Aku Pangeran

Aku Pangeran
#55 ( teman baru )


__ADS_3

" Brian "


Suara teriakan Sbastian menggelegar di lobi rumah sakit


" Dimana para dokter "


Sbastian membawa pria itu dan istrinya menuju lift


"suster "


Sbastian memanggil salah satu suster yang sidang lewat


" Iya tuan "


Suster itu berhenti


" Katakan pada dokter Brian untuk ke ruang rawatku sekarang "


Sbastian menatap tajam suster itu


" Baik tuan "


Suster itu membungkuk sampai pintu lift tertutup


" Itukan tuan pemilik , astaga beliau sangat seram hari ini "


Suster itu cepat-cepat memanggil dokter Brian agar tidak kena marah Sbastian


" Masuklah "


Saat Sbastian dan yang lainnya sudah sampai di ruang rawat khusus keluarga , Sbastian meminta agar gadis itu memeriksa dan memasang infus yang tersedia di kotak p3k di ruangan itu


" Lama sekali Brian "


Sbastian membuka jendela dan berteriak


" MAOOOO "


Sbastian berteriak dan terlihat sekelebat bayangan yang melewati gedung gedung perkotaan


Sbastian membuka jendela dan membiarkan bayangan itu masuk


" Salam tuan "


Mao sang harimau membungkuk hormat


" Dia sakit , cepatlah "


Sbastian menunjuk istri pria itu yang sudah di baringkan di ranjang


" Baik tuan "


Mao memeriksa istri pria itu dan menyelimutinya


" secara medis Nyonya ini terkena paru-paru basah , ini harus di tangani secepatnya "


Mao menjelaskan dan membuat pria itu tersentak kaget


" Sayang "


Pria itu memegang tangan istrinya


" Apa bisa di sembuhkan "


Pria itu menatap Mao


" Sbastian "


Suara dokter Brian yang sudah di tunggu-tunggu akhirnya datang


" Kata Mao dia terkena paru-paru basah , cepat siapkan semua yang perlu di lakukan , obati dia sampai sembuh "


Sbastian mengeluarkan aura kemarahan karena Brian yang tidak kunjung datang


" Ok ok "


Sbastian keluar dan tidak lama masuklah Brian bersama beberapa dokter dan perawat yang menunduk hormat kepada Sbastian


" Permisi tuan "


Para dokter mendorong bangkar istri pria itu , dan Mao mengikuti mereka menuju ruang pemeriksaan , saat pria itu akan mengikuti istrinya , Sbastian menghentikannya


" Biarkan para dokter menangani , bersabarlah , aku mau bicara denganmu "


Sbastian menenangkan pria itu


" Halo "


Sbastian menelfon asisten John dan memintanya membawa banyak makanan bergizi dan buah buahan juga susu , lalu Sbastian juga meminta untuk di siapkan rumah pribadinya


" Biarkan istrimu di tangani , mereka semua adalah kepercayaan ku , medisnya tidak perlu di ragukan , duduklah di sini "


Sbastian menenangkan pria itu yang masih terlihat syok


" Hei gadis nakal , bawa adik cantik itu kemari "


Sbastian duduk namun pria itu tidak ikut duduk


" Terimakasih tuan "


Pria itu tiba-tiba membungkuk


" Anda sudah menyelamatkan istri saya , saya benar-benar tidak tau caranya untuk berterimakasih "


Suara pria itu bergetar dan terlihatlah setetes air mata yang jatuh ke lantai


" Ayah , ayah kenapa "


Gadis kecil itu berlari mendekati ayahnya dan mulai menangis saat melihat ayahnya menitikkan air mata


" Ibu baik baik saja kan ayah "


Gadis itu memeluk kaki ayahnya


" Iya , ibu baik-baik saja sayang "


Pria itu duduk dan memeluk putrinya


" Duduklah di sini , dan kau gadis nakal , cepat duduk "


Sbastian memerintahkan gadis yang selalu mengikutinya tadi untuk duduk


" Duduklah tuan "


