
*Priiit
Terdengar suara peluit dan tiba-tiba muncullah sebuah mobil polisi di depan mobil Mao
*Ckiiiit
Mao spontan menghentikan laju mobil
Terlihat pak polisi mengetuk kaca mobil dan Mao membukanya
" Kecepatan anda melebihi kecepatan maksimal nyonya "
Polisi itu sedikit berteriak
" Maaf pak , ini keadaan darurat "
Mao menjawab
*Cessss...
Terdengar suara ban mobil di kempeskan dan terasa mobil tiba-tiba menurun lebih rendah
" Apa yang kalian lakukan "
Mao sedikit berteriak
" Kami ini sedang dalam keadaan darurat "
Mao memukul setir mobil
" Tapi anda melewati rambu-rambu dan melebihi batas kecepatan "
Pak polisi membentak Mao
" ANDA... "
Mao keluar dari mobil dan terlihat hendak memukul pak polisi
"Mamaaa... "
Sean berteriak membuat Mao menoleh
" perut kakak sakit ma..hiks.. mama "
Sean menangis dan memegangi perutnya
Mao Dengan spontan membuka pintu belakang dan membawa Sean ke dalam pelukannya
" Kapan ke papa.. perut kakak sakit ma "
Sean memeluk Mao dengan erat
" Jadilah mama yang baik "
Sean berbisik
" Iya sayang mama telpon papa dulu ya.. sabar ya "
Mao mengikuti akting Sean
" Perut kakak sakit maaa hiks.. mama "
Sean melemas di dalam pelukan Mao
" Iya iya sebentar "
Mao membawa Sean duduk di atas trotoar
" Sakit maaa... Kata mama kita ke paman dokter.. hiks.. biar perut aku ngak sakit lagi "
Sean memegangi erat perutnya
" Sabar ya kakak , sebentar "
Mao terlihat mencoba menelpon seseorang dan membuat para polisi di sana merasa iba
" Uhuk.. "
Tiba-tiba Sean memuntahkan segumpal darah
" Kamu kenapa... Sebentar ya sebentar , bertahanlah sebentar "
Mao berdiri dan memasukkan telfon genggam miliknya dan berlari menjauh
" Nyonya.. nyonya "
Para polisi itu memanggil namun Mao tidak mendengarkan
" Susul nyonya itu , kasihan anaknya "
Beberapa pak polisi segera menyalakan kendaraannya dan menyusul Mao dengan segera
" Mari naik.. kami akan mengantarkan anda menuju rumah sakit "
Polisi itu menawarkan
" Uhuk.. uhuk.. mama aku kenapa "
Sean terlihat bergetar dan menangis
" Mari nyonya , saya antarkan dengan cepat"
Pak polisi yang membawa mobil berhenti dan membukakan pintu
" Terimakasih "
Mao dengan segera masuk ke dalam mobil dan pak polisi di iringi dengan sirine yang berisik membelah jalanan yang sepi dengan kecepatan penuh
" Putra anda kenapa "
Pak polisi bertanya
" Dia sudah sakit sejak dua tahun yang lalu "
Mao menjawab
" Lalu di mana papanya "
Pak polisi bertanya lagi
" Dia berada di luar negri untuk mengurus pekerjaan , kami baru mendapat biaya untuk pengobatannya dua bulan yang lalu "
Mao menyeka keringat Sean
" Mama... Perutku sakit "
Sean memeluk tangan Mao yang menyeka keningnya
" Iya nanti kita ke dokter ya , jangan takut ya , kakak baik-baik saja kok "
Mao terlihat tersenyum membuat pak polisi semakin merasa bersalah
" Kita sudah sampai "
Pak polisi turun dan membukakan pintu
" Terimakasih tuan "
Mao sedikit membungkuk
" Kami bersalah maafkan kami "
Para polisi membungkuk
" Papaaaa huaaaaaa... "
Sean menangis saat melihat Kelvin yang baru tiba di rumah sakit
" Dia muntah darah sedikit "
Mao menyerahkan Sean kepada Kelvin
" Astaga.. bagaimana bisa "
Kelvin membawa Sean berlari masuk ke dalam rumah sakit di ikuti Mao dan membuat para polisi semakin dan semakin merasa bersalah
