
" Brian "
Suara teriakan Sbastian menggelegar di lobi rumah sakit
" Dimana para dokter "
Sbastian membawa pria itu dan istrinya menuju lift
"suster "
Sbastian memanggil salah satu suster yang sidang lewat
" Iya tuan "
Suster itu berhenti
" Katakan pada dokter Brian untuk ke ruang rawatku sekarang "
Sbastian menatap tajam suster itu
" Baik tuan "
Suster itu membungkuk sampai pintu lift tertutup
" Itukan tuan pemilik , astaga beliau sangat seram hari ini "
Suster itu cepat-cepat memanggil dokter Brian agar tidak kena marah Sbastian
" Masuklah "
Saat Sbastian dan yang lainnya sudah sampai di ruang rawat khusus keluarga , Sbastian meminta agar gadis itu memeriksa dan memasang infus yang tersedia di kotak p3k di ruangan itu
" Lama sekali Brian "
Sbastian membuka jendela dan berteriak
" MAOOOO "
Sbastian berteriak dan terlihat sekelebat bayangan yang melewati gedung gedung perkotaan
Sbastian membuka jendela dan membiarkan bayangan itu masuk
" Salam tuan "
Mao sang harimau membungkuk hormat
" Dia sakit , cepatlah "
Sbastian menunjuk istri pria itu yang sudah di baringkan di ranjang
" Baik tuan "
Mao memeriksa istri pria itu dan menyelimutinya
" secara medis Nyonya ini terkena paru-paru basah , ini harus di tangani secepatnya "
Mao menjelaskan dan membuat pria itu tersentak kaget
" Sayang "
Pria itu memegang tangan istrinya
" Apa bisa di sembuhkan "
Pria itu menatap Mao
" Sbastian "
Suara dokter Brian yang sudah di tunggu-tunggu akhirnya datang
" Kata Mao dia terkena paru-paru basah , cepat siapkan semua yang perlu di lakukan , obati dia sampai sembuh "
Sbastian mengeluarkan aura kemarahan karena Brian yang tidak kunjung datang
" Ok ok "
Sbastian keluar dan tidak lama masuklah Brian bersama beberapa dokter dan perawat yang menunduk hormat kepada Sbastian
" Permisi tuan "
Para dokter mendorong bangkar istri pria itu , dan Mao mengikuti mereka menuju ruang pemeriksaan , saat pria itu akan mengikuti istrinya , Sbastian menghentikannya
" Biarkan para dokter menangani , bersabarlah , aku mau bicara denganmu "
Sbastian menenangkan pria itu
" Halo "
Sbastian menelfon asisten John dan memintanya membawa banyak makanan bergizi dan buah buahan juga susu , lalu Sbastian juga meminta untuk di siapkan rumah pribadinya
" Biarkan istrimu di tangani , mereka semua adalah kepercayaan ku , medisnya tidak perlu di ragukan , duduklah di sini "
Sbastian menenangkan pria itu yang masih terlihat syok
" Hei gadis nakal , bawa adik cantik itu kemari "
Sbastian duduk namun pria itu tidak ikut duduk
" Terimakasih tuan "
Pria itu tiba-tiba membungkuk
" Anda sudah menyelamatkan istri saya , saya benar-benar tidak tau caranya untuk berterimakasih "
Suara pria itu bergetar dan terlihatlah setetes air mata yang jatuh ke lantai
" Ayah , ayah kenapa "
Gadis kecil itu berlari mendekati ayahnya dan mulai menangis saat melihat ayahnya menitikkan air mata
" Ibu baik baik saja kan ayah "
Gadis itu memeluk kaki ayahnya
" Iya , ibu baik-baik saja sayang "
Pria itu duduk dan memeluk putrinya
" Duduklah di sini , dan kau gadis nakal , cepat duduk "
Sbastian memerintahkan gadis yang selalu mengikutinya tadi untuk duduk
" Duduklah tuan "