Sbastian berdiri dan membantu pria itu berdiri lalu mendudukkan pria itu di sampingnya


" Nah... Adik cantik , siapa namanya "


Sbastian bertanya kepada putri pria itu


Bukannya menjawab , adik kecil itu malah memeluk ayahnya dan sedikit mengintip


" Astaga , lucunya "


Sbastian menoel pipi gadis kecil itu


" Hahaha , namamu siapa , paman itu bertanya... Ehem "


Pria itu menyadari sesuatu


" Maaf tuan , sejak tadi saya belum mengetahui nama anda "


Pria itu bertanya dengan lirih


" Namaku Sbastian , jika namamu "


Sbastian kembali bertanya


" Nama saya Rudi , dan putri saya namanya putri bintang , dia sering di panggil bintang "


Rudi tersenyum dan mencium pucuk kepala putrinya


" Apa pekerjaanmu "


Sbastian bertanya


" Saya tidak bekerja "


Rudi menjawab dengan malu


" Kenapa "


Sbastian bertanya dengan heran , padahal parawakanya yang gagah terlihat mampu membawa barang-barang berat


" saya sangat kesulitan mendapat pekerjaan , bahkan pekerjaan serabutan pun tidak ada yang mau menerima saya karena saya mantan napi dan juga saya terkenal sebagai seorang pencuri , jadi mereka tidak mau menerima saya , dan lagi saya juga salah satu anggota berandalan yang terkenal di kota "


Pria itu mengingat saat dirinya menawarkan diri untuk jasa angkat barang namun di tolak mentah-mentah


" oh ya , apa kamu mau bekerja di tempatku"


Sbastian menawarkan


" Bekerja di tempat tuan , anda menawari saya "


Rudi seakan tidak percaya


" Iya , apa kamu mau "


Sbastian mengiyakan


" Mau tuan mau , saya akan bekerja dengan giat , saya mau tuan , terimakasih "


Rudi menerimanya dengan antusias


" Iya iya , umur berapa gadis kecil ini "


Sbastian mengelus kepala bintang


" Hei , kamu di tanya lho "


Rudi membuat bintang duduk menghadap Sbastian namun bintang hanya menatap Sbastian dan memeluk ayahnya kembali


" Hahaha , anak-anak , seanku juga dulu begitu "


Sbastian mengelus kepala gadis kecil itu


*Tok tok tok


Suara pintu di ketuk membuat semuanya terdiam


" Masuk "


Sbastian berteriak dan pintu terbuka


" PAPAAAAA "


Suara Sean menggelegar hingga mengejutkan Sbastian


" Lho udah bangun kamu "


Sbastian berdiri dan menggendong beruang kutub kecil tanpa topi


" Papa Sean cariin , kakak lili juga cari papa tau "


Sean menunjuk pintu masuk dan masuklah lion yang membawa beberapa kantong plastik lalu di susul liona yang membawa satu kantong plastik , tidak lama masuk juga asisten John yang membawa dua kantong plastik besar


" Kalian rombongan "


Sbastian geleng-geleng kepala


" Lili cari kakak , kakak kemana "


Liona memeluk Sbastian


" Kakak ada urusan sebentar , duduklah "


Sbastian membawa liona dan lion duduk di sampingnya dan Sean ada di pangkuannya


" Saya permisi tuan , masih ada beberapa tugas yang harus di selesaikan "


Asisten John membungkuk lalu keluar ruangan


" Ini adikku , mereka kembar , dan ini Sean , kalian Salim ke paman Rudi "


Sbastian memerintahkan dan mereka bertiga menyalami dan mencium tangan Rudi


" Pa dia siapa "


Pandangan Sean jatuh kepada gadis kecil di pangkuan Rudi


" Dia putri paman Rudi , namanya bintang "


Sbastian menurunkan Sean dan Sean berjalan mendekati Rudi


" Boleh , Sean ajak bintang main "


Sean meminta kepada Rudi


" I..itu "


Rudi kebingungan


" Siapa namanya pa "


Sean berbisik dengan Sbastian


" Bintang "