" Semoga dia bisa sembuh "
Pak polisi yang membawa mobil melepaskan topinya
" Aku merasa bersalah "
Pak polisi yang menghentikan mobil Mao terlihat jelas sangatlah kecewa dengan perilakunya sendiri
" Aku akan menjenguknya nanti "
Pak polisi yang lain mulai berkumpul
Di dalam lift rumah sakit
" Ada apa memangnya "
Kelvin menatap Sean malas
" Kami di tangkap , ya tidak mungkin menyerahkan diri begitu saja "
Mao menjawab
" Hahaha Mao keren "
Sean tertawa
" Ini tuan muda ya , kalau akting hebat banget "
Mao membersihkan darah Sean
" Tapi tuan muda benar-benar berdarah "
Kelvin mengusap pipi Sean
" Ini karena Sean memang sakit , bentar lagi sembuh kok "
Sean menjawab
" Iya kan Mao "
Sean menatap Mao
" Iya tuan muda "
Mao dengan telaten membersihkan Sean menggunakan tisu basah yang selalu dia bawa di dalam kantongnya
" Apa terjadi sesuatu paman "
Sean menatap Kelvin
" Di kabarkan ada beberapa penyusup , mereka sudah menangkapnya "
Kelvin menjawab
" Memang benar , sasaran mereka bukan Sean "
Sean menggumam
" Maksudnya "
Kelvin menaikkan alisnya
" Sasaran mereka hanya papa dan Aniel , dan ya paman , tolong selidiki masalah ini , Sean merasa ada yang masih terlewati "
Sean mengerenyitkan keningnya
" Iya iya "
Kelvin mengusap alis Sean
*Ting
Lift terbuka
" Astagaaaaa "
Mao dan Kelvin terkejut saat melihat darah berceceran di lantai
" Salam tuan "
Mereka semua membungkuk hormat
" Apa yang terjadi "
Kelvin bertanya
" Kami tidak sengaja membunuh satu orang , namun yang lain kami letakkan di dalam markas "
Luis menjawab
" Apa mereka sampai masuk ke dalam kamar tuan "
Mao bertanya
" Tidak... Untung saja Arka dengan cepat mengetahui mereka , jadi tidak sampai masuk "
Luis menjawab
" Hm... Siapa dia "
Sean menunjuk seorang prajurit yang berdiri di samping pintu kamar rawat Sbastian
" Ini rekan kami "
Arka menjawab
" Bawa kemari "
Sean memerintahkan
" Baik.. hei kamu , kesini "
Luis melambaikan tangannya dan dia mendekat
" Siapa namamu paman "
Sean menatap pria itu tajam
" S..saya Rohit "
Penjaga itu menjawab
" Bisa kita bicara di ruangan lain "
Sean masuk ke dalam pelukan Mao
" Iya tuan "
Mao mengangguk
" Ayo masuk "
Mao membuka ruangan yang ada di dekat kamar rawat Sbastian dan mempersilahkan Rohit untuk masuk
" Kunci pintunya Mao "
Sean memerintahkan
" Baik tuan "
Mao mengunci pintu dan membawa Sean duduk di atas tempat tidur di sana
" Duduklah paman "
Sean mempersilahkan
" Terimakasih tuan "
Rohit duduk di atas sofa
" Sejak kapan paman masuk ke sini "
Sean memeluk bantal di dekatnya
" S..saya baru satu tahun tuan "
Rohit menjawab
" Lalu.. sudah berapa tahun paman menjadi mata-mata "
Sean membuat Rohit terkejut
" Tenang paman , tidak perlu mengeluarkan senjata api , hanya ada kita bertiga , tidak ada yang dengar "
Sean menenangkan Rohit
" Begini paman.. Sean mendapat kabar bahwa kemampuan paman ini tidak di ragukan , jika bersedia.. apa paman mau menjadi anggota Sean "
__ADS_1
Sean membuat Mao dan Rohit terbelalak
" Tuan anda.. "
Mao hendak berbicara namun Sean sudah menghentikannya
" Paman.. menurut laporan yang Sean terima , paman ini terpaksa karena pengobatan untuk adik kecil paman "
Sean tersenyum