Sbastian berdiri dan membantu pria itu berdiri lalu mendudukkan pria itu di sampingnya
" Nah... Adik cantik , siapa namanya "
Sbastian bertanya kepada putri pria itu
Bukannya menjawab , adik kecil itu malah memeluk ayahnya dan sedikit mengintip
" Astaga , lucunya "
Sbastian menoel pipi gadis kecil itu
" Hahaha , namamu siapa , paman itu bertanya... Ehem "
Pria itu menyadari sesuatu
" Maaf tuan , sejak tadi saya belum mengetahui nama anda "
Pria itu bertanya dengan lirih
" Namaku Sbastian , jika namamu "
Sbastian kembali bertanya
" Nama saya Rudi , dan putri saya namanya putri bintang , dia sering di panggil bintang "
Rudi tersenyum dan mencium pucuk kepala putrinya
" Apa pekerjaanmu "
Sbastian bertanya
" Saya tidak bekerja "
Rudi menjawab dengan malu
" Kenapa "
Sbastian bertanya dengan heran , padahal parawakanya yang gagah terlihat mampu membawa barang-barang berat
" saya sangat kesulitan mendapat pekerjaan , bahkan pekerjaan serabutan pun tidak ada yang mau menerima saya karena saya mantan napi dan juga saya terkenal sebagai seorang pencuri , jadi mereka tidak mau menerima saya , dan lagi saya juga salah satu anggota berandalan yang terkenal di kota "
Pria itu mengingat saat dirinya menawarkan diri untuk jasa angkat barang namun di tolak mentah-mentah
" oh ya , apa kamu mau bekerja di tempatku"
Sbastian menawarkan
" Bekerja di tempat tuan , anda menawari saya "
Rudi seakan tidak percaya
" Iya , apa kamu mau "
Sbastian mengiyakan
" Mau tuan mau , saya akan bekerja dengan giat , saya mau tuan , terimakasih "
Rudi menerimanya dengan antusias
" Iya iya , umur berapa gadis kecil ini "
Sbastian mengelus kepala bintang
" Hei , kamu di tanya lho "
Rudi membuat bintang duduk menghadap Sbastian namun bintang hanya menatap Sbastian dan memeluk ayahnya kembali
" Hahaha , anak-anak , seanku juga dulu begitu "
Sbastian mengelus kepala gadis kecil itu
*Tok tok tok
Suara pintu di ketuk membuat semuanya terdiam
" Masuk "
Sbastian berteriak dan pintu terbuka
" PAPAAAAA "
Suara Sean menggelegar hingga mengejutkan Sbastian
" Lho udah bangun kamu "
Sbastian berdiri dan menggendong beruang kutub kecil tanpa topi
" Papa Sean cariin , kakak lili juga cari papa tau "
Sean menunjuk pintu masuk dan masuklah lion yang membawa beberapa kantong plastik lalu di susul liona yang membawa satu kantong plastik , tidak lama masuk juga asisten John yang membawa dua kantong plastik besar
" Kalian rombongan "
Sbastian geleng-geleng kepala
" Lili cari kakak , kakak kemana "
Liona memeluk Sbastian
" Kakak ada urusan sebentar , duduklah "
Sbastian membawa liona dan lion duduk di sampingnya dan Sean ada di pangkuannya
" Saya permisi tuan , masih ada beberapa tugas yang harus di selesaikan "
Asisten John membungkuk lalu keluar ruangan
" Ini adikku , mereka kembar , dan ini Sean , kalian Salim ke paman Rudi "
Sbastian memerintahkan dan mereka bertiga menyalami dan mencium tangan Rudi
" Pa dia siapa "
Pandangan Sean jatuh kepada gadis kecil di pangkuan Rudi
" Dia putri paman Rudi , namanya bintang "
Sbastian menurunkan Sean dan Sean berjalan mendekati Rudi
" Boleh , Sean ajak bintang main "
Sean meminta kepada Rudi
" I..itu "
Rudi kebingungan
" Siapa namanya pa "
Sean berbisik dengan Sbastian
" Bintang "
