Aku Pangeran

Aku Pangeran
#115 ( raja fils aine Rudeus )


__ADS_3

" Makam itu adalah makam dari raja pertama di negri tiran naga hitam "


Key menjawab


" Lalu di sampingnya "


Fleur bertanya


" Adik dari raja tiran pertama "


Key menjawab


" Siapa itu raja tiran "


Fleur bertanya


" Tentunya saja suamimu "


Sean tiba-tiba saja datang dan duduk di samping Fleur


" Suamiku becanda deh "


Fleur memeluk Sean


" Ngak becanda lho "


Sean membalas pelukan Fleur


" Ah masa "


Fleur menyangga kepalanya dengan kedua tangannya


" Ih bener "


Sean mencubit hidung Fleur


" Tuan , kita jadi pulang hari ini atau sesuai rencana "


Key bertanya


" Kita pulang hari ini "


Sean membawa Fleur ke dalam gendongannya


" Baik tuan "


Key berdiri


Sean dengan penuh canda tawa berjalan sambil menggendong Fleur pulang menuju pulau Tigre


Saat perjalanan pulang , tidak terlihat satupun penduduk desa Tiger , di sana hanya terlihat penduduk kerajaan merak


" Dimana ibu dan ayah dan lainnya "


Fleur bertanya


" Mereka mungkin sudah ada di rumah "


Sean menjawab


" Oh... "


Fleur mengangguk


Setelah sampai di pulau Tiger , terlihat semua penghuni suku Tiger sudah ada di atas pulau


" Apa masih ada yang tertinggal "


Sean bertanya kepada key


" Salam tuan , semua orang sudah ada di sini , silahkan anda beri perintah berlayar "


North memberitahu


" Hm... Ayo kita pergi "


Sean melangkah masuk ke dalam pulau dan pulau langsung berlayar tanpa penghormatan dari suku merak


" Pangeran paon , saya akan kembali untuk mengunjungi makam raja tiran pertama "


Sean menoleh ke belakang


" Saya selalu menunggu anda tuan "


Paon menunduk hormat


Dua Minggu Sean telah menapakkan kaki di pulau , Sean menerima sebuah surat dari rumah


" Aku mau lihat "


Fleur datang sambil membawa semangkuk kacang tanah yang di ambil dari kebunnya sendiri


" Astaga sayang , kamu makan apa itu "


Sean terkejut melihat Fleur membawa semangkuk kacang penuh


" Kacang , aku pengen "


Fleur duduk di samping Sean


" Sepertinya kita harus ke dokter deh sayang"


Sean menyentuh kening Fleur


" Aku sehat Lo mas "


Fleur mulai memanggil Sean dengan panggilan mas karena Sean bercerita tentang Adinda yang manja kepada Sbastian


" Iya iya.... Tapi kamu gemukan lho "


Sean mencubit pipi Fleur


" Biarin "


Fleur menyingkirkan tangan Sean


" Sayang sering pengen yang aneh-aneh ngak akhir-akhir ini "


Sean menyingkirkan rambut Fleur


" Iya , kayak kemaren pas mandi Fleur pengen minum air laut "


Fleur memberitahu


" Astaga , terus kamu minum "


Sean bertanya


" Iya minum tadi pagi di pinggir kebun , terus lihat kacang jadi pengen makan kacang deh "


Fleur mengangguk


" Kita beneran harus periksa yank nanti "


Sean memberitahu


Sean membuka satu kertas yang terlihat tebal


*Srek


Jatuh banyak kertas-kertas kecil dari dalam amplop yang di hias indah


" Woah "


Fleur mengambil satu kertas


__________ ✉️


Kakak Sean , aku kemarin habis makan kacang sama papa Bram , terus aku pulang sama bilang-bilang ke kakak , kakak iri deh


Mutiara ( definisi pamer )


___________


" Astaga Mutiara , bisa bisanya kamu nakal hadueh... "


Sean menggelengkan kepalanya


" Kan masih kecil mas "


Fleur membuka kertas yang lain


____________ ✉️


Sean , aku habis bikin Aniel nangis gara-gara aku habisin puding dia dua hari yang lalu , terus yang kemaren aku buang boneka Mutiara ke kolam jadi dia nangis


