Aku Pangeran

Aku Pangeran
#47 ( Mao )


__ADS_3

" Sean "


Sbastian di bantu pak Sam dan yang lainnya berkeliling di seluruh sudut rumah mencari Sean


" Tidak mungkin dia keluar "


Sbastian menggumam


" Kau benar , pagarnya di kunci , dia juga tidak mungkin bisa memanjat "


Pak Sam menyahuti


" Argh.... "


Sbastian mengacak rambutnya frustasi


" PAPAAAAAA "


Terdengar teriakan Sean yang menggema di seluruh semua tempat


" Sean "


Sbastian terkejut


" SEAN... KAMU DIMANA "


Sbastian membalas teriakan Sean


" SEAN DI SINI PA "


Sean membalas teriakan Sbastian


" Iya.... Kamu dimana nak , di sini itu dimana"


Sbastian menengok ke kiri dan ke kanan


" Sean masih di halaman , di tempat semula , Sean di sini bisa liat papa "


Suara Sean menjawab


" Kenapa papa ngak bisa liat kamu "


" Papa... Papa ada di depan Sean "


Sean menunjukkan keberadaannya


" Benarkah , tapi kenapa papa tidak bisa melihatmu "


Sbastian menatap kosong ke depan


" Kak Mao , papa Sean udah nunggu "


Sean berbicara dengan seseorang


" Sebentar lagi tuan muda , tunggu sebentar lagi "


Orang yang di sebut Mao itu menjawab Sean


" Kamu berbicara dengan siapa "


Sbastian bertanya


" Dengan kak Mao , papa tenang saja , Sean sebentar lagi keluar "


Sean menenangkan papanya


Setelah hampir satu jam Sbastian mondar-mandir di halaman yang luas menunggu Sean , dan yang lain melihat Sbastian mondar mandir seperti setrikaan menjadi ikut pusing


" Papa.... Sean pusing liat papa "


Suara Sean mengomentari


" Kamu ngak keluar-keluar papa yang pusing "


Sbastian duduk di tanah dan memegangi kepalanya


" Astaga tuan , jangan duduk di tanah , itu kotor "


Para maid panik


" Tuan , tolong jangan duduk di tanah "


Para maid mengambil kursi juga tikar dan banyak benda


" ASTAGA DIAM "


Sbastian membentak semua maid yang mengelilinginya


" Maaf tuan "


Para maid mundur beberapa langkah ke belakang dan membungkukkan badan


" Pergi "


Sbastian memijit keningnya yang pusing


Beberapa saat yang lalu


" Papa.... Awas ya "


Sean berhenti dan melihat Sbastian yang berlari meninggalkannya


" Astaga "


Sean terkejut karena ada lubang putih di sampingnya


" Selamat sore tuan muda "


Sebuah kepala macan muncul dan menyapa Sean dengan ramah


" Maaf jika saya kasar "


Tiba-tiba kepala macan itu menggigit lengan Sean dengan lembut dan menarik Sean masuk


" Astaga "


Sean yang tidak bersiap hampir terjatuh namun di tangkap oleh ekor macan putih yang membawanya masuk ke dalam lubang putih itu


" Lagi..... "


Sean melihat sekeliling , memang tempatnya masih di halaman rumahnya namun banyak bunga dan banyak macan macan putih yang keluar dari hutan buatan di halaman rumah


" Siapa kalian "


Sean bertanya dengan malas


" Salam tuan muda "


Mereka semua serempak membungkukkan badan ala macan


" Maaf atas kelancangan putri yang tua ini , yang tua ini tidak bisa mendidik putri yang tua "


Seekor macan putih dengan bulu yang agak tebal membungkuk di hadapan Sean


" Ya...ya... Apa mau kalian "


Sean bertanya dengan santai


" Putri yang tua ini dikirim oleh nona alula untuk menjaga tuan muda di sini "


Macan putih itu melihat seekor macan putih lainnya yang di kenali oleh Sean


" Oh.... Kamu yang narik aku sembarangan tadi "


Sean berkacak pinggang


" Eh....eh... Maafkan saya tuan muda hehehe"


Macan putih itu menggosokkan kepalanya di bahu kecil Sean


" Apa buktinya jika kak alula mengirim kalian "


Sean melihat macan tua itu intens


" Ambilkan juo "


Macan tua itu menatap salah satu macan yang lebih kecil di sampingnya


Macan kecil yang bernama juo itu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik badannya dan mendorongnya mendekati Sean


" Silahkan tuan muda "


Macan tua itu sedikit mundur ke belakang


" Memang kotak dari kak alula "


Sean mengambil kotak dengan ukiran bunga yang indah itu dan membukanya , di sana terdapat sepucuk surat dan sisik ikan


" Hm.... Ini memang dari kak alula "


Saat Sean mengangkat surat itu , sebuah kalung terjatuh dari dalam surat


" Ini buah as "