Sbastian menjawab dengan bisikan juga


" Bintang "


Tanpa persetujuan Rudi , Sean mencolek colek punggung bintang


" Hai "

__ADS_1


Saat bintang menoleh Sean langsung melambaikan tangan


" Ayo main , mau kah "


Sean mengulurkan tangannya


" Ayah "


Bintang menatap ayahnya dan di angguki oleh ayahnya


" Ayo "


Sean mengulurkan tangannya yang satunya , bintang meraih tangan Sean dan turun dari pangkuan Rudi


" Bermainlah di balkon "


Sbastian menunjuk balkon yang tertutup


" Biar aku bukakan "


Suara gadis yang bersama Sbastian memasuki pendengaran Sean dan membuatnya menoleh


" Ibu guru Clara "


Sean terkejut


" Bukannya ibu guru masih di Swiss ya , ibu kapan sampai di sini , terus gimana tunangan ibu , terus gimana orang tua ibu , ibu kabur ya "


Sean memborong pertanyaan untuk Clara


" Eh... Hehehehe "


Clara tertawa kikuk


" Sean , ngak boleh "


Sbastian memperingatkan


" Iya pa , maaf "


Sean tersenyum dan membawa bintang ke balkon bersama Clara


" Mumpung di sini , ayo kita periksa kamu sekalian "


Sbastian mengelus kepala liona


" Iya "


Liona mengangguk


" Oh iya , ini makanan dan buah juga susu untuk kalian , makanlah "


Sbastian mengeluarkan banyak buah , makanan dan susu


" Ini terlalu banyak tuan "


Rudi menjadi sungkan


" Tidak , nanti setelah bermain putrimu pasti lapar , aku pergi sebentar "


Sbastian berdiri dan di ikuti lion juga liona


" Sean "


Sbastian menuju balkon


" Iya pa "


Sean yang sedang bermain beberapa bunga yang sebelumnya ada di vas menanggapi panggilan Sbastian


" Papa mau antar kak lili ke paman Brian dulu , kamu di sini dulu ya sama Bu Clara "


Sbastian memberitahu


" Iya pa "


Sean mengangguk


" Ayo lili "


Sbastian membawa lili dan lion


" Adek capek ya "


Lion melihat liona yang sudah terengah-engah


" Enggak kok "


Liona tersenyum


" Biar kakak gendong "


Sbastian menggendong liona dan membawanya turun ke ruang pemeriksaan dan terapi


" Kakak ngak berat "


Liona bertanya saat mereka di dalam lift


" Enggak tuh , kamu enteng banget "


Sbastian tersenyum


" Liona jangan mikir berat , kamu lho ngak pernah mau makan "


Lion berbicara seakan mengadukan liona kepada Sbastian


" Kamu jarang makan "


Sbastian menatap mata liona yang sayu


" Eh... Itu , lili "


Liona tergagap


" Mulai sekarang kamu makan tiga kali sehari dan kakak sendiri yang akan mengawasi "


Sbastian menatap tajam liona


" Iya kak "


Liona tersenyum senang


" Adik adikku sayang , papa dan mama benar-benar keterlaluan "


Sbastian membatin


Saat sampai di ruang pemeriksaan , sbastian menurunkan liona dan dokter pribadi liona menyambut mereka dengan terkejut


" Sekalian di sini , periksa dia "


Sbastian memerintahkan


" Iya tuan , mari nona "


Dokter wanita itu membawa liona masuk ke dalam ruang pemeriksaan


" Kenapa "


Sbastian mengelus kepala liona saat liona sudah duduk di sampingnya


" Nona sudah hampir sembuh , satu kali kemo terapi lagi , setelah itu hanya perlu beristirahat dan makan yang banyak agar sehat "


Dokter itu tersenyum


" Bagus , kamu sebentar lagi akan sehat "


Sbastian mengusap air mata liona yang sudah mengalir deras dan memeluknya


" Meski terlambat ini lebih baik "