Reyhan


____________


" Bisa gak sih bogemku tak kirim pulang"


Sean menggerutu kesal


" Hahahaha "


Fleur tertawa membaca surat dari Reyhan


____________✉️


Kak SeaN , aku haBs bung hapeya kakak ehan gara gara dia buan BonEka MutIAra ke kolam renang kakak samA papa yang DAlem , JaDi kak ReHan naNgis ke pApa Bram KataNa aku yaN salaH


Aniel ( definisi dendam ke Reyhan )


_____________


" Hahahaha bagus cantik , kakak bangga padamu "


Sean terbahak-bahak setelah membaca surat dari Aniel


" Astaga ajaran siapa ini "


Fleur meletakkan surat Aniel dan membuka surat yang lain


" Ajaran aku lha "


Sean berbangga diri


" Gitu kok bangga "


Fleur mencubit pipi Sean


" Iya dong "


Sean menunjukkan Gigi putihnya


______________✉️


Sean , aku habis pukul Reyhan gara-gara buang boneka Mutiara ke kolam , habis itu aku jitak kepalanya gara gara dia habisin puding kesukaan Aniel , terus aku konci dia di kamar gara gara bangunin mama sama bunda yang lagi istirahat


Adimas ( Definisi marah gegara Reyhan )


______________


" Ini kok Reyhan semua masalahnya "


Fleur meletakkan surat dari Adimas


" Dasar kak Reyhan "


Sean membuka surat lainnya


___________✉️


Sean... Aku dongkol dengan Reyhan , jadi harus aku apakan dia


Fadlan ( definisi singkat padat dan jelas )


___________


" Bisakah kak Fadlan ngomong panjang walau di surat "


Sean meletakkan surat Fadlan


" Hahaha , saudara mas lucu-lucu ya "


Fleur tertawa


" Dasar ga jelas "


Sean melanjutkan membaca semua surat yang dia dapat bersama Fleur dengan di iringi canda tawa bersama


" Mau balas mas "


Fleur bertanya


" Kirim sesuatu aja deh sayang , tapi apa"


Sean berfikir


" Surat aja lho mas , aku mau liat mas nulis"


Fleur meminta


" Tapi aku males yank "


Sean menolak


" Ayolah mas , aku mau liat mas nulis boleh la mas "


Fleur memaksa


" Iya deh "


Sean berdiri dan mengambil kertas juga bulpoin


_______✉️


Untuk saudaraku : aku akan membunuh kalian jika berani buat bidadariku marah


Untuk saudariku : kakak akan hajar kak Reyhan begitu kakak kembali


Katakan pada papa dan mama/bunda aku baik di sini , aku makan teratur dan istirahat cukup.............


______________


Sean mengirimkan pesan yang cukup panjang hingga Fleur puas melihat Sean menulis


" Puas sayang "


Sean bertanya


" Udah "


Fleur mengangguk


" Oke kita kirim "


Sean membungkus pesan miliknya dan mengirimkannya dengan beberapa bunga teratai salju yang sudah di awetkan dengan sihir


" Hm.... Aku capek , ayo bobok "


Fleur mengajak


" Tumben sih , ini kan masih pagi "


Sean membawa Fleur naik ke atas peraduan yang sedikit berubah


" Gatau "


Fleur memeluk Sean dan memejamkan matanya


Seketika Fleur tertidur tanpa bisa di ganggu


" Harus panggil tabib nih "


Sean perlahan melepaskan pelukan Fleur dan berjalan keluar rumah


Beberapa saat berlalu dan Sean kembali pulang , terlihat Fleur masih di posisi yang sama dan masih terlelap


" Ayo tabib periksa dia , ada yang aneh dengan istriku "


Sean mempersilahkan seorang tabib tua yang sudah ratusan tahun di atas pulau


" Baik tuanku "


Tabib menyentuh pergelangan tangan Fleur


" Eum... "


Fleur menepis tangan tabib dan berbalik


" Tabib , istriku akhir-akhir ini suka makan yang aneh-aneh lalu dia punya kebiasaan baru yang aneh-aneh "


Sean menjelaskan


" Em.... Maaf tuan saya mau bertanya "


Tabib terlihat tidak enak


" Silahkan "


Sean mempersilahkan


" Kapan terakhir kali nyonya mengalami hari libur bulanan "