" Dari mana kamu.. "
Rohit terkejut
" Jika paman mau bergabung dengan Sean , adik kecil paman akan di obati oleh Mao , Sean ini juga punya adik kecil yang sakit , jadi Sean tau rasanya "
Sean tersenyum
" Jika aku bergabung dengan kalian , makan nyawa gadis kecilku tidak akan terjamin "
Rohit menatap Sean tajam
" Paman.. jika paman sudah bergabung , Sean akan membawa adik kecil paman ke suatu tempat yang hanya kami yang tau , Sean akan membuatkan identitas baru untuk adik paman dan paman bisa menyekolahkan adik paman "
Sean membuat Rohit terkejut
" Haha.. kamu bercanda , sekarang saja aku tidak mampu membayar pengobatannya "
Rohit tertawa
" Paman , Sean janji "
Sean tersenyum
" Baiklah.. sekarang paman ikuti Sean "
Sean masuk ke dalam gendongan Mao
" Ke kamar Aniel "
Sean berbisik
" Tapi tuan dia.. "
Mao berbicara namun Sean segera menutup mulut Mao dengan kedua tangannya
" Ikuti saja Mao "
Sean tersenyum
" Baik tuan "
Mao mengangguk dan membawa Sean masuk ke dalam kamar rawat Aniel
" ayo masuk "
Sean memerintahkan dan Rohit masuk ke dalam kamar rawat Aniel
" Ini adikku , namanya Alinda , tapi papa memanggilnya Aniel "
Sean di dudukkan di samping Aniel
Saat Sean menunjukkan kondisi Aniel , Rohit bergetar.. dirinya mengingat adik kecilnya yang tidak kalah kecil dari Aniel
" Aniel berumur satu tahun , dia ikut terluka saat kecelakaan tadi siang , dia ada di ruang operasi selama tiga jam dan saat dia keluar dari ruang operasi Mao bilang retinanya rusak "
Sean membelai kepala Aniel
" I..iya aku terpaksa "
Rohit membuat Sean menoleh
" Dia sudah sakit sejak kecil... Aku bingung harus bagaimana lagi "
Rohit terlihat mulai menitikkan air mata
" Ayah dan ibu hanya meninggalkannya , dan tidak mungkin aku membiarkan dia meninggalkanku juga "
Rohit mulai terisak
" Kalau saya bersedia bergabung dengan anda , apakan anda akan menepati semua janji anda "
Rohit menatap Sean
" Aku mendapat informasi bahwa kau sangatlah kuat , jadi... Mengapa tidak "
Sean tersenyum
" Aku akan melakukan apapun untuk kesayanganku haha "
Sean terkekeh
" Baik tuan , saya percaya kepada anda "
Robin membungkuk
" Mao.. bawa paman ini pulang , setelah itu rawat adik kecilnya dan jika di butuhkan siapkan satu kamar di sini , aku akan di sini sampai kau kembali "
Sean membuat Mao terbelalak
" Tuan.. anda tidak bisa apercaya begitu saja dengannya "
Mao berkata dengan lirih
" Oh.. aku kira aku juga tidak hanya begitu saja percaya padamu , apalagi kau itu siluman , yang aku tau makhluk seperti kalian itu suka membohongi manusia "
Sean membuat Mao tercekat
" Ya..tapi tuan , saya kan ada alasan "
Mao membuat Sean terkekeh
" Apa alasannya "
Sean menaikkan alisnya
" Karena leluhur saya berhutang kepada leluhur anda "
Mao menjawab
" Oh... Kalau leluhurmu tidak berhutang kepada leluhurku maka kau tidak akan mengikuti aku... Benarkan Mao "
Sean membuat Mao terbelalak
" Bukan begitu tuan "
Mao mulai gelagapan
" Kalau begitu aku akan menjadi leluhurku sekarang , pergilah Mao.. aku baik-baik saja di sini "
Sean menenangkan Mao
" Ngak mauuu.. "
Mao mulai merajuk seperti anak kecil
" Pergilah eum.... Jika kau melaksanakan tugas dengan baik , maka aku akan memberimu hadiah "
Sean membuat Mao berhenti merengek