Sbastian memeluk lion yang ikut menangis


Sbastian selama beberapa tahun terakhir selalu mengontrol jadwal kemoterapi liona , jadwal kemoterapi liona tidak pernah terkontrol oleh orang tuanya , jadwal yang mestinya seminggu sekali menjadi satu bulan sekali dan membuat kondisi liona jauh lebih parah , karena itu meski mereka jauh dari Indonesia maupun Sbastian yang menjauh dari Indonesia , Sbastian selalu menjaga mereka dari jauh


Kesibukan ayah dan ibu Sbastian membuatnya melupakan liona yang membutuhkan perhatian dan pengobatan yang lebih , liona yang tidak pernah mendapat perhatian dari kedua orangtuanya membuatnya menjadi gadis pendiam dan lemah lembut , karena kondisi itu pula , lion menjadi extra perhatian kepada liona , meski itu bukan tugasnya , tapi lion akan selalu menjadwalkan semua yang harus dan tidak boleh di lakukan liona mulai dari bangun pagi sampai tidur lagi ,


Sbastian selalu mengirimkan orang untuk mengawasi liona dan lion mulai mereka bangun sampai tidur kembali , jadwal kemoterapi , jadwal makan bahkan jadwal lion dan liona sekolah , Sbastian tau semuanya , namun karena beberapa alasan Sbastian tidak bisa memantau adik kembarnya dua tahun terakhir , meski begitu orang kepercayaan Sbastian melakukan semuanya tanpa Sbastian suruh dan akan melaporkannya kepada Sbastian satu bulan sekali


" ayo kembali ke atas , mungkin istri paman Rudi sudah selesai "


Sbastian menggendong liona kembali ke ruangan tempat istri Rudi di rawat


" Belum datang ya "


Sbastian menurunkan liona di pintu


" Belum tuan "


Rudi menjawab dengan sopan


Tidak lama datanglah para dokter sambil membawa bankar rumah sakit


" Bagaimana dokter "


Sbastian berdiri dan Rudi sudah berdiri di samping istrinya yang masih terpejam dan bertanya kepada para dokter


" Tidak apa tuan , ini masih awal , jadi mudah untuk mengobatinya , nyonya hanya tertidur karena pengaruh bius , oh ya dimana tuan muda "


Dokter Brian celingukan mencari Sean


" di balkon "


Sbastian menghampiri Rudi


" Ambil bajumu dan mungkin kalian akan menginap di sini hingga istrimu benar-benar sembuh , untuk bintang , biarkan tinggal bersamaku dulu "


Sbastian berbicara dengan Rudi


" Maaf tuan , anda sudah sangat banyak membantu kami , bintang akan saya titipkan saja kepada tetangga saya "


Rudi menolak


" Jika itu yang kau mau , aku bisa apa , ya sudah , ayo aku antar mengambil bajumu , sekalian aku tunjukkan tempatmu bekerja nanti , tinggalkan saja putrimu di sini , ada Clara yang menjaganya "


Sbastian menghampiri liona


" Mau makan apa "


Sbastian mengelus kepala liona


" Mau apa aja yang kakak beliin , lili laper , kakak lion pasti laper juga kan "


Liona menatap lion


" Iya , nanti makan bareng ya "


Lion tersenyum


" Ayo Rudi "


Sbastian dan Rudi keluar dari ruangan


" Papa kemana kak lili "


Sean masuk sambil menggandeng bintang


" Papa beli makanan , Sean laper ngak "


Lili bertanya


" Iya , bintang juga pasti laper "


Sean dan bintang duduk di sofa dengan bantuan lion


" Ini , makanlah sebagai ganjal laper "


Clara memberikan sekotak susu kepada Sean dan bintang


" Wah.. susu , aku suka susu "


Bintang langsung meminum susu yang di berikan kepadanya


" Kenapa lama sekali "


Sean heran melihat bintang yang masih meminum susunya , padahal dia sudah menghabiskan satu kotak susu


" Harus sedikit sedikit agar menjadi banyak"


Bintang menjawab pertanyaan Sean


" Minum saja , ini masih banyak susunya "


Clara yang mengerti apa yang di maksud bintang


" Bolehkah "