Sbastian menjawab dengan bisikan juga
" Bintang "
Tanpa persetujuan Rudi , Sean mencolek colek punggung bintang
" Hai "
__ADS_1
Saat bintang menoleh Sean langsung melambaikan tangan
" Ayo main , mau kah "
Sean mengulurkan tangannya
" Ayah "
Bintang menatap ayahnya dan di angguki oleh ayahnya
" Ayo "
Sean mengulurkan tangannya yang satunya , bintang meraih tangan Sean dan turun dari pangkuan Rudi
" Bermainlah di balkon "
Sbastian menunjuk balkon yang tertutup
" Biar aku bukakan "
Suara gadis yang bersama Sbastian memasuki pendengaran Sean dan membuatnya menoleh
" Ibu guru Clara "
Sean terkejut
" Bukannya ibu guru masih di Swiss ya , ibu kapan sampai di sini , terus gimana tunangan ibu , terus gimana orang tua ibu , ibu kabur ya "
Sean memborong pertanyaan untuk Clara
" Eh... Hehehehe "
Clara tertawa kikuk
" Sean , ngak boleh "
Sbastian memperingatkan
" Iya pa , maaf "
Sean tersenyum dan membawa bintang ke balkon bersama Clara
" Mumpung di sini , ayo kita periksa kamu sekalian "
Sbastian mengelus kepala liona
" Iya "
Liona mengangguk
" Oh iya , ini makanan dan buah juga susu untuk kalian , makanlah "
Sbastian mengeluarkan banyak buah , makanan dan susu
" Ini terlalu banyak tuan "
Rudi menjadi sungkan
" Tidak , nanti setelah bermain putrimu pasti lapar , aku pergi sebentar "
Sbastian berdiri dan di ikuti lion juga liona
" Sean "
Sbastian menuju balkon
" Iya pa "
Sean yang sedang bermain beberapa bunga yang sebelumnya ada di vas menanggapi panggilan Sbastian
" Papa mau antar kak lili ke paman Brian dulu , kamu di sini dulu ya sama Bu Clara "
Sbastian memberitahu
" Iya pa "
Sean mengangguk
" Ayo lili "
Sbastian membawa lili dan lion
" Adek capek ya "
Lion melihat liona yang sudah terengah-engah
" Enggak kok "
Liona tersenyum
" Biar kakak gendong "
Sbastian menggendong liona dan membawanya turun ke ruang pemeriksaan dan terapi
" Kakak ngak berat "
Liona bertanya saat mereka di dalam lift
" Enggak tuh , kamu enteng banget "
Sbastian tersenyum
" Liona jangan mikir berat , kamu lho ngak pernah mau makan "
Lion berbicara seakan mengadukan liona kepada Sbastian
" Kamu jarang makan "
Sbastian menatap mata liona yang sayu
" Eh... Itu , lili "
Liona tergagap
" Mulai sekarang kamu makan tiga kali sehari dan kakak sendiri yang akan mengawasi "
Sbastian menatap tajam liona
" Iya kak "
Liona tersenyum senang
" Adik adikku sayang , papa dan mama benar-benar keterlaluan "
Sbastian membatin
Saat sampai di ruang pemeriksaan , sbastian menurunkan liona dan dokter pribadi liona menyambut mereka dengan terkejut
" Sekalian di sini , periksa dia "
Sbastian memerintahkan
" Iya tuan , mari nona "
Dokter wanita itu membawa liona masuk ke dalam ruang pemeriksaan
" Kenapa "
Sbastian mengelus kepala liona saat liona sudah duduk di sampingnya
" Nona sudah hampir sembuh , satu kali kemo terapi lagi , setelah itu hanya perlu beristirahat dan makan yang banyak agar sehat "
Dokter itu tersenyum
" Bagus , kamu sebentar lagi akan sehat "
Sbastian mengusap air mata liona yang sudah mengalir deras dan memeluknya
" Meski terlambat ini lebih baik "
Sbastian memeluk lion yang ikut menangis
