" Kamu Adinda , katakan kamu Adinda "


Pak Sam memeluk Adinda dengan erat


" Adin rindu sama ayah "


Terdengar lirih isakan kecil dari mulut Adinda


" Kamu kemana saja nak , Sbastian benar-benar tersiksa tanpamu "


Pak Sam mengusap air mata Adinda


" Maaf ayah , Adinda benar-benar tidak bisa kembali "


Adinda menggenggam tangan pak Sam


" Dan ini putraku Adimas "


Adinda menunjuk Adimas


" Kemari nak , ini kakek "


Adinda melambaikan tangannya dan Adimas mendekat


" Seperti yang dikatakan Sean , kamu mirip Sbastian "


Pak Sam mencium kening Adimas


" Perhatian semua "


Sean menarik perhatian para pelayan dan penjaga


" Kalian tau nyonya Adinda dan tuan muda Adimas "


Sean bertanya


" Iya tuan "


Mereka semua mengangguk


" Ini adalah nyonya Adinda dan ini tuan muda Adimas , kalian tau kan apa yang harus di lakukan "


Sean tersenyum


" Salam tuan muda Adimas , salam nyonya Adinda "


Mereka semua membungkuk hormat


" Ah bunda "


Adimas berdiri di belakang Adinda


" Tidak perlu takut "


Adinda tersenyum


" Mari kita makan "


Sean meminta


" Ah... Baik "


Adimas dan Adinda mengikuti Sean


" Bunda lihat , papa memajang foto bunda dan kakak "


Sean menunjukkan foto besar di ruang tamu


" Lihat itu kamu "


Adinda menunjuk foto seorang bayi di sana


" Dan itu ayah "


Adimas menunjuk foto Sbastian bersama Sean dan Aniel


" Kapan aku bisa begini "


Adimas memperhatikan foto Sean dan Sbastian


" Setelah papa sadar "


Sean tersenyum


*Grep


Adimas memeluk Sean tiba-tiba


" Makasih "


Adimas menitikkan air mata dan itu membuat Sean terkejut


" Ini memang hak kakak "


Sean membalas pelukan Adimas


" Dia memang bukan putra kandung suamiku , tapi dia sangat baik , apa dia bisa menjadi putraku "


Adinda membatin


" Mari kak "


Sean membawa Adimas dan Adinda ke meja makan


Setelah sesi makan yang menyenangkan , Sean membawa Adinda dan Adimas berkeliling rumah


" Papa pernah bilang kalau rumah ini di bangun sesuai apa yang bunda harapkan "


Sean membuat Adinda berhenti melangkah


" Bahkan dia mengingat permintaan tidak masuk akal ku "


Adinda kembali menitikkan air matanya


" Papa bilang bunda sangat suka air mancur dan negri dongeng , jadi papa membuatkan halaman yang mirip seperti taman istana di film film negri dongeng "


Sean tersenyum


" Bahkan se detail itu "


Adinda mendudukkan dirinya di tepi air mancur


" Ini semua akan lebih indah jika malam hari , papa memperhitungkan semuanya dengan matang "


Sean berdiri di samping Adinda


" Mari ikut Sean "


Sean membawa adinda berkeliling dari gerbang utama sampai halaman belakang tempat mansion para penjaga dan para maid


Setelah puas berkeliling , Sean membawa adinda kembali ke kamar rawat Sbastian dan terlihat di sana Adimas yang sudah tertidur lelap

__ADS_1


__ADS_2