Bintang bertanya dengan ragu


" Boleh "


Clara memberikan dua kotak susu lagi


" Kalau begitu ini buat ibu , ini buat ayah "


Bintang menyisihkan dua kotak susu yang di berikan oleh Clara


" Nanti ibu dan ayah minum yang besar , karena kamu minum yang kecil , jadi kamu boleh menghabiskannya "


Clara tersenyum


" Kalau begitu , ini buat besok saja "


Bintang tersenyum


" Begini ya bintang kecil "

__ADS_1


Lili yang mulai mengerti situasi bintang berjongkok di depan bintang


" Ini susu untuk hari ini , kamu bisa minum susu sepuasnya hari ini , dan besok masih ada susu yang lain , ayahmu pasti akan membelikan susu untukmu besok "


Lili menerangkan kepada bintang


" Ayah ngak punya uang , jadi bintang ngak boleh minta yang macem-macem sama ayah , nanti kasian ayah kalau harus ngutang lagi , nanti di tagih sama ibu kos jahat lagi , bintang ngak mau ayah di pukulin sama paman paman yang tubuhnya besar-besar "


Bintang menggeleng menolak


" Hei sayang , itu kemarin ya , sekarang udah enggak , ayah udah ada kerjaan jadi bintang ngak perlu mikir gitu , terus rumah bintang juga udah pindah , ngak di sana lagi , jadi ayah ngak akan di pukuli sama paman paman besar itu lagi "


Lili yang dengan cepat mengerti kondisi mencoba mengalihkan pikiran bintang yang lebih dewasa dari umurnya


" Benarkah "


Bintang bertanya


" Benar , kalau ngak percaya , kamu bisa tanya ke ayah nanti "


Lili mengelus kepala bintang


" Kakak boleh mengikat rambutmu ngak "


Liona mengelus rambut panjang bintang


" Bintang ngak punya ikat rambut "


Bintang menjawab dengan polos


" Kakak punya "


Liona melepaskan jepit rambutnya yang berbentuk bintang


" Permisi "


Liona menggeser Sean


" Kemarilah monster "


Lion mengangkat Sean ke atas pangkuannya


" Aku monster "


Sean menatap lion


" Aku kan emang monster beruang salju "


Sean mengenakan penutup kepala beruang saljunya


" Roar "


Sean mempraktekkan seakan dirinya adalah beruang salju sungguhan


" Hahaha "


Lion tertawa kecil


Liona mengunpulkan rambut tebal dan panjang milik bintang menjadi satu dan mengikatnya di bawah


" Wah... Cantiknya "


Liona membenarkan poni pendek bintang


" Eugh... "


Terdengar lenguhan dari ibu bintang


" Ibu "


Bintang turun dari atas sofa dan menghampiri bangkar ibunya yang sangat tinggi baginya


" Sini "


Clara menggendong bintang agar bisa melihat ibunya


" Duduklah di sini "


Bintang di dudukkan di samping ibunya


" Ibu "


Bintang mengelus pipi ibunya


" Bintang "


Ibu bintang tersenyum


" Ini dimana "


Ibu bintang menoleh ke kanan dan ke kiri


" Ini di rumah sakit nyonya "


Clara menjawab


" Rumah sakit "


Ibu bintang terkejut


" A..ayo pulang nak , ayah tidak akan bisa membayar biayanya , ayo sayang kita pulang "


Ibu bintang mencoba bangkit namun tidak bisa karena badannya yang masih lemah


" Nyonya nyonya , anda tidak perlu memikirkannya "


Clara menenangkan ibu bintang


" An..anda siapa "


Ibu bintang menatap Clara


" Ehmm saya Clara , anda masih perlu di rawat , anda tidak perlu memikirkan biayanya "


Clara menenangkan ibu bintang


" Ayah "


Bintang berteriak saat melihat ayahnya memasuki ruangan


" Sayang "


Rudi berlari melihat istrinya yang sudah siuman


" Mas.. kita pulang yuk "