__ADS_1


Sean mengambil kalung dengan buah as yang berbentuk seperti hati se kecil kelingking tangan yang di makan sedikit di ujung kanannya


" Pakailah "


Sean melemparkan kalung buah as kepada macan yang menariknya masuk ke dalam dimensi


" Dan ini makanlah "


Sean memberikan sisik alula kepada macan yang menariknya masuk ke dalam dimensi


" Siapa namamu "


Sean membaca surat itu lalu menutupnya


" Nama Putri tua itu Mao "


Macan tua itu menjawab


" Baik , kata alula kamu bisa menjadi manusia "


Sean menatap Mao dan melipat tangannya di atas dada


" Bisa bisa "


Mao dengan semangat berdiri lalu merubah dirinya menjadi seorang wanita cantik tanpa busana


" Astagfirullah "


Sean spontan berbalik


" Hehehe maaf tuan muda "


Mao mengambil beberapa helai daun yang sangat lebar lalu menutup tubuhnya


" SEAN... "


Suara Sbastian masuk ke dalam dimensi itu


" Itu...... Astaga itu papa , cepat cepat buka pintu dimensinya kembalikan aku "


Sean panik


" Papa , papa mencariku , cepat kembalikan aku "


Sean menatap macan tua itu


" Tunggu tuan muda , saya ikut tunggu sebentar "


Mao meloncat kesana kemari membuat pakaian dari serat daun


" Cepatlah Mao "


Sean melipat tangannya di atas dada


" SEAN KAMU DI MANA "


Suara Sbastian terdengar semakin dekat


" Papa "


Sean mengigit jarinya


" Maaf tuan muda "


Macan tua itu mengitari Sean tiga kali lalu terlihatlah halaman rumah dan Sean bisa melihat semua orang yang sibuk mencarinya


" Jika anda berteriak maka ayah anda bisa mendengar anda "


Macan tua memberitahu


" PAPAAAAAA "


Sean berteriak dengan kencang agar Sbastian dapat mendengarnya


" SEAN... KAMU DIMANA "


Sbastian membalas teriakan Sean


" SEAN DI SINI PA "


Sean membalas teriakan Sbastian


" Iya.... Kamu dimana nak , di sini itu dimana"


Sbastian menengok ke kiri dan ke kanan


" Sean masih di halaman , di tempat semula , Sean bisa liat papa "


Suara Sean menjawab


" Kenapa papa ngak bisa liat kamu "


" Papa... Papa ada di depan Sean "


Sean menunjukkan keberadaannya


" Benarkah , tapi kenapa papa tidak bisa melihatmu "


Sbastian mencari keberadaan Sean


" Kak Mao , papa Sean udah nunggu "


Sean berbicara dengan seseorang


" Sebentar lagi tuan muda , tunggu sebentar lagi "


Orang yang di sebut Mao itu menjawab Sean


" Kamu berbicara dengan siapa "


Sbastian bertanya


" Dengan kak Mao , papa tenang saja , Sean sebentar lagi keluar "


Sean menenangkan papanya


" Kak Mao lama amat sih.... "


Sean menghentakkan kakinya


" Sebentar lagi tuan muda "


Mao benar-benar berlarian dan membuat Sean pusing apalagi papanya yang tidak bisa diam di depannya


" Astaga papa... Jangan mondar-mandir dong , Sean pusing liatnya "


Sean mengomentari


" Papa yang pusing kalau kamu kayak gini "


Sbastian mondar-mandir sambil memijat keningnya


Setelah itu Sbastian duduk di tempat dan memijat keningnya


" Astaga tuan itu kotor "


Para maid berlarian mengambilkan kursi , tikar dan yang lainnya


" Tuan jangan duduk di bawah tuan "


" Tuan nanti badan anda kotor "


" Saya bawakan kursi , silahkan duduk di sini tuan "


" ASTAGA DIAM "


Sbastian membentak mereka


" Ma..maaf tuan "


Para maid menunduk


" PERGI "


Sbastian melirik mereka


" Ba..baik tuan "


Para maid mundur dan membawa barang-barang yang dibawanya pergi


" Hihihi papa beneran marah nih "


Sean membatin


" Aaaaarrrrgggghhh "


Sbastian mengacak-acak rambutnya frustasi


" CEPETAN MAO "


Sean menghentakkan kakinya kesal


" Sudah tuan sudah "

__ADS_1


Mao datang dengan pakaian dari serat daun yang hanya menutupi beberapa bagian tubuhnya


" Hanya membuat seperti ini kamu lama sekali "


Sean menggelengkan kepalanya


" Hehehe "


Mao hanya cengengesan melihat Sean


" Cepat bawa aku pulang atau semua ini porak poranda "


Sean mengancam


" Ba..baik tuan "


Mao dengan segera membuat portal dan Sean segera keluar dari portal


" PAPAAAAAA "


Sean melompat ke dalam pelukan Sbastian


" Sean takut pa hiks "