Sbastian selama beberapa tahun terakhir selalu mengontrol jadwal kemoterapi liona , jadwal kemoterapi liona tidak pernah terkontrol oleh orang tuanya , jadwal yang mestinya seminggu sekali menjadi satu bulan sekali dan membuat kondisi liona jauh lebih parah , karena itu meski mereka jauh dari Indonesia maupun Sbastian yang menjauh dari Indonesia , Sbastian selalu menjaga mereka dari jauh
Kesibukan ayah dan ibu Sbastian membuatnya melupakan liona yang membutuhkan perhatian dan pengobatan yang lebih , liona yang tidak pernah mendapat perhatian dari kedua orangtuanya membuatnya menjadi gadis pendiam dan lemah lembut , karena kondisi itu pula , lion menjadi extra perhatian kepada liona , meski itu bukan tugasnya , tapi lion akan selalu menjadwalkan semua yang harus dan tidak boleh di lakukan liona mulai dari bangun pagi sampai tidur lagi ,
Sbastian selalu mengirimkan orang untuk mengawasi liona dan lion mulai mereka bangun sampai tidur kembali , jadwal kemoterapi , jadwal makan bahkan jadwal lion dan liona sekolah , Sbastian tau semuanya , namun karena beberapa alasan Sbastian tidak bisa memantau adik kembarnya dua tahun terakhir , meski begitu orang kepercayaan Sbastian melakukan semuanya tanpa Sbastian suruh dan akan melaporkannya kepada Sbastian satu bulan sekali
" ayo kembali ke atas , mungkin istri paman Rudi sudah selesai "
Sbastian menggendong liona kembali ke ruangan tempat istri Rudi di rawat
" Belum datang ya "
Sbastian menurunkan liona di pintu
" Belum tuan "
Rudi menjawab dengan sopan
Tidak lama datanglah para dokter sambil membawa bankar rumah sakit
" Bagaimana dokter "
Sbastian berdiri dan Rudi sudah berdiri di samping istrinya yang masih terpejam dan bertanya kepada para dokter
" Tidak apa tuan , ini masih awal , jadi mudah untuk mengobatinya , nyonya hanya tertidur karena pengaruh bius , oh ya dimana tuan muda "
Dokter Brian celingukan mencari Sean
" di balkon "
Sbastian menghampiri Rudi
" Ambil bajumu dan mungkin kalian akan menginap di sini hingga istrimu benar-benar sembuh , untuk bintang , biarkan tinggal bersamaku dulu "
Sbastian berbicara dengan Rudi
" Maaf tuan , anda sudah sangat banyak membantu kami , bintang akan saya titipkan saja kepada tetangga saya "
Rudi menolak
" Jika itu yang kau mau , aku bisa apa , ya sudah , ayo aku antar mengambil bajumu , sekalian aku tunjukkan tempatmu bekerja nanti , tinggalkan saja putrimu di sini , ada Clara yang menjaganya "
Sbastian menghampiri liona
" Mau makan apa "
Sbastian mengelus kepala liona
" Mau apa aja yang kakak beliin , lili laper , kakak lion pasti laper juga kan "
Liona menatap lion
" Iya , nanti makan bareng ya "
Lion tersenyum
" Ayo Rudi "
Sbastian dan Rudi keluar dari ruangan
" Papa kemana kak lili "
Sean masuk sambil menggandeng bintang
" Papa beli makanan , Sean laper ngak "
Lili bertanya
" Iya , bintang juga pasti laper "
Sean dan bintang duduk di sofa dengan bantuan lion
" Ini , makanlah sebagai ganjal laper "
Clara memberikan sekotak susu kepada Sean dan bintang
" Wah.. susu , aku suka susu "
Bintang langsung meminum susu yang di berikan kepadanya
" Kenapa lama sekali "
Sean heran melihat bintang yang masih meminum susunya , padahal dia sudah menghabiskan satu kotak susu
" Harus sedikit sedikit agar menjadi banyak"
Bintang menjawab pertanyaan Sean