Tabib bertanya dengan berhati-hati


" Ah... Em..... "


Sean berfikir


" Tidak pernah "


Sean menjawab


" Iya tuan "


Tabib memastikan


" Tidak pernah... Dia tidak libur sejak aku di sini , lalu katanya bulan kemarin adalah hari pertama dia libur tapi aku yakin bulan ini dia belum libur "


Sean terlihat berpikir


" Ya aku yakin bulan ini dia belum libur , karena setiap malam dia melayaniku "


Sean terlihat yakin


" Hahahaha selamat ya tuan , anda sangat kuat "


Tabib terlihat bahagia


" Selamat kenapa "

__ADS_1


Sean kebingungan


" Bisakah saya memeriksa nyonya "


Tabib meminta


" Baiklah "


Sean mengambil tangan Fleur dan membiarkan tabib memeriksanya


" Hm... Dari perkiraan , kandungan nyonya sudah berumur satu Minggu , jadi tuan harus berhati-hati ya "


Tabib memberitahu


" Tabib mari kita keluar "


Sean membenarkan posisi tidur Fleur dan menarik tabib keluar rumah


Di luar rumah


" Katakan lagi tabib "


Sean tersenyum


" Eh.... Itu tuan , kandungan nyonya sudah berumur satu Minggu "


Tabib memberitahu dengan sedikit takut


" Eum...... Yes yes yes hahahaha yuhuuuu "


Sean mengangkat tangannya ke atas tinggi-tinggi dan melompat ria karena bahagia


" Hore hore hore "


Sean menggoyangkan pinggulnya dengan iringan nada dari mulutnya


" Kenapa tuan "


Key datang bersama Aloe


" Coba tebak hm..hm.. "


Sean menaik turunkan alisnya dengan senyum bahagia yang lebar


" Hehe hahaha "


Sean terlihat memeluk dirinya sendiri dan berputar-putar di halaman depan


*Brugh


" Hahaha haha haha "


Sean memeluk dirinya dan berguling-guling di lantai


" Hm.... Nona Aniel memberi surat "


Key menebak


" Toteeet salah "


Sean menyilangkan tangannya


" Hm.... Anda memanen kentang raksasa "


North tiba-tiba datang dan ikut menebak


" Toteeeet salah besar "


Sean menggeleng


" Anda sedang bahagia "


Terdengar suara Fleur dari belakang


" Sayangnya aku udah bangun "


Sean memeluk Fleur dan membawa Fleur duduk


" Kenapa seneng banget ini "


Fleur mengambil tangan Sean dan mengendusnya


" Ah ya tabib , ini untuk tabib "


Sean memberikan satu koin emas


" Astaga ini banyak sekali tuan "


Tabib terkejut


" Makasih tabib hehe "


Sean tidak mendengarkan tabib dan masih memeluk Fleur


" Saya pamit undur diri "


Tabib berlalu pergi dengan perasaan bahagia


" Apa tuan memanen wortel besar dari ladang "


Lao masih menebak


" Salah hehehe "


Sean memperhatikan Fleur yang masih mengendus tangannya


" Suamiku , aku mau makan ikan asih "


Fleur meminta


" Aku akan belikan "


Sean menurunkan Fleur


" Mau beli apa aja "


Sean menawari


" Ikan asin aja "


Fleur memberitahu


" Okeh cintaku , aku pergi babay "


Sean meninggalkan Fleur sambil melompat riang menuju pasar


" Hm...hm... Haha haha Lala Lala "


Sean bersenandung ria dan melompat kesana kemari menuju pasar


Setelah sampai di pasar


" Paman beli ikan asin dua kotak "


Sean berbelanja dengan senyuman


" Baik tuan , ikan asin yang seperti apa "


Paman penjual menunjukkan berbagai macam ikan asin


" Fleur tidak memberitahuku untuk beli yang mana "


Sean mengerenyitkan keningnya


" Memangnya tuan pemilik beli ikan asin untuk apa "


Seorang anak kecil bertanya


" Tidak sopan sayang "


Paman penjual memperingatkan


" Itu anak paman "


Sean bertanya


" Iya tuan , maaf atas kelancangannya "


Paman penjual membungkuk hormat


" Tidak usah haha "