Sean memulai dramanya


" Kamu dari mana "


Sebenarnya Sbastian sangat tidak senang , namun karena air mata palsu Sean Sbastian menjadi luluh


" Hiks.. Sean dari tempat yang luas , Sean ngak tau tapi kakak ini yang bawa Sean kembali "


Sean menunjuk Mao yang baru keluar dari portal


" Kamu yang menyelamatkan putraku "


Sbastian berdiri dan melihat Mao yang memiliki rambut putih dan kulit yang seputih susu bahkan bisa di bilang pucat meskipun pakaiannya tidak terlihat


" Iya tuan "


Mao mengangguk seperti yang di ajarkan Sean


" Papa.... Boleh kakak ini jadi pengganti bunda azza , kalau bunda azza udah lahiran kan kasihan kalau Sean sendirian , biarin kakak ini yang ngerawat Sean ya kalau papa ada urusan mendadak "


Sean tiba-tiba merayu


" Papa harus menguji dia , jika tidak maka papa takut terjadi sesuatu kepadamu "


Sbastian membelai rambut Sean


" Baik papa "


Sean mengangguk


" Sekarang kita istirahat dulu , sudah hampir malam "


Sbastian membawa Sean masuk ke dalam rumah


" Ta...tapi... Kue bunda "


Sean melihat kotak cake untuk sitter azza yang masih utuh


" Tidak usah "


Sbastian menjawab dengan pendek


" Padahal Sean kan pingin ketemu bunda "


Sean menatap kotak cake itu sedih


" Sudah malam "


Sbastian tetap membawa Sean masuk ke dalam rumah


" Iya papa "


Sean menjawab dengan lesu


" Mari nona "


Yuka membawa Mao masuk


" Ba..baik "


Mao mengikuti Yuka


" Woah...... Seperti Goa yang di ukir , indah sekali "


Mao membatin namun masih bisa mengendalikan diri


" Itu batu ya "


Mao membatin saat melihat sofa yang berjejer rapih di ruang tamu


" Kamu masih harus melewati masa seleksi jadi kamu di sini adalah tamu , ini kamarmu"


Yuka menunjukkan kamar tamu untuk Mao


" Maaf , apa nama benar-benar anda Mao "


Yuka bertanya dengan sopan


" Iya namaku Maozi Azalea , itu namaku "


Mao menyebutkan nama yang di berikan Sean


" Baik , kalau begitu silahkan beristirahat , saya permisi "


Yuka membiarkan Mao masuk dan Yuka menutup pintunya


" Woah..... Cantiknya "


Saat Mao sudah sendirian Mao menjadi dirinya sendiri yang sejatinya seekor macan , meski tubuhnya manusia namun sifat macannya tetap melekat di dalam diri Mao , Mao melompat kesana kemari membuat banyak barang berantakan


" ini batu untuk tidur ya "


Mao mendekati tempat tidur dan duduk di atasnya


" Astaga lembut sekali batunya "


Mao meletakkan pipinya di atas tempat tidur


" Woah..... Bisa membuatku melambung "


Mao melompat ke atas tempat tidur


" Woah..... Lucunya "


Mao melompat lompat di atas tempat tidur hingga puas


Setelah beberapa jam Mao merasakan tempat tidur pendengaran Mao yang tajam menangkap suara Sean yang berbicara dengan papanya


" Wah... Ada tuan muda "


Mao melompat dari atas tempat tidur dan hendak keluar


" Oh iya , ini kan belum ganti "


Mao sadar akan pakaiannya dan mencoba beberapa pakaian sesuai dengan arahan Hana yang sedari tadi di minta oleh Sean untuk membantu Mao


Kini Mao sudah mandi dan berganti pakaian dengan baju atasan kaos putih longgar dengan rok hitam se lutut


" Bagaimana , aku cantik kan "


Mao berkaca menatap dirinya dengan kagum


" Iya.. iya.. kamu cantik "


Hana saudara jiji menyahuti


" Terimakasih "


Mao mengikat rambutnya tinggi


" Sama-sama "


Hana terbang dan duduk di pundak Mao


" Ayo keluar , tuan muda pasti sudah menunggu "


Hana meminta


" Baik "


Mao tersenyum dan keluar lalu menjadi pribadi yang di perintahkan oleh Sean


Pribadi Mao sangat periang dan tidak tau malu , bagi Mao apapun yang dilakukannya asalkan tidak terlalu menganggu orang lain ya nyaman nyaman saja namun kini Sean meminta agar Mao bersikap baik sesuai ajaran Hana yah.... Meskipun nantinya masih akan menyusahkan Hana dan Sean sendiri


Hai ni author , sejujurnya di eps ini aq rasa kurang memanjakan imajinasiku jadi mohon maap kalo ngak memuaskan



ini buat ilustrasi peri Hana sama peri jiji

__ADS_1


__ADS_2