" Tuan tidak bohong "
Mao mengacungkan telunjuknya
" Apa aku pernah bohong "
Sean menaikkan alisnya
" Tidak "
Mao menggeleng
" Pergilah "
Sean melambaikan tangannya
" Baik tuan "
Mao dengan lesu berjalan keluar
" Ikuti dia paman Rohit "
Sean memerintahkan
Rohit membungkuk dan berjalan mengikuti Mao
" Hei kecil... Kakak janji akan membuat kamu sembuh sepenuhnya , cepat buka matamu ya "
Sean menggenggam tangan Aniel
*Tok..tok..tok
Terdengar suara ketukan pintu
" Masuk "
Sean berteriak
" Paman Diablo "
Sean terkejut
" Ini penyaring mimpi yang anda beli tadi pagi "
Diablo memberikan satu kantung plastik hitam
" Apa Mao menyuruh paman menyelidiki perempuan yang menjual ini , Mao bilang paman akan menyuruh salah satu fifteen trust untuk menyelidiki "
Sean mengeluarkan penyaring mimpi miliknya
" Iya , namun masih belum ada hasil karena tuan besar memerintahkan untuk membuka kasus sepuluh tahun lalu dan... "
Diablo baru menyadari kalimat Sean
" Anda mengetahui fifteen trust "
Diablo membuat Sean terkekeh
" Tentu "
Sean mengeluarkan semua barang yang dia beli dari kantong plastik
" Dari mana anda tau "
Diablo membuat Sean menoleh
" Aku kan yang menamai , gimana sih "
Sean menggerutu
" Anda mengatakan sesuatu "
Diablo mendekat
" Tuan besarmu yang meminta pendapat tentang nama itu "
Sean menjawab dengan enteng
" Bisakah pamam keluar , adik kecilku akan terusik nanti "
Sean memerintahkan
" Saya keluar "
Diablo keluar dengan perasaan yang sedikit terkejut
Satu Minggu berlalu , Sean memindahkan Sbastian ke rumah agar bisa di rawat di ruangan yang sama saat dirinya koma dulu , Sean sudah bisa berjalan normal dengan latihan keras selama satu Minggu juga hari ini adalah hari Aniel melepaskan perban di wajahnya , meski Aniel belum siuman.. Sean tetap meminta agar Aniel di rawat di RS
" Saya akan memberikan operasi plastik jika wajah nona perlu di operasi "
Dokter kulit dan dokter-dokter yang menangani Aniel mulai menjelaskan kondisi Aniel kepada Mao dan melepaskan perban Aniel secara perlahan
" Kapan adikku akan sadar dokter , ini sudah seminggu "
Sean bertanya
*Eugh..
Belum sempat menjawab , terdengar suara lenguhan dari mulut kecil Aniel
" Adik "
Sean duduk di samping Aniel
" Papa "
Aniel membuka matanya perlahan
" Hah.. lap.. hah... Papa papaaaaaa na lap HUAAAA hiks.. papa..hiks.. papa "
( Gelap.. gelap.. hah.. papa papaaaaaa kenapa gelap HUAAAA hiks.. papa..hiks..papa )
Aniel menangis keras dan menjauhkan apapun yang ada di sampingnya saat matanya telah terbuka
" Kakak di sini "
Sean memegang tangan Aniel yang kesana kemari
" Adek tenang dek.. tenang "
Sean memasukkan Aniel ke dalam pelukannya
" Tak "
( Kak )
Aniel memastikan
" Ini kakak , tenanglah "
Sean berbisik
" tak ..hiks.. "
( Kak.. hiks.. )
Aniel memeluk Sean dengan erat
" Jangan takut.. kakak di sini "
Sean membaringkan Aniel dan ikut berbaring di samping Aniel
" Hmmm..hmmm "
Sean mulai bersenandung kecil sambil membelai lembut rambut Aniel hingga Aniel terlihat lebih tenang
" Maaf.. saya akan periksa nona muda "
Salah satu dokter mendekat
" Tak.. "
Aniel menarik pakaian Sean
" Ngak papa dek , kakak di sini "
Sean memeluk Aniel dan membiarkan dokter memeriksanya
*Tok..tok..tok..