" Minum saja , ini masih banyak susunya "
Clara yang mengerti apa yang di maksud bintang
" Bolehkah "
Bintang bertanya dengan ragu
" Boleh "
Clara memberikan dua kotak susu lagi
" Kalau begitu ini buat ibu , ini buat ayah "
Bintang menyisihkan dua kotak susu yang di berikan oleh Clara
" Nanti ibu dan ayah minum yang besar , karena kamu minum yang kecil , jadi kamu boleh menghabiskannya "
Clara tersenyum
" Kalau begitu , ini buat besok saja "
Bintang tersenyum
" Begini ya bintang kecil "
__ADS_1
Lili yang mulai mengerti situasi bintang berjongkok di depan bintang
" Ini susu untuk hari ini , kamu bisa minum susu sepuasnya hari ini , dan besok masih ada susu yang lain , ayahmu pasti akan membelikan susu untukmu besok "
Lili menerangkan kepada bintang
" Ayah ngak punya uang , jadi bintang ngak boleh minta yang macem-macem sama ayah , nanti kasian ayah kalau harus ngutang lagi , nanti di tagih sama ibu kos jahat lagi , bintang ngak mau ayah di pukulin sama paman paman yang tubuhnya besar-besar "
Bintang menggeleng menolak
" Hei sayang , itu kemarin ya , sekarang udah enggak , ayah udah ada kerjaan jadi bintang ngak perlu mikir gitu , terus rumah bintang juga udah pindah , ngak di sana lagi , jadi ayah ngak akan di pukuli sama paman paman besar itu lagi "
Lili yang dengan cepat mengerti kondisi mencoba mengalihkan pikiran bintang yang lebih dewasa dari umurnya
" Benarkah "
Bintang bertanya
" Benar , kalau ngak percaya , kamu bisa tanya ke ayah nanti "
Lili mengelus kepala bintang
" Kakak boleh mengikat rambutmu ngak "
Liona mengelus rambut panjang bintang
" Bintang ngak punya ikat rambut "
Bintang menjawab dengan polos
" Kakak punya "
Liona melepaskan jepit rambutnya yang berbentuk bintang
" Permisi "
Liona menggeser Sean
" Kemarilah monster "
Lion mengangkat Sean ke atas pangkuannya
" Aku monster "
Sean menatap lion
" Aku kan emang monster beruang salju "
Sean mengenakan penutup kepala beruang saljunya
" Roar "
Sean mempraktekkan seakan dirinya adalah beruang salju sungguhan
" Hahaha "
Lion tertawa kecil
Liona mengunpulkan rambut tebal dan panjang milik bintang menjadi satu dan mengikatnya di bawah
" Wah... Cantiknya "
Liona membenarkan poni pendek bintang
" Eugh... "
Terdengar lenguhan dari ibu bintang
" Ibu "
Bintang turun dari atas sofa dan menghampiri bangkar ibunya yang sangat tinggi baginya
" Sini "
Clara menggendong bintang agar bisa melihat ibunya
" Duduklah di sini "
Bintang di dudukkan di samping ibunya
" Ibu "
Bintang mengelus pipi ibunya
" Bintang "
Ibu bintang tersenyum
" Ini dimana "
Ibu bintang menoleh ke kanan dan ke kiri
" Ini di rumah sakit nyonya "
Clara menjawab
" Rumah sakit "
Ibu bintang terkejut
" A..ayo pulang nak , ayah tidak akan bisa membayar biayanya , ayo sayang kita pulang "
Ibu bintang mencoba bangkit namun tidak bisa karena badannya yang masih lemah
" Nyonya nyonya , anda tidak perlu memikirkannya "
Clara menenangkan ibu bintang
" An..anda siapa "
Ibu bintang menatap Clara
" Ehmm saya Clara , anda masih perlu di rawat , anda tidak perlu memikirkan biayanya "
Clara menenangkan ibu bintang
" Ayah "
Bintang berteriak saat melihat ayahnya memasuki ruangan
" Sayang "
Rudi berlari melihat istrinya yang sudah siuman