Sean tertawa


" Paman tau , aku juga akan jadi seperti paman , aku akan punya bayi hahaha "


Sean memberitahu dengan riang


" Benarkah tuan , selamat tuan "


Paman penjual ikut tersenyum


" Terus tadi dia mau ikan asin , tapi aku bingung ikan asin yang seperti apa "


Sean berkacak pinggang


" Kalau begitu biar saya selesaikan masalah tuan "


Paman penjual mengambil satu kotak anyaman bambu dan memberikan beberapa ikan asin dari semua jenis ikan asin di sana


" Wah paman hebat hahaha "


Sean tertawa


Paman penjual memberikan dua kotak ikan asin


" Ini adek kecil , makasih paman aku pulang"


Sean memberikan uangnya kepada putra paman penjual


" Ha ha haha ha laa laaaa lalalala "


Sean pulang dengan riang gembira tiada tara


Setelah sampai di rumah


*Tak


Kotak ikan asin yang dia bawa terjatuh


*Sring


Perdana yang selalu menjadi ikat pinggangnya kini keluar


Dalam sekejap mata , Sean membuat halaman rumahnya penuh dengan darah dengan banyak kepala yang berserakan


" Maaf aku terlambat "


Sean memeluk Fleur yang tergeletak di atas lantai


" Tuan "


Beberapa orang datang dengan beberapa tabib


" Beri mereka perawatan , aku akan merawat istriku sendiri "


Sean membawa Fleur masuk ke dalam rumah


" Aku akan mengecek nyonya "


North menarik seorang wanita muda masuk ke dalam rumah


" Tuan , biar dia memeriksa nyonya "


North memanggil Sean


" Hm... "


Sean meletakkan Fleur di atas tempat tidur dengan lembut


" Permisi tuan "


Wanita muda itu memeriksa Fleur perlahan


" Siapa yang mengirim mereka "


Sean bertanya kepada north


" Saya masih mencari tahu tentang hal ini , saya akan segera mengabari anda jika sudah mendapatkan informasi "


North menjawab


" Hm... "


Sean hanya berdehem pendek


" Nyonya hanya terkejut , tidak ada luka sama sekali di tubuh nyonya "


Tabib memberitahu


" Bagaimana kandungannya "


Sean bertanya


" Kandungan nyonya masih muda , jadi nyonya harus banyak beristirahat dan tidak boleh kelelahan.... "


Tabib itu menjelaskan beberapa hal


" Aku mengerti , ini untukmu "


Sean memberikan beberapa koin


" Terimakasih banyak tuan "


Tabib itu membungkuk dan mengundurkan diri


" Aku ingin pelakunya segera di tangkap , kau mengerti kan North "


Sean menghampiri Fleur


" Saya mengerti , saya pamit undur diri "


North membungkuk dan pergi meninggalkan Sean


" Maaf "


Sean menggenggam tangan Fleur dan menciumnya


" Kita harus ganti baju "


Sean melepaskan pakaiannya dan menggantinya


Setelah itu Sean mengganti pakaian Fleur yang penuh dengan darah dengan pakaian tidur


Setelah itu , Sean duduk di samping Fleur dan memandangi wajah pucat Fleur


" Sayang maafkan mas ya "


Sean mengusap lembut kening Fleur


" Tadi aku sudah membelikanmu ikan asin , kau harusnya tau bahwa di sini ada malaikat kecil kita "


Sean mengecup kening Fleur lama


" Benarkah "


Terdengar suara Fleur lirih


" Sayang "


Sean terkejut


" Lalu mana ikan asinnya "


Fleur meminta dengan lirih


" Hahaha sayangku "


Sean memeluk Fleur dan tanpa sadar Sean menitikkan air mata


" Kau menangis "


Nafas Fleur berhembus lembut di telinga Sean


" Iya iya.... terimakasih ya Allah "


Sean memeluk Fleur dengan erat


Sore harinya


" Sayang mau makan apa "


Sean bertanya


" Makan apa aja deh , aku laper hehe "


Fleur menunjukkan Gigi gingsul miliknya


" Mas mau masak ayam yang tadi beli di depan "


Sean memberikan segelas air hangat untuk Fleur


" Iya , Fleur akan makan semua yang suamiku masak "