Istri Rudi menarik tangan Rudi


" Ngak sayang , kamu ngak perlu pikirkan yang macem-macem , yang penting kamu sembuh sekarang "


Rudi menenangkan istrinya


" Ayo Sean , lili kita pulang "


Sbastian membawa Sean , lili dan yang lainnya pulang , dan menyisakan satu keluarga yang berbicara dengan serius


" Tapi mas , kita ngak punya uang buat bayarnya "


Istri Rudi menolak


" Dengar ya mawar sayang , mas sudah bilang untuk tidak memikirkan uang , yang penting kamu sembuh "


Rudi mengelus kepala istrinya


" Mas.. di rumah saja ngak apa apa "


Mawar , istri Rudi keukeh untuk pulang


" Mas ngak mau denger yang lain , kamu ngak boleh bantah apa kata mas , mas di sini kepala keluarga , dan kamu itu istrinya mas , jadi kalau mas bilang kamu di rawat di sini , kamu harus di rawat sampai sembuh "


Rudi mengeluarkan kalimat tegasnya


" Mas.. "


Istri Rudi mulai menitikkan air mata


" Mas itu sayang sama kamu , kamu ngak boleh bantah perintah mas selagi itu baik , apa istri mas yang cantik ini mengerti "


Rudi menggenggam tangan istrinya


" Iya mas , maaf , mawar salah "


Istri Rudi memeluk Rudi dan menitikkan air mata bersalahnya


" Ibu "


Bintang masuk ke dalam pelukan hangat ayah dan ibunya


" Mas sudah dapat kerjaan , jadi kamu ngak perlu mikir yang aneh-aneh lagi , kamu cuma harus sembuh , untukku dan anak kita , apa istriku yang cantik ini bisa mengabulkan permintaan suaminya "


Rudi mengelus kepala mawar


" Bisa mas , maaf ya mas "


Mawar mengangguk


" Muach.. tidurlah , mas di sini "


Rudi mencium kening mawar


" Anak ayah tidur sama ayah ya "


Rudi mengangkat bintang


" Bintang mau sama ibu "


Bintang menarik tangan ibunya


" Boleh , sini sayang "


Mawar menepuk tempat tidur di sebelahnya


" Boleh kan yah "


Bintang menatap dengan tatapan memohon


" Baiklah , jika dua malaikat ayah yang meminta , ayah tidak akan bisa menolak "


Rudi meletakkan bintang di samping mawar dan menyelimuti mereka


Di tempat Sbastian


" Kak "


Lili memanggil Sbastian yang sedang menyetir


" Hm.. kenapa lili "


Sbastian menjawab


" Kasian ya kak mereka , tapi lili suka liat bintang , dia di sayang sama ayah ibunya ngak kayak lili "


Liona menatap Sbastian ketir


Sbastian menepi dan berhenti


" Sayang , kakak ada di sini , kakak sekarang akan jadi ayah dan ibumu , kakak janji ngak akan ninggalin kamu sampai ada laki-laki yang mampu gantikan posisi kakak"


Sbastian tersenyum


" Emang ada yang mau sama lili "


Liona menatap Sbastian


" Ngak akan ada "


Lion dan Sbastian kompak menjawab


" Hahaha "


Sean dan Clara tertawa sedang lion dan Sbastian saling pandang


" Kakak kakak jahat "


Liona mendengus kesal


" Hahaha "


Mereka semua tertawa dan Sbastian melanjutkan perjalanannya


" Hei beruang kecil "


Sbastian memanggil Sean


" Iya papanya beruang kecil "


Sean menyahuti


" Mau cake apa ngak "


Sbastian menawari


" Mau dong , kak kembar mau kan "


Sean menoleh ke belakang karena dia duduk di bangku depan


" Mau , lili mau rasa strawberry hm... Pasti enak "


Liona membayangkan enaknya cake strawberry


" Moga cakenya abis "


Sbastian dan lion kembali berbicara secara bersamaan


" Hahaha "

__ADS_1


Semuanya tertawa namun lili memandang mereka suram seakan berbicara semoga kalian salah


__ADS_2