Terdengar suara ketukan pintu
" Masuk "
Mao mempersilahkan
" Ini hasil diagnosa terakhir "
Seorang dokter mata memberikan sebuah berkas kepada Mao dan membuat Mao terbelalak melihat isi berkas
Di dalam tertulis bahwa Aniel memang harus melakukan cangkok mata dan memerlukan pendonor agar bisa melihat dengan normal kembali
Mao membacakan hasil dari proses pemeriksaan para dokter mata terbaik yang di panggil oleh Sean untuk pengobatan Aniel
" Apa setelah itu Aniel bisa sembuh "
Sean bertanya
" Iya "
Para dokter mengangguk
" Baiklah... Lakukan saja "
__ADS_1
Sean tersenyum dan memeluk Aniel dengan erat lalu membelai lembut kepala Aniel
Setelah beberapa hari , Aniel menjalankan sedikit operasi di bagian wajahnya karena luka bakar
" Bagaimana dokter "
Sean berdiri saat melihat dokter keluar dari ruang operasi
" Nona saat ini sedang dalam pengaruh bius , kami sudah memindahkan nona di ruang rawat "
Dokter itu menjawab
" Terimakasih ya dokter "
Sean tersenyum
" Sama sama tuan muda "
Dokter membalas senyuman Sean
" Ayo kita naik Mao "
Sean menggeret Mao menuju ruang rawat Aniel yang berada di lantai atas
Di ruang rawat
" Dokter "
Sean menyapa dokter wajah yang menangani Aniel
" Bagaimana dengan adik "
Sean menyalami dokter
" Sekitar tujuh puluh lima persen harus menjalankan operasi , jadi kami terpaksa melakukan perubahan , kami tidak bisa mempertahankan wajah lamanya "
Dokter menjelaskan
" Tidak apa , yang penting dia baik-baik saja"
Sean tersenyum
" Beberapa hari ke depan nona muda bisa melepaskan perban di wajahnya "
Dokter menjelaskan
" Iya dokter , saya paham "
Sean berjalan mendekati Aniel dan memegang tangan kecil Aniel
" Hei kecil... Kakak bersyukur kamu selamat , sekarang papa sedang sakit , kamu jangan sakit juga ya nanti "
Sean meletakkan tangannya di atas punggung tangan Aniel dan membuat Sean merasakan sebuah kedutan dari jari kecil Aniel
" Papa "
Aniel memanggil
" Ini kakak "
Sean di naikkan ke atas kursi dan Sean mendekati kepala Aniel
" Papa na tak "
( Papa mana kak )
Aniel bertanya
" Papa tidak bisa datang karena papa sedang sakit , Aniel jangan khawatir ya , nanti Aniel kakak bawa ke papa "
Sean membelai rambut pendek Aniel
" Ya "
Aniel mengiyakan
" Tak "
( Kak )
Aniel memanggil
" Iya "
Sean menjawab
" Napa ta iel i tup tup "
( Kenapa mata Aniel di tutup )
Aniel memegangi tangan Sean yang ada di pundaknya
" Karena Aniel sedang sakit juga , nanti kalau sudah sembuh Aniel boleh buka penutup matanya , apa kamu paham "
Sean menjawab dan tak sadar setitik air mata jatuh membasahi pipinya
" Oteee "
Aniel mengangguk
" Bisakah Aniel tidur dan istirahat agar lebih cepat sembuh , kamu harus sembuh tau "
Sean mencium pucuk kepala Aniel
" Iya tak , iel lut "
( Iya kak , Aniel nurut )
Aniel terlihat lebih relaks dan membuat Sean tau bahwa Aniel mengikuti kalimat Sean
" Tuan "
Mao memegang pundak Sean
" Hm.. "
Sean menelusup wajahnya di antara bantal dan tempat tidur
" Anda belum makan , mari kita makan tuan"
Mao membuat Sean menoleh dan terlihat mata kecil Sean memerah
" Aku akan makan di sini "
Sean mengusap wajahnya dan turun dari atas kursi
" Saya tidak percaya "
Kalimat dokter membuat Sean menoleh
" Seorang anak kecil yang polos seperti tuan Sean sudah merencanakan banyak hal yang hebat "
Dokter tersenyum
" Bukan Sean dokter , Sean hanya di bantu "
Sean terkekeh
" Anda memang misterius tuan "
Dokter terkekeh
" Kapan adik bisa pulang "
Sean duduk di atas sofa di ikuti dokter
" Kira-kira dua hari lagi "