Fleur meminum air hangatnya perlahan


Sean beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur di belakang rumah


Beberapa saat setelahnya


" Sayang makan dulu "


Sean meletakkan semua apa yang dia masak di atas meja makan


" Woah.... Banyak banget "


Fleur terkejut


" Iya dong , kan buat istri aku "


Sean membawa Fleur dari tempat tidur menuju meja makan


" Mau yang mana dulu "


Sean mengambil sebuah piring


" Mau ini dulu "


Fleur mulai makan dengan lahap sambil sesekali menyuapi Sean hingga yang ada di atas meja makan ludes tak tersisa


" Hahaha istriku imut banget "


Sean mencubit pipi Fleur

__ADS_1


" Iya... Adek bayinya laper "


Fleur mengangguk


" Masih laper "


Sean mengusap perut rata Fleur


" Udah kenyang hehe "


Fleur menyandarkannya tubuhnya di atas sandaran kursi panjang


" Sekarang kita tunggu turun dulu habis itu baru tidur "


Sean membawa Fleur ke atas peraduan dan menyangga tubuh Fleur dengan tubuhnya


" Suamiku "


Fleur memanggil


" Kenapa "


Sean yang sudah memejamkan matanya kini berbisik


" Tidak "


Fleur menggeleng


Satu bulan berlalu , kini Sean mendapat kabar bahwa esok hari akan sampai di pulau yang di tuju


" Sayang.... Fleur beneran gak boleh turun "


Fleur memeluk Sean dari belakang


" Maaf cintaku , pulau ini berbahaya dan lagipun aku tidak akan lama "


Sean menjelaskan


" Huuuhh.... Iya deh Fleur nurut "


Fleur menggosokkan wajahnya di punggung Sean


" Maaf ya cantik "


Sean berbalik dan memeluk Fleur dengan lembut


" Anak ayah besok jaga ibu ya "


Sean berlutut dan berbicara dengan calon bayinya


" Gamau "


Fleur menirukan suara anak kecil


" Kok ga mau "


Sean bertanya


" Ayah nakal sih "


Fleur menjawab


" Hahaha bisa saja istriku ini "


Sean membawa Fleur ke atas tempat tidur


" Istirahatlah sayang , aku pergi sebentar "


Sean meletakkan Fleur dan masuk ke dalam sebuah portal


Esok harinya


" Sayang beneran gak boleh ikut "


Fleur bertanya kembali di jembatan sebrang


" Maaf cantik , key dan Lao akan menemanimu di sini , aku akan segera kembali "


Sean mengusap kepala Fleur


" Jangan lama-lama ya "


Fleur meminta


" Iya "


*Cup


Sean mengecup kening Fleur


" Dah sayang "


Sean melambaikan tangannya saat akan menyebrang


" Cepat pulang "


Fleur berteriak


" Iya "


Sean tersenyum dan menyebrang


" Kita kemana dulu tuan "


North bertanya


" Ke Utara "


Sean mulai berjalan sesuai arah kompas buatannya sendiri


" Kita mencari apa sih tuan "


Aloe bertanya


" Sesuatu hahaha "


Sean tertawa


" Hadueh..... Tuan selalu saja "


Aloe menggelengkan kepalanya


Sean berjalan melewati beberapa sungai dan lembah kecil hingga matahari hampir terbenam


" Kita bangun tenda di sini "


Sean menancapkan kayu yang dia bawa


" Saya siapkan api unggun "


North mengambil tugas


" Saya yang akan bangun tenda "


Aloe mulai membantu Sean mendirikan tenda modern yang selalu di bawa oleh Aloe kemanapun ia pergi


" Woah.... Tendanya sangat praktis ya "


North kagum


" Ntahlah Aloe itu selalu bawa beginian "


Sean melepaskan alas kakinya dan masuk ke dalam tenda


" Kan bisa berguna tuan hehe "


Aloe cengengesan


" Ayo makan malam "


Sean keluar dan mulai mengeluarkan beberapa hal dari dalam dimensi portal miliknya


" Kita makan mi instan hahahaha "


Sean tertawa jahat


" Woah.... Anda bawa ini tuan "


Aloe terkejut


" Apa itu "