" Mas.. kita pulang yuk "
Istri Rudi menarik tangan Rudi
" Ngak sayang , kamu ngak perlu pikirkan yang macem-macem , yang penting kamu sembuh sekarang "
Rudi menenangkan istrinya
" Ayo Sean , lili kita pulang "
Sbastian membawa Sean , lili dan yang lainnya pulang , dan menyisakan satu keluarga yang berbicara dengan serius
" Tapi mas , kita ngak punya uang buat bayarnya "
Istri Rudi menolak
" Dengar ya mawar sayang , mas sudah bilang untuk tidak memikirkan uang , yang penting kamu sembuh "
Rudi mengelus kepala istrinya
" Mas.. di rumah saja ngak apa apa "
Mawar , istri Rudi keukeh untuk pulang
" Mas ngak mau denger yang lain , kamu ngak boleh bantah apa kata mas , mas di sini kepala keluarga , dan kamu itu istrinya mas , jadi kalau mas bilang kamu di rawat di sini , kamu harus di rawat sampai sembuh "
Rudi mengeluarkan kalimat tegasnya
" Mas.. "
Istri Rudi mulai menitikkan air mata
" Mas itu sayang sama kamu , kamu ngak boleh bantah perintah mas selagi itu baik , apa istri mas yang cantik ini mengerti "
Rudi menggenggam tangan istrinya
" Iya mas , maaf , mawar salah "
Istri Rudi memeluk Rudi dan menitikkan air mata bersalahnya
" Ibu "
Bintang masuk ke dalam pelukan hangat ayah dan ibunya
" Mas sudah dapat kerjaan , jadi kamu ngak perlu mikir yang aneh-aneh lagi , kamu cuma harus sembuh , untukku dan anak kita , apa istriku yang cantik ini bisa mengabulkan permintaan suaminya "
Rudi mengelus kepala mawar
" Bisa mas , maaf ya mas "
Mawar mengangguk
" Muach.. tidurlah , mas di sini "
Rudi mencium kening mawar
" Anak ayah tidur sama ayah ya "
Rudi mengangkat bintang
" Bintang mau sama ibu "
Bintang menarik tangan ibunya
" Boleh , sini sayang "
Mawar menepuk tempat tidur di sebelahnya
" Boleh kan yah "
Bintang menatap dengan tatapan memohon
" Baiklah , jika dua malaikat ayah yang meminta , ayah tidak akan bisa menolak "
Rudi meletakkan bintang di samping mawar dan menyelimuti mereka
Di tempat Sbastian
" Kak "
Lili memanggil Sbastian yang sedang menyetir
" Hm.. kenapa lili "
Sbastian menjawab
" Kasian ya kak mereka , tapi lili suka liat bintang , dia di sayang sama ayah ibunya ngak kayak lili "
Liona menatap Sbastian ketir
Sbastian menepi dan berhenti
" Sayang , kakak ada di sini , kakak sekarang akan jadi ayah dan ibumu , kakak janji ngak akan ninggalin kamu sampai ada laki-laki yang mampu gantikan posisi kakak"
Sbastian tersenyum
" Emang ada yang mau sama lili "
Liona menatap Sbastian
" Ngak akan ada "
Lion dan Sbastian kompak menjawab
" Hahaha "
Sean dan Clara tertawa sedang lion dan Sbastian saling pandang
" Kakak kakak jahat "
Liona mendengus kesal
" Hahaha "
Mereka semua tertawa dan Sbastian melanjutkan perjalanannya
" Hei beruang kecil "
Sbastian memanggil Sean
" Iya papanya beruang kecil "
Sean menyahuti
" Mau cake apa ngak "
Sbastian menawari
" Mau dong , kak kembar mau kan "
Sean menoleh ke belakang karena dia duduk di bangku depan
" Mau , lili mau rasa strawberry hm... Pasti enak "
Liona membayangkan enaknya cake strawberry
" Moga cakenya abis "
Sbastian dan lion kembali berbicara secara bersamaan
" Hahaha "
__ADS_1
Semuanya tertawa namun lili memandang mereka suram seakan berbicara semoga kalian salah