Dokter menjawab
" Baiklah... Apa saja yang harus Sean siapkan untuk adik "
Sean mengeluarkan buku catatan kecilnya
*Tok...tok...tok
Terdengar suara ketukan pintu
" Masuk "
Sean mempersilahkan
Saat pintu terbuka terlihat lion kembar yang membuat Sean mengerenyitkan keningnya
" Bagaimana kakak bisa masuk ke sini "
Sean menatap kedua singa kembar dengan tajam
" Kami sudah meminta izin "
Liona menjawab
" Permisi paman "
Sean tuan turun dari sofa dan berjalan menghampiri kedua singa kembar
" Bagaimana kabarmu "
Lion menunduk dan memeluk Sean
" Sean baik "
Sean membalas pelukan lion
" Apa kakek dan nenek tau "
Sean menatap lion
" Tidak , kami mendapat kabar dari paman John , jadi kami sesegera mungkin datang kemari "
Lion membawa Sean ke dalam gendongannya
Lion duduk di sofa di ikuti liona
" Apa kabarnya itu benar , bahwa Alinda perlu di operasi "
Lion memeluk Sean erat
" Iya.. keadaannya sudah membaik sekarang "
Sean membalas pelukan lion
" Yang sabar ya Sean "
Liona membelai rambut Sean yang di ikat di belakang
" Iya kak "
Sean mengangguk
Tidak lama masuklah Mao dengan membawa beberapa makanan namun mata tajamnya menatap dua makhluk asing yang
" Tuan makanlah , tuan belum makan "
Mao meletakkan beberapa makanan dan menatanya di atas meja
" Maaf tuan , biar tuan muda makan dulu "
Mao mengambil alih Sean
" Kamu bawa apa Mao "
Sean mengalihkan perhatiannya
" Saya membawa semua makanan kesukaan tuan Sean "
Mao memberikan satu porsi makanan
" Mari paman dokter "
Sean menawari
" Iya tuan muda silahkan "
Dokter mempersilahkan
Sean memakan makanannya perlahan hingga habis tidak tersisa
" Perutku mual Mao "
Sean menyandarkan kepalanya di lengan Mao
" Anda memang belum tidur dari semalam , sekarang anda istirahat ya "
Mao membawa Sean ke dalam gendongannya
" Maaf , tapi tuan ingin istirahat "
Mao dengan halus meminta mereka bertiga pergi
" Baiklah , aku akan pulang "
Lion berdiri dan menghampiri Sean
" Kakak pulang , jaga dirimu baik-baik , jangan sampai sakit ya "
Lion mencium kening Sean
" Tunggu kak "
Sean menahan tangan Lion
" Apa Sean bisa minta tolong "
Sean memegang tangan lion
" Apa hm.. "
Lion tersenyum
Sean mendekat dan membisikkan sesuatu kepada Lion
" Kakak akan pastikan , kamu jangan khawatir ya "
Lion tersenyum
" Iya , Sean percaya sama kakak "
Sean memeluk lion dan membiarkan lion pergi keluar ruangan
" Panggilkan pimpinan unit dan unit satu "
Sean turun dari gendongan Mao
" Baik tuan "
Mao keluar dan memanggil kedua pimpinan tinggi
" Kami tuan "
Arka dan Luis membungkuk hormat
" Bagaimana bisa paman dan bibi sampai di sini "
Sean menatap mereka berdua penuh tanda tanya
" Mereka bilang tuan yang mengizinkan , dan mereka menunjukkan chat mereka dengan anda "
Arka menjawab apa adanya
" Chat itu berisi bahwa anda memperbolehkan mereka berdua masuk ke dalam kamar nona Aniel , bahkan ada rekaman suara penyamaran anda di sana dan nomor telepon itu nomor anda "
Luis menjawab dan Arka mengangguk
" Haha.. cukup cerdas , mulai sekarang jika bukan aku sendiri maka jangan izinkan siapapun masuk "
Sean terkekeh
" Baik tuan "
Mereka membungkuk dan berlalu pergi
" Mari istirahat tuan "
Mao membawa Sean duduk di samping Aniel
Dua hari berlalu , perban di wajah Aniel sudah di buka , Sean tersenyum kala melihat wajah baru Aniel yang terlihat sangat mirip dengan potret Adinda saat masih kecil yang tersimpan di album kenangan Sbastian
" Tatak , tatak mana "
( Kakak , kakak dimana )
Aniel menggerakkan tangannya ke depan
__ADS_1