North bertanya


" Ini enak North , aku gak berani makan kalau sama Fleur , takutnya dia kecanduan ini nanti "


Sean mulai merebus air di halaman tenda


" Anda bawa panci "


Aloe terkejut


" Wajah juga lho hahaha "


Sean mengeluarkan wajan mini miliknya


" Astaga "


Aloe terkejut


Setelah mi siap dengan telur ceplok di atasnya , Sean mulai menyajikan makanan di bantu Aloe


" Hem..... Enyak "


North terlihat makan dengan lahap


" Tentu saja ini kan mie instan hahahaha "


Sean dan Aloe terbahak-bahak melihat North mulai tambah


Setelah makan , Sean melanjutkan dengan ibadah di dalam dimensi Portas seperti biasa


" Ayo istirahat "


Sean yang baru keluar mengajak kedua orang di sana yang masih sibuk menghangatkan badan


" Baik "


Mereka berdua masuk dan terakhir Sean


" Hm..... Taburi garam buat jaga-jaga "


Sean keluar dan menaburi garam di sekitar tenda dengan di bacakan beberapa ayat pendek dari Al-Qur'an


" Ayo dah tidur "


Sean masuk dan menutup resleting tenda


" Aku di tengah "


Aloe meminta


" Takut ya "


North mengejek


" Nggak tuh "


Aloe mengelak


" Masa... Ngak percaya tuh "


North masih mengejek


" Oke , gimana kalau tuan di tengah "


North memberi usul


" Oke siapa takut "


Aloe mengiyakan


" Yakin ngak mau di tengah "


Sean memberikan dua buah kantong tidur


" Iya tuan , akan saya buktikan kalau saya tidak takut "


Aloe memelototi North


" Hahaha , jangan takut lho ya "


Sean masuk ke dalam kantong tidur dan menghangatkan dirinya


" Woah... Apa ini "


North memperhatikan kantong tidur yang di berikan Sean untuknya


" Masuk ke sana dan tarik ini hingga kau merasa hangat "


Aloe memberi tahu caranya


" Oke "


North masuk dan memakainya dengan benar


" Woah.... Hebat ini sangat hemat tempat "


North masuk dan mulai memejamkan matanya


Saat tengah malam


" Permisi "


Terdengar suara seseorang


" Siapa ya "


North terbangun


" Tolong aku "


Suara itu terdengar kembali


" Jangan di buka , biarkan saja "


Sean memperingatkan


" Tapi tuan , itu siapa "


North menunjuk sebuah siluet seorang wanita di sana


" Tidurlah kembali , itu bukan manusia "


Sean memperingatkan


" A..a...aaa...apa tuan "


North terkejut


" Itu bukan manusia , tidurlah "


Sean memberitahu dengan enteng


" T..tu..tuan... Tuan ada lagi di sini "


North menunjuk siluet yang lain


" Mereka ada banyak , tapi mereka tidak akan bisa masuk , tidurlah North "


Sean berbalik membelakangi North


" Tuan.... Ini menyeramkan "


North merebahkan dirinya dan memperhatikan sekeliling yang terdapat banyak siluet seseorang di sana


" Jangan di pedulikan , tidurlah aku akan menjagamu "


Sean menarik North untuk berbaring


Esok harinya


" Kau tidak tidur "


Sean terkejut melihat North yang berbaring dengan mata terbuka


" Saya tidak bisa tidur "


North menjawab


" Astaga , sudah ku bilang mereka tidak akan masuk "


Sean membangunkan Aloe


" Tuan benar hahaha "


North tertawa kikuk


" Bagus , kau akan mengantuk di perjalanan"


Aloe mengejek


" Apa kau "


North memelototi Aloe


" Sudah ayo "


Sean keluar dan membuat sarapan , sedangkan Aloe membersihkan tenda


" Nih makan , melek itu matanya "


Sean memberikan semangkuk mie


" Iya tuan "


North memakan makanan yang di berikan Sean


" Saya tuan "


Aloe duduk di samping north


" Ini "


Sean memberikan semangkuk mie


Setelah sarapan , Sean membawa kedua anak buahnya kembali menelusuri hutan


" Hei apa itu "


Sean menghampiri sebuah telur kecil


" Telur rubah api "

__ADS_1


North terkejut


__ADS_2